Pidato Pengukuhan Guru Besar Eko Ganis Sukoharsono

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 1


METAMORFOSIS AKUNTANSI SOSIAL DAN LINGKUNGAN:
MENGKONSTRUKSI AKUNTANSI SUSTAINABILITAS
BERDIMENSI SPIRITUALITAS

Pidato Pengukuhan
Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Akuntansi Sosial dan Lingkungan
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya

Oleh:
Eko Ganis Sukoharsono

Disampaikan pada Rapat Terbuka
Senat Universitas Brawijaya

Malang, 13 Desember 2010


Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 2


Bismillahirrahmanirrahim

Yang terhormat,
Bapak Rektor/ Ketua Senat Universitas Brawijaya
Para Guru Besar dan seluruh Anggota Senat Universitas Brawijaya
Dekan dan Pemimpin Fakultas di Lingkungan Universitas Brawijaya
Para Dosen dan Civitas Akademika Universitas Brawijaya
Para tamu undangan dan hadirin yang saya mulyakan.

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua

Sungguh hanya kehadirat Allah SWT saya memanjatkan puji dan syukur karena dengan rahmat
dan karuniaNya kita dapat melaksanakan dan menghadiri acara yang merupakan tradisi
akademik terhormat ini.

Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan:
Mengkonstruksi Akuntansi Sustainabilitas berdimensi Spiritualitas

Bapak Rektor, para Anggota Senat dan Hadirin yang saya mulyakan,

Postmodernisme adalah ungkapan yang sangat kontroversial. Hadir dengan ungkapan-
ungkapan yang serba penuh reaksioner. Sebut saja antara lain dekonstruksisme, nihilisme,
lokalisme, dan spiritualisme. Kehadirannya mewarnai banyak disiplin ilmu dalam telaah
mode intelektual dalam merubah paradigm berfikir tentang ontology, epistemology dan
methodology. Sering pula difahami postmodernisme melakukan usaha merubah tradisi
intelektual yang sudah mapan. Intelektual yang secara tradisi mengedepankan rasionalitas dan
objektivitas, mulai dirubah dengan melibatkan spiritualitas dan subjektivitas. Tradisi justifikasi
signifikansi kebenaran dengan alat matematis dan statistika, diungkit dengan diskursus,
partisipasi kontektual, naratif dan transendental. Satu lagi yaitu tradisi justifikasi generalisasi,
dibantah dengan mengedepankan kearifan local (local wisdom).

Disiplin akuntansi mulai mengenal dengan intensitas tinggi tentang Posmoderinsme sejak
tahun 1980an. Para scholar tersebut antara lain Burchell, et.al (1980), Tinker (1980), Cooper and
Sherer (1984) dan Chua (1986). Burchell et.al (1980), mereka semua scholar manca Negara yang
merasa gelisah haruskah akuntansi hanya hadir dengan kalkulasi angka? Karya awal Burchell et
al ini mulai mengilhami accounting movement dengan melakukan diversifikasi disiplin
akuntansi, termasuk akuntansi sosial dan lingkungan yang bermetamorfosis menjadi Akuntansi
Sustainabilitas Berdimensi Spitualitas (Lihat Sukoharsono, 1995, 1996 dan 1998a).

Tujuan penulisan ini adalah untuk telaah metamorphosis akuntansi sosial dan lingkungan
ke akuntansi sustainabilitas. Perspektif Postmodernisme digunakan untuk mengkonstruksi
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 3

Akuntansi Sustainabilitas Berdimensi Spiritualitas, dengan rerangka karya James Cameron
(2009) dengan Avatar nya. Avatar sebagai karya postmodernisme telah membius dunia
merelasikan antara faham materialistik (yang digambarkan dengan orang langit dengan
komando Kolonel Miles Quaritch) dan penduduk Plane Pandora (yang dengan keindahannya
bersosial, berlingkungan dan berspiritual). Avatar adalah mahluk yang dikreasikan sebagai hasil
transedental roh dari Kopral Jake Sully menjadi penduduk Navi.

Postmodernisme Avatar dan Akuntansi

Avatar adalah karya postmodernisme terkini dengan mengilustrasikan bagaimana
keserakahan kaum kapitalisme hadir ke Planet lain (Pandora) dengan segala intensitas kapital,
alat berat dan serdadu militernya. Kapitalisme versus Environmentalisme, Humanisme dan
Spiritualisme dijadikan tema sentral membangun pengaruh siapa yang kuat dan berkuasa.
Metapora ini menyemangati Postmodernisme akuntansi yang telah memproklamasikan bahwa
kemajuan rasionalisme akuntansi harus digeser dari faham berbasis kapitalisme kearah berbasis
sosial, lingkungan dan spiritualitas. Peradaban baru telah mendobrak sentral kepentingan tunggal
kapitalisme (Stockholders) kepada stakeholders yang lebih luas. Kehadiran kapitalisme mulai
terkikis pengaruhnya hanya sebatas kapital yang dikontribusikan. Kehadiran komplesitas sosial
dan makna lingkungan memberikan arti yang lebih penting terhadap kelangsungan disiplin
akuntansi dengan nilai-nilai sosialnya, bahkan makna spiritualitas menjadi sumber enerji yang
tidak tergantikan terlupakan dan tidak terlaporkan.

Postmodernisme telah membuat terbuka akan hamparan peristiwa masa lampau (historis,
lihat Sukoharsono, 1998b dan 2000), kekinian dan harapan kedepan kehidupan sosial, yang
menenggelamkan kita semua. Hamparan kejadian keseharian dunia dengan segala pahit getir,
duka dan kecemasan. Seperti masyarakat Pandora yang cemas dengan keserakahan manuasia
langit. Produk akuntansi keuangan yang ditarik-tarik keruang hampa dan banyak macam
keseharian akuntansi yang lain menjadi pengalaman indah kemudian menjadi sumber terhebat
dalam mendalami filsafat postmodernisme ini. Karya tak akan terlupakan dengan journey
postmodernisme dari tahun 1992 hingga 1995 memberikan inspirasi berfilsafat akuntansi from
history, from the margins, from below, from local, from society, from environment, from
everyday life, hingga ke spiritual. Journey postmodernisme tersebut menghantarkan pemahaman
akan arti akuntansi dalam kehidupan sosial. Cahaya akuntansi dengan perspektif
postmodernisme mampu menerangi bentangan kehidupan mulai era pra sejarah hingga masa
postmodern ini (Lihat Sukoharsono 1995). Akuntansi hadir dengan mendisiplinkan masyarakat
tidak hanya menghitung bagaimana bisnis berpenghasilan, tetapi juga mampu mendisplinkan
tiap-tiap individu akan peduli sosial dan lingkungannya, bahkan transidental berspiritualitas.

Bapak Rektor, para Anggota Senat dan Hadirin yang saya mulyakan,

Mengurai Anatomi Akuntansi Sosial dan Lingkungan

Seluruh pengetahuan kita berangkat dari pertanyaan-pertanyaan apa (what), bagaimana
(how), mengapa (why), kapan (when), dimana (where) dan siapa (who). James Cameron
membangun Avatar menjadi terhebat sepanjang ini karena pertanyaan-pertanyaan itu. Jika ingin
mengenal postmodernisme akuntansi pertanyaan-pertanyaan tersebut layak untuk dikatakan.
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 4

Kesemua kata tanya ini disintesakan dalam konteks pendefinisian akuntansi sosial dan
lingkungan. Beberapa scholar mendekotomikan antara akuntansi sosial, yang secara khusus
mengkaji pada ruang lingkup masyarakat, komunitas sosial dan hubungan antar manusia, dan
akuntansi lingkungan yang secara khusus menelaah ruang lingkup akuntansi yang berhubungan
dengan lingkungan alam dan secara luas adalah planet ini. Untuk memberikan efisiensi
pembahasan ini secara konsais dibahas menjadi satu, yaitu akuntansi sosial dan lingkungan.

Kegundahan Gray (1994) tentang memaknai akuntansi sosial dan lingkungan membawa proses
pertumbuhan pemahaman terhadap sub disiplin akuntansi ini. Akuntansi sosial dan lingkungan
(yang kita ketahui juga sebagai akuntansi sosial, akuntansi lingkungan, corporate social
reporting
, corporate sosial responsibility reporting, non-financial reporting, atau sustainability
accounting
) adalah proses pengkomunikasian efek sosial dan lingkungan dari tindakan ekonomi
organisasi kepada beberapa kelompok tertentu dalam suatu lingkungan. Akuntansi sosial dan
lingkungan biasa digunakan dalam hubungannya dengan bisnis, walaupun organisasi secara luas,
seperti NGO, dan institusi pemerintahan bahkan institusi pendidikan juga menggunakannya.

Pandangan lebih khusus dan sangat kalkulatif disampaikan oleh Belkaoui (2006: 349).
Belkaoui mengartikan akuntansi sosial dan lingkungan sebagai proses untuk memilih variabel,
mengukur, dan menghasilkan pengukuran dari kinerja sosial dalam tingkatan organisasi; yang
secara sistematis mengembangkan informasi yang berguna untuk evaluasi kinerja sosial
organisasi tersebut, dan mengkomunikasikan bahwa informasi untuk kelompok-kelompok sosial
itu adalah suatu hal yang penting, baik untuk internal maupun eksternal organisasi. Kemudian
Zarkasyi (2007: 10) mendefinisikan akuntansi sosial dan lingkungan adalah suatu usaha untuk
mengganti kerugian dengan pertimbangan bahwa organisasi mempengaruhi, melalui
tindakannya, pada lingkungan eksternal (baik secara positif dan negatif) dan karenanya harus
memperhitungkan efek-efek sebagai bagian dari keseluruhan akuntansi sebagai tindakannya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa akuntansi mempunyai perhatian dalam caranya untuk tidak
membebaskan manusia dan organisasinya tumbuh begitu saja dengan tidak memperdulikan
sosial dan lingkungannya.

Secara khusus Hendricksen dan Breda (1992: 10) menggambarkan keprihatinan organisasi
pada isu-isu dalam pandangan mikro-ekonomi akuntansi tidak harus mencakup semua efek
organisasi terhadap masyarakat. Adalah penting biaya polusi terhadap lingkungan,
pengangguran, kondisi kerja yang tidak sehat, dan masalah sosial lainnya biasanya tidak
dilaporkan oleh organisasi, kecuali bahwa biaya tersebut ditanggung langsung oleh organisasi
melalui perpajakan dan regulasi.

Bapak Rektor, para Anggota Senat dan Hadirin yang saya mulyakan,

Fase-Fase Perkembangan Akuntansi Sosial dan Lingkungan

Avatar Grace adalah seorang peneliti flora dan fauna yang berpendapat bahwa
lingkungan Pandora mempunyai sistem bio-botanical neural network. Bio-botanical neural
network ini mempunyai satu kesatuan dalam system alam yang tidak dapat dipisahkan. Bila satu
dihancurkan akan berpengaruh kepada yang lain. Avatar pada sistem kehidupan penduduk Navi
mempunyai fase pertumbuhan dan pengembangan dengan sistem jaringan neural (saraf).
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 5

Metafora ini seiring dengan fase-fase perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan (Lihat
Gambar 1 dibawah ini). Gambar tersebut adalah sistem jaringan saraf yang antara satu dengan
yang lain mempunyai kaitan dan saling mempunyai relasi. Menariknya dari Gambar tersebut
adalah Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya (JAUB) berada dalam system jaringan saraf
perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan dunia. JAUB masuk dalam pusaran jaringan
saraf ke sepuluh dengan kontribusi nya pada titik saraf sosio-spiritual akuntansi. Mari kita telaah
kontribusi JAUB pada Perkembangan Akuntansi Sosial dan Lingkungan di Dunia ini.

GAMBAR 1
FASE PERKEMBANGAN AKUNTANSI SOSIAL DAN LINGKUNGAN
FASE X: Sosio Spiritualitas
Akuntansi (FEUB 2008)
FASE IX: Sustainability
Reporting (GRI 1999)
FASE VI I: John Elkington
Triple Bottom Line (1997)
FASE VI : Robert Hugh Gray
(1992)
FASE VI: Balance Scorecard
(1987)
FASE V: Runtuhnya Ekonomi
Sosialis (1980an)
FASE IV: Mandatory
Regulasi Perancis Pertama
Di Dunia
FASE I I: US Committee for
Economic Development 1971
FASE I : Keith Davis (1960)
FASE I: Howard Bowen (1953)


Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 6

Fase Pertama Howard Bowen
Howard Bowen (1908-1989) adalah seorang historian ekonom Amerika yang
memberikan inspirasi kemunculan akuntansi sosial dan lingkungan. Bowen mengawali karirnya
di University of Iowa, hingga keposisi the presiden of Grinnell College, the University of Iowa.
Kontribusi Bowen adalah dengan publikasi buku dengan judul Social Responsibility of
Businessmen tahun 1953. Bowen (1953) meletakan dasar konsep ini dengan mengatakan

it refers to the obligation of businessman to pursue those policies, to
make those decisions, or to follow those lines of action which are
desirable in terms of the objectives and values of our society
.

