Isi Teks Pidato Obama UI Sub Indonesia

Terima kasih atas sambutan yang hangat ini. Terima kasih kepada semua penduduk J
akarta. Dan terima kasih bagi seluruh bangsa Indonesia.

*

Saya senang akhirnya bisa berkunjung ke negeri ini dengan ditemani oleh Michelle
. Tahun ini, kami telah dua kali gagal datang ke Indonesia. Namun, saya berkeras
untuk menyambangi sebuah negeri yang amat bermakna bagi saya ini. Sayangnya, la
watan ini begitu singkat. Tapi saya berharap bisa datang lagi tahun depan pada s
aat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur.

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa doa dan perhatian ka
mi tertuju kepada para korban bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini,
khususnya bagi mereka yang kehilangan orang tercinta serta tempat tinggal. Ameri
ka Serikat senantiasa ada di sisi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menghada
pi bencana alam ini, dan kami akan dengan senang hati menolong semampunya. Sebag
aimana tetangga yang mengulurkan tangan kepada tetangganya yang lain, dan banyak
keluarga menampung orang-orang yang kehilangan rumah, saya tahu bahwa kekuatan
dan ketahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan sanggup mengangkat kalian
keluar dari kesusahan ini.

Saya akan memulai dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya.
Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi
seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdamp
ar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa
berada di rumah saya sendiri.

Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki gedung-gedung
yang tak begitu tinggi. Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi. Kala
itu, ada sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih
banyak daripada kendaraan bermotor. Dan jalan raya tersisih oleh jalan-jalan ka
mpung tak beraspal.

Kami tinggal di Menteng Dalam, pada sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuh
i sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan
layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jaj
an sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenangkan adalah ora
ng-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak
-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-gu
ru yang mengajarkan keluasan dunia.

Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan orang-orang dari
berbagai daerah dan suku, periode saya tinggal di negeri ini melapangkan jalan
bagi saya menghargai kemanusiaan. Walau ayah tiri saya, sebagaimana orang Indone
sia umumnya, dibesarkan sebagai seorang Muslim, ia sepenuhnya percaya bahwa semu
a agama patut dihargai secara setara. Dengan cara itu, ia mencerminkan semangat
toleransi keberagamaan yang diabadikan dalam Undang-undang Dasar Indonesia yang
tetap menjadi salah satu ciri negeri ini, yang tentunya memberi inspirasi.

Saya tinggal di kota ini selama bertahun-tahun — sungguh suatu masa yang memben
tuk masa kecil saya; suatu masa yang menjadi saksi bagi kelahiran adik saya yang
manis, Maya; dan suatu masa yang telah memesona ibu saya sehingga ia terus-mene
rus menghampiri Indonesia 20 tahun kemudian untuk tinggal, bekerja dan bepergian
– mengejar hasratnya mendorong terbukanya kesempatan di pedesaan Indonesia khus
usnya bagi perempuan. Sepanjang hidupnya, negeri ini, beserta orang-orangnya, te
tap tersimpan di hati ibu saya.

Begitu banyak yang berubah dalam empat dekade ini sejak saya kembali ke Hawaii.
Jika kalian bertanya kepada saya – atau teman sekolah pada masa itu yang mengena
l saya – saya yakin tak ada di antara kami yang mampu menyangka bahwa saya akankembali ke negeri ini sebagai Presiden Amerika Serikat. Dan beberapa orang semes
tinya bisa meramalkan kisah luar biasa yang melibatkan Indonesia dalam empat dek
ade terakhir.

Jakarta yang dahulu saya kenal kini telah berkembang menjadi sebuah kota yang di
jejali hampir sepuluh juta manusia, gedung-gedung pencakar langit yang membuat H
otel Indonesia terlihat kerdil, serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan. Du
lu saya dan kawan-kawan semasa kanak biasa berkejar-kejaran di lapangan ditemani
kerbau dan kambing. Kini, generasi baru Indonesia termasuk dalam golongan palin
g terhubung dalam jagat komunikasi dunia melalui telepon genggam dan media sosia
l. Dulu, Indonesia sebagai bangsa yang masih muda berfokus ke dalam. Kini, bangs
a ini memainkan peran penting di kawasan Asia-Pasifik dan ekonomi global.

