Pidato : Ashaabihi Ajmadin, Amma Baddu.

Assalamualaikum Wr. Wb

Assholatu wassalamu ala asrovil ambiyai walmursaliin waala aalihi wa-ashaabihi ajmain, amma badu.

Ashadualla ilaaha illallah wahdahulaa syarikalah, wa ashaduanna muhammadan abduhu warrosuluh, laa nabiyya walaa rosuula badah.

Yang kami hormati …………………………………………………………………………….

Yang kami hormati …………………………………………………………………………….

Yang kami hormati …………………………………………………………………………….

Yang kami hormati …………………………………………………………………………….

Dan Hadirin yang berbahagia…

Puji syukur kehadirat Allah SWT, tuhan yang maha kuasa, yang telah melimpahkan rahmatnya baik yang berupa nikmat panjang umur, kesehatan dan kesempatan kepada kita sehingga kita dapat menjalankan tugas dan kewajiban kita dengan tanpa halangan suatu apapun.

Sholawat beriringkan salam, semoga tetap Allah curahkan dan limpahkan kepada junjungan kita, yakni, Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa umat manusia keluar dari massa jahiliyah atau kebodohan menuju masa yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan kecerdasan.

Ibu-bapak hadirin yang berbahagia…

Agama kita telah menjelaskan bahwa perempuan adalah tiang suatu negara, jika perempuan dalam negara itu baik maka akan baik pula negara itu, dan begitu pula sebaliknya, jika perempuan dalam suatu negara rusak budi pekertinya maka rusak pula negara itu.

Dari sini jelaslah sudah, bahwa kaum perempuanlah yang menjadi barometernya suatu negara. Apakah negara itu dikatakan baik, atau bahkan sebaliknya?

Yang menjadi pertanyaan adalah, Kenapa demikian to?

Kita tahu bahwa agama kita juga menjelaskan bahwa, Ibu adalah lembaga sekolah yang pertama bagi anak-anaknya. Yang pada umumnya adalah anak-anak bangsa ini.

Kita wajib dan wajib bersyukur, sebagai bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang besar, sebagai bangsa yang luas wilayahnya terdiri dari tiga bagian waktu, sebagai bangsa yang yang merdeka dengan perjuangan para pahlawan-pahlawannya, sebagai bangsa yang jumlah penduduknya terpadat keempat dunia, sebagai bangsa yang jumlah penduduk muslimnya terbesar di dunia, sebagai bangsa yang sangat menghargai jasa-jasa para pahlawannya,

kita….. memiliki seorang pendekar bangsa, seorang yang akan senantiasa harum namanya sepanjang masa, seorang yang memiliki cita-cita untuk mengangkat kaumnya minadzulumaati ilaannuur, dari masa yang terbelakang, untuk maju…… meraih kecerdasan, kesetaraan, juga meraih hak-hak yang dimonopoli kaum laki-laki.

Hadirin…

Bukan salah para leluhur kita, seandainya demikian, tapi bangsa ini dibodohkan oleh belanda oleh penjajah, dengan cara kaum perempuannya dibodohkan terlebih dahulu. Dan itu terbukti selama 3.5 abad dengan belanda menjajah negara kita indonesia.

Pada masa itu perempuan hanya dijadikan konco wingking, artinya aktifitas kaum perempuan hanya terbatas pada dapur, sumur, dan kasur, off sebentar sumur lagi, dapur lagi, dan kasur lagi saja, muterrrrrrr hari-hari itu terus. Tak terbayangkan bagaimana bila itu terjadi saat ini…. tidak boleh keluar rumah, tidak boleh sekolah, dan harus menikah dengan kehendak ayahnya…. bagaimana ibu-ibu, kalau itu kita alami?…. hai anak gadis bagaimana kalau itu terjadi pada dikau?…. tentunya GAK ENAK! Kan?

Sekali lagi kita beruntung dan wajib bersyukur, kita memiliki sosok gadis yang manis, yang memiliki semangat luar biasa untuk memajukan kaumnya! Walaupun dia sendiri belum sempat menikmati hasilnya, karena Alloh telah memanggilnya dalam usianya yang masih sangat muda, tepatnya setelah melahirkan anak pertamanya. Itulah Raden Ajeng Kartini….

Hadirin … khususnya ibu-ibu, Semangat Kartini, mari kita teruskan, kita lanjutkan…, untuk terus membangun bangsa ini, memberikan kontribusi positif untuk suami, keluarga dan bangsa.

Hadirin … khususnya bapak-bapak, percaya ato tidak. Sekarang ada Kartini yang pernah jadi presiden, ada Kartini sekarang yang jadi gubernur…, bupati…, walikota…, ada juga Kartini sekarang…. yang jadi Kepala Sekolah….. luar biasa.

Semangat Kartini memberikan inspirasi kepada mereka untuk tampil kedepan, bersaing dengan kaum adam dalam mengisi dan membangun bangsa ini. Dengan menjadi istri yang mendampingi suami, memberikan ketentraman bagi keluarga, menjadi ibu yang yang baik bagi anak-anaknya, bekerja dan berkarir sehingga mampu bersaing dengan kaum adam.

Sekali lagi ibu-bapak, hadirin semua… sebuah negara akan dikatakan baik… jika perempuan dalam negara itu baik, dan sebaliknya… Indonesia akan runtuh, jika perempuanya rusak budi pekertinya. Wahai ibu, mari menjadi istri yang bisa menentramkan suami, mempersembahkan diri lahir maupun batin, menjadi ibu yang bisa di contoh bagi anak-anak kita, menjadi tiang negara yang kokoh dalam menjaga peradaban yang agung.

Bangsa ini akan dapat kita ketahui masa depannya bagaimana Indonesia 10, 15 juga 20 tahun lagi, tak perlu kita lama-lama menyaksikannya dengan masa 10. 15 atau 20 tahun lagi. Tapi kita cukup dengan menyaksikan bagaimana anak-anak kita sekarang. Karena merekalah nantinya yang akan menggantikan kita, merekalah penerus tongkat estafet perjuangan bangsa ini.

Ibu-bapak dewan juri yang berbahagia…

Kita harus optimis…. mereka nantinya yang akan meneruskan perjuangan ini, mereka sedang ada dalam buaian ibunya, mereka ada dalam naungan ibu yang mengayomi keluarga-keluarganya. Ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, Ibu yang mengajari segala ilmu pada anank-anaknya, Ibu yang membaluri anak-anaknya dengan doa-doa, Ibu yang menjadi penentram bagi semua kelurga Indonesia.l

Seperti gadis Rembang yang lugu, yang tulus, yang ikhlas berjuang.

Setuju Bapak-Ibu semua… dengan Raden Ajeng Kartini.

Sekali lagi setuju…

Oya tapi hafal gak ya Bapak-Ibu semua dengan lagu-puji untuk Ibu Kita kartini…? Mari bersama-sama…

Ibu kita Kartini

Putri sejati

Putri Indonesia, Harum namanya….

Mantab…

Billahitaufiq walhidayah

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Leave a Reply