Kemudian secara kolektif dijadikan landasan awal mendefinisikan tanggungjawab sosial bagi
kewajiban pelaku bisnis untuk menetapkan tujuan bisnis yang selaras dengan tujuan (objectives)
dan nilai-nilai masyarakat (Society values). Konsep ini merontokan faham ekonomi yang dengan
perngorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi sudah lama
hukum ekonomi yang selalu kita dengar di sekitar kita ini telah rontok. Jangan lah kita pakai lagi
pemahaman hukum ekonomi ini, berkorban sedikit untuk hasil yang sebesarnya. Nilai-nilai
sosial dan lingkungan harus menjadi tujuan organisasi. Sekalipun masa itu belum sangat berarti
dalam perkembangannya, tetapi American Accounting Association (1971) mencatat bahwa fase
ini mulai bermunculan gagasan, konsep, proposal dan pendekatan untuk memperkenalkan awal
akuntansi sosial dan lingkungan. Asosiasi ini berpandangan bahwa Non-Financial Measures
(atau Pengukuran Non Keuangan) adalah penting untuk efektivitas operasional organisasi.

Fase Kedua Keith Davis
Menyambung apa yang digagas oleh Bowen (1953), Davis (1960) memperkenalkan
tulisnya tentang Can Business Afford to Ignore its Social Responsibilities? Davis secara tajam
berpandangan bahwa tanggungjawab sosial harus dimiliki oleh organisasi.

businesses’ decisions and actions taken for reasons at least partially
beyond the firms direct economic or technical interest (Davis, 1960)

Dengan pernyataan ini Davis menegaskan adanya tanggung jawab sosial organisasi di
luar tanggung jawab ekonomi semata. Argumen Davis menjadi sangat relevan, karena pada masa
tersebut (1960an) pandangan mengenai tanggung jawab sosial organisasi masih sangat
didominasi oleh pemikiran para ekonom klasik. Pada saat itu, para ekonom klasik memandang
para pelaku bisnis itu memiliki tanggung jawab sosial sebatas penggunaan sumber daya
organisasi mereka secara efisien, untuk menghasilkan barang dan jasa dengan harga yang
terjangkau oleh masyarakat. Tanggungjawab sosial mereka sebatas masyarakat dapat membeli
dengan harga yang telah diciptakan secara efisien. Bila hal tersebut berjalan dengan baik maka
organisasi akan mendapatkan keuntungan atas penjualan dan kemudian organisasi akan mampu
melakukan tanggung jawab sosialnya, seperti:
a. Menciptakan lapangan kerja.
b. Memberi kontribusi untuk pemerintahan dengan cara membayar pajak.
c. Menghasilkan barang dengan harga yang rasional.
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 7

Para ekonom klasik ini secara kuat berpandangan bahwa memupuk laba semaksimal mungkin
adalah cara klasik mereka dalam berbisnis.

Fase Ketiga US Committee for Economic Development in 1971
Committee for Economic Development (CED) adalah organisasi non-profit dan non-
partisan Amerika yang beranggotakan 200 senior corporate executives dan pemimpin universitas
terkemuka membuat laporan sangat fenomena tahun 1971 berjudul Social Responsibilities of
Business Corporations. Laporan tersebut menggunakan three concentric circles yaitu

Firstly, the inner circle included basic economic functionsgrowth,
products, jobs. Secondly, the intermediate circle suggested that the
economic functions must be exercised with a sensitive awareness of
changing social values and priorities.
And thirdly, the outer circle outlined newly emerging and still
amorphous responsibilities that business should assume to become
more actively involved in improving the social
Environment (Carroll, 1991)

Three concentric cicles ini dapat difahami bahwa
1. Inner circle of responsibilities (lingkaran tanggungjawab terdalam)
Pada lingkaran ini organisasi bisnis diharapkan mampu melaksanakan pertumbuhan
ekonomi, menghasilkan barang/ jasa, dan menyediakan aktivitas pekerjaan kepada
masyarakat.
2. Intermediate circle of responsibilities (lingkaran tanggungjawab menengah)
Menunjukkan tanggung jawab untuk melaksanakan fungsi ekonomi sementara pada saat
yang sama memiliki kepekaan kesadaran terhadap perubahan nilai-nilai dan prioritas-
prioritas sosial seperti meningkatnya perhatian terhadap konservasi lingkungan hidup,
hubungan dengan karyawan, meningkatnya ekspektasi konsumen untuk memperoleh
informasi produk yang jelas, serta perlakuan yang adil terhadap karyawan di tempat
bekerja.
3. Outer circle of responsibilities (lingkaran tanggung jawab terluar)
Mencakup kewajiban perusahaan untuk lebih aktif dalam meningkatkan kualitas
lingkungan sosial.

Pada tahun 1971 ini ditandai dengan pemahaman yang komprehensif terhadap akuntansi sosial
dan lingkungan dalam kehidupan bisnis, sebagai akibat three concentric cicles.

Today it is clear that the terms of social contract between society and
business are, in fact, changing in substantial and important ways. Business is
being ask to assume broader responsibilities to society than ever before and to
serve a wider range of human values. Business enterprise, in effect, are being
asked to contribute more to the quality of American life than just supplying
quantities of goods and services
.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 8

Carroll (1979) menjelaskan komponen-komponen tanggungjawab sosial organisasi bisnis
ke dalam empat kategori, yaitu:
1. Economic responsibilities, tanggungjawab sosial pada kategori ini berlandaskan bahwa
motif profit adalah motif utama dalam membangun organisasi bisnis. Organisasi bisnis
pada dasarnya adalah tanggungjawab ekonomi karena lembaga bisnis terdiri atas aktivitas
ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa bagi masyarakat yang menguntungkan.
2. Legal responsibilities, tanggungjawab organisasi dalm menjalankan bisnis yaitu dengan
menaati hukum dan peraturan yang berlaku di mana hukum dan peraturan tersebut pada
hakikatnya dibuat oleh masyarakat melalui lembaga legislatif. Tanggungjawab legal ini
adalah koridor dan sistem untuk mengatur organisasi dalam berbisnis.
3. Ethical responsibilities, organisasi diharapkan menjalankan bisnisnya secara etis dan
norma moral masyarakat. Masing-masing pihak dalam menjalankan bisnis diatur standar,
etika, norma agar masing-masing puas dalam berbisnis.
4. Discretionary responsibilities, tanggungjawab ini bersumber pada pandangan bahwa
keberadaan dari organisasi diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ekspektasi
masyarakat tersebut dipenuhi oleh organisasi melalui berbagai program yang bersifat
Filantropis (kedermawanan).

Selain isu mengenai kapasitas organisasi dalam memberikan respons terhadap tekanan-
tekanan sosial yang akan tercermin dari citra organisasi di mata publik, perkembangan akuntansi
sosial pada tahun 1970-an sampai 1980-an juga lingmencatat adanya kebutuhan baru dari
organisasi yang melaksanakan aktivitas pelaporan sosial dan lingkungan agar aktivitas sosial dan
lingkungan yang mereka lakukan terukur. Oleh karenanya, para peneliti seperti Carroll (1979);
Wartick dan Cochran (1985); dan Wood (1991) mengembangkan konsep yang disebut dengan
corporate social performance (CSP), yang didalamnya mengandung tiga dimensi, yaitu:
1. Dimensi kategori tanggung jawab sosial (ekonomi, hukum, etika, dan discretionary).
2. Dimensi kemampuan memberikan respons (responsiveness).
3. Dimensi dalam isu sosial tempat perusahaan terlibat (lingkungan, diskriminasi pekerja,
keamanan produk, keselamatan pekerja dan pemegang saham).
Berkaitan dengan hal tersebut, Wood (1991) mendefinisikan CSP sebagai: a business
organization`s of principle of social responsibilities, process of social responsiveness, and
policies, programs and observable outcomes as they relate to the firm`s societal relationship
.

Sebagaimana dapat dilihat dari definisi CSP tersebut, dampak pelaksanaan akuntansi
sosial dan lingkungan yang dapat diamati (observable outcome) merupakan isu penting dalam
model CSP yang membedakannya dengan konsep akuntansi sosial dan lingkungan generasi awal.
Hal ini sejalan dengan menguatnya tuntutan agar pelaksanaan akuntansi sosial dan lingkungan
dapat memberikan dampak yang terukur serta memberikan kontribusi terhadap kinerja keuangan
organisasi.
Fase Keempat Mandatori Regulasi Perancis Pertama di Dunia
Davis (1960) kemudian mempertegas argumennya dengan statemen tentang iron law of
responsibility yang menjadi fase ini tumbuh sebagai penyemangat kemunculan akuntansi sosial
dan lingkungan. Davis menyatakan bahwa: social responsibility of businessman need to be
commensurate with their social powerthen the avoidance of social responsibility leads to
gradual erosion of social power
.Argumen-argumen yang dibangun oleh Davis, menjadi cikal
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 9

bakal untuk identifikasi kewajiban organisasi bisnis yang akan mendorong munculnya konsep
akuntansi sosial dan lingkungan di era 70-an. Selain itu, konsepsi Davis mengenai iron law of
responsibility
menjadi acuan bagi pentingnya reputasi dan legitimasi publik atas keberadaan
suatu organisasi. Negara Amerika lebih dulu mengembangkan tanggungjawab ini, kendatipun
regulasi belum dilaksanakan secara mandatory. Beberapa Negara seperti German dan Eropa
Barat kemudian mengikuti mengadopsi regulasi yang pertama dilakukan oleh Amerika tentang
laporan tanggungjawab sosial (Social Responsibility Reporting) (Preston, et.al 1978). Perancis
adalah Negara yang pertama pada tahun 1977 mewajibkan organisasi bisnis untuk melaporkan
kegiatan tanggungjawab sosialnya.

the only country that actually did introduce legislation requiring
corporate social reporting at this time was France in 1977. The French
law mandates a report "composed of a lengthy list of indicators open
to ulterior statistical treatments and multiple interpretations" and its
scope is quite narrow, covering employee issues butno impacts of
business on the social or natural environment "even though
preliminary work had provided for this possibility" (Capron 1997, p.3)

Fase ini membawa perubahan yang sangat mendasar tentang beberapa persyaratan detail tentang
pelaporan akuntansi sosial dan lingkungan. Kendatipun hal ini masih terbatas di Perancis, tetapi
regulasi ini menjadi dasar kajian beberapa Negara maju untuk mulai memikirkan tentang
implementasi akuntansi sosial dan lingkungan.

Fase Kelima Runtuhnya Ekonomi Sosialis
Runtuhnya ekonomi sosialis yang disongsong dengan ekonomi neoliberalisme yang
konservatif pada tahun 1980an mengakibatkan stagnan pengembangan akuntansi sosial dan
lingkungan. Propaganda kedermawanan para pemilik perusahaan besar mulai mengatur strategi
baru untuk extra hati-hati terhadap pengeluaran dana mereka. Para pemegang saham perusahaan
besar mengencangkan ikat pinggang mereka terhadap tanggungjawab sosial mereka. Apalagi
pada runtuhnya ekonomi sosialis juga dibarengi dengan kinerja perusahaan-perusahaan besar
ternama melorot tajam, seperti IBM, General Motors dan Westinghouse di Amerika. Saat
bersamaan pula terjadinya skandal keuangan oleh antara lain Maxwell dan Adir di UK, hal ini
berakibat munculnya regulasi tentang corporate governance yang mengutamakan para pemegang
saham. Ini berdampak ketatnya pengendalian keuangan organisasi-organisasi bisnis besar dunia.

Sekalipun masa tersebut terjadi resistan dan pengendalian keuangan yang ketat, konsep
dan kerangka model akuntansi sosial dan pelaporannya tetap berjalan. Hanya pada masa ini
beberapa konsep baru dengan nama baru mulai muncul. Istilah baru tersebut adalah Socially
Responsible Investing (SRI). SRI ini banyak digunakan pada umumnya di UK.

Fase Keenam Balance Scorecard
Fase ini merupakan bentuk kombinasi finansiil dan non-finansiil dalam menilai kinerja
organisasi. Diperkenalkan pertama kali tahun 1987 oleh Art Schneiderman, yang kemudian
didesain ulang secara komprehensif oleh Kaplan dan Norton (1990). Akuntansi sosial dan
lingkungan mendapatkan tempat tersendiri dalam kemunculan Balance Scorecard. Ke empat
perspektif sangat fenomenal tersebut adalah
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 10

Financial: encourages the identification of a few relevant high-level financial measures.
In particular, designers were encouraged to choose measures that helped inform the
answer to the question "How do we look to shareholders?"
Customer: encourages the identification of measures that answer the question "How do
customers see us?"
Internal Business Processes: encourages the identification of measures that answer the
question "What must we excel at?"
Learning and Growth: encourages the identification of measures that answer the
question "Can we continue to improve and create value?".
Awal tahun 1990an merupakan booming model pelaporan akuntansi sosial dan lingkungan
dengan memanfaatkan konsep Balance Scorecard. Banyak perusahaan besar di Amerika dan
Eropa menggunakan konsep ini agar mereka mampu mengekspresikan kepedulian organisasinya
kepada stakeholdernya.

Fase Ketujuh Robert Hugh Gray
Kontribusi Gray (1992) untuk pengembangan akuntansi sosial dan lingkungan tidak
diragukan lagi. Publikasinya telah mewarnai konsep akuntansi sosial dan lingkungan hingga
gagasan accounting for sustainability. Gray (1993) mengidentifikasikan warna yang beda
terhadap metode akuntansi sustainabilitas. Metode tersebut adalah
1. Sustainable Cost, metode ini memberikan penekanan pada biaya yang harus dikeluarkan
oleh organisasi pada akhir periode akuntansi, untuk mengembalikan dampak lingkungan
hidup seperti posisi semula.

