PidatoPengukuhan Final : Pemanfaatan Modelling Untuk

Pemanfaatan modelling untuk memecahkan
masalah geoteknik (Physical modelling
aplication for solving geotechnical problems)

Tommy Ilyas

Pidato Pada Upacara Pengukuhan
Sebagai Guru Besar Tetap Dalam Bidang Geoteknik Teknik Sipil
Pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Jakarta, 24 Mei 2006

Penelitian tentang fenomena alam seperti gempa bumi,
tsunami, landslide dan lainnya terlalu sulit untuk dilakukan
secara utuh. Oleh karena itu pendekatan laboratoris
diharapkan dapat mengatasinya. Penggunaan modelling
memliki keandalan dan dinilai mampu untuk
mensimulasikannya.

A huge centrifuge at Takenaka Co., Japan

2
Yang kami hormati,

Bapak Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Saudara Ketua dan Sekretaris Majelis Wali Amanat UI
Saudara Rektor dan Para Wakil Rektor Universitas Indonesia
Saudara Ketua dan Sekretaris Senat Akademik UI
Saudara Dekan dan Para Wakil Dekan Fakultas Teknik UI

Saudara Dekan dan Para Wakil Dekan di lingkungan UI
Para Guru Besar dan Staf Pengajar Universitas Indonesia
Para undangan serta hadirin sekalian yang saya muliakan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua
.

Pada kesempatan yang baik ini marilah kita panjatkan puji dan syukur
kehadirat Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya
pada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dalam
keadaan sehat walafiat. Salawat dan salam kita sampaikan pada
Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga, serta para sahabatnya.
Perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih pada Pemerintah
Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional RI yang telah
memberikan kepercayaannya kepada saya sebagai Guru Besar Tetap
dalam bidang Geoteknik Teknik Sipil dan kepada Rektor Universitas
Indonesia yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk
menyampaikan pidato pengukuhan di hadapan sidang yang terhormat
ini.

3
Hadirin yng berbahagia,
Dalam kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato pengukuhan saya
sebagai Guru Besar Tetap di Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan
merupakan suatu kehormatan bagi saya dapat menyampaikannya di
hadapan hadirin sekalian. Judul yang akan saya sampaikan adalah:
Pemanfaatan modelling untuk memecahkan masalah geoteknik (Physical
modelling aplication for solving geotechnical problem).

Latar belakang
Penelitian tentang fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami,
landslide dan lainnya terlalu sulit untuk dilakukan secara utuh. Oleh
karena itu pendekatan laboratoris diharapkan dapat mengatasinya.
Penggunaan modelling memliki keandalan dan dinilai mampu untuk
mensimulasikannya.
Berbicara mengenai model tentu bayangan kita adalah sesuatu yang
merepresentasikan kondisi aslinya. Pertanyaannya adalah dapatkah
model yang digunakan memberikan prediksi langsung mengenai perilaku
prototip? Apa yang menjadi limitasi pembuatan model serta uji coba
sebuah model yang dibuat dari sampel lapangan.
Model dengan skala kecil telah banyak dibuat untuk membuat perilaku
model prototip dan kesesuain yang sangat baik dicapai ketika
membandingkan antara model dan prototip. Namun bagaimanapun juga
untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya dari sebuah uji model,
sampel tanah harus memenuhi sejumlah persyaratan. Untuk
mendapatkan kekuatan tanah dan karakteristik deformasi tanah yang
akurat diperlukan persyaratan seperti pemodelan struktur tanah, lapisan-
lapisan tanah, ketidak homogenitas tanah, tegangan konsolidasi dan

4
sejarah tegangan. Persyaratan tersebut berlaku juga untuk teoritikal
model berdasarkan atas uji laboratorium.
Struktur tanah yang tidak kohesif tergantung dari prosedur penyiapan
sampel. Ini dapat ditunjukkan pada persiapan contoh triaksial oleh
beberapa peneliti (Ladd 1974, seed 1976 dan Lad et al 1977) dan
pengaruhnya sangat penting untuk uji model. Pengaruh pada uji triaksial
menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok pada hubungan stress-
strain dan karakteristik tegangan untuk sampel yang dipersiapkan dari
tanah yang di tapping dan tanah yang dipersiapkan dari pencelupan
(plunging) pada tanah yang dipadatkan dengan metode kompaksi.
Pertanyaan berikutnya bagaimana persiapan contoh tanah dapat
mensimulasikan sebuah prototip. Untuk menjawab ada hal yang perlu
diperhatikan yaitu pengukuran propertis model tanah untuk melakukan
analisa balik (back analysis). Validasi dari metoda numerik akan berhasil
jika propertis tanah dari model serta tegangan awal dari model diketahui.
Dari studi-studi yang telah dilakukan pada berbagai uji model hasilnya
dapat digunakan untuk melakukan evaluasi dan prosedur validasi.
Dari hal-hal yang telah dikemukakan, uji model model dengan skala kecil
menjadi pilihan bagi peneliti untuk mensimulasikan sebuah prototip.
Physical modelling yang akan dibahas selanjutnya adalah yang berkaitan
dengan model centrifuge yang menjadi fokus pada pidato pengukuhan
ini.

Uji model centrifuge
Penggunaan alat centrifuge untuk model uji didalam bidang geoteknik
mulai berkembang sejak akhir tahun enampuluhan.