Perubahan ini menjangkau ranah politik. Waktu ayah tiri saya masih kanak, ia men
yaksikan ayah dan abangnya pergi berperang dan tewas demi kemerdekaan Indonesia.
Saya lega bisa ada di sini tepat ketika Hari Pahlawan untuk mengingat jasa begi
tu banyak orang Indonesia yang rela berkorban demi negara yang besar ini.

Ketika saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, beberapa daerah di negeri ini bar
u saja mengalami penderitaan dan konflik yang hebat. Meski ayah tiri saya pernah
menjadi seorang tentara, kekerasan dan pembantaian yang terjadi pada masa kekis
ruhan politik itu tak dapat saya pahami karena keluarga Indonesia dan teman-tema
n saya memilih bungkam. Di dalam rumah tangga saya, seperti keluarga Indonesia u
mumnya, peristiwa itu hadir secara sembunyi-sembunyi. Bangsa Indonesia merdeka,
tapi rasa takut senantiasa mengikuti.

Pada masa-masa sesudahnya, Indonesia memilih jalurnya sendiri melalui tranformas
i demokratis yang luar biasa – dari pemerintahan tangan besi, ke pemerintahan ra
kyat. Tahun-tahun belakangan, dunia menyaksikan dengan harapan dan rasa kagum us
aha bangsa Indonesia merengkuh peralihan kekuasaan dengan jalan damai dan pemili
han kepala negara serta daerah secara langsung. Ketika demokrasi di negeri ini d
isimbolkan oleh terpilihnya Presiden dan wakil rakyat, ketika itu pula demokrasi
dijalankan dan dipelihara melalui kontrol dan keseimbangan (check dan balance):
Sebuah masyarakat madani, partai dan serikat politik yang madani; media dan war
ga negara penuh semangat yang telah yakin bahwa – di dalam Indonesia – tak ada l
agi jalan memutar.

Bahkan ketika tanah tempat kemudaan saya pernah berlalu ini telah berubah banyak
, hal-hal yang pernah saya pelajari untuk mencintai Indonesia – semangat toleran
si yang tercantum dalam Undang-undang Dasar dan terpacak melalui masjid, gereja
dan candi, pun tertanam dalam darah bangsa – masih mengalir di tubuh saya. Bhinn
eka Tunggal Ika – persatuan dalam keragaman. Falsafah itu merupakan pondasi yang
dicontohkan Indonesia kepada dunia. Itu sebabnya Indonesia akan memainkan peran
penting pada abad ke-21.

Hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat sekaligus Presiden y
ang mengharapkan terjalinnya kerja sama erat antar kedua negara. Sebagai negara
yang luas dan majemuk, berdamping-dampingan dengan Samudera Pasifik dan, di atas
itu semua, demokrasi, Amerika Serikat dan Indonesia ditakdirkan bersama oleh ke
pentingan dan nilai-nilai yang sama.

Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya menyetujui Kerja Sama Komprehensif yang bar
u antara Amerika Serikat dan Indonesia. Pemerintahan kedua negara mempererat hub
ungan di berbagai bidang dan, yang juga penting, memperkuat hubungan antar bangs
a. Kerja sama ini tentunya berdasar atas rasa saling membutuhkan dan saling meng
hormati.

Dengan sisa waktu yang saya miliki hari ini, saya ingin berbagi tentang mengapa
kisah yang baru saja saya utarakan begitu penting bagi Amerika Serikat dan dunia
. Saya ingin menitikberatkan pembahasan pada tiga hal yang saling berkait-erat serta mendasar bagi kemajuan manusia: Pembangunan, demokrasi dan agama.

Pertama, persahabatan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat m
emajukan pembangunan yang saling menguntungkan.

