Pidato Peringatan, 17 agustus

Pidato

Peringatan, 17 agustus

Asslamualaikum Wr. Wb

Yang terhormat kepada Ibu Guru yang sudah memberikan saya kesempata pada pagi harini. Dan terimakasih kepada teman -teman yang saya cintai.

Dengan mengucakan syukur alhamdulillah, mari kita sama -sama berterimakasih kepada tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kepada kita semia nikmat dan karunia Nya, sehingga detik ini kita masih diberi rahmat sehingga kita bisa berkumpul bersama sama dalam keadaan sehat.

Pada pagi harini saya akan sedikit menyampaikan peringatan 17 Agustus yang baru baru ini sudah kita lewati dengan penuh suka cita, tetapi dikarnakan peringatan kemerdekan Indonesia tahun ini bertepatan dengan bulan suci ramadhan maka peringan hari kemerdekaan Indonesia ini tidak begitu meriah dan menarik seperti tahun tahun sebelumnya, hal itu di sebabkan tidak adanya lomba2 yang memeriahkan peringatan kemerdekaan ini. Waloupun begitu masyarakat tetap antusias melaksanakannya upacara bendera sebagai peringatan 17 Aguustus sebab sebagian generasi penerus harus tetap mengisi kemerdekaan denga rasa tanggung jawab, generasi penerus di tuntut berjiwa besar, suci bersih dan bertekat membangkitkan diri kepada nusa dan bangsa, namun begitu juga dengan generasi tua harus di tuntut lebih konsekwen antara ucapan dan perbuatan sehingga dapat memberikan contoh yang baik bagi generasi penerus.

Demikian pidato saya yang dapat saya sampaikan mudah mudahan dapat berman fa’at bagi kita semua.

Wasalamu’alaiku Wr. Wb

Purwakarta, 28 Juli 2010

Hal: Lamaran Pekerjaan

lampiran: suatu Berkas

Yth, Pinpinan distributor Kosmetik

Po. Box 1069 Bandung 40010

Dengan Hormat

Berdasarkan iklan Harian Rakyat tanggal 17 Juli 2010 yang menyatakan bahwa intasi yang Bapak / Ibu pimpin membutuhkan tenaga STAF 6A / HRD

Dengan ini saya :

Nama: Venny Gina Yulita

Tempat Tanggal Lahir: Purwakarta 11 juli 1985

Pendidikan: S1

alamat: Perum Bukit Panorama Indah Blok B1 No. 2

Bermaksud mengisi lowongan tersebut sebagi bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan :

1. Daftar Riwayat Hidup

2. photo copy Ijazah Terakhir

3. Surat Panggilan Kerja

4. Surat Keterangan Kelakuan Baik

5. Dva Pas Photo 3 X 4 sebanyak 2 Lembar

Demikian surat lamaran dari saya. Harapan saya akan terkabulnya permohonan ini. Atas perhatian Bapak / Ibu saya ucapkan terimakasih

Hormat saya

Venny Gina Yulita

PUISI

KENANGAN TERINDAH KITA

Aku yang tak pernah mengharapkan cinta yang lain

Berharap cinta yang terjalin akan kekal abadi

Bersama kasih sayang yang ku punya

Hanya untuk kau yang ku cintai

Kau yang menjadi malaikat hidup ku

Yang selalu membuatku bahagia

Meski banyak dilema dalam hidupku

Kini semuanya ahanya kenangan

Meskipun pasit yang yang kurasakan saat ini

Tapi kau tetap yng terindah

Tetap bernaung kenangan aat bersamamu dalam benakku

Debu-debu Bangunan

Matahari sudah tidak lagi melukisi bayang pepohonan liar memanjang hingga di tengah jalan baypass yang sedang saya lewati menuju proyek. Jalan selebar 8 meter masih tanah merah dengan dua jejak roda-roda yang mengeras. Seringkali sepeda motor, sedan, mobil kapsul berplat merah hingga truk-truk besar berkecepatan lebih dari 60 km/jam lalu-lalang, membuyarkan debu-debu yang lantas membungkus saya dan motor saya. Apa boleh buat. Sebab lokasi proyek berada di pertengahan jalan tersebut yang berjarak kira-kira 3 km dari indekos saya.

