09-Pidato : Pendidikan

Pelajaran
7
Pendidikan
Presiden Soekarno adalah salah satu orator terbaik di dunia.
Kesuksesannya dalam menggalang pejuang patut kita hargai. Hal
yang beliau tonjolkan dalam perjuangan adalah dengan berbahasa,
karena dengan bahasa beliau mampu membakar semangat para
pejuang. Ragam bahasa memegang peran penting dalam proses
komunikasi. Dalam kehidupan bermasyarakat, ragam sosial
memegang peranannya. Adapun dalam ragam ilmiah hal tersebut
sangat berguna untuk proses komunikasi yang komunikatif antara
penyaji dan penelaah ataupun pembaca.
Sumber: www.anri.go.id
Peta Konsep
Membaca
teks pidato
metode impromtu
terdiri atas
metode menghafal
metode naskah
metode ekspektoran
terdiri
Keterampilan
atas
Pidato tanpa
berbahasa
teks
ekspresi
terdiri atas
intonasi
Menggunakan
ragam bahasa
persetujuan
sesuai konteks
dan situasi
kelanjutan
Alokasi waktu untuk Pelajaran 7 ini adalah 11 jam pelajaran.
1 jam pelajaran = 45 menit
114
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program Bahasa
Membaca Teks Pidato
A

Pada pelajaran ini, Anda akan belajar membacakan teks pidato. Di Kelas X
dan XI, Anda telah mempelajari pidato. Dalam pidato, dikenal beberapa teknik
berpidato, yaitu metode impromtu, metode menghafal, metode naskah, dan
metode ekstemporan. Tujuannya, agar Anda terlatih berpidato dalam acara
apapun sebelum berpidato tanpa teks.
Pidato adalah salah satu sarana mengekspresikan sekaligus
menyampaikan informasi secara persuasif. Pidato dengan
metode impromtu dilakukan secara spontan. Artinya, pidato yang
disampaikan tanpa persiapan sama sekali. Orang yang mampu
melakukan pidato dengan teknik ini adalah mereka yang sudah
berpengalaman tampil berpidato. Pidato yang dilakukan dengan
membaca naskah biasanya dipergunakan untuk pidato yang bersifat
resmi. Ada pula metode pidato menghafal naskah. Pidato dengan
cara ini kurang komunikatif karena si pembicara terpaku pada teks/
naskah yang dihafalkan. Jenis pidato lainnya yaitu dengan metode
ekstemporan. Pada metode ini, si pembicara membuat persiapan
berupa catatan atau kerangka yang dikembangkan pada saat pidato
disampaikan.
Di samping itu, cobalah Anda perhatikan orang yang mendengarkan
pidato Anda. Acuhkan sejenak pandangan mata Anda kepada pendengar.
Dengan demikian, pendengar akan merasa dihargai dan seakan-
akan diajak terlibat dalam pembicaraan yang Anda sampaikan. Jika
pendengar setuju dengan hal yang disampaikan, biasanya merespons
dengan mengangguk-anggukkan kepala.
Bacalah teks pidato berikut.
Pidato Menteri Pendidikan Nasional
Peringatan Hari Pendidikan Nasional
2 Mei 2003.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
berakhir serta bergerak secara dinamis sejalan

Salam sejahtera untuk kita semua,
dengan perkembangan zaman.
Saduara-saudara sebangsa dan setanah air yang
Jauh sebelum Indonesia merdeka, para pejuang
saya cintai!
dan perintis kemerdekaan telah memulai meletakkan

Sejak kelahiran tokoh perintis pendidikan
dasar-dasar pendidikan nasional. Mengingat pen-
nasional kita Ki Hadjar Dewantara, tanggal 2 Mei
didikan nasional itu mempunyai peran strategis
ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional, maka
bagi terwujudnya masyarakat, bangsa dan negara
setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia, khususnya
yang berjiwa nasional. Karena dasar pembangunan
kalangan masyarakat pendidikan, memperingati
masyarakat yang nasional adalah pendidikan yang
Hari Pendidikan Nasional itu. Dan tema yang
nasional.
kita angkat adalah Dengan Semangat Hardiknas

