Pidato Diare : 27

ISSN : 1693-9883
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.1, April 2004, 27 – 33
PENYULUHAN PENGGUNAAN ORALIT
UNTUK MENANGGULANGI DIARE
DI MASYARAKAT
Harianto
Departemen Farmasi, FMIPA Universitas Indonesia
ABSTRACT
Diarrhea is one of the common deseases and a attack any level of ages. Diarrhea
can be tuated effectively by using oralit to replace the lost of body water. To increase
the use of oralit against diarrhea, this trestment should be socialized to public with
undergo a general lecture to enhanced the public knowledges cncerning diarrhea
and causing factors, to make a group discussion of senior citizen and public figures
to build positive attitude in using oralit, and to demonstrate the processing of
oralit/LGG and how to use it to people.
PENDAHULUAN
Angka kesakitan diare mencapai
200 sampai 400 kejadian tiap 1000 pen-
Diare adalah suatu penyakit duduk setiap tahun. Sebagian besar
yang ditandai dengan meningkatnya (70%-80%) penderita adalah anak
frekuensi buang air besar lebih dari balita dan 1%-2% dari penderita akan
tiga kali sehari disertai adanya peru- jatuh ke dalam dehidrasi dan bila
bahan bentuk dan konsistensi tinja tidak ditolong akan meninggal. Ter-
penderita (Sutanto 1984; Winardi catat 300.000-500.000 anak balita yang
1981).
meninggal akibat diare (Gertruida et
Dikenal diare akut yang timbul al, 1990; Winardi, 1981).
dengan tiba-tiba dan berlangsung
Sebenarnya cara yang efektif
beberapa hari dan diare kronis yang untuk mengatasi diare adalah dengan
berlangsung lebih dari tiga minggu menggunakan Oralit. Untuk lebih
bervariasi dari hari ke hari yang di- meningkatkan penggunaan Oralit
sebabkan oleh makanan tercemar perlu dilakukan penyuluhan kepada
atau penyebab lainnya (Anonim 1985; masyarakat.
Winardi 1981).
Diare merupakan salah satu ma-
salah kesehatan di Indonesia dan FAKTOR PENYEBAB DIARE
menurut Survei Kesehatan Rumah
Tangga 1986 ternyata diare termasuk
Diare dapat disebabkan oleh in-
dalam 8 penyakit utama di Indone- feksi bakteri, virus atau parasit. Diare
sia (Budiarso 1986).
dapat juga disebabkan oleh malab-
Corresponding author : Fax.(021) 7863433; E-mail : harianto@makara.cso.ui.ac.id
27
sorpsi makanan, keracunan makanan, kungan yang kurang mendukung
alergi ataupun karena defisiensi sering menimbulkan wabah diare.
(Winardi, 1981).
Dehidrasi yang terjadi pada
Bahaya utama diare adalah ke- penderita diare karena usus bekerja
matian yang disebabkan karena tu- tidak sempurna sehingga sebagian
buh banyak kehilangan air dan garam besar air dan zat-zat yang terlarut
yang terlarut yang disebut dehidrasi. didalamnya dibuang bersama tinja
Kematian lebih mudah terjadi pada sampai akhirnya tubuh kekurangan
anak yang bergizi buruk, karena gizi cairan. Dehidrasi lebih mudah terjadi
yang buruk menyebabkan penderita pada bayi dan balita serta pada pen-
tidak merasa lapar dan orang tuanya derita demam. Derajat dehidrasi
tidak segera memberi makanan diukur menurut persentase terjadi-
untuk menggantikan cairan tubuh nya penurunan berat badan selama
yang hilang (Anonim, 1985).
diare. Bila berat badan turun kurang
Keadaan gizi yang buruk akan dari 5% termasuk dehidrasi ringan,
mempengaruhi lamanya diare dan berat badan turun 5%-10% termasuk
komplikasinya. Anak dengan status dehidrasi sedang dan bila berat
kurang kalori protein akan menga- badan turun lebih dari 10% termasuk
lami gangguan keseimbangan elek- dehidrasi berat (Anonim 1985; 1990).
trolit dan diare mempercepat proses
ini. Pemberian air susu ibu terbukti
meningkatkan daya tahan terhadap PENGOBATAN DIARE
diare (Anonim, 1985; Artini, 1987).
Karena bahaya diare terletak
Higiene dan sanitasi yang buruk pada dehidrasi maka penanggulang-
mempermudah penularan diare baik annya dengan cara mencegah timbul-
melalui makanan, air minum yang nya dehidrasi dan rehidrasi intensif
tercemar kuman penyebab diare mau- bila telah terjadi dehidrasi.
pun air sungai.
