Pidato Dies 04 : PENGELOLAAN HAMA TERPADU

48

Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Mataram , 5 April2008

48

PENGELOLAAN HAMA TERPADU

(PERTARUNGAN ANTARA TEKNOLOGI KONVENSIONAL VERSUS MODERN) DALAM RANGKA PENCAPAIAN PRODUKSI PERTANIAN SECARA KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Orasi Ilmiah

Disampaikan pada Upacara Dies Natalis ke 42

Universitas Mataram

2 Oktober 2004

Oleh

(Dosen dan Peneliti bidang Pengendalian Hayati Hama pada Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan-Fakultas Pertanian

Universitas Mataram )

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS MATARAM

2004

Yang terhormat :

Bapak Gubernur Nusa Tenggara Barat

Bapak Rektor Universitas Mataram

Anggota Senat Universitas Mataram

Bapak Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat

Bapak-bapak Anggota Muspida Propinsi Nusa Tenggara Barat

Bapak-bapak perwakilan Universitas/ PerguruAN Tinggi Swasta se NTB

Bapak-bapak Pejabat Sipil dan Militer Nusa Tenggara Barat serta

Para undangan hadirin dan hadirat yang saya hormati pula

Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh

Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian. Kita harus mensyukuri pula atas berbagai nikmat, diantaranya berupa kekayaan sumberdaya alam yang dilimpahkan-Nya serta atas kesempatan dan kemampuan yang kita peroleh untuk mengelola dan memanfaatkannya, walaupun hingga saat ini masih belum mencapai hasil yang optimal. Salam dan salawat kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW

Terima kasih saya ucapkan kepada Rektor serta panitia Dies Natalis Universitas Mataram yang ke 42 yang telah memberikan penghargaan kepada saya untuk menyampaikan pidato ilmiah pada kesempatan yang berharga ini. Semoga Universitas Mataram akan semakin menunjukkan kemajuan sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Negeri kebanggaan masyarakat NTB dan akan lebih mampu mengejar ketinggalannya dari beberapa Perguruan Tinggi yang seusia hampir setengah abad ini.

Para hadirin yang kami hormati,

Tema yang diangkat pada acara Dies Natalis Unram ke 42 saat ini adalah PERGURUAN TINGGI BERKUALITAS UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN . Berkaitan dengan tema tersebut maka saya mencoba untuk menyampaikan pemikiran di bidang pertanian dalam bentuk pidato ilmiah dengan topik : PENGELOLAAN HAMA TERPADU DALAM PERSPEKTIF SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN DI ERA GLOBALISASI

Pertama-tama marilah kita bandingkan dua model pertanian dari aspek keberlanjutan sistem yang pernah ada di Indonesia yaitu :

Sistem tradisional (Pertanian alami) : Kenyataan mengungkapkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah bercocok tanam sejak jaman dulu pada saat jumlah manusia sedikit, lahan luas, air cukup ,varietas unggul (lokal) berlimpah, tahan hama/penyakit, tidak pernah ada pemupukan dan pemberantasan hama, produksi mencukupi, petani sejahtera dengan umur yang panjang. Degradasi lahan diatasi melalui sistem perladangan berpindah (shifting cultivation). Pada sistem ini interaksi antara tanah dengan kehidupan di dalamnya berlangsung secara seimbang dan mencapai suatu suksesi, sehingga diperoleh kehidupan yang stabil dan berkelanjutan. Sistem hara-tanaman bersifat daur tertutup (closed nutrient recycling). Dalam hal ini tidak ada atau sedikit sekali masukan hara dari luar sistem (low external nutrient input). Masukan hara berasal dari daur ulang sisa kehidupan (jasad mati) atau berasal dari udara atau air yang masuk ke dalam sistem

Sistem Modern (Revolusi Hijau): Diawali dari Eropah, dan Indonesia dimulai pada tahun 1970-an hingga saat ini, melalui program Padi-Sentra,Bimas, Inmas, Insus, Supra-Insus, Gema-Palagung, Ketahanan Pangan. Konsep awal adalah untuk mengatasi masalah pertambahan penduduk yang berlangsung seperti deret ukur, sementara pertambahan pangan seperti deret hitung, diperlukan revolusi melalui rekayasa genetika, melalui varietas unggul berumur pendek dengan produktivitas tinggi. Varietas ini respon pupuk tetapi peka terhadap hama/penyakit, lalu berkembanglah industri pupuk dan pestisida. Penggunaan pupuk dan pestisida secara tidak rasional berdampak pada produktivitas mengalami levelling off dan serangan hama sulit dikendalikan, terjadi kerusakan lingkungan karena tercemar. Masukan hara dari luar yang tinggi (high external nutrient input) telah menyebabkan degradasi kesuburan tanah. Akibatnya sifat fisik, kimia dan biologi tanah terganggu dan produktivitas tanaman mengalami stagnasi serta berdampak negatif terhadap lingkungan. Kondisi seperti ini yang memunculkan gagasan dan konsep sistem pertanian berkelanjutan ( Sustainable agriicultural systems ).

Dalam konteks pembangunan sistem pertanian berkelanjutan, pengelolaan sumberdaya pertanian juga dilaksanakan dalam satu pola yang menjamin kelestarian lingkungan hidup, menjaga keseimbangan biologis, memelihara kelestarian dan bahkan memperbaiki kualitas sumberdaya alam sehingga dapat terus dimanfaatkan, dan menerapkan model pemanfaatan sumberdaya yang efisien (Harwood, 1990; TAC, 1988). Penerapan model Pengelolaan Hama terpadu (PHT) merupakan salah satu wujud nyata kebijaksanaan dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan tersebut baik secara nasional maupun Internasional. Demikian juga dari aspek dukungan hukum dan realita global yang membawa konsekuensi akan mengharuskan kita untuk mererapkan prinsip-prinsip dasar tersebut di atas. Oleh karenan itu pada kesempatan ini akan saya sampaikan pemikiran prinsip, strategis dan potensi serta peluang yang perlu dicermati untuk mensukseskan implementasi pembangunan sistem pertanian berkelanjutan melalui praktik pengelolaan hama terpadu .