2. Natural Capital Inventory Accounting, metode ini memberikan perhatian serius terhadap
keberadaan Modal Alam (Natural Capital), sebagai penyertaan yang selalu ada.

3. Input Output Analysis, metode ini melaporkan arus fisik pemanfaatan material dan
energy dan keluar atas produk dan barang sisa dalam unit.

Pada Fase ini, pemahaman akuntansi sosial dan lingkungan secara khusus didesain secara
quantitative dalam bentuk nilai moneter, sebagaimana melengkapi akuntansi konvensional
selama ini.

Fase Kedelapan John Elkingtons Triple Bottom Line

Elkington (1997) adalah peletak dasar konsep triple bottom line. Konsep ini
memberikan inspirasi lebih serius tentang perluasan akuntansi konvensioanl yang single bottom
line, yaitu keuangan saja. Istilah Triple Bottom Linemenjadi penting saat people, planet dan
profit ditawarkan menjadi konsep akuntansi pertanggungjawaban sosial dan lingkungan.
1. Profit (Keuntungan perusahaan)
Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan
untuk terus beroperasi dan berkembang.
2. People (Kesejahteraan manusia/masyarakat)
Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Beberapa perusahaan
mengembangkan program Corporate Social Responsibility seperti pemberian beasiswa bagi
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 11

pelajar di sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, penguatan
kapasitas ekonomi lokal dan bahkan ada perusahaan yang merancang berbagai skema
perlindungan sosial bagi warga setempat.
3. Planet (Keberlanjutan lingkungan hidup)
Perusahaan peduli terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan keragaman hayati. Beberapa
program Corporate Social Responsibility yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa
penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan pemukiman dan
pengembangan pariwisata.
GAMBAR
TRIPLE BOTTOM LINE
PROFIT
PEOPLE
PLANET

Triple bottom line dengan triple P dapat disimpulkan bahwa profit sebagai wujud aspek
ekonomi, planet sebagai wujud aspek lingkungan dan people sebagai aspek sosial. Dan jika
dirinci lebih lanjut dari ketiga aspek Tripple Bottom Line, maka ketiga aspek tersebut dapat
diwujudkan dalam kegiatan berikut:

1. Aspek Sosial, misalnya: pendidikan, pelatihan, kesehatan, perumahan,penguatan kelembagaan
(secara internal, termasuk kesejahteraan karyawan) kesejahteraan sosial, olahraga pemuda,
wanita, agama, kebudayaan dan sebagainya.
2. Aspek Ekonomi, misalnya: kewirausahaan, kelompok usaha bersama/unit mikro kecil dan
menegah, agrobisnis, pembukaan lapangan pekerjaan, infrastruktur ekonomi dan usaha produktif
lain.
3. Aspek Lingkungan,misalnya: penghijauan, reklamasi lahan, pengelolaan air, pelestarian alam,
ekowisata penyehatan lingkungan, pegendalian polusi, serta penggunaan produksi dan energi
secara efisien.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 12

Ketiga aspek tersebut tanpa kehadiran aspek spiritual yang implementasinya dibutuhkan strategi
tertentu. Adapun strategi dasar yang dapat digunakan dalam implementasi akuntansi sosial dan
lingkungan tersebut adalah:
1. Penguatan kapasitas (capacity building)
2. Kemitraan (collaboration), dan
3. Penerapan inovasi.
Sedangkan menurut Brodshaw dan Vogel (1981) menyatakan bahwa ada tiga dimensi dari garis
besar ruang lingkup akuntansi sosial dan lingkungan yaitu sebagai berikut:
1. Corporate philantrophy adalah usaha-usaha amal yang dilakukan oleh suatu organisasi,
dimana usaha-usaha amal ini tidak berhubungan secara langsung dengan kegiatan normal
organisasi.
2. Corporate responsibility adalah usaha-usaha wujud tanggung jawab sosial organisasi ketika
sedang mengejar profitabilitas sebagai tujuan organisasi.
3. Corporate policy adalah berkaitan erat dengan bagaimana hubungan organisasi dengan
pemerintah yang meliputi posisi suatu organisasi dengan adanya berbagai kebijakan pemerintah
yang mempengaruhi baik untuk organisasi atau masyarakat secara keseluruhan.

Akuntansi sosial dan lingkungan pada fase ini mulai disibukkan dengan model laporan yang
memberikan kategori relasi aktivitas berhubungan dengan masyarakat, ekonomi dan lingkungan.

Fase Kesembilan Sustainability Reporting
Pada waktu yang hampir bersamaan dengan Elkington (1997), NGO CERES (Coalition
for Environmentally Responsible Economies) dan the United Nations Environment Programmes
(UNEP) mendirikan GRI (Global Reporting Initiative), organisasi independen yang membangun
standar Sustainability Reporting. Guideline GRI pertama dikeluarkan tahun 1999 (GRI, 1997)

GRI was set up to develop and disseminate globally applicable
Sustainability Reporting Guidelines. It helps organisations and their
stakeholders to report on the economic, environmental, and social
dimensions of their activities, products, and services, using six extra-
financial indicators.
The GRI recognises the need for non-financial indicators to measure a
company’s impact in terms of sustainable development and also to
assess its overall performance, a factor that contributes to its future
profitability.

GRI mengidentifikasikan 6 (enam) extra-indikator keuangan: aspek kemasyarakatan, ekonomi,
lingkungan, ketenagakerjaan, hak asasi manusia, tanggungjawab produk. Hingga sekarang GRI
telah mengeluarkan pedoman generasi ke 3 (G3 GRI) pada tahun 2006. Fase ini membawa
perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan menjadi lebih baik dan menjadi pola adopsi yang
cukup luas. Model pelaporan GRI G3 ini menginspirasi model pelaporan akuntansi sosial dan
lingkungan sebagai alternatif pelaporan akuntansi konvensional. Model GRI ini disimpulkan
dengan tanpa kehadiran aspek spiritual, yang banyak ahli dari banyak lintas disiplin ilmu,
mempunyai banyak terobosan pelaporan komprehensif aktivitas bisnis, kendatipun tanpa aspek
spiritual ada di dalamnya.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 13

Fase Kesepuluh Sosio-Spiritualitas Akuntansi
Akuntansi telah memasuki phenomena baru beyond materiality (Sukoharsono, 2008).
Akhir tahun 2000, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya memperkenalkan
pemahaman akuntansi tidak hanya terbatas pada angka moneter dan tabel jurnal transaksi
ekonomi, tetapi juga memperkenalkan relasi spiritualitas dan metafisika (Sukoharsono,
2009). Spiritualitas dipahami bahwa setiap individu dan organisasi (kelompok orang)
mempunyai tanggungjawab membangun peristiwa-peristiwa ekonomi, sosial dan lingkungan
dalam organisasi nya yang direlasikan dengan holy spirit.

Holy spirit merupakan bentuk berbasis religiusitas dan universalitas. Pada pembahasan
ini lebih diutamakan holy spirit dalam bentuk universalitas yang dapat dimaknai dengan kasih
yang tulus (merciful), cinta yang tulus (truthful love), kesadaran transcendental, mampu
melakukan kontemplasi diri, dan kejujuran. Lima dimensi ini adalah indikator utama dalam
proses pertanggungjawaban individu dan organisasi disekelilingnya. Sosio-Spiritualitas
Akuntansi menjadi penting dalam upaya menanamkan holy spirit dalam mengkreasi dan
melaksanakan pertanggungjawaban terhadap peristiwa-peristiwa ekonomi, sosial dan lingkungan
dalam kesatuan organisasi.
Walaupun konvensi akuntansi menggunakan monetary unit dalam pengukuran dan
diskursus kebijakannya, sosio-spiritual akuntansi dibangun dengan memanfaatan multiple units
of measurements untuk menilai kinerja individu dan organisasi. Multiple units of measurements
ini pada dasarnya untuk memberikan assessmen terhadap 5 (lima) unsur holy spirit: kasih yang
tulus (merciful), cinta yang tulus (truthful love), kesadaran transcendental, mampu melakukan
kontemplasi diri, dan kejujuran.

Fase Kesepuluh ini JAUB mengajak dunia Akuntansi sadar akan nilai-nilai diatas
materialitas (beyond materiality). Sosio Spiritual Akuntansi hadir untuk mengkodifikasi kinerja
individu dan organisasi pada ke 5 (lima) unsur holy spirit tersebut yang dilaporkan secara
periodik kepada stakeholders.

Bapak Rektor, para Anggota Senat dan Hadirin yang saya mulyakan,

Akuntansi Sustainabilitas dan Spiritualitas (Sustainability Accounting and Spirituality)


Dengan timbulnya kesadaran dalam masyarakat akan pentingnya melestarikan
lingkungan dan kepedulian sosial yang disebabkan oleh kerusakan aktivitas-aktivitas organisasi
bisnis, kemunculan akuntansi sosial dan lingkungan menyadarkan masyarakat tidak lagi hanya
menuntut produk barang/ jasa hasil organisasi yang bisa berguna untuk kehidupan saja.
Masyarakat juga menjadi sadar akan keinginan organisasi-organisasi bisnis untuk
memperhatikan kelestarian lingkungan dan peduli sosial. Fakta-fakta menunjukkan bahwa bumi
mengalami perubahan yang sangat signifikan. Sayangnya perubahan tersebut adalah perubahan
yang negative. Perubahan tersebut misalnya :
1. Peningkatan suhu udara menjadi lebih panas
2. Penipisan lapisan es, termasuk mencairnya pegunungan salju
3. Permukaan laut yang naik
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 14

4. Bertambahnya penyakit baru
5. Kemarau panjang
6. Badai, misalnya badai katrina
7. Banjir
Kesemua kejadian bencana ini erat sekali dialami oleh masyarakat kita, Indonesia.

Kembali ke Posmodernisme Avatar, metafora perubahan ini dapat direpresentasikan dengan
Planet Pandora. Planet Pandora dibakar oleh kekuatan raksasa pimpinan Kolonel Miles.
Eksploitasi sumber mineral Unobtanium adalah motifnya. Dukungan kapitalis adalah
pemikirnya. Awan Pandora menjadi kelabu jutaan rudal dan misail menghujam alam dan
lingkungan indah penduduk Navi. Flora dan fauna Pandora seakan porakporanda dan tertelan
mesiu yang ganas.

Tidaklah beda dengan apa yang kita alami dibumi ini. Semua hal tersebut merupakan dampak
dari global dan keserakahan kapitalis. Melihat hasil telaah para ahli, IPCC (Intergovermental
Panel on Climate Change) melaporkan beberapa perubahan iklim yang terjadi sangat memilukan:
1. Peningkatan tinggi permukaan air laut dari 18 cm hingga 50 cm pada tahun 2100
2. Lautan es akan menciut dikedua kutub bumi
3. Siklus musim kelihatan lebih intens membawa angin dan hujan
4. Musim panas yang tidak teratur, gelombang panas dan hujan deras yang semakin sering
terjadi disertai kilat yang frekuensi juga semakin meningkat

Kejadian di Indonesia pada akhir-akhir ini tidak lepas dari dampak global keserkahan
kapitalis. Eksplorasi alam secara besar-besaran, mengisap mineral bumi dalam jumlah
berjuta-juta bahkan milyar barel per hari dan memproduksi limbah dan polusi yang
merusak keseimbangan ala mini. Tidak lah mengherankan bila kini bermunculan
kejadian-kejadian alam yang memilukan di tanah air kita. Banjir di banyak tempat,
longsor di banyak tempat, gunung berapi yang bererupsi dan gempa bumi melanda kita
hampir setiap detik.

Dengan perubahan iklim seperti diatas bayangkan apa yang terjadi pada generasi berikunya.
Jumlah penduduk yang semakin banyak dengan iklim yang semakin tidak kondusif.
Adapun penyebab hal tersebut adalah :
1. Polusi emisi batu bara
2. Polusi BBM
3. Polusi Kimia
4. Penggundulan hutan
Yang menjadi pelaku hal tersebut adalah kita semua termasuk didalamnya adalah organisasi-
organisasi bisnis disekitar kita.

Disclosure lingkungan dan sosial akibat peristiwa diatas dalam praktik akuntansi konvensional
menjadi tidaklah cukup. Seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap
kepedulian lingkungan dan sosial, bentuk regulasi atau Undang-Undang tentang model pelaporan
sangatlah diperlukan (Lihat di US: AAA (1971), US CED (1971), berikutnya di Indonesia, UU
Penanaman Modal No. 25/ 2007 dan UU Perseroan Terbatas No. 40/ 2007).

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 15

Menurut survey KPMG, selama tahun 1994-1995 organisasi bisnis yang men-disclosed
kepedulian sosial dan lingkungan semakin meningkat. Di Indonesia, IAMI (Ikatan Akuntan
Manajemen Indonesia) pada 5 (lima) tahun belakangan ini disclosure tidaklah menjadi trend,
tetapi pelaporan secara komprehensif mulai menjadi kreasi positif perkembangan akuntansi non
finansiil. Tetapi kurangnya standar atau pedoman, bersamaan dengan adanya ketidakpastian
kepada siapa disclosure itu ditujukan, membuat pelaporan isu sosial dan lingkungan itu sangat
bervariasi (Hackstone (1996). Luasnya disclosure kewajiban lingkungan berhubungan dengan 4
faktor, yaitu: (1) peraturan,termasuk tindakan pemaksaan, (2) peradilan dan negosasi, (3)
implikasi pasar modal, dan (4) pengaruh peraturan yang lain. Dari hasil penelitian tersebut dapat
disimpulkan bahwa dengan semakin banyaknya peraturan-peraturan dan pemaksaan hukum,
jumlah disclosure isu lingkungan semakin meningkat, tetapi karena pedomannya belum jelas dan
kepada siapa disclosure tersebut ditujukan, maka disclosure isu lingkungan masih variatif. Maka
dari itu perlu adanya pedoman yang jelas dalam pelaporan lingkungan serta secara jelas siapa
pemakainya.

