Review Pidato : ISU ISU STRATEGIS PARIWISATA

ISU ISU STRATEGIS PARIWISATA

DAN PENGARUHNYA TERHADAP POTENSI PEREKONOMIAN INDONESIA

Review ini disusun sebagai bagian persyaratan ujian skripsi.

Dosen Pemateri :

Drs. Bambang Sunaryo, M.Sc.

Disusun oleh :

Nararia H.08/272884/SP/23124

JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2011

Resume

Pariwisata dapat didefinisikan sebagai satu rangkaian kegiatan kunjungan ke destinasi wisata yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang secara sukarela dan dalam waktu yang relative terbatas. Orang yang melakukan perjalanan wisata disebut wisatawan dan dapat diklasifikasikan sebagai wisatawan nusantara manakala wisatawan tersebut mengunjungi destinasi lokal dalam negeri sedangkan warga negara lain yang juga mengunjungi destinasi wisata dalam negeri disebut wisatawan asing/wisatawan mancanegara.

Sejatinya, pariwisata merupakan satu sektor yang unik karena spesifikasi karakternya. Terdapat beberapa karakter unik pariwisata antara lain1, pertama, pariwisata bersifat in situ, yakni, konsumen harus mengunjungi destinasi wisata secara langsung ketika ia ingin menikmati produk wisata yang dihasilkan. Ketika seorang wisatawan ingin menikmati eksotisme Pulau Dewata misalnya, maka ia harus mengunjungi Pulau Bali secara langsung. Kedua, jika dikelola secara tepat, industri pariwisata relative nirlimbah. Sektor ini dikatakan ramah lingkungan karena potensinya menghasilkan limbah terhitung kecil dan dapat diminimalisir, misalnya dengan meletakkan tempat tempat sampah di sekitar destinasi wisata. Ketiga, sektor pariwisata juga rentan terhadap isu isu global, yakni isu keamanan, gender, hak asasi manusia, krisis keuangan global, global warming dan disaster management. Ketika terdapat perubahan sedikit saja pada salah satu isu isu strategis pariwisata tersebut, maka akan menimbulkan implikasi terhadap kestabilan sektor wisata.

Bagi Indonesia sendiri, sektor pariwisata memegang peranan cukup vital karena beberapa alasan. Pertama, sebagai kontributor devisa. Meski bersifat sedikit fluktuatif, sektor pariwisata konsisten menyumbangkan devisa bagi perekonomian Indonesia setiap tahunnya. Kedua, sebagaimana diketahui banyak orang dari berbagai belahan dunia, Indonesia kaya akan potensi wisata yang menawan. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi sektor wisata Indonesia mengingat sifat pariwisata yang in situ. Ketiga adalah menipisnya cadangan minyak di Indonesia. Minyak, memang menjadi salah satu pendukung utama stabilitas ekonomi Indonesia, namun kembali pada karekteristik sumber daya alam tambang, minyak bumi merupakan satu dari sekian banyak sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, atau paling tidak memakan waktu yang sangat lama untuk bisa dipergunakan kembali. Jika Indonesia menggantungkan perekonomian nasional kepada minyak, implikasi yang jelas akan terlihat adalah ketahanan ekonomi yang rentan ambruk terhadap krisis sumber daya alam yang akan terjadi beberapa tahun lagi, karenanya, kontribusi pariwisata menjadi nilai yang penting bagi perekonomian Indonesia. Selain itu, salah satu aspek yang menjadikan pariwisata sebagai unggulan adalah karakternya yang lintas sektor dan kapabilitasnya memantik multiplier effect. Maksud dari pernyataan tersebut adalah ketika sektor pariwisata bergerak, maka aktivitasnya tidak akan berkutat pada satu sektor saja, tetapi melibatkan sektor sektor lain yang cukup luas, serta mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat lapisan menengah ke bawah. Pernyataan ini akan dipermudah melalui contoh wisata Candi Prambanan yang terletak di perbatasan Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah misalnya. Ketika wisatawan hendak mengunjungi Candi Prambanan, maka ia membutuhkan transportasi untuk mengakses Candi Prambanan, setelah sampai di Candi Prambanan, wisatawan akan memerlukan atraksi dan makan serta minum/kuliner. Pasca mengunjungi destinasi wisata, yakni Candi Prambanan, wisatawan memerlukan akomodasi/penginapan dan souvenir untuk buah tangan. Dari rangkaian aktivitas tersebut dapat dilihat bahwa sektor pariwisata bersifat lintas sektor dan mampu menggerakkan perekonomian kecil dan menegah sekaligus.

