Pidato Macet : Mengatasi Jakarta Butuh Sistem Yang Terpadu

Mengatasi Macet Jakarta Butuh Sistem Yang Terpadu

Jum’at, 14 Desember 2012 14:30

Jakarta, GATRAnews – Guna mengurai kemacetan kota Jakarta, berbagai langkah telah digalagakan oleh Pemerintah Provinsi DKI, salah satunya adalah penerapan sistem plat nomor ganjil dan genap. langkah ini bertujuan untuk mengurangi angka pemakaian kendaraan di jalan baik untuk kendaraan roda dua sekaligus roda empat. Terhadap hal ini, Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Chrysnanda Dwi Laksana meminta masyarakat untuk tetap berpikiran positif. Sebab, setiap kebijakan yang dilahirkan pemerintah mempunyai sisi rasionalisasinya. 

 

"Masyarakat harus berpikiran positif, apa benefitnya. Karena, setiap aktifitas pasti melaui lalulintas. Yang perlu dibangun sekarang adalah kesadaran berlalulintas," ungkap chrysnanda kepada wartawan, Kamis (13/12). Lebih jauh Ia menjelaskan, sistem terpadu merupakan hal penting untuk mengatasi masalah kemacetan. Masyarakat, himbau Chrsynanda, harus memikirkan dan bukannya mencari kesalahan dan menyalahkan. "Harus diperbaiki yang kurang tepat, dibidang infrastruktur harus ditingkatkan, edukasi, penegakan hukum serta  membangun kesadaran berbudaya lalulintas," jelasnya. 

 

Kesadaran berlalulintas, sambungnya, merupakan salah satu  jantung modernitas dan cermin berbudaya masyarakat. Untuk itu, membangun sistem yang sinergis harus dilakukan secara bertahap dan bukannya secara tiba-tiba langsung jadi. "Iya, membangun sistem transportasi membutuhkan Inftrasuktur, edukasi serta penegakan hukum. Ini semua harus dibagun sinergis jadi jangan diharapkan secara tiba-tiba," tandasnya. (Wfz)

Belajarlah dari Kota Seribu Pagoda

Penulis: Bona Venturatitle of the image

Awal dekade 1990-an, tingkat kemacetan lalu lintas di Kota Bangkok sangat semrawut. Orang-orang berjejal naik bus dan berebut taksi. Waktu menjadi tidak efisien. Newsweek, majalah yang awal tahun ini bertransformasi ke digital, mengungkap kemacetan Bangkok lewat artikel "Life in the Slow Lane: Bangkoks Traffic Nightmare".

Pemerintah Thailand kemudian memfokuskan pengembangan konstruksi jalan raya dan jalan tol untuk mengurai kemacetan. Berharap jalanan lapang, penambahan lajur jalan justru meningkatkan jumlah kendaraan pribadi. Kondisi kepadatan lalu lintas Kota Seribu Pagoda semakin tidak terkendali. Sadar, Pemerintah Thailand mencanangkan sistem transportasi massal terpadu.

Pembangunan dilaksanakan tiga lembaga, yaitu Mass Rapid Transit Authority of Thailand (MRTA) dan State Railway of Thailand yang statusnya BUMN, di bawah kendali Kementerian Transportasi. Adapun Bangkok Metropolitan Administration (BMA) berada di naungan Pemerintah Kota Bangkok.

Mengadopsi Vancouver Skytrain di Kanada, mereka membangun Bangkok Mass Transit System (BTS), yang diresmikan keluarga kerajaan pada 1999. BTS memiliki dua jalur: hijau tua untuk daerah Silom dan hijau muda daerah Sukhumvit. Di stasiun Siam Interchange, penumpang leluasa berpindah kereta dari jalur hijau muda ke jalur hijau tua. Dengan jumlah stasiun 23 unit, BTS berperan aktif membawa 500 ribu penumpang setiap harinya.

Keberhasilan BTS tidak membuat Pemerintah Thailand menepuk dada. Mereka kemudian mengembangkan moda transportasi bawah tanah, Mass Rapid Transit (MRT), yang rampung pada 2004. Jalur yang disebut "Blue Line" tersebut membentang sepanjang 21 kilometer, dari Bang Sue ke Stasiun Kereta Api Hua Lamphong, totalnya 18 stasiun pemberhentian. Penumpang juga dapat berganti moda transportasi dari BTS ke MRT.

