Pidato Ilmiah Prof Laut

INOVASI KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Yang saya hormati dan dimuliakan Allah Swt:

Bapak Wakil Gubemur Propinsi Sumatera Utara, Bapak Ir. Gatot Pudjonugroho

Bapak Koordinator Kopertis Wilayah I NAD-Sumut, Bapak Prof. Dr. H. Zainuddin.

Bapak Ketua Umum PB Al Washliyah, Bapak KH. Aziddin, SE.

Bapak Ketua Pimpinan Wilayah Al Washliyah Sumut dan Jajarannya.

Bapak Pengurus BPH UMN Al Washliyah

Ibu Rektor UMN Al Washliyah, Ibu Prof. Hj. Sri Sulistyawati, SH, M.Si. Ph.D.

Bapak-bapak Pembantu Rektor I, II, dan III.

Bapak/Ibu Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat UMN Al Washliyah

Bapak/Ibu pimpinan PTN dan PTS di lingkungan Kopertis Wilayah I

Bapak/Ibu pimpinan terkait di Sumatera Utara

Bapak Professor Abdul Rahman dari UUM Kedah Malaysia

Bapak Ketua Alumni UMN Al Washliyah, Bapak H. Hardi Mulyono, SE.M.AP.

Bapak/Ibu Dekan, Pembantu Dekan dan Ketua Program Studi di lingkungan UMN Al Washliyah

Bapak/Ibu Dosen UMN AI Washliyah dan Staff Administrasi

Bapak/Ibu dari Kopertis Wilayah I NAD-Sumut

Bapak/Ibu orang tua Wisudawan

Umak saya Ibu Hj. Nursida Pohan dan Mertua saya Hj. Nur Asiah Gultom

Yang saya sayangi dan saya cintai Istri saya Dra. Nurhayati Harahap, M.Hum dan Anak-anak saya Alamsyah Ahda Hsb, Aidil Ihsan Hsb, dan Anwar Budi Husein Hsb.

Yang saya sanyangi kakak, adik-adik yang datang dari kampung dan yang tinggal di Medan.

Yang saya banggakan para Wisudawan yang telah dilantik hari ini.

Hadirin sekalian yang hadir pada hari ini yang berbahagia.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi Robbil Alamin, Fuji dan syukur, saya panjatkan ke Khadirat Ilahi Robbi yang telah memberikan nikmat yang tiada terhingga kepada saya dan keluarga khususnya, dan keluarga besar UMN Al Washliyah pada umumnya, setelah melalui jalan berliku-liku dan panjang, dalam kurun waktu 10 tahun dapat menyelesaikan S-3 dan tak terbayangkan pada hari ini diberi kepercayaan menyandang jabatan fungsional tertinggi dosen, Guru Besar, Kopertis wilayah I DPK UMN Al Washliyah.

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya hormati, perkenankanlah saya menyampaikan pidato ilmiah saya dengan judul "Inovasi Kurikulum Pendidikan Indonesia".

Tanpa disadari, kita selalu menggunakan kurikulum dalam kehidupan sehari-hari. Setiap menit kita mempunyai tugas-tugas yang harus dikerjakan dan diselesaikan. Tugas itu selalu dilakukan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan harapan hasilnya memuaskan. Oliva (1984), seorang ahli kurikulum, menyebutkan bahwa pada awal munculnya kata "curriculum" di jaman Romawi mempunyai arti yaitu jalur atau gelanggang pacu yang harus dilewati pada perlombaan kareta kuda. Ternyata, dua puluh satu abad kemudian. kata kurikulum selalu digunakan dalam dunia pendidikan dan berkembang menjadi konsep yang artinya luas dan abstrak. Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktek pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya (Sukmadinata, 2004).

Dalam arti murni, kurikulum adalah langkah-langkah yang dilaksanakan dalam suatu pekerjaan agar tercapai suatu tujuan tertentu. Ini berarti kurikulum dalam satu lembaga pendidikan adalah langkah-langkah yang harus ditempuh guna pencapaian tujuan. Ahli lain menyebutkan kurikulum adalah seperangkat mata pelajaran mengenai suatu bidang ilmu atau keahlian khusus, yang tujuan, isi, dan kegiatannya terprogram serta pelaksanaannya di bawah naungan suatu lembaga pendidikan. Sebagai hal yang terprogram, kurikulum berisi perencanaan yang ingin dicapai, tujuan yang ingin dicapai, bahan yang akan diajarkan, pembelajaran, dan alat-alat pembelajaran. Kurikulum dapat dianggap mantap dan baik untuk suatu masyarakat dan pada masa tertentu apabila di dalamnya mempunyai relevansi isi dengan tujuan pendidikan nasional.

