Pidato Kenegaraan Presiden Hut Ke 69

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

1

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat, 15 Agustus 2014
Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut Ke-69 Kemerdekaan
RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Yang saya hormati, Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Dewan
Perwakilan Daerah Republik Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Lembaga-
Lembaga Negara,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-Negara Sahabat, dan para Pimpinan Perwakilan
Badan dan Organisasi Internasional,
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Mengawali pidato ini, saya mengajak hadirin sekalian, untuk sekali lagi, memanjatkan
puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat
dan karunia-Nya,kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan insya Allah
kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengab-dian kita
kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur, pada hari yang
istimewa ini, kita dapat menghadiri Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dalam rangka Peringatan
Hari Ulang Tahun ke-69 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Masih dalam suasana Idul Fitri, pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin
menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 Hijriyah kepada kaum muslimin
dan muslimat di seluruh tanah air. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf
atas segala kekhilafan dalam mengemban amanat rakyat selama ini. Sebagaimana
tahun-tahun sebelumnya, pidato kenegaraan kali ini akan dilanjutkan siang nanti,
dengan Pidato Pengantar RAPBN Tahun Anggaran 2015 beserta Nota Keuangannya.
Kedua pidato yang saya sampaikan di depan para wakil rakyat dan wakil daerah hari
2

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

ini, sesungguhnya juga saya tujukan kepada seluruh rakyat Indonesia di mana pun
berada.
Saudara-saudara,
Sebentar lagi, seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, akan dengan
penuh suka cita merayakan proklamasi ke-merdekaan bangsa Indonesia, sebuah
peristiwa yang amat ber-sejarah. Melalui proklamasi yang sederhana dan singkat, dari
Jalan Pegangsaan, para pendiri bangsa mengobarkan suatu revolusi kemerdekaan yang
menginspirasi bangsa-bangsa lain, melahirkan Republik besar di Asia, dan membuka
sejarah Indonesia modern. Sepanjang masa, Generasi-45 akan dikenang sebagai
generasi emas yang mengubah nasib bangsa dengan semangat perjuangan,
pengabdian dan pengorbanan yang luar biasa. Etos inilah yang harus selalu kita dan
semua anak cucu kita tauladani bersama.
Setelah 69 tahun merdeka, saya yakin para pendiri bangsa akan bersyukur dan
bergembira melihat transformasi bangsa Indonesia di abad-21. Dari bangsa yang
sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini
mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu
sekolah, 3 juta guru dan 50 juta siswa. Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia,
Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16
terbesar dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi
dunia jika dihitung dari purchasing power parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21
mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara dan salah satu negara dengan
pertumbuhan kelas menengah yang tercepat di Asia.Dari bangsa yang kerap jatuh
bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengkonsolidasikan diri
menjadi demokrasi ketiga terbesar di dunia.Pendek kata, setelah hampir 7 dekade
merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu,
semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis.
Kita mengatakan semua capaian ini tidak untuk berpuas diri atau menepuk dada. Kita
mengatakan ini untuk mengingatkan diri bahwa semua ini berawal dari revolusi 1945
yang dirintis para pendiri republik. Perjalanan kita sebagai bangsa sudah cukup
panjang, dan terlepas dari berbagai permasalahan yang masih ada, serta segala
kekurangan kita, sejarah menunjukkan bahwa perjuangan dan kerja keras bangsa
Indonesia selama ini telah mengangkat derajat bangsa kita ke tingkat yang lebih tinggi.
3

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Semua hal yang kita capai sebagai bangsa sebenarnya bukan monopoli siapapun.
Semua itu adalah kulminasi gabungan dari sumbangsih dan kerja keras seluruh
generasi, dari era Presiden Soekarno, era Presiden Suharto, era Presiden B.J. Habibie,
era Presiden Abdurrachman Wahid, era Presiden Megawati Soekarno-putri, hingga era
saya saat ini. Insya Allah, ke depan, akan dilanjutkan di era Presiden Indonesia ke-7
dan Presiden-Presiden berikutnya.
Sebagai bangsa yang menghargai apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya,
kita jangan sekali-kali menganggap remeh capaian bangsa ini. Kita bisa melihat sendiri
penderitaan luar biasa yang dialami saudara-saudara kita di Gaza sekarang dan banyak
negara di Timur Tengah. Tragedi Palestina yang masih berlangsung hingga detik ini
mengingatkan bangsa kita betapa mahalnya harga kemerdekaan, persatuan dan
perdamaian.
Saudara-saudara,
Masih segar dalam ingatan saya, lima tahun lalu, tepat pada tanggal 20 Oktober 2009,
saya menyampaikan kebijakan dasar dan program pemerintahan lima tahun ke depan
yang dititik beratkan pada tiga agenda utama, yakni pembangunan demokrasi,
penegakan keadilan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Tiga agenda besar ini tidak
bisa dipisahkan satu sama lain, dan justru saling mendukung. Demokrasi tanpa keadilan
adalah sesat. Keadilan tanpa kesejahteraan adalah semu. Kesejahteraan tanpa
demokrasi adalah timpang.
Kita patut bersyukur bahwa, sejak bergulirnya reformasi, demokrasi kita terus tumbuh
semakin kuat. Sebenarnya, dalam konteks realitas dunia sekarang, ini merupakan hal
yang langka terjadi. Di berbagai belahan dunia, kita melihat berbagai contoh tran-sisi
demokrasi yang mengalami stagnasi, menjadi layu dan bahkan akhirnya runtuh. Dunia
juga bertaburan dengan contoh transisi demokrasi yang kerap dirundung konflik,
instabilitas dan kemundur-an ekonomi. Jelas, transisi demokrasi adalah suatu proses
yang penuh risiko dan tantangan. Alhamdulillah, dengan ridho Allah SWT, dan dengan
kerja keras kita semua, pembangunan demokrasi kita berjalan relatif baik. Dalam 15
tahun terakhir, kita telah 4 kali melakukan pemilu secara teratur dan damai. Dan dalam
15 tahun terakhir, kita telah 4 kali mengalami pergantian Pemerintah secara
konstitusional dan damai pula.
Generasi kita juga telah mengukir sejarah : dalam beberapa tahun ini, untuk pertama
kalinya, seluruh pemimpin daerah dari gubernur, bupati, walikota dan anggota DPRD
4

