Pidato+PJM+Sukarno : 1

1
SEKRETARIAT NEGARA

nst.1805/65
KABINET PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

-s-

AMANAT PJM PRESIDEN SUKARNO PADA MUSJAWARAH GERAKAN
TRANSMIGRASI DI ISTANA OLAHRAGA BUNG KARNO SENAJAN,
DJAKARTA, 28 DESEMBER 1964.

———————-

Saudara-Saudara sekalian,

Transmigrasi. Tadi pagi Pak Achadi, – ini ada Achadi, ada Achmadi. Achadi, Menteri
Transko, Transmigrasi/Kooperasi, Achmadi, Menteri apa? Menteri Penerangan. Orangnja
disitu itu, Menteri djedjaka!.

Tadi pagi, dengarkan, tadi pagi Pak Achadi dengan pembantu-pembantunja datang di
Istana Merdeka, pagi-pagi benar. Bapak tjuma pakai tjelana djalan-djalan dan badju kaos,
minum kopi. Pak Achadi dan pembantu-pembantu datang, mengatakan, Pak nanti malam
djangan lupa lho Pak datang di Istora Senajan.

Insja Allh, saja akan datang.

Dan ada lagi satu hal Pak. Kami datang disini untuk minta tolong sama Bapak.
Lho, minta tolong apa?
Itu lho Pak, perkataan transmigrasi. Apa tidak ada perkataan Indonesia jang tepat?
Bapak pikir, pikir, pikir, Bapak tidak bisa mendapatkan satu perkataan Indonesia jang
tepat. Barang kali dikalangan Saudara-Saudara ada jang bisa menemukan satu perkataan
Indonesia jang tepat untuk menterdjemahkan, untuk menjalin perkataan transmigrasi. Saudara
Hardjo barangkali?! Dia mengusulkan perkataan jang, waduh, bukan main, alih-setra! Alih,
ja, mengerti, alih itu pindah. Setra itu artinja padang. Padang jang luas. Setra atau ksetra.
Didalam tjerita Manabarata, ada disebut misalnja kuruksetra. Padang jang luas, miliknja para
kuru, korawa, jang disitulah terdjadi pertempuran jang maha hebat, jang dinamakan
Baratajuda. Djadi Pak Djenderal Suharjo jang duduk disitu itu ingin memaksudkan dengan
perkataan alih setra atau alih ksetra dipindah padang. Alih artinja pindah, ksetra artinja
padang.
Tapi Bapak sendiri kok tidak enak rasanja itu, alih setra.
Pendek kata, tadi pagi aku berkata kepada Pak Achadi, sudah Bapak keok, tidak bisa
Bapak menemukan satu perkataan jang tepat untuk menjalin perkataan transmigrasi, Lantas
Bapak berkata, lha mbok ja sudah, transmigrasi, tidak perlu disalin. Sebagaimana banjak
djuga perkataan-perkataan asing internasional jang sudah lazim dipakai oleh bangsa
Indonesia. Saja berkata, revolusi, perkataan kooperasi, perkataan koordinasi, dan lain-lain
sebagainja itu. Kan djuga perkataan asing. Tapi sudah mendjadi perkataan Indonesia pula.
Nah Tjoba, ho ini Gubernur-Gubernur jang duduk disini barangkali menjalin perkataan
koordinasi, apa? Hajo! Atau kooperasi, apa? Atau revolusi, apa?
Ja tapi ini perkataan untuk transmigrasi itu harus perkataan jang bisa diutjapkan oleh
tiap-tiap bapak tani, tiap-tiap orang didesa.
Lha apakah rakjat Indonesia jang berdiam didesa-desa itu tidak bisa menjebut kata
revolusi?! Woo, malahan perkataan revolusi itu sampai di kidulnja Gunung Kidul orang bisa
mengutjapkan. Djadi kalau boleh saja usulkan, kalau tidak bisa mendapatkan satu perkataan
Indonesia untuk transmigrasi, ja sudah, transmigrasi sadja, tetap.
Saudara-Saudara, kita ini semuanja turunan tranmigrasi. Ja, tahukah Saudara-Saudara,
bahwa kita ini semuanja turunan transmigran? Saudara jang duduk sebelah Djenderal Saharjo
itu turunan transmigran. Djenderal Suharjo turunan tranmigran. Ini gubernur Sutedja, jang
badjunja putih, turunan transmigran. Ini gubernur Ulung Sitepu turunan transmigran. Ada Pak
Oevang Urai? Mana ja? Tidak hadir? Tidak hadir. Nah ini anak-anak tjantik ini turunan