Menariknya, bila penumpang bertujuan melintasi Sungai Chao Phraya, mereka bisa menggunakan BTS dan berhenti di Stasiun Saphan Taksin. Perahu mesin sudah menanti di dermaga Saphan Taksin. Sistem transportasi terpadu ini juga mempermudah wisatawan yang ingin pergi ke luar Bangkok, seperti kota tua Ayutthaya dan Pantai Pattaya.

Memang sih, kemacetan di Bangkok belum teratasi 100%. Namun, keberhasilan Pemerintah Thailand mengurai sejumlah titik kemacetan menjadi perbincangan Gubernur Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) saat menjamu Duta Besar Thailand untuk Indonesia, Thanatip Upatising. Dalam pertemuan medio Januari silam, Thanatip menawarkan Jokowi atau perwakilannya mengunjungi Thailand guna mempelajari secara langsung sistem transportasi di negara tersebut. "Kita bisa belajar banyak dari Bangkok dalam masalah transportasi. Karena transportasi massalnya lebih baik," ujar Jokowi.

Gubernur yang rajin ke kampung-kampung itu, juga meminta pengalaman pembatasan lalu lintas kendaraan berdasarkan nomor ganjil-genap, yang dilakukan Pemerintah Thailand. Negara Gajah Putih pernah menerapkan kebijakan pembatasan pelat nomor ganjil-genap, namun tidak berhasil. Beleid tersebut malah mengakibatkan warga Bangkok semakin ingin menambah kendaraan pribadi. Belum lagi, aksi curang dengan mengganti pelat nomor mereka.

Adapun Singapura memiliki trik jitu soal pembatasan pelat kendaraan pribadi. Mobil berpelat nomor hitam atau kuning dapat digunakan setiap hari dan kapan saja. Sementara, mobil berpelat merah hanya dapat digunakan pukul 7 malam hingga 7 pagi. Peraturan ini disebut Off Peak Scheme, pada 2010 menggantikan Weekend Car Scheme, yakni mobil pelat merah hanya digunakan Sabtu dan Minggu.

Pemerintah Singapura pun memberi kompensasi kepada pengendara pelat merah, yaitu pajak lebih murah daripada pelat hitam. Mengutip sgcarmart.com, pemilik kendaraan di bawah 600 cc dikenakan pajak Sin$ 400 per tahun. Mobil berkapasitas lebih 3.000 cc, pajak jalanannya mencapai Sin$3.050. Dan bagi mereka yang ingin memodifikasi mobilnya, harus mendaftarkan ke LTA (land and transport authority). Belum lagi peraturan Electronic Road Pricing, pengendara wajib membayar retribusi saat memasuki suatu kawasan.

Peraturan di atas dimaksudkan agar masyarakat Singapura lebih menitikberatkan kepada sistem transportasi terpadu. Dan Negara Kota itu memiliki transportasi massal yang sinergi dengan moda transportasi lainnya. Sehingga memudahkan penumpang dan tentunya dapat mengatasi kemacetan. Membangun sistem transportasi publik terpadu bukan tanpa persoalan. Biaya besar sudah pasti keluar. Namun, yang lebih penting adalah komitmen pemerintah untuk mewujudkannya. Jangan sampai Jakarta dicap sebagai The New Traffic Nightmare.

Hanafi Ketua DPP-SPABSI DKI Jakarta

Jakarta, WARTAPOS ONLINE

Kemacetan dan pencemaran dari sistem transportasi darat memang merupakan problem yang sampai saat ini masih sulit dicari solusinya.

Hal ini bukan saja menimpa kota Jakarta, namun kota-kota besar lainnya di Indonesia.Demikian kata Hanafi, ketua Dewan Pimpinan Provinsi SPABSI (Serikat Pengemudi Angkutan Bermotor Seluruh Indonesia) DKI Jakarta, ketika wartapos menyambangi kantornya dan menanyakan masalah kemacetan di Jakarta.

