Pidato Politik HUT PDI Perjuangan Ke 40

Pidato Politik HUT PDI Perjuangan Ke 40

Kamis, 10 Januari 2013 17:16   

Array Cetak Array

 E-mail

Ketua Umum

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai sejahtera untuk kita semua,
Om swasti astu.
Sebelumnya, marilah kita lebih dahulu bersama-sama memekikkan salam perjuangan kita,

Merdeka!!!

Saudara-saudara,
Puji syukur karena dalam sepanjang sejarah perjalanan dari PDI hingga PDI Perjuangan, kita selalu mendapat rahmat dan bimbingan Allah Subhanahu Wataala. Hari ini genap 40 tahun sudah usia PDI Perjuangan sebagai Partai.  Kita wajib bersyukur, bukan saja karena umur panjang yang telah diberikan Tuhan. Kita bersyukur karena selama bentangan panjang 40 tahun ini, kita mendapat kehormatan untuk menjawab berbagai ujian sejarah yang memungkinkan kita tumbuh dewasa.

Kita pernah diuji menghadapi tahun-tahun vivere pericoloso di bawah rezim otoritarian Orde Baru. Tanpa memiliki kesabaran revolusioner,kita tidak mungkin melalui ujian itu. Kita juga pernah diuji untuk menjadi peretas jalan bagi reformasi. Kita pun mampu memenuhi dengan baik. Alhamdullilah, kita tidak hanya ditempa gemblengan ujian sejarah. Kita mampu mengkonsolidasikan diri, baik penataan struktural, maupun — dan ini yang lebih penting — konsolidasi ideologi yang membuat kita tetap berdiri kokoh hingga sekarang.

Saudara-saudara,
Dalam periode ketika kita sedang membangun Partai akibat konsolidasi yang tidak berjalan baik selama lebih dari 30 tahun Orde Baru, PDI Perjuangan kemudian diuji menjadi Partai yang berkuasa. Dengan semua keterbatasan yang ada, kita mampu juga melaksanakan dengan penuh tanggung-jawab. Di ujung penggalan usia 40 tahun, kita juga diuji untuk menjadi kekuatan kontrol di luar pemerintah. Sungguh kita bersyukur, karena tetap diberi kekuatan untuk bisa menunaikan tanggungjawab sejarah ini dengan baik.

Sudah tentu capaian yang ditoreh selama 40 tahun ini tidak boleh membuat kita bermegah diri. Justru sebaliknya, hal ini harus menjadi bahan kontemplasi. Mengapa?Karena takdir sejarah kita bukan sekadar untuk bertahan hidup sebagai kekuatan politik. Di atas segalanya, PDI Perjuangan harus hidup sebagai alat perjuangan rakyat dalam mewujudkan cita-cita bersama, yakni masyarakat adil dan makmur. Sebuah tanggung-jawab sejarah dan ideologis maha besar yang hingga hari ini belum mampu kita wujudkan.

Pada usia ke 40 ini, saya melihat dengan terang benderang, ada celah bagi partai untuk bisa mewujudkan tanggung-jawab di atas. Hal ini berangkat dari keyakinan di banyak peradaban, bahwa kehidupan diawali pada usia yang ke 40 (Life begins at fourty). Marilah kita terima ini sebagai kesempatan untuk menjejakkan tapak-tapak partai ke arah masyarakat adil dan makmur sebagai tujuan bersama kita.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Peringatan 40 tahun PDI Perjuangan secara sengaja dilaksanakan di Waduk atau Bendungan Jati Luhur. Hal ini bukan saja karena Jati Luhur merupakan bendungan multifungsi pertama dan hingga kini tetap menjadi bendungan terbesar di tanah air. Hal yang lebih substansial justru terletak pada sejarah dan imajinasi besar di balik pembangunan bendungan ini, yang bisa menjadi ilham dalam melangkah ke depan.

