Pidato Pengukuhan Prof. Drg. Soelistiono Sp. Bm K

PENATALAKSANAAN GIGI IMPAKSI MOLAR
KETIGA MANDIBULA SEBAGAI PENYEBAB
GANGGUAN KEHARMONISAN ALAT
PENGUNYAHAN DAN STATUS
KESEHATAN UMUM





UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Gadjah Mada


Oleh:
Prof. drg. Soelistiono, Sp. BM (K)

2
PENATALAKSANAAN GIGI IMPAKSI MOLAR
KETIGA MANDIBULA SEBAGAI PENYEBAB
GANGGUAN KEHARMONISAN ALAT
PENGUNYAHAN DAN STATUS
KESEHATAN UMUM





UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Gadjah Mada


Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar
Universitas Gadjah Mada
pada tanggal 9 Januari 2008
di Yogyakarta


Oleh:
Prof. drg. Soelistiono, Sp. BM (K)
3
Penatalaksanaan Gigi Impaksi Molar Ketiga Mandibula Sebagai
Penyebab Gangguan Keharmonisan Alat Pengunyahan
dan Status Kesehatan Umum

Gigi molar (geraham) ketiga memiliki berbagai macam nama.
Penutur bahasa Inggris menyebutnya wisdom tooth sedangkan bangsa
Cina memiliki istilah yang memiliki arti yang sama namun sebenarnya
merujuk pada gigi molar pertama permanen yaitu gigi yang erupsi
(tumbuh) saat seorang anak mulai bersekolah. Bangsa Jepang
menyebut gigi molar ketiga sebagai gigi yang sama sekali tidak
diketahui oleh orangtua. Hal ini tentu karena gigi tersebut secara
normal erupsi pada umur 18-25 tahun yaitu saat anak-anak
meninggalkan rumah dan menjadi dewasa (MacGregor, 1985).
Gigi molar ketiga bawah mengalami kalsifikasi (pembentukan
kalsium) awal pada usia 8-10 tahun dan mahkotanya terbentuk
lengkap pada usia 12-16 tahun. Gigi ini akan mengalami erupsi pada
usia 17-21 tahun dan akarnya terbentuk dengan sempurna pada usia
18-25 tahun (van Beek, 1986). Gigi ini adalah gigi ke-8 dari garis
median (garis tengah tubuh). Oleh karena gigi ini membantu fungsi
gigi molar kedua maka bentuk dasarnya sama dengan molar kedua.
Gigi ini lebih kecil dan tidak begitu baik pertumbuhannya (Harshanur,
1991).
Sehari-hari kita biasanya menyebut gigi molar ketiga sebagai
gigi geraham bungsu. Penyebutan ini mungkin disebabkan oleh karena
gigi ini merupakan gigi yang tumbuh terakhir selama hidup manusia.
Filosofi Jawa memiliki istilah khusus untuk gigi molar ketiga
mandibula yaitu bam wekas. Orang Jawa meyakini bila bam wekas
tersebut keluar, hal ini berarti pamornya pecah. Ekspresi ini
dimaksudkan untuk menunjukkan tingkat kematangan fisik seorang
remaja dalam hal ini seorang gadis akan semakin cantik dan seorang
pemuda akan semakin ganteng dan menarik.
Gigi molar ketiga juga memiliki makna khusus dalam filosofi
Tibet; tumbuhnya gigi molar ketiga merupakan syarat tercapainya
hubungan gigi-gigi yang teratur, harmonis, seimbang sehingga
kesempurnaan secara keseluruhan juga dapat dipertahankan (Tetsch
dan Wilfried, 1992).

4
Filosofi-filosofi tersebut pada kenyataannya bertolak belakang
dengan kenyataan pada kehidupan sehari-hari di mana gigi molar
ketiga sering dianggap sebagai pembawa masalah. Gigi molar ketiga
dapat menyebabkan gangguan keharmonisan alat penguyahan dan
status kesehatan umum dan seringkali menyebabkan komplikasi pada
individu yang bersangkutan. Gigi molar ketiga dari segi perawatan
gigi biasanya mempengaruhi rencana dan perawatan dalam semua
bidang kedokteran gigi dan merupakan faktor utama dilakukannya
operasi gigi (Tetsch dan Wilfried, 1992).
Istilah yang paling populer untuk menunjukkan gigi molar
ketiga berada dalam posisi abnormal adalah impaksi (impacted) yang
memiliki pengertian bahwa jalur erupsi gigi tersebut terhalang
(MacGregor, 1985). Gigi impaksi disebut impaksi penuh (completed
impacted
) apabila seluruh gigi tertutupi oleh jaringan lunak dan
sebagian atau seluruhnya tertutup oleh tulang di dalam alveolus,
erupsi sebagian (partially erupted) bila gigi tidak dapat erupsi
sempurna dalam posisi normal fungsionalnya, dan ankilosis
(ankylosed) bila menyatu dengan tulang alveolar (Faculty of Dental
Surgery RCS, 1997
).
MacGregor (1985) menyebutkan bahwa posisi gigi yang
abnormal dapat terjadi pada setiap tahap perkembangan gigi namun
untuk memastikannya paling mudah dilakukan pada saat gigi molar
ketiga terbentuk sempurna dan pertumbuhan rahang telah lengkap.
Permukaan kunyah (oklusal) gigi pada tahap ini haruslah memenuhi
kurva Manson dan Spee. Kurva Manson adalah kurva oklusal tempat
gigi tiruan disusun. Semua tonjol gigi harus menyentuh suatu kurva
dengan radius 102 mm yang berpusat di titik imanjiner diantara alis
mata (glabella). Kurva Spee berjalan dari kondilus mandibula
sepanjang permukaan superior semua gigi mandibula sampai ke
incisivus sentral, sebesar 6,5-7 mm jika dilihat dari proyeksi
tengkorak lateral (Harty dan Ogston, 1987). Oleh karena gigi molar
kedua ataupun gigi anterior atau gigi antagonis di rahang atas dapat
saja tanggal atau salah posisi sehingga menyebabkan pergerakan gigi
molar ketiga maka tampaknya hanya sedikit saja molar ketiga yang
dapat disebut berada dalam posisi ideal dalam hitungan milimeter.