Rehidrasi adalah upaya meng-
Faktor sosial budaya yang be- gantikan cairan tubuh yang keluar
rupa pendidikan, pekerjaan dan ke- bersama tinja dengan cairan yang
percayaan masyarakat membentuk memadai melalui oral atau parenteral
perilaku positif maupun negatif ter- (Anonim, 1985; Rubin, 1985).
hadap berkembangnya diare. Peri-
Cairan rehidrasi oral yang di-
laku masyarakat yang negatif misal- pakai oleh masyarakat adalah air
nya membuang tinja di kebun, sawah kelapa, air tajin, air susu ibu, air teh
atau sungai, minum air yang tidak encer, sup wortel, air perasan buah
dimasak dan melakukan pengobatan dan larutan gula garam (LGG).
sendiri dengan cara yang tidak tepat Pemakaian cairan ini lebih dititik
(Artini , 1987).
beratkan pada pencegahan timbulnya
Kepadatan penduduk dan sosial dehidrasi. Sedangkan bila terjadi
ekonomi yang rendah serta ling- dehidrasi sedang atau berat sebaik-
28
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
nya diberi minuman Oralit. Oralit
a. Dalam pemberian cairan Oralit
yang menurut WHO mempunyai
pada 4 jam pertama : untuk anak
komposisi campuran Natrium Klo-
di bawah usia 6 bulan yang tidak
rida, Kalium Klorida, Glukosa dan
diberi ASI, berikan 100-200 ml
Natrium Bikarbonat atau Natrium
susu selang-seling dengan Ora-
Sitrat sekarang dijual dengan ber-
lit/cairan rumah tangga.
bagai merek dagang seperti Cyma-
b. Dalam mengobservasi anak dan
trolit, Eltolit, Ottolyte, Kritallyte dan
membantu ibu memberikan
Aqualite mengandung komposisi
cairan Oralit, bila mata sembab
yang sama (Bromilow 1993; Patra
pemberian Oralit dihentikan.
1992).
Tatalaksana penderita diare 3. Rencana Terapi C (untuk diare
yang tepat dan efektif merupakan
dengan dehidrasi berat) :
bagian penting dalam pemberantasan
Terapi intravena Ringer Laktat bila
penyakit diare khsususnya dalam
diperlukan pada bayi setelah 1 jam
upaya menurunkan angka kematian
pertama, diberikan 30 mg/kg dan
diare dan mengurangi komplikasi
dapat dilanjutkan untuk 5 jam beri-
akibat diare. Selain daripada itu
kutnya 70 mg/kg berat badan.
tatalaksana penderita yang berhasil
Untuk anak-anak dan dewasa di-
akan pula menjadi pintu masuk
berikan Ringer Laktat secara intra-
promosi kesehatan lain dan kegiatan
vena dengan dosis 100 mg/kg
kesehatan lingkungan lain dalam
berat badan (Greene 1980).
rangka menurunkan angka kesakitan
Obat-obat lain yang sering dikom-
diare.
binasikan dengan Oralit pada diare
Menurut Keputusan Seminar
akut adalah Tetrasiklin, Trime-
Nasional Pemberantasan Diare prin-
toprim, Metronidazol (Rubin
sip tata laksana diare adalah sebagai
1985).
berikut :
1. Rencana Terapi A (Terapi diare
tanpa dehidrasi di rumah) :
PANDANGAN MASYARAKAT
Dalam tatalaksana diare di rumah: TERHADAP ORALIT
Jika anak tidak diberi ASI maka
susu formula tetap diberikan. Jika
Sebelum melakukan penyuluhan
berumur kurang dari 6 bulan dan penggunaan Oralit kepada masya-
belum mendapat makanan padat rakat perlu dilakukan analisis situasi
berikan susu formula selang-seling perilaku masyarakat terhadap Oralit.
dengan Oralit/cairan rumah tang- Sebagai perbandingan dapat diambil
ga.
hasil penelitian di Bali dan Bangla-
desh.
2. Rencana Terapi B (Terapi diare de-
Hasil penelitian pemasyarakatan
ngan dehidrasi ringan/sedang) :
Oralit di dua desa kabupaten Badung,
Vol. I, No.1, April 2004
29
Bali menunjukkan bahwa 82% pen- anaknya menolak larutan Oralit, 2%
duduk desa Tuban dan 92% pendu- karena harus ada resep dokter, 2%
duk desa Abiansemal tahu Oralit, memakai Oralit jika diperlukan dan
dengan sumber informasi berasal dari 2% tidak suka Oralit karena ada obat
tenaga kesehatan. 42% penduduk lain di rumah sakit/puskesmas
Tuban dan 48% penduduk Abian- (Green, 1986).
semal dapat membuat Oralit/LGG
Penyuluhan kesehatan merupa-
sendiri, namun 49% penduduk di kan bagian yang tidak terpisahkan
Tuban dan 60% penduduk di Abian- dari pendidikan kesehatan yang pada
semal tidak yakin akan khasiatnya garis besarnya ada 2 jenis yaitu :
(Artini 1987).