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air
Kita Mantapkan Sistem Pendidikan Nasional dalam
yang saya cintai!
Rangka Membangun Manusia Indonesia yang

Selama 57 tahun lebih bangsa Indonesia
Berkualitas. Pembangunan pendidikan nasional
merdeka upaya untuk memperbarui sistem
pada hakikatnya merupakan proses yang tidak
pendidikan nasional terus dilakukan agar mampu
Aktualisasi Diri
115
menjawab berbagai perubahan, terutama per-
20002004, di bidang pendidikan, pemerintah telah
ubahan global internasional yang ditandai oleh
menempuh berbagai langkah strategis terutama
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
untuk mengembangkan suatu orientasi pendidikan
Pada era reformasi sekarang ini bangsa Indonesia
yang berbasis masyarakat luas (Broad Base Education)
dihadapkan kepada tiga tuntutan mendasar di
dengan penekanan pada kecakapan/kesiapan untuk
bidang sistem pendidikan nasional. Pertama,
hidup (life skills). Orientasi ini sangat penting dan
memperkuat hasil-hasil yang telah dicapai selama
mendesak, mengingat 70% lebih peserta didik kita
57 tahun lebih merdeka; kedua, mengantisipasi era
memerlukannya, terutama bagi mereka yang tidak
global pendidikan; ketiga, mewujudkan otonomi
melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dan yang
dan demokratisasi serta partisipasi maupun
putus sekolah.
tuntutan masyarakat dan peserta didik.

Khusus tentang sistem pendidikan nasional
itu sendiri, juga diperlukan pembenahan lebih
mendasar. Oleh karena itu, pembahasan Rancangan
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
yang kini ditangani oleh Panitia Kerja DPR dan
pemerintah merupakan bagian penting untuk
mewujudkan sistem pendidikan nasional yang
kokoh bagi kepentingan masa depan bangsa dan
negara. Hal ini sejalan dengan semangat dan cita-
cita reformasi sebagaimana yang diamanatkan
dalam amandemen Undang-Undang Dasar 1945.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air
yang saya cintai!

Proses penyusunan Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional memang bersifat terbuka.
Artinya, dapat mewadai seluruh aspirasi yang
tumbuh dan berkembang di masyarakat yang sangat
majemuk ini. Mengingat pendidikan mempunyai
peranan penting untuk membentuk akhlak serta
budi pekerti mulia dan dalam mencerdaskan
bangsa serta untuk menanamkan ideologi dalam
proses integrasi nasional, maka seluruh isi, jiwa
serta semangat Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional yang akan datang harus mampu membingkai
peranan tersebut. Dengan demikian perbedaan-
Sumber: www.tokohIndonesia.com
perbedaan yang ada dan muncul di tengah-tengah
pembahasan Rancangan Undang-undang Sistem

Menyadari hal itu, yang sekaligus sebagai wujud
Pendidikan Nasional sekarang ini hendaknya tidak
pelaksanaan Undang-undang Nomor 25 Tahun
disertai sikap apriori serta berkepanjangan, tetapi
2000 tentang Program Pembangunan Nasional
justru dalam semangat .

Sumber: www.cybereduindosat.com
Uji Materi
1. Bacakanlah naskah pidato tersebut secara bergantian dengan
intonasi yang tepat.
2. Berikan penilaian dan tanggapan terhadap pembacaan yang
dilakukan teman Anda dengan menggunakan format penilaian
berikut.
3. Perbaikilah kekurangan dalam isi laporan tersebut berdasarkan
tanggapan yang Anda berikan.
116
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program Bahasa
Nama: ….
Tabel 7. 1
Format Penilaian Teks Pidato
No.
Aspek yang Dinilai
Nilai/Skor
1.
Penguasaan materi
2.
Intonasi
3.
Ekspresi (gerak-gerik)
4.
Kejelasan lafal
5.
Sikap beridiri
Jumlah total nilai
Keterangan: rentang skor antara 020 untuk setiap aspek.
Kegiatan Lanjutan
Buatlah sebuah naskah pidato dengan tema lingkungan dengan memperhati-
kan kata-kata kunci. Kemudian, bacakan hasilnya dengan memperhatikan intonasi,
lafal, dan ekspresi yang tepat.
Info Bahasa
Sejarah Retorika

Sejarah perkembangan retorika sangatlah penjang, bahkan
sepanjang kehidupan manusia dari zaman dahulu hingga
zaman sekarang. Pada awalnya, yang berhak menyusun dan
menyampaikan pidato adalah orang yang memiliki status tinggi.
Pidato biasanya disampaikan pada acara-acara tertentu seperti
upacara kematian, kelahiran, dan perkawinan.