5
Satu pertimbangan lebih jauh dalam definisi impaksi adalah
populasi yang diperiksa biasanya pernah mengalami perawatan gigi.
Perawatan gigi menyebabkan suatu reduksi dimensi panjang total pada
arah mesiodistal mahkota gigi-gigi yang berada di anterior (depan)
gigi molar ketiga dan kecenderungan terjadinya impaksipun
menghilang (MacGregor, 1985).
Secara prinsip masalah impaksi timbul karena ketidaksesuaian
antara ukuran dan mungkin bentuk gigi dan rahang. Terdapat dua
sudut pandang berkenaan dengan prinsip ini. Sudut pandang pertama
mengatakan bahwa sejalan dengan evolusi primata terjadi peningkatan
ukuran otak dengan mengorbankan ukuran rahang yang tidak selalu
disertai oleh reduksi sepadan ukuran atau jumlah gigi. Hasilnya adalah
banyak individu yang mengalami gigi yang sangat berjejal dan pada
keadaan yang ekstrim tidak tersedia ruang sama sekali bagi gigi untuk
bererupsi (MacGregor, 1985). Rock dkk (2006) dalam penelitiannya
mengenai perbandingan sefalometri tengkorak manusia abad ke-14,
16, dan 20 menyimpulkan bahwa pendahulu kita memiliki kubah
kranial yang lebih kecil dan wajah yang lebih menonjol. Burns dan
Kerr (1986) dalam penelitiannya tentang hubungan impaksi gigi molar
ketiga bawah dengan ukuran gigi dan bentuk rahang menyimpulkan
bahwa ukuran gigi pada pasien impaksi lebih besar daripada ukuran
gigi pasien normal. Pasien impaksi juga memiliki susunan gigi yang
lebih berjejal.
Sudut pandang kedua melihat bahwa pada peradaban manusia
modern telah terjadi perubahan pola makanan selama kira-kira 2000
tahun terakhir dan hal ini menyebabkan penggunaan gigi kurang
maksimal dan gigi tidak mengalami keausan. Menurut pandangan
konvesional terdapat 3 tahap proses berkurangnya penggunaan gigi.
Pertama, pada saat tangan manusia telah mampu menggenggam
senjata dan perkakas, ukuran gigi kaninus (gigi taring) yang besar
berkurang tanpa kehilangan manfaat evolusinya. Kedua, penemuan
cara memasak membuat proses pengunyahan kurang dibutuhkan.
Ketiga, selama 250 tahun terakhir di peradaban Barat telah terjadi
suatu perkembangan teknologi yang pesat, nilai kalori makanan
produksi pabrik menjadi semakin terkonsentrasi, gula halus (refined


6
sugar) tersedia secara luas dan kandungan abrasif makanan beberapa
makanan khususnya tepung telah banyak berkurang oleh proses
penggilingan secara modern.
Hasilnya adalah ukuran gigi tidak berubah seperti yang
seharusnya oleh efek atrisi (aus), dan inilah yang menyebabkan
meningkatnya impaksi. Terdapat tambahan untuk sudut pandang
kedua ini yaitu bahwa atrisi gigi membutuhkan aktivitas otot yang
tinggi yang pada gilirannya menstimulasi pertumbuhan rahang.
Hilangnya proses pengunyahan yang konstan mengakibatkan rahang
tidak dapat mencapai ukuran maksimalnya sehingga pada individu
yang mengkonsumsi makanan berkalori tinggi yang dimasak, beresiko
tinggi mengalami maloklusi (kelainan hubungan antar gigi-geligi)
(MacGregor, 1985).
Konsep-konsep ini didukung oleh fakta bahwa terdapat
perbedaan terjadinya impaksi gigi molar ketiga pada hewan (kera) dan
manusia modern. Kasus gigi impaksi jarang dijumpai pada hewan.
Perbedaan insidensi impaksi ini juga diperkuat oleh perbedaan
struktural lain yang sangat jelas antara kedua spesies (MacGregor,
1985). Oviechina dkk. (2001) dalam penelitiannya tentang evaluasi
gejala dan pola impaksi gigi molar ketiga mandibula di Nigeria
menyebutkan bahwa prevalensi impaksi mencapai 88,8% pada
individu usia 16-30 tahun.
Bukti-bukti antropologi mengenai impaksi gigi molar ketiga
akan sangat menarik bila dimulai dari jaman manusia purba namun
berdasarkan pendapat para ahli ternyata aspek-aspek yang terkait
dengan pengkajian gigi-geligi antara manusia purba dan manusia
modern tidak berbeda. Selain itu, sampel untuk pengkajian statistik
pun tidak tersedia sehingga kelainan-kelainan gigi-geligi yang timbul
hanya berdasarkan perkiraan.
Beberapa spesimen berasal dari bangsa Mesir Kuno, Yunani,
dan Romawi. Seringkali tengkorak-tengkorak tersebut merupakan
tengkorak prajurit imigran yang berasal dari berbagai tempat di Eropa
dan tidak diketahui secara pasti mewakili populasi manakah temuan
tengkorak-tengkorak tersebut. Gambaran yang meyakinkan justru
berasal dari suku-suku primitif masa kini seperti orang Eskimo
Greenland yang diteliti oleh Pedersen (1947) dan orang Aborigin
Australia yang diteliti oleh Begg dan Kesling (1971). Keduanya
7
memiliki tingkat impaksi yang mirip tetapi walaupun subyek
penelitian merupakan suku bangsa yang masih hidup sampai sekarang
jumlah kasus impaksi masih sedikit dan pemeriksaan yang dilakukan
tidak lengkap tanpa adanya radiograf.
Gambaran yang mencengangkan dari hasil penelitian pada
tengkorak suku-suku primitif ini adalah derajat atrisi gigi. Terdapat
hubungan yang jelas antara derajat atrisi dengan peradaban dan pola
makanan. Terlihat bahwa perubahan tersebut terjadi pada saat populasi
yang besar seperti Aborigin Australia atau Eskimo mengubah pola
konsumsi mereka dari makanan primitif menjadi makanan modern.
Penelitian Curtis (1935) menyebutkan bahwa impaksi yang
ditemukan pada bangsa Mesir dan Nubian tahun 2000 sebelum masehi
disebabkan atrofi rahang karena berkurangnya fungsi dikarenakan
kurangnya atrisi gigi. Moore dkk. (1968) menyebutkan bahwa
perubahan-perubahan struktural yang terjadi pada manusia terutama
terjadi pada daerah-daerah perlekatan otot. Perubahan signifikan pola
makanan menjadi lebih modern terjadi mulai abad ke-17. Roti yang
merupakan makanan pokok sebagian besar orang yang dulunya berupa
lembaran roti gandum kasar berwarna hitam kini digantikan oleh roti
gandum yang berwarna lebih terang bertekstur lebih lembut. Gula
mulai diimpor dan cara memasak mengalami kemajuan. Konsistensi
makanan berubah dan fungsi rahang untuk mengunyah pun berkurang.
Penelitian terhadap 2400 subyek berumur 20 tahun di Nigeria
yang membandingkan prevalensi impaksi gigi molar ketiga antara
penduduk perkotaan dan pedesaan menunjukkan bahwa prevalensi
impaksi penduduk perkotaan (10,7%) lebih tinggi daripada penduduk
pedesaan (1,1%). Peradaban dan berubahnya pola makan tampaknya
bertanggung jawab atas terjadinya perbedaan prevalensi ini (Olasoji
dan Odusanya, 2000).
Bukti-bukti dari paleontologi, antropologi, dan penelitian
eksperimen dengan meyakinkan menunjukkan bahwa berkurangnya
ukuran rahang disebabkan oleh perkembangan peradaban. Faktor
utama yang berperan adalah tidak terjadinya atrisi interproksimal antar
gigi namun ukuran gigi alami juga ikut berpengaruh. Ukuran rahang
dan atrisi gigi saling berhubungan dan keduanya berkurang sejalan
dengan perubahan makanan ke arah yang lebih modern. Berkurangnya
ukuran rahang tadinya dianggap karena efek evolusi namun
8
pemeriksaan lebih detail menunjukkan bahwa pada spesies Homo
sapiens
hal ini mungkin tidak terjadi. Sesuatu yang dianggap sebagai
contoh yang bagus mengenai evolusi ini masih memerlukan
penjelasan yang lebih baik (MacGregor, 1985).
Gigi impaksi seringkali tidak sakit dan tidak memperlihatkan
persoalan. Akan tetapi, beberapa ahli percaya bahwa gigi impaksi
dapat mendorong gigi tetangganya sehingga menyebabkan
misalignment of bite. Gigi yang tumbuh sebagian dapat menyebabkan
timbunan makanan, plak dan debris lain pada jaringan sekitar gigi,
sehingga menyebabkan inflamasi dan tenderness pada gingival dan
bau mulut yang tidak enak, yang disebut sebagai perikoronitis.
Perikoronitis merupakan inflamasi (peradangan) di sekitar
mahkota gigi. Perikoronitis terjadi pada tahap erupsi saat folikel gigi
terbuka dan berkontak dengan cairan rongga mulut. Seringkali gigi
hanya erupsi sebagian tetapi dalam banyak kasus mahkota gigi tidak
terdeteksi di dalam mulut walau menggunakan alat probe sekalipun
(MacGregor, 1985). Perikoronitis umum terjadi pada daerah gigi
molar ketiga bawah yang mengalami impaksi (Gutierrez-Perez, 2004;
MacGregor, 1985; Juniper dan Parkins, 1996; Oviechina dkk., 2001).
Daerah sekitar gigi molar ketiga bawah adalah daerah yang sulit untuk
dilakukan drainase. Hal ini menjelaskan mengapa perikoronitis jarang
terjadi pada kasus impaksi gigi molar ketiga atas dan kaninus bila
dibandingkan dengan dengan gigi kaninus dan premolar (geraham
depan) bawah. Gigi-gigi ini apabila mengalami kelainan posisi
biasanya tumbuh lebih ke lateral (ke arah luar) dari lengkung gigi
pada area non-fungsional dan jaringan di atasnya tidak mengalami
trauma seperti yang terjadi pada area retromolar (area di belakang gigi
geraham ketiga bawah). Semua gigi geraham bawah yang mengalami
penundaan erupsi khususnya bila impaksi, dapat mengalami
perikoronitis (MacGregor, 1985).
Bayi dan anak usia sekolah kadang menangis pada saat giginya
tumbuh (teething). Hal ini karena sebagian besar gigi menyebabkan
peradangan lokal yang bersifat sementara sesaat sebelum menembus
mukosa dan kemungkinan sesaat sesudahnya bersamaan dengan
berlangsungnya degenerasi jaringan yang tersisa. Penampakan klinis
teething tidak sama dengan perikoronitis sehingga MacGregor (1985)

