KTI Pidato Bab 5 Aja Benerin

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Telah kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hindup tanpa manusia lainnya. Salah satu cara manusia berhubungan dengan manusia lainnya adalah dengan berkomunikasi. Pidato merupakan salah satu cara komunikasi. Dengan pidato kita dapat mengungkapkan apa yang kita inginkan. Dengan pidato pula orang banyak dapat mengetahui apa yang diinginkan pembaca pidato. Saat ini pidato digunakan sebagai alat komunikasi resmi. Baik ketua sebuah presiden, mentri, ketua sebuah institusi, bahkan orang biasa pun dapat berpidato. Tetapi, pidato memiliki beberapa kesulitan seperti penggunaan bahasa yang baku. Oleh karena itu, kami menyusun karya tulis ilmiah ini untuk memudahkan pembaca memahami lebih dalam tentang pidato.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang serta tujuan yang telah diuraikan di atas, terdapat beberapa masalah yang akan diidentifikasi yaitu, sebagai berikut :

Apakah pidato KH. Abdurrahman Wahid berdasarkan penggunaan bahasa baku?

Apakah pidato Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan penggunaan bahasa baku?

Apakah pidato Barrack Obama berdasarkan penggunaan bahasa baku?

Bagaimanakah perbandingan diantara ketiganya ?

Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah pembaca sekalian mengikuti pembelajaran karya ilmiah ini, harapan penulis pembaca dapat berpidato dengan benar di kemudian hari.

Tujuan Pembelajaran Khusus

Mengetahui penggunaan bahasa baku pada pidato KH. Abdurrahman Wahid.

Mengetahui penggunaan bahasa baku pada pidato Susilo Bambang Yudhoyono.

Mengetahui penggunaan bahasa baku pada pidato Barrack Obama.

Dapat membandingkan penggunaan bahasa baku pada ketiga pidato tersebut.

Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Pembelajaran

1.4 Sistematika Penulisan

BAB II KAJIAN MATERI

2.1 Pengertian Pidato

2.2 Fungsi pidato

2.3 Maksud dan tujuan pidato

2.4 Jenis pidato

2.5 Sistematika pidato

2.6 Bentuk pidato

2.7 Syarat-syarat pidato

2.8 Aturan pidato

2.9 Langkah persiapan pidato

2.10 Teknik menyusun pidato

2.11 Teknik berpidato

2.12 Ciri-ciri pidato

2.13 Pempraktekan pidato

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Tujuan Khusus

3.2 Metode Penelitian

3.3 Populasi Dan Sampel

3.4 Hipotesis

3.5 Rancangan Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PERBANDINGAN

4.1 Sampel Pidato

4.1.1 Pidato Pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono

4.1.2 Pidato Kenegaraan KH. Abdurrahman Wahid

4.1.3 Inauguration Speech of Barrack Obama

4.2 Penjabaran Variabel

4.2.1 Tabel Penelitian Pidato Susilo Bambang Yudhoyono

4.2.2 Tabel Penelitian Pidato KH. Abdurrahman Wahid

4.2.3 Tabel Penelitian Inauguration speech of Barrack Obama

4.3 Tabel Perbandingan dan Pengujian Hipotesis

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

KAJIAN MATERI

Pengertian Pidato1

Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.

Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.

Fungsi Pidato

Fungsi pidato diantaranya adalah:

Mempermudah komunikasi antar atasan dan bawahan

Mempermudah komunikasi antar sesama anggota organisasi

Menciptakan suatu keadaan yang kondusif dimana hanya perlu 1 orang saja yang melakukan orasi/pidato tersebut

mempermudah komunikasi

Maksud dan Tujuan Pidato

Maksud dan tujuan pidato terdiri atas beberapa macam, antara lain:

Mendorong

Menimbulkan inspirasi dan meningkatkan emosi. Berjenis persuasif.

Meyakinkan

Menyesuaikan pendapat dan intelektual serta membuat pendengar percaya dan yakin. Berjenis persuasif.

Bertindak dan berbuat.

Membuat pendengar untuk bertindak dan berbuat sesuaru. Bersifat persuasif.

Memberitahukan

Memberitahukan pengertian atau perbuatan tertentu. Bersifat instruktif, yaitu mengandung pelajaran atau pengaturan.

Menyenangkan

Menarik minat dan kegembiraan pendengar. Bersifat rekreatif, yaitu menghibur.

Jenis Pidato2

Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :

Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc.

Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.

Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.

Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.

Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.

Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.

2.5 Sistematika Pidato3

Skema susunan suatu pidato yang baik :

Pembukaan dengan salam pembuka

Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi

Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana, langkah, dll.

Penutup (kesimpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll)

Bentuk Pidato

Bentuk pidato ada beberapa macam, yaitu:

Eksposisi

Argumentasi

Deskripsi

Narasi

Syarat-syarat Pidato

Penguasaan bahasa yang baik dan lancar

Kemampuan penalaran

Keberanian

Ketenangan sikap di depan massa

Kesanggupan mengungkapkan gagasan

Kesanggupan mengadakan reaksi dengan cepat dan tepat

Kesanggupan menyesuaikan diri kepada situasi

Kemampuan bersikap wajar, tidak canggung di depan massa

Aturan Pidato

a. Menyusun pidato atau sambutan merupakan pekerjaan staf yang amat penting guna mempersiapkan sarana pelaksanaan komunikasi secara langsung yang efektif di dalam kegiatan-kegiatan kepemimpinan di lingkungan suatu instansi. Pejabat-pejabat yang melaksanakan tugas kepemimpinan di dalam berbagai kegiatan, baik rutin rnaupun pembangunan, sebaiknya selalu siap sedia berpidato atau memberikan sambutan pada acara-acara seperti:

pembukuan atau penutupan penataran, seminar, simposium dan pertemuan ilmiah lain;

pelantikan pejabat baru atau serah terima jabatan;

pengarahan rapat kerja, Iokakarya, konferensi, atau kongres;

upacara peringatan hari-hari nasional;

peresmian dimulainya suatu kegiatan pembangunan;

peresmian penggunaan hasil-hasil proyek pembangunan.

b. Setiap pejabat yang mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin dalam suatu instansi harus mempunyai kemampuan berpidato untuk memungkinkan dia mengadakan komunikasi langsung serta mendekatkan dirinya dengan yang dipimpinnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan atau gagasan yang berguna untuk mempengaruhi sikap, memberikan pengarahan kerja, penilaian, atau dorongan kepada massa atau kelompok orang-orang yang dipimpinnya.

c. Menyusun pidato atau berpidato menuntut kemampuan dan kemahiran berbahasa secara optimal untuk dapat mengungkapkan serta menyampaikan pikiran, perasaan atau gagasan kepada kelompok-kelompok massa guna mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, penyusun pidato harus:

memiliki sikap positif terhadap bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia, yang dipakai dalam menyusun pidato;

mempunyai wawasan tentang bahasa Indonesia baku serta mampu mempergunakan bahasa Indonesia baku itu secara baik dan benar;

memahami prinsip-prinsip dasar komposisi atau retorika serta mampu menerapkannya dalam praktek, dalam hal ini menyusun pidato;

memiliki kemampuan nalar serta memahami masalah-masalah yang menjadi topik atau pokok pembicaraan dalam pidato yang disusunnya;

memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai teknik menyusun pidato.

