Pidato Dies Prof. Wahyudi

Yang terhormat
Ketua, Sekretaris dan Anggota Majelis Wali Amanat,
Ketua, Sekretaris dan Anggota Senat Akademik,
Ketua, Sekretaris dan Anggota Majelis Guru Besar,
Rektor, Para Wakil Rektor Senior dan Wakil Rektor,
Para Dekan/Wakil Dekan, Ketua Lembaga, Ketua/Sekretaris Senat

Fakultas,
Para Dosen, Staf Kependidikan dan Mahasiswa,
Para Pengurus dan Anggota Keluarga Alumni Universitas Gadjah

Mada
Tamu Undangan dan Hadirin Sekalian.
Assalamualaikum Warakhmatul ahi Wabarakatuh
Pada awal pidato ini, kami mengajak para hadirin untuk
memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
Rahmat dan Karunia Nya yang selalu dicurahkan kepada kita semua,
termasuk kesehatan dan kesempatan kepada kita untuk berkumpul
memperingati Dies Natalis Universitas Gadjah Mada yang ke-60 ini.
Merupakan suatu kehormatan bagi kami, tim penyusun, bahwa
Universitas Gadjah Mada memberi kepercayaan untuk menyiapkan
materi pidato Dies. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada
tim penyusun atas kepercayaan kepada saya untuk menyampaikan
pidato Dies ini.
Dalam rangka menyumbangkan pemikiran untuk mengatasi
permasalahan energi di Indonesia, topik pidato ini adalah:
Penyediaan Energi Nasional: Problematika dan Strategi.
Pada pidato ini akan dibahas konsep energi, problematika
energi, sumber-sumber energi, teknologi penyediaan energi, dan
strategi penyediaan energi nasional.
Hadirin yang saya hormati.
Proses-proses yang terjadi di alam umumnya disertai efek
2
energi (perubahan energi). Dengan menambahkan atau mengambil
energi dari suatu sistem, manusia mampu mendorong terjadinya
suatu proses yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang
kehidupannya. Sebagai contoh, penguapan air menyerap energi
panas; dengan menambahkan energi panas, air dapat diuapkan,
sebaliknya dengan mengambil energi panas, uap air dapat
diembunkan. Untuk mendorong dan mengarahkan terjadinya suatu
proses yang di nginkan manusia, diperlukan peralatan dan energi
yang sesuai.
Energi dikenal dalam berbagai bentuk, misalnya panas,
mekanis, listrik, magnet, kimia dan nuklir. Manusia mampu
merekayasa peralatan yang dapat mengkonversi suatu bentuk energi
menjadi bentuk yang lain. Sebagai contoh, kompor mengkonversi
energi kimia bahan bakar menjadi energi panas, motor listrik
mengkonversi energi listrik menjadi energi mekanis, mesin uap
mengkonversi energi panas menjadi energi mekanis. Penemuan
mesin uap oleh James Watt (sekitar tahun 1765), yang
memungkinkan tenaga manusia diganti dengan tenaga mesin,
merupakan faktor pendukung penting kemajuan peradaban bangsa-
bangsa Barat pada era Revolusi Industri, sehingga selama beberapa
abad berhasil mengungguli bangsa Timur. Fakta sejarah tersebut
mengindikasikan bahwa kemampuan mamanfaatkan bentuk energi
yang lebih efektif dan efisien sangat penting bagi daya saing suatu
bangsa.
Menurut Munich Re Group (2009), ditinjau dari kemudahan
pemakaiannya, energi dapat dibedakan menjadi energi primer (energi
yang tersedia di alam, misal minyak bumi, batubara, panas bumi,
angin), energi sekunder (energi terolah/terkonversi, misal bensin,
minyak tanah, listrik), energi final (energi terpakai, misal energi
terpakai oleh kompor), dan energi bermanfaat (energi yang langsung
bermanfaat, misal panas dalam plat pemanas kompor).
Hukum Termodinamika I, yang mempelajari kuantitas energi,
pada prinsipnya menyatakan bahwa energi itu kekal, artinya
walaupun energi dapat berubah dari bentuk yang satu ke bentuk
yang lain, namun kuantitas atau jumlahya tetap. Energi tidak dapat
diciptakan, dan manusia hanya mampu memanfaatkan berbagai
energi yang tersimpan di alam (energi primer) dengan
3
mengkonversikannya menjadi energi lain yang lebih sesuai untuk
keperluannya. Satuan energi yang baku secara ilmiah adalah Joule,
disingkat J. Sebagai gambaran sederhana, satu J adalah energi
gerak (kinetis) suatu benda bermassa 2 kg yang bergerak dengan
kecepatan 1 m/s, atau energi mekanis yang diperlukan untuk
mengangkat benda bermassa 0,1 kg setinggi 1 m ditempat yang
percepatan gravitasinya 10 m/s2. Jumlah energi tiap satuan waktu
disebut daya, dengan satuan baku J/s atau disebut Watt, disingkat W.
Termodinamika juga mengembangkan konsep kualitas energi,
yang dalam Hukum Termodinamika II direpresentasikan dengan
parameter entropi (entropi naik, kualitas turun). Di alam semesta
terjadi proses-proses yang secara keseluruhan menurunkan kualitas
energi. Implementasi praktis dari konsep ini adalah bahwa konversi
energi berkualitas tinggi menjadi energi berkualitas rendah itu mudah
dan dapat 100% terubah. Sebaliknya konversi energi berkualitas
rendah menjadi energi berkualitas tinggi itu sulit dan tidak dapat
terubah 100%, karena sebagian akan terkonversi menjadi energi
berkualitas lebih rendah. Jadi konversi energi panas (berkualitas
rendah) menjadi energi mekanis (berkualitas tinggi) itu sulit dan
efisiensinya rendah, misal mesin uap, sedangkan konversi sebaliknya
mudah (misal gesekan). Energi yang mudah dimanfaatkan umumnya
berkualitas lebih tinggi, sedang energi primer umumnya berkualitas
lebih rendah, sehingga konversi energi primer menjadi energi final
umumnya sulit, dan efisiensinya rendah. Fenomena ini juga
merupakan pelajaran bagi kita semua, agar selalu berusaha
meningkatkan kualitas diri, karena jika tidak berusaha, kualitas kita
akan cenderung menurun.
Pada zaman modern ini, energi pada hakekatnya adalah
kebutuhan fisik pokok manusia, selain materi. Energi merupakan
kekuatan penggerak proses-proses kegiatan manusia dan bahkan
juga proses-proses di alam semesta. Untuk menjaga suhu tubuhnya
saja (kompensasi panas yang terbuang ke lingkungan), manusia
membutuhkan energi tiap waktu (daya) sekitar 100 W (Jantsch,
1980). Manusia zaman sekarang membutuhkan energi yang jauh
lebih banyak dibanding manusia zaman sebelumnya. Contoh
sederhana, menurut Austin (1980), daya otot manusia kira-kira setara
dengan 0,05 hp (daya kuda). Seseorang yang rumahnya memakai
4
listrik 1500 W atau kira-kira 2 hp, setara dengan mempunyai 40
pekerja di rumahnya. Jika ia mempunyai mobil dengan daya 100 hp,
itu setara dengan kereta yang ditarik 100 ekor kuda, atau setara
dengan 2000 tenaga manusia. Pada zaman dahulu, hal ini tentunya
termasuk kategori sangat mewah.
