8730771 Pidato Presiden SBY Pada Hari Guru

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Saudara Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dan para Anggota Lembaga-lembaga Negara.
Yang saya hormati Menteri Pendidikan Nasional dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.
Yang saya muliakan para Alim Ulama, para Pemuka Adat, para Tokoh Masyarakat, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Kaum Perempuan, para Mahasiswa, para Pelajar, khususnya para Guru yang saya cintai dan saya banggakan.

Marilah pada kesempatan yang membahagiakan ini sekali lagi, kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Kita juga bersyukur hari ini, di tempat ini kita dapat menghadiri Peringatan Puncak Hari Guru Nasional Tahun 2010 dan Hari Ulang Tahun PGRI ke-65.

Pemimpin hakekatnya juga seorang guru, tidak harus kita menjadi Guru Bangsa, Bapak bangsa atau Ibu bangsa, menjadi guru pun luar biasa mulianya, karena persyaratan menjadi guru sejati amatlah berat. Dalam bahasa Jawa, guru sering dikatakan digugu dan ditiru. Ucapan seorang guru, ucapan seorang pemimpin harus dapat dipercaya, karena benar, faktual, bukan fitnah dan dapat dipertanggungjawabkan. Digugu, diikuti, dipercaya. Ucapan guru, ajakan guru, ajakan pemimpin dilakukan dengan memberi contoh, menjadi contoh, akhirnya diikuti oleh anak didiknya. Jika itu dilakukan pemimpin, diikuti rakyatnya, ditiru.

Seorang guru, pemimpin, apalagi tingkatan yang Guru Bangsa, yang berat bagi kita menuju ke situ, itu lebih lagi persyaratkan untuk berfikir dan berbuat untuk masyrakat dan bangsanya. Lebih mawas diri ketimbang melihat orang lain apalagi dengan kebiasaan, kebahagiaan, menyalahkan, mengkritik secara berlebihan seolah-olah semua mereka salah, berat. Oleh karena itu, mari kita menjadi guru yang baik, pemimpin yang baik, mawas diri, ilmu padi, makin berilmu, makin tunduk.

Pemimpin juga disamping sebagai guru juga murid. Manusia tidak ada yang sempurna. Setiap hari saya, saya yakin pemimpin-pemimpin yang lain melakukan perbaikan diri, menyempurnakan kepribadian kita, memantapkan langkah kita, agar hari esok lebih baik. Saya mengajak semua pemimpin di negeri ini untuk belajar menjadi guru yang baik, sekaligus murid yang baik untuk melakukan hal-hal yang baik pula di hari depan.

Hadirin yang saya muliakan,
Setiap kita memperingati Hari Guru, saya katakan tadi kita patut bersyukur, kita patut berterima kasih kepada guru yang tulus, yang tulus dan mengingatkan kita untuk terus meningkatkan pendidikan dan peran guru di tanah air kita ini.

Pemerintah dengan segala tantangan, dengan segala keterbatasan terus meningkatkan pendidikan. Mengapa? Kita ingin menjadi manusia dan bangsa yang maju dan bermartabat. Kita ingin menjadi bangsa dan manusia yang unggul dan berdaya saing. Kita orang-seorang ingin hidup baik dan kita juga ingin menyumbangkan sesuatu untuk masyarakat kita. Adakah di antara kita yang tidak ingin negaranya maju? Ada? Inginkah kita, bangsa kita menjadi bangsa yang bermartabat? Bangsa yang maju? Bangsa yang menang dalam globalisasi? Jawabanya, mari kita tingkatkan pendidikan kita, kita tingkatkan guru kita. Pemerintah terus meningkatkan kesejahteraan dan kemampuan guru. Dua-duanya penting, guru kita harus makin profesional, makin berkemampuan dan makin baik kesejahterananya.

Saudara-saudara,
Bangsa ini harus terus melangkah ke depan, meskipun ujian, cobaan, dan tantangan yang kita hadapi tidak ringan, berat. Tetapi saya yaki,n apabila pendidikan dalam arti luas digalakkan dan ditingkatkan, arah perjalanan bangsa yang sudah benar ini, insya Allah mencapai tujuan yang kita harapkan bersama.