Langkah Persiapan Pidato

1. Penentuan maksud pidato

2. Menganalisis pendengar dan suasana

3. Memilih dan menyempitkan topik

4. Mengumpulkan Bahan

5. Membuat kerangka (outline)

6. Menguraikan isi secara terperinci

7. Berlatih dengan suara nyaring

Teknik Menyusun Pidato

MengumpulkanBahan

dilakukan sesudah selesai meneliti masalah

mulai menggambarkan hal-hal yang diketahui penyusun

menetapkan segi-segi yang dimaksudkan dalam pembicaraan

mengumpulkan bahan: fakta, ilustrasi, pokok-pokok konkret

bertanya/berkonsultasi

memanfaatkan sumber:

buku

peraturan

majalab

surat kabar

2. Membuat kerangka

menentukan pokok-pokok pembiearaan

pokok-pokok utama disusun dalam tata urut yang baik

di bawah pokok-pokok utama dibuat perincian yang menjelaskan pokok-pokok utama itu

disusun kerangka formal untuk memperoleh keyakinan tentang kesatuan dan koherensinya

3. Menguraikan isi pidato secara terperinci

berdasarkan kerangka formal berpidato bebas dengan ssekali melihat kerangka untuk menjamin keteraturan dan tidak ada ide-ide yang terlangkahi

menggarap pidato itu secara lengkap kata demi kata, untuk kemudian dibacakan

Teknik Berpidato

Impromptu

serta merta

berdasarkan kebutuhan sesaat

tak ada persiapan

berdasarkan kemahiran dan pengetahuan pembicara

Menghafal

lawan dari impromptu

ditulis lengkap

dihafal

biasanya menjemukan dan tidak menarik

mengeluarkan kata-kata tanpa menghayati makna

Naskah

pidato-pidato resmi

kaku, pembicara selalu melihat naskah

pembicara tidak bebas menatap, mendengar

tidak menghidupkan pembicaraan

Ekstemporan

tanpa persiapan naskah

direncanakan dengan cermat

dibuat kerangka/rancangan

menyesuaikan kepada keadaan

bebas berbicara

GABUNGAN (NASKAH DAN EKSTEMPORAN)

naskah disiapkan sebagal pegangan (tidak dibaca)

berbicara bebas berdasarkan kerangka/rancangan yang dipersiapkan

Ciri-ciri Pidato

Sembilan hal yang mencirikan suatu pidato uang baik yakni saklik, jelas, hidup, memiliki tujuan yang jelas, bergaya klimaks, memiliki pengulangan, mengandung hal-hal yang mengejutkan, singkat tapi padat dan mengandung humor.

Pidato yang Saklik

Memiliki objektivitas dan unsur-unsur yang mengandung kebenaran. Saklik juga berarti bahwa ada hubungan yang serasi antara isi pidato dan formulasinya, sehingga indah kedengaran, tetapi bukan berarti dihiasi dengan gaya bahasa yang berlebihan. Intinya ada hubungan yang jelas antara pembeberan masalah dengan fakta dan pendapat atau penilaian pribadi.

Pidato yang Jelas

Ketentuan sejak zaman kuno menyatakan bahwa pembicara harus mengungkapkan pikirannya sedemikian rupa, agar dapat dimengerti dan dipahami. Oleh karena itu pembicara harus memilih ungkapan dan susunan kalimat yang tepat dan jelas untuk menghindari salah pengertian. Pembicara yang tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara jelas, umumnya karena dia sendiri belum memahami masalah secara tepat dan benar.

Pidato yang Hidup

Untuk menghidupkan pidato dapat digunakan gambar, cerita pendek atau kejadian-kejadian yang relevan sehingga memancing perhatian pendengar. Pidato yang hidup dan menarik umumnya diawali dengan ilustrasi, kemudian ditampilkan pengertian-pengertian absrtak atau definisi.

Pidato yang memiliki Tujuan

Tujuan ini harus dirumuskan dalam satu dua pikiran pokok. Kalimat-kalimat yang merumuskan tujuan dan kalimat-kalimat pada bagian penutup pidato harus dirumuskan secara singkat, jelas dan padat.

Pidato yang memiliki Klimaks

Klimaks yang diimaksud disini adalah menciptakan titik-titik puncak dalam pidato untuk memperbesar ketegangan dan rasa ingin tahu para pendengar. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa klimaks itu harus muncul secara organis dari dalam pidato itu sendiri dan bukan karena mengharapkan tepuk tangan yang riuh dari pendengar. Klimaks yang dirumuskan dan ditampilkan secara tepat akan memberikan bobot kepada pidato .

Pidato yang Memiliki Pengulangan

Pengulangan atau redundans itu penting, karena dapat memperkuat isi pidato dan memperjelas pengertian pendengar. Suatu pengulangan yang dirumuskan secara baik akan memberi efek yang besar dalam ingatan para pendengar. Tetapi perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud adalah pengulangan isi pesan, bukan rumusan. Isi dan arti tetap sama, tetapi dirumuskan dengan gaya bahasa yang berbeda.

Pidato yang Berisi Hal-hal yang Mengejutkan

Menampilkan hal-hal yang mengejutkan dalam pidato berarti menciptakan hubungan yang baru dan menarik antara kenyataan-kenyataan yang dalam situasi biasa tidak dapat dilihat. Hal-hal yang mengejutkan itu dapat menimbulkan efek ketegangan yang menarik dan rasa ingin tahu yang besar, tetapi bukan ajang cari sensasi.

Pidato yang Dibatasi

Pidato perlu dibatasi pada satu atau dua soal tertentu saja. Tidak boleh membeberkan segala masalah dalam satu pidato. Pidato yang isinya terlalu luas akan menjadi dangkal. Itulah sebabnya apabila menurut pengamatan kita sebagai para pendengar sudah merasa bosan, maka berhentilah berpidato.

Humor dalam pidato

Perlu, hanya saja tidak boleh terlalu banyak, sehingga memberi kesan bahwa pembicara tidak bersungguh-sungguh. Humor itu dapat menghidupkan pidato dan memberi kesan yang tak terlupakan pada para pendengar. Humor dapat juga menyegarkan pikiran pendengar , sehingga mencurahkan perhatian yang lebih besar Pidato yang Mengandung Humor kepada pidato yang selanjutnya.

2.13 PRAKTEK PIDATO

Biasanya dipraktekkan oleh pemimpin organisasi kepada anak buah organisasinya

Dipraktekkan oleh pemimpin atau pejabat negara guna mempermudah adanya komunikasi sehingga terciptanya keadaan yangdemokratis

Dipraktekkan guna menenangkan massa / khalayak ramai

Biasanya seorang pemimpin atau orang yang berpengaruh diwajibkan untuk menguasai teori pidato

BAB III

METODE PENELITIAN

Tujuan Khusus

Untuk meneliti penggunaan bahasa baku yang digunakan dalam pidato kenegaraan beberapa Presiden.

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan hal yang harus diperhitungkan dengan tepat, karena dengan metode penelitian suatu kerja akan teratur dan terarah.

Adapun rancangan yang penulis lakukan untuk melaksanakan penelitian adalah:

Mempersiapkan/mengumpulkan contoh-contoh pidato sebagai bahan penelitian.

Mempersiapkan satuan pelajaran sebagai bahan acuan.

Melakukan perbandingan serta pengujian hipotesis terhadap contoh-contoh surat tersebut.

3.3Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah jenis-jenis pidato.