5
Craig menyampaikan gagasan eksperimen dengan skala kecil pada alat
centrifuge yang dilakukan pertama kali oleh E.Philips pada tahun 1869
yang mempresentasikan makalahnya dihadapan Academie des Science
Perancis. Dengan menggunakan persamaan differential equilibrium untuk
material elastis (elastic solid) dia mendapatkan korelasi/hubungan yang
sangat baik untuk prototip dan model skala kecil untuk menghasilkan
sifat (behaviour) yang sama. Gravitasi menjadi faktor utama untuk
keseimbangan dari material dan Philips mengusulkan gaya inersia atau
secara spesifik gaya centrifugal untuk menghasilkan suatu kesamaan.
Phillips juga mengemukakan beberapa prinsip umum mengenai disain
dari uji centrifuge. Ide yang cemerlang ini baru enampuluh tahun
kemudian dapat diaplikasikan. Era tahun 1930-an peneliti di Amerika dan
Soviet seolah-olah menemukan kembali cara yang telah diusulkan oleh
Philips untuk berbagai problema yang berkaitan dengan gaya centrifugal.
Dalam laporannya Craig juga menyebutkan pada tahun 1932 di Moscow
di laboratorium Gidro-Texgo Institute of Hydrogeology and Hydraulics
dilakukan percobaan pertama ( oleh Pokrovsky) untuk stability of earth
stuctures. Dan hasilnya skala model kecil digunakan untuk earth dams,
embankment dan levees projects.
Pada First International Conference on Soil Mechanics and Foundation
Engineering di Harvard tahun 1936 hasil experimen oleh expertis dari
Rusia diabaikan dan tidak mendapat respon dari pihak Barat. Hasil
penelitian team Rusia tersebut baru dikenal secara luas dan dihargai
pada dekade enampuluhan setelah para peneliti di Inggris menindak
lanjuti pekerjaan yang telah dilkukan oleh Pokrovski et, al.
Akhir tahun enampuluhan dapat dikatakan sebagai era baru untuk model
centrifuge dengan bermunculannya alat centrifuge yang dipergunakan
khusus untuk kepentingan dan keperluan geotechnic. Secara simultan

6
penelitian mulai dilakukan di Inggris, Jepang dan Amerika dan
menimbulkan dampak yang sangat berarti bagi pengembangan
centrifuge model diseluruh dunia.
Analisa kestabilan lereng merupakan geotechnical courses yang umum
dan dapat diprogram dengan menggunakan komputer digital. Tetapi
keruntuhan lereng sukar untuk didemonstrasikan dilaboratorium karena
itu merupakan fenomena gravitasi, seperti perubahan muka air tanah,
penggalian atau penimbunan.
Prinsip tegangan efektif juga merupakan masalah yang cukup sukar
untuk dijelaskan. Pengaruh gravitasi tidak pernah dibicarakan atau
diperhitungkan terhadap berat jenis. Saat ini jika mahasiswa teknik Sipil
mengunjungi area konstrusi mereka dapat merasakan besaran gaya dan
energi yang mempengaruhi bangunan konstruksi yang besar. Dengan
menggunakan centrifuge yang kecil didalam laboratorium dapat
didemonstrasikan pengaruh gravitasi pada masalah stabilitas lereng
dengan keruntuhan mekanik yang tidak mungkin dapat ditunjukkan pada
laboratorium biasa.
Schofield (1980) menunjukkan pentingnya general stress system sebuah
model yaitu kondisi equilibrium pada saat awal untuk percobaan-
percobaan yang dilakukan dengan alat centrifuge dan terjadinya
kenaikan tegangan lanjutan pada saat keruntuhan. Problema dari
stabilitas lereng merupakan contoh yang sangat baik. Gravitasi
mempengaruhi jenis model tes, tidak memproduksi field stress path,
tetapi merupakan experimen yang legitimate dan dapat dipergunakan
untuk mengklarifikasikan perbedaan-perbedaan pada sifat moda dari
material yang berbeda. Model dari sebuah embankment dam akan
mengalami keruntuhan pada saat pembangunan dan peningkatan

7
kecepatan atau pembangunan dalam tahapan-tahapan akan menerima
gaya angkat (successive lift).
Model yang tipikal ( 1-g) selalu dikaitkan dengan skala perbandingan 2
atau tiga dan hasilnya didalam peringkat prosentasi 5% dapat dianggap
memadai. Membuat model untuk sebuah model jarang sekali dilakukan
seperti melakukan model yang betul-betul sama dengan boundary
restraints, detail instrumentation dan variasi-g terhadap model akan
menentukan penggunaan alat centrifuge atau alternatif radial location
untuk sebuah mesin centrifuge. Centrifuge model test dapat melakukan
eksperimen sesuai dengan apa yang direncanakan pada prototip model
dilapangan.
Keuntungan untuk melakukan test dengan skala kecil di laboratorium,
kondisi dari test dapat dikontrol dengan baik dan test dapat dilakukan
dengan berbagai boundary dan fail condition untuk mengevaluasi
mekanisme dari masalah geoteknik yang spesifik.
Gambar 1 memperlihatkan hubungan antara phisical modelling,
numerical modelling dan data yang diperoleh dari full scale model dan
aplikasinya pada desain. Randolph (2001) menunjukkan akan sangat
menguntungkan jika melakukan physical model test untuk mengevaluasi
respon yang kompleks dari tanah, kompleksitas dari geometri atau
konstruksi dan sekaligus dapat dipelajari phenomena baru.
Pada Tabel 1 ditunjukkan prototip, model konvensional dan model
centrifuge suatu uji sebuah pondasi. Dari tabel tersebut ada 6 kondisi
yang diperbandingkan. Pada uji model konventional dengan skala 1:n
dan garvitasi 1g hanya 2 kondisi yang dipenuhi sedangkan pada uji
centrifuge 5 kondisi terpenuhi, hanya kondisi terakhir mengenai besar
butiran (grain size) yang menyimpang dari prototip. Ini disebabkan
prototip pasir digunakan pada model. Ternyata hasil uji menunjukkan

8
pengaruh skala dari butiran pasir yang digunakan amat kecil terhadap
hasil hubungan p/ vd terhadap /d

Gambar 1 Kontribusi dari physical modelling terhadap disain
(Randolph,2001)

