Pidato : Nama Iskandar Setiadi

Nama: Iskandar Setiadi

Kelas: XII. IPA 2 / 19

Memaksimalkan Teknologi Modern dalam Rangka Kemerdekaan RI ke-65

Selamat pagi/siang Bu Shanti yang saya hormati dan teman-teman sekalian yang saya kasihi. Ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya adalah Iskandar Setiadi. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang MahaEsa karena rahmatnya, kita semua dapat berkumpul disini dalam kondisi sehat walafiat. Tentunya kita semua berkumpul disini untuk memperingati kemerdekaan Republik Indonesia ke-65.

Hitam diatas putih, Negeri kita sudah berusia 65 tahun, selayaknya manusia, usia 65 tahun dapat dikatakan sebagai usia yang seharusnya sudah cukup mapan, bukan berarti semangat dan jiwa bangsa ini justru seperti seorang kakek-kakek yang memegang tongkat dan berjalan tanpa semangat. Sebaliknya, marilah kita merenungkan sejenak, benarkah bangsa ini sudah sedemikian terpuruknya? Jawabannya tergantung persepsi sudut pandang setiap individu, tetapi ada satu hal yang kita sepakati, kita ingin negara ini sukses, tentunya bukan?

Sekarang saya ingin mengajak anda melihat perkembangan bangsa Indonesia dengan diiringi oleh perkembangan teknologi yang tumbuh sedemikian pesatnya. Dengan teknologi modern, seharusnya Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara lain yang jumlah penduduknya besar, misalnya China. Tetapi dalam prakteknya, negeri kita tertinggal cukup jauh dibandingkan China. Teknologi dinegara tersebut mendorong perekonomian negaranya menjadi cukup signifikan.

Dari contoh kasus tersebut, apa yang salah dari Indonesia? Ternyata sebagian masyarakat kita justru dijajah oleh teknologi. Pendapat beberapa ahli yang menyatakan bahwa ancaman terbesar negara-negara ini adalah globalisasi terbukti benar. Faktor pertama yang menjadi pemicu adalah kurang siapnya bangsa kita dalam menerima aliran perkembangan teknologi yang sedemikian cepatnya. Ketika negara lain menggunakan teknologi untuk produksi, masyarakat kita masih menggunakannya untuk kepentingan konsumsi belaka, dan mungkin sebagian dari saudara juga menjadi korban dari perkembangan teknologi ini. Untuk itu, saya mengambil beberapa contoh nyata. Menurut survei, Indonesia memasuki peringkat-peringkat atas pengguna Blackberry/Handphone dan Facebook terbanyak. Untuk kasus Blackberry misalnya, masyarakat kita bergonta-ganti handphone hampir secara berkala untuk kepentingan bergaya, maupun fitur-fitur tambahan yang bersifat konsumtif belaka. Kerugiannya untuk kita masing-masing adalah ini merupakan korupsi waktu, dimana mungkin kita bisa menggunakan waktu untuk kegiatan yang lebih berguna, dibandingkan terjajah oleh Blackberry ataupun Facebook. Tidak percaya? Misalnya anda mendapat PR, tetapi ketika anda bermain BB / Facebook, yang terjadi adalah lupa waktu. Itu adalah contoh simpel dimana mentalitas masyarakat Indonesia masih kurang kuat dalam menghadapi arus teknologi.

Tidak hanya merugikan individu, tetapi penjajahan oleh teknologi ternyata juga merugikan negara. Ingatkah anda dengan pemasangan set komputer spec terbaru oleh anggota DPR? Egoisme masyarakat kita masih tergolong tidak siap dalam menghadapi teknologi, karena masyarakat kita menggunakan teknologi untuk kepentingan konsumtif. Atas permintaan dewan terhormat itu, uang negara secara tidak langsung terkuras hanya untuk pemasangan teknologi yang berlebihan. Apakah mungkin tugas seorang anggota dewan, yang bekerja sebagai notulen perlu menggunakan komputer super cepat dengan processor quad core dll? Tentunya tidak. Justru beberapa berita menyatakan bahwa para anggota DPR bermain solitaire ketika rapat sedang berlangsung. Sekiranya saya meyakini bahwa saudara/i sudah mengerti apa yang saya maksud dari kasus ini.

Yang ketiga adalah budaya masyarakat kita yang sering berpikiran negatif semakin kental dengan kemajuan teknologi ini. Sebagai contoh, berita-berita yang terpapar di internet, hampir semuanya adalah berita-berita korupsi, gosip selebritis, maupun konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Oleh karena itu, masyarakat kita menjadi menganggap hal sedemikian adalah hal yang wajar. Hal ini tentu harus dihentikan, karena sekarang ini saja budaya korupsi sudah dikenal semua lapisan masyarakat kita.