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

telah dipilih langsung oleh rakyat. Ini telah mengubah total budaya dan dinamika politik
Indonesia. Kita bersyukur, transformasi besar ini dapat kita capai secara damai tanpa
gejolak politik yang sangat mengganggu. Di tahun 2014 ini yang banyak disebut
sebagai "tahun politik" — bangsa kita untuk keempat kalinya sejak era reformasi
kembali melaksanakan pemilihan umum. Tanggal 9 April, lebih dari 139 juta rakyat
Indonesia berbondong-bondong memilih para wakil rakyat yang akan duduk di
lembaga-lembaga legislatif. Dan tanggal 9 Juli, hampir 135 juta rakyat Indonesia
menentukan pilihan pada dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, yakni
pasangan nomor urut 1 Bapak Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Bapak
Hatta Rajasa, dan pasangan nomor urut 2 Bapak Joko Widodo yang berpasangan
dengan Bapak Jusuf Kalla.
Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai
calon Presiden dan Wakil Presiden dengan suara terbanyak. Saat ini, kita masih
menunggu proses akhir dari gugatan yang diajukan oleh pasangan Prabowo-Hatta
kepada Mahkamah Konstitusi.Yang penting, marilah kita semua bekerja sama untuk
terus mengawal proses ini agar berlangsung secara konstitusional dan damai, serta
selalu mengedepankan kepentingan dan masa depan rakyat Indonesia. Sama seperti
sebelumnya, proses pemilu 2014 ini harus benar-benar menyuarakan nurani rakyat, dan
bukan semata pertarungan elit politik. Saya yakin inilah yang paling diharapkan oleh
rakyat kita pada saat ini.
Perjalanan bangsa Indonesia kini ditandai oleh politik yang stabil, pertumbuhan
ekonomi yang relatif tinggi, dan persatuan nasional yang semakin kokoh. Marilah kita
terus jaga modal besar ini, agar dapat terus dinikmati generasi penerus. Dalam
kehidupan bernegara, satu hal yang perlu terus kita pelihara adalah kualitas demokrasi.
Disini perlu kita bedakan antara demokrasi prosedural dan demokrasi substantif.
Sekalipun berbeda namun keduanya sama pentingnya. Memang, demokrasi prosedural
dalam arti pembentukan partai politik, pelaksanaan pemilu dan pembentukan
Pemerintah dan Parlemen — tidak otomatis menjamin demokrasi yang berkualitas.
Sementara itu, demokrasi yang berkualitas mempunyai banyak dimensi positif.
Misalnya, tampilnya wakil-wakil rakyat yang bersih dan memiliki solusi terhadap
masalah bangsa. Pemilihan umum yang menampilkan perdebatan yang bermutu dan
persaingan yang sehat. Peran pers yang independen, kritis dan berintegritas. Surutnya
praktik money politics dalam pelaksanaan pemilu. Kecerdasan dan kematangan rakyat
dalam memilih wakil-wakil mereka. Tumbuh-nya demokrasi di atas kearifan lokal yang
5

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

sudah ratusan tahun mewarnai pertumbuhan rakyat kita. Dan terselesaikannya segala
per-selisihan dalam pemilu secara damai dan konstitusional. Inilah demokrasi yang
tengah kita bangun dan matangkan.
Indikasi terkuat dari demokrasi yang berkualitas adalah sema-kin tumbuhnya
kepercayaan dan optimisme masyarakat terhadap sistem demokrasi dan terhadap para
pemimpinnya. Semua ini, jika bisa kita capai, akan menjadikan demokrasi Indonesia
lebih dari sekedar proses penghitungan suara atau transaksi politik. Melainkan suatu
kekuatan sejarah riil yang akan membuat bangsa Indonesia menjadi kuat, jaya dan
makmur.
Saudara-saudara,
Demokrasi yang kita bangun akan sia-sia tanpa adanya keadilan yang benar-benar
dirasakan masyarakat. Dari era kolonialisme, era kemerdekaan, era pembangunan,
sampai era reformasi, per-juangan rakyat Indonesia adalah perjuangan untuk
mendapatkan keadilan. Hal ini secara abadi telah tercantum dalam sila ke-5 dasar
negara kita, Pancasila. Kita harus yakin dan percaya, bahwa negara hadir untuk
memberikan keadilan — apakah keadilan ekonomi, keadilan sosial, keadilan politik,
maupun keadilan hukum. Keadilan untuk semua justice for all/ merupakan
komitmen moral, sekali-gus sebagai agenda kerja pemerintahan yang saya pimpin sejak
tahun 2009 hingga 2014 ini.
Keadilan akan makin tegak dan kuat apabila supremasi hukum ditegakkan secara
konsisten. Karena itulah, kalau di masa lalu, politik pernah menjadi panglima, dan
kemudian ekonomi menjadi panglima, maka dalam era reformasi, hukumlah yang kita
jadikan panglima. Ini berarti tidak ada satupun warga negara Indonesia yang berada di
luar jangkauan hukum atau di atas hukum. Ini juga berarti tidak ada satupun kelompok
masyarakat kita yang berhak main hakim sendiri atau memaksakan pendapatnya pada
pihak lain. Penegakan hukum adalah kunci dari upaya pemberantasan korupsi yang
menjadi musuh reformasi dan juga merugikan kepen-tingan rakyat. Kini, korupsi telah
kita perlakukan sebagai kejahatan luar biasa, yang penanganannya harus dilakukan
dengan cara-cara yang luar biasa pula.
Berulang kali saya tegaskan, tidak ada yang kebal hukum di negeri ini, dan tidak ada
tebang pilih kepada mereka yang melakukan tindak pidana korupsi. Karena itulah,
sebagai Presiden, pada periode 2004 – 2012, saya telah menandatangani 176 izin
pemeriksaan bagi kepala daerah dan pejabat yang dicurigai melakukan kasus korupsi
6

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

dan tindak pidana lainnya, tanpa sedikitpun melihat apa jabatannya, apa partai
politiknya, dan siapa koneksinya.
Selain itu, pada periode 2004 – 2014, terdapat 277 pejabat negara, baik pusat maupun
daerah, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, yang ditangani KPK terkait dengan
tindak pidana korupsi, tidak termasuk perkara yang ditangani oleh Polri dan Kejaksaan.
Di satu sisi, hal ini mencerminkan gejala buruk bahwa korupsi tetap menjadi tantangan
utama dalam kehi-dupan bernegara kita. Namun di lain sisi, hal ini membuktikan bahwa
hukum kita mampu menjerat siapapun yang melakukan pelanggaran tanpa pandang
bulu. Inilah yang membuat saya optimis bahwa upaya pemberantasan korupsi — jika
terus dilaksanakan secara konsisten akan dapat melahirkan Pemerintahan yang jauh
lebih bersih di masa depan.
Karenanya, Pemerintah terus mendukung dan memberikan ruang gerak yang luas bagi
KPK untuk memberantas korupsi. Saya juga memberikan apresiasi kepada KPK,
Kepolisian, Kejaksaan dan lembaga peradilan yang telah bekerja bersama-sama
melakukan penegakan hukum, walaupun diakui bahwa hal ini tidak selalu mudah
dilaksanakan di lapangan. Pemerintah juga giat melakukan pemberantasan mafia
peradilan. Tahun 2009 sampai 2011, misalnya, saya telah membentuk Satgas
Pemberantasan Mafia Hukum. Tugas Satgas ini adalah men-cegah agar jangan sampai
hukum diperjualbelikan layaknya suatu komoditi untuk memperkaya oknum-oknum
penegak hukum dan pemerintah, dan untuk pula melindungi pelaku kejahatan.
Kita juga telah melahirkan Undang-undang no. 16 tahun 2011 yang bertujuan memberi
bantuan hukum bagi masyarakat yang tidak mampu menyewa pengacara untuk
menghadapi pengadilan. Saya masih mendengar adanya sejumlah keluhan mengenai
pelaksanaan undang-undang ini, dan karenanya saya mengusulkan untuk menam-bah
dana bantuan hukum ini secara signifikan, serta mempermudah proses penarikan dana
bagi mereka yang membutuhkannya. Saya akui, reformasi hukum memang merupakan
tantangan yang paling berat. Dan saya berharap agenda reformasi hukum ini akan
terus menjadi prioritas utama dalam kehidupan bernegara Indonesia di masa
mendatang.