PROTOTYPE
CONVENTIONAL MODEL
CENTRIFUGAL MODEL
Scale : 1 : 1 Scale : 1: n
Scale : 1 : n
Gravity : g
Gravity : g
Gravity : n . g
1
e
e similar
e similar
2

similar
similar

not similar
similar
3
C
C

C
d
d n
n
d n

not similar

similar
4
g
g

g
d
d n
n
d n

not similar

similar
5
g
g

g
d
d n
n
d n
d
d
not similar
d
not similar
6

g
g
g

d
d n
d n

Tabel 1 : Kesamaan persyaratan untuk model konvensional dan model centrifuge

9
Kelebihan dan keterbatasan

Alat centrifuge disamping sangat potensial untuk melakukan uji model
juga mempunyai kelebihan dan keterbatasan.
A.Kelebihan
Alat centrifuge dapat meningkatkan berat sendiri (self weight)
dengan memberikan akselerasi N kali gravitasi bumi untuk
model skala 1/N.
Centrifuge model dapat mengurangi waktu yang diperlukan
untuk melakukan uji karena dapat memperkecil ukuran model.
Dapat menghemat biaya uji dibandingkan dengan model yang
besar dengan gravitasi bumi.
B. Keterbatasan
Pengguna centrifuge agar dapat mengurangi kesalahan dalam
membuat model terutama kesalahan pada besarnya akselaresi
centrifugal, besar butiran jika menggunakan pasir atau material
berbutir kasar sebagai media
Kesulitan untuk memodelkan kondisi yang sebenarnya seperti:
umur, kondisi tanah yang cukup rumit (sophisticated).
Inkonsistensi faktor skala terhadap waktu seperti: panjang model
1/N, gaya inersia 1/N, aliran laminer 1/N2 dan rangkak (creep) 1.

Prinsip pemodelan

Pemodelan merupakan suatu keperluan didalam rekayasa geoteknik.
Pemodelan fisik berkaitan dengan replikasi dari model prototip. Model
seringkali mereduksi skala dari prototip dan ini merupakan hal yang
umum untuk model centrifuge.

10
Keperluan khusus bagi pemodelan geoteknik adalah memproduksi
perilaku tanah dalam hal kekuatan (strength) dan kekakuan (stiffness).
Didalam rekayasa geoteknik didapati spektrum yang sangat luas yang
berkaitan dengan perilaku tanah untuk masalah yang khusus. Untuk
struktur geoteknik seperti embankment, berat tanah sendiri merupakan
gaya yang menentukan perilaku dari struktur tanah tersebut. Jika
struktur
embankment ini dimodelkan dilaboratorium dengan
menggunakan material yang sama, agar tegangan yang bekerja pada
model sama dengan tegangan yang bekerja pada prototip maka model
tersebut tersebut harus diuji pada kondisi gravitasi yang N kali lebih
besar garvitasi bumi. N merupakan faktor yang digunakan untuk
mereduksi ukuran prototip. Tegangan yang timbul pada model dengan
kedalaman z/N akan sama dengan tegangan material prototip pada
kedalaman z karena material pembentuk sama dengan material prototip.
Juga diharapkan kesamaan regangan (strain similarity) dipenuhi juga
oleh model dan prototip.
Shofield, 1988 menggunakan konsep stabilitas lereng untuk menjelaskan
fenomena tersebut diatas. Suatu lereng prototip dengan tinggi Hp, berat
jenis tanah p dan kohesi cp dimodelkan dilaboratorium dengan tinggi
lereng Hm dimana Hm = Hp/N seper

ti terlihat pada Gambar 2. Model
dibuat dari bahan material yang sama dengan material prototip sehingga
m = p dan cm = cp.

Cp
Hp

C
p
m
Hm=Hp/N
m

11
Gambar 2 Prototip dan model suatu lereng

Stabilitas kedua lereng tersebut dinyatakan dengan angka stabilitas
lereng dari Taylor, 1947
ikut:
seperti ber
(SN)p = Cp/(p Hp) dan
(SN)m = Cm/(m Hm)
dimana (SN)p dan (SN)m adalah angka stabilitas prototip dan model.
Agar keruntuhan yang terjadi pada model sama dengan keruntuhan yang
terjadi pada prototip maka angka stabilitas kedua lereng tersebut harus
sama. Ini berarti m = N p = N. Hal ini dapat dicapai dengan menguji
model tersebut pada percepat
ebesar N kali gr
an s
avitasi yang dilakukan
engan bantu
d
an alat centrifuge.

Prinsip skala

Dalam Tabel 2 dibawah ini dapat dilihat faktor skala dari contoh yang
uji
yang di
in-fllight pada alat centrifuge yang berdasarkan hukum
odel
m

Tabel 2 Hubungan skala dari model centrifuge
Tabel 2.1 Hukum skala untuk model statik
Parameter
Model /
Prototype
Length 1/N
Area 1/N2
Volume 1/N
3
Stres 1
Strain 1
Density 1

12
Gravity N
Mass 1/N3
Force 1/N2
Time 1/N
2
Velocity N
Concentration
1

N = faktor skala

Parameter
Model / Pr otype
ot
Length 1/N
Area 1/N2
Volume 1/N3
Stress 1
Strain 1
Velocity 1
Acceleration N
Frequency N
Time 1/N
Mass 1/N3
N = faktor skala
Tabel 2.2 Hukum skala untuk model dinamik

Memodelkan sebuah model (modelling of model)

Ko, 1988 mengusulkan prinsip modeling of model untuk memverifikasi
faktor skala yang diperoleh dari centrifuge. Dengan modeling of model
ditunjukkan bahwa proses fisik tidak tergantung pada gravitasi pada saat
percobaan dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan pengujian satu
model dengan gravitasi yang berbeda. Ko menggambarkan suatu prinsip

13
dari modelling of model yang secara skematis melalui Gambar 3. Pada
gambar tersebut diperlihatkan jika suatu struktur prototip dengan
panjang 1000 cm pada graviatsi 1-g (A1) dapat dimodelkan dengan
suatu model fisik 100 cm dan diuji pada gravitasi 10 g (A2) atau dapat
dimodelkan dengan model fisik 10 cm dan diuji dengan gravitasi 100 g
(A3). Contoh yang lain adalah suatu model dengan 100 cm pada 10-g
(A2) dapat dianggap sebagai prototip dari model dengan ukuran 10 cm
dan diuji pada 100-g (A3). Dengan melakukan perbandingan terhadap
hasil pengujian modeling of model dan dengan memperhatikan pengaruh
tegangan (stress) serta ukuran butir (grain size) maka faktor skala yang
digunakan dapat diverifikasikan. Perilaku struktur yang sebenarnya dapat
diprediksi dari hasil pengujian model fisik ini. Dengan demikian

engujian dengan sk
p
ala penuh menjadi tidak perlu dilakukan.