Ketika saya hidup di Indonesia, sulit membayangkan sebuah masa depan dimana kema
kmuran yang dirasakan oleh banyak keluarga di Chicago dan Jakarta akan berhubung
an. Kini, kita ada pada zaman ekonomi global. Bangsa Indonesia telah merasakan r
isiko dan harapan dari globalisasi: Mulai dari krisis ekonomi Asia yang terjadi
pada akhir tahun 1990, dan jutaan orang yang berhasil bangkit dari kemiskinan. A
rtinya, dan yang akhirnya kita pelajari dari krisis ekonomi barusan, masing-masi
ng dari kita memiliki sumbangsih pada keberhasilan yang diraih pihak lain.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap sebagian dari Indonesia yang merasakan kema
kmuran, karena tumbuhnya kelas menengah di sini juga berarti timbulnya pasar bag
i produk-produk kami seperti juga Amerika merupakan pasar bagi Indonesia. Karena
itu, kami menanamkan modal lebih banyak di Indonesia. Ekspor dari Amerika telah
naik 50 persen, dan kami membuka pintu bagi pengusaha Amerika dan Indonesia unt
uk saling berhubungan.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia, yang memainkan peranannya dalam
perekonomian global. Hari-hari ketika tujuh atau delapan negara membentuk kelomp
ok dan menentukan arah perekonomian dunia telah berlalu. Karena itulah saat ini
G-20 telah menjadi pusat kerja sama ekonomi internasional: Hal yang memungkinkan
negeri seperti Indonesia memiliki suara lebih nyaring dan tanggung jawab lebih
besar. Melalui kepemimpinan Indonesia di dalam kelompok G-20 yang memerangi koru
psi, negeri ini harus ada di depan pada panggung dunia dengan memberikan contoh
baik dalam mempraktikkan transparansi dan akuntabilitas.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia yang mengejar pembangunan berkela
njutan. Karena cara kita bertumbuh akan mempengaruhi kualitas hidup kita serta k
esejahteraan planet yang kita diami. Karena itulah kita mengembangkan teknologi
untuk menghasilkan energi bersih yang mampu menopang industri dan menjaga sumber
daya alam Indonesia. Amerika menyambut kepemimpinan negeri anda dalam usaha glo
bal memerangi perubahan iklim.

Di atas itu semua, Amerika memiliki sumbangsih terhadap keberhasilan manusia Ind
onesia. Kita harus membangun jembatan yang menghubungkan kedua bangsa karena kit
a akan berbagi jaminan dan kemakmuran di masa nanti. Itu yang kini sedang kita r
intis: Meningkatkan kolaborasi antara ilmuwan dan peneliti kita serta bekerja sa
ma memelihara kewirausahaan. Saya pribadi puas karena kita berhasil meningkatkan
jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang meneruskan pendidikan di universitas-
universitas yang ada pada kedua negara.

Baru saja saya bicarakan masalah-masalah penting dalam kehidupan kita. Lagipula,
pembangunan tak melulu hanya berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan angka-a
ngka dalam neraca. Pembangunan juga menyangkut bagaimana seorang anak mampu memp
elajari keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang selalu berubah
. Pembangunan berkaitan dengan bagaimana gagasan baik dapat diwujudkan dan tak t
ercemar dengan korupsi. Pembangunan juga berhubungan dengan bagaiman kekuatan-ke
kuatan yang telah mengubah Jakarta yang pernah saya kenal – teknologi, perdagang
an, arus keluar-masuk orang dan barang – mampu membuat hidup orang jadi lebih ba
ik: Kehidupan uang ditandai dengan martabat dan kesempatan.

Pembangunan semacam itu tak mampu dipisahkan dari demokrasi.

Kini, kita sering mendengar bahwa demokrasi menghalangi pertumbuhan ekonomi. Ini
bukanlah alasan baru. Orang akan berkata, khususnya di tengah perubahan dan kon
disi ekonomi tak menentu, bahwa pembangunan akan lebih mudah dijalankan dengan m
engorbankan hak asasi manusia. Tapi, saya tak melihat itu di India, juga Indonesia. Apa yang kalian telah raih menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan salin
g menopang.