Tentu saja, keadilan bukan saja diukur dari segi hukum, namun juga dari kemampuan
kita untuk mewujudkan pembangunan yang adil dan merata. Untuk itulah, dalam lima
tahun terakhir ini, kita terus mendorong pemerataan pembangunan ke luar Pulau Jawa,
7

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

sambil tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa-Bali. Kita
bangun wilayah-wilayah potensial di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan
Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, dan tentu saja Tanah Papua. Inilah makna
sesungguhnya dari pembangunan untuk semua –development for all.
Dalam kerangka keadilan pula, sejak tahun 2004 hingga saat ini, pemerintah selalu
memberi perhatian yang sungguh-sungguh kepada saudara kita di Aceh dan Papua.
Kita bersyukur bahwa sejak perjanjian perdamaian tahun 2005, rakyat Aceh terus hidup
damai dalam kerangka otonomi khusus dan dalam bingkai NKRI. Demikian juga di
Propinsi Papua dan Papua Barat, kita terus mengisi otonomi khusus dengan percepatan
pembangunan, rekonsiliasi politik, kebijakan afirmatif dan peningkatan kesejahteraan
berbasis sosial-budaya.
Saudara-saudara,
Demokrasi dan keadilan akan hampa tanpa kesejahteraan rakyat. Karenanya, dalam
sepuluh tahun terakhir, pemerintah terus gigih mendorong kebijakan pembangunan
yang prorakyat. Suatu kebijakan pembangunan yang secara bersamaan dapat
mendorong pertumbuhan, mengentaskan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan
menjaga kelestarian lingkungan. Dalam hal ini, alhamdulillah, kita dapat terus memacu
momen-tum pemulihan ekonomi, yang sejak krisis moneter telah dirintis oleh para
pendahulu, baik Presiden B.J. Habibie, almarhum Presiden Abdurrachman Wahid
maupun Presiden Megawati Soekarnoputri.
Dalam kaitan itu, selama satu dekade terakhir, kita mencatat bersama beberapa
perkembangan positif dalam pembangunan Indonesia. Pertama, kita dapat menjaga
stabilitas dan kondisi makro-ekonomi yang relatif baik, walaupun bangsa kita terus
diterpa cobaan, apakah itu dalam bentuk bencana alam maupun krisis moneter global
utamanya pada tahun 2008.
Kedua, Indonesia terus mencetak pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Pada
periode tahun 2009-2013, secara rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional mencapai
5,9 persen. Ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Eropa dan
Jepang pada kurun waktu yang sama. Di semester pertama tahun 2014 ini, ekonomi
kita memang mengalami perlambatan menjadi sekitar 5,2 persen. Sungguhpun
demikian, diantara negara-negara G-20, kita tetap menempati posisi pertumbuhan
tertinggi setelah Tiongkok. Kemampuan kita untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi
sangat penting, mengingat dewasa ini cukup banyak negara-negaraemerging ekonomi
8

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

lainnya yang pertumbuhan ekonominya menurun, bahkan sebagian menurun cukup
tajam.
Ketiga, utang negara juga kini telah berada dalam situasi yang jauh lebih aman. Utang
adalah faktor penting karena berkaitan dengan rasa percaya diri dan harga diri suatu
bangsa. Utang juga sering dianggap sebagai ancaman dan stigma yang buruk oleh
rakyat Indonesia. Di puncak krisis moneter tahun 1998, rasio utang kita terhadap PDB
adalah 85 persen, yang artinya utang kita hampir sama besarnya dengan penghasilan
bangsa kita. Dengan susah payah, akhirnya kita berhasil menurunkan rasio utang
terhadap PDB kita menjadi sekitar 23 persen. Sekali lagi, ini bukanlah capaian yang
boleh diabaikan. Mari kita bandingkan dengan rasio utang terhadap PDB negara-negara
maju yang terus tinggi, Jepang 227,2 persen, Amerika Serikat 101,5 persen, atau
Jerman 78,4 persen. Dalam hal ini, rasio utang terhadap PDB Indonesia adalah yang
terendah diantara negara-negara G-20.
Kita juga telah melunasi utang kita kepada IMF, dan melakukannya 4 tahun lebih awal
dari jadwal yang telah disepakati. Salah satu momen yang akan selalu saya ingat
sebagai Presiden adalah ketika menerima Managing Director IMF di kantor saya, dan
waktu itu, justru Indonesia-lah yang balik memberikan masukan bagaimana cara
mereformasi IMF. Indonesia tidak lagi menjadi pasien IMF, yang semua kebijakan dan
perencanaan ekonominya harus didikte oleh IMF. Hibah juga bukan lagi faktor penentu
dalam pembangunan kita. Kita tetap menerima hibah dari negara sahabat, dan kita
hargai sepanjang diberikan dengan itikad baik dan semangat persahabatan. Namun
hibah dari dunia internasional kini hanya berjumlah sekitar 0,7 persen dari seluruh
anggaran nasional. Ini menandakan bahwa kita telah mencapai kemandirian ekonomi
yang makin signifikan.
Keempat, kita juga telah berhasil mencetak sejumlah prestasi ekonomi. Anggaran
pembangunan kini mencapai Rp 1.842,5 triliun, tertinggi dalam sejarah Indonesia.
Cadangan devisa kita saat ini telah mencapai 110,5 miliar dollar Amerika Serikat,
setelah sebelum-nya pernah mencapai 124,6 miliar dolar Amerika Serikat yang juga
tertinggi dalam sejarah. Volume perdagangan kita dalam 10 tahun terakhir mencapai
sekitar 400 miliar dollar, tertinggi dalam sejarah, walaupun belakangan ini kita
mengalami penurunan nilai ekspor. Nilai investasi baik dari luar negeri maupun dalam
negeri dalam 10 tahun terakhir mencapai Rp 2.296,6 triliun, juga tertinggi dalam
sejarah. Sementara itu, dalam waktu 9 tahun, pendapatan per kapita rakyat Indonesia
meningkat hampir tiga setengah kali lipat dari sekitar Rp 10,5 juta tahun 2004 menjadi
9