9
menyebutnya dengan istilah suprakoronitis untuk membedakannya
dengan peradangan yang lebih dalam yang timbul berulang jika folikel
gigi yang terinfeksi.
Nazif dan Rufallo (1981) menyarankan untuk mewaspadai
periode tumbuh gigi ini karena ada kemungkinan terjadi perikoronitis.
Biasanya bila terjadi perikoronitis timbul pembengkakan kelenjar
limfa di dekat sudut rahang bawah, di bawah dagu (submental) dan di
bawah rahang bawah (submandibular). Apabila terdapat pireksia
(demam) maka perlu diberikan antibiotik sistemik. Obat-obat topikal
dapat dioleskan pada daerah yang sakit dan hal ini cukup membantu
(Juniper dan Parkins, 1996).
Wilson dkk., (1986) menemukan kasus seorang bayi yang
mengalami infeksi perikoronitis yang berhubungan dengan tumbuhnya
gigi desidui menderita otitis media namun hubungan antara otitis
Perikoronitis biasanya menunjukkan gejala- gejala seperti rasa
sakit atau tenderness pada gingiva atau tulang rahang, rasa yang tidak
enak pada waktu menggigit atau pada daerah sekitarnya. Pada gigi
yang tidak tumbuh tampak celah, nafas yang tidak enak, gingiva
disekitar gigi impaksi berwarna merah dan bengkak, kadang-kadang
terjadi pembesaran limfonodi, dan kesulitan untuk membuka mulut,
serta sakit kepala atau sakit pada rahang yang berkepanjangan.
Penampakan klinis perikoronitis dan komplikasi yang
ditimbulkannya menunjukkan bahwa bakteri terlibat dalam patologi
perikoronitis dan hal ini didukung oleh keberhasilan pemberian
antibiotik jangka pendek dalam pengobatan perikoronitis. Keadaan
gigi impaksi yang khas cenderung menyebabkan terjadinya
kontaminasi oleh debris makanan dan mikroorganisme (MacGregor,
1985).
Berbagai macam mikroorganisme telah dibiakkan dari jaringan
yang terinfeksi. Sixou dkk (2003) menemukan bahwa bakteri-bakteri
obligat anaerob ditemukan hampir pada semua kasus yang mereka
teliti di samping bakteri-bakteri aerob yang mereka temukan. Bakteri
yang paling banyak dijumpai dari jenis anaerob adalah Streptocoocus
mutans
dan oralis (Salinas dkk., 2006). Penelitian Sixou dkk.
memperkuat konsep bahwa infeksi pada perikoronitis bersifat
polimikrobial. Hal ini didukung oleh MacGregor (1985) yang
menyatakan bahwa konsep klasik organisme tunggal sebagai
10
penyebab suatu infeksi seperti dipostulasikan oleh Koch dan diperkuat
oleh infeksi klasik seperti tifoid dan kolera tidak berlaku bagi semua
infeksi oral.
Konfigurasi tulang dan folikel gigi berubah pada saat gigi molar
ketiga erupsi dan mencapai suatu posisi yang statis relatif terhadap
gigi molar kedua. Selanjutnya terjadi proses resorbsi (pengikisan)
tulang di sekitar mahkota gigi yang disebut erupsi pasif. Tampaknya
ukuran dan bentuk ruang di antara jaringan lunak dan permukaan gigi
memainkan peranan penting dalam terjadinya perikoronitis dan
terdapat suatu bentuk peralihan kritis yang mendukung terjadinya
infeksi.
Faktor lokal lain yang penting yaitu hubungan gigi molar ketiga
bawah dengan gigi molar ketiga atas. Gigi molar ketiga atas akan
bererupsi dan berkontak dengan jaringan lunak yang menutupi gigi
molar ketiga bawah dan bahkan sebelum hal ini terjadi jaringan lunak
tersebut akan terkena trauma lebih dahulu oleh komponen keras dari
makanan. Salah satu atau kombinasi dari perubahan tersebut dapat
mengacaukan keseimbangan dengan cara menurunkan resistensi lokal
jaringan tersebut sehingga memungkinkan terjadinya infeksi yang
pada gilirannya mengakibatkan perubahan lebih lanjut (Soelistiono,
2003). Daya tahan individu juga memainkan peran penting dalam
timbulnya perikoronitis sesuai dengan prinsip medis. Secara umum
faktor stres (tekanan) berpengaruh terhadap terjadinya perikoronitis.
Patologi perikoronitis berupa infeksi dan biasanya berbentuk
abses atau cellulitis yang memiliki karakteristik sesuai dengan
organisme-organisme yang dominan. Arah penyebaran abses telah
banyak diketahui. Pus tersebut dilokalisir oleh resistensi jaringan di
sekelilingnya dengan penghalang utama berupa fascia dan otot
(MacGregor, 1985). Perikoronitis dapat bersifat akut dan kronis.
Gejala utama pada tahap akut adalah rasa nyeri sedangkan pada
perikoronitis kronis hanya menunjukkan sedikit gejala. Eksudat dapat
terjadi pada kedua tahap (Gutierrez-Perez, 2004).
Gejala pada tahap-tahap awal mungkin tidak berbeda dengan
gejala pada proses tumbuh gigi (teething). Pertama kali individu
menyadari tumbuhnya gigi atau area di sekitar gigi kemudian timbul
rasa sedikit tidak nyaman yang dirasakan semakin bertambah parah
karena area retromolar tergigit atau tertekan. Tahap berikutnya timbul
11
nyeri dan terbatasnya gerakan rahang. Agaknya hal ini disebabkan
oleh stimulasi reseptor syaraf nyeri namun bisa juga karena stimulasi
otot terdekat yaitu otot temporalis. Observasi menggunakan
elektromiograf mungkin diperlukan pada kondisi seperti ini
(MacGregor, 1985). Rasa nyeri karena perikoronitis terasa tumpul,
berdenyut, dan menetap (Wheterel dkk., 2001). Rasa nyeri pada
telinga juga dapat timbul pada kasus perikoronitis karena penjalaran
nyeri dental oleh saraf trigeminal ke telinga yang dikenal dengan
istilah otalgia dentalis (Nazif dan Rufallo, 1981).
Tanda-tanda klinis perikoronitis adalah pembengkakan berwarna
merah pada jaringan yang sebagian menutupi gigi yang terlibat dan
dari daerah tersebut akan mengalir keluar pus apabila ditekan dengan
probe tumpul (Juniper dan Parkins, 1996). Tanda-tanda lokal akan
lebih menguat pada saat infeksi terus berkembang. Nodus limfatikus
dapat terasa sakit pada tahap ini. Timbul trismus dan gerakan rahang
menjadi terganggu, rasa nyeri menyebar secara radial dan timbul
kesulitan untuk makan makanan yang padat. Pembesaran nodus
limfatikus dapat teraba dan terlihat jelas pembengkakan bukal.
Muncul efek umum infeksi akut: pireksia, takikardia (jantung
berdebar cepat), leukositosis dan malaise (MacGregor, 1985). Foeter
oris (bau mulut) juga dapat timbul pada perikoronitis (Juniper dan
Parkins, 1996).
Jika pus terbentuk maka akan keluar melalui rongga mulut atau
menembus dataran jaringan. Tergantung pada posisi mahkota pus ini
dapat bergerak ke bukal, kemudian meluas ke sinus maksilaris atau
lingual. Pergerakan pus ke arah bukal dapat menembus ke depan di
bawah lapisan periosteum di atas ketinggian otot buccinator di sulkus
bukalis. Kondisi ini disebut sebagai migratory abcess (abses yang
bergerak) dan menyebabkan kerancuan diagnosis khususnya bila titik
absesnya berada di dekat suatu gigi yang berpenyakit (Soewito dan
Soelistiono, 1998). Jika pus menembus di bawah otot buccinator maka
pus tersebut terlihat pada wajah dan dapat melibatkan nodus
limfatikus wajah dan jarang melibatkan cabang syaraf mandibula dari
persyarafan wajah. Abses-abses yang menyebar ke arah bukal dan ke
arah belakang akan menuju sub masseter dan menyebabkan trismus.