Akuntansi Sustainabilitas (Aksus) hadir untuk menjawab tantangan kekinian dan masa
mendatang untuk keberlanjutan sosial, ekonomi, lingkungan dan spiritualitas. Aksus adalah
praktik pelaporan, pengukuran dan pengungkapan, yang dapat dipertanggungjawabkan ke
internal dan eksternal stakeholders untuk mencapai pengembangan tujuan. Aksus melaporkan
peristiwa-peristiwa organisasi yang mempertimbangkan dan menguraikan dimensi ekonomi,
sosial, lingkungan, dan spiritual. Ada tiga tujuan Aksus adalah:

1. Benchmarking ,menaksir sustainabilitas yang berkaitan dengan hukum, norma, dan etika.
2. Demonstrating, melaporkan peristiwa-peristiwa ekonomi, sosial, lingkungan dan
spiritualitas sebagai pertanggungjawaban operasional organisasi.
3. Comparing, Aksus melaporkan secara berkala untuk kepentingan perbandingan antar
waktu dan organisasi yang lain terhadap peristiwa-peristiwa ekonomi, sosial, lingkungan
dan spiritualitas.

Aksus juga mengidentifikasi informasi yang relevan dan material dalam organisasi dan
stakeholders untuk melaporkan ke tiga jenis standar pelaporan yaitu:
1. Strategi dan profil; pelaporan pada seluruh konteks untuk pemahaman organisasi yang
lebih komprehensif..
2. Pendekatan secara manajemen; memahami organisasi secara komprehensif mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, pelaporan hingga evaluasi dan pengawasan.
3. Prestasi; memahami dari waktu ke waktu kinerja organisasi yang bersangkutan untuk
aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan spiritualitas.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 16

GAMBAR
AKUNTANSI SUSTAINABILITAS DENGAN 4 (EMPAT) ASPEK ORGANISASI:
EKONOMI, SOSIAL, LINGKUNGAN DAN SPIRITUAL
ASPEK
SPIRITUAL
ASPEK
AKUNTANSI
ASPEK
EKONOMI
SUSTAINABILITAS
SOSIAL
ASPEK
LINGKUNGAN

Gambar diatas menunjukkan kompleksitas aksus kedalam 4 (empat) dimensi. Akuntansi telah
tumbuh dan mengakar pada aspek tradisi yaitu akuntansi keuangan. Tradisi ini kini mulai
berubah dan berkembang. Aksus mulai hadir dengan menata aspek yang lebih komprehensif
yang selama ini stakeholders menanti perubahan yang diinginkan. Memproses transaksi
keuangan saja menjadi tidaklah cukup untuk menata organsasi ke depan. Empat dimensi diatas
menjadi sangat penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup organisasi, tidak terkecuali
yaitu dimensi spiritual.

Bapak Rektor, para Anggota Senat dan Hadirin yang saya mulyakan,

Akuntansi Sustainabilitas Berdimensi Spiritual: Menimbang Makna Sosial dan Spiritual

Akuntansi Sustainabilitas (Aksus) hadir tidak dengan mencerabut apa yang telah ada.
Kehadirannya melengkapi dan cenderung mengisi ruang yang kosong. Tidak seperti apa yang
digambarkan oleh James Cameron (2009 Film) dalam Avatar nya bahwa orang langit datang ke
Pandora ingin mengeksploitasi Unobtanium, barang tambang yang sangat mahal harganya.
James Cameron dengan Avatarnya berusaha ingin mendongkel suku Navi, asli penduduk
Pandora, dengan kekuatan militernya yang maha dasyat. Tidaklah apa yang diinginkan James
Cameron, Aksus mengisi ruang yang kosong dalam menganalisa dan melaporkan peristiwa-
peristiwa ekonomi, sosial, lingkungan dan spiritual.

Ada 5 (lima) tema rasa sosial untuk membangun Aksus:
Definisi Akuntansi Sustainabilitas
Pemaknaan Indikator
Ekspresi Pengukuran dan Multi Simbul
Pemanfaatan Interdisiplin
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 17

Pemanfaatan Prinsip dan Praktek Akuntansi Konvensional

Definisi Akuntansi Sustainabilitas
Bila John Elkington (1997) menawar Triple Bottom Line nya dengan 3P nya, Aksus
didefinisikan dengan 4 dimensi: Ekonomi, Sosial, Lingkungan dan Spiritual. 3 (tiga) dimensi
utama adalah berbasis apa yang sedang di kampayekan oleh United Nation World Commission
on Environrmnt and Development (WCED, 1987) dengan judul Our Common Future yang lebih
dikenal dengan Brundland Report 1987. Brundland Report ini telah, kemudian, menginspirasi
munculnya kepedulian akan regulasi-regulasi ataupun standar-standar di dunia untuk kegiatan
tentang kepedulian sosial dan lingkungan. Termasuk pula GRI 2006 juga terinspirasi oleh
Brundland Report agar menempatkan 3 dimensi dalam pelaporan sustainabilitas organisasi
bisnis, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Aksus punya model definisi yang melengkapi kekosongan terhadap nilai-nilai kearifan
individu dan kelompok dalam organisasi yaitu spiritual. Aksus ini kemudian dikenalkan dengan
quadrangle bottom line: yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan spiritual. Dimensi ekonomi
mempunyai misi penting untuk direvitalisasi agar pertumbuhan ekonomi dapat memerangi
kemiskinan dan pengangguran. Dimensi sosial dan lingkungan mempunyai misi agar dimensi
ekonomi tidak membabi-buta dalam mengeksploitasi akan kepentingannya. Dimensi sosial dan
lingkungan merupakan penetral peristiwa-peristiwa ekonomi yang akan dan telah dilakukan
sebagai wujud kepedulian terhadap modal dasar ekonomi dalam menggerakan organisasi bisnis.
Dimensi spiritual mempunyai misi penyeimbang makna kehidupan terhadap diri, antar individu
dan kelompok organisasi. Makna holy-spirit sebagai enerji positif membawa keseimbangan
terhadap kehidupan bisnis secara ekonomi, sosial dan lingkungan.

Pemaknaan Indikator
Spiritualitas merupakan multi dimensional yang secara langsung tidak dapat diukur
(unmeasurable) untuk kepentingan sesaat. Sosio-spiritualitas juga tidak dapat secara langsung
memanfaatkan alat kwantitatif untuk menentukan kinerja ditiap-tiap dimensinya. Namun
demikian, indikator tetap diperlukan dengan menempatkan simbul dan pemaknaannya sesuai
dengan dimensinya. GRI Generasi ke3 telah merilis indikator ditiap-tiap 3 (tiga) dimensi
utamanya. Indikator ini dimaksudkan memberikan focus telaah terhadap aspek untuk dianalisa
dan diinformasikan (Lihat Tabel Aksus dibawah ini). Pada pembahasan ini secara khusus
mengkonstruksi model pelaporan akuntansi sustainabilitas dengan memperkenalkan 4 (empat)
dimensi, sebagai berikut:

1. Dimensi yang pertama adalah Dimensi Ekonomi. Dimensi ini melaporkan aktivitas
organisasi tentang relasi yang terjadi dan terkait dengan kebijakan manajemen secara
menyeluruh. Dimensi Ekonomi ini dapat meliputi Ekonomi Langsung dan Ekonomi
Tidak Langsung. Ekonomi Langsung terdiri dari beberapa aspek yaitu konsumen,
pemasok, karyawan, pemodal dan sektor publik (pemerintah). Ditiap-tiap aspek
Ekonomi langsung model pelaporan menggunakan unit pengukur dan analisa
kuantitatif dan kualitatif (narasi). Sementara untuk Ekonomi Tidak Langsung,
pelaporan aktifitas organisasi meliputi aspek Ekonomi Keluarga, Kontribusi Ekonomi
Nasional, dan Kontribusi Ekonomi Internasional secara timbal balik. Sama dengan
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 18

Ekonomi Langsung, pemakaian multi representasi pengukuran juga menggunakan
kuantitatif dan kualitatif.

2. Dimensi yang kedua adalah Dimensi Sosial. Dimensi kedua ini memproses aktivitas
organisasi yang secara pasti bahwa keberlansungan usaha selalu terikat dan terkait
dengan sosial kemasyarakatan. Ada 4 (empat) indikator dalam melaporkan aktivitas
sosial tersebut yaitu (1) praktek ketenagakerjaan dan kelayakan kerja, dengan
mempunyai 5 (lima) aspek antara lain, ketenagakerjaan, hubungan manajemen dan
tenaga kerja, kesehatan dan keamanan, pelatihan dan pendidikan, dan keragaman dan
kesempatan. Masing-masing aspek dapat dielaborasi model pelaporan dengan
menggunakan multi forms: kualitatif dan kuantitatif. (2) Indikator tentang Hak Asasi
Manuasi (HAM) melaporkan tentang aktivitas yang ada dalam organisasi yang
meliputi aspek; Strategi dan manajemen HAM, Non diskriminasi, Kebebasan
Berorganisasi dan Berserikat, Tenaga Kerja di Bawah Umur, Tenaga Kerja Wajib dan
Paksaan, Praktek Kedisiplinan, Praktek Keamanan, dan Hak Penduduk Pribumi/ Asli.
Aspek-aspek Ham ini tertuang dalam model pelaporan kualitatif. (3) Indikator ketiga
adalah Masyarakat, yang mempunyai aspek antara lain: Komunitas Masyarakat
(secara kualitatif/ naratif), Korupsi dan Penyuapan (secara kualitatif dan kuantitatif),
Kontribusi Politik (secara kualitatif) dan Kompetisi dan Harga (secara kualitatif dan
kuantitatif). (4) Indikator ke empat adalah Tanggungjawab Produk/ Jasa yang
mempunyai aspek antara lain: Kesehatan dan Keamanan Masyarakat (secara
kualitatif), Produk dan Jasa (secara kualitatif dan kuantitatif), Iklan dan Promosi
(secara kualitatif dan kuantitatif), dan Privasi (secara kualitatif).

3. Dimensi ke tiga adalah Dimensi Lingkungan. Dimensi ini memiliki indicator tunggal
yaitu Lingkungan, dengan maksud bahwa aktivitas organisasi selalu memanfaatkan
lingkungan dalam menggerakan roda manajemen organisasi. Indikator Lingkungan
mempunyai beberapa aspek operasional yang meliputi: Bahan Baku Sumber Alam,
Enegi, Air, Keragaman Hewan dan Tumbuhan (Biodiversity), Emisi, Efluen, dan
Limbah, Pemasok, Produk dan Jasa, dan Ketaatan, Transportasi dan Keseluruhan
Lingkungan. Kesemua aspek lebih dominan dilaporkan dengan menggunakan model
ukur secara kualitatif dan kuantitatif, kecuali ketaatan, hanya secara kualitatif.

4. Dimensi ke empat adalah Dimensi Spiritual. Dimensi ini juga mempuyai indikator
tunggal yaitu Spiritual. Aspek yang dilibatkan dalam system pelaporan akuntansi
sustainabilitas adalah Kasih yang Tulus (Merciful), Cinta yang tulus (Truthful love),
Kesadaran Transendental, Kemampuan Kontemplasi Diri dan Kejujuran. Organisasi
memiliki aktivitas dalam menjelankan roda kepemimpinan dan manajemen organisasi
tidak terlepas dalam aspek-aspek spiritual tersebut. Ini memberikan kesempatan
organisasi secara eksplisit dan tersistematis bahwa kehadiran spiritual menjadi warna
spirit menggerakan organisasi, yang secara periodik dapat dilaporkan kepada
stakeholders. Model untuk melapor aktivitas organisasi tentang spiritualitas nya
dalam bentuk kualitatif.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 19