Bapak Gubernur, Bapak Rektor dan para hadirin yang saya hormati

Dalam menghadapi tantangan perdagangan bebas antara negara-negara Asean (AFTA) sejak tahun 2003 yang lalu, Asia Pasific ( APEC) dan organisasi perdagangan dunia (WTO) pada tahun 2010, sektor pertanian dihadapkan pada kondisi yang kurang mendukung, yaitu: (1) kemampuan sumberdaya manusia yang relatif rendah; (2) lahan serta sarana dan prasarana pertanian yang semakin langka; dan (3) tingginya biaya investasi pertanian di lahan baru. Aktiivitas sektor pertanian yang dilakukan oleh penduduk dan terkonsentrasi pada wilayah padat populasi, yang sebagian besar dilakukan secara tidak ramah lingklungan karena tekanan ekonomi, telah menyebabkan berbagai kerusakan sumberdaya pertanian ( Rasahan, 1996). Hal ini terlihat pada banyak wilayah yang kurang subur dengan kondisi yang tidak stabil, khususnya pada daerah lahan kering dan lahan pasang surut.

Pasar Internasional telah mensyaratkan label ekologi (eco-labelling) untuk berbagai jenis komoditas, yang harus diproduksi dengan proses ramah lingkungan. Produk tersebut dinamakan produk yang eko-efisien atau produk bersih ( Untung, 1996). Dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan, KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brasil pada tahun 1992 telah menetapkan Agenda 21. dalam Agenda 21, bagian II, bab 14 dari Promoting Sustainable Agriculture and Rural development disebutkan ada 12 program pertanian berkelanjutan yang harus diterapkan oleh setiap negara. Salah satunya yang terpenting adalah Pengelolaan dan pengendalian hama terpadu (PHT) atau Integrated Pest management dalam bidang pertanian (butir 1). Dengan demikian , penerapan PHT merupakan satu bagian yang penting dari sisitem usahatani berkelanjutan secara global. Secara Nasional di Indonesia telah diaplikasikan PHT pada berbagai komoditas terutama setelah diterapkannya PHT sebagai satu-satunya kebijakan dalam perlindungan tanaman yang didukung dengan dikeluarkannya UU 12/1992 tentang sistem Budidaya Tanaman, PP No 5/1996 tentang perlindungan tanaman, Inpres 3/1986 tentang pengendalian hama wereng coklat .

Para hadirin yang saya hormati

Konsep dan Prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT)

Pengelolaan Hama terpadu (PHT) adalah suatu cara pendekatan, cara berfikir atau falsafah pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang bertanggung jawab ( Untung, 1993). Konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) merupakan suatu pemikiran atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama secara konvensional yang sangat tergantung pada penggunaan pestisida. Konsep PHT timbul dan berkembang di seluruh dunia karena kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida yang terus meningkat bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup. Kesadaran global akan pentingnya kualitas lingkungan hidup sebagai bagian pemenuhan kesejahteraan hidup telah mendesak akan perlunya diadakan perubahan mendasar tentang berbagai penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pestisida. Apabila penggunaan pestisida harus dikurangi maka masalah yang kemudian muncul dan dihadapi oleh petani adalah bagaimana cara penggunaan pestisida dapat dikurangi tetapi kehilangan atau kerugian hasil akibat serangan hama dapat dihindari. Konsep PHT merupakan alternatif yang tepat untuk menjawab dilema tersebut, karena PHT bertujuan membatasi penggunaan pestisida sesedikit mungkin tetapi sasaran kualitas dan kuantitas produksi pertanian masih dapat dicapai (Luna and Garfield, 1990) .

Untung (1995) menyebutkan beberapa prinsip teknologi PHT yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari sistem usahatani yang berkelanjutan yaitu :

Pengelolaan ekosistem pertanian dengan perpaduan optimal teknik-teknik pengendalian hama dan meminimalkan penggunaan pestisida sintetis yang berspektrum luas.

Promosi dan dukungan pengendalian hayati yang dapat menekan populasi hama sampai pada aras keseimbangan

Kegiatan-kegiatan lapangan PHT seperti pemantauuan, analisis ekosistem, pengambilan keputusan dan interval pengendalian hama.

Teknologi PHT harus bersifat lokasi spesifik dan sesuai dengan keadaan sosial-ekonomi masyarakat.

Teknologi PHT adalah praktis, mudah dipelajari dan diadopsi oleh petani yang kemungkinan kondisi lapangannya berbeda-beda.

Hadirin yang berbahagia

Saya memahami bahwa banyak diantara kita berpola pikir seperti kebanyakan petani khususnya di negaranegara berkembang seperti Indonesia yang masih melaksanakan cara-cara pengendalian dengan pendekatan supresif dan eradikatif yang dianggap paling berhasil meningkatkan produksi pertanian tanpa mempertimbangkan faktor ekologi seperti pada pengelolaan hama terpadu di atas.

Kenyataan menunjukkan bahwa tindakan pengendalian hama yang menggunakan satu taktik saja dapat memberikan hasil pengendalian yang efektif. Namun sebaliknya, seringkali timbul berbagai masalah akibat tindakan sepihak khusunya pengendalian secara kimiawi saja (pengendalian secara konvensional). Oleh karena itu tindakan yang demikian bukanlah cara pendekatan yang baik dan benar, terbukti bahwa efektivitas dan efisiensi pestisida dalam pengendalian hama semakin lama semakin menurun, bahkan timbul berbagai masalah baru yang lebih sulit untuk diatasi.

Ciri-ciri pengendalian hama secara konvensional adalah sebagai berikut ( Sastrosiswojo dan Untung, 1994).:

Tujuan pengendalian hama adalah untuk meberantas dan memusnahkan hama semaksimal mungkin agar program peningkatan produksi tanaman tidak terganggu.

Usaha pemberantasan hama yang paling baik adalah dengan melindungi tanaman dengan bahan kimia yang beracun (pestisida) agar hama tidak mampu menyerang tanaman. Azaz preventif ini dilaksanakan dengan program penyemprotan pestisida berjadwal (sistem kalender).

Karena sasarannya adalah pemberantasan dan pelaksanaannya mengikuti azaz preventif, maka ketergantungan terhadap pestisida organik sintetis berspektrum luas menjadi semakin besar.