Lebih jauh Hanafi mengatakan, dalam perencanaan sistem transportasi harus pula diprioritaskan untuk menekan dampak negatif dari faktor lingkungan dengan melihat semua aspek yang ada dalam sistem transportasi, mulai dari perencanaan sistem transportasi, model transportasi, sarana, pola aliran lalulintas, jenis mesin kendaraan dan bahan bakar yang digunakan berdasarkan prinsip hemat energi dan berwawasan lingkungan.

Namun tidak hanya itu saja, yang tidak kalah pentingnya adalah pembatasan produksi jumlah kendaraan atau pembatasan oprasional kendaraan menurut tahun pembuatan minimal 15 tahun sudah harus diremajakan khususnya kendaraan pribadi, kata Hanafi lebih lanjut.

Hanafi juga berharap pembinaan pelatihan pengemudi angkutan umum khususnya yang berada di Jakarta agar bisa dimaksimalkan, sehingga para pengemudi angkutan umum menjadi pengemudi yang profesional dan bertanggung jawab. Misalnya mereka dapat mematuhi rambu-rambu lalulintas yang ada serta bertanggungjawab terhadap para pengguna jasa angkutan tersebut.

Sebenarnya program ini sudah ada tetapi tidak maksimal, dalam satu tahun satu operator angkutan hanya diberikan kesempatan bagi para pengemudinya hanya dua sampai lima orang saja. Sedangkan jumlah pengemudi angkutan umum (mikrolet, metro mini, bajaj, busumum, taksi termasuk truk dan lain-lan) begitu besar jumlahnya hal ini tidak sebanding dengan program yang dijalankan oleh pemerintah.

Pada akhirnya Hanafi berkesimpulan kalau program tersebut bertujuan hanya untuk menghabiskan atau menghambur-hamburkan uang negara. Padahal, kalau memang program tersebut anggarannya tidak mencukupi target pembinaan dan pelatihan para pengemudi angkutan umum, seharusnya pemerintah DKI Jakarta menambah anggaran tersebut.

Mudah-mudahan kalau semua program itu dijalankan dengan baik maka persoalan semrawutnya kondisi jalan di Jakarta akan dengan sendirinya terselesaikan. Dan yang paling penting adanya kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan stake holder sehingga terbangun sistem yang saling menguntungkan semua pihak.(Dis)

Pertumbuhan kendaraan bermotor di Ibu Kota Jakarta 11 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan jalan kurang dari 1 persen per tahun (beritajakarta. com). Dengan jumlah penduduk mencapai 12 juta jiwa, kepadatan Jakarta menuai banyak masalah semisal kemacetan, banjir dll.

Sedangkan tahun ini, pertambahan kendaraan di Jakarta sekitar 1.117 kendaraan per hari, terdiri dari 220 mobil dan 897 sepeda motor. Total kebutuhan perjalanan di Jakarta sebanyak 20,7 juta perjalanan per hari. Kemudian total jumlah kendaraan bermotor yang melintasi jalan di Jakarta sekitar 5,8 juta terdiri dari kendaraan pribadi sebanyak 5,7 juta unit (98,5%) dan angkutan umum 88.477 unit (1,5%) ( beritajakarta. com). Pertumbuhan kendaraan bermotor dituding sebagai penyebab kemacetan yang terjadi di Jakarta.

tua dijalan

Menurut Darmaningtyas, pengamat transportasi, pemimpin Jakarta harus berani mengambil resiko untuk mengatasi kemacetan. Jakarta diprediksi tahun 2014 akan lumpuh total. Pembangunan infrastruktur dan kemauan pemimpin untuk melayani masyarakat menjadi prioritas pekerjaan pemerintah. Artinya pemerintah membangun sistem transportasi massa terpadu terlebih dahulu dengan meningkatkan pelayanan prima. Masyarakat akan bergerak dari kendaraan pribadi ke angkutan umum jika pelayanan memadai, menyangkut keamanan, kenyamanan dan ketepatan waktu. Penulis kira meskipun akan menghabiskan dana APBD yang tidak sedikit kalau itu untuk kepentingan masyarakat tidak akan keberatan.