2
transmigran. Aku sendiri pun turunan transmigran. Seluruh rakjat Indonesia adalah turunan
transmigran.
Wah, tanja-menanja, Pak Sujono Atmo dengan tetangganja, bagaimana-bagaimana,
bagaimana?
Begini, lebih dari 2000 tahun jang lalu, kira-kira 2500 tahun jang lalu, satu daerah di
Asia Tenggara, jang sekarang terkenal denga nama Vietnam, Vietnam Utara dan Vietnam
Selatan, disitu terpadat penduduk. Dan kehidupan disitu sukar karena terlalu padat penduduk,
dan mungkin ada satu kedjadian jang luar biasa jang membuat dari penduduk daerah itu, jang
sekarang dinamakan Vietnam Utara, Vietnam Selatan, sebagian besar meninggalkan tanah itu,
meninggalkan tanah itu dan beremigrasi kekepulauan jang beribu-ribu, jang terletak di
Indonesia, bahkan djuga sampai ke sebelah barat di Madagaskar. Disebelah timur sampai
pulau Paskah. Pulau Paskah itu dekat Amerika Selatan. Djadi djebol dari jang dinamakan
sekarang Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, djebol dari situ, menjebar antara Madagaskar
dan pulau Paskah, beribu-ribu pulau. Sehingga boleh saja katakan, bahwa penduduk jang
mendiami Madagaskar, jang mendiami Nusantara jaitu kepulauan Indonesia, jang mendiami
pulau-pulau lain dari Polinesia ini, sampai kepulauan Paskah dekat Amerika Selatan adalah
dari satu keturunan, jaitu Hindia Belakang atau jang sekarang dinamakan Vietnam Utara dan
Vietnam Selatan.
Bahwa penduduk jang berdjuta-djuta jang sekarang mendiami pulau Madagaskar,
kepulauan Indonesia sampai kepulauan Paskah itu dari satu keturunan, ternjata dari bahasanja.
Bahasa dari penduduk-penduduk ini menundjukkan satu pokok bahasa. Dalam bahasa
asingnja dinamakan satu taalstam. Madagaskar, kepulauan Indonesia, pulau Paskah, bahkan
kepulauan Philipina, bahkan sebagian selatan dari kepulauan Djepang itu menundjukkan
taalstam. Beberapa perkataan njata bahwa pokok katanja adalah sama. Apalagi jang dekat-
dekat dengan Indonesia ini, wah masih njata satu taalstam.
Philipina Saudara-Saudara, mengenal bahasa jang dinamakan bahasa Tagalok, bahasa
asli Philipina, itu boleh dikatakan sama dengan bahasa Indonesia. Kita bilang sidji, loro atau
satu, dua, dan tiga, empat, lima, enam, tudjuh, delapan, sembilan, sepuluh. Kalau bahasa
Tagalok bilang sa, rua, teloo, apat, limo, onom, pitu, wolu, nah sembilan saja lupa. (Hadirin
bilang songo red).
Songo kan Djowo itu, ini Tagaloknja! Tagalok itu Philipina, sa, rua, teloo, apat, limo,
onom, pitu, wolu, he sembilan itu, siam, lantas sepuluh djuga, puluh, sama.
Demikian juga bahasa di Madagaskar. Demikian pula bahasa dipulau Paskah, Djadi
njata bahwa penduduk jang sekarang menduduki pulau-pulau ini adalah sebenarnja dari satu
racial root, akar, bangsa jang sama dengan akar bahasa jang sama.
Oleh karena itu aku mengatakan, bahwa kita ini semuanja adalah turunan Transmigran.
Hanja belakangan inilah Saudara-Saudara, kita sadari akan hal itu. Terutama sekali sesudah
kita mendjalankan politik Asia Afrika. Kita menjadari benar-benar, bahwa penduduk-
penduduk jang berdiam dikepulauan-kepulauan lain itu adalah sebenarnja kita punja Saudara
pula.
Lihat sadja tabiatnja, tabiat orang Madagaskar itu hampir sama dengan kita. Apalagi
tabiat dari pada rakjat jang sekarang dinamakan rakjat Vietnam. Tabiat revolusinja sama
dengan rakjat Indonesia. Vietnam Utara, Vietnam Selatan, bukan main tjinta kemerdekaan,
berdjoang mati-matian mempertahankan kemerdekaan, sama dengan bangsa Indonesia.
Ja, oleh karena itu sebetulnja adalah pokok berasal dari satu racial, akar bangsa jang
sama.
Sebagai tadi dikatakan oleh pembitjara-pembitjara jang terdahulu, maka soal
transmigrasi adalah soal mati-hidup kita. Sekarang mendjadi satu soal mati-hidup kita. Oleh
karena itu aku setudju sekali, bahwa musjawarah ini membuat transmigrasi itu satu persoalan
nasional. Bukan soal ketjil-ketjil Saudara-Saudara, soal nasional. Jang pada mulanya ialah
terdjadi terutama sekali kalau dikatakan mentjari sebab-sebab musababnja dari djaman dahulu
2500 tahun jang lalu, tatkala nenek-mojang kita djebol dari Vietnam, baik utara maupun