Dalam sejarah, tokoh pidato bernama Corax meletakkan
dasar-dasar organisasi pesan. Kemudian, ia membagi pidato
menjadi lima bagian yaitu, pembukaan, uraian, argumen,
penjelasan, dan kesimpulan. Dunia retorika terbagi dalam
tiga peradaban utama, yaitu retrotika zaman Romawi, retorika
abad pertengahan, dan retorika modern yang sekarang kita
aplikasi dan implementasikan.
Aktualisasi Diri
117
B Pidato Tanpa Teks

Pada pelajaran yang lalu, Anda telah belajar membacakan teks
pidato dengan memerhatikan lafal, intonasi, dan eksprsei yang tepat.
Dalam pelajaran ini, Anda akan kembali belajar berpidato. Namun,
pidato yang akan disampaikan adalah pidato tanpa teks. Anda harus
memerhatikan intonasi suara saat menyampaikan pidato

Dalam pembelajaran 6A, Anda telah belajar membaca pidato.
Sekarang, Anda akan belajar menyampaikannya tanpa teks. Dalam
teknik berpidato, dikenal metode menghafal teks dan metode
impromtu. Bagi pemula yang ingin belajar berpidato tanpa teks,
sebaiknya metode yang digunakan adalah menghafal teks pidato
terlebih dahulu. Akan tetapi, jika telah berpengalaman, Anda dapat
berpidato dengan metode impromtu atau metode ekstemporan.

Selain pelafalan, intonasi, dan ekspresi yang tepat, Anda juga
harus memerhatikan sikap atau gaya Anda dalam berpidato. Usahakan
sikap yang ditampilkan wajar dan sesuai dengan situasi pidato.
Jika tampil dalam acara resmi, Anda harus menggunakan pakaian
yang rapi dan sopan. Berusahalah untuk tidak terlalu menggurui
pendengar. Lihatlah situasi pendengar pada saat menyampaikan
pidato.

Di samping itu, perhatikan pula penggunaan bahasanya. Sampai-
kanlah materi pidato dengan bahasa yang efektif dan komunikatif.
Agar Anda tampil percaya diri, berlatihlah sebelumnya.

Sebagai bahan berlatih, hafalkan teks pidato berikut. Setelah
itu, berpidatolah di depan kelas.
Salam sejahtera,
akademik dan nonakademik. Program unggulan

Terlebih dahulu, saya mengucapkan terima
tersebut merupakan wadah bagi para siswa untuk
kasih kepada pembawa acara yang telah memberikan
melatih dan mengembangkan minat, bakat, potensi,
kesempatan kepada saya untuk berpidato.
serta kompetensi yang sesuai dengan keinginan
Hadirin yang saya hormati.
para siswa. Setiap program unggulan dibina oleh

Seperti yang kita ketahui, bahwa kurikulum
seorang pembina dan pelatih.
yang berlaku sekarang ini menuntut para siswa
Para pelatihnya kami ambil dari para praktisi di
untuk dapat mengembangkan berbagai kom-
bidangnya masing-masing.
petensi yang dimilikinya. Hal ini bertujuan agar
Hadirin yang saya hormati.
para siswa nantinya memiliki berbagai kecakapan

Hasil binaan para pembina dan pelatih tersebut
hidup yang benar-benar bermanfaat bagi hidup dan
tentu saja harus dievaluasi. Apakah hasilnya sudah
kehidupannya.
memenuhi tuntutan kurikulum atau belum. Salah
Hadirin yang saya hormati,
satu cara untuk mengevaluasinya adalah dengan

