Pidato Terhebat Presiden SBY

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN
AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH SERPONG
20 JANUARI 2010

Bismillahhirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Wr Wb

Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, Presiden Republik Indonesia ketiga, Bapak Prof. Dr. Baharudin Jusuf
Habibie,
Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu
II,
Yang Mulia Ambassador Cameron Hume,
Yang saya hormati Gubernur Banten,
Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam
AIPI, LIPI, dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Marilah kita bersama-sama, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita tetap diberi kekuatan, dan
insya Allah kesehatan, sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang
membahagiakan ini.

Melalui kesempatan ini pula, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada
para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan
Indonesia (AIPI), atas pemikiran, kajian, dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat,
bangsa, dan negara. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini, tentu tidak terlepas dari
kontribusi saudara semua.

Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack
Obama, yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. Pandangan yang
konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di
bidang Iptek, pendidikan, energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik.
Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy,
Mr. Bruce Alberts, yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. Mari kita
doakan, agar Mr. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala.

Saudara-saudara, Kita sungguh berharap, pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah
peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat, di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan
Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif, yang mencakup kerja sama dalam
berbagai sektor penting bagi kedua negara. Dalam kaitan ini, kerja sama di bidang
pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara.
Insya Allah, Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden
Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini.

Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu,
bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan barua new
beginningdengan dunia Islam, yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi. Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA, memang,
kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization), kita perlu terus
membangun jembatan antar-peradaban, terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam.
Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power, yang akan memperkokoh
landasan bagi perdamaian dunia.

KEDUA, Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuanbahkan
Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. Bahkan, puncak kejayaan Islam sebagai
peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi, karena umat Islam
membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. Dengan pusat peradaban di
Baghdad, umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan
manfaatnya: kompas, anestesi, aljabar, optik, astrologi, irigasi, navigasi, kimia, teknik
sipil, rumah sakit pertama, dan kapal-kapal perdagangan. Pesan dan pelajaran sejarah ini
masih tetap relevanbahkan semakin relevansekarang: siapa yang mau maju, harus
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dan KETIGA, tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21, tanpa
penguasaan umat Islam di bidang iptek. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa
komunitas Islam, sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian
Millenium Development Goals, dan Human Development Index, masih banyak yang hidup di
bawah garis kemiskinan, serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. Masih banyak
umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu, tanpa memahami
bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar.

Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu, dan juga dalam artikel The
Economists yang saya tulis, saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti
skenario clash of civilizations. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu
confluence of civilizations, di mana seluruh peradaban duniaapakah Barat, Islam,
Timurdapat hidup berdampingan secara damai, dan dapat saling memperkaya dan
melengkapi. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia, tetapi suatu visi yang realistis
and achieveable vision.

Hadirin yang saya hormati,Mari kita memulai dengan suatu preposisi: Abad ke-21 akan
menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia. Disadari atau tidak, kita
sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. Ada yang menyatakan
bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang, akan lebih deras daripada perubahan
dalam 100 tahun terakhir.

Kita lihat saja komputer, internet dan telepon selular. Di awal tahun 1990an, email,
komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang. Kini, 20 tahun kemudian,
di seluruh dunia, 1,4 milyar orang telah mempunyai e-mail, ada 1 miliar komputer, dan
3,3 miliar pengguna handphonesekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. Proses ini
akan terus berkembang.

Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21, sebagian besar umat manusia akan terjamah
oleh komputer, internet dan handphone. Peradaban manusia juga sering berubah karena
ide-ide dan penemuan-penemuan baru. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi
militer dengan segala implikasi politiknya. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri
dan mengubah sejarah Eropa. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran
dan menyelamatkan jutaan umat manusia. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom
atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia.

Berbeda dari abad-abad sebelumnya, perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan
bergerak sangat pesat. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun, manusia
dapat bergerak dari kecepatan kuda, ke kecepatan mobil, ke kecepatan jet, ke kecepatan
suara, dan bahkan sudah mendarat di bulan. Sejumlah negarabaik besar maupun kecil
yang dulu dikenal sebagai negara miskin kini telah melejit menjadi ekonomi yang
unggul.