Saya ingin segera tiba di proyek, meski motor bebek 2 tak keluaran tahun 1975 saya menggelinding tertatih-tatih. Saya khawatir beberapa tamu dari pemerintah daerah bahkan direktur saya mendadak muncul di lokasi untuk meninjau proyek yang saya awasi sejak empat bulan ini. Jangan sampai orang-orang penting itu datang lebih dulu, lantas melihat saya sedang tidak berada di tempat. Bisa berakibat jera mempercayakan saya sebagai pengawas di proyek berikutnya. Bisa-bisa mempengaruhi perjalanan karier saya di saat usia saya baru kepala dua.

Ini proyek uji coba pertama saya. Selama bekerja di konsultan bangunan itu, saya berurusan dengan administrasi, kurir dokumen perencanaan, dan menagih uang kontrak melulu. Karena kekurangan tenaga pengawas lapangan, akhirnya saya yang ditugaskan.

Setiba saya di jalan masuk proyek, tidak terlihat mobil siapa-siapa. Aman, pikir saya. Kecuali sepeda motor bebek 4 tak baru, entah milik siapa. Kemudian saya parkirkan motor di kolong direksi keet, berdekatan dengan tumpukan semen. Tempat paling teduh sebab pepohonan telah disingkirkan oleh buldoser sewaktu pembersihan lokasi proyek, kendati kalau ada pekerja mengambil semen maka motor saya jadi berbedak debu semen.

Di pinggir halaman bangunan yang permukaan tanahnya masih telanjang dan tidak rata tampak Mandor Suryadi tengah bicara dengan seorang pemuda berjaket kulit. Keduanya berdiri dengan sikap kaku. Siapa pula pemuda itu, pikir saya. Tas saya geletakkan begitu saja di atas jok motor, saya bergegas menuju mereka.

Dari jarak 10 meter terlihat air muka Mandor Suryadi tidak menyuguhkan senyum khasnya. Sementara lawan bicaranya menampilkan kening berkerut dan bibir berkerucut. Saya mempercepat langkah hingga setengah berlari. Matahari menjilati kepala dan jaket saya.
Ada apa, Bos? tanya saya setelah berjarak kira-kira dua meter dari keduanya.
Ini lho, Pak Oji. Mas ini minta aku tunjukkan gambar kerja. Padahal sudah aku bilang, gambar kerjanya dibawa bos pemborong tadi malam. Lagian bangunan kita ini kan tinggal dua puluh lima persen lagi rampung. Mas ini nggak percaya. Disangkanya aku bohong. Mau sumpah pocong, aku nggak takut! jawabnya sambil menoleh ke arah saya. Posisi badannya tetap menghadap pemuda itu. Kicauan burung-burung liar terdengar sayup-sayup.

Saya percaya Mandor Suryadi tidak bohong karena semalam Mandor Suryadi mengirim SMS ke saya. Isinya, mau pinjam gambar kerja yang ada di tempat saya untuk menempatkan setiap titik kuda-kuda. Soalnya tadi malam bos pemborong berencana datang, mengambil gambar kerja untuk menghitung jumlah kayu gording, kayu usuk, reng, dan genteng. Tapi hari ini saya lupa membawanya gara-gara tergesa-gesa datang setelah rampung mencuci sekeranjang pakaian saya sendiri.