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

sekitar Rp 36,6 juta pada tahun 2013. Di sini kita juga patut bersyukur karena faktanya,
di tengah gejolak dan krisis ekonomi global yang sering terjadi, tidak banyak bangsa di
dunia yang bisa melakukan hal ini.
Kelima, Indonesia telah menjadi anggota G-20. Ini menandakan bahwa posisi Indonesia
dalam peta ekonomi dunia sudah jauh berubah. G-20 di abad ke-21 telah menjadi
forum utama untuk melakukan kerja sama ekonomi internasional. Dalam forum itu, kita
berdiri sejajar dan duduk setara dengan negara-negara maju dan ekonomi besar
lainnya. Indonesia tidak lagi melihat proses keputus-an ekonomi dunia dari luar atau di
pinggiran, kini kita ikut membuat keputusan ekonomi dunia tersebut dari dalam sebagai
anggota G-20. Pendek kata, Indonesia telah menjadi salah satu pemain inti dalam
ekonomi internasional. Kita tidak punya alasan menjadi bangsa yang rendah diri, yang
gemar menyalahkan dunia atas segala per-masalahan yang terjadi. Kita harus meyakini
bahwa Indonesia di abad ke-21 adalah bagian dari solusi dunia.
Namun, sekali lagi, kita tidak boleh berpuas diri dan takabur melihat semua ini.
Tantangan dan permasalahan yang dihadapi bangsa kita masih banyak. Pekerjaan
rumah kita tidak sedikit. Salah satu tantangan terbesar kita adalah bagaimana
mengubah nasib puluhan juta rakyat Indonesia yang masih hidup di bawah atau di
sekitar garis kemiskinan, ke arah yang lebih sejahtera.
Saudara-Saudara,
Sejak awal, saya meyakini bahwa esensi pembangunan adalah pemberdayaan. Dalam
semua kegiatan sosial ekonomi yang kita usung, pertanyaan utama yang harus selalu
kita jawab adalah : apakah program ini ada manfaat yang riil bagi masyarakat? Karena
itulah, Pemerintah tak henti-hentinya melaksanakan kebijakan pro-rakyat secara masif,
baik yang berbasis bantuan dan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat,
maupun pemberdayaan usaha mikro dan kecil. Kebijakan prorakyat ini tidak dilakukan
secara acak dan setengah hati, namun secara terencana, sistematis dan total.
Pelaksanaan PNPM Mandiri, misalnya, mengalami perkembangan pesat dan saat ini
setidaknya lebih dari seperempat penduduk Indonesia sekitar 60 juta jiwa — baik di
perdesaan maupun di perkotaan telah menikmati manfaat dari program ini, serta
menjalani kehidupan ekonomi yang lebih mandiri. Di ribuan lokasi program PNPM,
rakyat menentukan sendiri kegiatan ekonomi yang ingin di-lakukannya, menentukan
anggaran yang dibutuhkan dari dana PNPM dan mempertanggung-jawabkannya secara
akuntabel. Ini adalah contoh konkrit dimana kemitraan antara pemerintah dan
10

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

masyarakat benar-benar dapat secara riil mengubah nasib rakyat kita. Dari perjalanan
saya keliling tanah air, saya selalu mendengar harapan dari masyarakat agar program
PNPM ini dapat terus dilanjutkan bahkan ditingkatkan.

Pemerintah juga terus menggiatkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), mengingat
akses finansial adalah salah satu senjata paling ampuh melawan kemiskinan. Kita ingin
agar program ini semakin diperluas dan mudah diakses rakyat. Kita terus memperbaiki
pola penyaluran KUR, dan jumlah bank penyalur KUR terus ditambah dari semula 6
bank menjadi 33 bank. Sehingga jangkauan kredit yang disalurkan kepada UMKM dan
koperasi juga terus meningkat. Selama tujuh tahun terakhir penyaluran KUR telah
mencapai lebih dari Rp 150 triliun dan diterima oleh sekitar 11 juta debitur, dengan
tingkat kredit macet atau Non-Performing Loan hanya sebesar 4 persen. Ini bukti yang
nyata bahwa jika rakyat kita mendapatkan peluang dan bantuan untuk mengubah
nasibnya, maka mereka akan berusaha keras untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan
tersebut.
Program lain untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat adalah Program Keluarga
Harapan. Program ini bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dengan cara
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, utamanya melalui pendidikan dan
kesehatan, pada kelompok masyarakat sangat miskin. Lebih dari 3 juta keluarga sangat
miskin di 318 kabupaten dan kota telah terbantu oleh program ini.
Satu hal yang menggembirakan kita semua, di akhir masa pemerintahan Kabinet
Indonesia Bersatu Kedua ini, melalui dukung-an penuh wakil rakyat di DPR RI dan DPD
RI, telah diundangkan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Berdasarkan
ketentuan dalam undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya, dana yang akan
diterima setiap desa diperkirakan rata-rata akan mencapai sekitar satu miliar rupiah per
tahun. Ini adalah suatu kebijakan nyata yang bila dilakukan dengan perencanaan yang
baik dan pelaksanaan yang akuntabel, akan dapat mendorong peningkatan
produktivitas di 72.944 desa di seluruh Indonesia.
Saudara-saudara, pemenang Nobel bidang ekonomi Profesor Amartya Sen pernah
menyatakan, syarat mutlak kemajuan suatu bangsa terletak di sektor pendidikan dan
kesehatan. Karena itulah, sejak awal, pendidikan dan kesehatan terus menempati
prioritas tertinggi dalam kebijakan dan program pemerintah. Pendidikan bukan sekedar
urusan mengirim anak-anak kita ke sekolah. Pendidikan adalah cara yang paling tepat
11

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

untuk memberantas kemiskinan, memperluas kelas menengah dan membangun
Indonesia modern di abad ke-21.
Kita bersyukur bahwa sesuai mandat Konstitusi, anggaran pendidikan kita telah
mencapai 20 persen lebih dari APBN. Namun kita juga harus mengingat bahwa
penambahan anggaran saja tidak otomatis menjamin suksesnya pendidikan. Yang
penting, akses dan kualitas pendidikan harus terus terjamin di semua tingkatan.

Satu masalah besar yang selama ini kita hadapi adalah banyaknya anak-anak dari
keluarga miskin yang cerdas namun tidak mampu masuk perguruan tinggi. Untuk itu,
Pemerintah telah meluncurkan program inovatif Bidikmisi yang memberikan uang kuliah
gratis, ditambah dengan uang saku, sekitar Rp 600.000 per bulan. Sampai saat ini,
sudah lebih dari 220.000 siswa yang masuk dalam program Bidikmisi, dan umumnya
mereka berhasil meraih prestasi akademis dan non-akademis yang mengagumkan.
Tidak jarang diantara mereka yang lulus dengan predikat cumlaude, bahkan dengan
IPK sempurna 4. Saya sempat terharu mendengar cerita anak pengemudi becak
bernama Raeni yang ikut Bidikmisi dan berhasil lulus dari Universitas Negeri Semarang
dengan IPK 3,96.
Kini Pemerintah melalui dana abadi pendidikan, telah menyiapkan beasiswa bagi
mereka untuk melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 di dalam maupun di luar negeri. Saya
yakin, dalam kurun 5 10 tahun mendatang akan lahir ribuan Master dan Doktor,
generasi baru dari keluarga miskin. Merekalah yang akan menjadi pemutus mata rantai
kemiskinan, pengangkat harkat martabat keluarganya serta pengibar merah putih
setinggi-tingginya.
Ini adalah bukti bahwa anak-anak kita, apapun latar-belakang-nya, mempunyai potensi
yang luar biasa, asal mereka diberikan kesempatan. Jangan lupa, dan ini juga
merupakan kebanggaan bagi kita semua, bahwa dalam 10 tahun terakhir, anak-anak
kita yang bersaing dalam berbagai Olimpiade Internasional telah 217 kali meraih medali
emas, 389 kali meraih medali perak, dan 494 kali medali peru-nggu. Siapa bilang anak
Indonesia tidak bisa bersaing dan unggul di panggung dunia? Untuk meningkatkan
pemerataan akses dan kualitas pendidik-an, Pemerintah juga melaksanakan program
afirmasi. Lulusan-lulusan sekolah menengah yang tinggal di wilayah timur Indonesia,
seperti Papua dan Papua Barat dan daerah perbatasan, mendapat kesempatan untuk
menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia.
12