Kebutuhan energi manusia dapat dipenuhi dari berbagai
sumber yang terdapat di alam (energi primer), dan umumnya melalui
proses konversi menjadi energi yang lebih mudah digunakan. Data
perbandingan kandungan energi pada berbagai sumber secara
kasar adalah sebagai berikut. Energi yang diserap/dilepas untuk
perubahan suhu cairan adalah sekitar 4 x 103 J/kg/oC, untuk
peleburan sekitar 105 J/kg, untuk penguapan cairan sekitar 4 x 105
J/kg, untuk penguapan air sekitar 2 x 106 J/kg, untuk reaksi kimia
sekitar 2 x 107 J/kg, dan untuk reaksi nuklir sekitar 1014 J/kg (Jantsch,
1980; Marklein, 1977). Energi kimia terlihat sering dipakai untuk
memenuhi kebutuhan manusia, karena kerapatan energinya cukup
tinggi, transportasinya mudah dan penggunaannya praktis. Energi
steam praktis juga dipakai untuk keperluan lokal dalam suatu unit
(misal pabrik kimia). Energi nuklir sangat tinggi kerapatannya,
walaupun memerlukan peralatan yang relatif maju dan potensi
bahayanya tinggi.
Hal yang perlu disadari pula adalah bahwa sumber energi yang
cocok untuk suatu wilayah tidak bersifat universal, tetapi sangat
dipengaruhi kondisi lokal. Sumber energi yang cocok untuk suatu
daerah mungkin kurang cocok untuk daerah lain. Jadi kurang
bijaksana apabila kita meniru penyediaan energi dari daerah atau
negara lain tanpa melakukan studi yang mendalam tentang kondisi
lokal dan regionalnya.
Hadirin yang saya hormati.
Permasalahan utama terkait energi di Indonesia saat ini antara
lain adalah:
1. Kelangkaan energi, sebagai akibat dari bertambahnya
penduduk dan kenaikan pemakaian energi per kapita, sementara
energi yang saat ini dapat dimanfaatkan terbatas jumlahnya.
Menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM,
5
2006), kebutuhan energi primer Indonesia pada tahun 2005
adalah 956 juta SBM/tahun (1 SBM = 5,904 x 109 J) atau 5,64 x
1018 J/tahun. Pada tahun 2025, jika tanpa usaha optimalisasi
pengelolaan energi, diperkirakan nilainya meningkat menjadi
5102 juta SBM/tahun atau 3,01 x 1019 J/tahun.
2. Proporsi konsumsi yang relatif tinggi pada beberapa jenis
sumber energi (misal bensin dan solar), yang masih sulit diganti
dengan jenis sumber energi lain (misal biomassa dan batubara).
Departemen ESDM (2006) menyatakan bahwa pada tahun 2005,
kebutuhan energi final dalam bentuk bahan bakar minyak
mencapai 60% dari kebutuhan energi final total, sedangkan
dalam bentuk gas 16%, batubara 12%, listrik 11% dan LPG 1%.
Pada tahun 2008, dari bahan bakar minyak, 54% diserap sektor
transportasi (Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, 2009).
3. Sebagian besar sumber energi primer masih berupa bahan
bakar fosil (minyak dan gas bumi, serta batubara), yang
ketersediaannya terbatas dan tidak terbarukan (non-renewable).
Menurut Departemen ESDM (2006), pada tahun 2005, sekitar
94% dari kebutuhan energi primer berasal dari bahan bakar fosil.
Selanjutnya, jika tanpa usaha optimalisasi pengelolaan energi,
pada tahun 2025 diperkirakan proporsi akan menjadi 97%.
4. Efisiensi pemakaian energi di Indonesia masih rendah (boros
energi), misalnya dapat terlihat dari 2 indikator utama. Indikator
pertama adalah intensitas energi yakni perbandingan antara
konsumsi energi dengan penghasilan domestik bruto (Setara Ton
Minyak/juta $, makin rendah makin efisien). Indikator kedua
adalah elastisitas pemakaian energi yakni perbandingan laju
pertumbuhan konsumsi energi dan laju pertumbuhan ekonomi
(makin rendah makin efisien). Data dari Departemen ESDM
(2006) menunjukkan bahwa intensitas energi Indonesia 470
(Jepang 92,3, Jerman sekitar 125, Thailand sekitar 263),
sedangkan elastisitas pemakaian energi Indonesia 1,84
(Thailand 1,16, Perancis 0,47, Amerika Serikat 0,26, bahkan
Jerman 0,12). Nilai elastisitas pemakaian energi yang negatif
menunjukkan bahwa negara tersebut mampu menurunkan
konsumsi energi, dengan tetap menjaga pertumbuhan
ekonominya.
6
5. Gangguan lingkungan akibat pemanfaatan energi fosil, misal
emisi gas CO2 hasil pembakaran yang antara lain menyebabkan
pemanasan global, yang saat ini gejala-gejalanya mulai terasa.
Perlu di ngat bahwa tersedia sumber-sumber energi yang tidak
mengakibatkan emisi CO2, misal energi matahari, energi nuklir
dan energi biomassa. Meskipun pada pembakaran biomassa
dihasilkan juga CO2, namun CO2 dari biomassa tersebut berasal
dari CO2 dari udara yang diubah menjadi biomassa pada proses
asimilasi dengan energi matahari, jadi secara netto, tidak terjadi
emisi CO2 ke udara.
6. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau
menyulitkan distribusi energi ke wilayah-wilayah tertentu.
7. Kesadaran masyarakat atas sangat diperlukannya usaha
bersama untuk mengatasi problem energi nasional masih perlu
ditingkatkan. Problem energi memang sudah menjadi perhatian
penting pada diskusi di forum-forum ilmiah, pada pembahasan
kebijakan instansi terkait dan pada pemberitaan di media massa.
Namun terasa bahwa kesadaran masyarakat atas betapa
seriusnya permasalahan belum nampak nyata. Demikian pula
peran serta masyarakat dalam upaya solusinya.
8. Sinergi masyarakat-ilmuwan-pemerintah dalam mengatasi
persoalan energi nasional, yang merupakan faktor penting untuk
terwujudnya solusi, masih perlu ditingkatkan
Hadirin yang saya hormati.
Sebagai pijakan awal pengembangan solusi permasalahan
energi nasional, perlu dikaji dulu sumber-sumber energi yang tersedia
di Indonesia. Data-data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki
banyak jenis sumber energi, yang sebagian memang sudah
dimanfaatkan namun sebagian belum dimanfaatkan. Berikut dibahas
secara ringkas sumber-sumber energi tersebut.
1. Minyak bumi
Minyak bumi saat ini merupakan sumber energi dominan di
Indonesia dan bahan baku industri petrokimia, pemanfaatannya relatif
7
mudah, namun ketersediaannya terbatas. Ditjen Listrik dan
Pemanfaatan Energi (2009) menyatakan bahwa cadangan minyak
bumi Indonesia pada tahun 2008 berjumlah 8,2 x 109 barel,
sedangkan tingkat produksi 3,57 x 108 barel/tahun. Dengan tingkat
produksi seperti 2008, dan tanpa penemuan cadangan baru,
cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 23 tahun
(disebut nilai R/P, perbandingan jumlah cadangan (R) dengan tingkat
produksi (P)). Sumber lain, BP (2009), menyatakan bahwa cadangan
minyak bumi Indonesia pada tahun 2008 berjumlah 3,7 x 109 barel
atau hanya 0,3% cadangan dunia, sedangkan tingkat produksi pada
tahun itu sekitar 106 barel/hari atau 1,2% produksi dunia, dengan nilai
R/P = 10,2 tahun. Dua skenario ini tentunya menggambarkan betapa
seriusnya problem energi nasional, sehingga perlu diantisipasi
dengan sungguh-sungguh. Pembakaran minyak bumi, yang tergolong
energi fosil, juga berkontribusi pada pemanasan global, karena
penambahan CO2 di udara. Adalah lebih bijaksana, jika Indonesia
bisa lebih banyak memanfaatkan minyak bumi tersebut sebagai
bahan dasar industri petrokimia karena nilai tambahnya lebih besar,
daripada sebagai sumber energi.