12
Penyebaran ke arah lingual juga terjadi dan melibatkan otot
mylohyoid. Jika pus lewat di atas dan menuju ke depan maka akan
terjadi abses sublingual.
Jika infeksi melibatkan kedua ruang di atas dan di bawah
mylohyoid dan disertai dengan pembengkakan dan indurasi yang
kentara maka disedut Ludwig’s Angina. Istilah ini sering digunakan
secara bebas untuk merujuk pada setiap pembengkakan meradang
sublingual yang parah. Perluasan ke arah tenggorokan dan area pre
trakhea dapat mengganggu pernapasan dan jantung dapat terpengaruh
apabila perikardium ikut terlibat.
Perluasan ke arah posterior baik di bawah otot masseter atau
otot pterigoid internal dapat menyebabkan infeksi berbahaya pada
ruang faring lateral (bagian samping) dan posterior (bagian belakang).
Infeksi dari sini kemudian menyebar ke atas dan mengikis dasar
tengkorak dan berjalan di sepanjang jalur vena yang lazim dan dapat
terjadi trombosis pada sinus. Penyebaran langsung dan haematogen ke
arah rongga tengkorak dapat menyebabkan meningitis atau
pembentukan abses. Kondisi ini jarang namun pernah terjadi.
Mediastinitis dan empyema (akumulasi pus dalam rongga/organ
berongga) pleura bilateral dapat menyertai perikoronitis. Descending
necrotizing mediastinitis
dan empyema pleura merupakan salah satu
komplikasi berat perikoronitis dengan tingkat kematian yang tinggi
(Sawalha dan Ahmad, 2001).
Perkembangan masa sekarang memperlihatkan infeksi seringkali
telah ditangani sebelum mencapai tahap lanjut namun terdapat
beberapa pengecualian penting walau di negara maju sekalipun.
Pasien usia lanjut dan mereka yang karena ketidakpedulian atau
kemiskinan tidak mencari perawatan dan mereka yang tidak
menyadari memiliki penyakit sistemik seperti diabetes dapat
mengalami infeksi yang mengancam jiwa. Pasien berusia lebih lanjut
seringkali dijumpai memiliki gigi yang tidak erupsi dan tertanam
dalam yang pada akhirnya muncul ke permukaan karena resorpsi
tulang mandibula (rahang bawah). Seringkali mereka memiliki
masalah medis lain khususnya penyakit sistem kardiorespirasi.
Rapuhnya kondisi kesehatan mereka membuat prosedur operasi sangat
berbahaya untuk dilakukan dan dengan demikian akan lebih baik
untuk mencabutkan gigi impaksi secara profilaksis pada usia muda.
13
Diagnosis banding perikoronitis ditentukan berdasarkan
deskripsi dan komplikasi perikoronitis. Satu pertimbangan penting
adalah tingginya prevalensi impaksi gigi geraham bungsu dan
kecenderungan keberadaan gigi geraham bungsu pada banyak
kelainan-kelainan yang tidak berhubungan. Sumber dari suatu keadaan
nyeri yang merupakan ciri utama tahap awal perkembangan
perikoronitis harus diteliti dengan seksama. Pulpitis (radang syaraf
gigi) dan periodontitis (radang jaringan pendukung gigi) merupakan
salah satu penyebab kerancuan sumber nyeri namun umum dijumpai
kasus-kasus karies dan periodontitis tahap lanjut pada gigi yang
terletak di sisi yang sama dengan gigi yang mengalami impaksi.
Kadangkala para praktisi enggan mengakui adanya kemungkinan
bahwa tambalan gigi yang kompleks atau gigi tiruan cekat yang
mereka pasang minggu kemarin dengan susah payah dan biaya yang
mahal merupakan salah satu sumber rasa nyeri yang timbul. Resorpsi
gigi molar kedua bawah dapat menyebabkan pulpitis tapi hal ini
jarang terjadi.
Pembengkakan karena abses jaringan lunak dapat dibedakan
dari pembengkakan karena perikoronitis. Pembengkakan pada abses
jaringan lunak biasanya berhubungan dengan lesi periapikal atau
kelainan periodontal, berwarna merah atau kuning dengan eksudat
yang purulen (Coleman, 2002).
Tanda dan gejala perikoronitis tahap berikutnya yaitu
keterbatasan gerakan rahang memiliki gambaran yang mirip dengan
beberapa kasus disfungsi sendi temporomandibula, dan apabila
terdapat kesulitan dalam menelan perlu dicurigai terjadi tonsilitis
(radang amandel). Harus dicamkan dalam pikiran bahwa area gigi
molar ketiga bawah seringkali menjadi lokasi kista gigi yang
terinfeksi. Keganasan memang jarang terjadi namun kelainan lokal
pada rahang yang dapat menyebabkan rasa nyeri bisa saja terjadi
bersamaan dengan impaksi gigi geraham bungsu. Kista paradental
dilaporkan ditemukan pada pasien dengan keluhan perikoronitis
kambuhan. Pemeriksaan radiograf periapikal menunjukkan gambaran
radiolusen semilunar di sisi distal molar ketiga bawah (Kanno dkk.,
2006). Tahap yang lebih lanjut memperlihatkan kelainan seperti
osteomyletis, cellulitis, dan pembentukan abses yang dapat
disebabkan oleh berbagai macam keadaan.
14
Kadangkala pasien datang dengan keluhan nyeri pada wajah dan
pada pemeriksaan klinis dan rontgen tidak ditemukan kelainan
patologis lain kecuali adanya impaksi gigi geraham bungsu yang
tampaknya tidak mengalami infeksi. Jika setelah dilakukan
penelusuran riwayat klinis ternyata tidak ditemukan sebab utama rasa
nyeri wajah seperti migren, sakit kepala cluster, neuralgia trigeminal
dan depresi tidak ada salahnya menyarankan pasien untuk mencabut-
kan gigi geraham bungsu tersebut apabila pasien dalam keadaan fit
dan kasusnya tidak terlalu sulit. Terdapat kemungkinan terjadi
kerusakan syaraf gigi bagian bawah atau patahnya rahang bawah dan
hal ini harus dimengerti oleh pasien yang pada saat yang sama harus
dijelaskan bahwa operasi yang akan dilakukan bisa saja tidak
menghilangkan gejala yang ia rasakan akan tetapi tetap bermanfaat
untuk mencegah terjadinya infeksi di masa yang akan datang.
Pengobatan perikoronitis memiliki sejarah yang panjang.
Beberapa cara pengobatan jaman dahulu hanya merupakan cerita
rakyat dan kekuatan gaib. Pengobatan secara mekanis merupakan cara
yang populer. Satu ciri yang umum terdapat pada literatur jaman
dahulu adalah bahwa tiap cara pengobatan dijelaskan seakan-akan
dapat diaplikasikan untuk semua kasus. Pengobatan perikoronitis
masa kini telah tersistematis (MacGregor, 1985). Pengobatan
perikoronitis dapat bersifat symptomatis, antimikrobial dan surgikal
(Gutierrez-Perez, 2004).
Pertanyaan kuncinya adalah apakah gigi geraham bungsu yang
impaksi tersebut dapat bermanfaat bila diselamatkan. Biasanya
pertimbangan mengenai hal ini melibatkan penentuan apakah terdapat
cukup ruang untuk gigi bererupsi hingga mencapai hubungan oklusi
yang baik pada saat rahang tumbuh sempurna nantinya. Apabila
terdapat keragu-raguan dapat dilakukan perawatan secara konservatif
(dengan tetap mempertahankan gigi tersebut) sampai suatu saat
kekambuhan yang terjadi sudah tidak dapat ditolerir oleh pasien.
Terdapat beberapa kasus mencengangkan terkait dengan erupsi gigi
ini dalam keadaan yang bisa dikatakan tidak ada harapan lagi namun
harus dikatakan bahwa kasus-kasus yang demikian jarang terjadi dan
bahwa hampir semua gigi impaksi pada orang dewasa tetap berada
dalam kondisi impaksi kecuali bila dilakukan sesuatu secara aktif. Per-