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Saya dapat katakan bahwa pemandangan yang paling indah di Indonesia bukan saja
gunung tinggi, hutan lebat dan laut biru kita. Pemandangan yang paling indah adalah
anak-anak kita yang setiap pagi berjalan ke sekolah dengan seragam yang bersih dan
penuh ceria. Kita semua mempunyai kewajiban agar mereka dapat belajar dalam
sarana sekolah yang nyaman, bersih dan sehat. Karena itulah, kita terus membangun
sekolah baru dan ruang kelas baru, serta merehabilitasi ruang kelas yang sudah rusak.
Sejak 2010, melalui program Gerakan Nasional Rehabilitasi Gedung Sekolah telah
diperbaiki hampir 300.000 ruang kelas di seluruh Indonesia.
Satu tantangan utama lapangan kerja kita adalah sekitar 49 persen pekerja kita masih
berpendidikan SD. Ini membuat mobilitas ekonomi mereka menjadi sangat terbatas,
dan berdampak panjang pada produktifitas nasional. Karena itu, saya gembira dapat
meng-akhiri masa jabatan saya dengan berjalannya program Pendidikan Menengah
Universal sejak tahun 2012. Insya Allah, generasi anak-anak kita akan hidup dalam
sistem pendidikan dimana paling sedikit mereka akan mengenyam bukan 6 tahun,
bukan 9 tahun namun 12 tahun pendidikan, bahkan kita dorong terus agar mereka bisa
menikmati sampai Perguruan Tinggi. Esensinya, kita telah mengubah dan menaikkan
program wajib belajar 9 tahun, menjadi wajib belajar 12 tahun.
Satu hal yang juga menggembirakan kita semua adalah jumlah anak-anak kita yang
masuk ke perguruan tinggi terus meningkat secara drastis. Tahun 2004, setelah hampir
60 tahun merdeka, hanya 14 dari 100 anak usia 19 sampai 23 tahun yang masuk ke
perguruan tinggi. Sejak itu, kita terus mencari dan melakukan berbagai cara untuk
meningkatkan jumlah ini. Hasilnya, kini, dari 100 anak usia 19 tahun, 30 telah masuk ke
Perguruan Tinggi, atau 2 kali lipat dari 10 tahun sebelumnya. Ini tentu akan sangat
berdampak pada pengem-bangan sumber daya manusia kita sekarang dan di masa
mendatang. Inilah modal dasar kita : insan-insan Indonesia yang cerdas, berilmu dan
mempunyai keterampilan.
Saudara-saudara, semua ini tidak ada artinya kalau tidak didukung oleh modal
kesehatan. Di sini, permasalahannya juga serupa dengan di bidang pendidikan, yakni
akses dan kualitas terhadap layanan kesehatan secara merata. Di seluruh dunia,
termasuk di negara-negara maju, hal ini memang merupakan tantangan zaman. Mereka
yang mampu dapat berobat pada dokter yang terbaik, namun mereka yang miskin bila
terkena penyakit mematikan, kanker, atau yang sejenis hanya bisa menyerah pada
nasib.
13

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Karena itulah, setelah kita menjalankan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat sejak
tahun 2005, tahun 2014 menjadi tonggak bersejarah bagi rakyat Indonesia dengan
mulai beroperasinya BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. Dengan sistem ini,
peserta BPJS berhak mendapat pelayanan kesehatan dan pengobatan, apapun penyakit
yang dideritanya. Ini merupakan kebijakan publik yang bukan saja inovatif, namun juga
revolusioner. Saya sadar betul bahwa implementasi BPJS ke depan akan masih banyak
mengalami tantangan terutama tantangan sumber daya manusia, finansial dan
logistik. Namun saya juga yakin, dengan kerja keras kita semua, kita akan dapat
mengatasinya demi rakyat kita. Kita patut berbangga karena Indonesia kini memiliki
salah satu sistem Jaminan Kesehatan terbesar di dunia. Hingga awal bulan Agustus
2014, BPJS telah memberikan jaminan kesehatan untuk lebih dari 126,4 juta penduduk.
Kita berharap, dengan upaya yang gigih, pada tahun 2019 jaminan kesehatan akan
mencakup seluruh penduduk di seluruh tanah air.
Sumber daya manusia yang cerdas, terampil dan sehat akan menjadi modal utama kita
dalam merintis proyek besar pembangunan Indonesia yang dinamakan Masterplan
Percepatan dan Perluas-an Pembangunan Ekonomi Indonesia, atau MP3EI. Indonesia
maju di abad-21 tidak bisa hanya berpusat di Jakarta; Indonesia hanya akan maju
secara nyata apabila segala potensi dan peluang yang ada di seluruh propinsi,
kabupaten, kota dan desa di Indonesia dapat dibangun bersama secara produktif. Kita
semua senang melihat Makasar mempunyai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi
dari Tiongkok; melihat Kabupaten Badung menjadi lokasi turis utama di Asia; melihat
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memangkas angka kemiskinan dari 20 persen
menjadi 9 persen hanya dalam waktu 3 tahun; melihat Bandung berambisi membangun
Silicon Valley Indonesia; melihat Maluku berikhtiar menjadi lumbung perikanan
nasional; melihat Surabaya diakui dunia sebagai salah satu kota percontohan, serta
banyak contoh lainnya di seluruh tanah air.
Untuk mempercepat pembangunan antarwilayah, kita telah memulai pembangunan
enam koridor ekonomi yang diharapkan dapat menstimulasi pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi wilayah dan klaster-klaster industri di masing-masing koridor, dengan
menggali potensi dan keunggulan daerah. Sejak pemerintah canangkan pada tahun
2011, MP3EI telah merealisasikan lebih dari 382 proyek, yang terdiri dari 208 proyek
infrastruktur dan 174 proyek sektor riil, dengan nilai tidak kurang dari Rp 854 triliun.
Yang menggembirakan adalah mayoritas percepatan pembangunan infrastruktur dan
sektor riil terjadi di luar Jawa dengan total nilai proyek sebesar Rp 544 triliun. Kita
bangga melihat berdirinya bandar udara yang megah dan modern di Makassar,
14