Indonesia sendiri, yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia, kini
telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. Kita juga melihat
perubahan pesat ini di bidang lingkungan, khususnya perubahan iklim. Semenjak revolusi
industri di Eropa 200 tahun lalu, karena ulah manusia, terutama di negara-negara industri
maju, suhu dunia telah naik sekitar 0,6 derajat celcius. Konsentrasi karbondioksida
meningkat 36%, dan lapisan ozon semakin menipis. Kalau kita tidak cepat mengatasinya,
suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan
bagi planet bumirumah kita satu-satunya.

Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini, saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-
21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. Apakah itu
bangsa, perusahaan, komunitas, atau individu, the biggest driver for change adalah
teknologi.

Dewasa ini, kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita
semakin besar. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol, apakah itu untuk
pertanian, industri, perdagangan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertahanan, jasa,
dan lain-lain. Makin nyata, pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat
disumbang oleh penguasaan teknologi. Inilah yang sering disebut sebagai Intangible
Intellectual Resources, atau Knowledge Capital.

Kecenderungan ini akan terus menguat, karena proses pengembangan teknologi tidak akan
pernah berhenti. Dalam abad yang sangat progresif ini, kita tidak bisa lagi hanya mengutuk
masa lalu atau menyalahkan orang lain. Kalau kita gagal, itu adalah kesalahan kita sendiri,
karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Kalau kita kelak tampil unggul di
depan yang lain, itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi.

Saudara-saudara, Karena itulah, kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu
pengetahuan dan teknologi. Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan
tahun adalah, karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. Sebelum kebangkitan nasional
tahun 1908, pada saat Eropa mendominasi dunia, Jepang mengalami Restorasi Meiji,
Amerika Latin menikmati masa kemakmuran, Amerika Utara tumbuh pesat, dan Kerajaan
Islam Otoman berjaya, bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme,
dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan.

Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional, abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. Kita mutlak
membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah, untuk mempertahankan kemerdekaan,
untuk menangkal separatisme, untuk menjaga keutuhan wilayah, untuk membangun
perekonomian, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan untuk mengembangkan jati
diri bangsa. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20.

Di Abad ke-21, situasinya telah berbeda: Hakikatnya, Indonesia tidak punya musuh, dan
tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. Politik bebas aktif Indonesia kini
diabdikan untuk mewujudkan a million friends, zero enemy. Abad ke-21 adalah abad
keunggulan, dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. Kita memerlukan inovasi
untuk memerangi kebodohan, untuk mengentaskan kemiskinan, untuk memacu
pertumbuhan dan produktivitas, dan untuk menjadi bangsa yang terhormat, maju dan
kompetitif.

Saudara-saudara, Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil
dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinambungan. Sesungguhnya pula
merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization).Teknologi
tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu sajabukan seperti membeli barang di
supermarket. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itunamun tidak untuk
mencapai technological society, dan juga knowledge society.

Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek, kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai
urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation BANGSA
INOVASI! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif.

Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan
lakukan. Pertama, adalah mengubah mindset. Ingatlah, innovation is a state of mind.
Inovasi itu adalah suatu semangat, suatu energi, dan suatu etos. Semua fenomena
sejarahapakah itu peradaban Islam, Renaissance di Eropa, Restorasi Meiji di Jepang,
tampilnya Amerika sebagai superpower, the rise of Cina dan Indiasemuanya dimulai
dengan suatu semangat, dan terbangunnya mindset baru, yang kemudian menghasilkan
berbagai inovasi baru, dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besar-besaran.

Karena itulah, kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggula culture of
excellencebaik di birokrasi, di universitas, maupun di sektor swasta. Sistem dan
lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. Ini semua
akan terwujud jika masyarakat kita, kita semua, benar-benar menghargai kerja keras
kaum peneliti, ilmuwan, dan inventor.

Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat, dan bukan menjadi catatan pinggir, apalagi
hidup tanpa penghormatan, tanpa apresiasi, dan tidak sejahtera. Ilmuwan, peneliti dan
inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa, dan menjadi Pendekar
Keunggulan.

Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking, bukan sikap yang kaku dan
dogmatis. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih
progresif dari masanya, dan dari masyarakat, untuk mengembangkan ilmu dan teknologi.
Dalam era globalisasi dewasa ini, Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan
melawan atau menutup diri dari dunia, namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu
dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Karena itulah, kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas
ilmuwan dunia. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset,
baik di Indonesia maupun di luar negeri. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu
dengan ilmuwan internasional, dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat
manusia. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia, namun juga menyumbang
ilmu untuk dunia. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation.

Saudara-saudara faktor kedua adalah, selain didukung mindset yang tepat, inovasi juga
memerlukan Investasi dan Insentif. Inovasi tidak datang dari langit, namun memerlukan
inkubator-inkubatordi lingkungan pemerintah, universitas, perusahaan, dan lain-lain.
Mau tidak mau, harus ada sumberdaya dan dana yang cukup, serta program yang
berkesinambungan.

Pada awal saya mengemban amanah rakyat, saya menyadari bahwa alokasi dana untuk
penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun
2005 masih rendah yaitu sekitar Rp 1 trilyun. Karena itulah, pemerintah terus berupaya
untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai, dan syukur alhamdullilah pada
tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1,9 triliun.

Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. Namun, perlu diingat,
sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN, tetapi
juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya
masing-masing. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang
makin terbuka.

Sementara itu saya berpandangan, bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah
melalui pengembangan enterpreneurship. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik
dengan inovasi, risk-taking, peluang, dan dinamisme. Di Amerika, Cina, India, Jepang,
Korea, dan Singapura, kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan
merebaknya enterpreneurship. Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi
inventor teknologi baru. Namun kita harus cerdik mencari, menyerap dan mengembangkan
teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. Bahkan, sering terjadi, pihak yang lebih
cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi
itu sendiri.

Faktor ketiga adalah, kebijakan pemerintah dan kolaborasi. Kalau kita lihat dari bukti-
bukti empiris, hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi,
apakah itu kolaborasi antar-pemerintah, antar-universitas, antar-perusahaan, antar-
ilmuwan, atau kombinasi dari semuanya. Karena itulah, networking antara inkubator
menjadi sangat penting.

Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-
luasnya dengan lembaga penelitian, lembaga kajian dan universitas manapun di dunia,
karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa
ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa.

Hadirin sekalian yang saya hormati, Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi.
Namun perlu diingat, teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan
tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. Tantangan
itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi,
pemeliharaan lingkungan hidup, peningkatan industri, ketangguhan pertahanan dan
keamanan negara, serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan.Karena itulah,
ke depan, bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi, yang dapat menjawab
tantangan-tantangan pokok itu.

Pertama, teknologi untuk mengentaskan kemiskinanpro-poor technology. Teknologi sering
disalah-persepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja.
Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat
miskin. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil, bibit unggul, teknologi air
bersih, hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa.

Kedua, teknologi hijau green technology. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi
26% untuk tahun 2020 dari business as usual, dan target ini bisa ditingkatkan menjadi
41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. Untuk itu, kita harus menerapkan
pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint), meningkatkan penggunaan
sumber energi terbarukan seperti geothermal, angin, dan surya, serta meningkatkan
teknologi pengawasan hutan, misalnya melalui satelit, untuk mendeteksi hotspot
kebakaran hutan.

Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita, Saudari Tri Mumpuni, telah merintis
pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa, dan telah mendapatkan pengakuan
internasional. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan.

Ketiga, teknologi pangan, yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food
security). Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul,
meningkatkan hasil panen, dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai
kondisi swasembada, bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Saya ingin, pada
saatnya nanti Indonesia menjadi major food producer di dunia internasional.