15
kembangan di bidang gigi tiruan menunjukkan bahwa beberapa gigi di
luar kelaziman dapat dijadikan sebagai kaitan tonggak pendukung
dalam pembuatan gigi tiruan baik cekat maupun lepasan.
Jika gigi yang impaksi ingin dipertahankan (perawatan secara
konservatif) maka perikoronitis yang terjadi dirawat berdasarkan
keterlibatan sistemik yang dialami pasien. Gejala-gejala lokal ringan
tanpa limfadenitis yang teraba atau peningkatan suhu tubuh dapat
diatasi dengan penanganan secara lokal. Asam triklorasetat
(trichloracetic acid) merupakan senyawa kaustik yang populer
digunakan namun hampir semua senyawa sejenis dapat digunakan
(MacGregor, 1985). Irigasi dapat dilakukan di bawah gusi yang
bengkak. Hal ini kadang sukar dilakukan bila terjadi trismus yang
parah. Pemberian asam triklorasetat harus selalu dinetralisir dengan
gliserin agar tidak menciderai pasien (Juniper dan Parkins, 1996).
Debris makanan yang ada harus dihilangkan (debridement) dan perlu
dilakukan drainase bila dijumpai pus. Irigasi juga dapat dilakukan
menggunakan 0,12% klorheksidin (Mansour dan Cox, 2006) dan
kumur-kumur dengan air garam hangat (Wetherell dkk., 2001).
Gigi molar ketiga atas bisa dikurangi ketinggiannya dengan cara
diasah (grinding). Sangat penting untuk tetap memperhatikan
kebersihan umum gigi dan mulut. Ulceromembranous gingivitis atau
gingivitis karena kasus lainnya harus ditangani dan pasien perlu
menggunakan kumur air hangat antar kunjungan hingga peradangan
tersebut teratasi. Apabila hal ini tidak berhasil dengan segera maka
perlu mempertimbangkan keadaan kesehatan umum pasien
(MacGregor, 1985).
Apabila terdapat keterlibatan secara sistemik maka diperlukan
penggunaan antibiotik. Penisilin merupakan pilihan utama dan
metronidazole merupakan alternatif yang memadai (MacGregor,
1985). Amoxicillin dan pristinamycin merupakan obat paling efektif
terhadap bakteri aerob sedangkan metronidazole atau kombinasinya
dengan spiramycin merupakan obat paling efektif terhadap bakteri
anaerob obligat (Sixou dkk., 2003). Keys dan Bartold (2000) memilih
metronidazole sebagai pilihan ideal pengobatan perikoronitis.
Komplikasi tingkat lanjut hampir tidak pernah terjadi pada
pasien yang ingin giginya dipertahankan akan tetapi bila hal itu tetap
terjadi perlu dilakukan pendekatan secara bedah.
16
Jika gejala-gejala yang timbul telah mereda maka operkulum
(lapisan gusi) yang menutupi permukaan gigi dapat dibuang dengan
bantuan anelgesia lokal. Tujuan perawatan ini adalah untuk
membuang jaringan lunak yang mungkin banyak tersisa karena proses
erupsi gigi. Perawatan ortodonsi tidak dapat dilakukan untuk kasus
impaksi yang memerlukan pengurangan tulang. Perawatan dengan
cara pengurangan tulang ditujukan untuk kasus-kasus gigi molar
ketiga yang hampir erupsi dengan posisi yang bagus dan tidak tidak
memerlukan perawatan ortodonsi aktif. Apabila terdapat sebagian
tulang menutupi gigi maka hampir dipastikan posisi gigi tersebut
miring dan mungkin akan lebih baik bila dilakukan pencabutan gigi
tersebut. Kasus-kasus yang meragukan terjadi apabila terdapat
impaksi vertikal terhadap ramus ascendens mandibula di mana hanya
permukaan distal gigi yang tertutup oleh lapisan gusi yang hipertrofi
(hipertropic flap). Kasus ini dapat terkesan sulit karena gusi akan
tumbuh kembali dengan cukup cepat kecuali dilakukan pemotongan
yang luas dan luka hasil pemotongan ditutup dengan wound pack.
Perawatan ortodonsi atau reposisi bedah gigi mungkin
diperlukan untuk tujuan jangka panjang.
Apabila gigi impaksi akan dicabut maka perlu ditentukan waktu
yang tepat untuk pencabutan. Sebelum era antibiotik para praktisi
meyakini bahwa inflamasi harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum
melakukan operasi dan hal ini juga berlaku untuk kasus infeksi gigi
lainnya. Pandangan ini terbentuk pada era saat pencabutan sama
ditakuti seperti penyakit yang menjadi penyebabnya. Opini ini masih
belum berubah dalam beberapa buku teks bedah mulut pada era
antibiotik. Martin dkk (2005) menyatakan bahwa penggunaan dan
manfaat profilaksis antimikrobial pada pencabutan gigi molar ketiga
bawah masih kontroversial dan bahwa tidak ada rekomendasi yang
definitif mengenai peran antibiotik profilaksis. Martin juga menam-
bahkan bahwa pasien-pasien dengan faktor penyulit sistemik merupa-
kan kelompok yang mungkin memerlukan penggunaan antimikrobial.
Penggunaan antibiotik tetap beresiko terjadinya anafilaksis, resistensi
bakteria dan biaya medis yang tidak proporsional.
Tidak seorangpun benar-benar yakin cara manakah yang terbaik
namun kini dengan adanya antibiotik keadaan menjadi lebih mudah
sehingga pilihan perawatan dijatuhkan atas pertimbangan
17
kenyamanan. Sebagian besar rumah sakit memiliki jadual yang padat
dan tidak selalu dapat menangani kasus dengan segera sehingga dalam
kondisi seperti ini untuk amannya perawatan ditunda dan infeksi yang
terjadi dikendalikan terlebih dahulu. Apabila di sisi lain tersedia ruang
untuk operasi maka tidak perlu untuk menunda operasi karena alasan
perikoronitis akut. Komplikasi mayor seperti abses, cellulitis, dan
osteomyelitis mungkin memerlukan perawatan bedah dengan segera
dan dalam kasus seperti ini gigi impaksi dapat diambil secara
bersamaan dengan persetujuan ahli anestesi.
Mencegah perikoronitis pada intinya adalah mencegah impaksi
gigi molar ketiga atau mencabut gigi sebelum terinfeksi. Usaha yang
pertama secara teoritis bisa dilakukan dengan cara elucidating
etiologinya dan dengan usaha-usaha pengendalian yang efektif.
Dikarenakan dalam etiologi impaksi terdapat peran serta faktor
genetik dan lingkungan maka jalan pemecahan seperti ini tidak dapat
diterapkan. Tidak mungkin dilakukan konseling genetik walaupun
mungkin aman dilakukan. Alternatif nya adalah meningkatkan fungsi