2. Gas Bumi (Natural Gas)
Gas bumi saat ini juga merupakan sumber energi penting
Indonesia dan juga bahan baku industri petrokimia. Ditjen Listrik dan
Pemanfaatan Energi (2009) menyatakan bahwa cadangan gas bumi
Indonesia pada tahun 2008 berjumlah 1,7 x 1014 ft3, sedangkan
tingkat produksi 2,9 x 1012 ft3/tahun, sehingga nilai R/P = 59 tahun.
Sumber lain, BP (2009), menyatakan bahwa cadangan gas bumi
Indonesia pada tahun 2008 sebesar 1,125 x 1014 ft3 atau 1,7%
cadangan dunia, sedangkan tingkat produksi tahun 2008 sebesar
2,46 x 1012 ft3 atau 2,3% produksi dunia, dengan nilai R/P = 45,7
tahun. Menurut Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (2009), pada
tahun 2008, dari produksi gas bumi Indonesia, 47,8% diperuntukkan
keperluan domestik dan 52,2% eksport. Tingkat pemakaian di dunia
makin meningkat dan otomatis harganya makin tinggi. Hal ini
mendorong Indonesia cenderung lebih banyak mengeksport gas
buminya daripada memanfaatkannya untuk bahan baku industri
petrokimia (salah satu akibatnya adalah pabrik-pabrik pupuk kadang
8
mengalami kesulitan bahan baku gas bumi untuk produksinya; perlu
dikemukakan di sini harga jual gas bumi untuk industri pupuk diatur
agar lebih rendah daripada untuk eksport dengan pertimbangan
untuk menunjang sektor pertanian). Kecenderungan ini perlu dikaji
lagi untuk kepentingan jangka panjang. Kiranya lebih bijaksana, jika
Indonesia bisa lebih banyak memanfaatkan gas bumi tersebut
sebagai bahan dasar industri petrokimia karena nilai tambahnya lebih
besar, daripada dieksport.
3. Batubara (Coal)
Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (2009) menyatakan
bahwa cadangan batubara Indonesia pada tahun 2008 berjumlah
2,098 x 1010 ton, sedangkan tingkat produksi 2,29 x 108 ton/tahun,
sehingga nilai R/P = 82 tahun. BP (2009) menyatakan agak berbeda,
bahwa cadangan batubara Indonesia pada tahun 2008 berjumlah
4,328 x 109 ton atau 0,5% cadangan dunia, sedangkan tingkat
produksi pada tahun 2008 mencapai 1,41 x 108 ekivalen ton
minyak/tahun atau 1,92 x 108 ton/tahun atau 4,2% produksi dunia,
dengan nilai R/P = 22,5 tahun. Angka dari BP tersebut
mengindikasikan bahwa laju produksi batubara Indonesia relatif lebih
tinggi dari rerata dunia. Ini untuk kepentingan jangka panjang kurang
baik, apalagi produksi tersebut lebih banyak dieksport. Ditjen Listrik
dan Pemanfaatan Energi (2009) menyatakan bahwa pada tahun
2008, 70% produksi batubara Indonesia dieksport. Diharapkan peran
batubara ini dapat ditingkatkan dalam pengadaan energi dan bahan
baku industri kimia nasional. Perlu diperhatikan pula bahwa batubara
bisa juga dikonversi menjadi bahan bakar gas atau cair.
4. Gambut
Gambut adalah zat organik basah yang sudah sebagian
terdekomposisi (Austin, 1980). Pada akhirnya zat ini akan berubah
menjadi batubara (sangat lama). Indonesia cukup kaya dengan
gambut. Pemanfaatannya sebagai sumber energi dengan baik perlu
didahului dengan pengolahan.
5. Panas Bumi (Geotermal)
Indonesia mempunyai sumber energi panas bumi, namun saat
9
ini kontribusinya terhadap energi total relatif kecil. Potensi energi
panas bumi Indonesia diperkirakan 27000 MW (Ditjen Listrik dan
Pemanfaatan Energi, 2009) atau 8,5 x 1017 J/tahun. Pemanfaatan
energi panas bumi di Indonesia sudah mulai berkembang.
6. Matahari
Sinar matahari pada siang hari kira-kira memberikan energi 1
kW/m2. Potensi Indonesia menurut Ditjen Listrik dan Pemanfaatan
Energi (2009) adalah 4,80 kWh/m2/hari atau 6,31 x 109 J/m2/tahun.
Namun efisiensi penangkapannya belum bisa tinggi; dengan
teknologi sekarang, maksimum 15% (Desertec, 2009). Dengan
asumsi tersebut, kebutuhan energi Indonesia tahun 2025 bisa
dipenuhi dengan memanfaatkan energi matahari pada daratan seluas
31800 km2 atau sekitar 1,7% luas daratan Indonesia. Variasi dan
ketidakpastian intensitas serta harga peralatannya yang tinggi
menyebabkan terhambatnya pemanfaatan (Munich Re Group, 2009).
Diperlukan pula teknologi penyimpanan energi. Sebenarnya fossil
fuel
adalah juga berasal dari energi matahari yang terkumpul sejak
waktu yang sangat lama. Energi biomassa, angin, hydropower, dan
gelombang laut sebenarnya juga bersumber dari energi matahari.
Pemanfaatan energi matahari untuk skala kecil sudah mulai feasible.
Barber (2008) menyatakan bahwa kemampuan fotosintesis tanaman
menyerap energi matahari sangat bervariasi, maksimum 4,5%.
7. Tenaga air (hydropower)
Sumber energi ini (air terjun, aliran sungai, pasang surut laut,
gelombang, dl ) termasuk jenis terbarukan. Menurut Ditjen Listrik dan
Pemanfaatan Energi (2009), potensi energi air Indonesia 8,45 x 108
SBM atau 4,99 x 1018 J/tahun. Selain pada skala besar, instalasi
pembangkit listrik berbasis tenaga air bisa dibuat secara sederhana
dan pada skala kecil, jadi cocok untuk daerah terpencil.
8. Angin
Energi angin tersedia di Indonesia, namun arah angin relatif
tidak tetap, sehingga perlu kincir angin yang lebih fleksibel terhadap
arah angin. Karena intensitas anginnya tidak tetap, maka diperlukan
juga penyimpan energi. Menurut Ditjen Listrik dan Pemanfaatan
10
Energi (2009), potensi energi angin Indonesia 9290 MW atau 2,93 x
1017 J/tahun. Energi ini layak dipakai untuk kebutuhan lokal, namun
kontribusinya secara nasional relatif belum besar.
