Pidato : Audzubillahiminasysyaithoonirrojiim.

Audzubillahiminasysyaithoonirrojiim. Bismillaahirrohmaanirrohiim.

 .  .

( 23- 24)

 

Pai kalapau di siang ari,

Dicaliak urang alah rami,

Ambo ketek datang kamari 

Salam kenal ka rang rami…,

Assalaamualaikum wr wb.

Alhamdulillah, alhamdulillaahirobbil alamin. Assholatu wassalmu ala asrofil anbiya iwal mursaliin. Waalaa aliihi wa shohbihi rasulillahi ajmain.

Asyhaduallaa ilaahaillallaah, wasyhadu anna Muhammad rasulullah.

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, untuk semua nikmat yang tak pernah berujung, semua udara yang masih bebas kita hirup, matahari yang masih bersinar, air yang masih mengalir. Maka bersyukurlah agar Allah menambah nikmatNya. Alhamdulillaahirobil alamin.

Shalawat dan salam untuk rasulullah Muhammad SAW, kekasih Allah, uswatunhasanah, suri tauladan terbaik untuk semua manusia. Allaahumma sholli alaa Muhammad, wa alaa ali Muhammad. Semoga dengan seringnya kita bershalawat mengingat beliau, beliau juga akan ingat kita dan memberi kita syafaat kelak di hari penghitungan. Aamiin ya rabbal alamiin.

Bapak-Ibu yang saya hormati, teman-teman sekalian, serta hadirin yang dimuliakan, sebelum lanjut, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Yazel Ravelio, kelas IV dari SDN 19 A.Anggang.

Hadirin yang dimuliakan Allah, dalam surat Al-Isra ayat 23-24 yang saya bacakan tadi, Allah berfirman:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan ceramah saya yang berjudul Birrul walidaini, berbakti kepada orang tua.

Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Ia hidup hanya bersama ibunya yang telah tua, buta lagi lumpuh.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah.

Kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi saw sangat dalam. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia berkata, pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.

Betapa gembiranya hari Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa mnyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah, rumah nabi Muhammad saw. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi ia masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman. Akhirnya, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, kepada para sahabatnya., Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.

Subhanallah, hadirin yang dirahmati Allah, demikianlah hebat ganjaran kepada anak yang berbakti kepada orang tuanya, hingga rasulullah pun menggelarinya penghuni langit.

Kemuliaan ini terbukti hingga saat Uwais Al-qarni meninggal dunia, penduduk kota Yaman terkesima. Mereka saling bertanya-tanya, siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.

Subhanallah, begitu besar cinta Allah kepada orang yang menyayangi orang tuanya.

Hadirin yang dirahmati Allah, keutamaan lain berbakti kepada orang tua adalah sebagai salah satu jalan jihad.

Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, Beliau bertanya, Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Lelaki itu menjawab, Masih. Beliau bersabda, Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Kita semua tahu, jihad adalah amalan terbesar dan merupakan tiket syorga VIP.

Selain itu, ridha Allah kepada kita tergantung kepada keridhaan orang tua.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.

Jika Allah sang pencipta dan penguasa alam semesta sudah ridho pada kita, maka yakinlah limpahan nikmat kebaikan tak akan berhenti tercurah.

Bapak-ibu sekalian, teman-teman yang saya cintai, kita semua adalah anak dari orang tua kita. Benar kan??? Benar kan???

Begitu besar keutamaan dan kemuliaan yang diberikan Allah untuk anak yang berbakti pada orang tuanya,

Lalu, masih maukah kita menyia-nyiakan amalan yang luar biasa ini???

Bagaimana caranya???

Imam An-Nawaawi menjelaskan, Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.

Nah, bagaimana jika orang tua kita sudah meninggal???

Dalam hal ini, Rasulullah sudah menjelaskan.

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki-laki mendatangi Rasullah saw. lalu bertanya : walau Rasulullah, apakah saya masih bisa berbakti kepada kedua orang tua saya setelah kedua orang tua saya meningal dunia? Rasulullah saw. menjawab: iya masih bisa, yaitu dengan mensahalatkan jenazah mereka, memohon ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka setelah mereka tiada, menyambung tali silaturrahmi yang tidak tersambung kecuali dengan mereka dan memluliakan teman mereka(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Bapak-ibu sekalian, teman-teman yang saya cintai. Sungguh keutamaan berbakti pada orang tua luar biasa besarnya, caranya pun sudah dengan gamblang dijelaskan rasulullah. Sekarang, tinggal kita untuk menjalankannya.

Hadirin yang dirahmati Allah, demikianlah sedikit yang bisa saya sampaikan kali ini. Semoga bisa menjadi motivasi kepada kita semua terutama untuk diri saya sendiri.

Bungo flamboyan ditangah laman

Rancak dipandang dek urang lalu

Ado patamuan ado perpisahan

Bapisah kito samantaro dulu

Ambo ketek baru baraja, jikok salah mohon dimaafkan.

Alhamdulillaahirobbil alamiin

Assalaamualaikum wrwb.

Leave a Reply