Kemudian apa bedanya masyarakat konsumtif dan produktif? Negara Jepang misalnya, mereka mengembangkan teknologi yang mereka punya untuk membuat sesuatu yang produktif. Sedangkan mayoritas masyarakat Indonesia melakukan tindakan pemakaian belaka. Sebagai contoh simpel, kita hanya menggunakan facebook, tapi pernahkah kita berpikir bahasa komputer apa yang digunakan untuk membuat facebook? Atau contoh lainnya berapa banyak masyarakat Indonesia yang dapat mengoperasikan software pengolah gambar seperti Corel? Dari dasar inilah, mengapa kita lebih sering mendapatkan program/karya negara Jepang di internet dibandingkan dari Indonesia. Ruang lingkup lebih luas lagi, kita dapat meninjau hal ini bahwa Indonesia lebih sering mengimpor teknologi yang digunakan. Tentunya kita lebih sering mendengar Indonesia telah mengimpor mesin X dari negara X dibandingkan mengekspor/mengirimkan mesin Y ke negara Y.

Saudara/i, Kemudian bagaimana solusi dari penjajahan oleh teknologi?Sebenarnya, masyarakat kita memiliki potensi yang cukup baik dalam menggunakan teknologi secara maksimal. Untuk tujuan tersebut, ada beberapa hal yang harus diubah, dimulai dari diri kita sendiri. Yang pertama adalah kita harus membuat suatu jadwal dimana kita membatasi diri kita dari teknologi yang tidak diperlukan. Masyarakat Jepang misalnya, kita pasti sangat jarang menemukan account Facebook dari masyarakat Jepang. Buktinya mereka mampu menahan diri dari tindakan konsumtif, apakah mungkin kita tidak mampu membagi waktu dengan maksimal? Tentunya kita harus membuat suatu fokus tujuan untuk dicapai, agar teknologi dapat digunakan secara maksimal.

Hal lain yang harus diperhatikan seiring perkembangan teknologi di negeri ini adalah arus informasi atau berita seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Seandainya berita-berita berisikan hal-hal positif seperti penemuan-penemuan anak-anak bangsa, para pemenang kejuaran, ataupun hal-hal positif lainnya, tentunya anak bangsa akan terpacu dan semakin ditantang untuk berkembang. Bila teknologi digunakan untuk pemberitaan yang negatif saja, sudah tentu kita semua hanya mengenal bangsa ini dari sisi buruknya. Tetapi negara ini butuh suatu cara yang diajarkan kepada anak bangsa agar dapat berkembang menjadi lebih baik.

Selain itu, Egoisme adalah faktor kedua yang harus dihilangkan. Perlukah kita menggonta-ganti handphone setiap 6 bulan sekali? Kita seharusnya tidak melakukan pemborosan untuk tujuan gaya, fiturnya keren, dll. Tujuan dari handphone pada dasarnya adalah alat berkomunikasi, maka gunakan handphone sesuai tujuan utamanya. Uang yang disimpan pastinya dapat digunakan untuk keperluan lainnya yang lebih berguna dibandingkan gonta-ganti handphone tanpa tujuan yang jelas.

Faktor lainnya adalah suggesti. Suggesti yang saya maksud bukanlah Masukki alam bawah sadar anda, jauh lebih dalam jauh lebih lelap dari sebelumnya. Suggesti yang saya maksud adalah berasal dari iklan-iklan atau promosi produk teknologi terbaru. Kita harus mampu beradaptasi dan memilah-milah antara teknologi yang dibutuhkan dengan yang tidak dibutuhkan. Sebagai contoh, ketika kita melihat produk-produk yang bagus, kemudian kita langsung membelinya. Ipod, walkman, dan Handphone Music Edition, perlukah kita membeli ketiga barang tersebut bersamaan untuk mendengarkan lagu? Pastinya kita hanya akan menggunakan satu dari tiga alat tersebut pada satu waktu, karena kita tidak mungkin mengoperasikannya secara bersamaan. Untuk itu, kita cukup membeli salah satu yang paling berguna menurut kita, sehingga menghemat uang yang cukup banyak.

Sebagai penutup, saya mengajak saudara/i sekalian untuk menggunakan teknologi secara maksimal. Kita harus menghilangkan egoisme dan sifat konsumtif, dimulai dari diri kita sendiri. Seperti peribahasa,Together we can create a new change! Akhir kata, mohon maaf dan jangan dibata bila ada kata-kata yang kurang berkenan, dan terima kasih atas perhatiannya. Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Leave a Reply