9. Biomassa
Biomassa dapat diartikan sebagai bahan-bahan yang diperoleh
dari zat hidup, misal tanaman. Ini bisa mencakup hasil tanaman
ataupun limbah tanaman. Biomassa bisa dipakai langsung sebagai
sumber energi atau diolah dulu menjadi bahan lain, misal menjadi
etanol, lewat fermentasi. Biomassa juga merupakan bahan baku
potensial untuk bahan kimia industri. Bahan ini bersifat terbarukan
(renewable) dan secara netto tidak menambah emisi CO2. Indonesia
perlu mengembangkan biomassa sebagai sumber energi dan bahan
baku industri kimia. Namun perlu di ngat bahwa sebagian biomassa
juga dipakai sebagai sumber pangan dan pakan (pati, gula, minyak
nabati, protein, dl ). Lebih bijaksana kiranya, bila yang dimanfaatkan
sebagai sumber energi dan bahan kimia industri adalah yang tidak
dimanfaatkan untuk pangan dan pakan, misal lignoselulosa.
Tentunya pemanfaatan biomassa ini perlu dijaga jangan sampai
merusak lingkungan (misal penggundulan hutan).
Karena energi biomassa berasal dari energi sinar matahari,
maka potensi energi biomassa dapat diperkirakan dari energi sinar
matahari. Pada cara pertama, diasumsikan intensitas energi matahari
maksimum 1000 W/m2 (Jantsch, 1980), terjadi penyinaran penuh
selama 7 jam tiap hari, hanya 1% energi dari energi matahari dapat
diubah menjadi energi biomassa karena sebagian besar dipakai
untuk autopioesis tanaman sendiri (Jantsh, 1980), hanya 5%
biomassa berwujud produk tanaman (minyak, pati, dl ), dan luas
daratan Indonesia 1,9 x 1012 m2. Jika semua daratan tertutup
tanaman, potensi energi biomassa Indonesia terhitung 1,7 x 1020
J/tahun, sedangkan potensi energi produk tanaman 8,5 x 1018
J/tahun.
Namun angka tersebut diambil berdasar anggapan semua
daratan tertutup tanaman, sinar matahari selalu pada intensitas
maksimum sepanjang tahun (7 jam/hari), semua biomassa bisa
diperuntukkan energi, dan efisiensi pengambilan energi biomassa
mencapai 100%. Jika efisiensi masing-masing faktor itu dianggap
11
50% (efisiensi gabungan = 0,5 x 0,5 x 0,5 x 0,5 = 0,0625), maka
potensi energi biomassa daratan Indonesia 1,1 x 1019 J/tahun sedang
potensi energi biomassa berupa produk tanaman 5,3 x 1017 J/tahun
Pada cara kedua, digunakan data dari Klass (1998), yang
menyatakan bahwa produksi biomassa (ton/ha/tahun) untuk berbagai
lingkungan adalah: hutan hujan tropis 9,90, hutan musim tropis, 7,20,
sabana 2,93, padang rumput 2,70, daerah rawa 13,5. Jika
diasumsikan produktivitas biomassa rerata Indonesia 5 ton/ha/tahun
dan luas daratan Indonesia 1,9 x 1012 m2, maka potensi biomassa
Indonesia adalah 9,5 x 1011 kg/tahun. Selanjutnya jika diasumsi
kandungan energi biomassa 3000 kcal/kg atau 1,25 x 107 J/kg,
diperoleh potensi energi biomassa daratan Indonesia 1,19 x 1018
J/tahun.
Cara 1 dan 2 memberikan hasil konsisten dan lebih tinggi dari
angka yang dikemukakan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi
(2009), yakni sebesar 49810 MW atau 1,571 x 1018 J/tahun. Namun
cara 1 dan 2 menganggap semua daratan dapat dimanfaatkan untuk
lahan tanaman, yang pada kenyataannya tidak demikian. Jika
dianggap hanya 40% yang bisa dipakai, diperoleh angka-angka 4,4 x
1018 J/tahun dan 5 x 1018 J/tahun. Mengingat sulitnya mengestimasi
potensi biomassa Indonesia secara akurat, tentunya angka-angka
tersebut dapat dipakai sebagai ancar-ancar, yaitu potensi energi
biomassa daratan Indonesia pada order 1018 J/tahun dan potensi
energi biomassa produk tanaman pada order 1016 J/tahun. Jika
kebutuhan energi primer Indonesia pada tahun 2025 menurut
Departemen ESDM (2006) diperkirakan 3,01 x 1019 J/tahun , maka
energi biomassa tidak bisa memenuhi 100%, apalagi energi
biomassa produk tanaman.
Ada juga biomassa yang jika tidak dikelola dengan baik akan
mengganggu lingkungan yaitu limbah rumah tangga misal kulit buah
dan sayur. Apabila diasumsi jumlah rerata limbah rumah tangga 300
kg/orang/tahun, maka di Indonesia terdapat 6,9 x 1010 kg/tahun. Jika
kandungan energi limbah tersebut diasumsi 1,2 x 107 J/kg, maka
terdapat potensi energi 8,28 x 1017 J/tahun atau sekitar 26250 MW.
Jumlahnya cukup banyak. Mengingat pula aspek kebersihan
lingkungan dan kemudahan memperolehnya, pemanfaatnya perlu
dijalankan. Limbah rumah tangga akan jauh lebih mudah diproses
12
jika ada klasifikasi pembuangan limbah.
10. Ganggang Mikro (micro algae)
Ganggang mikro sebenarnya termasuk biomassa, namun
karena akhir-akhir ini potensinya banyak menarik perhatian, maka
ditampilkan tersendiri. Tubuh ganggang mikro mengandung 70%
minyak (Dowd, 2007). Minyaknya bisa diambil dan diolah lebih lanjut
menjadi biodisel, dl . Ganggang mikro, menurut Dowd (2007),
berkembang sangat cepat dengan sinar matahari sebagai sumber
energi (jauh lebih efisien daripada tanaman-tanaman lain), dan bisa
hidup di air tawar, air laut, bahkan air kotor. Sebagai perbandingan,
produktivitas minyak bunga matahari 0,952 ton/ha/tahun, sawit 5,931
ton/ha/tahun, sedang ganggang mikro 500 sampai 5000 ton/ha/tahun.
Sedang dikembangkan teknologi penanaman ganggang mikro dalam
photo-bio-reactor.
11. Nuklir
Energi nuklir dapat dikatakan praktis sangat banyak jumlahnya,
jadi sangat menjanjikan untuk kebutuhan energi masa depan.
Departemen ESDM (2006) menyatakan bahwa bahan baku energi
nuklir yaitu mineral radioaktif tersedia misalnya di Aceh, Sumatra
Utara, Sumatra Barat, Lampung Tengah, Bangka-Bilitung,
Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Utara, dan Papua. Sampai saat ini yang sudah
dieksplorasi cukup teliti baru di Kalan, Kalimantan Barat. Di sana
tersedia bahan baku pembangkit energi nuklir untuk 3000 MW atau
9,5 x 1016 J/tahun untuk 11 tahun. Kusnanto, dkk (2009)
memperkirakan bahwa bahan baku Uranium di Kalan, dengan
teknologi sekarang, mampu mensuplai 4 PLTN (Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir) tipe LWR (Light Water Reactor) masing-masing
berkapasitas 1000 MW atau total setara 1,26 x 1017 J/tahun, selama
60 tahun. Energi nuklir ini tidak menyebabkan pemanasan global,
walaupun potensi hazard nya besar. Namun dengan teknologi maju
dan pengelolaan dengan sikap mental safety first, resikonya bisa
dibuat sangat rendah (aman). Investasi untuk pembangkitan cukup
besar dan pendirian sarananya memerlukan waktu persiapan yang
13
lama. Di masa datang, pemakaian energi nuklir ini mungkin sudah
menjadi keharusan bagi Indonesia. Untuk itu, persiapan perlu
dilakukan secara intensif sejak sekarang. Perlu di ngat pula bahwa
jika tidak dimanfaatkan, energi nuklir ini juga akan habis secara
alamiah karena dekomposisi nuklir alami.