Saya berhenti di antara keduanya. Saya menatap pemuda itu. Kebetulan dia sedang menatap saya. Nyala matanya belum reda. Bibirnya menyeringai.
Mas siapa dan dari mana?
Aku dari LSM. Abang siapa?
Aku pengawas pembangunan gedung ini.
Ooo gitu.
Ya begitu. Mas dari LSM mana?
Abang tahunya LSM mana saja?
Lho, Anda ini payah. Ditanya kok malah balik nanya.
Pokoknya aku mau lihat gambar kerjanya. Apakah terjadi penyimpangan atau tidak. Titik! tandasnya lantang sembari mengarahkan telunjuk ke tanah, dan melotot ke arah saya. Kuli-kuli yang sedang bekerja spontan berhenti. Mereka menoleh ke arah kami. Mata mereka mengarah ke kami satu persatu. Beberapa dari mereka segera bekerja lagi.
Misal penyimpangannya apa, Mas?
Misalnya bangunan mengalami retak-retak setelah beberapa bulan diresmikan. Padahal ini, kan, bangunan milik pemerintah daerah. Dananya dari duit rakyat. Itu pasti dampak penyimpangan ketika tahap pengerjaan.
Kenapa retak-retak? tanya saya lirih sambil memutar kepala dan menyodorkan telinga ke arahnya. Sedangkan kedua tangan saya berada dalam saku depan jaket.
Ya jelas akibat menyimpang!
Mas menguasai masalah mekanika bahan dan mekanika teknik, nggak?
Mmmm Mulutnya mengatup. Mata pun meredup. Dada mundur sepuluh derajat. Lhooo jangan cuma menjawab mmmm kayak anak kecil mogok makan begitu dong. Menguasai, nggak? Kalau menguasai, kan kebetulan. Barangkali saja ada kesalahan pemakaian jenis atau ukuran bahan untuk struktur bangunan dalam gambar kerja. Kan bisa saja justru gambarnya yang salah, karena arsitek perencanaan memang bukan ahli struktur.

Dia diam saja. Matanya mengarah ke mana-mana. Sikap kakinya sudah lentur bahkan bergerak-gerak tak menentu. Sikap berdiri Mandor Suryadi pun berubah. Kedua kakinya berposisi santai. Kedua tangannya bertekuk di dada. Air mukanya pun tidak tegang lagi.
Kalau nggak menguasai, mending belajar berhitung dulu. Buka buku-buku teknik sipil, dan mulailah menghitung struktur. Kalau sudah yakin bisa, kembalilah ke sini. Pembicaraan kita pasti bakal bermutu. Di kantor kami banyak insinyur sipil. Mau belajar di sana, silakan. Baru kelak Mas datang ke sini lagi.
Pokoknya Nadanya menanjak.
Ya pokoknya Anda harus nguasai itung-itungan dulu, serobot saya dengan nada datar dan mengganti sebutan namanya. Nggak usah pakai mas-masan lagi, pikir saya.
Dadanya bergerak. Mulutnya menganga. Tapi kata-katanya tersangkut di leher.
Oh ya, Anda dulu kuliah di jurusan apa? Sarjana apa?
Komunikasi. Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Oooo cocok sekali Anda bekerja di LSM. Tapi di sini Anda salah jurusan. Coba dulu Anda kuliah di jurusan teknik sipil, kita bisa berdiskusi di sini. Saling belajar.
Emangnya Abang dulu kuliah jurusan apa?
Seni Tari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Lho?
Hehehehe Logikanya dipakai dong, Bung, kata saya sambil tangan kanan menunjuk-nunjukkan pelipis saya sendiri. Mandor Suryadi tersenyum simpul.
Sialan.
Kali ini dia bisa tersenyum. Matahari kian membara di atas kami.

Sudahlah. Mending Anda pulang dulu.
Okelah, Bang. Tapi aku mau ngambil beberapa foto dulu, ya?
O, silakan. Asal jangan ngambil sisa genteng atau semen di gudang sana.
Dia menanggapi dengan senyum lebar seraya merogoh saku jaketnya. Sebuah kamera keluar tapi seutas pita tersangkut di situ. Ada nama sebuah koran lokal.
Sialan! Anda rupanya wartawan ya!
Hehehehe iya, Bang, jawabnya dengan cengar-cengir seperti maling kepergok sedang mengangkuti jemuran orang, lantas mengeluarkan kartu persnya.
Sialan. Mau main tipu-tipuan rupanya. Baru jumpa pertama sudah main tipu.
Sorry, Bang.
Sorry, sorry, sorry! sergah saya dengan nada agak tinggi. Aku kira Anda betul-betul dari LSM seperti dua orang yang kemari dua minggu lalu. Lagaknya ya macam Anda ini. Datang-datang minta diperlihatkan gambar proyek. Soal struktur saja nggak ngerti.