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Balikpapan, Medan dan Bali tidak kalah megah dari bandara internasional Soekarno-
Hatta. Kita berbesar hati melihat jalan tol atas laut di Bali, jalur kereta api baru dari
bandara ke pusat kota Medan, atau jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat, yang
kesemuanya makin memacu kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun kita juga harus mengakui bahwa masih banyak tan-tangan infrastruktur kita ke
depan. Banyak proyek-proyek infrastruk-tur yang lama terhambat pelaksanaannya
bahkan terhenti — baik karena alasan politik, birokrasi atau logistik. Ini tetap
merupakan pekerjaan rumah besar kita, karena tidak mungkin Indonesia menjadi
raksasa ekonomi Asia tanpa infrastruktur yang makin lengkap, ber-kualitas dan modern.
Dengan MP3EI, kita berharap akan lebih banyak lagi muncul pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi baru dan infra-struktur baru di seluruh Indonesia.
Saudara-saudara,
Kita dapat menarik nafas lega karena sejak 2004, angka kemiskinan terus menurun,
walaupun sempat ada masa angka ini mening-kat, khususnya di tahun 2005, karena
krisis kenaikan harga minyak di dunia. Dalam lima tahun terakhir, Pemerintah telah
berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin sekitar 4,5 juta orang. Pada tahun 2009,
persentase penduduk miskin masih mencapai 14 persen atau sekitar 32 juta penduduk
berada di bawah garis kemis-kinan. Pada bulan Maret 2014, tingkat kemiskinan turun
menjadi 11 persen atau sekitar 28 juta penduduk. Walaupun terus menurun, kita tetap
tidak puas dengan angka ini, dan kita akan terus berupaya mencapai angka nol
kemiskinan absolut di bumi Indonesia.
Namun efektifitas pembangunan nasional tidak semata-mata diukur dari pengentasan
kemiskinan. Ukuran lain yang juga penting adalah : pertumbuhan kelas menengah.
Sebenarnya, Pemerintah selama ini mempunyai tujuan ganda — twin objective — yakni
me-nurunkan secara sistematis dan signifikan angka kemiskinan, dan bersamaan
dengan itu meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kelas menengah.
Di abad ke-21, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kemajuan Indonesia bukan diukur
dari jumlah konglomerat, namun diukur dari jumlah kelas menengah. Kalau jumlah
kelas menengah terus membe-sar, berarti kemiskinan otomatis menurun, karena yang
masuk menjadi kelas menengah adalah dari golongan miskin yang berhasil mengubah
nasibnya buruh tani yang menjadi pemilik lahan; karyawan yang menjadi
manajemen; si miskin yang menjadi pengu-saha, dosen atau pejabat.
15

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Karena itulah, kebijakan pembangunan kita harus terus mendo-rong pertumbuhan kelas
menengah. Ini kita lakukan dengan men-jamin kemudahan berbisnis, dengan
menganakemaskan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah kita, dengan membangun
infrastruktur serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang memadai, dan upaya
lainnya. Indonesia kini mempunyai kelas menengah yang terbesar di Asia Tenggara.
Menurut satu sumber, jumlah kelas menengah di Indonesia bertambah sekitar 8 juta
orang per tahun. Kita harus terus menjaga momentum positif ini karena secara global,
revolusi besar yang akan kita saksikan di abad ke-21 adalah revolusi transformatif dan
kreatif yang akan dimotori oleh kelas menengah.
Dengan segala capaian dan kekurangan kita, pertemuan World Economic Forum di
Filipina tahun ini secara terbuka menyatakan bahwa Indonesia beruntung dapat
mengalami golden decade — dekade emas selama 10 tahun terakhir ini. Ini bukan
basa-basi : ini adalah penilaian obyektif dari suatu badan internasional yang inde-
penden dan prestisius. Dalam dunia serba labil yang penuh dengan gejolak, Indonesia
bersyukur dapat menikmati stabilitas politik, perdamaian, pertumbuhan ekonomi dan
kerukunan sosial. Hal ini telah dicatat dan diapresiasi oleh masyarakat dunia, sehingga
me-ningkatkan modal politik Indonesia dalam percaturan internasional.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Segala upaya kita untuk menjaga persatuan dan kemakmuran Indonesia akan sangat
terbantu apabila situasi internasional juga kondusif terhadap kepentingan kita.
Indonesia telah dan akan terus berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri bebas
aktif, seraya terus memperjuangkan terwujudnya keadilan dan perdamaian dunia.
Alhamdulillah, sejak era reformasi, reposisi Indonesia di dunia internasional terus
berlang-sung. Indonesia telah menjadi kekuatan regional dan sekaligus pe-main global
yang disegani.
Di abad ke-21, Indonesia terus membuka dan memperluas ruang gerak diplomasi
dengan siapapun sepanjang mendukung kepentingan nasional kita apa yang
dinamakan politik luar negeri ke segala arah (all directions foreign policy) dan sejuta
kawan, tanpa satupun lawan (a million friends and zero enemy). Dalam kaitan ini,
Indonesia telah membangun kemitraan strategis dengan seluruh negara-negara besar
dan sebagian besar emerging powers dunia. Kita juga terus mengupayakan
keseimbangan yang dinamis dynamic equilibrium — di kawasan, sehingga pergeseran
geopolitik yang kini sedang terjadi tidak mengakibatkan ketegangan atau konflik baru.
16

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Yang jelas, situasi internasional yang kita hadapi semakin sarat dengan tantangan. Kita
prihatin bahwa hubungan antar negara-negara besar yang beberapa tahun belakangan
ini berada dalam kondisi stabil dan kooperatif, kini mulai mengarah pada ketegangan
baru. Konflik Ukraina berpotensi mengakibatkan ketegangan stra-tegis yang
berkelanjutan di Eropa, dan bahkan telah ikut merenggut ratusan korban tidak berdosa,
termasuk 14 korban warga negara Indonesia dalam insiden jatuhnya pesawat MH-17.
Situasi keaman-an dan politik di Timur Tengah semakin tidak menentu arahnya. Tragedi
kemanusiaan di Gaza Palestina masih berlangsung. Dan virus Ebola, kini menjadi
ancaman bagi negara manapun mengingat jenisnya yang mematikan.
Bangsa Indonesia harus cerdas mengantisipasi dan menyikapi berbagai perkembangan
internasional dewasa ini dengan tetap ber-pegang teguh pada kepentingan nasional. Di
lingkungan terdekat di Asia Tenggara, Indonesia senantiasa berkontribusi pada
penguatan ASEAN bagi terciptanya suatu kawas-an yang damai dan sejahtera. Selama
lima tahun terakhir ini, terma-suk saat menjadi Ketua ASEAN sepanjang tahun 2011,
Indonesia terus mendorong sentralitas ASEAN dalam percaturan kawasan dan
peningkatan peran ASEAN dalam menghadapi permasalahan global.
Indonesia terus berkomitmen untuk memastikan kesiapan diri kita sendiri menuju
pembentukan Komunitas ASEAN 2015 di ketiga pilarbaik dalam pilar politik dan
keamanan, ekonomi, maupun so-sial-budaya. Mengingat semakin dekatnya
pembentukan Komunitas ASEAN 2015 yakni 31 Desember 2015, kita harus semakin giat
me-nyosialisasikannya kepada seluruh rakyat Indonesia, apakah pengu-saha, buruh,
pemerintah daerah, mahasiswa, masyarakat madani, ataupun seniman, agar mereka
dapat memahami segala peluang dan tantangan yang ada, dan dapat meraih sebanyak
mungkin manfaat dari komunitas bersama 600 juta jiwa ini.
Dalam 10 tahun terakhir, saya terus melaksanakan diplomasi bebas aktif Indonesia agar
selalu berorientasi pada peluang, selalu memberikan nilai tambah bagi kepentingan
nasional, dan selalu berikhtiar untuk selalu menjadi bagian dari solusi permasalahan
dunia. Dalam konflik di Laut Tiongkok Selatan, Indonesia melalui forum ASEAN dan
melalui konsultasi langsung dengan negara ter-kait, terus mendorong penyelesaian
secara damai melalui imple-mentasi Declaration on the Conduct serta penyelesaian
Code of Conduct di Laut Tiongkok Selatan. Artinya, kita ikut mendorong penyelesaian
persengketaan di wilayah itu secara damai.
Di Pasifik Barat Daya, kita telah meningkatkan hubungan per-sahabatan dengan
negara-negara pulau di Pasifik, dengan kerangka kebijakan look east diplomacy. Saya
17