Review

Tulisan di atas telah memaparkan suksesnya pariwisata dalam berkontribusi menghidupkan geliat ekonomi nasional. Pariwisata adalah salah satu jenis sektor yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup dan menstimulasi sektor-sektor produksi lainnya.2 Namun beberapa hal perlu menjadi catatan yang diperhatikan. Sekali lagi dipertegas bahwa sektor pariwisata, meski menjadi sektor yang potensial dalam menyumbangkan devisa untuk negara, tetapi sektor ini juga merupakan sektor yang paling rawan terkena dampak isu isu global. Sedikti saja terjadi perubahan atau peristiwa yang menjadi isu krusial pariwisata, maka dampaknya akan langsung terasa bagi sektor pariwisata sendiri.

Isu pertama yang akan dibahas adalah global warming atau pemanasan global. Pemanasan global merupakan satu fenomena yang terjadi karena panas matahari yang masuk ke bumi tidak dapat keluar lagi karena terjebak pada lapisan yang menyelubungi bumi sehingga meningkatkan suhu udara di bumi dan bisa memicu terjadinya peningkatan air di laut akibat melelehnya es di kutub karena suhu yang begitu panas.3 Bentang masalah yang dibawa oleh pemanasan global seakan tanpa henti dan semakin mengkhawatirkan. Salah satu isu yang krusial bagi negara-negara di dunia di tengah pemanasan global adalah mempertahankan kemanan sektor pariwisata, mengingat vitalnya peran sektor pariwisata bagi banyak negara di dunia. Pemanasan global sejauh ini membawa interconnectivity of effects. Meningkatnya suhu global sebesar dua derajat saja misalnya, membawa dampak destruktif dan merata pada seluruh dunia.

Akibat yang timbul dari munculnya isu ini dapat dikategorikan menjadi dua, yakni dampak positif terkait inovasi wisata dalam menanggulangi pemanasan global dan dampak negatif isu pemanasan global terkait mitigasi bencana. Di bawa ke ranah pariwisata, isu ini dapat dijadikan bargaining position bagi Indonesia. Terjadinya pemanasan global ternyata menciptakan satu inovasi yang luar biasa bagi sektor pariwisata, yakni munculnya tren ecotourism dan green tourism. Indonesia, meski mengalami degradasi yang signifikan dalam hal pelestarian lingkungan, tetapi Indonesia masih tetap menjadi salah satu negara yang paling dituju karena kehijauannya. Kecenderungan yang muncul akibat isu pemanasan global adalah meningkatnya kunjungan wisata denagn karakteristik seperti ecotourism dan green tourism. Salah satu contoh yang banyak terdapat di Indoensia adalah desa wisata. Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.4 Definisi yang lain menyatakan bahwa village Tourism, where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and learn about village life and the local environment.5 Artinya, wisata pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat. Di Indonesia banyak terdapat tempat tempat seperti desa wisata, dan hal ini menjadi keunggulan tersendiri bagi sektor pariwisata Indonesia.

Masih dalam lingkup isu yang sama, selanjutnya adalah mengenai mitigasi bencana. Di satu sisi, Indonesia memang ternama berkat eksotisme destinasi wisatanya, namun disisi lain, Indonesia juga terkenal sebagai negara yang rawan bencana. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya sistem mitigasi bencana/manajemen bencana yang ada di Indonesia. Manajemen bencana adalah suatu proses dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana.6 Tujuannya secara umum ditujukan untuk mencegah dan membatasi jumlah korban manusia serta kerusakan harta benda dan lingkungan hidup. Ini penting dilakukan oleh Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Manajemen bencana yang buruk akan mengurangi intensitas dan frekuensi kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Indonesia.

Isu kedua yang menarik untuk dibahas adalah isu krisis keuangan global. Krisis keuangan global yang terjadi beberapa waktu lalu, dipicu oleh krisis keuangan di Amerika Serikat yang sebenarnya disebabkan oleh pengkhianatan terhadap ideologi ekonomi pasar. Tidak seperti dikehendaki Bapak ekonomi pasar, Adam Smith, Pemerintah AS justru membiarkan pasar keuangannya bebas tak terkendali tanpa intervensi.7 Bagi sektor pariwisata krisis keuangan global juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Pengaruhnya antara lain, menipisnya dana traveling sehingga membawa implikasi pada berkurangnya lama tinggal wisatawan dan kecenderungan wisatawan untuk mencari destinasi wisata dengan harga yang murah. Dari isu ini, apa yang telah dipaparkan sebelumnya memang benar adanya, bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang terancam mati pertama jika terjadi pengaruh pada isu global seperti krisis keuangan. Anggapan yang selama ini ada adalah kebutuhan primer selalu harus dipenuhi terlebih dahulu dibandingkan kebutuhan sekunder dan tersier, dan bagi kebanyakan orang, melakukan perjalanan wisata bukan merupakan kebutuhan primer.