rahang dan hal ini jelas tidak dapat tidak dapat dilakukan hingga
tercapai gkat yang dinginkan kecuali oleh individu yang sangat
antusias dan bahkan ia sekalipun belum tentu dapat berhasil.
Pengurangan panjang lengkung gigi hanya dapat dilakukan
dalam praktek modern dengan pencabutan gigi yang terletak di
sebelah anterior (depan) gigi molar ketiga dan proses ini dapat
berdasarkan penyebab yang bervariasi. Tampaknya tidak ada suatu
penelitian yang dirancang untuk menunjukkan efek pencabutan yang
bertujuan untuk mencegah pengambilan gigi molar ketiga. Usaha
seperti ini tidak praktis terutama dikarenakan efek tak terduga karies
gigi dan juga karena gigi molar ketiga itu sendiri yang seringkali tidak
ada.
Tidak ada laporan ilmiah tentang terapi menggunakan alat yang
secara spesifik digunakan untuk mereposisi gigi molar ketiga secara
aktif. Terapi transplantasi gigi molar ketiga menjanjikan keberhasilan
namun tidak seperti transplantasi gigi kaninus atas transplantasi gigi
molar ketiga tampaknya masih berada dalam dataran penelitian dan
belum memasuki ranah praktek secara klinis rutin. Apakah operasi
seperti ini diinginkan atau tidak harus tergantung pada seberapa tinggi
nilai-nilai yang dianut pasien tentang mempertahankan fungsi oklusal
18
dalam porsi yang kecil ini dan hal ini agak berbeda dengan
transplantasi gigi yang posisinya lebih ke anterior di mana estetika
memainkan peran penting.
Pendekatan terakhir untuk mencegah perikoronitis adalah
mengambil semua molar ketiga dan hal ini telah direkomendasikan
untuk dapat dilakukan pada tiga tahap. Tahap pertama adalah
pengambilan gigi saat pasien berumur sekitar 9 tahun, sesaat sebelum
tonjol gigi yang terkalsifikasi menyatu. Henry dan Morant (1936)
menyebutnya enukleasi (enucleation) dan Ricketts (1972)
menyebutnya germektomi (germectomy). Henry mengambil gigi
tersebut dengan kuretase via suatu insisi ukuran kecil dan suatu
bukaan pada akar kripta dengan bentuk kerang. Perlu dipertimbangkan
juga dalam terapi seperti ini efek psikologis pada anak yang baru
berusia 9 tahun. Anak seusia ini tidak antusias tentang masalah
impaksi terlebih lagi anak seusia ini memandang dunia kedokteran
gigi dengan rasa curiga.
Tahap kedua yaitu pengambilan gigi sesaat sebelum mahkota
terbentuk sempurna. Sekali lagi Henry (1969) menjadi inovatornya
dan menyebutnya trepanasi lateral (lateral trepanation). Sekali lagi
tahap ini hanya berupa operasi sederhana dengan morbiditas yang
rendah. Tujuan utama operasi ini sama dengan germectomy. Pasien
tidak selalu dapat diyakinkan tentang manfaat pengambilan gigi ini
tak peduli apapun pemikiran orangtuanya dan hal ini tidak hanya
berlaku untuk perawatan gigi tetapi semua bentuk perawatan medis.
Tahap ketiga perawatan adalah pengambilan gigi dengan operasi
saat pasien telah menginjak usia dewasa dan pada tahap ini hampir
tidak ada masalah berkenaan tentang prediksi terjadinya impaksi,
malah banyak gigi yang telah terlanjur impaksi. Banyak yang
berpendapat bahwa waktu paling baik untuk operasi adalah pada saat
pembentukan gigi mencapai tahap 2/3 pembentukan akar sebelum
akar tersebut membentuk kurva puncak akar dan sebelum saluran
syaraf gigi inferior menembusnya. Lebih umum untuk mengambil gigi
impaksi setelah proses tersebut, biasanya pada saat gigi tersebut
pertama kali didiagnosis impaksi.
Pengambilan gigi molar ketiga dengan cara pembedahan
memerlukan pembukaan flap, kemungkinan pengurangan tulang dan
pemotongan gigi. Apabila gigi telah diambil, dilakukan kuretase dan
19
flap dikembalikan ke posisi semula dengan cara dijahit (MacGregor,
1985). Odontektomi adalah istilah yang digunakan untuk proses
pengambilan gigi seperti ini di mana insisi untuk pembukaan flap
harus bersifat full thickness yaitu terangkat sampai periosteum (Usri
dkk, 2006). Kasus-kasus tertentu memerlukan pengambilan gigi molar
ketiga bawah dari arah luar mulut (ekstra oral) misalnya pada kasus
trismus yang parah, dan pada gigi yang impaksi sangat dalam dengan
akar dilaserasi dan hipersementosis (Milner dan Baker, 2005).
Respon tubuh yang biasa terjadi pasca operasi adalah
pembengkakan dan trismus (kesulitan membuka mulut). Pem-
bengkakan dapat dikurangi dengan kompres dingin pada daerah pipi
atau lokasi lain di sekitar daerah operasi namun pada saat
pembengkakan baru mulai terjadi perlu dilakukan kompres hangat
untuk mempercepat proses mobilisasi cairan radang. Komplikasi lain
yang mungkin timbul pasca operasi adalah perdarahan, dry socket,
rasa nyeri, dehisensi, fraktur Angulus Mandibula pada odontektomi
molar ketiga bawah, cedera saraf gigi bawah (nervus alveolaris
inferior
) atau nervus mentalis pada odontektomi gigi molar dan
premolar bawah, oroantral fistula pada odontektomi molar dan
premolar atas, dan oronasal fistula pada odontektomi insisivus dan
kaninus atas (Usri dkk, 2006).
Komplikasi nyeri pasca operasi dapat diatasi dengan pemberian
obat-obat Non Steroid Anti Inflammatory Drugs (NSAIDs) seperti
parasetamol, asam mefenamat (Soelistiono dan Budi Santoso, 1991;
Soelistiono, 1996; Soelistiono, 1999) dan juga dapat diberikan dipyron
atau metamizol. Soelistiono (2002) dalam penelitiannya tentang
penggunaan analgesik untuk mengatasi nyeri pasca operasi dan
trismus pada pencabutan gigi molar ketiga bawah pada 145 pasien
menyebutkan bahwa penggunaan dipyron lebih efektif dibandingkan
parasetamol.
Untuk penderita dengan resiko tinggi, seperti gagal jantung, rasa
nyeri pasca operasi gigi impkasi molar ketiga mandibula dapat
dikurangi dengan pemberian aspirin dalam jangka pendek
(Soelistiono, 2006). Penisilin, sefalosporin, dan azitromisin dapat
digunakan sebagai profilaksis untuk mencegah terjadinya infeksi
pasca operasi impaksi gigi molar ketiga bawah (Ishihama dkk., 2006).