12. Coalbed Methane
Coal bed methane adalah gas metana yang terkandung
(teradsorpsi) dalam batubara di alam. Potensi di Indonesia
diperkirakan cukup besar, namun informasi belum banyak tersedia.
Kompas, 27 Mei 2008, memberitakan bahwa potensi coalbed
methane
diperkirakan sebesar 453 TSCF (Tera Standard Cubic
Foot
), yang berada di sejumlah kawasan batubara Indonesia.
13. Hidrat Gas (gas hydrate)
Hidrat gas adalah kristal padat yang terdiri dari molekul gas
(umumnya metana) yang dilingkupi sejumlah molekul air.
Diperkirakan banyak terdapat di sedimen bawah laut. Informasi hidrat
gas di Indonesia belum banyak tersedia.
14. Shale Oil
Shale Oil adalah petroleum yang terikat secara kimiawi dengan
tanah/ batuan (Austin, 1980). Pengambilannya relatif sulit. Cadangan
di USA misalnya cukup besar (mampu menyediakan kebutuhan
energi USA pada tingkat sekarang untuk masa beberapa ratus
tahun). Informasi tentang potensi shale oil di Indonesia relatif belum
banyak tersedia.
15. Tar Sand
Tar sand adalah pasir yang mengandung bitumen yang
terperangkap di dalamnya (Austin, 1980). Recovery bisa dijalankan
misalnya dengan steaming. Informasi tentang keberadaan tar sand di
Indonesia relatif belum banyak tersedia.
16. Panas Laut
Adanya perbedaan suhu air laut di permukaan dan di
kedalaman dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan energi mekanis.
14
Air di permukaan yang hangat dipakai sebagai sumber panas,
sedang air di kedalaman yang dingin dipakai sebagai sumber dingin.
Indonesia yang letaknya di khatulistiwa berpotensi untuk
mengembangkan energi ini. Namun efisiensi termal sistem ini
diperkirakan rendah. Analisis termodinamis sederhana menunjukkan
bahwa efisiensi maksimum konversinya menjadi energi mekanis
rendah, yaitu sekitar 6,7%.
Hadirin yang saya hormati
Energi primer, seperti yang disebutkan di depan, perlu diproses
pendahuluan maupun dikonversi dulu menjadi energi bentuk lain agar
bisa dipakai memenuhi kebutuhan manusia dengan lebih baik.
Berikut disajikan sejumlah teknologi proses pengolahan/konversi
energi yang bisa dipertimbangkan untuk pengelolaan energi di
Indonesia (sebagian sudah dipakai di Indonesia).
Teknologi Pembangkitan Energi Listrik
Energi listrik umumnya dibangkitkan dari energi mekanis
dengan menggunakan generator. Energi mekanis tersebut dapat
diperoleh dari angin (lewat kincir) dan air (lewat turbin). Selain itu,
energi mekanis dapat diperoleh dari steam lewat turbin, dimana
steam dibangkitkan dengan energi panas. Energi panas diperoleh
dari energi kimia bahan bakar atau energi nuklir. Energi mekanis juga
bisa langsung diperoleh dari energi kimia bahan bakar dengan motor
bakar. Efisiensi konversi energi dengan jalur kimia-panas-mekanis-
listrik umumnya rendah, hanya sekitar 30% (Perry, 1999), jadi banyak
yang hilang. Jalur ini saat ini dominan digunakan untuk pembangkitan
energi listrik di Indonesia. Pemakaian energi kimia batubara yang
saat ini paling ekonomis mempunyai dampak kurang baik pada
lingkungan.
Teknologi Pemanfaatan Energi Air
Energi mekanis yang terkandung air tergantung jumlah, beda
elevasi dan kecepatan alirannya. Teknologi pemanfaatan energi air
yang beda elevasi tinggi sudah banyak dipakai di Indonesia, misal
pada PLTA. Namun untuk yang beda elevasi dan kecapatan rendah
15
namun jumlahnya banyak, pemanfaatan teknologi ini belum banyak
(misal pasang surut, gelombang laut, arus laut).
Teknologi Pemanfaatan Panas Bumi
Teknologi yang dapat dipakai misalnya adalah dengan
mengebor sampai posisi panas bumi, sehingga keluar steam atau air
panas. Energi yang dibawanya kemudian dimanfaatkan untuk
membangkitkan energi mekanis yang selanjutnya dikonversi menjadi
energi listrik. Energi panas yang diperoleh dari panas bumi tersebut
juga bisa dipakai langsung. Steam dan air panas yang sudah
berubah menjadi air dingin dikembalikan kedalam bumi. Dibutuhkan
investasi yang cukup besar, namun sumber energi primernya murah.
Sejumlah pembangkit listrik energi geotermal telah beroperasi di
Indonesia, misal Sibayak, 10 MW, G. Salak, 375 MW, Lahendong, 40
MW, dengan kapasitas total 1050 MW (Azimudin, 2009).
Teknologi Pemanfaatan Energi Angin
Teknologi yang umum dipakai adalah kincir angin. Energi
mekanis yang dihasilkan kincir bisa langsung dipakai atau dikonversi
menjadi energi listrik dengan generator. Karena arah angin di
Indonesia sering berubah, kincir yang diperlukan adalah yang mampu
memanfaatkan energi angin yang sering berubah arah. Unit
pembangkit energi dari energi angin sering disebut wind farm, yang
bisa berlokasi di darat maupun di laut. Mengingat luasnya laut
Indonesia, wind farm di laut perlu dikembangkan, meskipun biaya
pendiriannya lebih mahal daripada di darat. Denmark telah berhasil
membangun suatu wind farm di laut (Horns Rev) yang menghasikan
energi listrik 160 MW (Munich Re Group, 2009).
Pembakaran Sumber Energi Kimia
Sumber energi, misal batubara, biomassa, gas bumi dan
minyak bumi, kadang bisa dimanfaatkan langsung dengan
pembakaran (reaksi dengan gas oksigen dari udara) yang terutama
menghasilkan CO2 dan H2O serta energi panas. Agar sesuai dengan
peralatan yang dipakai, sering dilakukan lebih dahulu proses
pemisahan menjadi sejumlah komponen yang lebih sesuai (misal
16
bensin, solar), serta pemisahan zat-zat pengotor yang mengganggu
alat atau berpotensi mencemari lingkungan (misal penghilangan
belerang, penghilangan zat volatil).
Teknologi Biogas
Biomassa, terutama kotoran ternak, bisa diolah menjadi biogas
dengan pembusukan an-aerob. Dihasilkan gas dengan kandungan
metana cukup tinggi, sehingga bisa dipakai sebagai bahan bakar.
Diperoleh pula pupuk cair sebagai hasil samping. Teknologi yang
diperlukan sangat sederhana dan murah. Perlu pula di ngat bahwa
jika tidak diolah, biomassa juga bisa terurai menjadi metana, yang
jika lepas ke udara bisa menyebabkan global warming. Biogas sering
mengandung senyawa korosif misal senyawa belerang, sehingga
untuk keawetan peralatan, zat-zat korosif perlu dihilangkan dulu.
Biomassa tanaman bisa juga diolah menjadi biogas lewat
pembusukan an-aerob, setelah dikenai proses pendahuluan (sulit
diproses langsung menjadi biogas).
