Pidato Kebangsaan Peringatan Pidato Bung Karno Oleh Ketua

PANCASILA, IDENTITAS BANGSA
keriuhrendahan kita bermasyarakat, berbangsa dan
Andreas A. Yewangoe
bernegara saat ini, 4 (empat) pilar ini harus terus-menerus

direvitalisasi agar kita tidak kehilangan visi. Alkitab kami
mengatakan: Di mana tidak ada visi,maka rakyat akan
I. Penghargaan dan Apresiasi
binasa (Amsal 29:18). Dalam bahasa Inggris: Where
there is no vision the people perish.
(Proverb 29:18).
Pertama-tama saya menyampaikan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan MPR-RI yang
II. Djiwa Kita Djiwa Indonesia-Djiwa Kita Bernafas
membiasakan kita mengadakan perayaan Hari Lahirnya
Pantja-Sila
Pancasila setiap 1 Juni. Itulah hari ketika Bung Karno

menyampaikan pidato bersejarah di depan Dokuritsu
Bahwa peringatan ini ditempatkan di bawah tema,
Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Djiwa Kita Djiwa Indonesia-Djiwa Kita Bernafas Pantja-
Kemerdekaan/BPUPK) 67 tahun lalu, yang belakangan
Sila, memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa
dikenal sebagai Pidato Lahirnya Pancasila. Memang
Indonesia tidak bisa difahami tanpa Pancasila. Pancasila
Bung Karno lah Penemu Pancasila, kendati beliau
adalah identitas bangsa, yang memberikan daya vitalisasi
sendiri dengan rendah hati mengatakan, hanya sebagai
terhadap masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.
penggali Pancasila. Pernah di dalam sejarah kita, ada yang
Bahkan hampir-hampir bisa dikatakan, Indonesia adalah
meragukan, bahkan menafikan peranan beliau sebagai
Pancasila, Pancasila adalah Indonesia. Itu juga berarti,
Penemu Pancasila. Beliau dikatakan bukan penemu
ketika kita menyimpang dari Pancasila, kita tidak lagi
Pancasila, melainkan hanya nama Pancasila. Namun
melihat Indonesia di dalamnya. Mungkin Indonesia bisa
Bung Hatta, seorang negarawan yang sangat jujur dan
saja tetap ada, tetapi ia bukan lagi Indonesia sebagaimana
berintegritas tinggi, di dalam wasiatnya kepada Guntur
dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Ia adalah
Sukarno Putra menegaskan, Bung Karno lah penemu
Indonesia tanpa nafas, alias mati.
Pancasila. Kita harus mengakui dan menegaskan hal itu,

agar kita tidak kedapatan sebagai bangsa pengkhianat di
III. Kebangsaan Sebagai Proyek Bersama
depan mahkamah sejarah. Kita jangan sekali-kali
Prof. Dr. Ben Anderson, dari Cornell University
melupakan sejarah.
pernah mengatakan, nationalism is a common project,
Saya
juga
menyampaikan
apresiasi
atas
nasionalisme adalah sebuah proyek bersama. Sebagai
diperkenalkan (kembali) dan disosialisasikannya 4 (empat)
demikian, nasionalisme/kebangsaan tidak bisa diwariskan
pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila,
begitu saja kepada generasi berikutnya sebagai sebuah
UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Di dalam
barang jadi. Sebagai proyek bersama, kebangsaan harus
1
2