3
selatan, menjebar ke Madagaskar, kepulauan Indonesia, kepulauan Polinesia, sampai
kepulauan Paskah. Saja tidak mengatakan salahnja, tetapi terdjadinja. Mereka itu hinggap,
kalau dipakai perkataan hinggap, seperti burung hinggap, mentjloknja itu, sebagaian besar
dipulau Djawa. Hanja sebagian ketjil hinggap di pulau Madagaskar, sebagian ketjil hinggap
dipulau Andaman, sebagian ketjil hinggap di Nikobar, sebagian ketjil hinggap dipulau
Maladiva dan Lakadiva, sebagian ketjil hinggap dipulau Sumatra, sebagian ketjil hinggap
dikepulauan Kalimantan, sebagian ketjil hinggap dipulau Sulawesi, sebagian ketjil hinggap
dipulau Nusatenggara, Maluku, Irian, Polinesia, sampai kepulau Paskah. Tetapi sebagian besar
hinggapnja di pulau Djawa, sehingga dari dulu mula pulau Djawa ini adalah satu pulau jang
lebih padat penduduknja dari pada pulau-pulau jang lain.
Di pulau Djawa Saudara-Saudara, karena keadaan barangkali tanahnja lebih subur,
dikira tanah lebih subur atau alat-alat hidup dipulau Djawa lebih ada daripada dipulau lain-
lain. Tetapi sebagian terbesar daripada pendjebolan ini hinggap dipulau Djawa. Sehingga
sampai sekarang mendjadi satu problem, problem jang dinamakan kepadatan pulau Djawa.
Dari sedjak dulu Saudara-Saudara, padat pulau Djawa ini. Menurut kitab-kitab, kitab-
kitab jang terdapat sampai sekarang, itu berarti kitab-kitab jang mulai barangkali dari Negara
kartagama atau lebih muda daripada itu, tahu-tahu pulau Djawa ini sudah berpenduduk 20
djuta.
Padahal pulau lain-lain ada jang hanja 1 djuta, hanja 2 djuta, hanja 3 djuta. Tapi tahu-
tahu Djawa sudah berpenduduk 20 djuta. Dan 20 djuta ini makin bertambah, makin
bertambah, makin bertambah. Apalagi djikalau saja ulangi apa jang saja katakan berulang-
ulang, rakjat Indonesia itu sepeti marmot Saudara-Saudara, protjot, protjot, protjot, protjot,!
Tidak mengerti perkataan protjot itu? Kok tanja. Protjot ituha dia, Saudara siapa itu jang
tidak mengerti perkataan protjot. Kalau melahirkan anak itu..protjot, protjot.
Ini Saudara dari mana ini, ja ini lho, dari mana? Djakarta? Masa tidak mengerti
perkataan protjot.
Nah Saudara-Saudara, kita itu protjot, protjot, protjot, seperti marmut. Sampai pada
saat sekarang ini pulau Djawa amat padat sekali. Bukan sadja pulau Djawa adalah amat padat
sekali, tetapi Indonesia seluruhnja, Saudara-Saudara telah mengerahui sekarang ini, 104 djuta
penduduk.
Padahal tatkala kita mengadakan proklamasi 17 Agustus 45, penduduk Indonesia
berapa? 72 djuta. 45 ada 72 djuta. Sekarang 64 ada 104 djuta Saudara-Saudara.
Saja pernah debat dengan almarhum Pandit Jawahartal Nehru. Melihat keadaan
terutama sekali pulau Djawa begitu padatnja. Nehru berkata, ha Sukarno, you are facing very
difficult problem. Artinja, Sukarno, engkau menghadapi satu persoalan jang amat sulit sekali.
you are facing very difficult problem.
Yes, saja bilang, bagaimana pemetjahannja? Kataku.
Almarhum Nehru menjawab, batasi kelahiran, batasi punja anak. Birth-control is the
only solution, kata dia. Birth-control itu pembatasan anak.
Saja tanja, jang dibatasi itu bikin anak atau punya anak?
Lantas dia berkata, I said Birth-control. Birth itu artinja lahir. Lahirnja anak itu lho
jang harus dibatasi. Perkara apa jang terdjadi sebelum lahir itu tidak.
Ja Nehru berkata, I said birth-control; that is the only solution of the problem.
Saja berkata, Nehru no, no, tidak. Ja, kata Nehru, saja di India terpaksa adakan itu.
Djuga di Pakistan saja melihat mereka adakan djuga birth-control.
Dan memang di Pakistanpun saja melihat djuga, orang mentjoba mengadakan birth-
control. Malahan tatkala Presiden Ayub Khan dari Pakistan datang di Indonesia beberapa
tahun jang lalu, saja bahwa beliau di Djakarta, ke Bandung, ke Djawa Tengah, ke Bali naik
Auto. Dan dimana-mana beliau melihat rakjat djelata dipinggir djalan berdujun-dujun. Dan di
antara rakjat djelata ini anak-anak ketjil beribu-ribu; anak, anak, anak, dimana-mana beliau
melihat anak-anak.