Gasifikasi
Biomasa bisa diproses menjadi gas (umumnya diharapkan
mengandung CO dan H2) dengan pemanasan dan penambahan
bahan lain, misal O2. Gas yang dihasilkan bisa dibakar menghasilkan
energi atau diproses menjadi bahan bakar/bahan kimia lain.
Pirolisis
Biomassa dipanasi tanpa udara atau udara terbatas. Dihasilkan
produk gas, cair dan padat. Dengan proses ini bisa dihasilkan bio-oil.
Banyak dilakukan studi yang bertujuan mencari kondisi proses yang
bisa mengarahkan hasil ke produk yang paling di nginkan.
Transesterifikasi
Minyak nabati, yang pada hakekatnya ester trigliserida,
direaksikan dengan alkohol rantai pendek (metanol, etanol),
menghasilkan bahan bakar berupa ester asam lemak dengan
metanol/etanol (fatty acids methyl ester = FAME, atau fatty acids
ethyl ester
= FAEE), yang sering disebut biodisel. Diperoleh hasil
17
samping berupa gliserol.
Fermentasi
Gula atau pati bisa difermentasi menjadi etanol, yang bisa
dimanfaatkan sebagai bahan bakar atau bahan kimia. Jika biomassa
berupa lignoselulose atau pati, dapat dilakukan lebih dulu hidrolisis
sehingga dihasilkan gula, yang selanjutnya baru difermentasi. Studi
konversi lignoselulosa menjadi etanol saat ini mendapat perhatian
besar, karena lignoselulosa umumnya tidak dimanfaatkan untuk
pangan atau pakan.
Teknologi Pemanfaatan Energi Matahari
Teknologi yang bisa dipakai untuk memanfaatkan energi
matahari adalah photovoltaic, solar thermal, solar col ectors, solar
thermal power
dan solar chimney power plant (Munich Re Group,
2009). Dihasilkan energi panas atau listrik. Solar thermal power telah
banyak dipakai, misal di California, dengan kapasitas tiap unit sekitar
30 sampai 80 MW. Sistem ini bisa mengambil energi panas matahari
dengan biaya setara dengan 50 $/barel minyak (Desertec, 2009).
Biodisel Generasi 2 (Second Generation Biodiesel)
Ada sejumlah kelemahan pada biodisel yang dihasilkan saat ini.
Sedang berkembang teknologi baru untuk menghasilkan biodisel
generasi baru (Surawijaya, 2007). Ada 3 jenis proses, yaitu:
a. Hidrogenasi parsial FAME/FAEE menghasilkan biodisel yang
lebih stabil.
b. Deoksigenasi (Hidrogenasi) Minyak Nabati: Minyak nabati
dioksigenasi (hidrogenasi) pada kondisi hebat (>60 atm, 240oC
320oC), menghasilkan green diesel, yang berupa alkana rantai
panjang. Diperlukan hidrogen yang relatif banyak. Agar proses
bisa ekonomis, diperlukan kapasitas yang besar. Teknologi ini
bisa juga dipakai untuk biomassa yang lain.
c.
Biomass-to-Liquid Diesel Oil: Biomassa digasifikasi dengan H2O,
pada 800oC -1500oC, 1 50 bar, menghasilkan campuran CO
18
dan H2. Selanjutnya dengan reaksi Fischer-Tropsch, pada
150oC 380oC, 1 60 bar, diperoleh hidokarbon yang bisa
dimanfaatkan sebagai minyak disel. Keunggulan proses ini
adalah dihasilkannya minyak disel kualitas lebih baik, kebutuhan
hidrogen tidak banyak, dapat mengolah berbagai jenis biomassa,
proses bisa diarahkan menghasilkan berbagai jenis gasoline, dan
bisa ekonomis pada skala medium.
Teknologi Pemanfaatan Energi Nuklir
Kusnanto,dkk (2009) menyatakan hal-hal terkait pemanfaatan
energi nuklir. Sebagian besar PLTN saat ini adalah jenis LWR
menggunakan Uranium 235 yang kandungannya dalam uranium
alam hanya 0,7%. Teknologi generasi berikutnya yang lebih canggih
namun efisiensinya lebih tinggi bisa memanfaatkan Uranium 238 dan
Thorium. Dengan teknologi sekarang, Uranium di Kalan, Kalimantan
Barat, mampu mensuplai 4 PLTN tipe LWR masing-masing berdaya
1000 MW atau total setara 1,26 x 1017 J/tahun selama 60 tahun,
sedangkan dengan teknologi generasi berikutnya, mampu mensuplai
40 PLTN masing-masing berdaya 1000 MW atau total setara 1,26 x
1018 J/tahun, selama 1007 tahun. Potensi seluruh Indonesia tentunya
jauh lebih besar dari itu.
Teknologi Penyimpan Energi
Banyak sumber energi yang tersedianya intermittent atau
lokasinya jauh dari pengguna. Oleh karena itu teknologi penyimpanan
energi menjadi penting. Teknologi penyimpanan energi yang dikenal
luas adalah baterai, namun kapasitas energinya masih terbatas. Cara
lain yang prospektif adalah dengan menyimpan energi dalam bentuk
energi kimia dalam bahan berbentuk gas, cair atau padat yang
mudah ditransport dan digunakan. Salah satunya adalah dalam gas
hidrogen (Linde, 2009). Ide ini sering disebut hydrogen economy.
Kelemahan cara ini antara lain adalah volum gas yang relatif besar
dan hidrogen yang mudah meledak. Konsep methanol economy,
yang diajukan oleh Olah (2003), menyarankan agar energi primer,
misal energi nuklir, disimpan dalam bentuk metanol, yang dapat
dipakai sebagai bahan bakar atau dikonversi menjadi bahan bakar
19
cair lain/bahan kimia industri. Mula-mula sebagian energi nuklir
dipakai untuk memecah air menjadi O2 dan H2. Kemudian dilakukan
penangkapan CO2 (misal dari gas buang pabrik). Selanjutnya CO2
dan H2 direaksikan dengan dorongan panas dari energi nuklir untuk
menghasilkan metanol. Selanjutnya metanol dapat diubah menjadi
etilen, yang kemudian bisa dikonversi menjadi bahan bakar cair
(misal bensin, solar). Jadi energi yang terkandung dalam bahan
bakar cair tersebut (energi carrier) berasal dari energi nuklir yang
digunakan. Keuntungan cara ini adalah tercapainya pemanfaatan
energi alternatif, tetap bisa dipakainya peralatan yang sudah ada
(misal mobil), penurunan emisi CO2, dan diperolehnya bahan bakar
yang kualitasnya lebih sesuai keinginan. Namun ide ini masih
menghadapi banyak kendala, diantaranya adalah kendala teknologi.