Di sekolah ini, kami selalu berusaha semak-
diselenggarakannya festival kreasi siswa ini. Dengan
simal mungkin untuk dapat melaksanakan amanat
dilaksanakannya festival ini, evaluasi dapat dilakukan
kurikulum tersebut. Salah satu cara yang kami
oleh berbagai pihak, baik oleh pihak sekolah,
laksanakan adalah menyelenggarakan program ung-
orangtua maupun masyarakat secara umum. Kami
gulan. Program ini terdiri atas program unggulan
melaksanakan festival ini terbuka untuk umum.
118
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program Bahasa

Tujuannya agar masyarakat mengetahui potensi
kegiatan ini. Saya yakin, kegiatan ini akan menjadi
dan kompetensi yang dimiliki para siswa.
ajang persaingan siswa yang sehat. Tidak lupa kami

Melalui festival ini, para siswa dapat berunjuk
mengucapkan terima kasih kepada para sponsor
gigi dan bersaing secara sehat untuk memperlihat-
yang telah ikut serta mendanai kegiatan ini. Dengan
kan dan menampilkan kecakapan yang dimilikinya
dukungan seperti ini, insya Allah kualitas pendidikan
kepada masyarakat. Oleh karena itu saya menyambut
di sekolah ini akan semakin meningkat. Kepada para
dengan antusias acara festival ini. Saya berharap
siswa, saya ucapkan selamat berkarya dan semoga
agar kegiatan ini dapat terus dilaksanakan dengan
segalanya menjadi bekal hidup kalian.
kualitas dan kuantitas yang semakin tinggi.

Demikianlah uraian yang dapat saya sampaikan.
Hadirin yang saya hormati.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Terakhir saya mengajak kepada semua pihak
Terima kasih.
agar dapat membantu, mendorong, dan memotivasi
Uji Materi
1. Pada saat teman Anda berpidato, berilah penilaian dan catatlah
kekurangannya yang perlu diperbaiki. Untuk memudahkan
Anda, gunakanlah format penilaian berikut.
Tabel 7. 2
Format Penilaian Pidato Tanpa Teks
Aspek yang Dinilai
No.
Nama
volume
Keterangan
intonasi
lafal
ekspresi
sikap
suara
Keterangan skor:
sangat baik
: 80100
baik
: 7079
kurang
: 6069
sangat kurang
: 5059
2. Sampaikanlah hasil penilaian tersebut kepada teman Anda
sebagai bahan evaluasi.
Kegiatan Lanjutan
1. Buatlah sebuah teks pidato dengan tema pendidikan. Kemudian, pahami
dan hafalkan.
2. Sampaikan pidato tersebut di depan teman-teman Anda dengan
memperhatikan intonasi, lafal, ekspresi, dan sikap yang tepat.
3. Berikan penilaian terhadap pidato teman Anda dengan format penilaian
berikut.
Aktualisasi Diri
119
Tabel 7. 3
Format Penilaian Pidato
No.
Aspek yang disukai
Bagus
Kurang
Saran
1.
ketepatan tema
2.
kesesuaian tujuan
3.
keruntutan isi pidato
4.
lafal
5.
intonasi
6.
nada
7.
sikap berdiri
8.
pandangan mata
4. Perbaikilah kekurangan pidato Anda berdasarkan masukan dari teman
Anda.
Kaidah Berbahasa
Pembentukan Kata
Pembentukan sebuah kata dapat diambil dari dua sumber
yaitu sumber dari dalam bahasa Indonesia dan dari luar bahasa
Indonesia. Kata baru yang bersumber dari bahasa Indonseia
bersumber dari kata yang sudah ada, seperti gabungan kata
berikut.
daya
serba
lepas
dayatahan
serbaguna
lepastangan
dayatarik
serbatahu
lepaspantai
dayaserap
serbaplastik lepaslandas

Pembentukan kata bahasa Idonesia yang berasal dari luar
bahasa Indonesia adalah seperti kata-kata serapan berikut.
valuta
mesjid
ekspor
bank
impor
ahad

Pengambilan kata asing tersebut disebabkan karena belum
ada penemuan penamaan secara resmi dari bahasa Indonesia.
120
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program Bahasa
C Mengenal Ragam Bahasa