Gambar 3 Prinsip dari modelling of model (Ko,1988)

14
Hadirin dan hadirat yang berbahagia
Studi mengenai kegunaan praktis
Perkenankanlah saya menyampaikan hasil penelitian dari penulis (T.Ilyas
et all, 2004) mengenai Centrifuge Model Studi of Laterally Loaded Pile
Groups in Clay maupun peneliti lain yang dapat digunakan untuk
keperluan praktis. Pada Gambar 4 dan Gambar 5 p-multiplier untuk
berbagai posisi dari baris pada berbagai grup tiang tergambar. Terlihat
hasil penelitian yang kami lakukan menjadi bahan rujukan untuk
menentukan berbagai macam p-multiplier (pm) untuk berbagai grup
tiang yang simetris. Cara yang sederhana untuk meng-ekspresikan
kehilangan tahanan tanah adalah dengan menggunakan p-multiplier, .
pm adalah konstanta yang digunakan untuk memodifikasi kurva p-y dari
tiang tunggal yang terisolasi. Matlock (1970) memperkenalkan kurva p-y
untuk memecahkan analisa non linier terhadap kelanjutan dari
pendekatan subgrade reaction. Kurva p-y adalah kurva empirik yang
direkomendasikan penggunaannya setelah diverifikasi dengan uji coba
skala penuh pada tiang terinstrumentasi. Setiap kurva p-y di suatu titik
kedalaman adalah unik hanya untuk penampang/diameter tiang
tersebut, jenis tanah pada kedalaman tersebut, gaya lateral tertentu
(static/siklik) serta metoda instalasi tiang (bored/driven).
Gambar 4a menunjukkan garis disain untuk baris pertama (leading row)
dan Gambar 4b menunjukkan garis desain untuk baris kedua dari grup
tiang. Terlihat data hasil penelitian kami di super imposed pada gambar
4a dan 4b bersama dengan kompilasi dari titik-titik data yang diperoleh
dari hasil penelitian peneliti lainnya seperti ditunjukkan pada legenda.
Terlihat pada gambar tersebut hasil penelitian kami adalah grup tiang
pada clay satu-satunya. Gambar 5 menunjukkan garis desain untuk baris
ketiga dan keempat dari grup tiang dengan titik-titik data hasil penelitian
kami dan data eksperimen peneliti lain

15

Gambar 4 p-multiplier untuk lead dan second row (Sumber: Journal Of
Geotechnical And Geoenvironmental Engineering ASCE / October 2005)

Gambar 5 p-multiplier untuk third row dan fourth row (Sumber: Journal Of
Geotechnical And Geoenvironmental Engineering ASCE / October 2005)

16
Gambar 6 merupakan kompilasi dari Gambar 4 Gambar 5 yang sangat
berguna untuk kegunaan praktis. Grafik pada Gambar 6 dapat digunakan
untuk mengestimasikan nilai dari faktor p-multiplier berdasarkan jarak
tiang dan lokasi tiang dalam grup.

Gambar 6 Kompilasi dari Gb 4 dan Gb 5 (Sumber: Journal Of Geotechnical And
Geoenvironmental Engineering ASCE / October 2005)

Hal lain yang didiskusikan adalah mengenai grup efisiensi. Grup efisiensi
menurun dengan naiknya perpindahan kepala tiang (pile head
displacement) didalam grup tiang Perubahan dari grup efisiensi menurut

17
penulis bervariasi tergantung dari jarak tiang dan ratio konsolidasi dari
tanah. Gambar 7 menunjukkan plot dari data penulis untuk tiga jenis tes
serta hasil dari peneliti lain dimana grup efisiensi dapat diperbandingkan
dengan defleksi dari kepala tiang yang dinormalisasikan dengan lebar
tiang. Dari Gambar 7 tersebut terlihat sangat konservatif untuk
menghitung p-multiplier dari hasil loading test grup tiang pada defleksi
yang cukup besar lebih dari 0.2 D.

Gambar 7 Grup efiensinsi versus normalisasi perpindahan kepala tiang ((Sumber:
Journal Of Geotechnical And Geoenvironmental Engineering ASCE / October
2005)

18
Studi mengenai Gempa Bumi
Physical modelling dapat digunakan untuk menguji secara komprehensif
dan untuk mengetahui mitigasi guna mengurangi kerusakan yang
diakibatkan oleh gempa bumi. Di Jepang gempa bumi merupakan
bencana alam yang menjadi prioritas tinggi untuk penanggulangan
maupun mencegah efek yang lebih luas jika terjadi gempa. Shaking
tables tests yang dilakukan dengan 1-g seringkali digunakan untuk
mengevaluasi struktur dan respon elemen geoteknik akibat gempa bumi
yang masif. Iai (2001) dari Port and Airport Research Institute (PARI)
mengilustrasikan penggunaan shaking table yang besar untuk menguji
respon dinamik dari wharf front structure (struktur depan dermaga) dari
berbagai tingkat gerakan dari gempa bumi. Dia memperlihatkan
pentingnya menggunakan hukum skala yang benar pada model untuk
mendapatkan tes data yang akurat dari panjang, waktu, akselerasi,
perpindahan, tegangan/tekanan dan regangan serta ekses tegangan pori.
Akselerasi pada permukaan tanah (AV9) dan dibawah struktur (W2)
dapat diobservasi sehingga dapat diketahui secara tepat kondisi dari
struktur pada saat uji shaking
Observasi tipikal mengenai struktur dermaga terhadap gempa bumi
diilustrasikan pada Gambar 8. Hasilnya menunjukkan uji dengan
menggunakan shaking table yang besar memberikan pengertian yang
lebih baik dari perilaku struktur dermaga akibat beban gempa sehingga
engineer dapat mendisain dengan lebih aman struktur dermaga.