Dia masih cengar-cengir. Mandor Suryadi ikut cengar-cengir.

Lain kali hati-hati. Suhu di sini bisa mencapai 40 derajat celsius menjelang tengah hari. Kalau Anda nggak pandai-pandai bawa diri, jangan salahkan kawan-kawan kuli yang akan menjadikan diri Anda sebagai campuran bahan untuk pondasi pagar di ujung sana! Atau dikubur hidup-hidup di lubang bekas galian tambang rakyat di semak belukar itu. Daerah ini masih dikepung hutan belantara. Anda hilang, kawan-kawan koran Anda nggak tahu!
Sorry, Bang, sorry. Wajahnya cengengesan.
Jangan nipu lagi ya! Aku kenal bos koran Anda. Juga beberapa redakturnya. Aku bisa saja menghubungi bos Anda sekarang juga. Aku akan bilang bahwa anak buahnya di wilayah ini berbuat begini-begitu yang buntut-buntutnya minta duit. Aku bisa tulis surat pembaca dan kusebarkan ke koran-koran lokal. Tamatlah karier kewartawanan Anda!

Badannya sedikit tersentak lagi ke belakang. Matanya melurus ke arah saya. Mungkin dia berusaha mengamati dan mengingat-ingat sesuatu. Mungkin dia merasa kami pernah bertemu di kantornya. Atau pernah melihat wajah saya muncul di korannya. Tapi mana mungkin. Saya tidak suka diri saya difoto oleh wartawan mana saja. Saya pun tidak pernah tampil di acara-acara besar. Entahlah. Yang jelas, matanya berusaha membedahku.

Abang ini siapa ya sebenarnya?
Nah! Nah! Nah! Ini dia! jawab saya sambil mengacungkan telunjuk lalu menggoyang-goyangkannya, dan kepala saya mengangguk-angguk. Ternyata Anda tidak mengenal siapa aku. Gawat Anda ini. Padahal tulisan-tulisanku tentang bangunan dan pembangunan daerah selalu dimuat di koran Anda. Bahkan kantor pusat koran Anda di Pangkalpinang itu, siapa arsiteknya. Rumah bos Anda yang megah di dekat bandara Depati Amir juga. Rumah perempuan simpanannya yang di kawasan wisata Pasir Padi juga.
Wah! Wah! Wah! Abang ini ternyata tahu banyak luar-dalam bos kami. Padahal aku sendiri tidak tahu apa-apa. Hebat nian bos kami nyimpan rahasia.
Tentu saja, Dul. Anak buahnya hanya mau tahu beres. Apa-apa terjamin.
Dia tersenyum lebar hingga memamerkan gigi depannya yang tidak lengkap lagi. Mandor Suryadi ikut tersenyum. Barangkali burung punai di persembunyiannya pun tersenyum. Kecuali matahari yang semakin beringas membakar kami.
Kalau aku butuh gadis penghangat ranjang malamku, bos Anda segera menyediakan. Seketika itu juga! Gadis-gadis dari kantor Anda sendiri. Cantik-cantik, seksi-seksi, dan permainan mereka, waow! seru saya sambil menyapukan lidah di bibir kering saya, dan mengacungkan jempol. Hot! Bikin ketagihan!