3.3.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini yaitu

Pidato pelantikan Susilo Bamabang Yudhoyono

Pidato kenegaraan KH. Abdurrahman Wahid

Pidato pelantikan Barrack Obama

Hipotesis

Setelah mengkaji beberapa teori serta contoh materi yang harus diteliti, terdapat kemungkinan dari ketiga pidato yang akan diteliti bahwa ketiga surat tersebut menggunakan bahasa yang benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, antara lain :

EYD

Tata bahasa baku bahasa Indonesia

Pemilihan kata yang tepat

3.5 Rancangan Penelitian

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Penggunaan Bahasa Baku (X)

Pidato Kenegaraan Gus Dur

(X1)

Pidato Pelantikan SBY

(X2)

Pidato Pelantikan Barrack Obama

(X3)

Sistematika Pidato (Y)

Y1

Y2

Y3

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PERBANDINGAN

Sampel Pidato

Sampel Pidato Pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono

Assassalamualaikum Wr Wb.

Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia, Yang saya muliakan kepala negara dan pemerintahan, serta utusan khusus dari negara-negara sahabat, Yang saya hormati para Ketua, para Wakil Ketua dan anggota lembaga-lembaga negara, Yang mulia para duta besar serta para pimpinan organisasi internasional, Yang saya hormati para gubernur kepala daerah seluruh Indonesia, Saudara-saudara se-bangsa se-Tanah Air, hadirin sekalian yang saya muliakan,

Hari ini dengan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT, saya dan saudara Prof Dr Boediono baru saja mengucapkan sumpah di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk mengemban amanah rakyat lima tahun mendatang.

Pada kesempatan yang bersejarah dan Insya Allah penuh berkah ini, saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan dan anggota MPR RI, Pimpinan dan anggota DPR RI, Pimpinan dan anggota DPD RI, beserta pimpinan dan anggota lembaga-lembaga negara lainnya masa bakti 2004-2009 yang telah bersama-sama bekerja keras membangun bangsa dan negara kita menuju masa depan yang lebih baik.

Kepada Saudara Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden periode 2004-2009 yang telah mendampingi saya selama lima tahun terakhir, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas jasa dan pengabdian saudara baik kepada pemerintah maupun kepada bangsa dan negara. Pengabdian saudara tercatat abadi dalam sejarah perjalanan bangsa dan akan dikenang sepanjang masa.

Kepada segenap jajaran Kabinet Indonesia Bersatu masa bakti 2004-2009, saya ucapkan pula terima kasih dan penghargaan saya atas upaya yang sungguh-sungguh dalam menjalankan dan menyukseskan program-program pembangunan nasional yang sarat dengan tantangan dan permasalahan yang rumit.

Saudara-saudara, kita baru saja melewati periode sejarah 2004-2009 yang penuh dengan tantangan. Hari ini Bangsa Indonesia patut bersyukur dan berbesar hati, di tengah gejolak dan krisis politik di berbagai wilayah dunia, kita tetap tegak dan tegar sebagai negara demokrasi yang makin kuat dan stabil.

Di tengah badai finansial dunia, ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif dan diprediksi akan mengalami pertumbuhan nomor tiga tertinggi di dunia. Di tengah maraknya konflik dan disintegrasi di berbagai wilayah dunia lain, Bangsa Indonesia semakin rukun dan bersatu.

Karena itu tepatlah kalau dalam beberapa hari ini berbagai televisi internasional muncul tayangan yang menyebut bangsa kita sebagai "remarkable Indonesia", bangsa yang dinilai berhasil dalam mengatasi krisis dan tantangan yang berat dan kompleks sepuluh tahun terakhir ini.

Namun semua itu janganlah membuat kita lemah, lalai, apalagi besar kepala. Ingat, pekerjaan besar kita masih belum selesai. Ibarat perjalanan sebuah kapal, ke depan kita akan mengarungi samudera yang penuh dengan gelombang, dan badai.

Di luar Indonesia, krisis perekonomian global belum sepenuhnya usai. Perdagangan dan arus investasi dunia belum pulih. Sementara itu, harga minyak dan berbagai komoditas masih berfluktuasi yang dapat menghantam stabilitas dan kepastian ekonomi kita.

Oleh karena itu, walaupun secara gejala perbaikan perekonomian dunia mulai terlihat, namun kita tidak boleh berhenti untuk terus memperkuat sendi-sendi perekonomian kita seraya tetap melanjutkan upaya nasional untuk meminimalkan dampak dari krisis dunia dewasa ini. Di dalam negeri, kita bersyukur reformasi telah berjalan makin jauh, namun masih belum tuntas.

Upaya untuk membangun Good Governance dan memberantas korupsi mulai membuahkan hasil, namun masih perlu terus ditingkatkan. Kemiskinan sudah banyak berkurang, namun upaya peningkatan kesejahteraan rakyat perlu terus dilanjutkan.

Pengalaman menunjukkan setiap prestasi yang kita capai biasanya akan disusul oleh tantangan-tantangan baru. Tetapi saya percaya semua tantangan itu, baik yang sudah kita ketahui maupun yang belum dapat kita bayangkan akan dapat kita hadapi dan atasi bersama. Insya Allah Bangsa Indonesia akan terus maju meningkatkan kehidupannya yang lebih baik.

Saudara-saudara, tahun ini kita menyaksikan rakyat Indonesia telah menentukan pilihannya dalam Pemilihan Umum yang berlangsung secara damai dan demokratis. Ini adalah kali ketiga kita mampu menyelenggarakan Pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil. Kita semua mampu melaksanakan kompetisi politik dengan penuh etika dan kedewasaan.

Dalam Pemilihan Umum, kalah atau menang adalah hal yang biasa. Dalam demokrasi, kita semua menang, demokrasi menang, rakyat menang, Indonesia menang.

Berkaitan dengan itu pada kesempatan yang baik ini saya ingin menyampaikan rasa hormat kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan Bapak Prabowo Subianto, serta Bapak Muhammad Jusuf Kalla dan Bapak Wiranto atas partisipasi aktif dan kegigihan beliau-beliau sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pemilihan tahun 2009. Mereka adalah putra-putri bangsa yang ikut berjasa memekarkan kehidupan demokrasi di tanah air kita.

Hari ini saya mengajak semua komponen bangsa untuk kembali bersatu dan bersama-sama membangun bangsa, membangun masa depan kita semua. Dengan semangat baru dan kebersamaan, mari kita songsong pembangunan lima tahun ke depan dengan penuh optimisme dan rasa percaya diri.

Dalam menjalankan amanah rakyat lima tahun mendatang, saya bersama wakil presiden telah menetapkan program seratus hari, program satu tahun, dan program lima tahun ke depan. Esensi dari program lima tahun mendatang adalah peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan demokrasi, dan penegakan keadialan. Prosperity, democracy, and justice.

Peningkatan kesejahteraan rakyat merupakan prioritas utama. Kita ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan keunggulan daya saing, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan sumber daya manusia.

Ekonomi kita harus tumbuh semakin tinggi, namun pertumbuhan ekonomi yang kita ciptakan adalah pertumbuhan yang inklusif, pertumbuhan yang berkeadilan, dan pertumbuhan disertai pemerataan. Kita juga ingin membangun tatanan demokrasi yang bermartabat, yaitu demokrasi yang memberikan ruang kebebasan dan hak politik rakyat tanpa meninggalkan stabilitas dan ketertiban politik.