***

Pemerintah Jakarta di era Sutioso atau bang YOS telah membuat blue printpembangunan tranportasi terpadu yakni bus way, mono rel dan water way. Pembangunan tersebut seharusnya dilakukan bersamaan namun karena beberapa hal dan yang realistis ialah bus way, maka didahulukan meskipun menelan anggaran besar. Namun penerusnya kurang tegas, apakah latar belakang mempengaruhi gaya kepemimpinan, penulis juga kurang tahu.

Pembangunan transportasi terpadu untuk merealisasikan kalaupun pemerintah Jakarta benar-benar tidak sanggup, meminta bantuan pemerintah pusat yang juga ikut andil membuat kemacetan. Wakil presiden siap membantu dengan membangunmass rapid transit (MRT). Wacana pembatasan kendaraan pribadi sangat kencang untuk mengatasi kemacetan, tidak adil jika penggantinya dengan kriteria yang telah disebutkan. Karena masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi karena nyaman, aman dan cepat. Pemerintah Jakarta dan pemerintah pusat menyediakan infrastruktur dengan pelayanan prima, maka masyarakat akan dengan sendirinya menggunakan transportasi umum. Selain itu juga transportasi terpadu harus menyentuh tetangga Jakarta seperti bogor, banten, Tangerang, Bekasi dll. Hal itu perlu karena kendaraan dari tetangga yang masuk ke Jakarta tidak sedikit.

***

bus raksasa

Pemerintah Indonesia untuk mengatasi kemacetan belajarlah ke China. kemacetan juga menjadi permasalahan disana, namun bedanya dengan kita China mencari pemecahan permasalahan dengan aksi. China akan membuat bus raksasa untuk mengatasi kemacetan dan polusi. Menurut China Hush, Bus canggih ini akan menggunakan energi kombinasi dari listrik dan energi matahari. Bus yang mirip terowongan ini bisa berjalan dengan kecepatan sampai 60 kilometer per jam dan mengangkut 1.200 hingga 1.400 penumpang  (ruangberita.com).

Perbandingan bus way yang bisa menampung 210.000 penumpang per hari. Bus raksasa dengan daya tampung lebih dari 1.000 orang sekali jalan, jika jam operasinya sama dengan bus way maka bisa mengangkut lebih dari 2 juta orang per hari. Sedangkan orang yang membutuhkan transportasi mencapai 6 sampai 7 juta. Dalam pengoperasiannya jalur bus way memakan jalur yang ada atau butuh melakukan pelebaran jalur, sedangkan bus raksasa tidak perlu karena bus ini akan mengangkangi kendaraan yang ada di jalan raya. Namun dibutuhkan juga angkutan pengumpan, karena tidak semua wilayah terjangkau oleh bus way atau bus raksasa nantinya. Namun tidak cukup berhenti sampai disitu, kerjasama para stakeholder untuk mewujudkan kebijakan yang telah disusun bersama.Pertumbuhan kendaraan bermotor di Ibu Kota Jakarta 11 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan jalan kurang dari 1 persen per tahun (beritajakarta. com). Dengan jumlah penduduk mencapai 12 juta jiwa, kepadatan Jakarta menuai banyak masalah semisal kemacetan, banjir dll.

Sedangkan tahun ini, pertambahan kendaraan di Jakarta sekitar 1.117 kendaraan per hari, terdiri dari 220 mobil dan 897 sepeda motor. Total kebutuhan perjalanan di Jakarta sebanyak 20,7 juta perjalanan per hari. Kemudian total jumlah kendaraan bermotor yang melintasi jalan di Jakarta sekitar 5,8 juta terdiri dari kendaraan pribadi sebanyak 5,7 juta unit (98,5%) dan angkutan umum 88.477 unit (1,5%) ( beritajakarta. com). Pertumbuhan kendaraan bermotor dituding sebagai penyebab kemacetan yang terjadi di Jakarta.

tua dijalan

Menurut Darmaningtyas, pengamat transportasi, pemimpin Jakarta harus berani mengambil resiko untuk mengatasi kemacetan. Jakarta diprediksi tahun 2014 akan lumpuh total. Pembangunan infrastruktur dan kemauan pemimpin untuk melayani masyarakat menjadi prioritas pekerjaan pemerintah. Artinya pemerintah membangun sistem transportasi massa terpadu terlebih dahulu dengan meningkatkan pelayanan prima. Masyarakat akan bergerak dari kendaraan pribadi ke angkutan umum jika pelayanan memadai, menyangkut keamanan, kenyamanan dan ketepatan waktu. Penulis kira meskipun akan menghabiskan dana APBD yang tidak sedikit kalau itu untuk kepentingan masyarakat tidak akan keberatan.