4
Saja kira beliau gembira melihat anak-anak ketjil. Kiranja tidak, beliau berkata,
Sukarno, I tremble if I see children. Ja, I tremble if I see children. Maksudnya aku gemetar,
djikalau aku melihat anak-anak ketjil, kalau aku melihat anak-anak.
Why do you tremble? Saja berkata. Kenapa kok engkau gemetar?
Aduuuh, aku ingat pada tanah air Pakistan. Tiap-tiap anak di Pakistan jang di lahirkan
membawa problem, membawa persoalan. Persoalan, bagaimana memberikan makan pada
mahluk baru jang di lahirkan ini. Karena itu kami di Pakistan mengadakan Birth-control,
membatasi kelahiran.
Ja, saja bilang, itu kan Pakistan, tanah airmu, tanah air Saudara itu tanah air jang
sebagian besar adalah padang pasir. Sebagaimana djuga di India, padang pasir.
Pendek, kemungkinan untuk hidup bersandang dan pangan amat sempit, karena
dimana-mana padang pasir, padang pasir, padang pasir, padang pasir. Apalagi Punjab
Saudara, padang pasir. But look, Indonesia, kataku, Indonesia tidak ada padang pasir.
Tjoba lihat ini, engkau aku bawa ke Bandung, nanti ke Djawa Tengah, nanti ke Bali,
dimana-mana engkau melihat sawah-sawah jang idjo rojo-rojo kadio penganten anjar.
Pada waktu Saudara terbang, dengan kapal udara dari Karachi ko Djakarta, liwat
diaatas Sumatra, apa jang Saudara lihat? Apakah Saudara lihat padang pasir? Nanti Saudara
datang di Bali, apa Saudara akan melihat padang pasir? Djikalau Saudara datang di Sulawesi,
apa Saudara akan melihat padang pasir? Djikalau Saudara melihat pulau Ceram, apakan ada
padang pasir? Djikalau Saudara melihat Irian Barat, apakah padang pasir? Tidak. Indonesia
adalah satu tanah air yang luas, subur, loh djinawi, subur kang sarwo tinandur. Tidak,
Indonesia tidak memerlukan Birth-control. Indonesia bisa memberi makan paling sedikit
kepada 250 djuta manusia. 250 djuta manusia, djikalau disebarkan dengan baik, djikalau
dikerahkan tenaganja dengan baik.
Nah ini saudar-Saudara, problem jang kita hadapi,
Sebagai dikatakan oleh Pak Leimena tadi, sebenarnja transmigrasi itu bukan soal
memindahkan kemiskinan, dan tidak boleh kita anggap sebagai soal pemindahan kemiskinan
dari tanah Djawa ke pulau lain. Tetapi ialah menjebarkan penduduk keseluruhan Nusantara,
dan bisa mengerahkan meraka punja tenaga, agar supaja dengan penjebaran dan pengerahan
tenaga ini, Indonesia benar-benar mendjadi satu Negara jang kaja-kaja, tata tentram karta
rahardja, loh djinawi, subur kang sarwo tinandur.
Tjoba sudara-Saudara pikirkan, saja tadi selalu bilang protjot, protjot, protjot, jang
diprotjotkan itu setahunnya berapa? Jang diprotjotkan itu setahunnja berapa diseluruh
Indonesia? Paling sedikit 3 djuta pertahun, tjoba, 3 djuta jang di protjotkan. Ada jang mati
Saudara-Saudara, dari penduduk Indonesia ini tiap hari, tiap bulan, tiap tahun ada jang mati.
Ada jang mati waktu diprojotkan. Ada jang mati pada waktu sudah umur 6, 7 tahun. Ada jang
mati sudah umur 30 tahun. Ada jang mati sudah tua bangka. Ada jang mati ketabrak auto. Ada
jang mati tenggelam dilaut. Pendeknja Saudara-Saudara tiap tahunpun disamping ada jang
diprotjotkan, protjot, protjotkan, ada djuga jang mati.
Nah, mati berapa? Jang mati tiap-tiap tahun Saudara-Saudara, lebih dari 1 djuta.
Manusia selalu ada jang mati, tidak adak manusia jang tidak ada jang mati. Takdir Tuhan
mengatakan bahwa selalu manusia itu akan menghadapi maut. Jang mati Saudara-Saudara, 1
djuta, katakanlah 1 djuta. Padahal jang diprotjotkan 3 djuta. Djadi tambahnja penduduk
netto, berapa tiap tahun? Hitung. 3 djuta protjot, 1 djuta mati, netto berapa, jang terus
hidup? 2 djuta seluruh Nusantara. Di Djawa sadja berapa? Di Djawa sadja sudara-Saudara,
antara satu setengah djuta dan dua djuta, tambahnya itu sadja, nettonja. Lebih dari pada 1
djuta manusia netto tambahnja tiap tahun di pulau Djawa.
Nah, maka sekarang ini Djawa sudah padat, sudah terlalu padat. Djadi sebenarnya,
opgave daripada transmigran ialah, memindahkan dari, kalau mengenai pulau Djawa sadja,
mimikarkan kesulitan dipulau Djawa sadja, tiap-tiap tahun paling sedikit 1 djuta manusia
kepulauan lain tiap tahun. Supaja Djawa tetap pijl penduduknja sebagai sekarang. Djangan
tambah, tambah, tambah.