Ide pembangunan bendungan Jati Luhur sudah dimulai sejak abad 19, yang ditandai oleh adanya survey awal topografi dan hidrologi pada tahun 1888. Di tahun 1930, seorang insinyur Belanda kelahiran Solo, Dr. Ir. Blommenstein mulai melakukan kajian yang lebih mendalam. Setelah lama terabaikan, ide pembangunan bendungan ini kembali dihidupkan oleh Kepala Jawatan Irigasi di era 1950-an, Ir. Agus Prawiranata yang dikonsultasikan dengan Ir. Sedyatmo yang menugaskan Ir. PC. Harjosudirdjo untuk melaksanakan tugas pembangunan waduk ini.

Di luar sejarah panjangnya di atas, bendungan dengan area tangkapan 4500 km2 ini sejak awal didesain sebagai bendungan multiguna. Ia dimaksudkan sebagai pusat pembangkit tenaga listrik,  dengan kapasitas hingga mencapai 187MW dengan 6 unit turbin. Sebuah syarat mutlak untuk bisa memasuki fase industrialisasi.

Bendungan yang sama juga dirancang sebagai pengendali banjir, khususnya untuk kawasan Bekasi dan Kerawang. Pada saat bersamaan, bendungan ini juga didesain sebagai sumber irigasi persawahan yang mencakup wilayah hingga 242.000 Ha. Hal ini dimaksudkan untuk membawa Indonesia untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) secara ekonomi;menjadi  bangsa yang dapat berdaulat dalam pangan. Sayangnya, kapasitas irigasi yang begitu besar, kini tereduksi akibat konversi lahan secara masif, bukan oleh petani, melainkan akibat kecerobohan kebijakan. Di era pemerintahan kolonial Belanda sekalipun, mereka tidak memiliki keberanian untuk melakukan alih fungsi lahan di Kerawang dan Bekasi. Namun anehnya, pada era 80-an kita justru merombak dan mengalihfungsikan sentra produksi pangan tersebut.

Saudara-saudara,
Jati Luhur juga berfungsi sebagai pusat budidaya perikanan darat. Bendungan Jati Luhur sekaligus dimaksudkan untuk tujuan periwisata. Di luar tujuan-tujuan di atas, bendungan ini juga dirancang untuk dapat memenuhi kebutuhan air baku, terutama untuk ibukota.

Peletakan batu pertama pembangunan Bendungan yang nama resminya adalah Bendungan dan Pembangkit Listrik Ir. Juanda ini dilakukan oleh Bung Karno pada tahun 1957. Pada tanggal  19 September 1965, beliau kembali melakukan kunjungan ke bendungan ini. Tapi baru pada tahun 1967, Bendungan ini diresmikan penggunaannya.

Saudara-saudara, bendungan Jati Luhur sekaligus menjadi monumen hidup yang menyimpan banyak dimensi sejarah bangsa. Sebagai bagian dari proses nation-building, di sini terekam data Proklamasi: pompa hidraulik saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah, pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya berjumlah 8 buah, dan angka 45 adalah derajat kemiringan pompa listrik saluran Tarum Timur. Tidak hanya itu, desain turbin dengan tata-letaknya yang unik, menjadikan turbin hasil manufakturing para insinyur Perancis, memiliki ketangguhan sebagai penjaga stabilitas ketersediaan listrik di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Saudara-saudara,

Kita merayakan ulang tahun partai yang ke 40 di sini agar kita tidak lupa, bahwa di sini tersimpan begitu banyak imajinasi tentang Indonesia yang lebih baik; Indonesia yang lebih adil dan lebih makmur. Di atas segalanya, di bendungan ini, jejak-jejak tekad untuk mencapai imajinasi di atas masih tersimpan rapih. Tekad untuk berdaulat dalam bidang kelistrikan, tekad untuk berdaulat dalam bidang pangan, tekad untuk menjamin ketersediaan kebutuhan dasar warga negara akan air baku. Tekad untuk menghindarkan warga negara dari bencana banjir, dan secara umum tekad untuk mengembangkan bekerjanya ekonomi kerakyatan. Inilah pesan yang ingin PDI Perjuangan sampaikan pada bangsa ini.