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

senang melihat hubungan Indonesia dengan negara-negara yang tergabung dalam
Melanesian Spearhead Group (MSG), Pacific Island Forum, serta Pacific Island
Development Forum yang mengalami peningkatan yang signifikan.
Di kawasan Asia, Indonesia terus mendorong Indo-Pacific Treaty for Friendship and
Cooperationatau Traktat Indo-Pasifik untuk Persahabatan dan Kerja sama. Gagasan ini
dimaksudkan untuk menjamin hubungan perdamaian yang lebih stabil dan damai di
kawasan, berdasarkan norma-norma bersama — sebagaimana telah diberlakukan
selama ini di kawasan Asia Tenggara melalui Treaty of Amity and Cooperation.
Di Timur tengah, dalam kasus konflik Suriah, Indonesia mendorong negara-negara
Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB untuk lebih berperan aktif dalam rangka
penyelesaian krisis. Saya juga telah berbicara dengan banyak tokoh dunia yang
memiliki pengaruh besar bagi penyelesaian konflik Suriah.
Khusus mengenai Palestina, bersama masyarakat internasional lainnya, Indonesia aktif
memperjuangkan hak-hak sah bangsa Palestina untuk mendirikan negara yang
merdeka dan berdaulat. Kita juga berada di barisan depan dalam memperjuangkan
peningkatan status Palestina sebagai anggota penuh PBB dan aktif membantu
peningkatan kapasitas menuju negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Beberapa
waktu lalu, saya mengirimkan surat terbuka –open letter–kepada para pemimpin dunia
agar memiliki sikap dan kesadaran bersama untuk menghentikan aksi kekerasan yang
sungguh tidak proporsional dan tidak berperikemanusiaan oleh Israel atas penduduk
Gaza dewasa ini. Indonesia akan terus berjuang bagi kemerdekaan Palestina,
berdasarkan konsep dan solusi dua negara. Two State Solutions. Indonesia telah
menjadi salah satu penyumbang utama dalam misi-misi perdamaian PBB. Peran
Indonesia dalam perspektif ini semakin menguat dan terlihat tidak hanya dari sisi
jumlah, tetapi juga dari segi kualitas personel. Visi Indonesia dalam hal ini adalah
menjadikan Indonesia sebagai 10 besar negara penyumbang pasukan misi-misi
perdamaian PBB.
Indonesia juga telah memberikan kontribusi nyata terhadap agenda pembangunan
millennium pasca 2015, melalui peran kita sebagai salah satu Ketua Bersama dari Panel
Tingkat Tinggi PBB untuk Agenda Pembangunan Pasca 2015. Di samping itu, kita juga
aktif di berbagai forum multilateral yang berdampak pada kebijakan strategis nasional,
seperti forum APEC, WTO, G-20 dan lainnya. Pemerintah juga telah menyambut baik
proses Kongres Diaspora Indonesia di Jakarta tahun lalu, yang menjadi ajang bagi
komunitas besar diaspora yang berdarah dan berbudaya Indonesia untuk berkarya dan
18

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

bersinergi dengan tanah air. TKI merupakan bagian penting dari diaspora Indonesia,
dan perlindungan TKI sebagai pahlawan devisa merupakan prioritas dalam diplomasi
Indonesia.
Warga negara Indonesia di luar negeri tidak saja dipengaruhi oleh kerentanan kondisi
kerja, namun juga oleh instabilitas politik dan bencana alam. Pada tahun 2013, tidak
kurang dari 40.000 WNI di luar negeri telah diselamatkan kembali ke tanah air dari
berbagai situasi yang mengancam keselamatannya. Di samping itu, melalui upaya
hukum, selama 3 tahun terakhir kita telah menyelamatkan setidaknya 190 orang yang
terancam hukuman mati. Perlu saya tegaskan disini bahwa perlindungan WNI
khususnya TKI di luar negeri dilaksanakan tidak saja melalui pendampingan hukum,
tetapi juga dilakukan sampai pada tingkat tertinggi. Sebagai misal, saya telah beberapa
kali melayangkan surat pribadi selaku Presiden RI kepada beberapa kepala negara dan
pemerintahan untuk pembebasan, pengurangan atau penundaan hukuman mati bagi
WNI. Pendek kata, diplomasi bebas aktif akan selalu mengabdi pada kepentingan
nasional, akan selalu berupaya memajukan perdamaian dan kerja sama internasional,
dan akan selalu berjuang melindungi warga kita di luar negeri.
Saudara-saudara,
Untuk melindungi tanah air, disamping melalui diplomasi, kita juga terus meningkatkan
pertahanan Indonesia. Memasuki awal 2000, kekuatan pertahanan didominasi oleh
alutsista yang berumur tua dan daya gentarnyapun telah menurun jauh. Sementara itu,
ke depan, di samping kita harus senantiasa menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah
NKRI, kita juga menghadapi berbagai ancaman keamanan non-tradisional misalnya
bencana alam, bajak laut, terorisme, kejahatan transnasional, serangan cyber,
penyelundupan manusia, dan lain sebagainya. Karena itulah, kita melakukan pening-
katan dan modernisasi kekuatan pertahanan kita melalui program pembangunan
Kekuatan Dasar yang Diperlukan (the minimum essential force), dengan
mengedepankan keterpaduan tiga matra, yaitu darat, laut dan udara.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Hari ini, saya berdiri di mimbar yang mulia ini dengan seribu perasaan yang sulit saya
lukiskan. Sudah dapat dipastikan, inilah terakhir kalinya saya berpidato di tempat yang
terhormat ini sebagai Presiden Republik Indonesia. Walaupun ini adalah pidato yang ke-
10, perasaan saya sebenarnya sama dengan sewaktu pertama kali berdiri disini tahun
19

