Naskah Pidato Edit2 : MENJADI PEMUDA PRODUKTIF SOLUSI AMPUH

MENJADI PEMUDA PRODUKTIF : SOLUSI AMPUH ATASI MASALAH KEPENDUDUKAN

Oleh :

Ahmad Rhyza Vertando Halim

Assalamualaikum wr.wb

Yth Bapak Presiden RI, Yth. Bapak Kepala BKKBN, Yth. Dewan Juri beserta para tamu undangan sekalian. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas nikmat sehat dan iman sehingga kita dapat berkumpul pada pagi yang ceria ini.

Terima kasih kepada para dewan juri yang telah memperkenankan saya untuk menyampaikan pidato yang berjudul : MENJADI PEMUDA PRODUKTIF : SOLUSI AMPUH ATASI MASALAH KEPENDUDUKAN .

Hadirin yang saya hormati,

Selain juara dalam bidang korupsi, ternyata Indonesia juga juara dalam masalah kependudukan. Beberapa masalah kependudukan yang ada di Indonesia meliputi empat komponen utama, yaitu kuantitas penduduk, kualitas, mobilitas dan administrasi atau database kependudukan.

Indonesia menduduki peringkat keempat terbesar di dunia setelah berturut-turut China (1,3 Milyar), India (998,1 juta), Amerika Serikat (276,2 juta). Menurut sensus penduduk tahun 2010, penduduk Indonesia mencapai angka 237.641.326. Laju pertumbuhan penduduk (LPP) meski sempat turun dari 2,34% pada masa lalu menjadi 1,47 pada tahun 2000, namun pada 2010 sesuai hasil Sensus Penduduk 2010 kembali naik menjadi 1,49%. Masalah over population yang tidak diimbangi kemampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan hidup penduduknya berakibat pada kulaitas penduduk itu sendiri seperti masih banyaknya penduduk kekurangan gizi makanan, timbulnya pemukiman kumuh, tingginya angka pengangguran.

Beberapa indikator dapat dilihat untuk mengukur kualitas penduduk di Indonesia yaitu, tingkat kesehatan yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah, banyaknya penduduk yang miskin. Derajat kesehatan dapat dilihat dari Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), prevalensi gizi kurang dan buruk. Di Indonesia, AKB memang telah menurun dari 35 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. AKI menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Namun, angka-angka tersebut masih belum memenuhi target kesepakatan MDGs tahun 2015 yaitu angka kematian ibu turun menjadi 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup.

Bapak Bapak, Ibu Ibu yang saya hormati, dan Para pemuda yang saya banggakan!

Berdasarkan data laporan akhir tahun 2012 dari Komisi Nasional Perlindungan Anak, dari 23 juta anak balita di Indonesia, 8 juta jiwa atau 35 persennya mengidap gizi buruk kategori stunting, sementara untuk kasus gizi buruk tercatat sebanyak 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persen dari total jumlah bayi di seluruh Indonesia. Menurut data WHO masalah gizi menyebabkan lebih dari 80% kematian pada anak.

Sementara itu, jika kita melihat hasil Human Development Index yang dikeluarkan UNDP tahun 2011, Indonesia menempati peringkat ke-124 dari 187 negara di dunia. Penilaian HDI sendiri dilihat dari empat indikator utama, yakni usia harapan hidup, persentase melek huruf orang dewasa huruf orang dewasa, rata-rata lama menempuh pendidikan dan pengeluaran perkapita. HDI yang rendah menunjukkan kualitas sumber daya manusia yang juga rendah.

Masalah mobilitas penduduk juga tidak boleh dianggap sebelah mata. Dalam era globalisasi dimana teknologi dan informasi menjadi andalan utama, aktivitas perpindahan atau mobilitas penduduk menjadi sangat mudah sehingga penduduk bisa berpindah ke mana saja sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Semua itu dimungkinkan oleh adanya teknologi penyebaran informasi dan revolusi transportasi sehingga akses-akses yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Mobilitas penduduk bila terbentuk hanya untuk bergerak ke arah tertentu tanpa mepertimbangkan alokasi lapangan kerja yang tersedia, yang tentunya terkait dengan ketersediaan kekayaan alam, investasi, jumlah penduduk, lembaga pendidikan, pusat dan kegiatan perdagangan, maka akan berakibat pada kesenjangan kualitas daerah dan perkembangan daerah. Daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit serta ditunjang dengan kualitas pendidikan dan penduduk yang cukup tinggi tentunya akan jauh meninggalkan daerah lain yang berkondisi sebaliknya. Maka dari realitas tersebut dikhawatirkan akan melahirkan semacam kecemburuan antar daerah yang berujung terhadap ancaman disintegrasi bangsa.