***

Pemerintah Jakarta di era Sutioso atau bang YOS telah membuat blue printpembangunan tranportasi terpadu yakni bus way, mono rel dan water way. Pembangunan tersebut seharusnya dilakukan bersamaan namun karena beberapa hal dan yang realistis ialah bus way, maka didahulukan meskipun menelan anggaran besar. Namun penerusnya kurang tegas, apakah latar belakang mempengaruhi gaya kepemimpinan, penulis juga kurang tahu.

Pembangunan transportasi terpadu untuk merealisasikan kalaupun pemerintah Jakarta benar-benar tidak sanggup, meminta bantuan pemerintah pusat yang juga ikut andil membuat kemacetan. Wakil presiden siap membantu dengan membangunmass rapid transit (MRT). Wacana pembatasan kendaraan pribadi sangat kencang untuk mengatasi kemacetan, tidak adil jika penggantinya dengan kriteria yang telah disebutkan. Karena masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi karena nyaman, aman dan cepat. Pemerintah Jakarta dan pemerintah pusat menyediakan infrastruktur dengan pelayanan prima, maka masyarakat akan dengan sendirinya menggunakan transportasi umum. Selain itu juga transportasi terpadu harus menyentuh tetangga Jakarta seperti bogor, banten, Tangerang, Bekasi dll. Hal itu perlu karena kendaraan dari tetangga yang masuk ke Jakarta tidak sedikit.

***

bus raksasa

Pemerintah Indonesia untuk mengatasi kemacetan belajarlah ke China. kemacetan juga menjadi permasalahan disana, namun bedanya dengan kita China mencari pemecahan permasalahan dengan aksi. China akan membuat bus raksasa untuk mengatasi kemacetan dan polusi. Menurut China Hush, Bus canggih ini akan menggunakan energi kombinasi dari listrik dan energi matahari. Bus yang mirip terowongan ini bisa berjalan dengan kecepatan sampai 60 kilometer per jam dan mengangkut 1.200 hingga 1.400 penumpang  (ruangberita.com).

Perbandingan bus way yang bisa menampung 210.000 penumpang per hari. Bus raksasa dengan daya tampung lebih dari 1.000 orang sekali jalan, jika jam operasinya sama dengan bus way maka bisa mengangkut lebih dari 2 juta orang per hari. Sedangkan orang yang membutuhkan transportasi mencapai 6 sampai 7 juta. Dalam pengoperasiannya jalur bus way memakan jalur yang ada atau butuh melakukan pelebaran jalur, sedangkan bus raksasa tidak perlu karena bus ini akan mengangkangi kendaraan yang ada di jalan raya. Namun dibutuhkan juga angkutan pengumpan, karena tidak semua wilayah terjangkau oleh bus way atau bus raksasa nantinya. Namun tidak cukup berhenti sampai disitu, kerjasama para stakeholder untuk mewujudkan kebijakan yang telah disusun bersama.

Kereta menjadi salah satu tumpuan dari sistem transportasi terpadu di SingapuraJalur-jalur transportasi saling terhubung dan menjangkau pusat-pusat aktifitas masyarakat

Jelang pemilihan gubernur Jakarta, sejumlah bakal calon telah mulai berkoar-koar akan membangun sistem transportasi terpadu untuk mengatasi kemacetan, salah satu masalah utama bagi masyarakat ibu kota.

Banyak yang telah berencana membangun ini dan itu, tetapi jika melirik sebentar ke negeri tetangga, Singapura, sistem transportasi yang bersifat terpadu itu tampaknya sederhana.

Singapura memang mempunyai sistem transportasi Mass Rapid Transit (MRT) yang mumpuni dan terdiri dari dua tipe moda yakni Bus Rapid Transit – miripbusway di Jakarta-  serta light rail transitatau heavy rail transit.