Tabel 1
AKUNTANSI SUSTAINABILTAS BERDIMENSI SPIRITUAL:
DIMENSI, INDIKATOR, UNSUR, DAN UNIT PENGUKUR
DIMENSI
INDIKATOR
ASPEK
UNIT PENGUKUR
EKONOMI
EKONOMI LANGSUNG
KONSUMEN
Kuantitatif dan Kualitatif
PEMASOK
Kuantitatif dan Kualitatif
KARYAWAN
Kuantitatif dan Kualitatif
PEMODAL
Kuantitatif dan Kualitatif
SEKTOR PUBLIK
Kuantitatif dan Kualitatif
EKONOMI TIDAK
EKONOMI KELUARGA
Kuantitatif dan Kualitatif
LANGSUNG
KONTRIBUSI EKONOMI NASIONAL
Kuantitatif dan Kualitatif
KONTRIBUSI EKONOMI INTERNASIONAL
Kuantitatif dan Kualitatif
SOSIAL
PRAKTEK
KETENAGAKERJAAN
Kuantitatif dan Kualitatif
KETENAGAKERJAAN
HUBUNGAN MANAJEMEN DAN TENAGAKERJA
Kuantitatif dan Kualitatif
DAN
KESEHATAN DAN KEAMANAN
Kuantitatif dan Kualitatif
KELAYAKAN KERJA
PELATIHAN DAN PENDIDIKAN
Kuantitatif dan Kualitatif
KERAGAMAN DAN KESEMPATAN
Kuantitatif dan Kualitatif
HAK ASASI MANUSIA
STRATEGI DAN MANAGEMEN HAK ASASI MANUSIA
Kualitatif
NON-DISKRIMINASI
Kualitatif
KEBEBASAN BERORGANISASI DAN BERSERIKAT
Kualitatif
TENAGA KERJA DIBAWAH UMUR (ANAK)
Kualitatif
TENAGA KERJA WAJIB DAN PAKSAAN
Kualitatif
PRAKTEK KEDISIPLINAN
Kualitatif
PRAKTEK KEAMANAN
Kualitatif
HAK PENDUDUK PRIBUMI/ ASLI
Kualitatif
MASYARAKAT
KOMUNITAS MASYARAKAT
Qualitatif
KORUPSI DAN PENYUAPAN
Kuantitatif dan Kualitatif
KONTRIBUSI POLITIK
Kualitatif
KOMPETISI DAN HARGA
Kuantitatif dan Kualitatif
TANGGUNGJAWAB
KESEHATAN DAN KEAMANAN MASYARAKAT
Kualitatif
PRODUK
PRODUK DAN JASA
Kuantitatif dan Kualitatif
IKLAN
Kuantitatif dan Kualitatif
PRIVASI
Kualitatif
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN
BAHAN BAKU SUMBER ALAM
Kuantitatif dan Kualitatif
ENERGI
Kuantitatif dan Kualitatif
AIR
Kuantitatif dan Kualitatif
KERAGAMAN HEWAN DAN TUMBUHAN (Biodiversity)
Kuantitatif dan Kualitatif
EMISI, EFLUEN, DAN LIMBAH
Kuantitatif dan Kualitatif
SUPPLIER
Kuantitatif dan Kualitatif
PRODUCT DAN JASA
Kuantitatif dan Kualitatif
KETAATAN
Kualitatif
TRANSPORTASI
Kuantitatif dan Kualitatif
KESELURUHAN
Kuantitatif dan Kualitatif
SPIRITUAL
SPIRITUAL
KASIH YANG TULUS
Kualitatif
CINTA YANG TULUS
Kualitatif
KESADARAN TRANSENDENTAL
Kualitatif
KEMAMPUAN KONTEMPLASI DIRI
Kualitatif
KEJUJURAN
Kualitatif

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 20

Ekspresi Pengukuran dan Multi Simbul
Avatar menggambarkan 2 kutub yang sangat jauh berbeda. Orang langit sebagai
representasi manusia dengan komando Kolonel Miles Quaritch menyemangati kerja dengan
imbalan uang yang melimpah. Para serdadu dan peneliti yang tergabung pergi ke Planet Pandora
dibayar dengan gaji yang mahal dalam bentuk uang dollar. Sementara penduduk Navi tidak
ditemukan transaksi uang dalam kehidupan kesehariannya. Alam Pandora telah memberikan
kehidupan yang serba cukup dan keindahan yang sangat menakjubkan. Sebagai Avatar, yang
melakukan transendental roh dari manusia ke makluh Avatar, Kopral Jake Sully dan Dr. Grace
Augustine menjadi takjub dengan panorama dan kemurnian alam Pandora. Ibarat tanpa angka
pun mereka dapat hidup dengan damai, sebelum orang langit datang.

Avatar memberikan pelajaran multi simbul dalam kehidupannya. Demikian pula Aksus
hadir dengan multi simbul untuk memaknai dimensi, indikator dan unsur-unsur nya. Kuantitatif
dan kualitatif adalah simbul pengukuran nya. Kuantitatif memberikan representasi apa yang telah
dikenal dalam prinsip-prinsip akuntansi konvensional, seperti unit moneter dan unit non moneter.
Sementara kualitatif yang direpresentasikan dalam bentuk narasi, gambar dan warna yang sering
kita sulit menyederhanakan simbul tersebut (Lihat Table Aksus)

Pemanfaatan Interdisiplin
Avatar memiliki konsep yang sangat komprehensif dan multicultural. Tidak heran bila
James Cameron harus mengluarkan dana besar dalam memproduksi ini hingga sekitar Rp. 7
Triliun atau hamper sama dengan APBD Pemprov Jawa Timur tahun 2009. Lebih menakjubkan
lagi bahwa Avatar mampu memecahkan rekor dunia penghasilan sebuah film hingga Rp. 20
Triliun hingga tahun 2010 ini. Mengapa harus besar? James Cameron memanfaatkan
interdisiplin dalam perancangannya hingga penyelesaiannya. Mulai dari ahli flora dan fauna
hingga ahli strategi perang dan spiritualitas.

Semangat definisi diatas, Aksus memerlukan keahlian interdisiplin dalam menilai dan
menarasikan kejadian-kejadian ekonomi, sosial, lingkungan dan spiritualitas dalam organisasi.
Kehadiran para ahli ekonomi, termasuk keuanngan, akuntansi dan manajemen, para ahli ilmu
sosial, ecologi dan pemahamspiritualitas sangat penting untuk memberikan makna komprehensif
dalam aktivitas organisasi yang bersangkutan. Pemanfaatan interdisiplin ini sangat perlu untuk
mengkonstruksi peristiwa-peristiwa dalam organisasi agar dapat memfasilitasi diskursus trans-
disiplin dalam menyiapkan laporan, yang pada akhirnya mempunyai ketersediaan dan kelayakan
untuk di audit, baik secara internal maupun external organisasi.

Pemanfaatan Prinsip dan Praktek Akuntansi Konvensional
Tidak akan mungkin mengabaikan apa yang telah dikreasikan oleh Fra Luca Pacioli
tahun 1494. Luca Pacioli yang diklaim sebagai founding father of accounting disipline
menginspirasi prinsip-prinsip akuntansi konvensional yang sarat dengan muatan keuangan.
Aksus tetap teguh dengan konsepsi bahwa pemanfaatan prinsip dan praktek akuntansi
konvensional sangat penting. Prinsip dan praktek akuntansi konvensional memberikan peluang
Aksus untuk mengimplementasikan konsep capital maintenance, artinya bahwa konsep nilai atas
asset dan kewajiban sosial dan lingkungan memanfaatkan konsep harga atau biaya saat transaksi
atau nilai sekarang sebagaimana prinsip akuntansi diterima.
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 21

Prinsip-prinsip akuntansi konvensional yang lain yang juga dipakai melandasi praktek
Aksus adalah meliputi mekanisme Laporan Keuangan berbasis periodesasi akuntansi
konvensional, konsep going concern, materiality dan yang lainnya. Penilaian atas untung (laba)
dan rugi pun juga menjadi tradisi akuntansi konvensional yang dimanfaatkan.

Rerangka Generasi Baru Akuntansi Sustainabilitas Berdimensi Spiritualitas

James Cameron (Canadian) sebagai sutradara ternama dunia yang kini menyaingi
kehebatan cara berimajinanya Steven Spielberg (American) yang lebih dulu popular. Cameron
meletakan pondasi membangun Avatar dengan rerangka generasi baru dalam pembuatan film.
Avatar dibangun dengan merelasikan 2 (dua) planet yang berbeda. Planet Bumi dan Planet
Pandora, yang berkehidupan tanpa model oksigen seperti di dunia ini. Generasi baru yang
ditawarkan untuk akuntansi sustainabilitas ini meminjam perpaduan 2 (dua) kepentingan yang
berbeda, seperti di Avatar. Model pelaporan Akuntansi Sustainabilitas yang berdimensi Spiritual
ini mereformulasi model pelaporan Akuntansi Konvensional. Relasi antara peristiwa-peristiwa
langsung organisasi dan peristiwa-peristiwa tidak langsung organisasi yang terkait dengan
stakeholders (Lihat Gambar dibawah).

GAMBAR
GENERASI BARU PELAPORAN
AKUNTANSI SUSTAINABILITAS ORGANISASI
PERISTIWA-PERISTIWA
PERISTIWA-PERISTIWA
LANGSUNG
TIDAK LANGSUNG
ORGANISASI
STAKEHOLDER
LINGK
LINGK
EEKON
SPIRIT
EKON
SPIRIT
SOSIAL UNGA
SOSIAL UNGA
OMI
UAL
OMI
UAL
N
N
REFORMULASI
PERLUASAN RELEVANSI
PELAPORAN AKUNTANSI
PELAPORAN AKUNTANSI

Avatar merelasi kepentingan peristiwa langsung orang langit dan spiritualitas penduduk
Pandora, sementara Aksus memasukkan dimensi spiritual ke model perluasan pelaporan
akuntansi sosial dan lingkungan. Perpaduan ini memberikan refleksi terhadap model pengukuran
kinerja organisasi yang tidak hanya terbatas pada konsepsi peristiwa langsung organisasi yang
terikat dengan dimensi ekonomi. Pengukuran kinerja organisasi harus diperluas seiring dengan
perspektif postmodernisme bahwa dimensi ekonomi saja tidaklah cukup untuk mengukur kinerja
organisasi. Bila perluasan juga dilakukan dengan dimensi sosial dan lingkungan pun,
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 22

keniscayaan juga masih ada. Roh spiritualitas dalam organisasi juga harus dilibatkan untuk dapat
hadir dalam pengukuran kinerja organisasi.

Avatar mampu mengahadirkan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat Pandora, bahkan
mampu nilai spiritualitas avatar menggerakan fauna untuk membantu menyerang orang langit
(penduduk bumu). Sulit untuk dihindari bahwa nilai spiritualitas individu dan kelompok dalam
organisasi harus diapresiasi dalam menggerakan nilai-nilai bisnis yang dibangun dalam
organisasi. Nilai spiritualitas ini menjadi dimensi yang harus dilaporkan dalam membangun
kinerja organisasi yang bersangkutan. Tanggungjawab manajemen juga perlu dinilai dalam
menginspirasikan nilai-nilai spiritualitas peristiwa-peristiwa dalam organisasi. Organisasi tidak
harus digerakkan hanya dengan iming-iming uang. Cinta dan kasih sayang yang tulus akan
lebih mampu menggerakan organisasi yang lebih dasyat. Nilai spiritualitas Avatar Kopral Jake
Sully yang diperankan oleh Sam Worthington, lebih dasyat pengaruhnya dibandingkan imbalan
uang yang akan diterima bila Jake Sully berhasil dalam misi awalnya. Ini menandakan bahwa
dalam organisasi uang memang penting, tetapi tidak segalanya. Nilai spiritualitas mempunyai
dimensi maha dasyat dalam menggerakan organisasi. Tidak berlebihan bila kinerja organisasi
dalam dimensi spriritualitas juga dilaporkan (Lihat Tabel 1 Aksus diatas).

Kesimpulan

Postmodernisme Avatar telah meruntuhkan dominasi kapitalis, memporakporandakan
dominasi kekuatan kebesaran alat berat (militer), dan propaganda kolonalisme. Postmodernisme
Avatar mampu menumbuhkan semangat spiritualitas dan transedental roh pelestarian alam dan
lingkunganya. Metapora ini digunakan untuk menjelaskan akuntansi sustainabilitas berdimensi
spiritualitas. Peristiwa-peristiwa akuntansi pada dasarnya tidak dapat dipisahkan hanya dengan
dimensi ekonomi saja. Dimensi sosial dan lingkungan dan bahkan spiritual ternyata hadir dalam
setiap peristiwa-peristiwa organisasi.

Kinerja organisasi yang selama ini didominasi dengan alat ukur kalkulasi angka dan
moneter saja, hanya akan menjadikan beku. Naratif, ekspresif dan kontekstual juga sebagai
bagian penting dalam perluasan pelaporan kinerja organisasi. Dimensi ekonomi saja akan
kering dalam merepresentasi kinerja organisasi. Perluasan membangun dimensi sosial,
lingkungan dan spiritual adalah model generasi baru untuk mengekspresikan peristiwa-peristiwa
organisasi. Semua ini dapat hadir dalam sistem pelaporan akuntansi sustainabilitas berdimensi
spiritual, sebut saja Aksus.


Nyata sekali kontribusi JAUB dalam telaah Aksus berdimensi spiritual. 4 (empat) aspek
utama: ekonomi, sosial, lingkungan dan spiritual dihadirkan dalam sistem pelaporan untuk
mencerahkan organisasi bisnis dan non-binis terhadap stakeholdernya. Perubahan atas
keagungan moneter sebagai alat pengukur kinerja yang utama bahkan satu-satunya, saat nya
dengan kontribusi JAUB pada Aksus, pengukuran multi simbul menjadi generasi baru
pelaporan akuntansi sustainabilitas.


Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 23

Penutup
Mengakhir pidato pengukuhan ini, perkenankan saya menyampaikan hormat dan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu saya baik dalam bidang pendidikan, non pendidikan
dan pekerjaan sehingga saya dapat mencapai karir seperti sekarang ini. Pelajaran yang paling
berharga yang saya peroleh dalam meniti karir ini dan menjalani hidup ini adalah semakin
menyadari keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya dihadapan pada keluasan lautan ilmu
pengetahuan. Hanya atas izin Allah SWT, dari luasan laut yang luas itu, diizinkan saya
memperoleh setitik ini. Setitik ini menyadarkan saya akan makna hidup dan berkontemplasi diri
bahwa Allah itu maha indah segalanya.
Ya Rob, hadir Mu terasa ditiap langkah ku
Masa-masa ku telah kulalui dengan tidak terasa
Saat aku terlahir atas izin Mu, dunia punuh warna Mu
Warna Mu menghiasi masa masa ku hingga remaja, dewasa hingga kini
Terima kasih ya Rob warna Mu tidak akan pernah pudar

Ramadhan, 2010

Hormat dan terima kasih yang tulus saya kepada Ibunda Sudjinah dan almarhum ayahanda
Sanoesi. Kerja keras dan hidup dengan kesederhanaan dan perjuangan menjadi inspirasi
tersendiri.

Terlahir di Wonokitri Pakis Surabaya, aku mulai melihat dunia ini
Eko bermakna nomor satu, dan pertama
Ganis bermakna pengetahuan, meminjam Sansekerta Ganesha, Dewa ilmu pengetahuan
Suko bermakna senang hati
Harsono bermakna anak laki-laki
Bojonegoro adalah masa-masa ku mulai mengenal dunia sekolah
Cepu sejenak merasakan indahnya mandiri
Terima kasih ibu dan bapak, memperkenalkan hidup dengan penuh perjuangan
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik

Syawal, 2010

Ucapan terima kasih kepada Ibunda mertua Almarhumah Umaroh dan Ayahnda mertua Achmad
CHA yang tiada henti mendoakan kami anak-anaknya. Semoga Allah SWT senantiasa
melimpahkan kasih dan sayang Nya.

Jabatan Guru Besar ini tidak mungkin kami terima tanpa dukungan Senat Fakultas Ekonomi dan
Senat Guru Besar Universitas Brawijaya. Karenanya ucapan terima kasih dan penghargaan yang
tinggi juga dihaturkan kepada anggota Senat Fakultas Ekonomi dan Senat Guru Besar
Universitas Brawijaya.

Bapak Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito selaku Rektor/ Ketua Senat Universitas Brawijaya dan Badan
Pertimbangan Senat Universitas Brawijaya saya menyampaikan terima kasih atas pertimbangan
dan pengusulan sebagai Guru Besar.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 24

Bapak Dekan dan Ketua Senat Fakultas Ekonomi, Gugu Irianto, SE, Ak, MSA, Ph.D, dan
anggota Senat FEUB saya menyampaikan hormat, terima kasih dan penghargaan atas penilaian
usulan sebagai Guru Besar.

Ketika perjalanan dari Narita ke Ngurai Rai
Diatas Laut China Selatan, 07 Maret 2010
Dengan penerbangan Garuda yang terasa sempit
Tetapi adalah ruang yang luas untuk ber filsafat

Dari jendela mata memandang tak berbatas
Bumi bagai sebuah kenangan
Misi menembus akreditasi internasional tidaklah hanya terlintas
Berat memandang Dekan dengan terus menatap kedepan
Terima kasih Dr Gugus pengabdian yang tak berbatas

Medio Di Atas Laut Cina Selatan

Berikutnya adalah Ketua Jurusan Akuntansi, Dr. Unti Ludigdo, SE, Ak, MSi, dan Sekretaris
Jurusan, Helmi Adam, SE, MSA, Ak, saya menyampaikan hormat dan terima kasih atas
dukungan dan kerjasamnya. Para KPS, ada Prof Iwan Triyuwono, KPS S3, Prof. Sutrisno, KPS
S2 dan Prof Made Sudarma, Direktur PPAk, terima kasih juga atas semua ungkapan semangat
dan dukunganya. Bapak dan ibu rekan dosen, maaf tidak mungkin semua nama-nama kolega
saya sebutkan satu persatu. Dr Ali Djamhuri pertama saya ketemu saat di Wollongong Australia,
Dr (Cand) Bambang Hariadi, Dr (Cand) Nurkholis (Saat sama-sama mimpin SNA II di UB th
1999), Dr. Aulia Fuad, Dr (Cand) Imam Subekti, Dr (Cand) Erwin Saraswati, Dr (Cand) Lilik
Purwanti, Lutfi Haris, MAk, Khoiru Rusyidi, MAk, Nurul Fachriyah, Linda Ariamtiksna, Dr
(Cand) Zaki Baridwan, Syaiful Iqbal, MSi, Sari Atmini, MSi, Hera Tubandriyah, MM, Arum,
MSi terima kasih untuk rekan-rekan semua.

Ya Rob, jurusan adalah motor penggerak roda akademik,
Rahmatilah orang-orang dengan tulus mencurahkan waktu nya
Ya Rob, jurusan adalah laksana lampu penerang akademik
Rahmatilah orang-orang dengan tulus membuka hati dan pikiran nya
Terima kasih Dr. Unti dan Pak Helmi serta rekan2 jurusan

Terima kasih juga kepada para pemangku struktur akademik, kemahasiswaan, kepegawaian dan
administrasi yang sangat pula mendukung dalam proses pengusulan jabatan akademik ini.
Pembantu Rektor I, Prof. Dr.Ir. Bambang Suharto,MS., Pembantu Rektor II, Warkum Sumitro,
SH, MH, Pembantu Rektor III, Ir. H.R. B. Ainurrasyid, MS, Pembantu Dekan I, Dr. Khusnul
Ashar, MS, Pembantu Dekan II, Didied Afandi, MBA, Pembantu Dekan III, Nanang Suryadi,
SE, MM saya menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Prof Dr. Ir. Bambang Guritno (Mantan Rektor
UB), Prof. Dr. Bambang Subroto, SE, Ak, MM (Mantan Dekan FEUB), Prof. Dr. Harry Susanto,
SE, MS.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 25

Dua kenangan yang berbeda waktu
Teringat ketika dalam muhibah perjalanan Juanda Changi Schipol Berlin
Masa-masa berkomitmen menembus batas nasional
Tak ada kata indah kecuali terbanng menembus awan
Terima kasih Prof Bambang Guritno

Kala Garuda menembus awan Amerika
Kala diantara Narita ke Detroit
Kala dari Detroit ke Orlando, Florida
Kala AACSB di Disneylands
Kala singgah di Murray State University
Terima kasih Prof Bambang Subroto

Dua kenangan dua Prof Bambang

Hidup adalah pilihan. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Almarhum Prof. Dr. Mochamad
Ichsan (Mantan Ketua Yayasan Y3P) dan Dra. Dahniar (Mantan Ketua STIE Malangkucecwara
Malang), dan para dosen dan karyawan STIE Malangkucecwara Malang. Terima kasih atas
pemberian pilihan dalam berkarir. Sulit mengingat semua nama, yang antara lain adalah Drs
Sonhaji, MS, Drs. Hariyanto, MSi, Drs. Supriyanto, MSi, Drs Hedher Tuakia, MfAg, Drs Taufik
Djafri, MS, Drs. Suparman, MSi (Alm), Prof. Dr. Abdoel Kadir, MSi (Alm), Drs Ali Murtadlo,
MM, Ak (Alm), Drs Aminul Amin MSi. Berjuang tanpa batas.

Semua rekan-rekan dosen di Jurusan Akuntansi, Manajemen dan Ilmu Ekonomi, saya banyak
terima kasih atas kerjasama yang baik selama ini. Secara khusus pula untuk para pengelola
Program Internasional Fakultas Ekonomi, Dr. Devanto dan Dr Andarwati dan staf, saya juga
mengucapkan terima kasih, kepada Prof Eka Afnan Troena, Prof Syaifii Idrus, Prof Ubud Salim
(saat pertama jumpa di Wollongong), Prof. Margono, Prof. Umar Burhan, Prof Candra Fajri,
Prof. Erani Justika, Prof Munawar, dan membanggakan juga Prof Djumilah Zain.

Wollongong, Australia, sulit pula untuk dilupakan. Terima kasih kepada Prof Tjiptohadi
Sawarjuwono (Unair), Prof Basuki (Unair), Prof Eddy Rasyid (Unand), Prof Arifin Sabeni
(Undip), Prof David Saerang (Unsrat), Prof Imam Ghozali (Undip), Prof Iwan Triyuwono, Dr.
Imam Wahyudi (Perbanas, Jkt), hari hari telah kita lalui bersama dan penuh semangat. Tidak
ketinggalan adalah Prof Michael Gaffikin (promotor), Akhirnya tahu juga examiner disertasi
saya, terima kasih Prof Tom Mock (University of New Mexico, USA) dan Prof Steward
Lawrence (Waikato University, New Zealand).

Terima kasih juga kepada TKPA (Tim Koordinasi Pengembangan Akuntansi) yang memberikan
beasiswa S2 dan S3 saya. Prof Bambang Sudibyo (UGM), Prof Dr. Ronny Muntoro (UI), Prof
Katjep Abdoel Kadir (UI), Bp. Samsyu Alam Makka, SH (Dikti), Bp Bambang Sarengat (Dikti),
Prof Yuwara Sukra (Mantan Direktur Perguruan Tinggi Swasta, Dikti).

Tak terkecuali, rekan-rekan sepengabdian di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia, Prof Iwan
Triyuwono, Nabil Alatas, Dr. Yos Adiguna Ginting,(Executive, HM Sampoerna), Deni (Bank
Mandiri/ dh Bapindo), Devi, Dr. Manan, Dr Reiful. Terima kasih atas dukungannya saat saat
memimpin PPI Australia.
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 26

Terima kasih saya ucapkan kepada Guru guru saya saat di TK Trisula II Jl Diponegoro
Bojonegoro, SDN Kepatihan I, SMPN I Bojonegoro, SMAN I Cepu, SMA PGRI/ Tantular
Bojonegoro dan semua rekan, sahabat, kolega. Sahabat masa kecil juga saat-saat di sekolah,
Kombes Eko Krismianto, Kolonel Budi Midi, Ir. Heriyanto, Drs. Setyo Bawono, Ketut Rumah
Sakit.

Kepada mahasiswa/i akuntansi, saya menyampaikan terima kasih, mahasiswa adalah
penginspirasi dalam pengembangan ilmu akuntansi saya.

Izinkan pada kesempatan ini saya memberikan hormat dan terima kasih teristimewa kepada istri
saya Hj. Intutik, yang selalu sabar dan penuh tawakal mendampingi saya dari hari ke hari yang
penuh perjuangan dan doa. Masa-masa sulit awal di Malang dan di Australia dilalui dengan
penuh kesabaran dan tidak hentinya doa untuk saya. Juga untuk anak-anak tercinta pemberi
inspirasi, Brilly dan Bram diantara saudara-saudara mu kamu berdua sangat beruntung hadir
dalam prosesi wisuda ayahmu 5 x hingga hari ini (Saat sarjana, master, honours master, PhD dan
Guru Besar hari ini). Brilly, Bram dan Brian terima kasih. Untuk anak-anak tercinta yang
perempuan, Kautsar, Kalfin dan Karina terima kasih, dan maaf bila tidak banyak waktu bermain
dengan mu, I love you.

Ingatan Cinta adalah ketulusan menerima
Niatan Kasih adalah ketulusan memberi
Tiada hari tanpa kasih dan cinta
Untukmu langkah demi langkah menuju
Terukir kenangan dari penjuru negeri
I love you
Ku persembahkan Guru Besar ini untuk mu

Akhirnya kepada Rektor, Guru Besar, dan hadirin yang terhormat yang dengan sabar mengikuti
acara pengukuhan ini, saya menyampaiakan terimakasih dan penghargaan yang tinggi. Mohon
maaf jika ada kekurangan dalam pidato pengukuhan ini. Semoga Allah SWT membalas amal
baik kita semua, amien.

Wabillahi taufik wal hidayah

Wassalammualaikum Wr. Wb.



Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 27

Daftar Pustaka

American Accounting Association. 1971. "Report of the Committee on Non- Financial Measures
of Effectiveness." In: The Accounting Review. Supplement to Vol. 46. pp. 165-212.
Belkaoui, A. 2006. Teori Akuntansi. Edisi 5 Buku 1. Jakarta. Penerbit Salemba Empat.
Bowen, Howard. 1953. Social Responsibility of the Businessmen. Harper & Rowe: New York.
Bradshaw, T.F dan Vogel, D. 1981. Corporations and their critics : issues and answers to the
problems of corporate social responsibility / edited by Thornton Bradshaw and David
Vogel
McGraw-Hill, New York.
Burchell, C. Clubb, A. Hopwood, J. Hughes and J. Nahapiet. 1980. The Roles of Accounting in
Organizations and Society. Accounting, Organizations and Society. Vol. 5. No. 1.Pp. 5-
27
Cameron, James. 2009. Avatar. Box Office
Capron, M. 1997. "The Evaluation of the Corporate Social Responsibility of Social Economy
Firms." In: [http://nt2.ec.man.ac.uk/ipa97/papers/capro107.html]
Carroll, AB. 1979. A Three Dimensional Conceptual Model of Corporate Performance. The
Academy of Management review. Vol.4. No.4. October. Pp.497-525.
Carroll, AB. 1991. The Pyramid of Corporate Social Responsibility: Toward the
MoralManagement of Organizational Stakeholders. Business Horizons. July-August
1991
Committee for Economic Development, Social Responsibilities of Business Corporations (New
York: CED, 1971).
Cooper, D.J. and M.J. Sherer. 1984. The Value of Corporate Accounting Reports: Arguments
for a Political Economy of Accounting. Accounting, Organizations and Society. Vol. 9.
no. 3/4. pp. 207-232.
Davis, Keith. 1960. "Can Business Afford to Ignore its Social Responsibilities?" California
Management Review. 2. 3. Pp.70-76.
Dierkes, M. 1979. "Corporate Social Reporting in Germany: Conceptual Developments and
Practical Experience." In: Accounting, Organizations and Society. Vol. 4. No. 1/2. pp.
87-107.
Dierkes, M. 2001. "Vision Impossible? A Plea for Social Innovations." In: Social &
Environmental Accounting. Vol. 21. No. 2. pp. 1-3.
Dierkes, M./Bauer, R. A. 1973. Corporate Social Accounting. New York. Washington. London:
Praeger.
Dierkes, M./Berthoin Antal, A. 1985. "The Usefulness and Use of Social Reporting
Information." In: Accounting, Organizations and Society. Vol. 10. No. 1. pp. 29-34.
Dierkes, M./Berthoin Antal, A. 1986. "Whither Corporate Social Reporting: Is It Time to
Legislate?" In: California Management Review. Vol. 28. No. 3. pp. 106-121.
Dierkes, M./Preston, L. E. 1977. "Corporate Social Reporting for the Physical Environment: A
Critical Review and Implementation Proposal." In: Accounting, Organizations and
Society
. Vol. 2. No. 1. Pp. 3-22.
Elkington, John. 1997. Cannibals woth Forks: The Triple Bottol Line of 21th Century Business.
Capstone Publishing. Oxford.
Global
Reporting
Initiative
(GRI).
1997.
http://www.sustainability.psa-peugeot-
citroen.com/en/detail_contextuel_flashback.php?id=1781
Global Reporting Initiative (GRI). 2002. Sustainability reporting guidelines. Boston.
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 28

Gray, R. 1992. Accounting and environmentalism: An exploration of the challenge of gently
accounting for accountability, transparency and sustainability. Accounting Organisations
and Society
. 17(5). 399425.
Gray, R. 1993. Accounting for the environment. London: Paul Chapman.
Gray, R. 1994. Corporate reporting for sustainable development: Accounting for sustainability in
2000 AD.Environmental Values. 1745.
Gray, R. 2002. The social accounting project and accounting organizations and society.
Privileging engagement, imaginings, new accountings and pragmatism over critique?
Accounting Organizations and Society. 27. 687708.
Hendricksen and Breda. 1992. Hendricksen, Eldon S and Michael F. Van Breda. 1992.
Accounting Theory. Fifth Edition. United States of America. Richard D. Irwin, Inc.
Kaplan R S dan Norton D P. 1990 "The balanced scorecard: measures that drive performance",
Harvard Business Review Jan Feb pp. 7180
Preston, L. E./Rey, F./Dierkes, M. 1978. "Comparing Corporate Social Performance. Germany,
France, Canada, and the U.S." In: California Management Review. Vol. 20. No. 4. pp.
40-49.
Sukoharsono, Eko Ganis. 1995. Accounting, Colonial Capitalists, and Liberal Order: The Case
of Accounting History in Indonesia during the Dutch Colonial of the Mid-to-End of the
19th Century, The International Journal of Accounting and Business Society, Vol. 3/1
Sukoharsono, Eko Ganis. 1996. Early Ritual and Islamic Contributions to Accounting
Knowledge: An Indonesian Historical Case, The International Journal of Accounting
and Business Society
, Vol. 4/3
Sukoharsono, Eko Ganis. 1998a. Accounting in a New History: A Disciplinary Power and
Knowledge of Accounting, International Journal of Accounting and Business Society,
Vol 6, No 2
Sukoharsono, Eko Ganis. 1998b. The Boom of Colonial Investment: Dutch Political Power in the
History of Capital in Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 1, No.1
Sukoharsono, Eko Ganis. 2000. Bookeeping to Professional Accounting: A University Power in
Indonesia, International Journal of Accounting and Business Society, Vol 8, No 1
Sukoharsono, Eko Ganis. 2007. Green Accounting in Indonesia: Accountability and
Environmental Issues. The International Journal of Accounting and Business Society.
Vol.15. No 1. August. Pp.23-66.
Sukoharsono, Eko Ganis. 2008. Religion, Spirituality, and Philosophy: How Do They Work For
An Accounting World? The 3rd Postgraduate Consortium in Accounting: Socio-Spiritual
, Postgraduate Program University of Brawijaya, 8-9 September.
Sukoharsono, Eko Ganis. 2009. Spiritual Intelligence Definitions: Availability for Accounting
Knowledge. Unpublished Working Paper. Faculty of Economics. University of Brawijaya
Tinker, A.M. 1980. Towards a Political Economy of Accounting: An Empirical Illustration of
the Cambridge Controversies. Accounting, Organizations and Society. Vol. 5. no. 1. pp.
147-160
Undang-Undang Repbuplik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
Undang-Undang Repbuplik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Wai Fong Chua. 1986. Radical Developments in Accounting Thought. The Accounting
Review. Vol. LXI (October). No. 4.Pp. 601-632
Wartick, L. Steven dan P.L. Cochran. 1985. The Evolution of the Corporate Social Performance
Model. Academy of Management Review.Vol 10. No 4. October.
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 29

WCED. (1987). Our common future. Oxford University Press.
Wood, D. 1991. Corporate Social Performance Revisited. Academy of Management Review. Vol
16. No 4. October.
Zarkasyi. 2007. Zarkasyi, Srihadi W. 2007. Corporates Social Responsibility Accounting
Between Theory and Reality. Presented in Symposium of National Culture Indonesia-
Malaysia X, Malaysia, May 29-31 2007.

Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 30

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1. Data Pribadi

Nama
Eko Ganis Sukoharsono, SE, MCom-Hons, Ph.D
N I P
19641203 200312 1 001
Tempat/ Tgl Lahir
Surabaya, 03 Desember 1964
Pekerjaan
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya
Direktur Program Internasional Fakultas Ekonomi UB
Agama
Islam
Alamat kantor
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya
Jln. M.T. Haryono 165 Malang
Phone: +62 341 551396 Fax: +62 341 553834
Alamat Rumah
Jln. Manunggal Sudimoro A-41 Malang
Phone: +62 341 474675 Fax: +62 341 400272
Email
ekoganis@ub.ac.id
ekoganis@yahoo.com
Nama Istri
Hj. Intutik
Nama Anak
1. Brillyanes Sanawiri, SAB (UB), MBA (Murray State)
2. Liberyan Sananwirya, SE (proses, Join Program PPAk+MSA)
3. Kautsar Annisaa Sukoharsono (SMAN1, kelas10)
4. Kalfin Annisaa Sukoharsono (SD Insan Amanah kelas 6)
5. Karina Annisaa Firdaus Sukoharsono (SD Anak Sholeh kelas
3)
6. Brian Firdaus Akhirullah Sukoharsono (SD Anak Sholeh
kelas 1)

2. Riwayat Pendidikan

Doctor of Philosophy in Accountancy (PhD), Universisty of Wollongong,
1992-1995
Australia, Dissertation: A Power and Knowledge Analysis of Indonesian
Accounting Thought: Social, Economic and Political Aspects Shaping the
Development of Accounting in Indonesia

Honours Master of Commerce in Accountancy – MCom -Hons,
1991-1992
Universisty of Wollongong, Australia, Thesis: A Study of the Relationships
between Individual Psychological Differences of Indonesian Accountants,
Professional Job Behaviour and Financial Reporting Alternatives: An
Empirical Investigation

Master of Commerce in Accountancy – MCom, University of Wollongong,
1990-1991
Australia, Thesis: The Contribution of Psychological and Behavioural
Literature to the Design of Management Information System

Sarjana Ekonomi – Akuntansi (SE), STIE Malangkucecwara
1983-1988
SMA Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI/ D/h Tantular) Bojonegoro
1982-1983
SMA N 1 Cepu
1980-1981
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 31

SMP N 1 Bojonegoro
1977-1979
SD N Kepatihan 1 Bojonegoro
1971-1976
TK Trisula II Bojonegoro
1970-1971

3. Pendidikan Tambahan

University of Kentucky, USA, University Management Course
2007
Colorado State University, USA, Management University Training
1995
Oklahoma State University, USA, Professional Management
1995
University of Kentucky, USA, University Administration
1995

4. Riwayat Jabatan Akademik

Guru Besar
2010
Lektor Kepala
2005
Lektor (1999), Impasing Lektor Kepala
2001

5. Riwayat Pekerjaan dan Jabatan

Director, International Program, Faculty of Economics, University of
2009- Sekarang
Brawijaya
Assesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
2008- Sekarang
Executive Committee of Research Development Advisory Board, Faculty of
2006-Sekarang
Economics, University of Brawijaya
Editor in Chief, The International Journal of Accounting and Business
1993-Sekarang
Society
Chairman, Centre for Indonesian Accounting & Management Research
1991-Sekarang
Member of Editorial Boards of Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Universitas
1999-Sekarang
Gajah Mada (UGM) Yogyakarta
Director, International Program in Accounting, Faculty of Economics,
2007-2009
University of Brawijaya
Sekretaris, Badan Pertimbangan Penelitian, Program Pascasarjana,
2003-2007
Universitas Brawijaya
Director, Program Pascasarjana, STIE Malangkucecwara Malang
2000-2001
Ketua, IAI KAPd Cabang Malang
1991-2001
Pembantu Ketua IV Bidang Riset dan International, STIE
1995-2001
Malangkuewara Malang
Executive Committee, The Asian Pacific Conference on Interdisciplinary
1995-2000
Accounting Research
Member of School Council, Gwynnevile Public School, Wollongong,
1993-1995
Australia
Computer Laboratory Supervisor, Department of Accountancy, University of
1992-1995
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 32

Wollongong, Australia
Presiden, Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA)
1993-1994
Ketua, PPIA-Cabang University of Wollongong
1992-1993

6. Tanda Penghargaan

Dosen Berprestasi II Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya
2010
Dosen Berprestasi II Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya
2009
Dosen Teladan, Kopertis Wilayah VII
1998
Research Award, University of New South Wales, Australia
1998
Pengabdian Sebagai Presiden PPI Australia dari Kedutaan Besar RI
1995
untuk Australia di Canberra

7. Keanggotaan Profesi

Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik
Sekarang
Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI)
Sekarang
ISEI
Sekarang

8. Pengalaman di bidang Penelitian
1) 1990, The Contribution of Psychological and Behavioural Literature to the Design of
Management Information System
2) 1990, Crisis or Critical Development in Accounting Thought
3) 1991, A Study of the Relationships between Individual Psychological Differences of
Indonesian Accountants, Professional Job Behaviour and Financial Reporting
Alternatives: An Empirical Investigation
4) 1991, A Critical Perspective Analysis of Indonesian Accounting Thought: Some Preliminary
Thoughts on the Search for Better Understanding of Accounting in Practice
5) 1992, Error Characteristics of Accounting Population
6) 1992, Foreign Currency Financial Statement Translation: A Comparative Analysis of the
United States, the United Kingdom, Australia and International Standard Committee
7) 1992, Power and Knowledge in Accounting: Some Analyses and Thought on Social,
Political, and Economic Forces in Accounting and Profession in Indonesia (1800-
1950s)
8) 1992, The Genesis of Accounting in Indonesia: Dutch Colonialism in the Early 17th Century
9) 1994, Accounting, Colonial Capitalists, and Liberal Order: The Case of Accounting History
in Indonesia during the Dutch Colonial of the Mid-to-End of the 19th Century
10) 1996, Accounting in the Coming of Islam: Early Ritual and Administrative Affairs in
Indonesia
11) 1997, Sigi Pendapat Masyarakat tentang STIE Malangkucecwara Malang
12) 1997, The Boom of Colonial Investment: Dutch Political Power in the History of Capital in
Indonesia
13) 1997, Akuntabilitas Disiplin Akuntansi
14) 1998, Empowering Accounting Profession in Indonesia
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 33

15) 1998, Pengaruh Kualitas Informasi Pasar Modal terhadap Potensi Pemodal Lokal dalam
Pengambilan Keputusan Pembelian Saham: Studi di Kodya Malang dan Kodya
Surabaya
16) 1998, Accounting in a New History: A Disciplinary Power and Knowledge of Accounting
17) 1999, Accounting in A Historical Transition: A Shifting Dominant belief from Hindu to
Islamic Administration in Indonesia
18) 2002, Sistem Informasi Sumber Daya Manusia: Desain dan Implementasi Perangkat Lunak
PT. Perhutani Unit II (Peserso).
19) 2002, Sistem Informasi Manajemen Kampus Terpadu: Desain dan Implementasi Perangkat
Lunak Universitas Kanjuruan Kediri
20) 2002, Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan: Desain dan Implementasi Perangkat
Lunak Universitas Kanjuruan Kediri
21) 2001, Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian: Desain dan Implementasi Perangkat
Lunak Pemerintah Kabupaten Malang
22) 2002, Sistem Informasi Pengembangan Kerjasama untuk Peningkatan Investasi Daerah
Pemerintah Kota Malang
23) 2002, Sistem Informasi Manajemen Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda):
Desain dan Implementasi Perangkat Lunak Pemerintah Kota Malang
24) 2002, Inventarisasi dan Penilaian Barang Daerah Pemerintah Propinsi Jawa Timur 2002
25) 2003, Pemetaan Digital Kota Malang
26) 2003, Pengembangan Sistem Basis Data Kota Malang
27) 2003, Inventarisasi dan Penilaian Barang Daerah Pemerintah Propinsi Jawa Timur 2003
28) 2003, Inventarisasi dan Penilaian Barang Daerah Pemerintah Kabupaten Bangkalan 2003
29) 2003, Inventarisasi dan Penilaian Barang Daerah Pemerintah Kabupaten Lamongan 2003
30) 2003, Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah, Inventarisasi dan Penilaian Barang
Daerah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro 2003
31) 2004, The Internal Management of UPT Bidang Studi Pusat Bahasa The University of
Jember. TPSDP Grant
32) 2004, Pengembangan Sistem Basis Data Kota Malang
33) 2004, Pemetaan Digital dan Geographical Information System (GIS) Kota Blitar
34) 2005, Penyusunan Sistem Informasi Manajemen Terpadu, Pemerintah Propinsi Jawa Timur
35) 2005, Penyusunan Sistem Informasi Geografis, Dinas Perhubungan, Pemerintah Propinsi
Jawa Timur
36) 2007, A Crisis or Critical Development in Accounting Thought, International Journal of
Accounting and Business Society, Volume 15, Nomor 2, December 2007
37) 2007, Green Accounting in Indonesia: Accountability and environmental Issues,
International Journal of Accounting and Business Society, Volume 15, Nomor 1,
August 2007