Alternatif pemberantasan hama bukan antara satu teknik pengendalian dengan teknik pengendalian lainnya, tetapi kebaikan suatu cara pemberantasan yaitu jenis pestisida yang memberikan hasil yang efektif (cepat dan banyak membunuh hama), caranya mudah serta harganya terjangkau.

Pengambilan keputusan pelaksanaan pengendalian tidak dilakukan atas pengamatan dan keadaan lapangan (ekosistem) tetapi atas dasar yang telah ditentukan yang merupakan paket teknologi budidaya tanaman yang direkomendasikan. Keadaan ekosistem termasuk populasi hama, populasi musuh alami, keadaan tanaman dan keadaan cuaca serta kelayakan sosial ekonomi kurang dipertimbangkan dalam memutuskan penggunaan pestisida.

Program pengendalian hama dan budidaya tanaman pada umumnya kurang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan yang cukup tentang tanaman, ekosistem dan prinsip budidaya tanaman yang bernalar. Petani lebih mengandalkan diri pada intuisi mereka, hasil empirik atau yang berasal dari sumber-sumber lain yang kurang tepat dan mempunyai konsisi yang sama dengan mereka.

Teknologi pengendalikan hama diterapkan secara seragam baik secara spasial (antar tempat) maupun temporal (antar waktu) oleh para pelaksana pengendalian (petani atau perusahaan pertanian /perkebunan) dan tidak disesuaikan dengan keadaan ekosistem serta kemampuan sosial ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diikuti untuk memudahkan perencanaan dan koordinasi serta pengawasan pelaksanaan penendalian hama.

Program pengendalian hama dan perlindungan tanaman pada umumnya masih dianggap sebagai suatu bagian yang mandiri dari program produksi tanaman guna mencapai sasaran peningkatan produksi dan penghasilan petani. Pendekatan fragmental menurut sektor atau bidang pembangunan serta menurut bidang disiplin ilmu seakan-akan menganggap timbul dan berkurangnya serangan hama merupakan peristiwa yang berdiri sendiri dan penanggulangnya dianggap merupakan urusan dan tanggung jawab para penentu keputusan/petugas lapangan/pakar perlindungan tanaman.

Bapak Gubernur, Bapak Rektor dan hadirin yang saya hormati

Setelah bertahun-tahun kita berusaha menerapkan teknologi pengelolaan hama terpadu masih banyak faktor yang menjadi kendala antara lain faktor manusia itu sendiri / petani sebagai pengelola yang secara umum masih menderita penyakit yang disebut dengan Entomofobia. Entomofobia bermakna fobi atau ketakutan berlebihan terhadap serangga artinya sebagian besar petani masih belum mampu membedakan antara serangga sebagai hama atau pengganggu tanaman dengan serangga sebagai musuh alami yang bermanfaat. Para petani masih sangat mengandalkan insektisida kimia sebagai alat pengendali dengan tujuan untuk memberantas serangga yang ada pada agroekosistem tanpa memperdulikan dampak negatif yang ditimbulkan khususnya terbunuhnya serangga dari golongan musuh alami. Hal ini secara sosial budaya sangat sulit dihindari karena pemahaman masyarakat umumnya mengenai serangga masih bersifat negatif, yaitu sebagai musuh manusia, karena sebagai hama dan vektor penyebab penyakit yang membahayakan. Akibatnya petani masih mengandalkan senjata pamungkas yang bernama insektisida kimia. Kondisi ini tentu merupakan salah satu kendala yang sangat penting dalam implementasi Pengelolaan Hama terpadu di Indonesia. Untuk mengurangi masalah tersebut sebenarnya telah dilaksanakan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang dicanangkan secara nasional untuk beberapa komiditas di berberapa propinsi sejak tahun 1989. Tujuan dari SLPHT adalah untuk mengubah perilaku fundamental petani dari pengendalian serangga pengganggu yang tergantung pada penggunaan insektisida menjadi pengelolaan serangga berdasarkan ciri dan mekanisme alami ekosistem pertanian. Program pelatihan petani melalui SLPHT merupakan contoh atau model peningkatan kualitas SDM dan penerapan pendekatan holistik yang telah dioperasikan. Namun untuk meningkatkan kualitas SLPHT masih diperlukan kegiatan-kegiatan penelitian yang mendukung teknologi yang dilatihkan di SLPHT. Di samping itu agar konsep PHT dapat efektif dilakukan di seluruh Indonesia diperlukan dukungan kelembagaan yang penuh dari lembaga-lembaga yang ada di pemerintah dan masyarakat ( petani, kelompomk tani dan LSM).

Kalau kita perhatikan butir-butir prinsip PHT di atas yang pada intinya adalah bagaimana upaya mengurangi penggunaan pestisida dalam pengendalian hama dengan mengoptimalkan fungsi pengendalian secara alami. Kajian-kajian ke arah itu sebenarnya telah banyak dilakukan baik di tingkat laboratorium maupun lapangan, misalnya pemanfaatan insektisida non-kimiawi sintetis yang mampu mengendalikan berbagai jenis hama. Demikian juga dengan pemanfaatan agen pengendali hayati yang paling berkembang dan sudah tersebar secara komersial misalnya, bakteri Bacillus thuringiensis telah digunakan untuk mengendalikan hama-hama penting dari ordo lepidoptera seperti Plutella xylostella dan Crocidolomia binotalis pada tanaman kubis (Rajakulendran, 1993; Gahan et al, 2001; ) dan Spodoptera exigua Hbn pada tanaman bawang merah (Sarjan, 1995). Dengan insektisida nabati seperti nimba berdasarklan hasil penelitian Mujiono et al (1993) menunjukkan bahwa bahan tersebut memiliki kemempanan yang lebih tinggi daripada insektisida kimia sintetis dalam menekan hama P. xylostella. Namun dalam penerapannya baik insektisida hayati maupun nabati belum banyak dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu untuk memperluas penggunaan insektisida non kimiawi sintetis di lapangan Sarjan (2004) telah melakukan penelitian konservasi musuh alami pada tanaman kedelai. Pemanfaatan agen pengendali hayati Bacillus thuringiensis (Sarjan, 1995 ; Wiresyamsi dan Sarjan, 1996) telah dilakukan pada tingkat aplikasi yang mampu menurunkan penggunaan pestisida dan tetap mampu mempertahankan produksi.

