Definisi Pidato : / Pengertian

Definisi / Pengertian Pidato

Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak yang berupa komunikasi satu arah dan digunakan dalam forum resmi.

Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh seorang yang memberikan orasi-orasi, dan pernyataan tentang suatu hal/peristiwa yang penting dan patut diperbincangkan. Pidato adalah salah satu teori dari pelajaran bahasa indonesia.

http://ilvandri.wordpress.com/tag/definisi-pidato/

bentuk bentuk pidato

Posted on | June 27, 2011 | No Comments

Berpidato, mempunyai bentuk-bentuknya tersendiri, . disesuaikan dengan kepentingan, kondisi, situasi serta ting­kat-tingkat kecerdasan sasaran yang diberi penerangan.

Dari sini akan terdapat pidato-pidato sbb:

1.Massa Information yakni penerangan umum massa.

2.Ceramah penerangan terbatas secara mendalam.

3.Up gragreadingyakni penataran, atau peningkat an kemampuan.

4.Coaching atau penyampaian penerangan untuk melatih.

5.Face to face tatap muka, wawan muka.

6.Huisbezoek anjangsana dari rumah ke ru‑

mah.

Tiap-tiap bentuk dapatlah diuraikan sebagai berikut:

1. Massa Information,

Adalah pidato akbar di depan puluhan ribu pengunjung baik yang majemuk (artinya berbagai-bagai golongan masyarakat hadir) maupun hanya terdiri dari satu go­longan masyarakat saja.

Pidato didepan massa puluhan ribu tidaklah pada tempatnya bila diuraikan sesuatu hal secara mendalam yang memerlukan massa harus memikir lebih dalam. Maka hendaklah diperhatikan hal-hal di bawah ini:

Bersikap tegas.

Bicaranya yang lantang, tidak kidal

Menguasai teknik berpidato yang menggemparkan.

Sehubungan di atas, amat sesuai bersifat propaganda.

Lebih banyak hal-hal yang disimpulkan secara praktis.

Jangan mengulang-ulangi hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya, agar tidak menjemukan.

Berilah tekanan kata-kata pada hal-hal yang memang sejiwa dengan aspirasi massa.

Berilah semboyan-semboyan yang padat berisi, karena inilah nanti yang berkesan di hati massa. Misalnya . lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup dijajah.

Jangan melukai hati massa, junjunglah martabat dan aspirasi massa, agar diperoleh sympati.

Berilah humor-humor untuk membangkitkan enthausias.

Berilah tekanan kata-kata yang meyakinkan.

Jangan sekali-kali memperlihatkan kelemahan.

Yang berpidato hendaknya tokoh-tokoh yang simpathik, peramah, humoris, cakap mempergunakan bahasa yang baik tetapi juga populer.

Sehubungan di atas, jangan dipakai istilah-istilah asing yang sulit sulk, lebih baik dipakai istilah-istilah dari bahasa daerah yang populer.

Jangan sekali-kali tokoh yang pernah tercela, agar tidak ditanggapi secara sinis oleh massa

Manakala sudah mencapai klimaknya dengan tepuk ta­ngan, pertanda pidatonya mengenai sasaran, setelah itu. jangan diulang hingga mengendorkan.

2. Ceramah (causerrie).

Ceramah, adalah penyampaian uraian secara mendalam oleh seseorang yang memang ahli dalam bidangnya, di de-pan massa hadirin yang terbatas, misalnya berkisar 25 hing­ga 500 orang.

Dengan sendirinya uraian-uraiannya mendalam sekali, karena akan dilandasi oleh berbagai ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan serta ditinjaunya dari beberapa segi.

Misalnya tentang : Pancasila. Maka penceramah akan menguraikan terlebih dahulu faktor-faktor historis, kmudian falsafah Pancasila yang terdiri dari lima sila itu sejak zaman dahulu, lantas tinjauan dari segi hukum, politik, sosial budaya maupun pertahanan keamanan, dsb.

Maka pidato yang berbentuk ceramah akan memiliki ketentuan sbb :

Penceramah tabu benar persoalannya dari tinjauan be­berapa segi.

Yang diundang menghadiri ceramah terbatas pada mereka yang dianteap mampu menerima uraian tsb.

Ceramah diuraikan secara sistimatis, menurut awal lan­tas persoalan kemudian akhiran serta kesimpulan yang tegas dan dapat dijadikan pedoman tindak atau landas­an sikap mental dan perbuatan.