Pesan ini menjadi krusial bagi Indonesia yang kini dihadapkan pada sejumlah persoalan pelik seperti kelistrikan. Kita dihadapkan pada kelangkaan air baku di hampir semua kawasan. Kita dihadapkan pada bencana banjir bandang yang terus saja terjadi. Saya berulang kali mengingatkan, agar bahaya banjir tidak dipandang sebagai peristiwa biasa sehingga menimbulkan sikap nrimo bagi yang mengalaminya. Kita wajib melakukan kajian yang mendalam guna melihat peristiwa banjir dalam dedikasi keilmuan. Hal ini penting untuk melihat korelasi antara pemananasan global, kenaikan tinggi muka air laut, dan kebijakan pencegahan apa yang harus diambil. Kenaikan tinggi muka air laut pada saat pasang, harusnya betul-betul diperhatikan guna menyusun kebijakan penataan seluruh sistem irigasi, dan tata ruang, serta penetapan titik nol baru terhadap muka air laut, termasuk mempertimbangkan kembali kearifan lokal. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa model rumah panggung yang sangat dominan di sebagian besar wilayah Indonesia, adalah bentuk kearifan lokal.

Saudara-saudara,
Kita juga dihadapkan pada ancaman serius kelangkaan pangan. Kapasitas produksi pangan terus merosot tajam, dan diikuti peningkatan impor. Sebuah kondisi yang menjerat bangsa ini ke dalam ketergantungan. Menurut kajian Riset Institute for Development of Economics of Finance (Indef), Indonesia akan kembali mengimpor beras sebesar 1,75 juta ton. Jika ini terjadi, kita merupakan importir beras terbesar kedua di dunia. Bukan hanya beras, ketergantungan pada impor pangan lain juga sangat fantastis: kedelai (70 persen), garam (50 persen), daging sapi (23 persen), dan jagung (11,23 persen).

Yang lebih menyedihkan, ketergantungan impor yang semakin ekstrim ini berlangsung dalam situasi dimana harga pangan global semakin menggila. Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia-Pasifik (ESCAP) yang berkedudukan di Bangkok menyebutkan, cuaca buruk di negara-negara penghasil pangan berakibat pada kenaikan tajam harga sebagian jenis pangan dibandingkan tahun lalu. Kecenderungan ini tidak boleh dianggap enteng. Sebuah kajian baru PBB menyebutkan harga pangan yang tinggi telah memaksa 19,4 juta orang di Asia-Pasifik hidup miskin. Kini kita sedang berhadapan dengan resiko ini. Tidak mengherankan jika penambahan secara dramatis porsi APBN untuk program penanggulangan kemiskinan, justru berbuah sebaliknya: kemiskinan tetap bertakhta dengan angkuhnya. Sebagai bangsa, kita harus berkaca pada keseluruhan sejarah dan imajinasi pembangunan Jati Luhur agar bisa menemukan jalan keluar dari sejumlah persoalan di atas.

Saudara-saudara,
Pada peringatan ulang tahun kali ini, kita akan mengukuhkan secara formal kerjasama yang sudah berjalan antara PDI Perjuangan dengan BKKBN dan BNN. Lewat kerjasama dengan BKKBN, PDI Perjuangan dituntut untuk lebih aktif lagi terhadap upaya penyadaran masyarakat mengenai program pengendalian dan penjarangan jumlah penduduk.

Berbagai riset sudah membuktikan bahwa pertambahan penduduk yang berlebihan, bukan saja beresiko pada terjadinya perebutan ruang dan sumber-daya yang  semakin keras. Tetapi semakin memicu penggunaan kekerasan sebagai metode untuk mempertahankan eksistensi diri. Penggunaan kekerasan bukan saja terhadap sesama makluk manusia; tapi juga lingkungan dan sumberdaya yang akan semakin memperparah kerusakan ekosistem kita.  Demi masa depan peradaban kita; demi masa depan anak-cucu kita, PDI Perjuangan memutuskan untuk membantu BKKBN dalam usaha-usahanya. Penggalangan dukungan program BKKBN ini kini semakin kuat. Hambatan kultural yang sebelumnya terjadi, kini dapat diatasi, dengan adanya dukungan secara kelembagaan terhadap pelaksanaan program BKKBN tersebut oleh Majelis Ulama Indonesia.