Keempat, teknologi industri. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang
pencapaian 2 aspek penting, yaitu padat teknologi dan padat karya. Kita harus bisa
membuat industri kita lebih efisien, lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah.
Kita juga harus mulai mencapai high-end products, menciptakan branding yang dikenal
dunia internasional, dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini
cenderung didominasi industri negara-negara maju. Hal ini penting karena pada saat ini
dan ke depan, industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia.

Kelima, teknologi kesehatan. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi
penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1, H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya,
yang pasti akan terus bermutasi mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. Virus
berbahaya, sama seperti bencana alam, akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi
bangsa kita di abad ke-21. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu),
Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri, apalagi kalau menyangkut virus yang
datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. Karena itulah, kita harus bekerja-
sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional,
sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita.

Keenam, teknologi maritim. Sebagai negara Nusantara, kita harus membangun teknologi
kelautan, misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. Kita juga harus
mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya, baik perikanan, hydrocarbon dan mineral. Saat ini, misalnya, kita belum
mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea
drilling. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia, tapi kita belum
menjadi negara maritim yang kuat.

Ketujuh, teknologi pertahanan. Disini, TNI harus terus meningkatkan postur dan
kapabilitasnya, termasuk penguasaan revolution in military affairs (RMA). Kita harus bisa
meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita termasuk melalui
joint production dengan industri militer negara-negara lain, serta bentuk kerjasama yang
lain. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than
war (MOOTW), serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di
dunia.

TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-
pulau terpencil, wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas.
Sementara itu, Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan
operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional, termasuk kelompok teroris yang
juga memanfaatkan teknologi yang canggih.

Dan, kedelapan adalah, teknologi masa depan: yaitu nano technology, bio-engineering,
genomics, robotics, dan lain-lain. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak
sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. Banyak emerging
economies –seperti Cina, India, dan Brazil – yang kini mulai merintis teknologi-teknologi
baru ini. Indonesia tidak boleh tertinggal.

Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat
riset untuk nano-technology. Hadirin sekalian yang saya hormati, Untuk mengembangkan
semua ini, dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional, yaitu suatu pengaturan kelembagaan
yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong, mendukung, menyebarkan
dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor, dan dalam skala nasional. Konsep
seperti ini relatif baru, meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang
mengalami transformasi.

Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas,
yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Saya berpendapat, di
Indonesia, kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional, yang didasarkan pada
suatu kemitraan antara pemerintah, komunitas ilmuwan dan swasta, dan dengan
berkolaborasi dengan dunia internasional. Oleh karena itu, berkaitan dengan pandangan
ini, dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional, yang langsung
bertanggung jawab kepada Presiden, untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi
Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik.

Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi Knowledge Society. Kita
dikaruniai wilayah yang sangat luas, yang terbentang dari Sabang ke Marauke, dari Miangas
ke Pulau Rote. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. Kita memiliki
sumberdaya manusia yang tangguh, yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya
saingnya. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihakbaik dunia Barat,
dunia Islam, negara-negara berkembang, emerging economies, dan lain-lainyang
semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia.

Karenanya, dengan semua ini, ke depan, Indonesia mempunyai peluang emas untuk
memajukan kehidupan bangsa kita. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju,
developed country, adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam, iptek dan
budaya, atau knowledge-based, resource-based and culture-based development.

Kalau visi ini kelak tercapai, bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental,
menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. Mari kita songsong era itu dengan
kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. Insya Allah, dengan ridho Tuhan
Yang Maha Kuasa, serta dengan persatuan, kebersamaan dan kerja keras kita, masa
gemilang itu akan datang.

Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Serpong, 20 Januari 2010

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

http://imperiumindonesia.blogspot.com/

——————————————–
Powered by Rento Budi Rukmawan

Incoming search terms:

  • naskah pidato sby di harvard
  • teks pidato terhebat
loading...

Leave a Reply