Macam Berpidato : Acam- Metode

acam-Macam Metode Berpidato

15 Maret 2010 Agung Sirajuddin Vidianto Tinggalkan Komentar Go to comments

1.  Metode Impromtu

Metode Impromtu adalah Pidato yang dilakukan secara mendadak atau spontan.

2.  Metode Menghafal

Metode Menghafal adalah Pidato dengan membuat atau mempersiapkan sebuah teks pidato terlebih dahulu lalu menghafalnya.

3.  Metode Naskah

Metode Naskah adalah Pidato dengan menggunakan atau membaca teks yang sudah dipersiapkan.

4.  Metode Ekstemporan

Metode Ekstemporan adalah Pidato tanpa membuat persiapan naskah, tetapi hanya menatat hal-hal penting yang akan disampaikan dan urutannya saja.

A.  Pengertian Pidato

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak. Selain itu pidato merupakan wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak/ orang banyak.

Untuk mendukung keberhasilan berpidato di depan orang banyak, pembicara perlu melakukan langkah-langkah seperti: melakukan persiapan, berusaha mengatasi demam panggung, menyiapkan materi, dan berlatih menyampaikan dengan suara lantang.

B.  Metode Pidato

1.   Metode impromptu yaitu metode berpidato yang dilakukan berdasarkan kebutuhan sesaat. Metode ini dilakukan secara mendadak dan tanpa persiapan. Pembicara yang berpidato dengan metode ini hanya berdasarkan kemahiran serta pengetahuan mereka. Contoh: Seseorang menghadiri perayaan hari ulang tahun. Tiba-tiba orang tersebut diminta berpidato di depan para tamu yang hadir saat itu. Pidato yang dilakukan seperti itulah yang disebut dengan pidato impromptu.

2.   Metode memoriter (menghafal) merupakan kebalikan dari metode impromptu. Menghafal dilakukan dengan cara membuat naskah kemudian dihafalkan. Metode ini merupakan metode pidato yang paling jelek. Sebagai pelajar hindarkanlah penggunaan metode berpidato ini.

3.   Metode manuscript (naskah), yaitu metode pidato yang dilakukan dengan cara membaca naskah pidato secara keseluruhan mulai awal sampai terakhir. Pembicara dengan menggunakan naskah ini disebut juga dengan membacakan naskah pidato bukan menyampaikan pidato.

4.   Metode ekstempore (ekstemporan), yaitu metode pidato yang dilakukan dengan cara merencanakan, melakukan persiapan, dan membuat kerangka pidato. Materinya berupa outline (garis besar materi) dan supporting points (materi pendukung). Berdasarkan hal tersebut pembicara menyampaikan pidato.

C.  Syarat-syarat Menyampaikan Pidato

1.   Menguasai bahasa lisan dengan baik dan lancar.

2.   Memiliki kemampuan penalaran yang baik, kemampuan mengungkapkan gagasan, kemampuan menyesuaikan diri pada situasi yang ada.

3.   Memiliki keberanian berbicara atau mengemukakan pendapat serta tidak canggung di depan massa.

D.  Tujuan Pidato

    Berpidato di depan orang banyak membutuhkan persiapan-persiapan khusus. Selain itu, maksud serta tujuan pidato pun perlu direncanakan agar sesuatu yang disampaikan dalam berpidato sesuai dengan yang diharapkan. Adapun maksud dan tujuan berpidato antara lain:

   1.   Mendorong para pendengar agar timbul inspirasi pada mereka. Pidato yang cocok untuk jenis ini adalah jenis pidato persuasif.

2.   Meyakinkan pendapat dari para ilmuwan agar pendengar dapat menyesuaikan, percaya serta yakin. Dalam hal ini pembicara perlu memberikan keyakinan kuat disertai dengan alasan-alasan yang logis serta pemberian contoh-contoh konkrit. Pidato yang cocok untuk jenis ini adalah jenis pidato persuasif.

3.   Bertindak dan berbuat agar pendengar melakukan tindakan atau perbuatan tertentu. Dalam hal ini pembicara perlu mendorong, memberikan keyakinan, serta membakar semangat dan antusias kepada audience untuk melakukan sesuatu. Pidato yang cocok untuk jenis ini adalah jenis pidato persuasif.

4.   Memberitahukan tentang sesuatu agar mereka mengerti dan melakukan perbuatan tertentu. Dalam hal ini pembicara perlu menyampaikan informasi baru untuk menambah pengetahuan dan wawasan pada pendengar. Pidato yang cocok untuk jenis ini adalah jenis pidato instruktif.

5.   Menyenangkan pendengar agar mereka merasa senang dan gembira. Untuk menyenangkan pendengar, pembicara perlu memperhatikan tiga faktor, yaitu bicara dengan percaya diri, bicara dengan jelas, libatkan pendengar dalam pembicara. Pidato yang cocok untuk jenis ini adalah jenis pidato rekreatif.

E.  Langkah-langkah Persiapan Pidato

1.   Meneliti masalah meliputi: menentukan maksud dan tujuan, menganalisis pendengar dan suasana, serta memilih dan menyempitkan topik.

2.   Mengumpulkan bahan meliputi: mengumpulkan bahan, membuat kerangka (outline), dan menguraikan isi secara terperinci.

3.   Mengenali audience

4.   Persiapan mental

5.   Persiapan fisik, yaitu latihan oral (berlatih dengan suara nyaring).

F.   Teknik Menyusun Pidato

1.   Mengumpulkan bahan meliputi: meneliti masalah, mulai menggambarkan hal-hal yang diketahui, menetapkan hal-hal yang perlu disampaikan, mengumpulkan bahan (fakta, ilustrasi, dan pokok-pokok konkret), bertanya atau berkonsultasi, serta memanfaatkan sumber (internet, buku, majalah, surat kabar, almanak, dan lain-lain)

2.   Membuat kerangka (outline) meliputi: menentukan pokok-pokok pembicaraan dengan tataurutan yang baik, dibuatkan secara terperinci hal-hal yang menjelaskan tentang pokok-pokok utama, disusun kerangka formal untuk memperoleh keyakinan tentang kesatuan dan koherensinya.

3.   Menguraikan isi pidato secara terperinci dengan memperhatikan kerangka pidato.

G.  Sistematika Pidato

1.   Pengantar:disampaikan untuk menarik perhatian pendengar serta memberikan gambaran tentang urutan penyajian.

2.   Isi pidato:untuk menyampaikan pernyataan tentang pokok-pokok permasalahan, mengajukan fakta-fakta untuk membuktikan masalah yang dibahas, dan menolak fakta-fakta yang berlawanan.

3.   Penutup: mengemukakan kesimpulan atau rekaputulasi dari sesuatu yang disampaikan secara bulat mengenai masalah yang dibicarakan.

H.  Bentuk Pidato

1.   Eksposisi, yakni memberikan uraian tentang pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan dan pengetahuan pada audience.

2.   Argumentasi, yakni memberikan bukti-bukti berdasarkan proses penalaran yang kritis.

3.   Deskripsi, yaitu memberikan gambaran sesuatu tentang ciri, sifat, serta watak dari sesuatu objek yang digambarkan.

Narasi, yakni mengisahkan kejadian-kejadian seolah-olah mereka sendirilah yang mengalami peristiwa itu.

Leave a Reply