Kilang Bionuklir
Mengingat besarnya potensi energi nuklir di Indonesia, energi
ini sangat prospektif untuk memenuhi kebutuhan energi nasional
masa depan. Namun kekhawatiran masyarakat atas potensi bahaya
PLTN masih tinggi, walaupun sebenarnya resikonya bisa dibuat
sangat rendah (aman). Diusulkan penerapan konsep methanol
economy
dari Olah (2003) dengan sejumlah penyesuaian, dan
dinamakan kilang bionuklir (skema pada lampiran). Didirikan
pembangkit energi nuklir di pulau kosong yang banyak dimiliki
Indonesia (kekhawatiran masyarakat berkurang). Energi nuklir yang
dihasilkan dipakai untuk mengubah senyawa yang mengandung
karbon, misal biomassa, menjadi bahan bakar cair (bensin, solar, dl )
atau bahan kimia industri, di pulau yang sama pula. Biomassa bisa
didatangkan dari daerah lain. Kemudian bahan bakar cair sintetis
tersebut dibawa ke daerah yang membutuhkan, dan berfungsi
sebagai bahan bakar cair biasa. Masyarakat tidak berdekatan dengan
PLTN nya. Untuk menghasilkan bahan bakar sintetis tersebut,
diperlukan H2 atau O2 yang bisa diperoleh dari peruraian air
menggunakan energi nuklir pula. Jadi energi yang dibawa bahan
bakar cair sintetis tersebut pada hakekatnya adalah kombinasi dari
energi nuklir dan energi biomassa. Dengan konsep ini, emisi CO2
bisa dikurangi dan peralatan yang ada tetap bisa dipakai. Untuk
jangka waktu pendek, biomassa dapat diganti dengan batu bara atau
20
kemudian gambut, agar teknologinya lebih sederhana. Setelah
biomassa, untuk jangka panjang, sumber karbon bisa berasal dari
CO2, yang diperoleh dengan teknologi CO2 capture, jika teknologi
tersebut sudah feasible. Skema dengan CO2 capture ini secara
prinsip sama dengan yang diusulkan oleh Olah (2003). Perlu
dikemukakan di sini bahwa energi nuklir pada skema ini bisa diganti
dengan energi lain.
Fuel Cell
Berkaitan dengan usaha peningkatan efisiensi konversi energi,
berkembang teknologi baru, fuel cel , yang secara langsung bisa
mengkonversi energi kimia menjadi energi listrik, beroperasi pada
suhu rendah, dan efisiensinya lebih tinggi dari cara-cara konvensional
(Linde, 2009). Department of Energy, USA, 2009, menyatakan bahwa
efisiensi konversi energi fuel cel bisa mencapai 60%, bahkan bisa
lebih tinggi jika memakai cogeneration. Teknologi ini sangat
menjanjikan untuk penghematan energi. Fuel cel sudah bisa
dimanfaatkan untuk keperluan daya listrik rendah. Saat ini fuel cel
menggunakan bahan bakar H2 atau metanol. Penelitian tentang ini
masih berkembang pesat, terutama untuk bisa menghasilkan daya
yang besar dan pamakaian material yang murah.
Hadirin yang saya hormati.
Informasi ketersediaan sumber-sumber energi di Indonesia
seperti disampaikan di muka menimbulkan keyakinan bahwa dengan
berusaha sungguh-sungguh, dengan memanfaatkan teknologi,
bangsa Indonesia dapat menyediakan kebutuhan energinya secara
mandiri.
Untuk mengatasi problematika energi seperti yang dibahas di
muka, Indonesia perlu merumuskan strategi solusi. Departemen
ESDM (2006) telah merumuskan Blueprint Pengelolaan Energi
Nasional. Pada Dies UGM ke-60 ini, berikut disampaikan sejumlah
pemikiran yang diharapkan bisa memperkuat strategi tersebut dan
juga memberikan masukan untuk implementasinya.
Agar ditemukan jenis energi yang feasible, analisis pemilihan
jenis energi yang cocok untuk suatu keperluan dan lokasi tertentu
21
disarankan mempertimbangkan 3 faktor penting seperti yang
disarankan oleh RWE (2009) yaitu ketersediaan (security of supply),
ke-ekonomi-an dan ekologi. Penelitian tentang energi alternatif
perlu berbasis 3 aspek tersebut. Penting di ngat bahwa pilihan yang
cocok akan tergantung waktu dan lokasi. Energi yang cocok untuk
masa mendatang, mungkin sekarang ini belum cocok, sehingga perlu
dipersiapkan.
Mengingat kondisi dan situasi di Indonesia ini heterogen,
adanya keanekaragaman kekayaan alam, dan pertimbangan
ketahanan energi nasional, maka diversifikasi energi perlu
dilaksanakan di Indonesia. Semua jenis energi yang feasible perlu
dimanfaatkan (misal panas bumi, matahari, angin). Diversifikasi ini
mencakup lokasi dan juga jenis keperluan. Misal energi untuk
keperluan skala besar bisa berbeda dengan untuk skala kecil.
Dengan demikian, keanekaragaman di Indonesia justru merupakan
kekuatan, walaupun perlu didukung teknologi yang beragam pula.
Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2006 sudah mengarah
diversifikasi, namun untuk tahun 2025 dirasa proporsi bahan bakar
fosil masih relatif tinggi (83%). Perlu usaha keras bersama agar
penurunan proporsi ini dapat dicapai, apalagi bila di nginkan lebih
rendah. Konservasi energi fosil perlu diusahakan secepatnya. Usaha
ini juga sejalan dengan upaya pencegahan pemanasan global yang
mengancam kehidupan manusia di bumi.
Untuk bisa memanfaatkan dengan bijaksana sumber-sumber
energi nasional dan juga sebagai basis perencanaan masa depan,
potensi sumber-sumber energi perlu diteliti dan dikalkulasi dengan
cermat. Seperti disampaikan di depan, masih ada sejumlah sumber
energi yang informasi ketersediaannya belum memadai.
Mengingat diperlukannya waktu untuk pengembangan energi
non-fosil, life-time energi fosil perlu dimaksimalkan. Dua jenis usaha
bisa dilakukan. Yang pertama adalah meningkatkan intensitas
eksplorasi sumber-sumber energi fosil baru; teramati bahwa minat
investor untuk melakukan usaha ini perlu ditingkatkan, sehingga
insentif dan suasana lebih kondusif kiranya perlu diciptakan. Yang
kedua adalah meningkatkan efektivitas pemungutan minyak dari
reservoir yang sudah ada. Reservoir tua yang sudah ditinggalkan
umumnya masih mengandung minyak sekitar 70% dari semula (Lake,
22
1992). Teknologi maju yang bisa memungut minyak tersisa
(enhanced oil recovery) perlu dikembangkan dan dimanfaatkan
secara optimal.
Pemanfaatan energi biomassa perlu segera ditingkatkan,
mengingat sumber energi ini bersifat terbarukan, pemanfaatannya
tidak menyebabkan pemanasan gobal dan ketersediaannya cukup
banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Perlu dikembangkan
teknologi yang ekonomis dan ramah lingkungan. Sumber energi ini
dimungkinkan untuk dimanfaatkan pada skala kecil sehingga cocok
untuk daerah terpencil. Skala besar juga dimungkinkan. Teknologi
yang dipakai bisa sederhana sampai maju. Salah satu proses yang
prospektif adalah konversi yang menghasilkan gas, misal biogas,
karena hasil gas langsung terpisah dari cairannya, sehingga biaya
pemisahan kecil. Pada pemanfaatannya, kandungan gas korosif
ataupun beracun dalam biogas kadang perlu dihilangkan.
Mengingat besarnya potensi energi nuklir dan tersedianya
teknologi pemanfaatan yang aman, energi nuklir merupakan pilihan
yang prospektif untuk Indonesia, baik dalam bentuk PLTN atau kilang
bionuklir yang diusulkan di muka. Kecenderungan terakhir negara-
negara maju untuk meningkatkan peran energi nuklir mereka juga
mengindikasikan prospektifnya energi nuklir ini. Sikap mental
menjunjung tinggi keselamatan dalam setiap aktivitas perlu dipegang
teguh oleh bangsa Indonesia.