Masalah kependudukan yang tidak kalah pentingnya adalah masalah administrasi kependudukan. Sejak kemerdekaan 68 tahun yang lalu, masalah administrasi masih dirasakan tumpah tindih, tidak ada keterkaitan dalam administrasi antara keberadaan penduduk dengan kebutuhan lain yang sebetulanya atas dasar kependudukan itu sendiri. Masing-masing masih mementingkan kepentingan sektoralnya dari pada lebih memperhatikan kepentingan bersama secara koordinatif. Sebagai contoh nyata, kita dapat merasakan data pencatatan perkawinan bagi yang beragama Islam, terhenti di KUA hanya sebagai laporan data ke Departmen Agama. Sedangkan Kantor Catatan Sipil di wilayah yang sama tidak memiliki akses dan tidak memperoleh data sama sekali dari KUA. Sehingga fungsi Kantor Catatan Sipil seolah-olah hanya berlaku bagi bukan yang beragama Islam. Selain itu pula masih pula banyak terdapat KTP ganda dengan identitas yang sama. Hal ini tentunya akan berpengaruh dalam sistem administrasi nasional dan perencanaan kebijakan yang akan dilakukan pemerintah.

Wahai pemuda harapan bangsa,

Lantas apa yang dapat kita perbuat agar dapat membantu bangsa ini keluar dari masalah-masalah tersebut? Jawabannya adalah Kita sebagai pemuda harus bisa menjadi produktif di usia produktif. Karena dengan menjadi produktif di usia produktif, kualitas penduduk dengan otomatis akan meningkat dan pertambahan penduduk akan berkurang karena pemuda pada usia produktif tersebut dapat menunda pernikahannya sehingga angka kelahiran akan berkurang.

Penduduk usia produktif adalah penduduk yang berusia 15 sampai 59 tahun. Pemuda tentunya masuk ke dalam usia produktif tersebut. Produktif merupakan tindakan kreatif yang dapat menghasilkan sesuatu. Tindakan produktif tercermin dari tindakan kerja keras, kerja cerdas, mampu bersikap mandiri, tidak mengabaikan spiritualitas, dan visioner. Pemuda yang produktif adalah pemuda yang memiliki banyak karya, aktif, dan energik dalam bekerja.

Penduduk usia produktif di Indonesia semakin meningkat. Hal ini akan berimplikasi terhadap semakin ketatnya persaingan mendapat pekerjaan. Apabila tidak ada peningkatan lapangan pekerjaan, maka ancaman pengangguran akan terjadi. Pemuda di dalam usia produktifnya harus memiliki kesehatan yang baik, pendidikan dan keterampilan yang baik.

Menjadi manusia produktif bukanlah suatu hal yang mudah dan bukan pula suatu hal yang sulit. Ada beberapa kebiasaan yang perlu dilakukan agar sesorang menjadi produktif, yaitu menjadi manusia yang proaktif, memulai sesuatu dengan gambaran akhir, mendahulukan yang lebih utama, berpikirlah menang-menang bukan menang kalah. Memahami orang lain dahulu baru diri sendiri, selalu melakukan sinergi dengan orang lain, mengasah diri sendiri agar selalu bertambah baik, dan senantiasa selalu bersyukur atas semua hasil usaha.

Dengan menjadi pemuda produktif, kita dapat menghindari hal-hal yang tidak produktif seperti Narkoba, Seks Bebas, dan HIV/AIDS. Sudah tidak asing lagi ketiga masalah tersebut kini akrab di kalangan para pemuda. Narkoba pun sekarang sudah merambah ke anak-anak SD. Fenomena seks bebas menjadi hal yang lumrah di kalangan remaja. Hal ini tentunya akan menimbulkan kerusakan tatanan moral dan sosial masyarakat dan tentunya dapat menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan. Seks bebas dan Narkoba merupakan faktor resiko yang tinggi terjadinya HIV/AIDS di kalangan pemuda. Ketiga hal ini harus kita hindari dengan menjadi pemuda produktif di usia produktif. Sudah banyak bukti bahwa ketiga hal tersebut tidak hanya tidak produktif bahkan menghancurkan masa depan pemuda.