Di sana sini lebih banyak diberikan data-data dan fakta fakta untuk membuktikan kebenarannya.

Jangan sekali-kali bersikap menyombongkan diri,

seolah-olah dirinya melebihi segala pengetahuannya dari yang hadir.

Selingan-selingan humoris jangan humor kekanak-ka-nakan, hendaklah humor intelektual.

Berbesar hati dan berbanggalah, dan dalam hati pen-ceramah berkata : Yang hadir itu semua memperha-tikan uraian saya.

3). Up greading, atau peningkatan kemampuan, penataran.

Up greading diberikan misalnya oleh Kepala Dinas ke-pada para karyawannya, tentang sesuatu pengetahuan atau sesuatu hal, karena dipandang perlu diberikan penataran agar meningkatlah kemampuannya. Sebagaimana maklum, bahwa segala sesuatu serba maju, serba dinamis untuk menyesuaikan dengan perkembangan keadaan. Misalnya uraian Kepala SMA tentang Pancasila pada tahun 1963 dulu, akan berlainan dengan kondisinya tahun 1979, 1980 dst. antara lain dengan adanya pernbinaan Orde Baru, P4 dsb. Jadi, perlu di up grade. Jika tidak demikian, maka Kepala SMA tsb. ketinggalan zaman, hanyalah akan berdasar tex-booknya tahun 1963 itu saja, pada hal keadaan telah berkembang demikian.

Maka bagi pernberi up greading hendaklah sbb:

Tahu benar akan perkembangan sesuatu hal yang dita-tarkan kepada hadirin.

Bahan-bahan penataran .selengkap mungkin, karena menyangkut berbagai sektor yang berhubungan.

Dalam hal memberikan ketentuan-ketentuan yang sek-sama, selalu digunakan papan tulis untuk mencatat hal-hal yang mengenai data-data dan fakta-fakta atau materi-materi persoalan.

Harap selalu dipakai buku-buku catatan, baik pemberi penataran maupun pesertanya, karena akan mencatat hal-hal yang perlu difahami secara seksama.

Humor dan intermezzo-intermezzo lain diberikan se-perlunya, sekedar untuk kegairahan, jadi tidak selalu spaning (tegang).

4. Coaching.

Yang dimaksud coaching adalah penerangan yang edukatip dengan tujuan untuk memberikan latihan. (coach, latihan), misalnya tentang : Pendaptaran pemilih untuk ke-pentingan pemilu. Maka coach akan mengenai cara-cara pendapatan pemilih, pengisian daftar pemilih tambahan dan yang mengenai cara pemilih didaptar dsb. Misalnya lagi me-ngenai masalah kenakalan remaja, baik yang mengenai pena-nganan tindakan-tindakan prekventip maupun repressip dsb. Hal-hal tersebut mesti diberikan secara jelas, mendalam dan selalu berlandaskan ketentuan-ketentuan juridis maupun administratip formal. Selingan-selingan penerangan dengan coaching bisa diadakan sepanjang tidak akan mengaburkan pokok-pokok pengertian yang formal juridis.

Orang yang memberikan coach dengan sendirinya me-mahami sedalam-dalamnya soal apa yang disampaikan. Coach diberikan oleh seseorang petugas (pejabat) yang memang menangani secara khusus persoalan dalam sesuatu bidang dinar. Sama-satna pejabat sekalipun sama pangkatnya, belum tentu sama pengetahuannya yang khusus bilamana bukan bidangnya.

Coaching bagi para pemain sepakbola oleh coach atau pelatih adalah secara mendalam, menyangkut segi-segi teknis persepakbolaan, sejak dart segi strategis, cara defensip maupun serangan dan sekalian liku-liku dalam usaha utnuk membobolkan gawang lawannya.

5. Face to face.

Adalah penerangan yang cara penyampaiannya dengan tatap-muka, wawan-muka antara seorang juru penerang ke-pada seorang atau lebih. Penerangan face to face diberikan secara santai, bebas dari ikatan-ikatan formalitas ataupun protokoler, jadi antara subyek dengan obyek berlaku bebas dan clad hati ke hati secara kekeluargaan, seolah-olah tak ada diskriminasi sosial antara kedua belah pihak,. Jadi antara juru penerang dan orang yang diberi penjelasan tak terdapat perbedaan-perbedaan, sekalipun misalnya yang melakukan penerangan itu pejabat tinggi, Gubernur, Bupati dsb.