Seperti laiknya demokrasi di negara lain, halangan selalu merintangi. Amerika ju
ga mengalaminya. Undang-undang Dasar yang kami miliki menyatakan upaya untuk men
empa “penyatuan lebih sempurna.” Kami telah menempuh perjalanan untuk meraih itu
. Kami melewati Perang Saudara dan berjuang menegakkan hak-hak pribadi warga neg
ara Amerika Serikat. Usaha itu kemudian membuat kami lebih kuat dan sejahtera se
rta menjadi sebuah masyarakat yang lebih adil dan bebas.

Seperti negara lain yang bangkit dari pemerintahan kolonial di abad lalu, Indone
sia berjuang dan berkorban demi memiliki hak menentukan nasib sendiri. Itulah ma
kna Hari Pahlawan sesungguhnya: Sebuah Indonesia yang dimiliki oleh bangsa Indon
esia. Tapi, secara bersamaan, kemerdekaan yang telah didapatkan itu tak pula ber
arti menggantikan kekuatan kolonial dengan kekuatan pemerintahan lokal.

Tentunya, demokrasi morat-marit. Tak semua pihak menyukai hasil akhir suatu pemi
lihan umum. Kalian semua mengalami segala suka dan duka. Namun, perjalanan itu p
atut dilewati karena tak hanya melulu mengenai surat suara. Butuh lembaga yang k
uat untuk mengontrol pemusatan kekuatan. Butuh pasar terbuka untuk memungkinkan
banyak individu maju. Butuh pers dan sistem peradilan yang independen. Butuh mas
yarakat terbuka dan warga negara yang aktif untuk melawan ketimpangan dan ketida
kadilan.

Yang demikian adalah kekuatan yang akan mendorong Indonesia. Korupsi harus dilaw
an. Komitmen pada keterbukaan, yang memungkinkan tiap warga memiliki sumbangsih
terhadap pemerintahannya, mesti ada. Kepercayaan bahwa kemerdekaan yang telah di
rebut merupakan hal yang tetap menyatukan negeri ini harus ditumbuhkan.

Itu adalah pesan dari manusia Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis in
i: Dari mereka yang berperang di Surabaya 55 tahun lampau; kepada para mahasiswa
yang tergabung dalam demonstrasi tahun 1990an; kepada para pemimpin yang telah
berhasil menjalani transisi kekuasaan secara damai pada awal abad ini. Karena, a
khirnya, para warga negara memiliki hak untuk menyatukan Nusantara, yang membent
ang sepanjang Sabang dan Merauke: Sebuah penegasan bahwa setiap bayi yang lahir
di negeri ini wajib diperlakukan dengan adil meski mereka berketurunan Jawa, Ace
h, Bali atau Papua.

Upaya-upaya semacam itu ditunjukkan Indonesia kepada dunia. Negeri ini berinisia
tif membentuk Forum Demokrasi Bali, sebuah forum bagi negara-negara untuk berbag
i pengalaman dalam menjaga demokrasi. Indonesia juga telah berusaha menekan ASEA
N memperhatikan hak asasi manusia. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara berhak menentu
kan takdirnya sendiri dan Amerika Serikat akan mendukung upaya itu. Namun, warga
Asia Tenggara harus pula memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri. Itu seba
bnya kami mengutuk pemilihan umum di Burma, yang jauh dari kebebasan maupun kead
ilan. Itu sebabnya kami menyokong masyarakat madani yang penuh semangat di neger
i ini. Tidak ada alasan untuk mencegah penegakan hak asasi manusia di manapun.

Itulah pembangunan dan demokrasi – gagasan bahwa ada nilai-nilai yang sifatnya u
niversal. Kemakmuran tanpa kemerdekaan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Manus
ia memiliki cita-cita bersama: Kebebasan untuk tahu bahwa pemimpinmu bertanggung
jawab atasmu dan bahwa anda takkan dibui bila memiliki pandangan yang bersebera
ngan dengannya. Anda memiliki kesempatan belajar dan bekerja dengan kemuliaan. A
nda bebas menjalankan kepercayaan yang anda anut tanpa takut dikucilkan.

