Pidato Tukang Ojek : Yang Terhormat Kepala Dinas Perhubungan

Assalamualaikum wr.wb.

Yang terhormat Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan,

Yang terhormat Aparat Keamanan Polda Sumatera Selatan,

Yang terhormat Perkumpulan Tukang Ojek Sumatera Selatan,

dan hadirin yang saya hormati.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmatNya jualah kita dapat berkumpul bersama di lapangan hijau ini. Tak lupa kita sampaikan salawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Pertama-tama, izinkanlah saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Neva Arsita, perwakilan dari SMA Negeri 5 Palembang. Senang sekali saya dapat berdiri di panggung ini untuk menyampaikan pidato saya yang berjudul Utamakan Keselamatan.

Kecelakaan lalu lintas merupakan pembunuh nomor 3 di Indonesia, setelah penyakit jantung dan stroke. Setiap tahun, rata-rata 30.000 nyawa melayang di jalan raya. Dengan angka setinggi itu, Indonesia duduk di peringkat ke-3 negara di ASEAN yang jumlah kecelakaan lalu lintasnya paling tinggi. Ini angka yang luar biasa, sehingga kecelakaan bisa digolongkan sebagai pembunuh nomor 3 di Indonesia

Data dephub menyebutkan ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, pertama adalah faktor manusia, kedua adalah faktor kendaraan dan yang terakhir adalah faktor jalan. Kombinasi dari ketiga faktor itu bisa saja terjadi, antara manusia dengan kendaraan, misalnya berjalan melebihi batas kecepatan yang ditetapkan, kemudian ban pecah yang mengakibatkan kendaraan mengalami kecelakaan. Disamping itu, masih ada faktor lingkungan, cuaca yang juga bisa berkontribusi terhadap kecelakaan.

Oleh karena itu, untuk mengurangi angka kecelakaan itu, wajib helm bagi pengendara sepeda motor harus diberlakukan. Melalui UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diwajibkan bukan hanya asal menggunakan helm, tetapi helm tersebut harus benar-benar memenuhi standar keselamatan yang memadai dengan menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai ukurannya. Bukan hanya untuk pengendara saja, tetapi juga untuk penumpangnya.

UU itu sudah lama dibentuk, tetapi baru April 2010 yang lalu diberlakukan. Kenapa baru sekarang, setelah sekitar 20 tahun lebih wajib helm baru ditetapkan standarnya? Sejak awal diberlakukan wajib helm, yang ada hanya ketentuan pengendara dan pengemudi wajib menggunakan helm. Akibatnya, nyaris semua pengendara dan penumpang sepeda motor selama 20 tahunan ini memakai helm yang di bawah standar. Helm-helm murah-meriah seharga  belasan ribu  sampai dengan puluhan ribu rupiah mendomininasi. Helm yang digunakan untuk lomba balap sepeda, helm-helm terbuat dari plastik pun sah-sah saja dipakai hanya untuk terhindar dari tilang Polantas.

Jadi,  apa gunanya memakai helm selama ini? Jelas bukan demi keselamatan  manusia, tetapi sekadar formalitas supaya tidak ditilang. Bagaimana bisa helm-helm itu berfungsi sebagaimana mestinya, kalau hanya jatuh dari sepeda motor saja bisa retak atau pecah? Maka, hendaknya baik pengendara maupun penumpang senantiasa menggunakan helm yang telah berstandardisasi Nasional.

Jangan lupa pula bahwa faktor-faktor utama keselamatan pengendara dan penumpang sepeda motor bukan pada helm semata. Jauh lebih penting daripada itu adalah kemampuan dan kedisiplinan pengemudinya. Tanpa itu, menggunakan helm dengan standar apapun tak akan banyak manfaatnya.

Saya rasa sekian pidato yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat menjadi motivasi untuk lebih baik ke depannya. Terima kasih atas perhatiannya. Akhir kata saya ucapkan, Wabillahitaufiqwalidayah. Wassalamualaikum wr.wb.

Incoming search terms:

  • pidato tentang tukang
loading...

Leave a Reply