Pidato : Nama Aditia Tri Wardana

Nama : Aditia Tri Wardana

Kelas : 3 TKJ 1

Assalamualaikum Wr Wb

Pada hari ini kita bersyukur kepada Tuhan YME, bahwa kita dapat berkumpul disini dan di hari yang cerah ini. Dipidato saya ini saya akan membahas sedikit tentang masalah politik di Indonesia.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu,

Ditengah kegalauan situasi krisis ini ada beberaga tetesan angin segar yang
patut pula kita hargai. Ucapan minta maaf secara terbuka, apakah itu berasal
dari niat tulus atau rekayasa strategi ulung para politikus, mendobrak
budaya selama ini, bahkan kalau dibilang semenjak jaman Bung Karno. Kita
mungkin tahu bahwa dizaman itu, banyak pula lawan politik yang diambil HAM
nya dengan mempergunakan kekuasaan, seperti Sutan Sjahrir dan kawan
kawannya. Dan memang dalam sejarahnya politik selalu bergelimang didaerah
abu abu.

Secara awam mungkin kita melihat bahwa sosok Habibie tampaknya bukanlah
politikus ulung yang penuh dengan strategi. Hal ini bisa dilihat pada saat
memberikan bintang penghargaan yang terkesan sangat berbau nepotisme. Bila
ia seorang politik ulung, tentulah menyadari bahwa itu sangat merugikan
posisinya. Ada dugaan kuat bahwa dia sebenarnya terombang ambing oleh
sodoran strategi dari politikus disekelilingnya. Pak Harto baru terlihat
berbau nepotisme sebenarnya diujung pada saat dia mulai alpa dan larut
didalam sentris kekuasaan. Diawalnya, sebagai seorang strategi ulung, dia
selalu melangkah dengan hati hati, taktis, terlihat bersih dan itu yang
membawanya bisa berkuasa selama 30 tahun.

Dobrakan segar lain adalah dobrakan protokoler. Didepan kurang lebih 1000
orang yang terbiasa dengan budaya manut, dengan tenang
menenggak air minum dengan polos. Memang mungkin karena ia dibesarkan di
budaya barat, tetapi perlu disimak budaya seperti ini yang harus pula kita
kembangkan, yakni esensi keberanian melakukan sesuatu, dan merupakan dasar
dari HAM itu sendiri

Bapak-bapak dan Ibu-ibu,

Saat ini kita membutuhkan negarawan, dalam artian seorang politikus ulung
yang berjalan mengikuti hati nuraninya. Tampaknya tokoh seperti ini belumlah
kelihatan. Kita banyak masih memiliki tokoh tokoh yang berlindung dibalik
historikal tertentu, mulai dari agama atau tokoh tokoh masa lalu. Seperti Gus Dur
mungkin bisa diharapkan, sayangnya selain kesehatan yang kurang memadai,
langkahnya seringkali pula membingungkan. Banyak rasa keberpihakan kepada
tokoh tokoh saat ini lebih kepada rasa simpati terhadap akibat penindasan
kekuasaan, historis terhadap masa lalu bahkan adapula atas dasar barisan
sakit hati terhadap kekuasaan. Banyak yang bersimpati kepada Megawati, Amien
Rais, dll karena rasa kebersamaan terhadap pola penindasan kekuasaan. Untuk
jangka pendek hal ini adalah wajar. Tetapi lebih baik kita mulai untuk
mendukung orang orang yang terlepas dari historikalnya, lebih kepada
kwalitasnya sebagai pemimpin bangsa terutama program program yang jelas
untuk membawa 200 juta jiwa bangsa ini.

Masyarakat sudah harus mulai dewasa untuk menekan rasa emosional dengan
mengedepankan akal. Adalah lebih baik bertemu sosok seperti Habibie yang
jelas bukan politikus ulung, daripada berhadapan dengan politikus ulung
tanpa hati nurani yang penuh strategi jitu. Karena tipe ini selalu seolah
olah membawa angin segar diawal. Tetapi sejarah sudah seringkali bercerita
mengenai hal ini. Sebagai contoh yang masih hangat, seorang tokoh menyatakan
dengan tenang: "saya akan mundur sebagai menteri bila terpilih sebagai ketua
agar dapat lebih konsentrasi…." dan setelah terpilih dengan tenang pula
menyatakan: " memutuskan untuk tidak mundur sebagai menteri karena ….".
Gaya gaya seperti inilah yang perlu kita simak dan renungkan lebih lanjut.
Perlu dituntaskan memang, gaya serta pola kekuasaan dan militer yang
tampaknya merupakan sumber permasalahan selama ini, agar kembali kepada
proporsi yang sebenarnya.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu,

Debat terbuka dengan para tokoh saat ini melalui forum apa saja, perlu kita
upayakan agar dimasyarakatkan. Paling tidak kita masyarakat awam bisa
menilai apa sebenarnya yang tercetus didalam benak mereka.

Sekian dari pidato saya yang singkat ini, apabila ada kata-kata saya yang salah, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalamualaikum Wr Wb

Leave a Reply