Dia tidak menimpali, tapi berpaling sejenak ke arah bangunan yang menunggu pengerjaan struktur atap itu. Lalu menghadap saya lagi, dan menanyakan nama saya.
Namaku Saroji. Ingat ya. Sa-ro-ji! Bos Anda mengenal nama pendekku, Oji!
Oooo ini rupanya Bang Oji itu! Waduh, baru kali ini aku bisa ketemu langsung dengan penulis yang sangat digandrungi staf-staf wanita di kantor kami, termasuk wanita setengah baya di bagian dapur.
Sialan, maki saya dalam hati. Maaf-maaf saja. Biar tampang saya serampangan begini, saya masih gampang memilih. Tidak sembarangan!
Namaku Aleksander, Bang. Cukup panggil Alek. Biar jelek tapi intelek, kata orang, ujarnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.
Segera saya sambut jabat tangannya. Saya mengerti betapa pentingnya arti persahabatan dengan media massa, khususnya koran lokal. Jika ada wartawan yang dianggap cuma menyebarkan gosip murahan, terutama oleh kalangan selebritis lokal atau public figure, sebenarnya konsekuensi logis bagi korban gosip. Perilaku yang baik dan bersahabat, mana mungkin menjadi bahan berita gosip buruk. Itu menurut prasangka saya saja.
Beberapa kuli melihat adegan jabat tangan kami. Ada yang tersenyum. Ada yang saling menatap sambil cekikikan. Ada yang sama sekali tidak berekspresi. Yang lainnya tidak peduli, kecuali tetap sibuk melakukan pekerjaan mereka.
Sorry lagi, Bang. Aku mau motret proyek Abang. Sebentar saja. Dua-tiga jepretan, sela wartawan itu, lantas tergesa-gesa melangkah ke tempat yang diperkirakannya memiliki sudut pandang yang bagus. Mungkin lumayan jadi berita, kendati gagal mendulang duit.

Mandor Suryadi menatap saya. Kedua tangannya telah dimasukkan ke saku depan celananya. Senyum khas kembali melaburi wajahnya.
Terima kasih, Pak Oji. Untung ada Bapak. Kalau tidak, kami bakal tambah tekor. Minggu lalu harus bongkar dinding yang kurang rapi. Juga ganti kusen depan yang ukurannya lebih kecil lima centi. Bisa-bisa tadi duit bos kami melayang dua juta.
Ya, sama-samalah, Bos. Kita, kan, harus bekerja sama di proyek ini. Saling bantu. Tahu sama tahu. He he he he Yang penting bagaimana lancarnyalah, Bos.
Kemudian kami berjalan menuju tempat wartawan yang tengah sibuk mengambil obyek. Jarak antara kami dan wartawan itu sekitar 30 meter. Kami harus tetap mengawasi gerak-geriknya. Jangan sampai justru dia yang melakukan penyimpangan.

Selama perjalanan jarak pendek Mandor Suryadi mengungkapkan bahwasannya semalam bos pemborong tidak jadi datang. Kabarnya, bos pemborong sedang sakit gigi. Mungkin giginya harus dicabut lagi. Mungkin kini giginya menyisakan dua geraham belakang. Jadi, gambar kerja masih di ruang Mandor Suryadi, kesimpulan saya. Berarti sumpah pocong tadi cuma trik tradisional untuk menggertak lawan bicara. Sialan!

Oh ya, ini untuk Bapak. Sekedar mempererat kerja sama kita, katanya sembari merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu, lalu menyelipkannya di saku depan celana saya. Ini kali ke-18 saya menerima bonus di proyek.
Terima kasih banyak, Bos.
Sama-samalah, Pak Oji. Sama rata, sama rasa. Ha ha ha ha
Ha ha ha ha ha

Saya dan Mandor Suryadi terus melangkah menuju wartawan muda yang sedang sibuk memotret. Satu-dua perkutut liar melintas di atas kepala kami. Sesekali angin kencang menerpa, menghamburkan debu-debu dari tanah telanjang di sekeliling kami. Tak pelak kami harus menutup mata dan hidung dengan telapak tangan. Resiko yang sering kami alami.

Tadi nama Bapak kok berubah jadi Saroji? Seingatku, Bapak bernama Maroji seperti yang pernah kutengok di kartu nama Bapak dulu. Gelar Bapak Sarjana Muda Pariwisata, kan? bisik Mandor Suryadi manakala kami kian mendekati wartawan itu.
Sssstt, nama Saroji dan Maroji beda-beda tipis, Bos. Sama-sama Oji, balas bisik saya. Aku tahu nama Saroji dari pergunjingan kawan-kawan insinyur di kantor.***

Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.

Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

residen RI Kedua HM Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta.

Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.

Kemudian sekira pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.

Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Isak tangis warga pecah begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekira pukul 14.55, Minggu (27/1).

Seementara itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto.

Leave a Reply