19

Gambar 8 Hasil tipikal dari tes shaking table ( Iai,2001)



Studi mengenai Tekanan tanah aktif akibat seismic pada
Retaining Wall

Lebih lanjut akan diilustrasikan penggunaaan model centrifuge untuk
menggambarkan terjadinya sliding pada retaining wall (dinding penahan
tanah) yang memiliki embedment dimuka dinding penahan tanah.
Pada gambar 9 dibawah ini dililustrasikan sebuah model dinding penahan
tanah yang dilakukan pengujian dengan alat centrifuge

20

Gambar 9 Model set up (Matsuo et al, 2002)
Shaking test dari sebuah gravity retaining wall setinggI 9 m dengan
perbedaan embedment dilakukan pada alat centrifuge. Ditemukan
tekanan tanah aktif lebih kecil ketika dinding sliding. Nilai dari tekanan
tanah ditemukan lebih kecil dari standar yang diajukan oleh tekanan
tanah aktif Monobe-Okabe. Dengan memberikan embedment sangat
membantu untuk meningkatkan stabilitas seismik. Pada Gambar 10
ditunjukkan perpindahan horizontal dari puncak dinding selama shaking
event. Terlihat pada gambar tersebut perpindahan horizontal meningkat
meningkatnya akselerasi namun dengan embedment yang besar
perpindahannya mengecil. Dengan memberikan embedment terlihat
sangat signifikan untuk mengurangi displacement akibat beban gempa.
Gambar 11 menunjukkan pergeseran dinding setelah uji coba. Kasus 1
tanpa embedment, Kasus 2 dengan embedment 50 mm (16% dari tinggi
dinding penahan tanah) dan kasus 5 dengan 25 mm (8% dari tinggi
retaining wall). Kedua model dengan jelas memperlihatkan bentuk
kelongsoran yang amat berbeda dengan adanya embedment

21
Gambar 10 Hubungan antara lateral displacement dan besaran shaking
Gambar 11 Photo dari kasus 5 dan 6 setelah uji coba

22
Dari hasil penelitian dengan menggunakan model centrifuge bentuk
struktur setelah uji coba secara detail dapat dipelajari.
Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Penggunaan model Centrifuge untuk pengajaran
Jika pengajaran mengenai konsep dasar dari ilmu mekanika tanah telah
diajarkan, tahap selanjutnya pada pengajaran akan diberikan secara
bertahap masalah nilai batas (boundary) yang lebih kompleks. Fenomena
alam seperti gempa bumi, tsunami, landslide dan lainnya terlalu sulit
untuk digambarkan secara utuh. Oleh karena itu pendekatan laboratoris
diharapkan dapat mengatasinya. Penggunanaan modelling memliki
keandalan dan dinilai mampu untuk mensimulasikannya.
Pada tataran ini physical modeling menjadi alat yang sangat tepat untuk
memberikan gambaran pada murid untuk menangkap bentuk-bentuk
yang berbeda dari struktur geoteknik, proses yang terjadi pada
perilakunya, asumsi penetapan batas dari masalah dan analitikal tool
yang berhubungan dengan desain. Physical model biasanya dibatasi pada
model laboratory dari keruntuhan lereng (slope failure), problema
seepage, dan perilaku fondasi. Bentuk dari demonstrasi akan melibatkan
sejumlah sesi laboratorium atau penelitian tugas akhir mahasiswa.
Physical model pada 1-g dapat memberikan gambaran mengenai konsep
dasar dari permasalahan, uji model pada akselerasi yang meningkat
dapat memdemonstrasikan perilaku yang halus, mekanisme keruntuhan
yang realistik dan memberikan data lapangan dasar untuk melkukan
anlisa balik (back analysis). Tes juga digunakan untuk memperkenalkan
konsep skala model kepada murid-murid. Peralatan centrifuge yang
umum dapat dipakai untuk keperluan pembelajaran, namun biaya
operasinya cukup mahal. Type small beam dan drum centrifuge
memberikan alternatif teknik, tetapi tetap memerlukan pengetahuan

23
spesialis dan teknisi yang berpengalaman. Centrifuge dengan beam
dengan radius < 0.5 m telah dibuat untuk pengajaran maupun penelitian
(Atkinson 1993, Mitchell et al, 2000). Centrifuge dengan jenis kecil
memberikan keuntungan karena harganya relatif murah dan murah juga
biaya pengoperasian dan memodifikasi, serta dapat melakukan tes yang
dapat dilakukan dengan cepat. Komponen pendukung alat centrifuge
jenis kecil ini juga sederhana (karena mengurangi tegangan dan tingkat
keamanan pengoperasian yang lebih aman). Alat jenis kecil ini mudah
unrtuk dioperasikan, memungkinkan pengguna baru untuk menangkap
konsep centrifuge modelling lebih cepat. Alat yang kecil ini juga mudah
dipindah-pindahkan, bahkan ke dalam kelas, atau dapat digunakan untuk
demonstrasi bagi klien yang menginginkan centrifuge yang lebih besar.
Dibawah ini diperlihatkan mini beam centrifuge dari Dundee(UK).

Tabel 3 : Mini-centrifuge specifications
Package volume 800mm
x80mmx80mm
Package
mass
1
kg
Drive
power
150
Watt
Rotaional speed

30 to 1000 rpm
Radius at base of package

0.35 m
Acceleration

3 to 400g @ 0.325m radius
Centrifuge
capacity
0.4
g-tone

Terlihat dari spesifikasi pada Tabel 3 diatas ukuran serta daya penggerak
listrik memang kecil. Sangat cocok untuk proses pembelajaran dikelas
guna mengantisipasi permasalahan geoteknik yang kompleks.