Memang kita akui bahwa pada jaman yang senantiasa berubah dituntut diadakannya penyempurnaan kurikulum untuk menyahuti perkembangan jaman dan tuntutan pembelajar. Jadi, tidak benar anggapan selama ini bahwa pergantian kurikulum disebabkan pergantian menteri. Di samping itu, pembaharuan kurikulum bukanlah topik yang baru, terutama di Amerika Serikat. Pembaharuan dilakukan karena mendesaknya perbaikan sekolah yang mencakup semua aspek persekolahan.

Bapak, Ibu, Hadirin yang saya hormati.

Salah satu usaha yang amat besar dalam memperbaharui kurikulum terjadi pada kurun waktu tahun enam puluhan (1960-an), khususnya setelah peluncuran pesawat sputnik Uni Sovyet. Amerika Serikat sangat tertantang dan yang pertama dibenahi dan disempurnakan adalah kurikulum persekolahannya. Saat itulah disebut era pembaharuan kurikulum. Pembaharuan kurikulum mencakup semua aspek kurikulum, seperti mata perlajaran, isi atau konten, proses belajar mengajar, metode, pengelolaan waktu yang lebih baik, dan perolehan hasil belajar siswa. tentu yang lebih baik.

Dalam menyikapi suatu perubahan, setiap sekolah dituntut berperan dalam pembaharuan tersebut sampai pada tahap implementasinya dan menetapkan perubahan itu sesuai dengan perkembangan sekolah tersebut. Sering terjadi sekolah menerima suatu perubahan tanpa memperhitungkan mengapa mereka mengadopsinya, apa dampak perubahan itu bagi guru, siswa, dan masyarakat luas. Kemudian, sekolah yang dijadikan ajang pembaharuan itu digembor-gemborkan sebagai suatu model yang akan menjadi contoh bagi sekolah lain. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk memastikan apakah satu sekolah perlu melakukan suatu perubahan.

Substansi Perubahan Kurikulum

Biasanya suatu perubahan datang dari kalangan yang mempunyai pengaruh. Mereka menawarkan retorika dan data yang dapat menggugah sehingga inovasi itu dibutuhkan. Oleh karena itu, perlu diperhatikan sumber-sumber perubahan, seperti: waktu yang cukup, refleksi din, program sekolah, staf sekolah yang berkeinginan untuk berubah dan penuh kesadaran mau mengimplementasi-kannya, baik di dalam maupun di luar sekolahnya.

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya muliakan

M. Francis Klein dalam bukunya Curriculum Reform in the Elementary School menyatakan ada lima substansi suatu inovasi kurikulum, yaitu:

Menetapkan perencanaan. Perencanaan harus menekankan perubahan yang diinginkan dan harus didasarkan pada sekumpulan data sekolah dan visi yang akan dilakukan sehubungan dengan pembaharuan tersebut.

Menguji kurikulum secara komprehensif. Kurikulum hendaknya didefinisikan dan diuji secara komprehensif dari berbagai sudut, antara lain: lembaga persekolahan, fungsi sekolah, dan tujuan kurikulum.

Menganalisis kesenjangan antara teori dan praktek. Walaupun sekolah tampaknya merupakan tempat yang menyenangkan bagi siswa unruk belajar, namun masih banyak hal yang memerlukan penyempumaan. Seperti apa yang diharapkan sekolah berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, penyempumaan kurikulum harus dapat menjembatani/mengatasi kesenjangan tersebut.

Perhatian terhadap kurikulum implisit. Dalam mengembangkan substansi kurikulum implisit perlu diperhatian hal-hal yang tidak tersurat yang ada dipersekolahan, seperti budi pekerti, kesantunan berbahasa, dan berprilaku baik.

Mengembangkan pendekatan yang sistematis. Suatu pendekatan yang sistematis terhadap perbaikan kurikulum harus menggunakan pendekatan yang sistematis. Hal ini disebabkan suatu aspek perubahan yang kecil akan membawa dampak terhadap aspek persekolahan yang lain.

KTSP

Sampai saat ini kita telah mengalami berkali-kali penyempumaan (inovasi) kurikulum mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Implernentasi suatu inovasi kurikulum dimaksudkan untuk menyahuti perkembangan jaman dan meningkatkan mutu suatu satuan pendidikan. Namun, sering inovasi-inovasi tersebut mengalami kegagalan dan tidak pernah diimplementasikan. Djohar (2003) menemukan dalam penelitiannya bahwa kurikulum SMK edisi 1999 masih belum dilaksanakan sepenuhnya sesuai harapan kurikulum itu. Penyebabnya adalah: (1) guru-guru belum memahami sepenuhnya konsep kurikulum, (2) desain/rancangan model kurikulum pada tingkat instruksional/mikro sebagai penjabaran dari kurikulum pada tingkat makro, masih belum ada dan masih sedang dikembangkan.