– Metoda didaktik, contohnya adalah
Hasil penelitian perilaku pendu-
ceramah.
duk terhadap Oralit/cairan rehidrasi – Metoda sokratik, contohnya adalah
oral di 5 kecamatan di Bangladesh
diskusi kelompok dan demonstrasi
menunjukkan bahwa penggunaan
(Notoatmodjo, 1986).
Oralit 86% untuk pengobatan diare,
16% untuk rehidrasi, 4% untuk meng-
Perubahan perilaku masyarakat
hilangkan sakit perut, 2% untuk men- agar selalu hidup sesuai dengan nor-
cegah diare dan 2% untuk meng- ma-norma kesehatan dapat dilakukan
hilangkan haus penderita diare.
melalui strategi pemberian infor-
Dari pengalaman memakai masi/ceramah dan diskusi serta
Oralit, 58% pernah memakainya (92% partisipasi (Notoatmodjo, 1993).
untuk diare, 4% untuk mengganti ke-
Untuk mewujudkan perilaku
kurangan cairan tubuh dan 2% tidak hidup sehat (healthy life style) harus
menjawab).
tersedia faktor yang memungkinkan
Hasil pemakaian Oralit menyata- perilaku tersebut terwujud (enabling
kan bahwa 84% berhasil, 6% tidak factors), misalnya tersedianya obat-
berhasil, 5% biasa saja dan 4% men- obatan (Greene, 1980).
jawab hanya sebagai penghilang
Kesemua hal diatas merupakan
haus.
dasar dari konsep penyuluhan peng-
Efek samping Oralit menurut gunaan Oralit untuk menanggulangi
responden adalah 80% tidak ada, diare di masyarakat yang akan dike-
14% tidak tahu dan 6% mungkin ada. mukakan.
Sumber Oralit yang didapat ma-
syarakat adalah 31% dari dokter
setempat, 26% dari pasar, 25% dari KONSEP PENYULUHAN PENG-
toko obat/apotik dan 18% dari GUNAAN ORALIT
rumah sakit dan puskesmas.
Alasan responden tidak mema- 1. Diagnosa edukatif :
kai Oralit pada waktu diare adalah
Adanya perilaku masyarakat
83% tidak punya, 13% tidak tahu, 2% yang negatif yang membantu dalam
30
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
penyebaran kuman diare, misalnya
– Menimbulkan perilaku masya-
buang air besar di kebun, sawah, dan
rakat yang mendukung peng-
sungai serta meminum air yang tidak
gunaan Oralit atau cairan
dimasak; tanggapan masyarakat
rehidrasi oral lainnya untuk
bahwa diare hanya gejala masuk
mencegah dehidrasi dan me-
angin atau pertumbuhan anak nor-
nanggulangi dehidrasi.
mal dan masyarakat lebih suka
membawa penderita diare langsung 4. Metoda penyuluhan :
ke tempat pelayanan kesehatan
– Ceramah umum untuk mening-
karena tidak tahu Oralit atau cairan
katkan pengetahuan masya-
rehidrasi oral lainnya.
rakat terhadap faktor-faktor
yang mempengaruhi dan
2. Sasaran penyuluhan :
menyebabkan diare serta
Tingkat kesehatan keluarga sa-
penggunaan Oralit.
ngat dipengaruhi oleh faktor tingkat
– Diskusi kelompok terutama
pengetahuan dan sikap ibu terhadap
terhadap ibu anak balita dan
kesehatan serta faktor lingkungan
pemuka masyarakat untuk
fisik dan sosial budaya keluarga
menumbuhkan sikap positif
tersebut.
terhadap penggunaan Oralit.
Diare sebagian besar menyerang
anak balita, maka prioritas utama
– Demonstrasi pembuatan la-
penyuluhan adalah ibu anak balita,
rutan Oralit atau cairan rehi-
disamping itu juga orang tertentu
drasi oral lainnya dan penggu-
yang berpengaruh terhadap orang
naannya di hadapan masya-
tua balita, misalnya pemuka masya-
rakat.
rakat dan kader desa.