24

Gambar 12 Potongan dari centrifuge kecil
Gambar 12. Komponen Utama dari alat cenrifuge
Jadi dengan ukuran yang mini memang menjadi cost effective baik dari
operasionalisasi maupun pemeliharaan. Sudah saatnya PT di Indonesia
untuk memiliki alat semacam ini untuk meningkatkan kualitas

25
pembelajaran sehingga pada akhirnya menelurkan hasil-hasil penelitian
yang mendunia.
Jenis lain yaitu mini drum centrifuge dengan radius 0.37 m untuk
pengajaran digunakan di Cambridge University (UK). Sejak 1998 module
untuk graduate di tawarkan untuk dengan tangan sendiri melakukan
eksperimen dengan menggunakan small scale drum centrifuge untuk
menyelidiki masalah-masalah rekayasa geoteknik. Problema yang
diangkat dari problem geoteknik yang sudah umum dikenal, mulai dari
timbunan diatas lempung lunak, dan fondasi diatas tanah lunak.
Problema-problema itu dipilih untuk mendemonstrasikan efek dari
kecepatan pembangunan ( contruction rate effects), berbagai lapisan
dengan permebility yang bervariasi, dan penggunaan teknik perbaikan
tanah. Konten dari modul (R5) diberikan bersamaan dengan contoh data
dan interpretasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa
postgraduate (S2) pada tahun pertama ditawarkan dan diekspos kepada
advanced geotechnical engineering modelling techniques, baik physical
maupun numerik. R5 module memiliki objektif : i) memberi pengajaran
rekayasa geoteknik dengan hands on approach
Gambar 13 Elevasi serta foto dari Centrifuge MK II Cambrige Uninversity
dengan aksis horizontal (Baker, 1998)

26
ii) melatih mahasiswa pasca dalam teknik modelling baik untuk menjadi
peneliti maupun pindah ke industri agar waspada terhadap potensi dari
teknologi ini untuk penggunaan dimasa depan ketika menghadapi
permasalahan yang kompleks. Dibawah ini terlihat potongan mini drum
centrifuge Cambridge University (UK) dengan aksis vertikal

Gambar 14 Potongan dari alat centrifuge MK II Cambridge University
dengan aksis vertikal (Baker,1998)

Hadirin yang saya hormati,
Dari urain saya mengenai penggunaan model centrifuge amat
bermanfaat untuk mensimulasikan sebuah prototip maupun kondisi yang
sebenarnya. Modelling dapat digunakan untuk penelitian dengan
menggunakan centrifuge yang regular, maupun pengajaran dengan
menggunakan mini centrifuge. Untuk beberapa kasus menggunakan
modeling dengan alat 1-g juga dapat dilakukan. Penelitian untuk

27
mengantisipasi tsunami dengan membuat dinding penahan yang spesifik
seperti yang dilakukan di Kobe Jepang sudah dapat dilakukan. Antisipasi
kerusakan akibat gempa tektonik maupun vulkanik dapat juga dilakukan
dengan modeling seperti telah dilakukan di negara yang banyak gempa
seperti Jepang, Iran, Pakistan dan lainnnya. Harapan kami penggunanan
dan pemanfaatan modelling untuk mengantisipasi tsunami dan kerusakan
akibat gempa serta longsoran di Indonesia dapat dikerjakan oleh peneliti-
peneliti dibidang geoteknik secara bersama sehingga dapat
menyumbangkan hasilnya untuk dapat diterapkan pada daerah-daerah
yang rawan tsunami, rawan gempa dan rawan longsor.

Hadirin yang saya hormati,
Sebelum saya menutup pidato pengukuhan saya, perkenankanlah saya
sekali lagi bersyukur kehadirat Allah swt yang memberi karuniaNya
dengan melapangkan dan membimbing jalan saya, sehingga hari ini saya
dikukuhkan menjadi Guru Besar Tetap dilingkungan FTUI. Tanpa
perkenanNya tidak mungkin hal ini terjadi dan salawat dan salam untuk
Rasulullah Muhammad saw beserta keluarganya.
Rasa terimakasih dan hormat saya sampaikan kepada:
1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
2. Rektor Universitas Indonesia
3. Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia
4. Ketua Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universiatas Indonesia
5. Rekan-rekan kelompok keilmuan Geoteknik Jurusan Sipil FTUI
Hadirin dan hadirat yang berbahagia

28
Rasa terima kasih kepada kedua orang tua saya, almarhum ayahanda
Ilyas Sutan Maradjo serta almarhumah ibunda Wartini yang telah
membimbing, membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih
sayang. Doa khusus saya sampaikan kepada beliau dengan harapan doa
anak yang saleh diterima oleh Allah swt, karena berkat beliaulah saya
menjadi seperti ini.
Rasa terima kasih juga saya sampaikan kepada Ayahanda Mertua dr
A.Azis dan Almarhumah Ibunda Mertua Yusnaini yang secara tulus selalu
memberikan dorongan dan nasihat agar saya selalu mencapai yang
terbaik dalam hidup ini.
Kepada kakak saya Yusni Mahyunir, Alm. Yusuf Ilyas, Yan Ilyas, Meinizar
Ilyas dan Alm Zainul Arufin serta adik-adik saya Emmy Muharani, Irwan
Ilyas dan Dessy Farida saya mengucapkan terima kasih atas dorongan
dan doa yang diberikan pada saya.
Kepada adik-adik ipar Genta Suri, Iskandar, Chatrapati dan M Hatta saya
juga mengucapkan terimasih atas dorongan dan doa yang diberikan pada
saya.
Akhirnya saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
istri yang tercinta Diana Indrawati yang selalu mendampingi dengan
kesabaran dikala susah dan senang dan yang selalu memberikan
dorongan dan doanya sehingga pengukuhan pada hari ini.
Kepada ketiga anak saya Ihtiar Nur, Marina Annisa dan Fitri Nurandianti
papa ucapkan terima kasih atas dukungan dan doa ananda walaupun
seringkali ayahanda tetap bekerja pada hari libur yang seharusnya
bersama kalian. Doa papa untuk kebahagiaan kamu bertiga. Kebahagiaan
papa juga merupakan kebahagiaan mama, dan kamu bertiga Tiar, Nina
dan Fitri.

29
Kepada hadirin dan hadirat yang saya hormati, sekali lagi saya ucapkan
terima kasih atas kesediaan Saudara meluangkan waktu untuk
menghadiri pengukuhan hari ini. Semoga Allah swt selalu memberkati
dan melindungi kita semua. Amien Ya Robbal Alamien. Wabillahit Taufik
Walhidayah.
Wassalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh.