Hasil-hasil yang telah dicapai oleh program nasional PHT secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut ( disadur dari Sudarwohadi dan Oka, 1997).

Peningkatan Sumberdaya Manusia (SDM)

terlatih PHT (sampai dengan Februari 1997) adalah :

Pengamat Hama Penyakit (PHP) : 506 (padi) + 116 (sayuran) = 622 orang

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL): 1.012 (padi) + 185 (sayuran) = 1.197 orang

Petani :

Petani Pemandu (HPT padi) ; 14.042 orang

Petani SLPHT : 399.477 (padi) = 12.290(sayuran)= 411767 orang

Pengurangan rata-rata penggunaan pestisida

PHT padi : 60% ( insektisida)

PHT kubis

Insektisida : 81 %

Fungisida : 96 %

PHT kentang

Insektisida : 89%

Fungisida : 81%

Peningkatan hasil panen sayuran (tahun 1994):

PHT-kubis : 7.6%

PHT-kentang : 24.4%

Peningkatan keuntungan bersih sayuran (tahun 1994)

PHT-kubis : Rp 2.796.000.,/ha

PHT-kentang Rp 1.889.000.,/ha

Hadirin yang saya hormati

Pertanyaannya adalah Apakah masih relevan kita berfikir dan menerapkan Pegelolaan Hama Terpadu dalam konteks sistem pertanian berkelanjutan pada kondisi dimana dunia sedang berpacu mengejar produktivitas dengan perlombaan teknologi mutahir ? . Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka saya optimis apa yang diharapkan dalam PHT akan dapat dicapai mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi di bidang lainnya, termasuk pemanfaatan Bioteknologi dalam perlindungan tanaman.

Pertanian sedang menuju ke bentuk revolusi yang lain , namun saat ini lebih besar pada revolusi genetik yang dinyatakan sebagai revolusi teknologi ketiga mengikuti revolusi di bidang industri dan komputer. Walaupun Bioteknologi bukan merupakan kompopnen PHT, tapi sebagai alat inovativ dimana dengan hasil-hasil bioteknologi akan membantu menyediakan sarana yang lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan PHT. Teknologi maju di bidang kimia, biokimia, molekuler genetik dan rekayasa genetik telah menghasilkan bahan-bahan dan produk yang kurang toksik dan berbahaya bagi manusia dan lingkungan., dibandingkan dengan insektisida kimia konvensional. Produk-produk ini termasuk rekayasa genetik tanaman yang lebh aman terhadap hama dan penyakit, tanaman dan musuh alami hama yang cukup toleran terhadap pestisida yang semuanya akan menjadi potensi yang tepat dengan konsep Pengelolaan hama secara modern.

Salah satu contoh produk bioteknologi yang sedang digalakkan saat ini adalah Transgenic Plant pada beberapa produk pertanian seperti kapas, jagung dan bahkan pada tanaman padi. Prinsip bioteknologi ini adalah memanipulasi tanaman dengan memasukkan gen pengendali hayati (Bt-toksin). Tanaman itu merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu – disebut transgene – bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies lain sama sekali. Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).

Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung, sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati. Begitu pun racun pada kapas Bt dapat membunuh boll-worm, hama perusak tanaman kapas.

Dengan teknik ini, tidak diperlukan penyemprotan biopestisida, karena tanaman itu sendiri telah mengandung gen biopestisida. Tansgenic Bt crop telah mulai dilaksanakan sejak awal 1990 an di beberapa negara maju dan transgenic Bt pada tanaman padi dimulai sejak tahun 1997. Berikut beberapa contoh Transgenic Insecticidal Cultivars (TIC) yang telah dikomersalkan di beberapa negara dengan merek dagang yang beragam.

BACILLUS THURINGIENSIS CROP YANG SUDAH DIKOPMERSIALKAN

Diperkirakan bahwa nilai perdagangan dunia tanaman GE akan meningat terus sebesar $ 8 miliar pada tahun 2005 dan sekitar $25 miliar pada tahun 2010. Jumlah negara yang menanam tanaman transgenic juga meningkat dari hanya 1 negara pada th 1992 menjadi 13 negara pada tahun 1999. Antara tahun 1996-2000 luas pertanaman tanaman transgenic meningkat menjadi lebih 25 kali lipat, dari 1,7 juta ha pada tahun 1996 menjadi 44,2 juta ha pada th 2000. Tiga negara ( US, Canada dan Argentina) menanam sebanyak 98% dari total luas tanam, Negara-negara yang sudah mengkomersiakan tanaman GE ( dan persentasi keseluruhan tanaman transgenic) pada tahun 1999 adalah : US, 30,3 juta ha ( 68%); Argentina , 10,0 juta ha (23%); Canada, 3,0 juta ha (7%); China, 0,5 juta ha (1%); dan Australia dan Afrika, masing-masing kurang dari 0,2 juta ha ( 0,5%). Adopsi teknologi baru ini seperti teknologi lainnya sangat pesat pada negara-negara industri, tapi proporsi penanaman tanaman transgenic di negara-negara berkembang juga selalu meningkat dari 14% th 1997 menjadi 16% th 1998, menjadi 18% th 1999, dan 24% pada th 2000. Data-data tersebut menunjukkan bahwa terjadi perkembangan yang pesat pada penerapan bioteknologi di bidang pertanian , dan berikut ini disajikan contoh-contoh tanaman transgenik yang sudah dikomersialkan dan sedang dikembangkan .

Tanaman kentang

Pada th 1995, Bt- potato ( NewLeaf TM, Mosanto, St Louis, MO, USA), merupakan Bt

-crop pertama yang dikomersialkan. Tanaman kentang ini direkayasa mengandung Cry3A protein untuk mengendalikan hama jenis kumbang (Colorado potato beetles). Pengggunaan insektisida diperkirakan menurun sampai 40% pada areal ini pada tahun 1997. Produk ini suidah dicoba di beberapa negara seperti Canada, Jepang, Mexico dan Georgia.

Tanaman kapas.