Untuk memasukkan kesadaran dan pengarahan-penga-rahan serta pengertian-pengertian, maka face to fase lebih berhasil. Hanya cara ini tidak luas jangkauannya, karena sasaran penerangan hanya kepada beberapa orang saja secara

langsung. Karena itu, face to face sebagai obyek sedapat mungkin dilakukan kepada orang-orang terkemuka dan berpengaruh. Misalnya terhadap tokoh-tokoh masyarakat, para alim ulama dll. Pengaruh pshikologis dari face to face atnatlah tepat sebab orang akan merasa berbesar hati diajak berbicara atau berbincang-bincang sesuatu hal langsung dari pihak atasan. Dalam pada itu subyek (yang melakukan penerangan face to face) hendaklah dapat mengambil hati, seolah-olah tak ada perbedaan apapun, dimana mereka akan menganggap sesama orang yang mempunyai kesamaan kepentingan. Dalam istilah Jawa disebut :

Bisa manjing ajur-ajer artinya dapat menyesuaikan diri di mana is berada, kepada siapa, golongan apa, agamanya juga dst, dst. Dengan demikian subyek dapat memberikan penjelasan-penjelasan sedalam-dalamnya, dan jangan sekali-kali menyinggung-nyinggung perasaannya. Adapun tujuan daripada face to face dilakukan terhadap orang-orang terkemuka atau berpengaruh, agar mereka nanti dapat rue-ngembangkan sendiri dalam rangka memperluas areal frek-wensi penerangan terhadap sekeliling mereka itu, atau paling minim kepada istri, anak-anak serta sanak saudara sendiri.

Dalam usaha memasukkan pengertian, mcnanamkan kesadaran dan keyakinan, face-to face lebih efektip daripada dengan cara rapat-rapat umum dsb.

6. Huisbezoek.

Arti huisbezoek adalah mertamu (kunjungan) dari rumah ke rumah. Dengan demikian, maka juga dengan cara face to face pula. Bedanya dengan yang terdahulu bahwa face to face dilakukan tetap rnuka dimana kesempatan memungkinkan, sedangkan huisbezoek memang disengaja mertamu ke rumah-rumah orang-orang tertentu untuk menyampaikan sesuatu hal. Huisbezoek ini dilakukan misalnya bila sesuatu situasi dimana keadaan keamanan tidak memungkinkan untuk diadakan rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan. Huisbezoek yang pernah dilakukan oleh para jupenjupen daerah atau dari pihak ABRI pada masa-masa perjuangan phisik th. 1946 1948. sungguh dapat menimbulkan partisipasi rakyat untuk memberi bantuan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan maupun TNI kita.

Secara pshikotogis, huisbezoek besar pengaruhnya atas masyarakat, karena mereka merasa mendapat perlakuan terhormat dari pihak penguasa atau atasannya, dengan de-mikian akan terciptalah ikatan moril dari si pemimpin dan si terpirnpin. Dalam melakukan huisbezoek, juru penerang atau pejabat ybs. jangan sekali-kali bersikap menyombong-kan diri, intimidasi atau tunjuk kekuasaan, sedang cara ber-pakaianpun hendaknya disesuaikan, yang sopan, tidak

Dengan demikian, mereka akan menerimanya dengan rasa kekeluargaan yang dapat menimbulkan tanggapan-tanKapan yang positip, karena anggapan mereka ditamui oleh bapaknya atau oleh pembimbingnya ataupun lagi oleh juru penyelarnatnya, bukannya ditamui oleh orang yang kaya atau orang yang kuasa.

Sesuatu hal yang disampaikan hendaknya dengan bahasa rakyat, bukan secara pidato-pidato yang muluk-muluk atau ngobrol-ngobrol hanya memuji-memuji dirinya sendiri. Yang dimaksud bahasa rakyat, adalah bahasa yang mudah dimengerti bukan secara pamer istilah-istilah asin yang semula bertujuan memberikan penerangan, malah menjadi kegelapan.

http://www.anakunhas.com/2011/06/bentuk-bentuk-pidato.html

Incoming search terms:

  • definisi pidato
loading...

Leave a Reply