30
Referensi
1. T.Ilyas, CF Leung, YK Chow, SS Budi Centrifuge Model Studi of
Laterally Loaded Pile Groups in Clay. Journal of Geotechnical
Engineering March 2004 Vol.130, Number 3 ISSN 1090-0241.
2. T.Ilyas, CF Leung, YK Chow, SS Budi.Discussion of Centrifuge
Model Studi of Laterally Loaded Pile Groups in Clay. Journal of
Geotechnical Engineering October 2005 Vol.135, Number 3 ISSN
1090-0241
3. T.Ilyas, Leung CF, Chow YK and Budi SS,2002, Performance of
Laterally Loaded Pile Group in Clay. International Conference on
Physical Modelling in Geoechnics 10-12 July 2002, Canada.
4. T.Ilyas, 2002. Disertasi: Perilaku Grup Tiang Dilapiskan Tanah
Lempung Yang Dibebani Gaya Lateral statis: Studi Dengan
Menggunakan Teknik Model centrufuge, Universitas Indonesia,
Faculty Teknik, Program Pasca Sarjana.

5. Scot. R.F, 1981 Pile testing in a centrifuge Proc. 10th Int. Conf.
Soil Mechanic Foundation Engineering, Vol.2, pp.839-842.
6. Hamilton J.M, Dunnavant T.W, Murff.J.D, & Philips R, 1991
Centrifuge study of laterally loaded pile behaviour in clay Centrifuge
91, Ed. by Ko.H.Y, and McLean.F, A.A Balkema Publishers,
Rotterdam, Nederlands, pp.285- 292
7. Kitazume.M, & Miyajima.S, 1994 Lateral resistance of a long pile in
soft clay Centrifuge 94, Ed. by Leung.C.F, Lee.F.H, and Tan.T.S, A.A
Balkema Publishers, Rotterdam, Nederlands, pp.485-490
8. Foray.P, Balachowsky.L & Rault G. Scale effect in shaft friction due
to localisation of deformations, Centrifuge 98, Ed. by Kimura.T,
Kusakabe.O,and Takemura.J., A.A Balkema Publishers, Rotterdam,
Nederlands, pp.211-216
9. Mc Vay M, Bloomquist D, Vanderlaine D and Clausen J, 1994
Centrifuge modeling of laterally loaded pile groups in sand ,
Geotechnical Testing Journal, GTJODJ. Vol 17, No.2, June 1994, pp.
129-137
10. Mc Vay M, Casper R and Shang T-I, Lateral response of three-row
groups in loose to dense sands at 3D and 5D pile spacing Journal of
Geotechnical Engineering, Vol 121, N0.5, May 1995, pp 436-441
11. Kouda M, Okamoto M, Takemura J, Kimura T, 1998, Direct
measurement of P-y relationship of piles in sand Centrifuge 98, Ed.

31
12. Kim, J.B, Brungraber R.J., 1976, Full scale lateral load tests of pile
groups Journal of the Geotechnical Enginering Division, Proc. of
ASCE, Vol 102, No.GT1, July 1976, pp.87-105
13. Rollins K.M, Peterson K.T, Weaver T.J,, 1998 Lateral load behavior
of full scale pile group in Clay Journal of Geotechnical and
Geoenvironment Engineering, Vol.124, No.6, pp468-478, June 1998.
14. Broms B.B,1964 Lateral resistance of piles in cohesive soils Journal
of the Soil Mechanics and Foundations Division, Proceedings of the
American Society of Civil engineers, Vol.90, N0.SM2, pp27-63, March
1964
15. Matlock H, 1970 Correlation for design of laterally loaded pile in soft
clay Second Annual Offshore Technology Conference , April, 1970,
Houston, Texas
16. Bransby M.F, 1999, Selection of p-y curves for the design of single
laterally loaded piles International journal for numerical and
analytical methods in geomechanics, 23, pp.1909-1926, 1999
17. Ko H.Y, Atkinson R.H, Goble G.G, Ealy C.D, 1984 Centrifugal
modeling of pile foundations Analysis and Design of Pile
Foundations, Mayer J.R(editor), ASCE publications,pp 21-40
18. TA.Newson, MF.Bransby & G.Kanourgiaki. The use of small
centrifuges for geotechnical education . Physical modelling in
Geotechnics: ICPMG 02, Philips, Guo & Popescue(eds) @ 2002 Swets
& Zetlinger Lisse, ISBN 90 5809 389 1
19. SPG Madabhushi & WA Take. Use of mini-drum centrifuge for
teaching of geotechnical engineering. Physical modelling in
Geotechnics: ICPMG 02, Philips, Guo & Popescue(eds) @ 2002 Swets
& Zetlinger Lisse, ISBN 90 5809 389 1
20. O.Matsuo, S.Nakamura & Y.Saito. Centrifuge tests on seismic
behaviiour of retaining walls. Physical modelling in Geotechnics:
ICPMG 02, Philips, Guo & Popescue(eds) @ 2002 Swets & Zetlinger
Lisse, ISBN 90 5809 389 1
21. Iai,S,2001.Mechanics of model test: 1g field. Presentation at 15th
International Conference on soil Mechanics and geotechnical
Engineering TC2 Workshop, August 2001, Istanbul.

32
RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
Nama lengkap
: Tommy Ilyas
NIP
:
130675142
Pangkat/Golongan
: Pembina Utama Muda (Gol IV/c)
Jabatan terakhir
: Guru Besar pada Fakultas Teknik UI
Tempat & Tgl. Lahir
: Padang, 5 Mei 1951
Jenis Kelamin
: Pria
Agama
:
Islam
Status Perkawinan
: Menikah
Nama Istri

: Diana Indrawati
Nama Anak

: 1. Ihtiar Nur (Mhs FTUI)

2. Marina Annisa (Siswi SMU klas 3)

3. Fitri Nurandianti (Siswi SD klas 4)
Nama Orang Tua
: Ilyas Sutan Maradjo

Wartini
Nama Mertua
: dr A. Azis

Yusnaini

Riwayat Pendidikan Formal
1963

: Sekolah Dasar Hutabarat di Bogor
1966

: SMP Negeri 2 di Bogor
1969

: SMA Negeri 2 di Bogor
1977

: Fakultas Teknik Universitas Indonsia (Ir)
1983

: University of Sheffield UK England (M.Eng)
2002
:
Universitas
Indonesia
(Dr)