Kita juga ingin menciptakan keadilan yang lebih baik, ditandai dengan penghormatan terhadap praktik kehidupan yang non diskriminatif, persamaan kesempatan, dan tetap memelihara kesetiakawanan sosial dan perlindungan bagi yang lemah.

Saudara-saudara, untuk mewujudkan cita-cita kita semua, utamanya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat demokrasi dan meningkatkan keadilan, ada sejumlah kunci sukses yang perlu kita pedomani dan jalankan bersama.

Pertama, jangan pernah kita menyerah dan patah semangat. Ingat, segala keberhasilan monumental bangsa kita dari revolusi, pembangunan nasional, reformasi, penyelesaian berbagai konflik, termasuk penanganan tsunami, semuanya ini hanya bisa dicapai dengan keuletan dan semangat tak kenal menyerah.

Sebagaimana sering saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, kita harus selalu mengobarkan semangat harus bisa. `Can do spirit`. Ke depan, dengan semangat Indonesia bisa kita akan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah krisis dunia. Dengan semangat inilah kita akan menegakkan "good governance" dan membasmi korupsi.

Dengan semangat ini pulalah kita akan terus mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.

Kunci sukses yang kedua adalah perlu terus menjaga persatuan dan kebersamaan. Dalam demokrasi kita bisa berbeda pendapat, namun tidak berarti harus terpecah belah. Dalam demokrasi yang sehat, ada masanya kita berdebat, ada masanya kita merapatkan barisan.

Dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang kian berat, para pemimpin bangsa apa pun warna politiknya harus bisa terus menjaga kekompakan, mencari solusi bersama, dan sedia berkorban untuk kepentingan bangsa yang lebih besar.

Oleh karena itu, dalam melanjutkan pembangunan bangsa yang tidak pernah sepi dari tantangan dan dalam melaksanakan reformasi gelombang kedua sepuluh tahun mendatang, marilah terus kita pupuk dan perkokoh persatuan dan kebersamaan kita.

Kunci sukses yang ketiga adalah kita harus menjaga jati diri kita, ke-Indonesia-an kita. Yang membedakan Bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain adalah budaya kita, "way of life" kita, dan ke-Indonesia-an kita. Ada identitas dan kepribadian yang membuat Bangsa Indonesia khas, unggul, dan tidak mudah goyah.

Ke-Indonesia-an kita tercermin dalam sikap pluralisme atau kebhinnekaan, kekeluargaan, kesantunan, toleransi, sikap moderat, keterbukaan, dan rasa kemanusiaan. Hal-hal inilah yang harus kita jaga, kita pupuk dan kita suburkan di hati sanubari kita dan di hati anak-anak kita. Inilah modal sosial dan potensi nasional yang paling berharga.

Hadirin yang saya muliakan, rakyat Indonesia yang saya banggakan, mengakhiri pidato ini saya mengajak segenap rakyat Indonesia untuk terus melangkah maju sebagai sebuah bangsa yang besar, rukun dan bersatu, bangsa yang senantiasa tegak dan tegar menghadapi tantangan berlandaskan empat pilar kehidupan bernegara, yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, da Bhineka Tunggal Ika.

Kepada para tamu negara-negara sahabat di tengah-tengah kita, terimalah salam persahabatan Bangsa Indonesia.

Atas nama rakyat dan pemerintah Indonesia, saya juga akan mengambil bagian sebagaimana disampaikan oleh Bapak Taufiq Kiemas tadi untuk ikut mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Sultan Brunei Darussalam, Paduka Yang Mulia Sultan Hassanal Bolkiah, Presiden Timor Leste Yang Mulia Jose Ramos Horta, Perdana Menteri Singapura Yang Mulia Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Australia Yang Mulia Kevin Rudd, dan Perdana Menteri Malaysia Yang Mulia Datuk Sri Muhammad Najib Tun Haji Abdul Razak.

Saya juga mengucapkan selamat datang kepada utusan khusus dari Thailand, Republik Korea, Amerika Serikat, Republik Ceko, Srilanka, Selandia Baru, Jepang dan Filipina.

Kedatangan sahabat-sahabat internasional dalam inagurasi hari ini merupakan simbol "goodwill" dan kehormatan yang tiada taranya bagi Bangsa Indonesia.

Kepada dunia internasional saya ingin menegaskan bahwa Indonesia akan terus menjalankan politik bebas aktif dan akan terus berjuang untuk keadilan dan perdamaian dunia.

Indonesia akan mengobarkan nasionalisme yang sejuk, yang moderat dan yang penuh persahabatan, sekaligus mengusung internasionalisme yang dinamis.

Indonesia kini menghadapi lingkungan strategis yang baru di mana tidak ada negara yang menganggap Indonesia musuh dan tidak ada negara yang dianggap Indonesia sebagai musuh. Dengan demikian, Indonesia kini dapat dengan leluasa menjalankan "all direction foreign policy", di mana kita dapat mempunyai "a million friends and zero enemy".

Indonesia akan bekerjasama dengan siapa pun yang memiliki niat dan tujuan sama, utamanya untuk membangun tatanan dunia yang damai, adil, demokratis, dan sejahtera.

Indonesia akan terus berada di garis depan dalam upaya untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik. Kami akan terus menjadi pelopor dalam upaya penyelamatan bumi dari perubahan iklim.

Dalam reformasi ekonomi dunia, utamanya melalui G20 dalam memperjuangkan Millenium Development Goals, dalam memajukan multilateralisme melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan dalam mendorong tercapainya kerukunan antar peradaban, harmony among civilization.

Di tingkat kawasan, Indonesia akan terus berikhtiar bersama dengan negara-negara ASEAN lainnya untuk mewujudkan komunitas ASEAN dan menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, sejahtera, dan dinamis.

Akhirnya kepada segenap rakyat Indonesia di mana pun saudara berada, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang saudara berikan kepada saya dan Prof Dr Boediono untuk melanjutkan kepemimpinan nasional lima tahun mendatang.

Mari kita lanjutkan kerja keras dan kerja cerdas kita guna mencapai prestasi pembangunan yang lebih baik lagi di masa depan.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karuniaNya kepada kita dalam membangun bangsa dan negara menuju bangsa yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan.

Terima Kasih, Wassalaamu`alaikum Wr Wb

Pembukaan

Pendahuluan

Isi

Penutup

Sampel Pidato Kenegaraan KH. Abdurrahman Wahid

Saudara Ketua, para Wakil Ketua dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, para hadirin yang saya muliakan, dan seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai, di manapun saudara-saudara berada,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Alhamdulillah, hari ini kita kembali menyongsong Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang akan kita peringati besok tanggal 17 Agustus 2000. Konvensi ketatanegaraan yang kita pelihara selama ini, dengan Presiden menyampaikan pidato di hadapan sidang pleno DPR-RI yang terhormat pada setiap tanggal 16 Agustus, adalah sesuatu yang baik. Kesempatan ini bisa kita gunakan bersama untuk melakukan refleksi atas perjalanan kita sebagai bangsa. Besok, usia kemerdekaan kita akan mencapai 55 tahun, tetapi usia kebangsaan Indonesia jauh lebih tua dari itu.

