PIDATO PANCASILA : REVITALISASI SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

REVITALISASI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

DALAM MENCEGAH DAN MENYELESAIKAN DISINTREGASI SOSIAL

DI TENGAH TEKANAN GLOBALISASI

Sub Tema: Pancasila sebagai Dasar Membangun Demokrasi

Ekonomi

Disampaikan dalam Final Lomba Pidato Pancasila di Malang

tanggal 17 Januari 2009

Oleh: Ana Maratuthoharoh (SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo)

Assalamualaikum wr. wb.

Dewan Juri yang saya hormati serta

Hadirin yang berbahagia,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt yang telah melimpahkan nikmat serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat berkumpul di sini tanpa ada halangan suatu apapun.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw yang telah menuntun kita ke jalan yang benar. Dan semoga kita termasuk umatnya yang selalu taat kepada ajarannya.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan Pancasila sebagai Dasar Membangun Demokrasi Ekonomi .

Sesuai dengan pidato tanpa teks Soekarno di depan sidang BPUPKI 1 Juni 1945, dengan semangat juang yang membara untuk mewujudkan kemerdekaan Founding Fathers kita menyatukan tekad untuk merumuskan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pertimbangan bahwa Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang sesuai dengan kemajemukan masyarakat Indonesia (Plural Society Indonesia), maka pada tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila ditetapkan sebagai Dasar Negara Indonesia. Pada tahun 1981 ditegaskan kembali bahwa sistem ekonomi yang kita anut adalah sistem Demokrasi Ekonomi (Ekonomi Pancasila). Akan tetapi sangat disayangkan sejak dicetuskan sistem tersebut, ternyata dalam perjalanannya baru diimplementasikan secara sangat terbatas di dalam sistem perekonomian Indonesia. Masuknya sistem ekonomi kapitalis, apalagi di era globalisasi menyebabkan Ekonomi Pancasila semakin termarjinalkan.

Memang sejak lama penjajah dari bangsa Eropa sangat meminati Indonesia yang kaya sumber daya alam ini. Setelah kemerdekaan diraih dan kita berhasil melepaskan diri dari belenggu kolonialisme dan imperialisme tersebut, ternyata kemudian kita hanya beralih dari satu bentuk penjajahan yang lama ke bentuk penjajahan yang baru. Ibarat lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, yaitu imperialisme gaya baru. Pelakunya tidak lain adalah bangsa barat juga, yaitu Amerika Serikat dengan sekutu ekonominya yang menganut liberalisme dan kapitalisme dalam bidang ekonomi dengan menggunakan demokrasi di bidang politik sebagai jargonnya.

Memasuki abad 21, globalisasi telah mencapai puncaknya dan terjadi secara cepat serta tak terelakkan. Negara-negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai arena dan peserta pasar bebas. Perusahaan-perusahaan Eropa mendirikan cabang di Indonesia. Dengan kemampuan keuangan, perusahaan multinasional tersebut berhasil menigkatkan daya saingnya dan menguasai industri dalam negeri. Globalisasi yang semula diimajinasikan bisa membantu negara cepat berkembang, ternyata bagi dunia ketiga malah menyengsarakan. Inilah global paradoks dengan pasar bebas dan liberalitas ekonomi yang diperparah dengan demoralitas birokrasi nasional yang menghantam posisi ekonomi rakyat.

Di lain pihak, dengan adanya kondisi ini pengkhianatan terhadap Pancasila pun semakin nyata. Mulai dari pengedepanan suara terbanyak daripada musyawarah untuk mufakat di dalam sistem politik, sampai penjualan aset-aset negara kepada swasta dan pihak asing. Pada tahap awal memang baru sila kelima dan keempat yang dikebiri, namun tidak menutup kemungkinan sila ketiga,kedua, dan pertama akan dinodai. Begitu juga dengan pasal-pasal UUD 1945, satu persatu mulai diabaikan dan dilucuti. Hanya pasal-pasal yang bersesuaian dengan semangat Liberalisme dan Kapitalisme saja yang diusung dan dipopulerkan, seperti semangat kebebasan berpendapat dan berserikat. Inipun sepertinya hanya merupakan jalan tengah untuk menyenangkan massa pendukung demokrasi agar bisa diam dengan mainan baru yang bernama kebebasan.

Lalu siapakah yang akan bertanggung jawab? Kekuasaan silih berganti dari masa ke masa. Pemerintahan yang satu berganti ke pemerintahan berikutnya. Tetapi apa lacur, tak ada seorang pemimpin pun yang menyadari kondisi ini. Tak ada seorang pun yang mau mencoba mengangkat bangsa ini dari lumpur hitam. Pada akhirnya Lumpur hitam ini semakin menenggelamkan kita dalam sebuah skenario kematian. Setiap gerak kaki dan tubuh kita tidak mengarah kepada keselamatan, melainkan terus tenggelam dan tenggelam. Dapatkah bangsa ini melepaskan diri dari cengkraman Liberalisme dan Kapitalisme? Hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Oleh karena itu, yang terpenting bagi kita adalah berpikir ke depan dan tidak boleh lengah. Kesigapan dalam menghadapi arus Globalisasi di berbagai sektor dan mencari solusi menjadi pilihan baik dan bijak. Kesigapan ini penting agar bangsa kita tidak terus-menerus menjadi bangsa kelas tiga yang selalu menjadi sasaran Negara Barat. Semoga dengan keuletan, ketangguhan, kecerdasan, dan kegotongroyongan kita mampu membenahi kembali perekonomian bangsa yang sudah carut-marut ini dengan tetap mempertahankan ekonomi kerakyatan berlandaskan Pancasila.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bisa menambah wawasan kebangsaan kita sehingga tidak mudah terseret dalam arus globalisasi ekonomi yang dapat melunturkan jati diri bangsa. Apabila ada kekhilafan dalam tutur kata, saya mohon maaf.

Wassalamualaikum wr. wb.

Incoming search terms:

  • pidato tentang pancasila sebagai dasar negara
  • teks pidato pancasila sebagai dasar negara
  • contoh pidato ideologi dan wawasan
  • contoh pidato pancasila sebagai ideologi
  • Contoh pidato pengkaderan dan ideologi
  • contog teks ceramag tentang ideologi negara
  • Konsep pidato tentang ideologi negara
  • naskah pidato ideologi
  • pidato konsep pancasilsebagai ideologi terbuka
  • pidato revitalisasi
loading...

Leave a Reply