Agama merupakan topik terakhir yang akan saya bicarakan hari ini dan, seperti la
yaknya demokrasi dan pembangunan, merupakan hal mendasar bagi kisah Indonesia.

Seperti negara Asia lain yang saya kunjungi, Indonesia tenggelam dalam spiritual
itas: Sebuah tempat manusia menyembah Tuhan dengan berbagai cara. Sejalan dengankeberagamannya, Indonesia juga negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di
dunia – hal yang telah saya ketahui sejak kecil ketika mendengar lantunan azan
di Jakarta.

Suatu Individu tak hanya didefinisikan berdasarkan kepercayaannya. Begitu pula I
ndonesia. Negeri ini tidak hanya ditetapkan berdasarkan penduduk Muslimnya. Kita
juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam telah lama
rusak. Sebagai Presiden, saya mendahulukan perbaikan atas hubungan yang rusak i
ni. Salah satu upaya itu adalah kunjungan ke Kairo pada bulan Juni yang lalu dan
keinginan untuk memulai lagi hubungan yang baru antara Amerika Serikat dan umat
Islam sedunia.

Waktu itu saya bilang, dan akan saya ulangi sekarang, bahwa tak ada satu pidato
pun yang dapat menghapuskan tahun-tahun penuh ketidakpercayaan. Tapi waktu itu s
aya percaya, demikian pula sekarang, bahwa kita punya pilihan. Kita bisa memilih
untuk bisa menetapkan diri kita berdasarkan perbedaan-perbedaan yang kita milik
i dan menyerah pada masa depan yang penuh kecurigaan dan ketidakpercayaan. Atau
kita bisa memilih untuk bekerja keras demi memelihara persamaan hak. Saya berjan
ji, apapun rintangannya, Amerika Serikat akan berkomitmen memajukan manusia. Itu
lah kami. Kami telah melakukannya. Kami akan terus menjalankannya.

Kami tahu baik masalah-masalah yang menyebabkan adanya tekanan bertahun-tahun in
i. Kami telah menciptakan kemajuan setelah 17 bulan pemerintahan. Tapi, pekerjaa
n belum selesai.

Banyak warga tak berdosa di Amerika, Indonesia dan belahan dunia lainnya masih m
enjadi target kaum ekstremis. Saya telah menegaskan bahwa Amerika tidak sedang m
emerangi, dan takkan terlibat perang dengan, Islam. Namun, kita semua harus meng
hancurkan Al-Qaeda dan antek-anteknya. Siapapun yang ingin membangun tak boleh b
ekerja sama dengan teroris. Ini bukanlah tugas Amerika sendiri. Indonesia telah
berhasil memerangi para teroris dan aliran garis keras.

Di Afghanistan, kami terus bekerja bersama beberapa negara untuk membantu pemeri
ntah Afghanistan meretas masa depannya. Kepentingan kami di sana adalah memungki
nkan terwujudnya perdamaian yang pada akhirnya mampu memunculkan harapan bagi ne
geri itu.

Kami juga telah mencatat kemajuan dalam salah satu komitmen utama kami: Upaya me
ngakhiri perang di Irak. 100 ribu tentara Amerika telah meninggalkan negeri itu.
Penduduk Irak telah memiliki tanggung jawab penuh atas keamanan mereka. Kami te
rus mendukung Irak dalam prosesnya membentuk pemerintahan yang inklusif. Kami ju
ga akan memulangkan seluruh tentara AS.

Di Timur Tengah, kami telah menghadapi permulaan yang gagal serta halangan. Namu
n, kami juga terus menjaga upaya merengkuh perdamaian. Bangsa Israel dan Palesti
na memulai kembali perundingan. Namun, masih ada masalah besar di sana. Ilusi ba
hwa kedamaian dan keamanan akan datang dengan mudah tak boleh muncul. Tapi, sing
kirkanlah keragu-raguan: Kami takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh
hasil yang adil bagi semua pihak yang bertikai: Dua negara, Israel dan Palestina
, hidup berdampingan secara damai dan sentosa.