Pada th 1996, Bt-cotton (Boolgard TM, Monsanto) sudah disebarkan untuk mengendalikan hama penggerek kapas ( Heliothis sp). Tanaman ini mengandung Cry IAc protein yang pada tahun 1997 menunjukkan peningkatan hasil sebesar 14% dengan penurunan pengunaan insektisida kimia sebanyak 300.000 gallon, serta sudah dicoba di negara seperti Australia, China, Mexico, Afrika selatan dan USA.

Beberapa perusahaan telah megembangkan Bt-maize dan dikomersialkan sejak 1996 oleh: Novarties, Basel, Switzerland (Yieldgard TM, Knockout TM, dan Bitegard TM ) Mycogen, San Diego, CA, USA (Naturegard TM ), Monsanto(Yieldgard TM ) dan DEKALB genetics, IL, USA( Bt-Xtra TM ).Kecuali Bt-Xtra TM semua mengandung CryIAb protein. Pada penelitian lapangan BT-maize megendalikan 99% generasi pertama penggerek tongkol. sudah disebarkan ke negara Argentina, Canada, Jepang USA dan negara-negara Eropa.

Tanaman padi .

Di India merupakan penelitian pertama transgenik plant pada kelompok cereal termasuk padi yang mengandung Bt CryIAc protein dalam pengendalian hama penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas).

Di Indonesia pun pengembangan tanaman transgenik kini masih dilakukan, terutama di tingkat litbang (Deptan, Batan, LIPI, dan BPPT). Komoditasnya meliputi produk dari luar negeri dan produk dalam negeri.

Hadirin yang saya hormati

Seperti saya kemukakan di awal , pada bagian terakhir pidato ilmiah ini akan mencoba melihat potensi serta peluang yang perlu dicermati untuk mensukseskan implementasi pembangunan sistem pertanian berkelanjutan melalui praktik pengelolaan hama terpadu. Dalam hal ini akan saya paparkan hubungan antara pertanian organik yang sudah menjadi trend global dalam pembangunan pertanian berkelanjutan dengan upaya pengelolaan hama terpadu.

Seiring dengan makin tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan kesehatan, maka saat ini telah dikembangkan suatu model alernatif yang lebih aman dan menjanjikan yaitu dengan sistem pertanian organik. Tujuan utama pertanian organik adalah mengembangkan kegiatan produksi berkelanjutan serta harmonis dengan lingkungan (Agriculture, Food and Rural Revitalization, 2002) yang mengenalkan suatu ekosistem kehidupan yang komplek, dimana tanah merupakan ekosistem kehidupan yang dinamis. Sayuran organik sebagai contoh merupakan sayuran yang dihasilkan dari sistem budidaya organik, yaitu budidaya pada tanah yang subur dengan tingkat humus dan aktifitas biologi yang tinggi dan terutama tanpa tambahan input sintetis (McCoy, 2001). Dengan demikian pengelolaan hama terpadu sangat berperanan dalam menghasilkan produk organik . Sebagai output adalah produk pertanian dan lingkungan hidup yang sehat yang pada prinsipnya mengacu pada sistem alami dengan meminimalisasi masukan senyawa-senyawa anorganik (pupuk, pestisida). Namun timbul pertanyaan selanjutnya Sampai seberapa jauh petani dan masyarakat Indonesia mengembangkan organic farming dan apakah mereka sudah menerima produk-produk organik tersebut?

Sebagai gambaran marilah kita perhatikan perkembangan organik produk secara global dengan peluang agribisnisnya. Pada saat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik, dan terus tumbuh dengan laju pertumbuhan produk organik sebesar 20% setiap tahun dalam sepuluh tahun terakhir serta mampu mengisi sektor ekonomi di negara tersebut (Wood et al, 2002). Dalam era globalisasi , pasar sayuran organik sangat terbuka dan saat ini Australia telah mengekspor sayuran organik ke pasar Amerika dan beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Prancis serta beberapa negara Asia seperti Jepang, Singapore dan Malaysia (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dimanfaatkan oleh negara Asia seperti Thailand yang sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi dan sertifikasi produk organik (ACT, 2001).

Pertanian organik bukan saja sebagai sistem yang ramah lingkungan, tapi terbukti mudah dilakukan dengan biaya lebih murah dan hasil masih bisa dipertahankan seperti pada sistem pertanian konvensional. Contoh yang paling nyata adalah pada budidaya beberapa sayuran seperti kubis (Brassica oleraceae.var. italica Plenck) , Bunga kol (Brassica oleraceae.var. brotritys), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), kentang (Solanum tuberosum L.) dan wortel (Daucus carota) di kebun percobaan Cangar,, Malang (Suryanto et al, 2003). Produksi sayuran organik tersebut masih terbatas tergantung dari outlet yang telah terbentu seperti Swalayan serta beberapa hotel dan katering di kota Malang. Dalam sosialisasi sayuran organik dilakukan kerjasama dengan Mitra Bumi Indonesia, LSM yang bergerak dalam advokasi pertanian organik. Ditambah pula di Indonesia sudah terbentuk kelompok Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) yang semestinya diharapkan akan menjadi badan yang bertanggung jawab terhadap sertifikasi. Namun sampai saat ini sistem budidaya organik masih belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Barat, padahal konsep ini telah lama dikenal dan diterapkan di negara maju dengan menerapkan sistem organik dengan menetapkan persyaratan sertifikasi tertentu (IFOAM, dll).

Di Indonesia yang beriklim trofis, aneka sayuran dapat dibudidayakan sepanjang tahun dengan keragaman yang tinggi berupa sayuran daun, tunas, buah, umbi dan polong. Survey BPS (2000) menunjukkan produksi sayuran di Indonesia , diantaranya bawang merah, kubis, sawi, wortel dan kentang, berturut-turut 772.818, 1.336.410, 484.615, 326.693 dan 977.349 ton pada total areal seluas 291.192 Ha. Dengan potensi tersebut dan dengan semakin majunya masyarakat , maka sudah saatnya komoditas sayuran dikembangkan pula menjadi produk organik. Budidaya sayuran organik relatif mudah dan murah untuk dilakukan dan terbukti lebih hemat, aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Nusa Tenggara Barat khususnya Pulau Lombok yang merupakan daerah dengan potensi sumberdaya alamnya yang melimpah baik untuk kegiatan pariwisata maupun pertanian sebagai pendukungnya sangat berpeluang untuk dikembangkan. Dengan maraknya pembangunan di bidang parawisata membuat Nusa Tenggara Barat terutama Pulau Lombok menjadi tujuan kunjungan wisata , baik domestik maupun wisman yang semuanya akan menuntut perhatian khusus berkaitan dengan tuntutan konsumen, termasuk di bidang produksi pertanian. Sayuran dan buah-buahan sebagai produk pertanian tentu akan mengikuti perkembangan di bidang pariwiata tersebut misalnya untuk memenuhi kebutuhan hotel-hotel dan restoran yang menuntut persyaratan khusus terutama dari aspek kesehatan dan kebersihan produk dari bahan-bahan kimia sintetis. Hal ini merupakan tantangan dan sekaligus peluang tersendiri bagi petani untuk mengembangkan usaha tani sayuran dan buah-buahan dengan sistem budidaya organik.