Kebangsaan Indonesia telah lahir dan berproses mematangkan kehadirannya di bumi nusantara ini jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dilakukan. Kelahiran itu berproses dari sejak bangkitnya kesadaran eksistensial para pendahulu kita untuk membentuk komunitas politik yang secara hakiki menolak kehadiran bangsa lain yang menjajah wilayah dan masyarakat nusantara. Proses penghayatan yang terus meluas dan menyebar itulah yang kemudian membentuk kesadaran kolektif kita sebagai suatu bangsa. Dari sini terbukti bahwa kebangsaan atau nasionalisme bukanlah sesuatu yang terbentuk dan lahir secara alamiah, tetapi adalah suatu produk dari pertumbuhan sosial dan intelektual suatu masyarakat dalam suatu tahapan sejarah tertentu.

Para pendiri republik ini sepakat meletakkan fondasi dari ikatan kebangsaan Indonesia pada kesamaan nasib dan kesamaan cita-cita. Dengan nasib yang sama, terjalinlah ikatan emosional dan moral yang kuat, yang bisa kita sebut persaudaraan sebagai bangsa.

Dengan cita-cita yang sama, terbentuklah solidaritas untuk menggalang kekuatan mengejar kemajuan, mendirikan negara, membentuk pemerintahan, menegakkan hukum, dan mengembangkan kehidupan di berbagai bidang.

Proklamasi itu sendiri kita maknai sebagai puncak dari kesepakatan bangsa Indonesia untuk mewadahi kehidupan bersamanya melalui pembentukan sebuah negara kebangsaan yang merdeka, berdaulat dan demokratis. Para pendiri negara ini sejak awal telah bersepakat bahwa negara kebangsaan Indonesia yang demokratis itu bukanlah milik dari sekelompok orang, tidak terkecuali kelompok mayoritas, baik dalam artian suku, agama, maupun kelas dan kasta. Negara Republik ini adalah milik bangsa Indonesia seluruhnya.

Saudara Ketua, para wakil ketua, anggota DPR-RI yang terhormat, dan hadirin yang saya muliakan,

Hari ini sangat layak bagi kita sekalian untuk berbicara banyak tentang nilai-nilai kebangsaan, kemerdekaan, dan demokrasi, karena nilai-nilai tersebut akan terus menyertai perjalanan kita ke depan. Ketiganya terjalin dalam hubungan persenyawaan yang sangat kuat. Kita tidak mungkin mengembangkan demokrasi dan memberi makna pada kemerdekaan di luar bingkai kebangsaan. Demokrasi yang memberi legitimasi pada kedaulatan rakyat tidak mungkin diekspresikan secara efektif di luar formasi kebangsaan. Kedua nilai itu, kebangsaan dan demokrasi, tidak bisa hidup sempurna dalam keterpisahan. Kebangsaan tanpa demokrasi akan kehilangan dinamika hidup, dan demokrasi tanpa nasionalisme akan menjadi liar.

Dalam pengalaman sejarah kita sendiri, sangat jelas bahwa semangat dan citarasa kebangsaan itulah yang mengantarkan bangsa ini pada kemerdekaan, melalui mana kita memperoleh kesempatan untuk membangun sebuah sistem politik yang demokratis. Kalau pertalian nilai-nilai ini saya angkat kembali hari ini, tidak lain maksudnya agar kita, bangsa Indonesia, mau memahami bahwa iklim kebebasan politik yang kini kita bangun bukanlah sesuatu yang terpisah dari komitmen kebangsaan yang diletakkan oleh para pendiri republik ini. Dalam dua tahun terakhir ini, bangsa Indonesia memang mulai menemukan kembali hak-hak demokrasinya. Ini tampak jelas dalam hal kebebasan berekspresi, baik lisan maupun tulisan.

Hadirnya begitu banyak institusi, asosiasi dan organisasi di luar formasi negara dalam dua tahun terakhir ini merupakan pertanda yang positif. Terutama jika kiprah mereka mengarah pada terbentuknya masyarakat yang mampu menolong dirinya dan menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri, masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan secara intelektual, atau yang lazim disebut "civil society".

Tetapi, seperti yang telah saya katakan tadi, sebagaimana halnya dengan kebangsaan, demokrasi pun bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah. Kecanggihan kita dalam membangun demokrasi akan menentukan bukan saja kualitas demokrasi itu sendiri, tetapi juga kelangsungan hidupnya. Kalau atas nama demokrasi, kita secara sadar atau tidak,

membenarkan atau membiarkan terjadinya tindak kekerasan dalam masyarakat, menjadikan sikap benci dan dendam sebagai instrumen untuk menyingkirkan lawan politik, atau mengeksploitasi kelalaian dan kesalahan pemerintah di masa lalu untuk memberi pembenaran pada gerakan separatisme, bisa dipastikan bahwa makna demokrasi sebagai proses rasional untuk menyelesaikan berbagai konflik akan sulit kita wujudkan. Semua ini bisa terjadi, kalau praktik demokrasi tidak dibingkai oleh semangat kebangsaan yang merupakan kesepakatan nilai untuk secara moral dan emosional bersatu dan merasa satu.

Karena itu, upaya redefinisi, reorientasi dan reproduksi atas nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi tersebut sangat kita perlukan. Kepeloporan para pemimpin politik dalam membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat atas nilai demokrasi dan kebangsaan itu sangat diperlukan, agar makna kemerdekaan sebagai pembebasan lahir batin dari segala praktik kezaliman dapat lebih mewarnai kehidupan kita sehari-hari, baik di bidang politik, maupun sosial, ekonomi dan budaya.

Hadirin yang berbahagia,

Adalah sesuatu yang ironis kalau dalam suasana memperingati hari kemerdekaan kali ini, masih cukup banyak warga bangsa kita yang terpuruk dalam keprihatinan akibat belum merdeka dari rasa takut akan keselamatan diri dan keluarganya. Para pengungsi dari daerah-daerah konflik dan kerusuhan, mengalami hal ini dari hari ke hari. Kaum miskin di perkotaan pun belum sepenuhnya merdeka dari rasa takut tergusur dan terusir dari tempat tinggalnya, yang secara legal dan sosial mungkin memang tidak layak dipertahankan. Merdeka dari penderitaan berkepanjangan, masih belum pula dikecap oleh saudara-saudara kita yang berada dalam kondisi kemiskinan struktural.

Kita menyadari bersama, bahwa pembangunan selama ini belum sepenuhnya mampu memberi kesejahteraan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Kita pun belum berhasil mencabut akar-akar kemiskinan dan penderitaan yang tertanam di tengah-tengah masyarakat. Ini antara lain disebabkan karena kemiskinan sebagai fenomena multidimensional harus didekati secara holistik, dan membutuhkan keterlibatan semua pihak dalam penanggulangannya. Upaya itu mencakup penyediaan lapangan kerja yang seluas mungkin, peningkatan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta akses akan prasarana dasar yang layak dan terjangkau.

Tantangan yang kita hadapi dalam menangani masalah kesejahteraan rakyat memang berat. Upaya memberdayakan masyarakat miskin itu harus dilakukan agar mereka lebih mampu mengatasi sendiri masalah-masalahnya. Untuk itu, kepada mereka perlu dibuka akses informasi, kebebasan berorganisasi dan kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya sendiri.

Transformasi dari ketergantungan menuju kemandirian ini yang perlu kita usahakan bersama. Pengalaman dalam menghadapi krisis ekonomi selama tiga tahun terakhir,

menyadarkan kita betapa ketergantungan masyarakat yang demikian kuat kepada pemerintah telah melumpuhkan potensi kreativitas masyarakat untuk bangkit mengatasi krisis.