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya muliakan

Sekaitan dengan implementasi suatu kurikulum, Hasan (1992) mengemukakan bahwa tidak diimplementasikannya suatu kurikulum pada tingka sekolah ditentukan oleh tiga faktor, yaitu (1) karakteristik pembaharuan itu sendiri, (2) karakteristik pelaksana, dan (3) strategi implementasi yang ditempuh. Hal senada diperkuat oleh McLaughlin (1987) dengan menyatakan bahwa kesuksesan implementasi suatu kebijakan sangat tergantung kepada dua faktor utama, yaitu (1) kapasitas lokal dan (2) kemauan dari pelaksana.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, selajutnya disebut KTSP, atau lebih dikenal Kurikulum 2006 sejak tahun pelajaran 2006/2007 dan direalisasikan sampai pada tahun 2009/2010 (Permendiknas, No.24 Tahun 2006).

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan. KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 200 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan tersusunnya kurikulur pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu kepada standar isi dan standar kompetensi lulusan serta berpedornan pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) (BNSP:2006).

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pemberlakuan KTSP masih menemui banyak hambatan sehingga menyebabkan adanya perasaan pesimis dalam menerapkan kurikulum dimaksud. Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Lubuk Linggau menyatakan bahwa KTSP ternyata masih bersifat idealis dan sulit diterapkan secara nasional (Linggau Pos, 5 Juni 2007). Kendala-kendala penyebabnya adalah kondisi daerah terpencil yang sulit dijangkau dan minimnya sarana dan prasarana penunjang, lemahnya insfrastruktur serta masalah sumber daya manusia dimana masih banyak guru dengan latar belakang pendidikan D2 dan D3.

KTSP dimaksudkan untuk bisa menjawab tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Dengan demikian, kurikulum disusun untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada didaerah. Perbedaan KTSP dengan kurikulum sebelumnya adalah memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada patokan-patokan (standar) yang telah ditetapkan, mulai dari visi, misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya.

KBK untuk Perguruan Tinggi

Kurikulum adalah suatu dokumen atau rencana tertulis tentang pendidikan yang akan diterapkan di kelas melalui pengalaman belajar yang memberikan dampak langsung terhadap hasil belajar mahasiswa. Oleh karena itu jika pengalaman belajar ini tidak sesuai dengan rencana tertulis maka hasil belajar yang diperoleh tidak dapat dikatakan sebagai hasil dari kurikulum.

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya muliakan

Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 yang ditindaklanjuti Surat Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 yang mengemukakan "Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu". Kurikulum merupakan perangkat pendidikan yang dinamis. Oleh karena Itu, kurikulum juga harus peka dan sekaligus mampu merespon beragam perubahan dan beragam tuntutan stakeholders yang menginginkan adanya peningkatan kualitas pendidikan. Negara-negara berkembang dan negara maju di hampir seluruh dunia sekarang ini tengah berupaya meningkatkan kualitas pendidikannya dengan mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Puskur, 2007). .

Dengan adanya kecenderungan globalisasi dan keinginan untuk menyesuaikan tuntutan kebutuhan serta aspirasi bangsa Indonesia di masa depan akan membawa implikasi terhadap perubahan-perubahan kebijakan, khususnya dalam bidang pendidikan. Misi pendidikan nasional adalah menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif yang adaptable terhadap perubahan dan kebutuhan stakeholders. Disamping itu, perguruan tinggi dapat menjawab fenomena empat pilar pendidikan (learning to know, learning to do learning to be, and learning to live together). Untuk itulah perguruan tinggi berupaya mewujudkannya melalui kurikulumnya yang disebut KBK. Inovasi kurikulum ini bukan hanya perubahan pemikiran, tetapi yang paling penting adalah perubahan perilaku dalam pembelajaran.

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya hormati.

Suatu inovasi tidak begitu saja dapat diterima. Perubahan-perubahan yang dibawa inovasi memerlukan persiapan dan waktu yang panjang, Kecepatan pelaksanaannya tergantung pada kondisi sekolah dan kesiapan para pelaksana (Hasan, 1995), Cepat atau lambatnya suatu inovasi diterima oleh masyarakat atau sekolah tergantung pada karakteristik inovasi tersebut Menurut Everett M. Rogers (1983), ada lima karakteristik suatu inovasi agar dapat diterima, yaitu:

Keuntungan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat diukur dari nilai ekonomi, kepuasan, dan status sosial, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerima makin cepat tersebarnya inovasi.