5
Kalau kita mau menghalangi Djawa ini rakjatnja bertambah, bertambah, bertambah,
sehingga sesak seperti sardentjis didalam kaleng atau seperti ikan pindang didalam kendil
Saudara-Saudara, paling sedikit tiap-tiap tahun harus dipindahkan dari tanah Djawa ini 1
djuta.
Nah mengikuti?! 1 djuta paling sedikit tiap-tiap tahun harus kita pindahkan, ja entah
ke Kalimantan, entah ke Atjeh, entah ke Ceram, entah ke Sulawesi, pendek, keluar dari
Djawa, di-spread, disebarkan diseluruh Nusantara. Paling sedikit tiap-tiap tahun 1 djuta.
Tiap-tiap hari berapa? Tjoba, 1 djuta dibagi 365, berapa itu? Antara 4000 dan 5000. tiap
hari, bukan tiap tahun, tiap hari 4 atau 5000 orang harus dipindahkan. Betul tidak hitungan
Bapak ini?
Nah, itulah opgave transmigrasi.
Nah, Pak Achadi tadi berkata, atau Pak Leimena berkata, Pak Achadi mau
memindahkan setahun 100 ribu keluarga.
Huuuh kurang Pak Achadi! Tidak kekedjar tambahnja penduduk tanah Djawa, dengan
pemindahan hanja 100 ribu keluarga. 100 ribu keluarga itu kira-kira adalah djuta, djuta
tiap tahun, bukan. Kalau dihitung satu keluarga 5 orang, 1 Bapak, 1 ema (ibu), 3 anak. Ho
lihat djari Bapak ini. Satu keluarga berapa orang? 5 orang. Djadi kalau dipindahkan hanja 100
ribu keluarga, itu berarti tjuma 500 ribu orang. Padahal tambahnja penduduk ditanah Djawa
tiap-tiaptahun adalah 1 djuta.
Dus kataku tadi, kita tiap-tiap hari harus memindahkan hampir-hampir 5 ribu orang.
Nah, 5 ribu orang itu rekan keluarga, adalah 5 ribu dibagi 5, berapa keluarga? 1000 keluarga.
Djadi tiap hari 1000 keluarga harus kita pindahkan, misalnja, misalnja, misalnja ke
Kalimantan. Dipindahkan ke Kalimantan ditaro mana?
Nah ini rantjangan Bapak Presiden.rantjangan jang amat besar. Jang saja kira ini tidak
ada way-out lain daripada mendjalankan rantjangan ini kalau kita memindahkan tiap hari, tiap
hari 1000 keluarga ke Kalimantan misalnja. Padahal ja bukan Kalimantan tok, ada ke
Lampung, ada ke Sulawesi, ada ke Ceram. Katakanlah 1000 keluarga tiap-tiap hari dari tanah
Djawa harus dipindahkan. Dan tiap keluarga diberi 2 ha. Tadinja aku kira, ja 1 ha barangkali
sudah tjukup. Kawan-kawan berkata, tidak bisa, masa hidup tjuma 1 ha.
Baiklah 2 ha. Djadi tiap-tiap hari, tiap-tiap hari, ke anak-anak pemuda, tiap-tiap hari
harus disediakan berapa untuk seribu keluarga jang dipindahkan ini? Tiap-tiap hari harus
disediakan 2000 ha. Betul tidak?! Tiap hari 2000 ha.
Nah karena itu Bapak lantas punja pikiran, wah bagaimana ini, tiap hari 2000 ha.
Bapak lantas tjoba, lantas gabungkan persoalan ini dengan pembukaan hutan. Misalnja
beberapa hari jang lalu kita telah menandatangani kontrak dengan pihak Djepang, hal
pembukaan hutan di Kalimantan.
Pada waktu hendak mengadakan kontrak ini, aku panggil Pak Menteri Sadjarwo.
Djarwo, hubungkan kontrak pembabatan hutan ini, pembukaan hutan ini dengan persoalan
transmigrasi. Kita harus membuka hutan.
Tiap-tiap hari 2000 ha. Itu tidak bisa didjadikan oleh tenaga tangan manusia, tidak
bisa, ketjuali djikalau kita ada tentara 1 djuta barangkali, membuat hutan, membabas alas
wonomarto Saudara-Saudara, 2000 ha tiap-tiap hari; tidak bisa.
Karena itu, baik, dengan kontrak dari luar negeri kita adakan kontrak babat hutan, tapi
tiap-tiap hari 2000 ha dengan setjara machinaal. 2000 ha tiap-tiap hari hanja mungkin djikalau
dengan tjara machinaal. Dibajarnja dengan apa ini jang babat itu? Kita bajar dengan harga
kaju jang terbabat.
Kaju itu ada dua rupa. Kaju klas satu, jaitu terutama sekali kaju inti, kaju jang didalam.
Lantas kaju kulit, kaju luar, jang bahasa asingnja spinthout. Padahal kaju ini sebegini besar.
Itu jang ditengah itu jang paling baik, itu bisa kita djual diluar negeri. Kaju jang luar jang
dekat kulitnja itu, itu namanja spinthout, itu kurang kwalitet.
Kita adakan kontrak dengan kontraktor luar negeri ini. Engkau babat hutan tiap hari
2000 ha dengan segala peralatan mesin jang ada. Aku bajar ongkos separuh daripada kaju inti