Hadirin yang saya hormati

Sebagai penutup saya kemukakan beberapa simpulan dari uraian di atas bahwa sebagai daerah tropika secara geografis , Indonesia menyimpan kekayaan alam yang melimpah dengan keanekaragaman hayati dengan penduduk yang secara demografis sebagaian terbesar hidup di sektor pertanian, secara rasional sangat berpotensi sebagai suatu negara besar dan kuat di bidang pertanian. Tidaklah berlebihan atau Koes plus tidak sedang bermimpi saat melantunkan syair lagu . bukan lautan hanya kolam susu, tongkat dilempar jadi tanaman .. Namun sampai saat ini pada kenyataannya, sektor pertanian belumlah menunjukkan kebanggaan bagi bangsa Indonesia yang masih disibukkan dengan persoalan-persoalan lainya yang justru mempengaruhi pembangunan di bidang pertanian ke arah yang tidak menjanjikan. Ditambah pula dengan dampak yang ditimbulkan dari pengelolaan pertanian selama ini yang selalu mengejar produktivitas dan pemenuhan kebutuhan pangan tanpa memperhatikan kaedah-kaedah keberlanjutan, yang justru memunculkan kekhawatiran, bahwa petani semakin tidak yakin dan percaya diri terhadap keunggulan profesinya, karena bidang pertanian dianggap tidak dapat memberikan masa depan yang lebih baik.

Melalui kesempatan yang berbahagia ini saya menggugah hadirin agar memanfatkan potensi yang kita miliki untuk memajukan sektor pertanian terutama berdasarkan kaedah sistem pembangunan pertanian berkelanjutan. Dalam konteks Pengelolaan Hama Terpadu keanekaragaman hayati yang kita miliki dapat dimanfaatkan sebagai sumber pestisida nabati maupun hayati, demikian juga dengan kekayaan spesies serangga baik sebagai parasitoid maupun predator dapat dioptimalkan fungsinya sebagai pengendali alami untuk mendukung pembangunan sistem pertanian berkelanjutan. Kita seharusnya bisa hidup berdampingan dengan serangga, kelompok binatang yang merupakan bagian dari komunitas ekosistem bumi yang telah menjadi penentu keberadaan dan perkembangan ekosistem di muka bumi, karena interaksi antara serangga dan manusia telah berlangsung sejak manusia ada. Keberadaan dan kemampuan hidup manusia sampai saat ini sangat dibantu dan didukung oleh keberadaan serangga. Sampai-sampai Allah SWT mengabadikan sebuah surat dalam Al Quran tentang serangga yang diwakili oleh LEBAH ( An Nahl = lebah)).

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon kayu, dan di temapt-tempat yang dibikin manusia kemudaian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (Kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkannya.

(AnNahl 68-69)

Kaitannya dengan keanekaragaman sumberdaya alam yang kita miliki, peluang lainnya yang sangat penting diperhatikan adalah melimpahnya bahan organik di Indonesia yang sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai modal berharga dalam praktik pertanian organik yang juga sekaligus mendukung pembangunan sistem pertanian berkelanjutan.

Dari berbagai potensi dan peluang yang kita miliki, masih banyak kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia. Namun sudah saatnya sekarang mendapat prioritas utama daripada sekedar memenuhi target peningkatan produktivitas dan kebutuhan pangan. Paradigma baru perlu segera diwujudkan untuk mempercepat keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia, bahwa penetapan teknologi spesifik lokasi yang berkelanjutan harus lebih dipentingkan dari pada pertimbangan lain dan sejauh mungkin menghindari pemaksanaan lahan untuk suatu komoditi dan teknologi tertentu. Untuk itu diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerinah, peneliti, pengusaha, organisasi kemasyarakatan, perguruan tingi dan masyarakat petani sendiri.

Pembangunan pertanian berkelanjutan hendaknya tidak hanya menjadi slogan dan isu politik, namun perlu dijabarkan melalui program dan kegiatan nyata di lapangan.

Di era globalisasi saat ini , kita harus akrab dengan kaedah-kaedah keseimbangan alam, namun tidak menutup diri dengan inovasi-inovasi dan teknologi seperti bioteknologi pertanian yang dapat membantu pencapaian tujuan secara cepat, tepat dan berkelanjutan.

Bapak Gubernur, bapak Rektor dan Hadirin yang berbahagia

Dari uraian panjang di atas dapat disarikan dengan rangkaian kata kunci bahwa pembangunan pertanian harus mengikuti trend globalisasi dimana bioteknologi dapat dimanfaatkan dalam penerapan PHT yang merupakan komponen pendukung sistem pertanian berkelanjutan.

Demikianlah orasi ilmiah yang dapat kami sampaikan di hadapan hadirin yang mulia, semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas perhatian dan kesabarannya.

Wabillahittaufiq wa;hidayah Wassalamualaikum Wr.Wb.

Daftar Pustaka

ACT (Agriculture Certification Thailand ), 2001. Organic Agriculture Standards. Organic Agriculture Certification Thailand. 27 p.

Agriculture, Food and Rural Revitalization, 2000. Organic farming(Internet access). Government of Saskatchewan, 30085 Albert Street, Saskachewan, Saskachewan Agriculture and Food.

BPS, 2000. harvest Area, Production and Yield of Vegetables in Indonesia. www.bps.go.id.