5. Evaluasi :
3. Tujuan penyuluhan :
Yang akan dievaluasi meliputi
– Menghilangkan perilaku ma- hal-hal sebagai berikut :
syarakat yang negatif yang
– Persentasi ibu anak balita dan
tanpa disadari membantu
kelompok masyarakat lainnya
penyebaran kuman diare, an-
yang menghadiri ceramah,
juran buang air besar di jam-
diskusi dan demonstrasi.
ban, memasak air yang dimi-
num, melindungi makanan
– Jumlah Oralit yang dibagikan
minuman dari lalat, debu dan
gratis kepada masyarakat dan
kotoran lain, menjaga keber-
persediaannya di puskesmas/
sihan kuku, mencuci tangan
pustu/posyandu.
sebelum makan, pemberian
– Survei untuk mengetahui per-
ASI sampai anak mencapai 2
sentase ibu anak balita yang
tahun.
membawa anaknya ke fasilitas
Vol. I, No.1, April 2004
31
pelayanan kesehatan dan diperhatikannya faktor kebersihan,
menggunakan Oralit pada saat oleh karena itu perhatian terhadap
anaknya diare.
faktor kebersihan harus lebih diuta-
Hasil evaluasi ini merupakan makan dan hal ini merupakan tin-
umpan balik bagi pelaksana penyu- dakan preventif yang lebih baik jika
luh penggunaan Oralit.
dibandingkan dengan tindakan
kuratif.
KESIMPULAN
Penyuluhan penggunaan Oralit DAFTAR PUSTAKA
untuk menanggulangi diare masih
diperlukan mengingat belum seluruh Anonim, Dit. Jen. P2M dan PLP,
masyarakat mengetahui dengan
Keputusan Seminar Nasional
benar faedah Oralit untuk mengatasi
Pemberantasan Diare, Dep.Kes.
dehidrasi.
RI, Jogyakarta (1990).
Metoda penyuluhan yang digu- Anonim, World Health Organization,
nakan meliputi ceramah umum ke-
The Management of Diarrhoea and
pada masyarakat, diskusi kelompok
Used of Oral Rehidration Therapy,
kaum ibu dan pemuka masyarakat
Geneva (1985).
serta demonstrasi pembuatan larutan Anonim, World Health Organization,
Oralit berikut penggunaannya.
Treatment and Prevention of Acute
Diarrhoea, Geneva (1985).
Bambang Winardi, Diare dan Upaya
SARAN
Pemberantasannya, Dit. Jen. P3M,
Penyuluhan penggunaan Oralit
Dep.Kes. RI, Jakarta (1981).
untuk mengatasi diare sebaiknya Bromilow David, Indonesian Index of
dilakukan bersamaan dengan penyu-
Medical Specialities. Vol. 22, No.
luhan imunisasi, kesehatan ibu dan
2, Mediprom, Singapure (1993).
anak, gizi dan keluarga berencana.
Budiarso R., dkk, Survey Kesehatan
Penyuluhan tersebut sebaiknya
Rumah Tangga, Badan Penelitian
diprioritaskan kepada ibu anak balita
dan Pengembangan Kesehatan,
yang berpendidikan sosial dan eko-
Jakarta (1986).
nomi rendah di daerah endemis dan Gertruida, T. Surahni, Ninik S,
wabah.
Sukowidodo, Laporan Pelaksana-
an Komunikasi Program P2 Diare
di Indonesia, Pusat Penyuluhan
Kesehatan Masyarakat, Dep.
PENUTUP
Kes. RI, Jakarta (1990).
Sebagian besar penyakit diare Green Edward, Diarrhoea and the
pada dasarnya timbul karena kurang
Social Marketing of Oral Rehi-
32
MAJALAH ILMU KEFARMASIAN
dration Salt in Bangladesh, Soc.
syarakat, Badan Penerbit Kese-
Sci. Med. Vol. 23 (4), (1986).
hatan Masyarakat, FKM-UI,
Greene Laurence, Health Education
Jakarta (1986).
Planning, The Johns Hopkins Notoatmodjo S., Pengantar Pendidikan
University, Mayfiled Publishing
Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Company (1980).
Kesehatan, Edisi I, Andy Offset,
Ida Ayu Artini, Pemasyarakatan Ora-
Jogyakarta (1993).
lit/Larutan Gula Garam Dalam Rubin B, Management of Acute Di-
Upaya Penanggulangan Diare di
arrhoea. Indian Council of Medi-
Dua Desa di Kabupaten Badung
cal Research, National Institute of
Propinsi Bali. FKM-UI, Jakarta
Cholera and Enteric Disease
(1987).
(1985).
Ketut Patra, ISO Indonesia, Edisi Sutanto A.H., Rehidrasi Oral Peman-
Farmakoterapi. Ikatan Sarjana
tapan dan Pembudayaannya Dalam
Farmasi Indonesia, Vo.20.
Upaya Penanggulangan Diare, Dit.
(1992).
Jen. P2M dan PLP. Dep. Kes. RI,
Notoatmodjo S., Komponen Pendidikan
Jakarta (1984).
Pada Penyuluhan Kesehatan Ma-
Vol. I, No.1, April 2004
33

Leave a Reply