6
jang terbabat, separoh. Engkau membabat 2000 ha, engkau akan dapat sekian ribu kubik kaju,
separoh dari pada kaju ini untuk engkau, separoh untuk kami.
Pantas itu, bukan. Ini kaju kami. Engkau babat, boleh babat, engkau dapat separoh.
Nah, djadi kami sebetulnja tidak mengeluarkan uang satu senpun. Panggil mereka,
hajo babat, babat hutan ini, babat hutan ini, 2000 ha tiap-tiap hari, engkau dapat separoh dari
pada kaju jang inti, dan engkau dapat untung, kami dapat separoh daripada kaju inti iti.
Lha kaju spint, spint itu kaju luar itu, jang tidak begitu keras, itu buat apa? Dengan
kaju spint ini kita ter plaatse, ter plaatse, artinja di tempat itu, mengadakan pre-fabricated
houses, rumah jang terbuat lebih dahulu.
Djadi, kaju dipotong oleh kontraktor luar negeri. Separoh daripada kaju inti dibawa
oleh mereka keluar negeri, didjual untuk kepentingan mereka sendiri, separoh tinggal
diserahkan kepada gouvernement, kepada pemerintah Indonesia.
Spinthout, jaitu kaju jang luar, kaju jang kurang kwalitet itu kita bikin disitu rumah-
rumah untuk transmigran-transmigran kita. Maka oleh karena itu aku bilang sama Pak
Sadjarwo, Saudara Sadjarwo, hubungkan persoalan pembabatan hutan, kontrak dengan pihak
Djepang ini, dengan persoalan transmigrasi. Dapatlah hutan jang tanahnja subur. Djangan
hutan jang tanahnja kurang subur dibabat. Lebih dahulu tjarilah tempat hutan jang tanahnja
subur, supaja nanti djikalau hutannja terbabat, tanahnja bisa ditanami oleh transmigran.
Nah, dengan solusi, dengan pemetjahan soal ini Saudara-Saudara, transmigran datang
disitu sudah ada rumah-rumah pro-fabricated, rumah-rumah jang terbuat lebih dahulu, jaitu
dari kaju spinthout itu tadi. Malahan djalan-djalan pokok, djalan-djalan pokok sudah kita buat.
Sehingga mereka itu tidak seperti djaman Belanda dahulu Saudara-Saudara, datang disana,
tahu-tahu ditaro ditengah-tengah hutan oleh pihak Belanda, disuruh potong kaju sendiri,
disuruh bikin gubuk sendiri, disuruh kerdja sendiri untuk bernaung dibawah hudjan. Tidak,
kita sudah sediakan rumah, kita malahan sudah beri djalan-djalan pokok.
Tapi ini persoalan Saudara-Saudara bukan soal ketjil, sebab 2 ribu ha per dag, 2 ribu
tiap-tiap hari. Nah, Saudara-Saudara mengerti, 2 ribu ha tiap-tiap hari, machinaal, disana
sudah disediakan pre-fabricated houses, transmigran pindah. Tapi memindahkan 5 ribu orang
tiap hari, seribu keluarga, bukan main. Tiap hari Saudara-Saudara, 5 ribu orang, kataku, seribu
keluarga tiap hari.
Aku panggil Pak Menteri Ali Sadikin, Kin, kumaha ijeu, unggal powe lima rebu
djelma kudu dipindahkeun titanah Djawa kaluar. Artinja, Kin itu Ali Sadikin, bagai mana ini,
kita harus memindahkan tiap-tiap hari 5 ribu dari tanah Djawa keluar pulau.
Djawab Pak Ali Sadikin, Menteri Perhubungan Laut, urang kedah kagungan floot,
armada 20 kapal. Harus mempunjai transmigration fleet 20 kapal a 3 ribu ton. 20 Saudara-
Saudara, special untuk transmigrasi. Sebab ini kapal tiap hari, tiap hari, kesana, jang dari sana
kesini. Saudara akan melihat begini lho (Presiden memperlihatkan tjara kapal jang datang dan
kapal jang pergi, dengan tangannja red). Sebagian dari kapal itu ja, dibersihkan, tetapi jang
in actie begini Saudara-Saudara, djalan kesitu, ini kesini, begini sadja tiap hari. Sebab ini
bukan tiap minggu, bukan tiap bulan, tiap hari Saudara-Saudara. 5 ribu bawa sana, ini kapal
jang kosong pulang ke Djawa. Ambil lagi, pergi kesana. Ini sudah kosong, pulang ke Djawa.
Terus begini.
Oleh karena itu Pak Ali Sadikin berkata, tidak bisa kurang dari kapal 20 a 3 ribu ton.
Nah, Saudara-Saudara mengerti bagaimana persoalan ini, hebatnja, sulitnja. Tetapi
bisa kita pertjajakan djikalau kita benar-benar memetjahkan ini setjara nasional.
Nah ini anak-anak ini tadi bersembojan: Turunkan harga sandang, pangan, turunkan
harga sandang pangan. Ja tidak, pemuda-pemuda jang duduk di situ!
He, saja adjak kau ja semuanja, mari kita transmigrasi. Mau tidak?! Mauuuu
(Djawab hadirin gemuruh-red).
Benar?
Benar (djawab hadirinred).

