Pidato : TUGAS PIDATO ILMIAH

TUGAS PIDATO ILMIAH

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

NAMA : M. HAQQIYUDDIN ROBBANI

NIM: 21030112120016

KELAS : 1 (PAGI)

Yang terhormat, Ketua Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Bapak Dr. Ir. Boediono M.Sc.

Yang terhormat, Dosen Pengampu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Bahasa Indonesia, Bapak Drs. Muh. Muzakka, M.Hum.

Serta seluruh teman-teman mahasiswa teknik kimia yang saya cintai dan banggakan.

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji hanya milik Allah SWT, rabb semesta alam. Sudah merupakan sebuah kewajiban bagi kita untuk memanjatkan puja dan puji hanya kepada-Nya, karena atas rahmat, kasih sayang, serta izin-Nya lah kita masih diberikan begitu banyak nikmat, baik itu nikmat sehat, maupun nikmat waktu luang yang terkadang kita lupa untuk mensyukurinya.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada baginda Rasulullah, nabi Muhammad SAW. Manusia dengan akhlak yang paling mulia, yang sudah sepatutnya kita telusuri dan kita contoh segala amal perilakunya di atas segala idola yang ada saat ini. Karena atas dakwah beliaulah kita dapat merasakan indahnya islam hingga saat ini.

Terima kasih sebanyak-banyaknya saya ucapkan kepada bapak Drs. Muh. Muzakka, M.Hum selaku dosen pengampu MPKP Bahasa Indonesia, yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk menyampaikan pidato singkat dalam perkuliahan kali ini. Insya Allah saya akan membawakan sebuah pidato bertemakan: haruskah kita malu jadi orang Indonesia?.

… Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.

Penggalan puisi karya Taufik Ismail diatas mungkin kini dapat menggambarkan bagaimana perasaan sebagian dari rakyat Indonesia. Yang tentunya paham dengan kondisi bangsa Indonesia kini. Bagaimana tidak? Kurang lebih 2024 (dua ribu dua puluh empat) triliyun rupiah hutang Indonesia per mei 2013. Yang mungkin belum lunas walaupun kita bagikan kepada seluruh rakyat indoensia bahkan anak dari cucu kita. Haruskah kita malu jadi orang Indonesia?

Dosen dan teman-teman mahasiswa yang saya cintai

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak…

Peringkat satu negara terkorup se-asia pasifik, peringkat lima dunia per mei 2013. Korupsi bak sebuah budaya di negeri ini. Nampaknya reformasi hanya sebuah momentum pergantian aktor dalam sandiwara politik Indonesia. Komisi Pemberantasan Korupsi belum mampu untuk bersikap tegas dalam penanganan setiap kasus yang terjadi. Yang ada pejabat tinggi semakin kuat berjamaah dan merapatkan barisan dalam berkorupsi ria. Haruskah kita malu jadi orang Indonesia?

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

Pornografi, perjudian, pelacuran, perselingkuhan, pembunuhan, penistaan agama makin hari makin terbiasa berlabuh di telinga. Pamer lekuk tubuh sudah bukan lagi menjadi hal tabu, bahkan menjadi konsumsi harian publik. Bicara soal moral, potong kompas bagai menjadi kebiasaan di setiap urusan. Entah itu budaya suap percaloan, atau bahkan uang pelicin. Semua dianggap sudah biasa dan bahkan dianggap aneh bila mengikuti aturan yang ada. Haruskah kita malu jadi orang Indonesia?

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini

17.504 pulau, 93 ribu km2 laut, 81 ribu km pantai, tak cukup luaskah Indonesia? 25% terumbu karang dunia, Produsen cengkeh, pala, dan minyak sawit terbesar didunia, pemilik hutan bakau dan biodisversity anggrek terbesar didunia, pensuplai 20% gas alam cair dunia, kualitas emas terbaik dunia, makanan khas yang mendunia, 740 suku bangsa, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk, tak cukup kayakah Indonesia? Haruskah kita malu jadi orang Indonesia?

Penghasil kopi ternikmat dan termahal didunia, pemilik lebih dari 4000 jenis motif batik dan diekspor tidak kurang dari 30 juta ton setiap tahunnya, candi borobudur, komodo, raflesia arnoldi, danau mantano, toba, dan poso, raja ampat, bunaken, kebaya, tak cukup eksotis kah Indonesia? Haruskah kita malu jadi orang Indonesia?

Dosen dan teman teman yang saya cintai

Dimana kita? Dimana generasi muda? Dimana mahasiswa?

Masa depan Indonesia ada dipundak kita, suka atau tidak. Suatu saat kitalah yang akan mengurusi bangsa ini, memimpin bangsa ini, dan menanggung beban bangsa ini. Harapan bangsa Indonesia saat ini tertuju pada kita, generasi cendikia, yang kelak akan menjadi intelektual, profesional, negarawan, serta ekonom yang akan memajukan bangsa ini, membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Mari kita wujudkan harapan seluruh rakyat Indonesia, yakni menjadikan Indonesia yang berani, kuat, dan berjiwa seni. Menjadi Indonesia bermoral, Indonesia bersih, Indonesia bebas korupsi, Indonesia Jaya!

Haruskah kita masih malu jadi orang Indonesia?

Demikian pidato singkat yang dapat saya samapaikan dalam perkuliahan kali ini, segala kebenaran datang dari Allah SWT dan segala kesalahan datang dari diri saya pribadi, mohon maaf atas segala kekhilafan, terimakasih banyak atas perhatiannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Billahitaufik wal hidayah, akhirul kalam.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraokatuh

Leave a Reply