Pada pembelajaran ini, Anda akan mempelajari berbagai ragam
bahasa dengan cara membedakan dan menggunakan ragam bahasa. Tujuan
pembelajaran ini agar, Anda mengenal berbagai ragam bahasa dan dapat
menggunakan ragam bahasa tersebut sesuai dengan konteks dan situasi.
Setiap orang memiliki gaya berbahasa masing-masing. Gaya
bahasa atau ragam bahasa dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti
usia, jenjang pendidikan, agama, dalam bidang wacananya. Ragam
bahasa terbagi atas ragam ilmiah dan ragam populer.
1. Ragam Ilmiah
Ragam ilmiah adalah ragam yang biasa digunakan dalam
kegiatan. Kegiatan ilmiah, misalnya kegiatan belajar-mengajar di
kelas, perkuliahan, diskusi, ceramah, seminar, dan tulisan-tulisan
ilmiah. Ragam bahasa ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah
ilmiah.
Sumber: www.perpus.yarsi.ac.id
2. Ragam Populer
Ragam ini biasa digunakan dalam kegiatan nonilmiah, seperti
Gambar 7.1
dalam pergaulan sehari-hari dan dalam tulisan-tulisan populer.
Perpustakaan adalah sarana yang
Ragam ini dapat dipahami oleh semua penutur suatu bahasa.
memuat ilmu dan ragam bahasa.
Berdasarkan media penyampaiannya, ragam bahasa dibedakan
menjadi beberapa jenis.
1. Ragam Lisan dan Ragam Tulis
Bahasa Indonesia yang amat luas wilayah pemakaiannya ini
dan bermacam-macam pula latar belakang penuturnya, mau tidak
mau akan melahirkan sejumlah ragam bahasa. Adanya bermacam-
macam ragam bahasa ini sesuai dengan fungsi, kedudukan, serta
lingkungan yang berbeda-beda. Ragam bahasa ini pada pokoknya
dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu ragam lisan dan tulis.
Kedua ragam ini berbeda. Perbedaannya adalah sebagai berikut:
a. Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman
berbicara yang berada di depan pembicara. Adapun ragam
tulis tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan
pembicara.
b. Di dalam ragam lisan, unsur-unsur fungsi gramatikalseperti
subjek, predikat, dan objektidak selalu dinyatakan. Unsur-
unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan
oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak mimik,
pandangan, anggukan, atau intonasi.

Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada
ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena
ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan
pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang
yang "diajak berbicara" mengerti isi tulisan itu. Contoh ragam
tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majalah, dan surat kabar.
Aktualisasi Diri
121
c. Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan
waktu. Adapun ragam tulis tidak terikat oleh situasi, kondisi,
ruang, dan waktu.