7
Ja, sebaiknja pemuda-pemuda itu dipindahkan ke Kalimantan, pindahkan ke Sumatra,
pindahkan ke Sulawesi.
Saja tjerita ja, Soviet Uni, daerah barat dari Soviet Uni itu djuga mulai padat. Daerah
timur, Siberia, kosong. Pada hari pemerintah Soviet Uni mengambil keputusan, pemuda-
pemuda, pemudi-pemudi, bukan kakek-kakek, nenek-nenek; pemuda-pemuda dikirimkan ke
Siberia, mereka harus mendjadi pelopor daripada transmigrasi.
Karena itu waktu aku tadi baru datang, tanja sama Pak Dibjo. Front Nasional, Dib, itu
kok banjak tempat kosong itu, bagaimana?
Lha undangan Pak, tidak datang.
Ha, lain kali kalau adakan rapat transmigrasi, undanglah pemimpin-pemimpin
pemuda-pemuda, jang diundang kok jang sampun sepuh, sampun sepuh, sudah tua, sudah tua
ja tentu gubernur-gubernur harus diundang. Tetapi bagaimana. Pemuda-pemudanja ini jang
duduk disini, he mana pemimpin pemuda.
Haaa, padahal soal transmigrasi ini soal mati hidup daripada bangsa kita jang harus
kita petjahkan setjara nasional. Dan pemuda-pemuda, pemudi-pemudi adalah pelopor,
pelopor, pelopor dari pada pembangunan tanah air kita ini.
Ja Pak, berani kami di transmigrasikan.
Oke, saja tjatat, nanti kalau kami kirim engkau ke Kalimantan atau kelain tempat ada
jang membangkang, awas!
He pemuda, djangan takut pergi Kalimantan. Tanja sama Pak Djendral Suharjo itu,
gadis-gadis Kalimantan tjantik-tjantik.
Nah pendeknja Saudara-Saudara, transmigrasi adalah soal nasional. Sebagaimana
Saudara-Saudara djuga berkata, bahwa soal pengganjangan Malaysia adalah soal nasional.
Bukan soalnja Sukarno, bukan soalnja Pak Sutedja, jang duduk disini, bukan soalnja Pak
Satrio, jang duduk disitu, bukan soalnja Pak Sujono Atmo, jang duduk di siti, bukan soalnja
Pak Ulung Sitepu, bukan soalnja Pak itu siapa itu-, bukan Pak Kaharudin, Kaharudin
dimana? Oo sedang sibuk di Sumatra Barat. Bukan soal engkau, angkau, engkau sadja, bukan
soalku sadja, bukan soal engkau sadja, bukan soal engkau sadja, tetapi pengganjangan
Malaysia adalah soal kita semuanja, bangsa Indonesia. Bukan soal ketjil-ketjilan, bukan
soal.apa itu, ja..tidak! tetapi soal sebagai jang kukatakan didalam pidato TAPIV, iki
dadaku, endi dadamu! . soal demikain Saudara-Saudara. Soal konfrontasi.
Sebab begini, tadi saja sudah djengkel lagi, djengkel, djengkel, batja surat kabar, Radja
Nepal Saudara-Saudara, jang rakjatnja ada sebagian djadi gurkha Saudara-Saudara. Gurkha itu
dari Nepal, dan gurkha itu mendjadi serdadu sewaan Inggris. Gurkha itu serdadu sewaan
Inggris jang sekarang beroperasi di Kalimantan Utara. Gurkha itu jang bertempur dengan
sukarelawan sukarelawati kita, dengan pedjoang-pedjoang kita. Gurkha Saudara-Saudara.
Nah ini, gurkha itu kebanjakan dari Nepal. Radja Nepal pidato. Pidato, berkata, kami
harap agar supaja persoalan Malaysia dipetjahkan dengan tjara damai antara Indonesia dan
Malaysia, peaceful means, peaceful, peaceful. Ha, murah sekali ja bitjara peaceful, peaceful,
peaceful. Sekarang ini perkataan peaceful itu dipakai sebagai satu perkataan apa itu, political
wisdom, political sagacity, satu kebidjaksanaan politik, ini persoalan Malaysia harus
dipetjahkam dengan tjara damai, damai, damai. E6, tiap-tiaphidung berkata, damai, damai,
damai. Lha kok kalau bilang damai, lha kok gurkhamu di Kalimantan utara.
Nah, nanti dulu, ini selalu bilang peaceful, peaceful, peaceful, peaceful, damai-damai,
damai. Banjak sekali politici-politici, kepala-kepala Negara, perdana-perdana menteri
daripada puluhan Negara selalu peaceful, please, peaceful, please, peaceful, please, peaceful.
Lho kok gampang! Nah memang gampang mengutjapkan perkataan peaceful, memang
gampang, dan memang.wah dianggap sebagai political wisdom, wisdom jaitu
kebijaksanaan, political sagacity. Sagacity artinja, jaitu kebijaksanaan tinggi. Gampang bitjara
peaceful, peaceful.
Bagaimana Saudara-Saudara. Saja sudah berkata di Cairo, peaceful coexistence jang
dulu djuga selalu peaceful coexistence, peaceful coexistence, di Cairo dengan tegas saja