Selanjutnya, Nota Kesepahaman dengan BNN juga menjadi krusial, bukan karena BNN ini dibentuk ketika kepemimpinan saya. Sebagai partai kita memang sudah melakukan test urine bagi para kader yang berada di jabatan-jabatan publik dan struktur partai. Secara politik, kita tidak mentolelir setiap anggota/kader  pengguna narkoba dan psikotropika. Kita bahkan telah memecat kader yang terbukti mengkonsumsi barang haram tersebut. Saya meyakini, bahwa PDI Perjuangan masih bisa berbuat lebih banyak lagi. Salah satu yang terpenting adalah memberikan dukungan politik bagi BNN dan institusi penegak hukum dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Saudara-saudara,
Sikap tegas PDI Perjuangan diperlukan karena perkembangan akhir-akhir ini menunjukan masyarakat kita terbelah dalam menyikapi hukuman mati bagi para produsen dan pengedar narkoba dan psikotropika. Di satu sisi ada arus kuat atas nama hak asazi manusia yang menolak hukuman mati. Di sisi lain, ada kubu yang melihat hukuman mati sebagai ganjaran yang sepadan.

Kita tentunya bertanya, apakah hak asazi individual — lebih-lebih bagi para produsen dan bandar narkoba — pantas ditegakkan di atas pengorbanan hak yang lebih besar dari negara dan bangsa untuk menyelamatnya rakyatnya? Pertanyaan ini penting karena asas kemanusiaan mengharuskan kita untuk menempatkan nyawa manusia sebagai sesuatu yang agung. Tetapi pada saat bersamaan, moralitas bagi seorang pemimpin mengharuskannya untuk tidak buta ketika menyaksikan begitu banyak korban yang harus meregang nyawa secara mengenaskan. Seorang pemimpin tidak boleh buta melihat anak-anak negeri yang menjadi korban HIV-Aids yang menyebabkan mereka mati secara perlahan-lahan. Betapa besar sebenarnya suara diam dari para korban narkoba tersebut.

Atas dasar tanggung jawab kemanusiaan tersebut, sudah sewajarnya jika negara berkewajiban untuk mencegah agar tidak ada warganya yang mati sia-sia dengan alasan apapun, apalagi untuk memenuhi hasrat kesenangan dan keuntungan material bagi segelintir orang yang menjadi produsen dan pengedar barang terlarang ini. Karenanya, PDI Perjuangan menyatakan secara tegas: perang terhadap narkoba dan psikotropika.

Saudara-saudara sekalian,
Melanjutkan apa yang telah saya sampaikan di atas, sangat  jelas terlihat, bahwa partai politik seharusnya bisa memainkan peran yang jauh lebih luas dari sekadar berkutat di soal menang kalah dalam sebuah pemilu. Lebih luas dari sekadar urusan caleg, betapapun pentingnya hal tersebut.
Sayangnya, perkembangan wacana publik akhir-akhir ini justru tidak berjalan pada hal ideal di atas. Ada ambivalensi sikap yang membingungkan. Ambivalensi yang menunjukan wajah ganda dari masyarakat cerdik-pandai Indonesia saat kini. Di satu sisi partai dipersepsikan sebagai beban bagi sistem politik, seolah penyakit yang harus dibasmi. Di sisi lain, partai dituntut untuk membuka diri sebagai kendaraan bagi orang-perorang menuju jabatan publik. Kita juga menyaksikan munculnya aneka institusi baru, misalnya calon independen sebagai saingan partai. Di ekstrim yang lain, perlombaan untuk membentuk partai seakan menjadi perlombaan yang tak mengenal lelah. Ambivalensi lainnya terekam dengan sangat baik ketika ada kader partai yang mencatat prestasi, hal ini dihargai dan dipahami sebagai prestasi individu. Sebaliknya, ketika ada kader partai yang bermasalah, seluruh dosanya ditimpakan menjadi dosa partai sebagai lembaga.

Saudara-saudara,
Sejumlah fakta memang memberikan alasan untuk melihat partai dengan kaca mata patologis. Ada persoalan korupsi yang melibatkan orang-orang partai. Mereka adalah oknum yang mengatasnamakan Partai; ada penyalah-gunaan wewenang, dan masih ada penyakit lainnya. Tanpa bermaksud mencari pembenaran, benarkah serangkaian penyakit di atas adalah penyakit partai semata?