Dent, D., 1992. Insect Pest Management.C.A.B. International, Wallingford, UK. 604 p.

Glatz, R; Roberts, H. L.S., Li; Sarjan, M; Theopold, U. H.; Asgari, S and Schmidt, O: Lectin-induced hemocyte inactivation in insects.Journal of Insect Physiology ( in press)

Hallett, R.H., Zilahi-Balogh, R., Engerilli, N.P.D and Borden, J.H. (1993). Development of a Pest management System for Diamonback Moth, Plutella xylostella .L (lepidoptera: Yponomeutidae) in a Third World Country-Considerations for Sustainability. In Pest Control and Sustainable Agriculture. CSIRO. Entomology. Canberra.Australia

Harwood, R.R., 1990. A History of Sustainable Agriculture in Sustainable Agricultural Systems. Eddited by Edwards, C.A, Rattan, L, Patrick, M, Robert, H.M and Gar House.

Luna, J.M and Garfield, J.H., 1990. Pest Management in Sustainable Agricutural System in Sustainable Agricultural Systems. Eddited by Edwards, C.A, Rattan, L, Patrick, M, Robert, H.M and Gar House.

Ma, G, Roberts, H.L.S; Sarjan, M; Featherstone, N; Lahnstein, J; Akhurst, R and Schmidt, . Is the mature endotoxin Cry1Ac from Bacillus thuringiensis inactivated by a coagulation reaction in the gut lumen of tolerant Helicoverpa armigera larvae?. Journal of Biological Chemistry ( in press)

McCoy, Steven, 2001. Organic vegetables. A Guide to Production. Departement of Agriculture, Western Australia. 27 p.

NOVA Vermont, 2001. VOF Standards-Soil management . http://www.nofavt.org/sht02.stdsl.cfm

Rachman, M; Sassan, A; Sarjan, M and Schmidt, O.,2004. Induction and Transmission of Bacillus thuringiensis tolerance in the flour moth Ephestia kuehniella ( Jurnal PNAS, Vol 101 No.9, 2004)

Rajakurendran, V., 1993. Use of Bt on Vegetable Crops In Australia

Second Bacillus thuringiensis. Meeting Canbera ( Abs) . 21 23

September 1993.

Rasahan, C.A., 1996. Kebijakan Pembangunan Pertanian di Indonesia menjelang pasar bebas. Makalah workshop Tindak lanjut pengembangan PHT di Bandung, 3-7 Nov. 1996 17 h.

Rochim dan Rizky, 2002. Sayuran organic Penuhi Keinginan Konsumen, Majalah Hortikultura. Jakarta. H. 24-25.

Sarjan, M., 1995. The Use of Bacillus thuringiensis to control Spodeptera exigua Hbn on onion. Laporan Penelitian, Fakultas Pertanian Universitas Mataram. 17h

Sarjan, M., 2002. Resistance against endotoxin from Bacillus thuringiensis in lepidopteran insects (Ph.D thesis, 2002)

Sarjan, M., 2003a. Immune Reactions in the Bacillus thuringiensis Resistant Insect (Agroteksos, Vol. 13. No. 3. October 2003)

Sarjan, M.,2003b. Glycosilation status of Glycoproteins and Location of the Immune-realated Proteins in the Gut of caterpillar( Jurnal Lemlit Universitas Mataram, Oktober 2003

Sarjan, M., 2004. The potency of non-chemical syntetic insecticides in conserving predator of army worm (Spodoptera litura F.) on soybean crop (Agroteksos, Vol. 13. No. 4. January 2004)

Sarjan, M.,? . Are soluble hemolymph components involved in hemocytes functions? ( in prep

Sarjan, M., ?. Are immune-induction reactions involved in Bt-resistance mechanisms? (in prep)

Sudarwohadi, S dan Oka, I.N., 1997. Implementasi Pengelolaan Serangga Secara berkelanjutan.Makalah disampaikan pada simposium Entomologi Indonesia, bandung, 24-26 Juni 1997

Suryanto, A, T.Himawan dan Sitawati, 2003. Budidaya sayuran organic melalui pendekatan ekologi di kebun percobaan Cangar. Pada Pelatihan Dosen-dosen PN-PTS se- Indonesia. Petanian Berkenaljutan Untuk meningkatkan Kesejahteraanh Masyarakat. Malang 12-21 Juli 2003.

TAC (Technical Advisory Committee), 1988. Sutainable Agricultural Production: Implication for International Agricultural Research Consult. Group Int. Agric.Res. Washinton.DC.

Untung, K., 1993. Konsep Pengendalian Hama terpadu. Andi ofset. Yogyakarta. 150 h

Untung, K., 1996. PHT menyongsong era perdagangan bebas. Makalah workshop Tindak lanjut pengembangan PHT di Bandung, 3-7 Nov. 1996. 8 h

Untung, K dan Sudomo M., 1997. Pengelolaan secara berkelanjutan. Makalah disampaikan pada simposium Entomologi Indonesia, bandung, 24-26 Juni 1997.

Wiresyamsi, A and Sarjan, M., 1996. The potency of Bacillus thuringiensis as a biological control agent of major pest of vegetables. Jurnal Penelitian Lembaga Penelitian .Universitas Mataram

Wood, Maria, L. Chavez and Don Comis, 2002. Organic grows on America. Agricultural Research U.S. Departementb of Agriculture. 19 p.

A. Personal Identity :

1.

Name

: Ir.H.M.Sarjan, M.Ag.CP., Ph.D

2.

Sex

: Male

3.

Place /Date of Birth

: Kelayu, East Lombok/ 06 April 1962

4.

Official address

: Facukty of Agriculture-University of Mataram

Jl. Majapahit 62. Mataram-Lombok

Telp. (0370) 621435 Fax: (0370)640186

5.