8
berkata, tidak bisa ada peaceful coexistence antara imperialisme, kolonialisme, neo-
kolonialisme dan Negara jang didjadjahnja.
Semuanja mau di peaceful, peaceful, peacefulkan, tidak bisa, tidak bisa, there can be
no peaceful coexistence between imperialism and the colonized peoples and countries. Tidak
bisa.
Nah, ini maka Malaysia itu boleh saja lukiskan sebagai berikut. Tjoba Pak Harjo,
tidak, kau militer, nanti dikira akan, tidak. Siapalah, siapa, siapa.ini Saudara djenggot ini.
Saudara tjinta damai apa tidak?
Tjinta damai (Djawab orang itu jang diminta datang dimimbar-red).
Tjinta damai.
Pada satu hari aku datang sama Saudara,. Saja todong Saudara. Apa Saudara
perbuat? Hajo tjoba.
Lawan (Djawab orang itu-red).
Nah, ja masa Saudara akan berkata kepadaku, ha peaceful, peaceful bung, peaceful,
peaceful, peaceful. Tidak!
Terimakasih.
Malaysia adalah revolver, pistol jang ditodongkan kepada kita, lha kok kita diam;
peaceful, peaceful, peaceful. Tidak ada djalan lain bagi kita, bagi Indonesia dari pada
mendjalankan konfrontasi terhadap kepada Malaysia. Tidak ada djalan lain melainkan kita
berkata, hajo, iki dadaku, endi dadamu!! Hajo, ganjang Malaysia! Ganjang Malaysia! Ever
onward, never retreat.
Gampang bitjara peaceful, peaceful, peaceful. Lha wong ditodong kok kita ini, kita ini
ditodong, please peaceful, please peaceful tidak bisa.
Tidak ada djalan lain Saudara-Saudara, kita mendjalankan dwikora, mendjalankan
dwikora, meninggikan ketahanan revolusi kita, dan kita membantu perdjoangkan daripada
rakjat-rakjat di Kalimantan Utara dan di Malaya untuk membebaskan dirinja daripada
kolonialisme dan neo-kolonialisme, mendjalankan konfrontasi terhadap kepada Malaysia
sampai Malaysia hantjur lebur diganjang oleh kita.
Hanja djikalau kita berdiri diatas pendirian jang demikianlah, maka kita bisa
memetjahkan persoalan .Malaysia ini setjara nasional.
Sebagaimana soal transmigrasi harus kita petjahkan pula setjara nasional.
Ini soal mati hidup kita, transmigrasi. Demikian pula soal Malaysia itu sebenarnja
adalah djuga soal mati hidup kita. Kita tidak mau Saudara-Saudara, di contain. Kita tidak mau
dikepung, tidak mau kita di bikin bulan-bulanan oleh perbuatan-perbuatan daripada neo-
kolonialisme dan neo-imperialis, tidak.
Bangsa Indonesia jang berasal dari, kata ku tadi, Hindia Belakang jang puluhan
ratusan tahun menundjukkan dirinja peace loving, tetapi djuga tjinta kepada kemerdekaan.
Bangsa Indonesia tidak bisa dipermainkan oleh bangsa apapun. Bangsa Indonesia sudah
bangkit, dan di dalam kebangkitan ini Saudara-Saudara, sebagai kukatakan tempo hari, bangsa
Indonesia adalah ajam djantan dari dunia timur. Kita berkokok oleh karena matahari akan
terbit.
Demikianlah Saudara-Saudara sambutan saja kepada soal transmigrasi.
Sekian, terimakasih.

———————

Jakarta, 16 Februari 2007
Disalin sesuai dengan aslinya, oleh:
Sekretaris Jenderal DPP PATRI

Hasprabu

Leave a Reply