Kompatibel, yaitu tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai, pengalaman masa lampau, dan kebutuhan penerima.

Kompleksitas, yaitu tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudal dimengerti dan mudah digunakan akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar dipergunakan akan lambat proses penyebarannya.

Triabilitas, yaitu dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima.

Observabilitas, yaitu mudah tidaknya diamati suatu inovasi.

Sekaitan dengan hal-hal yang disebutkan di atas, Herrnawan (dalam Nursidik, 2008) mengemukan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu:

Prinsip relevansi, yaitu secara internal, di antara semua komponen dalam kurikulum itu mempunyai relevansi. Secara eksternal komponen-komponen kurikulum mempunyai relevansi epistimologi, relevansi psikologis, dan relevansi sosiologis.

Prinsip fleksibilitas, yaitu dalam pengembangan kurikulum diusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes dan fleksibel dalam pelaksanaannya.

Prinsip kontinuitas, yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal maupun horizontal.

Prinsip efisiensi, yakni mengusakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan surnber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat, dan tepat, sehingga hasilnya memadai.

Prinsip efektivitas, yakni mengasahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya muliakan

Sebelum saya mengakhiri pidato ilmiah saya ini, perkenanlah saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tiada terhingga kepada:

Ayah saya H. Rahmad Hatimbulan Hasibuan (Aim) dan Umak saya Hj. Nursida Pohan yang telah mendidik saya dengan penuh kesabaran dan semangat, tidak pernah menyerah dalam mendorong anak-anaknya agar dapat mengabdikan diri kepada nusa dan bangsa. Beliau-beliau ini tidak pernah mengeluh dalam mencari kebutuhan sekolah anak-anaknya walaupun dengan jalan bertani dan berdagang kecil-kecilan. Begitu juga Bapak mertua Djasinaloan Harahap (aim) dan Ibu mertua Hj. Nurasiah Gultom yang selalu bergembira dan bersendagurau dalam memberi dorongan kepada saya dalam mencapai semuanya ini.

Istri saya tercinta Dra. Nurhayati Harahap, M.Hum. dan anak-anak saya Alamsyah Ahda Hsb, A.Md., Aidil Ihsan Hasibuan, dan Anwar Budi Husein Hsb. yang dengan tulus ikhlas rela dikurangi perhatian terhadap kalian demi tercapainya kesuksesan dan obsesi suami/ayahnya ini. Pengertian sekaligus pengorbanan serta dorongan kalian ini memiliki makna yang sangat besar dan berharga bagi hidup abang/ ayah.

Guru-guru saya mulai dari SDN di Bongbongan, SMPN di Binanga, SMAN di Gunung Tua, dosen-dosen Saya di IKIP Medan Cab. Padangsidempuan, di UNIMED, di UN Malang, dan UPI Bandung. Beliau-beliau ini sangat berjasa memberi petunjuk dan bekal hidup serta juga dalam meraih Guru Besar ini.

Ibu Rektor UMN Al Washliyah, Ibu Prof Hj. Sri Sulistyawati SH, M. Si, Ph.D. yang telah mendorong dan membantu saya secara ikhlas dalam mencapai Guru Besar ini. Di sela-sela kesibukan beliau sebagai Rektor UMN Al Washliyah beliau bersedia menyempatkan diri berupaya agar SK saya cepat diproses. Alhamdulillah, hanya dengan kurang lebih 3 bulan SK tersebut turun Untuk itu, sekali lagi, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, semoga Allah Swt. membalas kebaikan Ibu.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang telah mendorong putra-putri daerah untuk menyandang gelar Doktor. demi pembangunan Sumut pada umumnya. Melalui Bapak Wakil Gubernur, saya ucapkan terima kasih.

Kopertis Wilayah I NAD-Sumut yang telah mendorong dan memotivasi Saya untuk melanjut ke S-3 dan mengusulkan jabatan guru besar. Melah Bapak Koordinator Bapak Prof. Dr. Zainuddin, saya ucapkan terima kasih.

Bapak Pengurus PB Al Washliyah, Abanganda KH. Aziddin, SE, yang telah mendorong dan memberi petunjuk dalam menyelesaikan S-3 dan mendapatkan jabatan guru besar ini.

Bapak Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara dan jajarannya yang telah mendorong saya menyelesaikan S-3 saya serta memperoleh jabatan guru besar ini.

Bapak-bapak penguins BPH UMN Al Washliyah yang telah mendorong saya untuk memperoleh jabatan guru besar ini.