Kalau kita tidak berada dalam suasana itu, jelas kita tidak
mengerti hal yang diperbincangkannya itu.
d. Ragam lisan dipengaruhi oleh intonasi, tekanan, nada, irama,
dan jeda, sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca,
huruf besar, dan huruf miring.
2. Ragam Baku dan Ragam Tidak Baku
Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas
ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam yang
dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat
pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan
norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam
yang tidak dilembagakan dan ditandai ciri-ciri yang menyimpang
dari norma ragam baku.
3. Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Dalam kehidupan berbahasa, kita sudah mengenal ragam lisan
dan ragam tulis, ragam baku dan ragam tidak baku. Oleh karena itu,
muncul ragam baku tulis dan ragam baku lisan. Ragam baku tulis
adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran
atau buku-buku ilmiah lainnya.
Adapun ukuran dan nilai ragam baku lisan bergantung pada besar
atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang
dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya
tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.
4. Ragam Sosial
Ragam sosial merupakan ragam bahasa yang sebagian norma dan
kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan
sosial yang lebih kecil dalam masyarakat.
a. Idiolek, yaitu ragam bahasa yang dimiliki oleh seseorang.
Ragam atau gaya bahasa ini biasanya melekat pada tindak
bahasa seseorang yang tidak disadarinya. Misalnya, gaya
bahasa Taufik Ismail akan berbeda dengan W.S. Rendra, baik
dalam gaya penuturan maupun gaya penulisan.
b. Dialek, yaitu ragam bahasa yang digunakan oleh orang di
daerah tertentu atau oleh sekelompok orang. Misalnya, dialek
orang Jawa berbeda dengan dialek orang Madura.
c. Sosiolek, ragam bahasa yang digunakan oleh kelompok
anggota masyarakat dari golongan sosial tertentu. Ragam ini
ditandai dengan status sosial. Misalnya, ragam bahasa orang
berpendidikan tinggi berbeda dengan ragam bahasa orang yang
berpendidikan rendah.
Perhatikan contoh berikut.
Contoh 1
Bapak Kepala Sekolah dan Bapak-Ibu Guru yang saya hormati,
serta teman-teman yang saya banggakan, selamat siang.
Tadi pagi ketika panitia pemilihan pengurus OSIS melak-
sanakan penghitungan suara, saya sempat berdebar-debar.
Mengapa? Perolehan suara masing-masing calon berimbang, kejar-
122
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program Bahasa
mengejar. Suatu saat saya tertinggal dan saat yang lain saya unggul.
Demikian terus-menerus. Alhamdulillah, ketika penghitungan
suara dinyatakan selesai, saya memperoleh suara paling banyak.
Saya sangat bersyukur memperoleh kesempatan belajar menjadi
pemimpin. Apalagi, menjadi ketua umum OSIS sekolah yang kita
banggakan ini.
Selanjutnya, saya sangat berterima kasih kepada teman-teman
yang telah mendukung saya dan secara nyata telah memilih saya.
Dukungan itu tentu merupakan wujud nyata adanya rasa percaya.
Tentu, saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu. Saya akan
berusaha sebaik-baiknya menjalankan tugas sebagai ketua umum
OSIS.
Contoh 2
Perkembangan riset dan teknologi membuat robot semakin
canggih saja. Dalam pertemuan American Association for the
Advancement of Science
, di Washington, Amerika Serikat, pekan lalu,
diperkenalkan robot yang berjalan dua kaki dengan kemampuan
menjaga keseimbangan.
Robot yang tingginya kurang dari setengah meter dengan bobot
2,8 kilogram ini menggunakan sistem teknologi yang disebut
passive-dynamic design, yang merupakan kombinasi gravitasi,
langkah, dan motor penggerak. Sebuah mesin bertenaga rendah
mengayunkan kaki dan tangan seperti mekanisme pendulum. Saat
kaki berayun, mesin akan mengontrol langkah dan beradaptasi
dengan lantai yang diinjak. Si pencipta, Andy Ruina dari Cornell
University, New York, mengatakan robot ini bisa berjalan di atas
permukaan yang tidak rata, naik, ataupun turun.
Konsep ini sebenarnya sudah digunakan sejak 100 tahun
yang lalu untuk mainan anak-anak. Ruina memperkirakan robot
ciptaannya ini bahkan hanya menggunakan sepersepuluh tenaga
dibandingkan dengan Asimo, robot produksi Honda Motor Co.,
atau QRIO produksi Sony, yang menempatkan motor penggerak
di bagian kaki, lutut, dan engkel sehingga membutuhan tenaga
yang besar.
Contoh 3
"Ane ada?" tanya suara dari seberang.
"O, ada. Sebentar saya panggilkan. Aneee!" pekik Yani, ”ada
telepon lagi buat kamu."
Ane yang kaget mendengar pekikan itu langsung menghambur
ke luar kamar.
"Dari cowok kamu?" goda Yani.
Tanpa bicara, Ane merebut pesawat itu dari tangan kakaknya.
"Ya, halo!" sahut Ane.
"Saya ingin bicara dengan Ane."
Aktualisasi Diri
123
"Ya, saya Ane," ucap Ane mantap.
"Lho, kok suaranya lain. Hai, jangan serobot nama orang dong.
Tolong panggilkan Ane. Ya, Ane! Cepat, saya mau bicara sama dia.
Penting sekali," Ane meringis mendengar ucapan lelaki itu.
"Ini dari siapa?" tanya Ane.
"Dari Rino."
"Rino? Rino siapa? Rhinoceros ya?"
"Ufs! Rino. Cuma Rino. Tidak pakai ceros."
Ane cekikian.
"Ada nggak itu si Ane?" tanya Rino lagi.
"Ane yang mana yang kamu maksudkan?"
"Lho, memang ada berapa Ane di rumah ini?" Rino terdengar
semakin penasaran.
"Cuma satu. Saya!" suara Ane semakin meninggi.
"Lho, kok suaranya lain. Hai, kamu jangan pura-pura jadi Ane,
ya. Kamu tidak bisa main tipu sama aku. Aku paham betul suara
Ane yang sesungguhnya."
Ane terdiam sesaat. Lalu, dibantingnya pesawat telepon itu.
Uji Materi
1. Termasuk ragam bahasa apa ketiga contoh tersebut?
2. Jelaskan ciri-ciri ragam bahasa dari ketiga contoh tersebut.
3. Uraikan konteks dan situasi yang terdapat dalam ketiga contoh
tersebut.
4. Tukarkan hasil pekerjaan Anda dengan teman sebangku untuk
dibahas bersama-sama.
Kegiatan Lanjutan
1. Carilah teks bacaan berupa berita, artikel, atau laporan yang bertema
pendidikan.
2. Analisislah penggunaan ragam bahasanya.
3. Buatlah laporan hasil analisis Anda.
124
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program Bahasa
Mengenal Ahli Bahasa

Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (alm.) dilahirkan pada tanggal 23
September 1933 di Linggajulu, Kabanjahe, Tanah Karo, Sumatra Utara.
Ayahnya bernama Rulo Tarigan dan ibunya bernama Kawali Beru
Surbakti. Henry Guntur Tarigan menikah dengan M. Intan Sisdewatu
Purba pada tanggal 14 Agustus 1957 di Berastagi, Sumatra Utara. Mereka
dikarunia enam orang anak, yaitu Eva Maria Roseti Tarigan, Fries Kahlo
Tarigan, John Gerhard Ganefo Tarigan, Elinor Marthliani Aksianita Tarigan,
Leidenart Macriz Tarigan, Frederik Hayakawa Tarigan.
Menyelesaikan pendidikan SD di Lingga pada 1948, SMP di Kaban-
jahe pada tahun 1951, SGA Negeri di Medan pada 1954; Sarjana Muda
pada Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan di Bandung pada tahun
1960; Sarjana Pendidikan pada FKIP Universitas Padjadjaran Bandung
pada tahun 1962; mengikuti Studi Pasca Sarjana Linguistik di Universitas
Leiden, Nederland pada tahun 1971-1973; meraih gelar doktor dalam bidang
Linguistik pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta pada tahun
1975 dengan disertasi yang berjudul Morfologi Bahasa Simalungun.
Menjadi guru pada SGB Negeri Seribudolok, Simalungun, Sumatra Utara
dari tahun 1954 sampai 1957. Pernah menjadi pengajar tetap pada FPBS-IKIP
Bandung, pada Fakultas Pasca Sarjana IKIP Bandung; pernah menjadi dosen
luar biasa dalam mata kuliah "Kemahiran Berbahasa Indonesia" di Fakultas
Sastra Universitas Leiden dan di Hendrik Kraemer Instituut Oegstgeest, Negeri
Belanda (19721973); dosen terbang/luar biasa di Universitas Palangkaraya,
Kalimantan Tengah; dosen luar biasa pada Universitas Katolik Parahyangan.
Berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia, Nomor 4/K Tahun 1985 tanggal
22 April 1985, dipercayakan memangku Jabatan Guru Besar pada FPBS-IKIP
Bandung, berlaku mulai 1 Oktober 1984.
Rangkuman
1. Teks pidato sangat berguna sebagai alat panduan/pembantu
kita dalam berpidato. Dalam berpidato berdasarkan teks, topik
akan jelas dan peruntunan masalah akan terperinci.
2. Setelah terampil dan terbiasa berpidato mengunggunakan teks,
Anda akan mahir dalam berpidato tanpa teks. Hal itu disebabkan
pengetahuan Anda yang bertambah setelah berlatih berpidato
dengan menggunakan teks.
3. Belajar ragam bahasa, baik ilmiah maupun sosial, sangat
membantu kita dalam berinteraksi dengan masyarakat sosial.
Setelah memahami berbagai jenis ragam bahasa, Anda akan
lebih teratur dan runtut dalam berbahasa.
Aktualisasi Diri
125
Refleksi Pembelajaran
Ragam bahasa memegang peranan penting dalam
berbagai proses berbahasa. Di situlah manfaat dari pelajaran
ini. Dengan menguasai berbagai ragam bahasa, Anda akan
mampu mengaplikasikannya dalam berbagai kehidupan
bermasyarakat. Anda pun bisa mengaplikasikannya dalam
kegiatan berpidato. Dengan penguasaan ragam bahasa,
kegiatan berpidato pun akan semakin sempurna.
Soal Pemahaman Pelajaran 7
Bacalah teks berikut.