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

2005 : penuh semangat dan tekad, untuk berbuat yang terbaik dan memberikan
segalanya kepada bangsa dan negara.
Dalam 10 tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga
untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami,
tidak pernah ada satu menitpun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia.
Dan tidak pernah satu menitpun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan
dan amanah rakyat kepada saya sebagai Presiden. Tanggung jawab saya pada akhirnya
bukanlah kepada partai politik, bukanlah kepada parlemen atau pemerintah atau suatu
kelompok, namun kepada Republik, kepada rakyat Indonesia yang telah memberikan
kepercayaan kepada saya, kepada sejarah, dan tentu-nya kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa.
Dalam kesempatan yang baik ini, ada beberapa refleksi pribadi yang ingin saya
sampaikan ke hadapan sidang yang mulia ini, dan juga kepada rakyat Indonesia.
Pertama, jangan pernah lupa bahwa yang paling penting kita bangun adalah sistem
sistem demokrasi, sistem politik, dan sistem ekonomi. Demokrasi kita tidak boleh
bergantung pada figur seseorang, namun harus bergantung pada lembaga, pada
peraturan, pada hukum dan norma. Sejarah mengajarkan kita, selama sistem itu kuat,
maka negara akan kuat, rakyat juga kuat. Tetapi, jika sistem itu lemah dan keropos,
demokrasi kita akan kembali labil dan mengalami kemunduran.
Kedua, kita harus menjaga ke-Indonesia-an kita. Perjuangan kita di abad ke-21 tidak
lagi menjaga kemerdekaan, namun menjaga ke-Indonesia-an. Tidak ada gunanya kita
menjadi semakin makmur dan modern, namun kehilangan yang amat fundamendal dan
terbaik dari bangsa kita: Pancasila, ke-Bhinnekaan, semangat persatuan, toleransi,
kesantunan, pluralisme, dan kemanusiaan. Jika para pendiri bangsa dulu
mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan, bagi generasi kita kini
ke-Indonesia-anlah yang harus kita pertahankan mati-matian. Karena itu pulalah,
Pemerintah dengan tegas menolak penyebaran paham sesat ISIS di tanah air karena
sangat bertentangan dan bahkan berbahaya bagi jati diri kita. Para pemimpin di
seluruh tanah air, saya minta untuk tegas mengambil sikap mengenai tantangan ini. Ini
adalah ujian bagi kebangsaan kita, ke-Indonesia-an kita. Indonesia adalah negara
berketuhanan, bukan negara agama.
Ketiga, kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mencegah agar jangan sampai
demokrasi kita menjadi elitis. Reformasi dimulai sebagai gerakan akar rumput, sebagai
ekspresi aspirasi rak-yat, yang kemudian dijelmakan dalam sistem politik yang sekarang
20

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

kita anut. Alangkah malangnya kalau demokrasi tersebut akhirnya kehilangan jiwa
kerakyatannya, dan kemudian panggung politik hanya didominasi oleh segelintir elit
yang berjiwa transaksional, apalagi bila dicampur dengan nasionalisme yang sempit.
Kalau itu terjadi, maka malapetaka akan kembali menimpa Negara yang kita cintai ini.
Kita harus terus menjaga agar gravitasi demokrasi Indonesia terus berkisar pada
rakyat.
Dan yang keempat, atau yang terakhir, mari kita jaga momentum bangsa yang positif
dan prospektif ini, yang dengan susah payah kita peroleh. Setelah 69 tahun merdeka,
Indonesia telah tam-pil menjadi demokrasi yang besar, ekonomi yang kuat, dan pemain
internasional yang disegani, serta dengan masa depan yang menja-njikan. Dunia
melihat Indonesia bukan saja sebagai kawan, namun sering pula sebagai rujukan yang
positif. Terlepas dari segala permasalahan dalam negeri yang masih kita hadapi, kita
bisa membuktikan kepada dunia bahwa di bumi Indonesia, demokrasi, Islam dan
modernitas dapat tumbuh bersama; kita bisa menunjuk-kan bahwa konflik dapat
diselesaikan secara damai dan demokratis; kita bisa bangkit dari berbagai krisis yang
beruntun menerpa kita; dan kita bisa memperlihatkan bahwa bangsa yang majemuk
seperti kita juga dapat menjadi bangsa yang rukun.
Ini bukan capaian pribadi saya, bukan pula capaian Pemerintah semata: ini adalah
prestasi sejarah bangsa Indonesia. Kita semua wajib menjaga momentum bangsa yang
baik ini, dan bahkan meningkatkannya. Jangan lupa, dunia penuh dengan contoh
bangsa yang sedang naik daun kemudian tersandung dan jatuh seketika. Jangan
sampai hal itu terjadi pada bangsa kita.
Saudara-saudara,
Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk menjadi Presi-den Indonesia. Saya
adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara,
menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. Menjadi
Presiden dalam landskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri,
dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada
habisnya. Tentunya dalam 10 tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan,
dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas
segala kekurangan dan kekhilafan itu. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik,
tetaplah saya manusia biasa.
21

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Dalam Rangka Hut
Ke-69 Kemerdekaan RI Di Hadapan Sidang Bersama DPR Dan DPD
Dipersembahkan oleh www.wilayahperbatasan.com

Di mimbar yang mulia ini, saya, Susilo Bambang Yudhoyono, juga berjanji untuk
membantu siapapun yang akan menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 2014
2019, jika hal itu dikehendaki. Ini adalah kewajiban moral saya sebagai mantan
Presiden nantinya, dan sebagai warga negara yang ingin terus berbakti kepada
negaranya. Melalui mimbar ini pula, saya mengucapkan selamat kepada Presiden
terpilih yang nanti akan disahkan oleh Mahkamah Konstitusi. Tahun depan, Presiden
kita yang baru akan memberikan pidato kenegaraannya di mimbar ini. Saya mengajak
segenap bangsa Indo-nesia, marilah kita bersama-sama mendengarkannya, dan
mendu-kung beliau untuk kebaikan dan kemajuan negeri ini.
Saya juga mempunyai mimpi dan harapan yang indah, yaitu terbangunnya budaya
politik yang luhur dimana para pemimpin Indonesia saling bahu membahu, saling
membantu, dan saling mengingatkan demi masa depan Indonesia. Saya yakin itulah
yang didambakan oleh rakyat Indonesia, dan itulah yang harus kita berikan dengan
ikhlas kepada mereka.
Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota DPR RI dan DPD RI yang saya
hormati. Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Akhirnya, saya atas nama pribadi dan keluarga menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan yang tulus kepada jajaran pemerintahan dan seluruh rakyat Indonesia
atas dukungan dan partisipasi saudara-saudara, dalam mewujudkan agenda-agenda
pembangunan dalam sepuluh tahun terakhir ini. Secara khusus kepada saudara-saudara
yang mengabdi di daerah-daerah terpencil, pulau-pulau terdepan, pegunungan, dan
perbatasan negara, terima kasih atas pengabdian saudara-saudara yang melebihi
panggilan tugas.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, melimpahkan rahmat, karunia, dan ridho-
Nya kepada kita semua, dalam membangun bangsa dan negara kita, menjadi bangsa
yang besar, maju, adil, sejahtera, dan bermartabat. Dirgahayu Republik Indonesia!
Terima kasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 15 Agustus 2014
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROF. DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
22

Leave a Reply