Seperti dikemukakan di depan, bangsa Indonesia termasuk
boros energi, sehingga usaha penghematan energi secara nasional
di segala sektor perlu lebih di ntensifkan. Salah satu sektor yang
penting adalah transportasi. Transportasi massal yang nyaman dan
secara ekonomis terjangkau, serta tata kelola wilayah yang optimum
akan sangat menunjang usaha penghematan energi. Gedung-gedung
yang hemat energi, pada aspek kenyamanan ruang (misal AC) serta
penerangan, juga bisa menurunkan konsumsi energi. Indonesia bisa
memanfaatkan iklimnya yang relatif nyaman dan tersedianya
penerangan matahari untuk usaha pengembangan gedung hemat
energi ini. Teknologi smart building juga bisa dikembangkan. Perlu
diperhatikan bahwa usaha ini perlu mempertimbangkan aspek biaya
untuk bangunan dan peralatannya. Penggeseran pemakaian energi
23
ke arah energi primer juga bisa menghemat energi, mengingat
efisiensi konversi energi primer menjadi energi sekunder (misal listrik)
umumnya rendah, seperti dibahas di depan. Budaya hemat energi
masyarakat tentunya juga sangat penting, termasuk pemakaian
peralatan hemat energi.
Untuk bisa memanfaatkan sumber-sumber energi nasional
secara bijaksana, aspek penguasaan teknologi sangat penting.
Informasi tentang teknologi pengelolaan energi banyak tersedia di
seluruh dunia dan penelitian tentang itu sangat intensif dijalankan.
Bangsa Indonesia perlu memanfaatkan semua pengetahuan dan
pengalaman yang sudah dimiliki manusia (state of the art) sebagai
basis pengembangan teknologinya. Orang bijaksana bisa
memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman orang lain. Teknologi
tersebut mungkin bisa langsung diaplikasikan, mungkin perlu
modifikasi atau mungkin perlu dikembangkan untuk kepentingan
nasional. Penelitian yang dijalankan perlu berbasis pemahaman atas
state of the art, jangan sampai re-inventing the wheel.
Untuk pengembangan energi yang prospektif untuk masa
depan dan diversifikasi energi, subsidi energi secara optimum (pada
sektor dan nilai yang tepat) perlu dijalankan.
Kesadaran masyarakat atas seriusnya problem energi dan
pemanasan global serta perlunya usaha bersama untuk
mengatasinya merupakan basis penting untuk implementasi
solusinya. Sosialisasi intensif perlu dijalankan dan pendanaan perlu
diprioritaskan. Tingginya kesadaran masyarakat membangkitkan
peran aktif masyarakat. Selanjutnya, kerjasama sinergis antara
pemerintah-ilmuwan-masyarakat akan menunjang efektivitas
implementasi program-program yang telah direncanakan.
Yang sangat penting pula adalah aspek pendanaan. Semua
usaha pengelolaan energi nasional perlu pendanaan. Investasi awal
pengembangan infrastruktur pembangkit energi yang terbarukan
misal geotermal, matahari, dl perlu lebih diprioritaskan. Karena
keterbatasan kemampuan pendanaan, kebijakan yang tepat dan
pelaksanaan yang efisien di bidang pendanaan perlu selalu menjadi
pedoman pokok.
Pada pengelolaan sumber daya alam, konsep penting yang
24
menjadi pedoman adalah keberlanjutan (sustainability). Aspek
ekonomi jangka pendek disinergikan dengan aspek ekonomi jangka
panjang dan dengan aspek kelestarian lingkungan. Dengan didasari
hubungan cinta antara manusia dan alam semesta, seperti dianjurkan
oleh Rabindranath Tagore, pemenang hadiah Nobel Sastra 1913,
dalam Creative Unity (Tagore, 2002), kelangsungan hidup manusia
dan kelestarian lingkungan diharapkan bisa terwujud. Pendidikan dari
tingkat terendah sampai tertinggi perlu mendorong tumbuh
kembangnya hubungan cinta manusia dengan alam semesta.
Sebagai penutup, kami mengajak seluruh Bangsa Indonesia,
sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, untuk
berkeyakinan bahwa Tuhan sebagai Pencipta mencukupi kebutuhan
hidup manusia yang beriman dan berbuat baik. Tuhan
memerintahkan manusia memanfatkan secukupnya apa yang ada di
bumi untuk menunjang kehidupannya dan mencari kehidupan akhirat,
namun melarang manusia membuat kerusakan di bumi. Kami setuju
dengan pendapat yang menyatakan bahwa bumi ini cukup untuk
memenuhi kebutuhan manusia, namun tidak cukup untuk memenuhi
keserakahan manusia.
Wassalamualaikum Warakhmatul ahi Wabarakatuh
25
Pustaka:
1. Austin, G.T., 1980, Shreves Chemical Process Industries, 5th edition,
McGraw-Hill International Edition, Singapore.
2.
Azimudin, T., 2009, Geothermal Energy Development in Indonesia:
Opportunity and Challenge, Green Expo-Dies HMTG, UGM, Yogyakarta.
3.
Barber, J., 2008, Solar energy to fuels. If a leaf can do it we can do it", Lee
Kuan Yew NTU Lecture.
4. BP, BP Statistical Review of World Energy, www.bp.com, Juni, 2009.
5.
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2006, Blueprint Pengelolaan
Energi Nasional 2006-2025, Jakarta.
6. Department of Energy, Hydrogen and Our Energy Future,
www.hydrogen.energy.gov, Juni, 2009.
7. Desertec, Clean Power from Deserts, www.desertec.com, November, 2009.
8.
Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Nasional, 2009, Strategi Pengelolaan
Energi Nasional dalam Menjamin Keamanan Ketersediaan Energi Bagi
Industri Nasional, Workshop Perencanaan Pengembangan Faktor-faktor
Utama Sektor Industri dalam Mencapai Visi Indonesia Sebagai Negara
Maju Tahun 2020, Jakarta.
9.
Dowd, T., 2007, Biodiesel Option for Sustainable Biofuel, International
Biofuel Conference, Bali.
10. Tagore, 2002, Kesatuan Kreatif, Terjemahan Hadikusumo, Bentang,
Yogyakarta.
11. Jantsch, E., 1980, The Self-Organizing Universe, Pergamon Press, London
12. Klass, D. L., 1998, Biomass for Renewable Energy, Fuels, and Chemicals,
Academic Press, London.
13. Kusnanto, dkk., UGM, 2009, Program Studi Teknik Nuklir, Komunikasi Pribadi.
14. Lake, L. W., Schmidt, R. L., Venuto, P. B., A Niche for Enhanced Oil Recovery
in the 1990s, Oilfield Review, January 1992.
15. Linde, The Cleanest Energy Carrier Ever, www.linde.com, November, 2009.
16. Marklein, H.A. and Hardy, W.C., 1977, Energy Economy, Gulf Publishing
Company, Houston, Texas.
17. Munich Re Group, Renewable Energies, www.munichre.com, November,
2009.
18. Olah, G. A., Methanol Economy, C&EN, 22 September, 2003.
19. Perry, R. H., Green, D. W., and Maloney, J. O., 1999, Chemical Engineers
Handbook, 7th edition, McGraw-Hill Co., Ltd., New York.
20. RWE, 2009, Developing Energy Supply of The Future, www.rwe.com,
November, 2009.
21. Surawijaya, T. H., 2007, Biodiesel: Now and Then, International Biofuel
Conference, Bali.
26
28

Leave a Reply