Pertama, kita harus tahu dalam era globalisasi, persaingan kian keras, persaingan antar bangsa, bahkan persaingan di dalam negeri. Jawabannya, mari kita tingkatkan kemampuan manusia Indonesia. Pengetahuan dan ketrampilan, knowledge and skill. Mari kita tingkatkan keuletan manusia kita, tidak mudah menyerah, gigih, sehingga dalam persaingan itu akan menang.

Yang kedua, tantangan yang kita hadapi adalah taraf hidup dan kesejahteraan rakyat kita sebagian besar belum tinggi, sebagaimana yang kita harapkan. Jawabannya, mari kita berdayakan manusia Indonesia, orang- seorang, komunitas-komunitas agar dalam kemampuan mereka bisa, bukan hanya menggantungkan Pemerintah, mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, meningkatkan penghasilan.

Yang ketiga, kita tahu Indonesia kaya akan sumber daya alam, potensinya besar, sumber daya nasionalnya besar, tetapi selama ini belum sungguh kita kembangkan. Kalau begini terus, merugi, kalau begini terus, sayang. Mari kita kembangkan bersama-sama dengan manajemen yang baik seluruh Indonesia dengan menciptakan peluang-peluang untuk mencapai semuanya itu.

Tantangan yang lain, bangsa yang berhasil bangsa yang inovatif, bangsa yang kreatif, sehingga ekonominya makin maju dan akhirnya kesejahteraan rakyatnya pun makin maju. Jawabannya, mari kita bangun keunggulan ini, kreativitas dan inovasi. Lembaga-lembaga pendidikan harus mengembangkan metodologi, agar pelajarnya, siswanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, intellectual curiosity, agar mereka tumbuh seperti manusia yang kreatif dan inovatif.

Tantangan yang lain, alhamdulillah kita menikmati demokrasi yang makin baik, kebebasan yang makin luas, hak-hak azasi yang makin dihormati dan makin dilindungi. Tetapi jangan kebebasan ini dijalankan secara absolut, melampaui batasnya tanpa disertai akhlak, tanpa kita patuh pada pranata hukum dan etika. Mari kita bangun sikap mental, perilaku bangsa yang mematuhi hukum dan etika. Ajarkan di sekolah-sekolah sejak dini bagaimana anak-anak kita patuh hukum dan etika.

Tantangan yang lain, bangsa Indonesia akan jaya, kalau bersatu. Bangsa Indonesia akan hancur, kalau kita tidak rukun, tidak harmonis, bermusuhan, terkotak-kotak, padahal kita ini bangsa yang majemuk. Oleh karena itu, mari kita satukan energi, satukan langkah melalui pendidikan bisa dibangun anak-anak kita sejak dini untuk memiliki rasa persaudaraan, harmoni dan persatuan.

Itulah Saudara yang saya sampaikan. Dan yang terakhir, saya mengucapkan selamat, terimalah rasa hormat, rasa bangga saya kepada para tauladan yang tadi menerima tanda-tanda penghargaan, baik para Gubernur, Bupati, Walikota maupun para guru, para kepala sekolah, para pengawas dan para pendidik pendidikan non formal. Kami semua bangga teruslah berbuat baik untuk pendidkan kita, untuk guru kita, untuk bangsa dan negara.

Sekian Saudara-saudara. Terimalah sekali lagi, rasa sayang, rasa bangga kami kepada para guru. Mari kita lanjutkan pengabdian kita, jayalah guru Indonesia, jayalah pendidikan kita untuk masa depan kita bersama.

Sekian.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Incoming search terms:

  • contoh pidato presiden tentang pendidikan
  • contoh pidato presiden
  • contoh pidato presiden singkat
  • pidato singkat presiden
  • pidato presiden tentang pendidikan
  • pidato presiden SBY
  • pidato presiden singkat
  • teks pidato presiden susilo bambang yudhoyono
  • naskah pidato presiden sby
  • contoh pidato singkat pendidikan oleh presiden
loading...

Leave a Reply