Pertanyaan di atas penting dan harus ditemukan jawabannya. Mengapa?Karena menurut saya, mengkambing-hitamkan partai sebagai sumber malapetaka bagi bangsa ini, tidak dengan sendirinya bisa membebaskan bangsa ini dari belitan persoalan struktural yang sudah mengakar sangat dalam. Kita membutuhkan kecerdasan lebih, dari pada hanya sekadar menyalahkan partai. Masalah bangsa adalah masalah kita bersama yang harus diselesaikan dengan jernih.

Saudara-saudara,
Saat ini juga berjalan suatu kondisi dengan generalisasi berlebihan: bahwa semua partai adalah sumber masalah. Cara pandang seperti ini mengabaikan dan sekaligus memberikan dis-insentif bagi partai-partai yang secara sungguh-sungguh berusaha memperbaiki diri. Sebagai Partai, PDI Perjuangan telah berusaha untuk mendengar dengan sungguh-sungguh keluhan rakyat. Kita berusaha sekuat tenaga memperbaiki diri. Sudah tentu masih ada kelemahan di sana-sini, tapi kemajuan yang dicapai tidaklah sedikit.

PDI Perjuangan misalnya, telah dan sedang memperbaiki proses rekrutmen. Kita secara serius telah mengembangkan instrumen evaluasi dan monitoring para kader yang berada di eksekutif, legislatif, dan struktural partai. Kita telah mengembangkan sistem informasi terpadu dimana track record dari kader ditampilkan dalam database Partai. Hasil evaluasi dan monitoring maupun  porto folio yang dipunyai kader, dijadikan sebagai dasar dalam proses rekrutmen. Dalam proses rekrutmen kita bahkan telah melibatkan psikolog, melalui psikotest, dan dilaksanakan di seluruh Indonesia. Para psikolog tersebut dengan dedikasi yang begitu besar membantu partai dalam memetakan potensi kader-kader kita.

Saudara-saudara,
Untuk jangka panjang, PDI Perjuangan telah dan sedang menyekolahkan sejumlah kader agar kelak memiliki kemampuan yang diperlukan dalam mengelola pemerintahan. Kita juga dengan sangat serius melakukan kaderisasi di berbagai daerah. Kita bahkan sedang menyiapkan sekolah partai dengan bantuan para guru besar dari sejumlah perguruan tinggi yang kredibel. Kaderisasi dan sekolah partai bahkan sengaja dirancang untuk membentuk kader yang memiliki karakter, di luar kemampuan teknokrasi dan manajerial yang diperlukan. Hal ini dilakukan melalui penekanan pada ideologi dan praktek ideologi.

Hanya saja saudara-saudara, langkah-langkah di atas, tidak tertangkap mata para pemerhati. Karenanya, saya melihat perkembangan wacana deparpolisasi ini bukan lagi persoalan akademis. Ia sudah menjadi persoalan ideologi. Analisis yang diberikan, sekalipun memakai dalil-dalil akademis, lebih sebagai proyeksi dari pragmatisme dan individualisme sebagai sikap ideologis para pengusungnya. Hal ini berulang kali kita saksikan dalam sejarah politik Indonesia terhadap berbagai gagasan anti partai ini.

Saudara-saudara,
Yang dilupakan oleh kebanyakan orang adalah fakta sederhana bahwa partai dan ideologi adalah penjelas paling pokok dari pencapaian kemerdekaan bangsa ini. Sejarah membuktikan, tanpa rakyat yang diorganisir dan dididik melalui partai dan ideologi, pencapaian kemerdekaan Indonesia hanya sekedar hanya sekedar ilusi. Kita memahami, bahwa kemampuan individu, orang per orang, selalu ada keterbatasan,  betapapun besarnya, betapapun hebatnya. Kita punya tokoh-tokoh besar dalam sejarah melawan penjajahan. Tetapi tanpa bertumpu pada organisasi dan  idelogi, semuanya dengan sangat mudah dipatahkan kekuatan penjajah.