Sintesa

Terlepas dari semua kerentanan yang melekat pada sektor pariwisata, pada dasarnya dampak positif pariwisata juga tidak dapat dikesampingkan. Sebenarnya, sektor pariwisata memang potensial dalam menyumbangkan devisa dalam jumlah besar bagi perekonomian Indonesia setiap tahunnya. Hal tersebut dapat terlihat dari tabel berikut :

Tabel 1. Perkembangan jumlah wisman dan penerimaan tahu 1990 19948

Tabel di atas menunjukkan kecenderungan kontribusi pariwisata yang cukup segnifikan dari tahun ke tahun. Apabila dikelola secara benar, implikasi positif lain akan muncul mengiringi perkembangan sektor pariwisata. Permasalahannya adalah hanya sebagian kecil warga Indonesia yang berminat mengembangkan sektor informal dalam bidang pariwisata. Tetapi perkara yang sesungguhnya mendasari adalah terkait bagaimana memotivasi penduduk agar mau berkecimpung dan mengembangkan sektor pariwisata. Motivasi berhubungan erat dengan bagaimana perilaku itu dimulai, dikuatkan, disokong, diarahkan, dihentikan, dan reaksi subyektif macam apakah yang timbul ketika stimulasi berlangsung.9 Jika dipahami secara mendasar, sebenarnya apa yang dimaksudkan dalam motivasi penduduk untuk mengembangkan pariwisata adalah mengenai bagaimana memunculkan dorongan kuat dari individu yang membuatnya melakukan atau tidak melakukan sesuatu terkait pengembangan pariwisata. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat penting untuk memotivasi masyarakat untuk turut serta berpartisipasi mengembangkan sektor pariwisata Indonesia.

Hadirnya berbagai macam destinasi wisata dan multiplier effect yang mengekor pada sektor tersebut tentunya akan membawa perubahan bagi masyarakat. Perubahan senantiasa mengandung makna, beralihnya keadaan sebelumnya (the before condition) menjadi keadaan setelahnya (the after condition).10 Idealnya, perubahan yang ada berkat sektor pariwisata atau dengan hadirnya proyek proyek wisata adalah kondisi penduduk lokal menjadi lebih baik, misalnya, memperoleh kesempatan kerja dengan tingkat upah yang memadai.11 Inilah yang diakibatkan dari efek multiplier yang muncul akibat pariwisata. Namun, kembali menilik kelemahan sektor pariwisata tehadap isu global, hal yang kemudian menjadi penting untuk diperhatikan pemerintah adalah bagaimana pemerintah membuat dan merumuskan kebijakan kebijakan yang ramah terhadap sektor pariwisata dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan potensi wisata Indonesia dan memberikan proteksi maksimal pada wisata dalam negeri terhadap isu isu global yang berpotensi mengacaukan stabilitas pariwisata secara umum. Sekali lagi, potensi pariwisata Indonesia harus didukung oleh banyak pihak dan dikembangkan sedemikian rupa untuk semakin memantapkan stabilitas ekonomi nasional.

1 Sunaryo, Bambang. 2009. Pembangunan Pariwisata 1. Slide Presentasi disampaikan pada kuliah Pembangunan Pariwisata.

2 http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100223040325AAasaIj, Diakses, Rabu, 29 Desember 2010, pukul 14.09 WIB.

3 www.google.com. Pemanasan Global. Diakses, Rabu, 29 Desember 2010, pukul 16.05 WIB.

4 Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3

5 Inskeep, Edward. Tourism Planning An Integrated and Sustainable Development Approach. hal. 166

6 www.google.com. Definisi Manajemen Bencana. Diakses, Rabu, 29 Desember 2010, pukul 13.29 WIB.

7 http://buruhmenggugat.or.id/opini/95-krisis-keuangan-dan-intervensi-pemerintah.html, diakses Sabtu 28 November 2009, pukul 10.09 WIB.

8 Sunaryo, Bambang. 2009. Pembangunan Pariwisata 1. Slide Presentasi disampaikan pada kuliah Pembangunan Pariwisata.

9 Suharyanto, H. 2006-2007. RPKPS Pengantar Ilmu Administrasi Negara. Yogyakarta hal. 117-118

10 Prof. Dr. J. Winardi, SE. Manajemen Perubahan. 2005. Jakarta: Kencana. Hal 1-2

11 Hadi, Sudharto P. Aspek Sosial AMDAL, Sejarah, Teori dan Metode. 2005: h.88

Leave a Reply