Permasalahan-permasalahan di atas sebenarnya memiliki akar masalah yang sama, yaitu pendidikan, khususnya pendidikan kependudukan. Tingkat pendidikan yang rendah akan menimbulkan ketidaktahuan akan bahaya dari masalah-masalah tersebut. Sudah sewajarnya, kita sebagai pemuda harapan bangsa untuk turut ikut andil dalam pendidikan kependudukan.

Wahai Para Pemuda Harapan Bangsa!

Pemuda sebagai agent of change harus turut andil dalam pembangunan kependudukan. Begitu pentingnya pemuda membuat Bung Karno berkata, Berikan aku seribu orang tua, maka akan kupindahkan gunung semeru. Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan ku guncangkan dunia. Dahsyatnya kekuatan pemuda juga dibuktikan dengan bergantinya rezim Presiden Soeharto ke era reformasi.

Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Pemuda lah yang akan menerima tongkat estafet pembangunan di masa mendatang. Pemuda yang memiliki karakter berwawasan kependudukan dapat menjadi ujung tombak dalam suksesi pendidikan kependudukan dan menjadi pemuda produktif yang unggul.

Sebagai pemuda kita harus ingat pesan para pendahulu kita yang mengatakan Jangan bertanya apa yang negara berikan kepadamu, namun bertanyalah apa yang telah kamu berikan kepada negara. Pemuda Indonesia hendaknya paham dan sadar akan pentingnya pengendalian kependudukan sehingga pemuda dapat berkontribusi secara nyata untuk pembangunan kependudukan.

Pemuda Indonesia juga dapat mengawal pembangunan kependudukan dengan mengadvokasikan penyelenggaraan pembangunan kependudukan yang belum sesuai dengan harapan dan target. Sebagai contoh, saat seorang mahasiswa KKN di sebuah desa yang belum memiliki bidan atau hanya memiliki dukun bayi, maka mahasiswa tersebut akan mencoba untuk melakukan advokasi kepada pihak pemerintah dan pihak terkait agar dipenuhi kebutuhan tenaga bidan di tempat tersebut. Advokasi mahasiswa sebagai seorang intelektual muda tentunya memiliki tempat khusus untuk didengar oleh para stake holder terkait.

Hadirin yang saya hormati,

Di akhir pidato ini saya ingin menyampaikan bahwa masalah kependudukan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia bukanlah masalah yang sepele. Cara terbaik untuk memerangi masalah kependudukan adalah melalui pendidikan. Pemuda sebagai generasi penerus bangsa harus mengambil andil dalam pembangunan kependudukan dengan berpartisipasi aktif sebagai pemuda produktif dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan kependudukan. Sehingga kita dapat mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, dan setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya!

Salam Genre !
Wassalamualaikum wr.wb

Daftar Pustaka

Antar Jatim, 2013. Gizi Buruk Selalu Menghantui Negeri Kita http://www.antarajatim.com/lihat/berita/105205/gizi-buruk-selalu-menghantui-negeri-kita

Depkes, 2012. Buku Panduan Hari Kesehatan Nasional Ke-48 Tahun 2012 http://www.depkes.go.id/downloads/BUKU_PANDUAN_HKN_48_TAHUN_2012_SUDAH_OKE.pdf

Darahim, Andarus. 2011. Buku Sumber Pendidikan Kependudukan. Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan BKKBN, Jakarta

Menkokesra, 2012. Indonesia Hadapi 4 Masalah Kependudukan http://www.menkokesra.go.id/content/indonesia-hadapi-4-masalah-kependudukan

UNDP, 2011. Indonesia MDGs Goal http://www.undp.or.id/pubs/imdg2011/BI/IndonesiaMDG_BI_Goal5.pdf

IDENTITAS PESERTA

Nama lengkap : Ahmad Rhyza Vertando Halim

Tempat,tanggal lahir : Bandar Lampung, 4 Januari 1990

Pekerjaan : Mahasiswa

Alamat Rumah : Jalan Kaliurang KM 14,5 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

HP. 081392810800

Incoming search terms:

  • pidato kependudukan
  • pidato singkat tentang produktivitas manusia
  • ceramah singkat remaja produktif
  • solusi buat pemuda produktif
  • pidato tentang kependudukan
  • pidato tema pelajar produktif
  • pidato menggunakan bahasa jawa tentang produktif
  • piadto agama tentang islam yang produktif
  • orasi tentang genre singkat
  • Materi ceramah tentang produktif
loading...

Leave a Reply