Karenanya, tidaklah aneh, jika tokoh sekaliber Bung Karno sekalipun, tidak pernah gegabah menempatkan dirinya lebih besar dari partai. Dalam Indonesia Menggugat, Bung Karno secara panjang lebar mengambarkan sentralitas partai dalam proses perjuangan mencapai Indonesia merdeka. Saya mengutip beliau dalam Mencapai Indonesia Merdeka, welnu, bagaimanakah kita menjelmakan pergerakan yang onbewust dan ragu-ragu dan raba-raba menjadi pergerakan yang bewust dan radikal?Dengan suatu partai. Dengan suatu partai yang mendidik rakyat jelata itu ke dalam ke-bewust-an dan keradikalan. Dengan satu partai, yang menuntun rakyat jelata itu ke dalam perjalanannya kearah kemenangan, mengolah tenaga rakyat jelata itu di dalam perjuangannya sehari-hari menjadi pelopor daripada rakyat jelata itu menuju kepada maksud dan cita-cita dan Bung Karno melakukannya melalui PNI.

Saudara-saudara,
Hal-hal di atas perlu saya sampaikan kembali untuk mengingatkan kita bahwa pengorganisasian dan pendidikan rakyat melalui partai politik dan ideologi, telah hadir terlebih dahulu mendahului Negara. Sejarah juga mencatat, pengorganisasian rakyat melalui partai politik telah terbukti menjadi kekuatan dasyat yang memerdekakan bangsa dan setiap rakyat Indonesia. Dalam sejarah bangsa ini, Partai hadir terlebih dahulu mendahului Negara. Partai hadir mendahului organisasi tentara/ militer, mendahului birokrasi, mendahului kelompok kepentingan tertentu yang terkesan ingin diberi hak istimewa untuk mengontrol negeri ini atas nama independensi atau netralitas.

Tetapi saya juga ingin menggaris-bawahi, pengungkapan kembali sentralitas partai dalam sejarah bangsa tidak dimaksudkan untuk membenarkan tindakan sejumlah orang partai yang merampok dan memperdaya negeri ini. Pengungkapan sejarah tidak dimaksudkan untuk membersihkan dosa partai hari ini. Ia juga tidak dimaksudkan untuk menuntut hak istimewa bagi partai.

Pengungkapan sejarah di atas justru ingin menyadarkan bahwa institusi ini begitu pentingnya dalam sejarah bangsa, dan akan terus seperti itu ke depan. Karenanya, tidak satupun warga, termasuk dan terutama orang-orang partai yang memiliki hak moral untuk menghancurkan partai. Sebaliknya, adalah tanggung-jawab ideologi, sejarah dan politik dari setiap orang partai untuk mengembalikan partai ke elan awal kelahirannya, sehingga anak-cucu kita bisa mendapatkan manfaat dari kehadiran partai.

Saudara-saudara,
Akhirnya, atas terselengarannya peringatan hari ulang tahun Partai yang ke 40 ini, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga bangsa. Saya mengajak agar apapun masalah yang kita hadapi saat ini, para Bapak Bangsa telah meletakkan fondamen yang kokoh. Karenanya, janganlah gentar. Kita harus tetap mengobarkan semangat dan kepercayaan diri, bahwa masih terbuka kesempatan untuk memperbaiki berbagai kerusakan. Kita pahami kembali, spirit ke Indonesiaan yang begitu besar dengan cita-citanya yang begitu agung. Kita tekuni Pancasila yang diterjemahkan melalui jalan Trisakti: berdaulat di bidang politik; berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kita perkuat seluruh kemampuan nasional untuk mengelola bangsa dan Negara yang besar dan kaya ini, dengan melaksanakan seluruh ketentuan yang terkandung dalam UUD 1945. Disitulah seluruh tujuan Negara dan tugas kita sebagai bangsa diletakkan.

Semoga Allah Subhanahu Wataala selalu memberikan kekuatan dan rahmat bagi kita semua, sehingga bangsa ini kembali jaya dan semakin disegani dalam tata pergaulan dunia.

Dirgahayu PDI Perjuangan.
Merdeka!!!
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Om Santi Santi Santi Om,

Megawati Soekarnoputri
KETUA UMUM PDI PERJUANGAN

Leave a Reply