terus-menerus dibangun. Maka akan mandeklah kita
kita masih tetap berada di atas jalur yang benar dari
sebagai bangsa kalau di tengah-tengah upaya membangun
pembentukan bangsa dan negara ini, atau kita sudah
proyek bersama itu ada anasir yang terus-menerus
menyimpang. Kalau Bung Karno menegaskan, bahwa kita
menggerogotinya. Bukan kebetulan kalau Bung Karno, di
mendirikan suatu negara, semua buat semua, bukan buat
dalam pidato 1 Juni 1945 itu mendahulukan prinsip
satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan
kebangsaan sebagai dasar. Kita mendirikan satu negara
bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua
kebangsaan Indonesia, kata Bung Karno. Satu Nationale
buat semua, maka prinsip solidaritas, kesetiakawanan,
Staat. Dengan mengutip Ernest Renan, Bung Karno
gotong royong dan keadilan sosial sangat jelas terlihat di
menegaskan bahwa yang mau menjadi bangsa adalah satu
dalamnya. Di tengah-tengah maraknya apa yang disebut
gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa
market ideology dewasa ini, di mana pertumbuhan dan
dirinya bersatu. Tetapi mengapa mau bersatu? Beliau
perkembangan hanya diserahkan kepada kebebasan pasar,
mengutip Otto Bauer yang mendefenisikan bangsa:
dengan akibat yang kuat makin kuat dan yang lemah
Eine Nation ist eine aus chiksals-gemeinschaft
makin lemah, maka prinsip kebangsaan yang menekankan
erwaschene Charactergemeinschaft (Bangsa adalah satu
kepada solidaritas, kesetiakawanan dan gotong royong ini
persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib),
sangat perlu dibangkitkan kembali. Ini berarti bahwa
demikian kutipan. Indonesia sebagai satu bangsa adalah
perlindungan Negara terhadap yang lemah harus lebih
sebuah novum di atas panggung sejarah dunia.
nyata di dalam berbagai kebijakannya. Undang-undang
Sebelumnya kita terpisah-pisah sebagai bangsa Jawa,
dan berbagai peraturan lainnya yang diciptakan mestinya
Batak, Dayak, Timor, Ambon, Papua, dan seterusnya.
memperlihatkan keberpihakan kepada mereka yang paling
Tetapi nasib bersama mempersatukan kita, yaitu sebagai
lemah di dalam masyarakat.
yang sama-sama menderita di bawah penjajahan dan
penindasan kolonialisme dan imperialisme asing. Karena
IV. Pancasila Adalah Sebuah Kesatuan
merasa senasib itu pulalah, kita berjuang untuk bersatu.
Rumusan Pancasila sebagaimana tercantum di
Tantangan di depan kita sekarang adalah, masihkah
dalam Pembukaan UUD 1945 mestilah difahami sebagai
kita merasa senasib setelah sekian puluh tahun merdeka?
suatu kesatuan. Pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha
Masihkah kita satu perangai, ketika ada yang merasa
Esa tidak boleh dilepaskan dari sila-sila lainnya.
dirinya lebih berhak atas kekayaan negeri ini, sementara
Mengamalkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa boleh jadi
sebagian lainnya terlantar? Pertanyaan-pertanyaan seperti
membuat kita saleh, tetapi kalau dilepaskan dari
ini, dan masih bisa ditambahkan, tetap dibutuhkan agar
pengamalan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab,
kita terus menguji diri dan melakukan introspeksi, apakah
maka dengan mudah kita menafikan keberadaan orang
lain. Bahkan bukan tidak mungkin dengan menyeru Nama
3
4