Karena itu, pemerintah mempunyai komitmen tinggi untuk mengurangi dominasi perannya. Apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri tidak perlu lagi dilakukan oleh pemerintah, dan semua aparat pemerintah perlu meningkatkan kemampuannya untuk berfungsi sebagai fasilitator. Kita semua perlu menyadari betapa pentingnya membangun sebuah masyarakat yang bertumpu pada kemampuannya sendiri, bergantung pada inisiatifnya sendiri, dan percaya pada dirinya sendiri.

Di berbagai lingkar kebudayaan dan kehidupan rakyat sehari-hari masyarakat kita, sesungguhnya masih terdapat banyak kearifan, ketetapan hati, serta semangat pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. Di tengah rakyat, kita masih bisa menemukan tenaga hidup yang sesungguhnya, yang dapat menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara yang kita cintai ini. Karena itu, memang memprihatinkan bahwa setelah lebih dari 50 tahun merdeka, kita belum cukup sukses dalam menata hubungan antar kelompok, suku, ras dan pemeluk agama. Patut disayangkan, bahwa darah masih mengalir, rasa dendam dan benci masih tertanam dalam hati sejumlah tertentu generasi penerus kemerdekaan, justru di saat rasa kebangsaan kita sedang teruji berat di tengah terpaan globalisasi.

Maka, tugas kita ke depan adalah menata kembali hubungan antar kelompok dalam format yang lebih kreatif dan manusiawi. Kita perlu merumuskan sebuah agenda nasional untuk rekonsiliasi, dialog dan komunikasi, demi memulihkan hubungan antar warga masyarakat di berbagai daerah. Kita juga perlu membangkitkan respon kultural terhadap macetnya komunikasi politik masyarakat kita di beberapa tempat.

Walaupun disharmoni sosial masih terus berlangsung, terutama di wilayah Maluku dan Maluku Utara, tidak seyogianya kita berputus asa. Nilai-nilai budaya kita yang banyak mengandung kearifan untuk menghargai orang atau kelompok lain, belum punah. Perbedaan suku, agama, ras, ataupun golongan selama ini telah biasa kita lihat sebagai bagian azasi dari kemajemukan. Banyak di antara kita yang menyadari bahwa konflik yang terjadi itu bukanlah sesuatu yang asli. Ia merupakan produk dari tangan-tangan kotor yang dengan licik memanfaatkan kelengahan masyarakat terhadap nilai-nilai budayanya sendiri, akibat terjadinya pergesekan kepentingan yang akut dalam hubungan-hubungan sosial, politik dan ekonomi masyarakat setempat. Maka, kalau sikap dan relasi baru yang berlandaskan semangat persaudaraan sebagai bangsa dapat dibangun kembali, dimana setiap golongan dan orang per orang memperoleh penghargaan akan hak dan martabatnya, ada harapan konflik itu akan bisa diselesaikan.

Pada saat yang sama, kita juga memerlukan keberanian untuk melakukan koreksi menyeluruh terhadap kesalahan-kesalahan bersama di masa lampau. Hanya dengan itu, kita bisa mengayunkan langkah dan mulai membangun masa depan baru secara bersama sebagai warga bangsa. Saya yakin bahwa moralitas budaya semacam inilah yang akan bisa menyelamatkan kita dari bahaya disintegrasi bangsa.

Saudara Ketua, para Wakil Ketua, Anggota DPR-RI yang terhormat, dan Hadirin yang saya hormati,

Sejalan dengan semangat untuk menata kembali kehidupan berbangsa dan memperbaharui kembali kesepakatan-kesepakatan kita, di bidang ekonomi pun kita ditantang untuk membangun kembali tatanan perekonomian nasional. Krisis yang melanda telah merusak banyak sendi penting dari perekonomian nasional kita. Akibatnya, banyak bagian dari masyarakat kita yang belum pernah menikmati hasil pembangunan selama ini, bahkan makin menderita akibat krisis ekonomi. Untuk menata dan membangun kembali perekonomian setelah krisis itu, kita akan secara konsisten melandaskannya pada prinsip demokrasi ekonomi, yakni jalan menuju kemakmuran bagi semua orang. Upaya pemulihan ekonomi, dengan demikian, tidak hanya sekedar mengembalikan kinerja ekonomi dalam bentuk tercapainya pertumbuhan yang tinggi, namun yang tidak kalah pentingnya adalah menciptakan kebersamaan dan partisipasi rakyat secara nyata dalam proses pembangunan. Dengan cara itu, kita akan mewujudkan keadilan dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati kemakmuran.

Pembangunan kembali perekonomian kita ditujukan untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan dan keadilan, efisiensi dan pemberdayaan, efektifitas dan kualitas kehidupan. Pada saat yang sama, krisis yang telah menginjak tahun ketiga mengharuskan kita untuk melakukan berbagai kebijakan pemulihan yang sering menimbulkan dampak yang berat bagi kehidupan ekonomi dan sosial, serta peka secara politik. Empat pilar program pemulihan yang telah saya sampaikan dalam pidato di depan Sidang Tahunan MPR minggu yang lalu akan kita laksanakan, yakni: satu, menjaga stabilitas makro; dua, memperkuat dan membangun kembali institusi ekonomi; tiga, meneruskan kebijakan dan penyesuaian struktural; dan empat, melindungi kelompok miskin dan pemberdayaan ekonomi lemah.

Landasan demokrasi ekonomi yang diartikan sebagai kemakmuran bagi semua, memiliki dua elemen penting, yakni kemakmuran dan kesempatan bagi seluruh warga masyarakat untuk menikmatinya. Kemakmuran yang dicapai semata-mata melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pasti tidak akan terjaga kelangsungannya. Ini terlihat dari pengalaman kita sendiri sepanjang krisis ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang menjadi landasan penciptaan kemakmuran, ternyata runtuh bersama faktor-faktor pendukungnya akibat goyahnya stabilitas makro, rapuhnya institusi akibat pengelolaan yang buruk (bad governance), distorsi kebijakan struktural, dan lemahnya kualitas sumber daya manusia akibat kemiskinan dan tidak adanya akses terhadap pendidikan, teknologi, informasi dan kesehatan.

Untuk menciptakan kemakmuran, pertumbuhan ekonomi merupakan suatu prasyarat. Meskipun demikian, pertumbuhan yang akan kita pulihkan itu haruslah berlandaskan pada fondasi baru yakni kondisi institusi publik yang bersih dan kredibel, institusi ekonomi seperti perbankan dan badan usaha yang sehat dan dikelola dengan baik, serta kelengkapan peraturan dan penegakan hukum untuk menjaga mekanisme pasar yang

efektif dan berkeadilan. Untuk itu, upaya kita dalam pemulihan dan restrukturisasi ekonomi yang telah dilakukan dalam sepuluh bulan ini akan terus kita jalankan secara konsisten dan dengan disiplin yang tinggi.