20
Komplikasi cederanya nervus alveolaris inferior dapat dicegah
dengan pembedahan koronektomi (coronectomy) yaitu pencabutan
sebagian gigi dengan tetap meninggalkan sebagian akar (partial tooth
removal, partial odontectomy, dan intentional root retention
). Hal ini
dilakukan dengan pertimbangan gigi molar ketiga impaksi perlu
dicabut tetapi akarnya sangat dekat dengan nervus alveolaris inferior
(Pogrel dkk., 2007).
Berbagai macam metode operasi telah berkembang, tiap metode
memiliki pendukung yang antusias, tetapi secara keseluruhan karena
selama beberapa tahun belakangan terbuka kesempatan untuk
pertukaran ide, hasil perkembangan tersebut kurang lebih sama.
Pengkajian tentang teknik-teknik tersebut sangat bersifat subyektif
dan oleh karenanya sangat sulit untuk menyatukan berbagai pemikiran
yang saling terpisah. Ahli-ahli dari Amerika Utara contohnya,
cenderung menggunakan insisi tipe amplop sedangkan ahli-ahli dari
Inggris menggunakan insisi bentuk L. Banyak ahli dari Inggris
dengan sengaja menggunakan split-bone technique namun sebagian
besar ahli dari Amerika menggunakannya bila diperlukan. Tidak
semua ahli membatasi pemikirannya pada subyek tertentu namun
banyak pendukung yang bersemangat untuk tiap-tiap metode.
Setiap negara memiliki metode tradisional yang diwariskan ke
dalam metode operasi. Sejarahnya tidak pernah terekam dengan baik
dan mungkin karakteristik orang-orang yang terlibat yang membuat-
nya demikian. Beberapa prinsip pembedahan untuk mengambil gigi
molar ketiga dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut.
Terdapat perbedaan pandangan tentang apakah gigi sebaiknya
diambil secara utuh atau potongan demi potongan dan kesimpulan
yang diambil tiap ahli bedah tergantung pada pandangannya terhadap
pengurangan tulang. Pemotongan gigi menyebabkan jumlah tulang
yang dikurangi hanya sedikit dan menciptakan ruang bekas
pencabutan yang lebih kecil namun keputusan untuk melakukan
pemotongan gigi atau tidak disesuaikan pada kondisi kasus yang
ditemui ketimbang berdasarkan suatu generalisasi.
Beberapa perbedaan teknik operasi dapat dilihat sebagai efek
dari posisi pasien dan operator. Salah satunya adalah arah insisi. Insisi
dapat dilakukan dengan arah anteroposterior ataupun posterioanterior
tergantung dari kenyamanan operator dan posisi relatif operator
21
terhadap pasien. Operator yang menggunakan tangan kanan yang
berdiri di sebelah kanan pasien secara alami akan melakukan insisi
dalam arah posterioanterior untuk operasi gigi geraham bungsu kanan
maupun kiri. Jika ia berpindah ke arah kiri pasien untuk mengoperasi
gigi geraham bungsu kiri maka insisi yang dibuatnya secara alami
mengambil arah kebalikannya (anteroposterior).
Banyak perdebatan menyangkut apakah pengurangan tulang
lebih baik dilakukan menggunakan bur atau chisel (tatah).
Penggunaan bur lebih nyaman bagi dokter gigi dan penggunaan chisel
lebih cocok bagi ahli anastesi umum, namun ada anggapan bahwa
penyembuhan luka akan terpengaruh. Menurut Simpson (1961 a, b)
selama bur adan chisel digunakan dengan benar hasil penyembuhan
luka tidak berbeda. Masalah yang ditemui pada penggunaan bur
adalah panas yang berlebih akibat pendinginan yang tidak efisien dan
kerusakan berlebihan akibat pemotongan yang tidak efisien. Satu hal
yang harus diwaspadai adalah bahwa handpiece (alat pemutar bur)
yang digunakan pada bidang kedokteran gigi konservasi yang dapat
menyemprotkan udara ke dalam luka tidak cocok digunakan karena
faktor ancaman infeksi dan emfisema. Saat ini salah satu atau kedua-
duanya (bur atau chisel) dapat dipergunakan.
Arah pengambilan gigi juga memiliki metode yang berbeda.
Pengambilan dari sisi lingual dilakukan pada kasus impaksi dengan
posisi oblique ke arah lingual dan yang paling utama karena lapisan
tulang di sisi lingual jelas terlihat lebih tipis dan lemah. Tulang dapat
dengan mudah patah sehingga komplikasi syaraf lingualis kecil
kemungkinannya. Secara khusus memar pada wajah yang terjadi pada
pengambilan gigi dari arah bukal karena cideranya otot buccinator
dapat dihindari. Pengambilan dari sisi bukal mungkin lebih
tradisional. Lebih mudah mengambil gigi dari sisi ini bila pasien
dalam keadaan sadar. Infeksi pasca operasi yang timbul lebih bersifat
superfisial dan ahli bedah senior pernah mengatakan bahwa kerusakan
periosteum lingual mandibula selalu menimbulkan nyeri yang hebat.
Operasi pencabutan gigi impaksi molar ketiga bawah dengan cara
osteotomi dari sisi lingual seperti yang diperkenalkan di Inggris oleh
Fry (1933) dikenal sengan istilah lingual bone splitting (Tetsch dan
Wilfried, 1992) atau split-bone technique/lingual split technique
(MacGregor, 1985).
22
Pada akhirnya, terlepas dari tujuan mulia dokter gigi untuk
mencegah terjadinya masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh gigi
impaksi dengan jalan pembedahan untuk mengambil gigi tersebut,
perlu dipertimbangkan apa yang menjadi keinginan pasien (Erasmus,
1999) terutama berkaitan dengan kemungkinan efek yang ditimbulkan
oleh pengambilan impaksi. Suatu penelitian tentang pandangan pasien
di Swedia dan Wales terhadap kemungkinan efek yang ditimbulkan
oleh pengambilan gigi impaksi menunjukkan bahwa pasien lebih
memilih untuk tetap mempertahankan gigi molar ketiga yang impaksi
ketimbang menjalani operasi pengambilan gigi (Liedholm dkk., 2005).
Penelitian ini memperkuat tren masa kini yaitu bahwa mempertahan-
kan gigi molar ketiga impaksi yang asimptomatik adalah pendekatan
yang paling tepat khususnya bila dipandang dari kacamata pasien
(Fernandez, 2005). Akan tetapi perlu diingat juga bahwa tidak adanya
gejala klinis (asimptomatik) bukan berarti tidak adanya penyakit
(Erasmus, 1999).