Mandulnya Cita-Cita Pendidikan
Cita-cita pendidikan yang digagas para pelopor
berhubungan dengan pengetahuan, tetapi kering
pendidikan negeri ini belum sepenuhnya tercapai.
dalam olah rasa dengan orang lain. Padahal, ukuran
Pendidikan saat ini cenderung hanya memerhatikan
keberhasilan kerja dan juga hidup sangat ditentukan
intelektualitas belaka dan tidak memberikan kemer-
kemampuan hidup bersama dengan orang lain.
dekaan kepada anak didik. Pendidikan yang lebih
Celakanya, sekolah beranggapan bahwa bidang
menekankan aspek intelektual belaka memisahkan
itu adalah urusan keluarga, lembaga agama, dan
antara intelektual dan rakyatnya. Akibat yang lebih
masyarakat.
jauh, mereka tidak memiliki empati dengan rakyatnya.
Namun, jika dirunut ke belakang ketika orang tua
Intelektualisme dalam pendidikan juga menyebab-
‘memasrahkan’ anaknya seharian penuh ke sekolah,
kan pendewaan berlebih terhadap gelar. Dengan
itu merupakan bentuk kegagalan orang tua, lembaga
berbagai cara peserta didik mencari gelar karena di
agama, dan lingkungan masyarakat dalam mendidik.
dalamnya melekat simbol status sosial, kedudukan,
Mengapa orang tua sampai merasa perlu mengirimkan
harkat, dan martabat. Tragisnya, fase itu menempatkan
anaknya seharian di sekolah? Karena di masyarakat, di
penghargaan atas diri seseorang lebih didasarkan
keluarga, dan lingkungan anak mudah ‘diracuni’ nilai-
pada gelar yang disandang, jabatan yang mampu diraih,
nilai yang tidak mendidik.
dan bukan keunikan pribadi yang melekat pada diri
Di sekolah, orang tua mengharapkan anak selain
seseorang.
mendapat bekal pengetahuan yang menekankan
Pendidikan yang demikian menyebabkan peserta
aspek intelektual, juga pengolahan kepribadian, olah
didik berorientasi bagaimana mendapatkan nilai mata
rasa, budi pekerti dan hal-hal yang menekankan aspek
pelajaran setinggi mungkin. Namun, serapan yang
humaniora. Namun, tekanan bertubi-tubi terhadap
mengubah haluan hidup dan orientasi cenderung
sekolah yang menekankan aspek intelektual bahkan
terabaikan. Cita-cita seseorang yang sebenarnya sangat
perlu standardisasi yang berskala nasional membuat
unik dalam setiap pribadi manusia agaknya mampu
sekolah melupakan tugasnya dalam mendidik. Sekolah
diarahkan seperti sakelar dalam mesin yang sudah
bermetamorfosis sebagai pengajar yang mentransfer
disetel. Dengan demikian, warna yang akan muncul
ilmu bukan sebagai pendidik yang mengubah hidup
juga sudah mampu diprediksi.
dan kepribadian seseorang.
Itu sebabnya dalam dunia kerja sudah lama
mengeluhkan kuatnya penguasaan dalam bidang yang
Sumber: Media Indonesia, 25 Juli 2007
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Apa ragam bahasa yang terdapat dalam teks tersebut?
2. Uraikan konteks dan situasi yang terdapat dalam teks tersebut.
3. Tuliskan kata baku dan tidak baku yang terdapat dalam teks
tersebut.
126
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program Bahasa

Leave a Reply