Elemen kedua dalam demokrasi ekonomi adalah kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk ikut menciptakan dan menikmati kemakmuran. Ini terkait erat dengan konsep keadilan ekonomi. Keikutsertaan masyarakat dalam proses penciptaan kemakmuran dan menikmati hasil pembangunan di masa lalu memang sangat terbatas, akibat pola pengambilan keputusan dan penguasaan yang sangat sentralistik, disertai praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Koreksi terhadap praktik buruk tersebut perlu dilakukan, dan pelaksanaan desentralisasi kekuasaan, akan menjawab permasalahan keadilan, yaitu terciptanya kesempatan ekonomi yang sama bagi seluruh warga negara Indonesia dari lapisan, golongan dan daerah mana saja.

Berbagai instrumen untuk melaksanakan tujuan keadilan ekonomi akan terus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Pertama, anggaran negara yang lebih memihak kepada masyarakat miskin dan kelompok ekonomi lemah akan terus ditingkatkan. Pemihakan itu terlihat dalam bentuk alokasi untuk perbaikan mutu sumber daya manusia melalui pendidikan, latihan, dan perbaikan kualitas kesehatan, termasuk perbaikan lingkungan hidup serta program jaring pengaman sosial. Sama pentingnya dengan upaya itu, pemerintah akan terus melakukan perbaikan dan pembangunan infrastruktur agar mobilisasi faktor produksi dapat berjalan semakin baik, aman dan lancar.

Instrumen lain yang dapat digunakan adalah kebijakan penyaluran kredit dan kebijakan penanaman modal. Perbankan yang telah direkapitalisasi agar mengutamakan penyaluran kreditnya pada kelompok ekonomi lemah. Kedua instrumen tersebut akan dikembangkan tanpa melanggar rambu-rambu kehati-hatian, baik pada anggaran negara maupun dalam aturan perbankan. Pada akhirnya, upaya pemberdayaan dan pemihakan hanya akan berhasil apabila kesempatan partisipasi masyarakat memang dirancang untuk selalu dibuka seluas-luasnya dan seadil-adilnya dalam pengelolaan kegiatan ekonomi.

Landasan peraturan dan kepastian hukum harus disiapkan, agar rancangan kebijakan yang ideal dapat terwujud. Unsur terpenting dalam menciptakan kepastian hukum adalah penegakan hukum yang dirasakan masih belum memadai dan harus menjadi bagian penting dalam program mewujudkan keadilan bagi masyarakat. Kita bersama-sama perlu memulai dan menyelesaikan tugas berat tersebut, baik dalam menyempurnakan perundang- undangan, membenahi sistim dan lembaga peradilan maupun dalam upaya memberantas kejahatan dan penyelewengan-penyelewengan hukum lainnya.

Aspirasi masyarakat agar lebih banyak tugas dan fungsi pemerintahan dilimpahkan ke daerah, disertai implikasi keuangannya, akan menjadi tema penting dalam pengelolaan kenegaraan mulai saat ini. Desentralisasi kewenangan dan keuangan ke daerah akan semakin mendekatkan pemerintah kepada masyarakat yang harus dilayaninya. Proses itu memerlukan peningkatan kapasitas dan akuntabilitas publik, dan akan menumbuhkan semangat ikut memiliki dan bertanggungjawab dari masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan wewenang, kita sedang dan akan menciptakan rambu-rambu obyektif yang diperlukan. Ini penting, agar kepentingan masyarakat terlindungi dan pertanggungjawaban publik dapat tercapai.

Pembangunan kembali perekonomian kita untuk mencapai cita-cita kemerdekaan, dilaksanakan dalam lingkungan global yang terus berubah. Globalisasi ekonomi menghendaki diterapkannya prinsip-prinsip universal, seperti pengelolaan yang baik (good governance), penerapan dan perlindungan hak azasi manusia, serta perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup. Karena itu, pengelolaan perekonomian harus berdasar pada aturan yang lebih adil, tegas, dan pasti, demi melindungi kepentingan pekerja, konsumen, dan lingkungan hidup. Kepentingan-kepentingan itu sama bobotnya dan sejalan dengan kepentingan pemerintah sendiri. Pada saat yang sama, ia pun harus seimbang dengan kepentingan investor dan pelaku usaha.

Saudara Ketua, para Wakil Ketua dan Anggota Dewan yang terhormat, hadirin yang saya muliakan,

Beban yang dipikul oleh pemerintah ke depan, sangatlah berat. Di atas pundak setiap pemimpin pemerintahan Indonesia saat ini, baik pada tingkat nasional maupun daerah dan desa, terpikul beban untuk mencegah terjadinya atau berlanjutnya proses disintegrasi bangsa, akibat gerakan separatisme dan konflik sosial yang berlarut-larut.

Karena itu, saya mengharapkan agar para pemimpin pemerintahan itu benar-benar memahami aspirasi masyarakatnya, mencermati setiap perubahan yang terjadi di lingkungannya, serta memelihara komunikasinya dengan masyarakat luas. Kita semua harus pandai membangun pertalian batin dengan masyarakat, bermusyawarah dengan semua pihak dalam menyelesaikan berbagai masalah. Namun apabila semua upaya damai untuk mengatasi konflik gagal tercapai, adalah menjadi kewajiban pemerintah untuk menugaskan alat negara mengambil tindakan tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

Selain dari beban politik untuk mencegah disintegrasi itu, pemerintah juga sangat sadar akan tanggungjawabnya untuk segera membawa bangsa dan negara ini keluar dari krisis ekonomi dan keuangan yang sudah berlangsung cukup lama. Pemerintah pun tidak lupa akan perannya yang semakin dibutuhkan untuk membawa bangsa ini masuk ke lingkungan pergaulan global secara terhormat, yang juga berarti menyiapkan masyarakat bangsa kita agar mampu mengambil manfaat dari globalisasi itu. Ini berarti bahwa perhatian pada pengembangan sumber daya manusia, baik melalui pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun melalui perbaikan kondisi kesehatan, harus diperbesar.

Dalam rangka itu semua, saya telah merancang kebijakan restrukturisasi pemerintahan untuk lebih mempertajam fokus dan prioritas kebijakan nasional di berbagai bidang. Di samping untuk mewujudkan implementasi otonomi daerah yang akan sepenuhnya efektif pada bulan Januari 2001, restrukturisasi ini juga merupakan langkah yang saya pandang

tepat untuk lebih memudahkan pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan. Beberapa sektor pemerintahan yang di masa lalu terpisah, walaupun fungsi dan wewenangnya berhimpitan, akan ditempatkan di bawah atap yang sama. Restrukturisasi ini juga diharapkan mengakhiri praktik duplikasi kebijakan yang selama ini sulit dihindari akibat adanya dua atau lebih departemen dan instansi yang menggarap bidang yang sama. Inti dari restrukturisasi itu adalah efisiensi administrasi, profesionalisme dalam perumusan berbagai kebijakan dan efektifitas tindakan operasional dalam mengatasi berbagai masalah.

Pemerintah pada dasarnya menyadari bahwa dengan implementasi otonomi daerah, bukan saja kewenangan pemerintah nasional mengalami pengurangan, tetapi juga alokasi dana yang akan diterimanya akan lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kenyataan ini mengharuskan dilakukannya perampingan organisasi dan birokrasi, serta penyesuaian alokasi anggaran dan prioritas penggunaannya. Proses restrukturisasi dan perampingan ini akan dilakukan secermat mungkin guna mencegah kemungkinan timbulnya masalah baru yang tidak perlu. Realisasi dari rencana di atas mempersyaratkan menteri dan pejabat yang berkualitas tinggi dan pembagian tugas kepemimpinan pemerintahan yang lebih proporsional dan efektif. Insya Allah dalam waktu dekat, pemerintah hasil restrukturisasi itu akan hadir bersama saudara-saudara.