23
Kepustakaan

Beek G.C. van. 1989. Morfologi Gigi: Penuntun Bergambar (terj.).
EGC. Jakarta.
Coleman G.C. 2002. Diferrential Diagnosis of Oral Soft Tissue
Lesions. Texas Dental Journal; 484-503.
Erasmus F. 1999. The Removal of Impacted Third Molars. Position of
the South African Society for Maxillofacial and Oral Surgeons.
p. IV-V.
Faculty of Dental Surgery The Royal College of Surgeons of England.
1997. Report of A Working Party Convened by the Faculty of
Dental Surgery. Current Clinical Practice and Parameters of
Care. The Management of Patients with Third Molar (syn:
Wisdom) Teeth. London. p.4.
Gutirrez-Prez J.L. 2004. Third Molar Infections. Med Oral Patol
Oral Cir Bucal;9(Suppl):S120-5.
Harshanur I.W. 1991. Anatomi Gigi. EGC. Jakarta.
Harty F.J., Ogston R. 1995. Kamus Kedokteran Gigi (terj.). EGC.
Jakarta.
Ishihama K., Kimura T., Yasui Y., Komaki M., Ota Y. 2006.
Azithromycin as Prophylaxis for the Prevention of Postoperative
Infection in Impacted Mandibular Third-Molar Surgery. Journal
of Infection and Chemotherapy;
12(1):31-5.
Juniper R.P., Parkins B.J. 1996. Kedaruratan dalam Praktek Dokter
Gigi (terj.). Hipokrates. Jakarta.
Kanno C.M., Gulinelli J.L., Nagata M.J.H., Soubhia A.M.P., Crivelini
M.M. 2006. Paradental Cyst: Report of Two Cases. Journal of
Periodontology;
77(9):1602-6.
Keys D., Bartold M. 2000. Periodontal Condition of Relevance to the
Australian Defence Force. ADF Health;1:114-8.
Liedholm R., Knutsson K., Lysell L., Rohlin M., Brickley M.,
Shepherd J. 2005. Third Molar Treatment Outcome: A
Comparison of Patients’ Preferences in Sweden and Wales. Br
Dent J;
199:287-91.
MacGregor A.J. 1985. The Impacted Lower Wisdom Tooth. Oxford
University Press. Oxford.

24
Mansour M.H., Cox S.C. 2006. Patients Presenting to the General
Practitioner With Pain of Dental Origin. MJA;185(2):64-7.
Martin M.V., Kanatas A.N., Hardy P. 2005. Antibiotic Prophylaxis
and Third Molar Surgery. Br Dent J;198(6):327-30.
Milner N., Baker A. 2005. Extraoral Removal of A Lower Third
Molar Tooth. Br Dent J;199(6):345-6.
Nazif M.M., Ruffalo R.C. 1981. The Interaction Between Dentistry an
Otolaryngology. Pedriatic Clinics of North America;28(4):1-8.
Ng F., Burns M., Kerr W.J.S. 1986. The Impacted Lower Third Molar
and Its Relationship to Tooth Size and Arch Form. The
European Journal of Orthodontics;
8(4):254-8.
Obiechina A.E., Arotiba J.T., Fasola A.O. 2001. Third Molar
Impaction: Evaluation of the Simptoms and Pattern of Impaction
of Mandibular Third Molar Teeth in Nigerians. Odonto-
Stomalogie Tropicale;
93:22-5.
Olasoji H.O., Odusanya S.A. 2000. Comparative Study of Third
Molar Infection in Rural and Urban Areas of South-Western
Nigeria. Odonto-Stomalogie Tropicale;90:25-8.
Pogrel M.A., Dodson T.B., Swift J.Q., Bonine F.L., Raffeto L.K.,
Kennedy J.E., Malmquist J.P. 2007. White Paper on Third
Molar Data. American Association of Oral and Maxillofacial
Surgeons.
p.12-3.
Rock W.P., Sabieha A.M., Evans R.I.W. 2006. A Cephalometric
Comparison of Skulls from the Fourteenth, Sixteenth and
Twentieth Centuries. Br Dent J;200(1):33-7.
Salinas M.B., Riu N.C., Ayts L.B., Escoda C.G. 2006. Antibiotic
Susceptibility of the Bacteria Causing Odontogenic Infections.
Med Oral Patol Oral Cir Bucal;11:E70-5.
Sawalha W., Ahmad M. 2001. Bilateral Pleural Empyema Following
Pericoronitis. Annals of Saudi Medicine;21(3-4):228-9.
Sixou J-L., Magaud C., Jolivet-Gougeon A., Cormier M., Bonnaure-
Mallet M. 2003. Evaluation of the Mandibular Third Molar
Pericoronitis Flora and Its Susceptibility to Different Antibiotics
Prescribed in France. Journal of Clinical Microbiology; 41 (12):
5794-7.

25
Soelistiono H. 2002. Clinical Aspects of Dipyron Compared to
Paracetamol for Post Surgical Pain and Trismus Following
Removal of Mandibular Third Molar Teeth. Indon J Clin
Epidemiol Biostat;
9 (2): 8-12.
Tetsch P., Wagner W. 1992. Pencabutan Gigi Molar Ketiga. (terj.).
EGC. Jakarta.
Usri K., Riyanti E., Dewi T.S., Aripin D., Rusminah N., Arwana A.J.
Syiarudin I. 2006. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan
Mulut
. LSKI. Bandung.
Wheterell J., Richards L., Sambrook P., Townsend G. 2001.
Management of Acute Dental Pain: A Practical Approach
Primary Healt Care Providers. Australian Prescriber; 24
(6):144-8.
Wilson S., Badgett J.T., Gould A.R. 1986. Tooth Eruption and Otitis
Media: Are They Related? The American Academy of Pediatric
Dentistry;
8 (4): 296-8.
Orwick, A.L., 2004. Impacted Tooth. Available at http://www.orwick
dentalcare.com/impacted.htm
Williams and Wilkins, 2007. Symptoms of Impacted tooth. Available
at
http://www.wrongdiagnosis.com/impacted- tooth/
symptoms.htm

Incoming search terms:

  • bam wekas
loading...

Leave a Reply