Penyelesaian atas masalah-masalah itu memiliki taruhan yang besar. Dunia yang ki
ta huni telah menjadi kian kecil. Sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan
kita membuka kesempatan, kekuatan-kekuatan itu juga menyokong pihak yang ingin
menghambat kemajuan. Sebuah bom di tengah pasar melumpuhkan kegiatan jual-beli.
Sepotong gosip dapat mengaburkan kebenaran dan memicu kekerasan di tengah masyar
akat yang sebelumnya hidup rukun. Di zaman ini, ketika perubahan begitu cepat da
n berbagai budaya berbenturan, apa yang kita bagikan sebagai manusia dapat musna
h.Saya percaya bahwa sejarah Indonesia dan Amerika mampu memberikan kita harapan.
Kisah keduanya tertulis dalam semboyan yang dimiliki oleh negara kita masing-mas
ing. E pluribus unum – beragam tapi bersatu. Bhinneka Tunggal Ika – persatuan da
lam keberagaman. Kita dua bangsa yang mengambil jalan masing-masing. Namun kedua
negara ini menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki kepercayaan berbe
da mampu bersatu dengan merdeka di bawah satu bendera. Dan kita sekarang membang
un kemanusiaan melalui anak-anak muda yang akan melalui pendidikan di sekolah ma
sing-masing; melalui wirausahawan yang saling berhubungan demi meraih kemakmuran
; dan melalui upaya kita memeluk nilai-nilai demokrasi serta cita-cita manusiawi
.

Tadi saya mampir ke Masjid Istiqlal. Rumah ibadah itu masih dalam pengerjaan ket
ika saya tinggal di Jakarta. Saya mengagumi menaranya yang menjulang, kubah yang
megah, serta tempatnya yang lapang. Namun, nama serta sejarahnya juga menjadi s
aksi kebesaran Indonesia. Istiqlal maknanya kemerdekaan. Bangunan itu sebagianny
a merupakan wasiat perjuangan sebuah bangsa menuju kemerdekaan. Terlebih lagi, m
asjid itu dibangun oleh seorang arsitek Kristen.

Itulah semangat Indonesia. Itulah pesan yang diimbuhkan dalam Pancasila. Di sebu
ah negeri kepulauan yang berisi beberapa ciptaan Tuhan yang paling elok, pulau-p
ulau yang menyembul dari samudera, orang bebas memilih Tuhan yang ingin mereka s
embah. Islam berkembang, begitu pula ajaran lain. Pembangunan diperkuat oleh dem
okrasi yang sedang berkembang. Tradisi purba terpelihara meski sebuah kekuatan s
edang lahir.

Tapi bukan berarti Indonesia negeri sempurna. Tak ada satu negeri pun yang bisa.
Tapi di sini ras, wilayah, dan agama yang berbeda mampu dijembatani. Sebagai se
orang bocah yang berasal dari suatu ras dan datang dari sebuah negeri yang jauh,
saya menemukan semangat untuk melihat diri sebagai seorang individu dalam ucapa
n “Selamat Datang”. Sebagai seorang pemeluk Kristiani yang mengunjungi masjid, s
aya mengutip pendapat seseorang yang ditanyai tentang kunjungan saya: “Orang Isl
am juga boleh masuk gereja. Kita semua adalah umat Tuhan.”

Ungkapan itu mencetuskan gagasan bahwa sifat ketuhanan ada di dalam diri kita. K
ita tak boleh menyerah pada penyangkalan atau sinisisme atau keputusasaan. Kisah
yang melibatkan Indonesia dan Amerika menunjukkan kepada kita bahwa sejarah men
gikuti perkembangan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; dan
bahwa warga dunia dapat hidup dengan damai. Semoga kedua negeri kita dapat teru
s bekerja sama, dengan kepercayaan dan determinasi, menyebarkan kebenaran-kebena
ran ini dengan seluruh manusia.

Leave a Reply