Home Address

: Jl. Danau Laut Tawar 17 Pagutan Permai Mataram,Lombok-NTB,

Phone:62-370-627237 HP. 08123706297

e-mail : janung4@yahoo.com.au

Education :

University/Institute

And Location

Faculty of Agriculture-University of Mataram – Indonesia

Ir

1986

Agronomy

Faculty of Agricultural and Natural Resource Sciences, University of Adelaide-Australia

M.Ag.CP

1994

Entomology

Faculty of Agricultural and Natural Resource Sciences, Department of Applied Molecular and Ecology, University of Adelaide-Australia

Ph.D

2002

Biological Control of Insect Pest/Biotechnology

C. Work experiences :

Institustion

Job/position

Year

Faculty of Agriculture-University of Mataram

Lecturer

1987-Present

Faculty of Agriculture-University of Mataram

Head of Reseach development comitee (BP3F)

2003-2006

Research Institute University of Mataram

PEER GROUP member

2003-2005

University of Mataram

Secretary of Task Force Project TPSDP Batch II

2003

University of Adelaide

Research Fellow

March july 1994

FAO-Roma-Italia

Conultant for Nasional Project of Integrated Pest Management for estate Crop

March April 1995

Directorate General of Higher Education Department of National Education

Participant on the International Acade-mic networking in Univ. of Victoria, Univ. of Queen , Univ. of Guelph, Univ. of Waterloo (Canada) and Univ. of Florida (USA)

October-December 1996

Institute for Sustainable Development Resources

Director

April 2003- 2008

D. Research experiences :

Evaluation of Integrated Pest management practices on rice in West Lombok District (1989)

Distribution of Spodoptera exigua Hubner population on onion crop (Allium ascalonicum L) (1989)

The effects of continuous application of several fungicides with rotation system , to response of in Vitro Alternaria porri (Ell) Cif. On garlic crop ( 1990)

Efficacy of Bacillus thuringiensis Berliner to army worm (Spodoptera exigua Hbn) on onion crop baed on economic threshold (1991)

response of in Vitro Alternaria porri (Ell) Cif.to several mixed fungicides and with rotation On garlic crop (1991)

Susceptibility of Sheep myasis flies , other than Lucilia cuprina to Bacillus thuringiensis. (Master Thesis, 1993)

Efficacy of mixed Metarhizium anisopliae (Metach) SOR and buprofezin insecticide to mortality of Brown Plant Hopper(Nilavarpata lugens Stal) (1994)

Study of Biology of Pareuchaetes psudoinsulata on several important weed on peanut crop (1995)

Bacillus thuringiensis as a biological control agent for major pest of cabbage (1996)

Study of Economic threshold of leaf roller insect (Nezara viridula L and Risptortus linearis F) several varieties of soybean in Lombok Island (1996)

Testing of fitotoxicity of Fenoksaprop-P-Etil herbicide on direct seedling system of rice (Tabela) (1997)

The potency of non-chemical syntetic insecticides to control cabbage pest, Plutella xylostella (1997)

Resistance against endotoxin from Bacillus thuringiensis in lepidopteran insects (Ph.D thesis, 2002)

E. Scientific Publicatin :

The use of Bacilluis thuringiensis to control Spodoptera exigua Hbn (Lepidoptera:Noctidae) on onion. (1995)

The potency of Bacillus thuringiensis as a biological contro agent of major pest of vegetables

The potency of non-chemical syntetic insecticides in conserving predator of army worm (Spodoptera litura F.) on soybean crop (Agroteksos, Vol. 13. No. 4. January 2004)

Are soluble hemolymph components involved in hemocytes functions? ( in prep)

Are immune-induction reactions involved in Bt-resistance mechanisms? (in prep)

Immune Reactions in the Bacillus thuringiensis Resistant Insect (Agroteksos, Vol. 13. No. 3. Oktober 2003)

Glycosilation status of Glycoproteins and Location of the Immune-realated Proteins in the Gut of caterpillar( Jurnal Lemlit Universitas Mataram, Oktober 2003

Induction and Transmission of Bacillus thuringiensis tolerance in the flour moth Ephestia kuehniella ( Jurnal PNAS, Vol 101 No.9, 2004)

F. Teaching Experiences :

Teaching for undergraduate students on

Science of Insect Pest

Introduction of Crop Protection

Biological Control and environmental Magament

Clinic of Insect pest and disease

Insect Pathology

Research Methodology on Crop Pest and Disease

1. In country :

Research Methodology , University of Mataram (1989)

Interinship course on Insect Pahology in Biothecnology Inter-University centre University of Gadjah Mada (Yogyakarta) ( 1989/1990)

Scientific meeting in in Biothecnology Inter-University centre University of Gadjah Mada (Yogyakarta) (1990)

Training Course on Agricultural Research Methodology di Bogor Agricultural University Life Sciences Inter University Center (1996)

National Congress of Indonesian Entomology Association in University of Padjadjaran, Bandung ( 1997)

National Congress of Indonesian Phitophatology Association in Mataram (1996)

Practical Workshop in Molecular Markers in Plant Breeding- Adelaide-Australia, 3-7 Juli 2000

Seminar on Research Direction of University of Mataram -Mataram, 9 Juni 2003

Instructor on Biotechnology training -LPIU-Post IAEUP University of Mataram in Sahid Legi Hotel -Mataram , 14-15 July 2003

Training on Proposal writing on Semi QUE-V Agronomprogram study -Mataram, 30-31 June 2003

Speaker on 41 th Dies Natalis of University of Mataram Seminar Mataram, 1 October 2003 with topic : Agricultural Biothecnology and its opportunity practices in West Nusa Tenggara

Nasional seminar on dryland rehabilitation by community empowerment in University of Muhammadiyah-Mataram, 18 December 2003.

2. Overseas :

Consultant on National Project of Pest Management for Estate Crop in Rome Italy (1995)

Participant in Specialized training for distance Education and Relationships between the business and University Communities di University of Florida, USA (1996)

Partiicipant in Research Management and Development Program di University of Guelph, Canada (1996)

Participant in the Indonesian Teaching Institute Faculty of Education di University of Victoria, Victoria, British Columbia ,Canada (1996)

Participant in Introduction to Internet and the Information Highway di Training and development, Quality Excellent and Service , Ottawa (Canada) (1996)

Visiting to Queens University , Kingstoon, Canada (1996)

Speaker on seminar of Indonesia- Australia Student Association,South Australia 28 Oktober 2000, di Adelaide with topic Integrated Pest management (IPM): Application and its Prospect in Indonesia.

M.Sarjan- Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan-Fakultas Pertanian-UNRAM

Leave a Reply