Tetapi bukan hanya teknologi transportasi yang modern dan mumpuni itu yang membuat transportasi di negeri kecil itu nyaman. Sistemnya yang terintegrasi dengan perkantoran, perbelanjaan, dan fasilitas publik lainnya yang membuat perjalanan di Singapura lebih terasa menyenangkan, tentu jika dibandingkan dengan Jakarta.

Saat ini, jalur perlintasan MRT di Singapura terbagi menjadi dua jalur, yakni utara-selatan (North South Line) dan timur-barat (East West Line). Kedua jalur ini memiliki beberapa titik persinggungan, tempat penumpang dapat berpindah dari jalur yang satu ke jalur yang lainnya.

 

Kedua jalur tersebut pun melintasi kawasan pemukiman, perkantoran, dan akses perbelanjaan. Selain itu, jalur perlintasannya juga terintegrasi langsung dengan jalur-jalur sarana transportasi masal lainnya seperti bus kota, monorel, dan taksi.

Di stasiun Clementee misalnya, begitu keluar dari kereta MRT, penumpang akan langsung diarahkan pada halte bus dan taksi yang letaknya persis bersebelahan dengan stasiun. 

Selain itu, pada jalur lain penumpang juga diarahkan pada areal parkir yang cukup luas. Hal ini jelas menggambarkan terkoneksinya MRT dengan sarana transportasi masal lain serta kendaraan pribadi.

Lebih menarik lagi, pada jalur timur-barat, tepatnya di stasiun Tanah Merah, penumpang dapat memilih jalur langsung menuju Bandara Changi Airport. Hal itu karena jalur timur-barat memang terkoneksi langsung dengan bandara tersebut. 

Artinya, jika telah sampai di salah satu stasiun, setiap penumpang dapat menuju ke bandara tanpa perlu lagi menyambung dengan sarana transportasi lainnya.

Apa lagi, para pengguna sarana transportasi tidak perlu khawatir mengenai segi keamanan, karena setiap sudut di stasiun hingga didalam kereta terpasang cctv yang siap merekam setiap gerak-gerik penumpang.

Solusi Menghadapi Kemacetan: Bike to Work rivo_pamudji

  10 Mei 2010, 12:08  4 komentar

 di Kategori: Umum

Bila kita cermati, beberapa tahun terakhir ini terutama di Jakarta terdapat fenomena yang menarik pada siaran radio-radio pada jam-jam tertentu setiap hari kerja, khususnya pada pukul 06.00 hingga 08.30 dan pukul 17.00 hingga 19.00. Hampir seluruh radio swasta secara berkala melaporkan hal yang sama; kondisi arus lalu lintas pada waktu-waktu tersebut. Beberapa di antaranya ada yang khusus menerima laporan dari reporternya atau menerima telepon dan sms dari pendengar yang sedang berada di jalan raya. Bahkan ada yang bekerjasama dengan Traffic Management Center Polisi Lalu Lintas Polda untuk menanyakan kondisi lalu lintas terkini. Media televisipun tak ketinggalan dengan menayangkan kondisi lalu lintas pada jam-jam sibuk melalui kamera-kamera yang terpasang di sudut-sudut perempatan di penjuru ibukota.

 

Mencari akar permasalahan dan solusi dalam mengatasi kemacetan lalu lintas sudah seperti lingkaran setan. Belum lagi bila mengkaitkannya dengan isu penghematan BBM, waktu, tenaga, bahkan climate change dan global warming. Pemerintah daerah DKI Jakarta secara bertahap mulai menata fasilitas transportasi umum dengan harapan agar pengguna kendaraan pribadi mau beralih ke kendaraan umum. Mungkin pada saatnya nanti kondisi angkutan umum sudah tertata sangat rapi, kemacetan dapat tertanggulangi. Ambil contoh Bogota yang pernah mengalami kondisi lebih parah dari Jakarta. Saat ini Bogota yang telah mengembangkan sistem transportasi terpadu dapat berbangga hati karena telah mampu mengatasi kemacetan dengan menyediakan kepada masyarakat fasilitas transportasi umum yang nyaman dan mumpuni, pedestrian yang menyenangkan, dan…. bike lane!