Bapak Tim Penilai Angka Kredit, baik di UMN Al Washliyah: Bapak Prof. Syamsul Arifm, SH, MR, Drs. Firmansyah, M.Si, Drs. Ridwanto, M.S Drs. H. Kondar Siregar, MA., Drs. H. Norman A. Salmany, Drs. Zuberuddin Siregar, MM, dan Drs. Iskandar Zulkarnaen. Tim PAK Kopertis Prof. Dra. Tina Silvana Sinar, MA, Ph.D. Prof. Dr. Khairil Ansari,M.Pd, Prof. Dr. H. Efendy Barus, MA. dan Prof. Dr. Robet Sibarani, M.Si. yang telah menilai angka kredit saya untuk mencapai guru besar ini.

Adik-adik saya Syahfari Hasibuan, SP (Camat Sorkam Tapteng)/istri, Abdul Malik Hsb/istri, Zainal Arifm Hsb/istri, Ummi Kalsum Hsb/suami, dan Dra. Nurdahlia Hsb/suami, yang menjadi semangat bagi saya dalam mendapatkan jabatan ini. Kemudian, abang dan adik ipar: Sutan Harahap, Bachrum Harahap, Ali, Zulkifli, Parmohonan, Berlin yang datang mengunjungi kami ke Bandung pada saat dibutuhkan

Sahabat-sahabat saya sewaktu di S2 di Malang: Dr. Abdul Munir, M.Pd. Dra. Kemali Syarif, Dr. Tagor Pangaribuan, M.Pd. Tingkos S, M.Pd., Drs Ahmad Yazidi, M.Pd. Prof. Made Gosong, M.Pd. Dr. Berlin Sibaram, kawan diskusi dalam menyelesaikan tugas-tugas mata kaliah.

Sahabat saya sewaktu di S-3 di Bandung: Dr. Mara Bangun Harahap, M.S., Prof. Dr. Yusri, M.Pd. Prof. Dr. Sukirno, M.Pd. Prof. Dr. Siman, M.Pd. Drs. M. Ayyub Lubis, M.Pd. Drs. Ulian Barus, M.Pd. Drs. Sarjoni, Kerry. M.Pd. Kawan diskusi dalam menyelesaikan Studi S-3.

Anwar Sadat, M.Hum. dan Ir. Zulkarnen, M.Si. teman diskusi dan memberikan dorongan dalam membuat proposal penelitian hibah bersaing dan pengusulan Guru besar ini.

Dosen-dosen, pegawai administrasi, pegawai kebersihan, dan sekuriti UMN Al Washliyah yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, karena jumlahnya relatif sangat banyak, dalam pidato saya ini, yang selalu mendorong saya dalam memperoleh guru besar ini.

Wisudawan yang telah dilantik hari ini dan adik-adik mahasiswa yang selama ini tekun belajar di Kampus UMN Al Washliyah Medan.

Akhirnya, terima kasih saya kepada semua pihak yang telah membantu saya, baik moril maupun materil dalam menyukseskan pelaksanaan pengukuhan guru besar ini. Bila ada hal-hal yang kurang dalam penyampaian pidato saya ini, saya mohon maaf. Akhir kata, semoga kita tetap dalam lindungan Allah Swt. Amin. Billahi Taufik wal Hidayah, Assalamualaikum wa Rohmatullahi wa Barokatuh.

DAFTAR BACAAN

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: BSNP

Djohar, As’ari. 2003. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Kejuruan. Disertasi, tidak diterbitkan. Bandung: PPS UPI.

Hasan, SH. 1992. An Evaluation of the 1975 General Senior Secondary Social Studies Curriculum Implementation in Bandung Municipality. Disertasi Doctor dari Macquary University. Tidak diterbitkan.

Klein, M. Frances. 1989. Curriculum Reform in the Elementary School. New York: Columbia University.

MaLaughin. 1987. Implementing of ESEA Title I. New York: Columbia University.

Miller, John P and Wayne Seller. 1985. Curriculum: Perspective and Practice. New York: Longman.

Nursidik, Yahya. 2008. Apa Definisinya. Tersdia

http://apadefinisinya.blockspot. com/2008.07/11/2008.

Oliva, F.F. 1984. Developing the Curriculum. Boston: Little Brawn and Company.

Pusat Kurikulum, Balitbang. 2003. Kurikulum Berbasis Komptensi. Jakarta: Depdiknas.

Rogers, Everett. M. 1983. Curriculum Innovation.

Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Lubuk Linggau. "KTSP Sulit Diterapkan Secara Nasional" Lubuk Linggau Pos, Selasa, 5 Juni 2007.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Leave a Reply