Walaupun tekad membangun pemerintahan yang baik melandasi kehadiran kabinet baru tersebut, saya percaya bahwa kiprah dan kualitas pengabdian mereka juga sangat tergantung dari kuatnya dukungan wakil-wakil rakyat di DPR sebagai mitra kerja pemerintah, serta luasnya penerimaan masyarakat terhadap setiap langkah yang akan diambil oleh pemerintah.

Pemerintahan yang baru itu akan saya bebani tanggungjawab untuk menyelesaikan masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial yang secara garis besar telah saya kemukakan tadi. Dari setiap pribadi menteri, pemerintah membutuhkan semacam komitmen moral untuk memberi pengabdian terbaiknya demi menyelamatkan kehidupan bangsa di berbagai bidang dan memberi makna pada kemerdekaan yang kita capai dengan susah payah serta pengorbanan yang besar ini.

Saudara Ketua, para Wakil Ketua, anggota Dewan yang terhormat dan hadirin yang berbahagia,

Itulah hal-hal yang saya pandang penting untuk saya sampaikan dihadapan sidang yang mulia ini. Mudah-mudahan dengan semangat kebangsaan, kemerdekaan dan demokrasi yang menyelimuti kehadiran kita di gedung ini, kita bisa menciptakan kesepakatan-kesepakatan baru dalam mengoptimalkan pengabdian kita bersama kepada bangsa dan negara RI yang kita cintai bersama. Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa bersama kita, amin.

Terima Kasih.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pembukaan

Pendahuluan

Isi

Penutup

Inauguration Speech of Barrack Obama Table

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and co-operation he has shown throughout this transition. Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms.

At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because we, the people, have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding document.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.

Serious challenges

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the

ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land a nagging fear that Americas decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.

We have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord

Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America they will be met.

On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.

Nation of risk-takers

We remain a young nation, but in the words of scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things some celebrated but more often men and women obscure in their labour, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and travelled across oceans in search of a new life.

For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and ploughed the hard earth.

For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn.

Remaking America

Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.

The state of the economy calls for action, bold and swift

This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.

For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technologys wonders to raise health cares quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. All this we will do.

Restoring trust

Now, there are some who question the scale of our ambitions who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.

What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply.

We reject as false the choice between our safety and our ideals

The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the publics dollars will be held to account to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day because only then can we restore the vital trust between a people and their government.

Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control that a nation cannot prosper long when it favours only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our gross domestic product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart not out of charity, but because it is the surest route to our common good.

Ready to lead

As for our common defence, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our founding fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expediences sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more.

We will not apologise for our way of life, nor will we waver in its defence

Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with the sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint. We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the spectre of a warming planet. We will not apologise for our way of life, nor will we waver in its defence, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.

Era of peace

For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.

To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their societys ills on the West know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.

To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the worlds resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.

Duties

As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honour them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment a moment that will define a generation it is precisely this spirit that must inhabit us all.

What is required of us now is a new era of responsibility

For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighters courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parents willingness to nurture a child, that finally decides our fate.

Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths.

What is required of us now is a new era of responsibility a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.

Gift of freedom

This is the price and the promise of citizenship.

This is the source of our confidence the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.

This is the meaning of our liberty and our creed why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than 60 years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.

So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have travelled. In the year of Americas birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:

Let it be told to the future world that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it].

America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our childrens children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and Gods grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.

Thank you. God bless you. And God bless the United States of America.

Pendahuluan

Isi

Penutup

Penjabaran Variabel

Tabel Penelitian Pidato KH. Abdurrahman Wahid

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Penggunaan Bahasa Baku

Pidato Kenegaraan

KH. Abdurrahman Wahid

Pembakuan

Ket.

Pembuka

Saudara Ketua, para Wakil Ketua dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat…

+

Kalimat Baku

Pendahuluan

Alhamdulillah, hari ini kita kembali menyongsong Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang akan kita peringati besok tanggal 17 Agustus 2000…

+

Kalimat Baku

Isi

Hari ini sangat layak bagi kita sekalian untuk berbicara banyak tentang nilai-nilai kebangsaan, kemerdekaan, dan demokrasi…

+

Kalimat Baku

Penutup


Itulah hal-hal yang saya pandang penting untuk saya sampaikan dihadapan sidang yang mulia ini…

+

Kalimat Baku

Tabel Penelitian Pidato Susilo Bambang Yudhoyono

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Penggunaan Bahasa Baku

Pidato Pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono

Pembakuan

Ket.

Pembuka

Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia…

+

Kalimat Baku

Pendahuluan

Hari ini dengan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT…

+

Kalimat Baku

Isi

Saudara-saudara, kita baru saja melewati periode sejarah 2004-2009 yang penuh dengan tantangan…

+

Kalimat Baku

Penutup

Mari kita lanjutkan kerja keras dan kerja cerdas kita guna mencapai prestasi pembangunan yang lebih baik lagi di masa depan.

+

Kalimat Baku

Tabel Penelitian Inauguration speech of Barrack Obama

V. Bebas

V. Terikat

Penggunaan bahasa baku

Pidato pelantikan Barrack Obama

Pembakuan

Ket.

Pembukaan

I stand here today humbled by the task before us…

+

Pendahuluan

(kosong)

(kosong)

Tidak terdapat pendahuluan, hanya terdapat saran.

Isi

That we are in the midst of crisis is now well understood.

+

penutup

Thank you. God bless you…

+

Tabel Perbandingan dan Pengujian Hipotesis

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Penggunaan Bahasa Baku

Pidato Kenegaraan

KH. Abdurrahman Wahid

Pidato Pelantikan SBY

Inauguration speech of Barrack Obama

Pembuka

+

+

+

Pendahuluan

+

+

(kosong)

Isi

+

+

+

Penutup

+

+

+

Ket:

(+) = Sesuai Hipotesis

(-) = Tidak sesuai Hipotesis

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil penelitian yang pertama yaitu pidato K.H Abdurrahman Wahid menggunakan tata bahasa indonesia dan EYD yang benar.

Pada pidato Susilo Bambang Yudhoyono yang kami teliti, tata bahasa dan EYD yang di gunakan benar.

Pidato Barack Obama yang kami teliti bahwa EYD yang digunakan benar namun tata bahasanya berbeda dengan bahasa Indonesia.

Dari hasil penelitian yang kami lakukan dari ketiga pidato tersebut dapat diambil simpulan bahwa ketiga pidato tersebut tidak memiliki masalah. Artinya bahwa ketiga pidato tersebut sesuai dengan EYD. Akan tetapi pidato Barack Obama yang menggunakan bahasa inggris memiliki struktur tata bahasa yang berbeda dengan pidato yang menggunakan bahaa Indonesia.

Saran

Untuk kemudian hari agar penelitian dapat lebih matang maka diperlukan rumusan masalah dan tujuan pembelajaran yang benar serta latar belakang dan simpulan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

antara.co.id

vibizdaily.com

http://www.ri.go.id/istana/speech/ind/16agustus00.htm

bahasa%20indonesia,obama.com

www.wikipedia.com

e-book.html

www.cranyonpedia.org

1 Id.wikipedia.com

2 Id.wikipedia.com

3 www.google.com

Leave a Reply