38) 2008, Accounting in the Golden Age of the Singosari Kingdom: A Foucauldian Perspective,
Accounting National Symposium XI, Pontianak, Indonesia
39) 2009, Desain Induk Sistem dan Prosedur Kerjasama Daerah dengan pihak III tentang
Peningkatan Pelaksanaan Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social
Responsibility/ CSR) Di Jawa Timur



Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 34

9. Pengalaman di bidang Pengabdian Kepada Masyarakat

Penatar
Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Dosen IESP FE
2005
Universitas Jembar
Instruktur
Penyusunan Sistem Informasi Manajemen Terpadu
2005
Dinas perhubungan Jatim
Penyusun
Akuntansi Sektor Publik untuk SKPD Pemkot Malang,
2005
Pemkab Malang dan Pemkot Batu
Penyusun
Penyusunan Sistem Informasi Geografis, Batas
2005
Daerah, Toponimi dan Gazetir Kota Malang
Penyusun
Master Plan Sistem Informasi Manajemen terpadu
2005
Dinas Perhubungan Provinsi Jatim
Instruktur
Optimalisasi Aset Milik Pemerintah Provinsi Jawa
2006
Timur
Penyusun
Naskah Akademik Rencana Pembangunan Jangka
2006
Panjang Daerah (RPJPD) Kota Malang 2006-2026
Instruktur
Penyusunan Standar Barang dan Harga Satuan
2007
Barang Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Instruktur
Workshop Sistem Informasi Akuntansi Sektor Publik
2007
Penatar
Kursus Keuangan Daerah (KKD) Angkatan I
2007
Penyusun
Pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM)
2007
Perijinan Kota malang
Instruktur
Kursus Keuangan Daerah (KKD) Angkatan VII
2010
Instruktur
Kursus Keuangan Daerah (KKD) Angkatan VIII
2010

10. Karya Ilmiah, berupa
a. Jurnal

1) 1993, The Genesis of Accounting in Indonesia: The Dutch Colonialism in the Early 17th
Century, The Indonesian Journal of Accounting and Business Society, Vol.1,
No.1, December
2) 1994, Profesi Akuntansi di Australia, Akuntansi, Bisnis dan Manajemen, IV
3) 1995, Accounting, Colonial Capitalists, and Liberal Order: The Case of Accounting
History in Indonesia during the Dutch Colonial of the Mid-to-End of the 19th
Century, The International Journal of Accounting and Business Society, Vol. 3/1
4) 1996, Early Ritual and Islamic Contributions to Accounting Knowledge: An Indonesian
Historical Case, The International Journal of Accounting and Business Society,
Vol. 4/3
5) 1997, Akuntabilitas Disiplin Akuntansi, Media Akuntansi, December
6) 1998, Accounting in a New History: A Disciplinary Power and Knowledge of
Accounting, International Journal of Accounting and Business Society, Vol 6, No
2
7) 1998, The Boom of Colonial Investment: Dutch Political Power in the History of Capital
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 35

in Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 1, No.1
8) 2000, Bookeeping to Professional Accounting: A University Power in Indonesia,
International Journal of Accounting and Business Society, Vol 8, No 1
9) 2000, Pengaruh Kualitas Sistem Informasi Manajemen Terhadap Efektivitas Pengambilan
Keputusan Dalam Bidang Perkreditan, Akuntansi, Bisnis & Manajemen, Vol 7, No
2, Oktober
10) 2004, How Fast Tobacco Can Be: The Logistical Process At Rothmans Of Pall Mall
Indonesia In The 1997 Indonesian Economic Crisis (Joint Research with R.J.E.
van der Heijden and B.G. Wagner of the Fontys University), International Journal
of Accounting and Business Society
, Vol 12, No 1
11) 2005, The Genesis of Accounting in Indonesia: Dutch Colonialism in the Early 17th
Century. Critical and Historical Studies in Accounting. W. Funnell and R.
Williams (Ed). London: Prentice Hall Inc.
12) 2005, A Critical Perspective Analysis of Indonesian Accounting Thought: Some
Preliminary Thoughts on the Search for Better Understanding of Accounting in
Practice. The International Journal of Accounting and Business Society. Vol 13,
No 1, August
13) 2005, Environmental Accounting: A Map of Environmental Regulations and Policies of
the Indonesian Central Government. The International Journal of Accounting and
Business Society
. Vol 13, No 2, December
14) 2006, Fishermen-Households Accessibilities to Solving Problems of Their Poverty: A
Case Study in the East Java Coastal Villages, International Journal of Accounting
and Business Society, Volume 14, Nomor 1, August 2006

15) 2006, Alternatif Riset Kualitatif Sains Akuntansi:Biografi, Fenomenologi, Grounded
Theory, Critical Ethnografi dan Case Study. Analisa Mikro dan Makro: Jembatan
Ekonomi Indonesia
. (Ed) Khusnus Ashar, Gugus Irianto, Nanang Suryadi. BPFE.
Universitas Brawijaya
16) 2007, Green Accounting in Indonesia: Accountability and environmental Issues,
International Journal of Accounting and Business Society, Volume 15, Nomor 1,
August 2007

17) 2007, A Crisis or Critical Development in Accounting Thought, International Journal of
Accounting and Business Society, Volume 15, Nomor 2, December 2007
18) 2009, Refleksi Etnografi Kritis: Pilihan Lain Teknik Riset Akuntansi, AUDI (Jurnal
Akuntansi dan Auditing) UNUD, Vol 4, No 1. Januari
19) 2009, Riset Akuntansi Dalam Rerangka Paradigma postmodernisme: Pilihan dengan
Teori Strukturasi.Jurnal Ekonomi dan Bisnis (Eksis). Vol 3. No 2. September
20) 2010, Akuntansi dan Ideologi, Jurnal Ekonomi dan Bisnis (Eksis).Vol 3, No 3, Januari



Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 36

b. Buku, diktat dan buku laporan hasil penelitian

Forthcoming Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
2009
Sistem Informasi Manajemen, Penerbit Surya Pena Gemilang. Mei.
ISBN: 978-602-8253-15-4
2008
Laba Akuntansi Dalam Multiparadigma. Penerbit ISBN: 978-979-
19254-0-2
2004
The Internal Management of UPT Bidang Studi Pusat Bahasa The
University of Jember. TPSDP Grant

c. Makalah disajikan dalam seminar/ lokakarya

International

1) 2008, Religion, Spirituality, and Philosophy: How Do They Work For An Accounting
World? The 3rd Postgraduate Consortium in Accounting: Socio-Spiritual ,
Postgraduate Program University of Brawijaya, 8-9 September.
2) 2005, Power/ Knowledge on Accounting Discipline and Practice: The Foucauldian
Perspective, The 1st Postgraduate Consortium in Accounting: Non-Mainstream
Accounting and Research Methodolog.,
Postgraduate Program University of
Brawijaya, 28 February 1 March.
3) 1999, Accounting in A Historical Transition: A Shifting Dominant belief from Hindu to
Islamic Administration in Indonesia, The International Conference III,
Accounting, Commerce and Finance: The Islamic Perspective
, Jakarta, 15-18
February
4) 1998, Empowering Accounting Profession in Indonesia, International Interdisciplinary
Conference in Accounting, University of New South Wales, Australia, September
5) 1997, The Boom of Colonial Investment: Dutch Political Power in the History of Capital
in Indonesia, 7-10 July, Manchester Conference on Accounting, England, UK.
6) 1996, Accounting in the Coming of Islam: Early Ritual and Administrative Affairs in
Indonesia, New York Conference on Interdisciplinary Accounting Research, ,New
York, 26-29 April
7) 1995, Accounting Research, Asia-Pacific Interdisciplinary Research on Accounting,
Sydney, 4-7 July
8) 1994, Accounting, Colonial Capitalists, and Liberal Order: The Case of Accounting
History in Indonesia during the Dutch Colonial of the Mid-to-End of the 19th
Century, AAANZ (Accounting Association of Australia and New Zealand),
Wollongong, 2-4 July
9) 1992, Power and Knowledge in Accounting: Some Analyses and Thought on Social,
Political, and Economic Forces in Accounting and Profession in Indonesia (1800-
1950s), Seminar Series – University of Wollongong
10) 1992, The Genesis of Accounting in Indonesia: Dutch Colonialism in the Early 17th
Century, Seminar Series – University of Wollongong

Nasional – Indonesia

1)
2008, Accounting in the Golden Age of the Singosari Kingdom: A Foucauldian
Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 37

Perspective, Accounting National Symposium XI, Pontianak, Indonesia
2)
2001, Management Information System: Problems and Challenges, Universitas
Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Nopember
3)
2001, Accounting and Advanced Information Technology: A New Global Dimension,
14 April, Gajayana University, Malang
4)
1999, An Interaction of Technology, Economy and Society, PT Telkom Malang, 2
Oktober 1999.
5)
1999, Akuntansi Internasional: Kosentrasi Disiplin Berdimensi Pacioli atau New
Mellinniugm? Universitas Pembangunan Nasional Surabaya, 30 September
1999
6)
1997, The Boom of Colonial Investment: Dutch Political Power in the History of Capital
in Indonesia, Simposium Nasional Akuntansi I, UGM, Yogyakarta, 22-23
September
7) 1997, Accounting in a New History: A Disciplinary Power and Knowledge of
Accounting, The paper is prepared for presentation in the Research
Conference at Gadjah Mada University, Yogyakarta, 6 January
8) 1996, Accounting Profession in Indonesia, Malang Conference, December
9)
1996, The Roles of Information Management in Natural Science Research (Peran
Manajemen Informasi dalam Penelitian Ilmu Eksakta), Research
Methodology Upgrading for Natural Science (Penataran Metodologi
Penelitian Ilmu Eksakta) – BM PTSI Kopertis VII
, Universitas Islam Malang,
15-16 July
10) 1996, The Challenges of Educational World Research in the the Present and Future:
Information by CD ROM (Tantangan Riset Dunia Pendidikan Masa Kini dan
Mendatang: Informasi Menggunakan CD ROM), Post graduate seminar of
Brawijaya University Malang (Seminar Pasca Sarjana – Universitas Brawijaya
Malang)
, 14 May
11) 1996, Accounting in the Coming of Islam: Early Ritual and Administrative Affairs in
Indonesia, One-day Seminar: Accounting: "Past, Present and Future", STIE
Malangkucecwara, 4 April.
12) 1996, The New Era of Accounting Methodological Research: Post Modernism,
Indonesian Accountant Association (Ikatan Akuntan Indonesia), Malang, March



Eko Ganis Sukoharsono: Metamorfosis Akuntansi Sosial dan Lingkungan Hal. 38

11. Kunjungan ke Luar Negeri
Negara
Tujuan Kunjungan
Lokasi
Pendidikan Non Gelar
University of Kentucky, 1995,
2007
Pendidikan Non Gelar
Colorado State University, 1995
Amerika
Pendidikan Non Gelar
Oklahoma State University, 1995
Presenter, International Conference
New York, 1995, 1996
Kerjasama Akademik Internasional
Murray State University, 2008
Akareditasi Internasional – AACSB
Orlando, Florida, 2008
Kerjasama Akademik Internasional
University of Tweente,
Netherlands, 2006
Kerjasama Akademik Internasional
Berlin, Germany, 2006
Eropa
Presenter, Internasional Conference
University of Manchester, UK,
1997
Kunjungan Akademik
Westmisnter University, London,
UK, 1998
Pendidikan Gelar
University of Wollongong, 1990-
1995
Presenter, Internasional Conference
University of New South Wales,
Sydney, 1996
Australia
Visiting Researcher
Australian National University,
Canberra, 1996
Visiting Researcher (Research Grant)
University of New South Wales,
1998

Kunjungan Akademik
University of Southern
Queensland and University of
Wollongong, 2010
Akreditasi Internasional ABEST 21
Aoyama Ghakuin University,
Japan
Tokyo, 2010
AACSB International Conference
Singapore, 2010
Asia Tenggara
Kunjungan Akademik
IIU Malaysia, 2009

Incoming search terms:

  • buku sistem informasi manajemen oleh eko ganis sukoharsono
  • keluarga prof eko ganis
loading...

Leave a Reply