33
Riwayat Kepangkatan
1 Februari 1978
: Penata Muda, III/a, Asisten Ahli Madya
1 April 1980

: Penata Muda Tk I, III/b, Asisten Ahli
1 Oktober 1984
: Penata, III/c, Asisten Ahli Kepala
1 Oktober 1986
: Penata Tk.I, III/d, Lektor Madya
29 April 1990
: Pembina IV/a, Lektor
1 Oktober 1995
: Pembina Tk.I, IV/b, Lektor
1 Oktober 2003
: Pembina Utama, IV/c, Lektor Kepala
1 Maret 2006- sekarang : Guru Besar

Riwayat Jabatan Struktural
1-8-1985 s/d 1987
: Pembantu Dekan Bid Adm. Umum FTUI
19-12-1987 s/d 1991
: Pembantu Dekan Bid Adm. Umum FTUI
1991 1998
: Direktur World Bank Project Loan 2944; 3311
(HEDP), DUE dan QUE
17-7-2002 s/d April 2006: Sekretaris Ditjen Dikti Depdiknas

Organisasi
Anggota HATTI (Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia)
Anggota HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)
Anggota HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia)
Anggota HAMKI (Himpunan Ahli Managemen Konstruksi Indonesia)

Seminar/Conference/Symposium

2001
Pembicara pada Pertemuan Ilmiah tahunan Geoteknik V 2001

Moderator pada Pertemuan Ilmiah tahunan Geoteknik V 2001
2002
Pembicara pada The International on Physical Modeling in
Geotechnics in St.Johns Newfoundland, Canada-July 10-12
2003
Pemakalah dalam Seminar Quality in Research ke 6 Fakultas
Teknik UI, 1-2 Oktober 2003

34

Pembicara pada Seminar Ilmiah dengan tema Kesiapan
Fak.Teknik Univ.Brawijaya dalam menyongsong BHMN
Unibraw, Malang, 18 Oktober 2003.

Pembicara pada Lokakarya Penjaminan Mutu Akademik dan
Kewirausahaan di Universitas Indonesia, 21-22 Oktober 2003

Pembicara pada Sarasehan Penyusunan Visi dan Misi FTI-ITS
Reposisi Peran FTI ITS Selaras Dengan Tantangan Zaman,
11-12 Desember 2003

Pembicara pada Konferensi Geoteknik Indonesia VI dan
Pertemuan Ilmiah tahunan VII, 11-13 Agustus 2003
2004
Peserta Symposium on Strategic Choices for Higher
Education Reform and Quality Assurance, Bangkok, Thailand,
27-29 April 2004

Pembicara pada Konferensi Geoteknik Indonesia VIII, 3-4
Agustus
2005
Menghadiri The World Wide Education & Research
Conference 2005 di San Fransisco, Amerika Serikat, 14-17
Februari 2005
2006
Menghadiri The World Wide Education & Research
Conference 2006 di New York, Amerika Serikat, 6-9 Maret;

Pembicara pada Symposium Student Loan Fund di Bangkok
16-18 Maret 2006

Publikasi Ilmiah
1.
T.Ilyas, Leung CF, Chow YK and Budi SS,2002, Performance of
Laterally Loaded Pile Group in Clay. International Conference on
Physical Mdellingin Geoechnics 10-12 July 2002, Canada.
2.
T.Ilyas dan Budi Supandji, 2001, Kinerja grup tiang yang
menerima beban lateral di lapisan lempung : Studi model
centrifuge. Seminar Nasional HATTI, Bandung 7-8 November
2001.
3.
T.Ilyas, 2002 Studi model centrifuge dari grup tiang yang dibebani
beban lateral pada lapisan lempung: Karakteristik bending
momen. Jurnal Teknologi, ISSN 215-1685
4.
T.Ilyas, Hardjanto Analisis Perilaku Pile Cap dari Grup Tiang
Terhadap Beban Lateral Statis: Studi pada Tanah Lempung dengan
Memperhatikan Shadowing Effect. Prosiding Konferensi Geoteknik
Indonesia VI dan Pertemuan Ilmiah Tahunan VII, Hotel Horison
Jakarta, 11-13 Agustus 2003, ISBN 979-96668-3-X

35
5.
T.Ilyas, CF Leung, YK Chow, SS Budi.Analysis of Laterally Loaded
Pile Group in Clay. Proceeding of the 12th Asian Regional
conference on Soil Mechanics and Geotechnical Engineering. Vol.1,
2003
6.
T.Ilyas, Hardjanto Analysis of Pile Group behavour under Static
Load. Construction and Structural Engineerig Studies Center
Journal Vol.4, Number 2, December 2003, ISSN 1411-306
7.
T.Ilyas, CF Leung, YK Chow, SS Budi Centrifuge Model Studi of
Laterally Loaded Pile Groups in Clay. Journal of Geotechnical
Engineering March 2004 Vol.130, Number 3 ISSN 1090-0241.
8.
T.Ilyas Kegagalan Lereng (Slope Failure) Studi Kasus: Jalan Antara
Samarinda Tenggarong. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan
VIII. Pusat Studi Jepang- UI, 3-4 Agustus 2004, ISBN 979-96668-
3-X.
9.
T.Ilyas, Damrizal D, Erly Bahsan, Agus Indriyono, Rita P, S
Rasdiyati Kelongsoran pada Bantaran Sungai: Studi Kasus
Bantaran Kali Ciliwung Wilayah Jakarta Selatan dan Timur. Jurnal
Teknologi, Edisi No.3 Tahun XIX, September 2005, ISSN 0215-
1685.
10. T.Ilyas, CF Leung, YK Chow, SS Budi.Discussion of Centrifuge
Model Studi of Laterally Loaded Pile Groups in Clay. Journal of
Geotechnical Engineering October 2005 Vol.135, Number 3 ISSN
1090-0241.

36
Document Outline

  • Kelebihan dan keterbatasan
  • Prinsip pemodelan
  • Prinsip skala
  • Memodelkan sebuah model (modelling of model)

Incoming search terms:

  • yusni gg philips
loading...

Leave a Reply