Tuhan kita melakukan pembunuhan. Kecenderungan-
mengamalkan keadilan bagi siapa saja, tanpa memandang
kecenderungan intoleransi yang marak akhir-akhir ini, bisa
suku, agama, ras, etnis dan kelompok.
saja disebabkan oleh pemahaman dan pengamalan keliru
terhadap Pancasila. Kita juga ber-Ketuhanan Yang Maha
Dewasa ini kita memang merupakan negara
Esa di tengah-tengah persatuan Indonesia. Iman kita
demokrasi terbesar ketiga di dunia. Tetapi demokrasi
kepada Tuhan tidak pernah boleh melupakan bahwa kita
bukan sekadar mengandalkan suara terbanyak. Suara
adalah satu bangsa. Itulah yang oleh Bung Karno
terbanyak tidak selalu bertindih tepat dengan suara terbaik.
dirumuskan sebagai, segenap rakyat Indonesia hendaknya
Ada nilai-nilai yang mesti diperhatikan dengan saksama,
ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada
yang mengacu kepada kemanusiaan yang adil dan beradab
egoisme agama. Dan hendaknya Negara Indonesia suatu
dan persatuan Indonesia. Maka adalah sebuah kearifan
Negara yang bertuhan. Kita adalah bangsa yang sangat
para pendiri bangsa kita apabila mereka memahami
majemuk dari segi suku, agama, etnis dan seterusnya. Ini
demokrasi sebagai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
bukan lagi wacana, melainkan fakta yang terterima
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
(given). Maka pilar Bhinneka Tunggal Ika yang ditemukan
Alhasil, kita adalah bangsa yang beragama yang
oleh para pendiri bangsa kita hendak menegaskan, bahwa
mengamalkannya dengan wajah manusiawi di dalam
perbedaan-perbedaan tidak pernah boleh melemahkan
Indonesia yang bersatu, dengan hikmat dan kebijaksanaan
kesenasiban itu. Alhasil, tidak pernah boleh ada yang
guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
memaksakan sebuah keseragaman, lebih-lebih lagi di
Indonesia. Itulah identitas kita: Pancasila.
dalam
berekspresi
dan
berpendapat.
Pemaksaan
keseragaman adalah sikap menang sendiri, mengklaim
Dari perspektif ajaran Kristen, ini tidak lain dari
diri sebagai paling benar, dan merendahkan martabat
wujud kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama
orang lain yang juga berhak berpendapat dan berekspresi.
manusia, yang tidak boleh dipisah-pisahkan (Matius
22:34-40).
Ketika kita mengamalkan sila Ketuhanan Yang
Maha Esa, dengan mengabaikan sila Keadilan Sosial
V. Pancasila dan Masa Depan Indonesia
Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, maka kita akan
Tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini apabila tetap
terperangkap dalam formalisme, dogmatisme dan
ingin mewujudkan kesatuan dan persatuan Indonesia
ritualisme agama, yang kalau pun berguna, namun tidak
selain
dari
merevitalisasi,
mereaktualisasi
dan
ada manfaatnya bagi kehidupan bersama sebagai satu
mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan
bangsa. Pada hal agama adalah rahmat untuk seluruh alam.
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah
Maka wujud rahmat itu mestilah nyata di dalam
sebuah idiologi terbuka, yang mampu menerima nilai-nilai
5
6

baru dari mana pun dan sekaligus memfilternya guna

mewujudkan civil society (masyarakat berkeadaban) di
Indonesia. Oleh sebab itu pendidikan Pancasila, tidak

dalam arti indoktrinasi perlu digiatkan lagi. Pendidikan

Pancasila tidak lain dari memberikan keteladanan, yaitu
satunya kata dan perbuatan, sikap kenegarawanan dan
berintegritas tinggi. Hal kedua, nilai-nilai Pancasila
hendaknya menjadi landasan bersikap etis dan moral di
dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal
ketiga, di dalam pembentukan UU dan berbagai peraturan-
peraturan lainnya, hendaknya Pancasila dikembalikan lagi
pada kedudukannya yang syah sebagai sumber dari segala
sumber hukum.
Demikianlah beberapa pemikiran saya. Mudah-
mudahan bermanfaat.
__________________
*) Disampaikan Dalam Peringatan Pidato Bung
Karno Tanggal 1 Juni 1945 di Gedung Nusantara IV,
Kompleks MPR/DPR/DPD RI Senayan.
**) Semua kutipan pidato Bung Karno diambil
dari buku Lahirnya Pancasila, Penerbit Guntur
Yogyakarta, Cetakan kedua, 1949, Publikasi 28/1997
Laboratorium Studi Sosial Politik Indonesia.
**) Ketua Umum PGI.

Jakarta, 1 Juni 2012

7
8

Leave a Reply