Tugas Pidato : Konsep KB Menurut Islam

Konsep KB menurut Islam

Assalamualaikum Wr.Wb.

. . . . ,

Alhamdulillah, segala puji dan syukur marilah kita persembahkan kehadirat Allah taala atas limpahan rahmat dan kasih sayang yang tiada taranya kepada kita, yang telah melimpahkan kasih sayang yang tiada tara kepada hambaNya, sehingga, alhamdulillah saat ini kita masih dalam lindunganNya dan masih dapat menjalankan aktifitas kehidupan kita dengan baik dan sempurna. Shalawat beriring salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi kita Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan orang-orang yang setia mengikutinya.

Ibu dosen yang ssaya hormati dan teman-teman yang saya cintai, berdirinya saya di sini ingin menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan Konsep KB dalam perspektif Islam

Seperti yang kita ketahui bersama, pemerintah menganjurkan kepada keluarga-keluarga di Indonesia untuk melakukan program keluarga berencan (KB) dan kita sebagai mahasiswa kebidanan UMI yang berlandaskan ajaran islam, yang pada akhirnya akan berkecimpung di bidang tersebut haruslah tahu bagaimana perspektif islam tentang keluarga berencana (KB) tersebut.

Secara panduan manual syariat birt control (KB) itu berseberangan dengan ajaran islam, pada dua titik rawannya. Pertama, pada prinsip pembatasan anak. Kalau islam menganjurkan memperbanyak keturunan, KB justru membatasinya. Kedua, KB bermisi menciptakan keluarga berencana berdasarkan pendekatan semakin sedikit anak, semakin baik untuk pembinaan dan pendidikan. Sementara Islam justru berkonsep sebaliknya, semakin banyak anak, semakin besar asset pahala bagi orang tuanya, semakin banyak generasi islam, dan semakin banyak kesempatan menyebarkan ajaran Islam. Balutan konsep Islam berada dalam konsep optimisme, tekad yang kuat dan hati yang tulus. Sementara KB justru berada dalam bingkai pesimisme, tekad yang memudar dan hati yang telah ternodai cinta dunia.

Sehingga apapun alasannya, hokum asal dari KB adalah dilarang dan berseberangan dengan ajaran Islam. Diperbolehkan KB hanya dalam kondisi darurat. Alasan menjalankan KB demi kebaikan pendidikan anak sama dengan alasan memakan babi demi kesehatan tubuh di luar keadaan darurat. Alasan itu terlalu sederhana untuk dijadikan sebuah kasus darurat.

Ini seperti kasus, semakin banyak ilmu, semakin besar tanggung jawab, tapi sangat picik jika kita memilih lebih baik sedikit ilmu, biar sedikit tanggung jawab. Ilmu adalah anugrah, seperti halnya anak. Seyogyanya setiap muslim memiliki semangat baja dan hasrat yang tulus terkait dengan pendidikan anak. Kalau konsepnya dimulai dari tanggung jawab dan pengabdian kepada Allah, maka saat anak lahir, yang terbetik dalam jiwa seseorang muslimaah adalah munculnya sebuah tanggung jawab besar, amanah bahkan juga inadah dalam dimensi maknanya yang diperluas, plus kesempatan untuk mengembangkan dakwah dan negenerasi umat islam yang shalih dan shalihah. Tapi kalau konsepnya berkutat pada nuansa kapitalisme, bahkan lahirnya anak adalah beban financial baru, yang dengan sendirinya membutuhkan modal baru dan sejenisnya, maka persepsi materialistis itu menyeruak sebagai persoalan. Orang bisa berkata, saya tidak mengkhawatirkan kemiskinan, tapi pendidikan anak itu setali tiga uang alias sama saja. Karena baik soal nafkah, ataupun pendidikan, tidak berlari jauh dari semangat bekerja dan uang. Orang yang mengkhawatirkan pendidikan anak, setidaknya memiliki dua kekhawatiran. Khawatir kalau anaknya tidkak terdidik secara baik, ini soal kerja keras. Kedua khawatir kalau anaknya tidak mendapat pendidikan yang layak, itu soal uang. Jadi persoalannya jadi lebih kompleks dari sekedar khawatir akan kemiskinan. Yang artinya lebih mencelat jauh dari konsep dan misi islam yang sangat menghargai anak dan regenerasi.

Logikanya bisa disederhanakan sebagai berikut. Takut bekerja dan mengurus anak dan istri, tak usah menikah. Takut tidak mampu mendidik anak tak usah punya anak. Takut mengemban banyak kewajiban dan menjauhi larangan, tak usah beragama. Takut tak mampu menjadi anak yang tak berbakti, tak usah punya orang tua. Takut harus selalu menjaga adab, etika dan kewajiban, tak usah menjadi manusia. Kalau logika ini diteruskan akan melahirkan keanehan dan keanehan yang semakin tidak kita toleransi lagi. Karena intinya ini logika untuk lari dari kewajiban dan tanggung jawab.

Intinya, melaksanakan KB dengan alasan takut tak mampu mendidik anak lebihn di dasari oleh sejenis paranoid. Rasa takut dan khwatir yang wajar, pasti hanya akan melahirkan sikap hati-hati, lebih bekerja dengan giat dan bersemangat. Terlebih-lebih untuk menghadapi persoalan KB yang jelas-jelas hanya diperbolehkan dalam kondisi yang sangat darurat, dan itupun masih dalam kontroversi. Rasa takut seperti itu, harus dilenyapkan. Tegakkan kepala, bususngkan dada, jadilah orang yang bersemangat baja dan pemikiran gigih dan ulet, darena dengan ini bias-bias kebeerhasilan akan menjadi nyata. Kalau tidak kita akan menjadi pecandu mimpi-mimpi indah saja.

Allah swt berfirman :

Artinya : dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang member rizki kepada mereka dan kepada kalian. (QS. Al-Isra : 31)

Sebelum jawaban ini saya tutup, saya akan mengingatkan teman-teman bahwa hakikat KB adalah seperti yang telah saya isyaratkan dengan ringkas di atas, yaitu membatasi jumlah anak. Dan telah saya jelaskan bahwa ini tidak boleh dan bertentangan dengan syariat Islam. Akan tetapi walau demikian, para ulama membedakan antara membatasi dan mengatur jarak kelahiran, dengan tujuan agar lebih ringan dalam mengatur jarak kelahiran anak, atau karena alasan medis, misalnya karena ada gangguan dalam rahim atau yang serupa, (ingat sekali lagi: bukan untuk membatasi jumlah anak). Bila yang dilakukan adalah yang semacam ini, yaitu mengatur jarak kelahiran anak, dan dengan tujuan seperti yang disebutkan, maka para ulama membolehkannya, dan tidak haram. Karena tidak bertujuan untuk memutus keturunan, atau membatasi jumlahnya.

Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf atas segala kekurangan, Hadaanallaahu wa iyyaakum ajmain, Wassalaamualaikum Wr. Wb.

Leave a Reply