 

Bike lane? Jalur khusus sepeda? YA! Jalur yang khusus untuk sepeda. Pemerintah kota Bogota secara konsisten merencanakan sebuah kota yang nyaman utk penduduknya & ramah lingkungan dengan memfasilitasi para pejalan kaki dan pesepeda. Tentunya dengan mengurangi fasilitas kendaraan bermotor pribadi. Sepeda merupakan moda transportasi yang paling menguntungkan bagi semua pihak, dan karenanya fasilitas pengguna sepeda dimaksimalkan. Terbukti bahwa kemudian banyak sekali masyarakat Bogota yang memanfaatkannya. Bagaimana dengan Jakarta? Apakah memungkinkan untuk membuat jalur sepeda? Mengapa tidak?! Namun untuk mewujudkannya tentu harus dibuktikan dahulu bahwa kebutuhannya memang benar-benar ada.

 

Sebenarnya jalan menuju diwujudkannya jalur khusus sepeda saat ini telah mulai ditapaki oleh ribuan masyarakat Jakarta. Komunitas Bike to Work secara nyata telah lahir untuk memperjuangkan usaha untuk mewujudkan jalur sepeda. Menggunakan sepeda untuk beraktivitas sehari-hari terbukti mampu meningkatkan produktivitas karena tubuh menjadi lebih sehat, mengurangi polusi karena tidak menggunakan BBM, mengurangi stres yang diakibatkan kemacetan, serta memberikan nilai lebih lain berupa penghematan secara keuangan. Sudah sepantasnya usaha ribuan masyarakat Jakarta ini mendapat perhatian oleh pemerintah kota Jakarta.

 

Mengintegrasikan penggunaan sepeda dengan fasilitas transportasi umum pada dasarnya tidak sulit untuk diwujudkan. Cukup sediakan penitipan sepeda di setiap stasiun besar bus, kereta, dan transJakarta, maka antara sepeda dan transportasi umum sudah bisa bersinergi. Di beberapa negara bahkan bus-busnya memiliki bike rack, alat menggantung sepeda, sehingga pengendara sepeda tinggal meletakkan sepedanya di bike rack tersebut untuk kemudian menumpang bus. Tidak cukup begitu saja, saat ini juga sudah sewajarnya apabila gedung-gedung baik perkantoran maupun pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta menyediakan sarana yang mendukung untuk pengguna sepeda. Contohnya area parkir sepeda dan ruang untuk mandi dan berganti pakaian. Peraturan daerah yang mengatur hal ini bisa saja dibuat apabila pemerintah kota memiliki kemauan untuk itu.

 

Konsep Undangan adalah usulan yang terbaik untuk dapat merealisasikan Jakarta yang bersih tanpa kemacetan, artinya bilamana fasilitas untuk pengendara sepeda diadakan terlebih dahulu (dibandingkan dengan mensyaratkan jumlah pesepeda) maka dapat dipastikan jumlah pesepeda kan meningkat sacara significant. Hal ini telah kita buktikan sejak awal kami mengkampanyekan Bike to Work tahun 2004 saat itu baru berjumlah 150 anggota dan saat ini sudah lebih dari 3.000 anggota tersebar di seluruh Indonesia dengan tanpa fasilitas .Semakin banyak masyarakat Jakarta yang beralih dari kendaraan pribadinya ke sepeda atau kombinasi antara sepeda dan kendaraan umum akan mampu membuat kita semua mengucapkan selamat tinggal kepada kemacetan, pemborosan BBM, dan polusi. Bukankah hal-hal tersebut merupakan warisan yang sangat berharga bagi anak-cucu kita?

Ataukah kita masih tidak perduli anak-cucu kita akan mengalami hambatan pada perkembangan fisik dan intelektualnya sebagai akibat terlalu banyak menghirup polusi pada masa pertumbuhannya?

Bagaimana anda menjawabnya?

Dengan ber-Bike to Work mungkin?

Mengapa tidak? Toh anda akan dapat sehatnya, dan anak-cucu andapun juga.

 

Toto Sugito

Leave a Reply