Contoh Pidato Dan Puisi Kemerdekaan

pahlawan untuk indonesiaku
oleh: Andi Nur Muhammad Ichsan

demi negeri
kau korbankan waktumu
demi bangsa
rela kau taruhkan nyawamu
maut menghadang didepan
kau bilang itu hiburan

nampak raut wajahmu
tak segelintir rasa takut
semangat membara dijiwamu
taklukkan mereka penghalang negeri

hari-harimu diwarnai
pembunuhan, pembantaian
dihiasi bunga-bunga api
mengalir sungai darah disekitarmu
bahkan tak jarang mata air darah itu
muncul dari tubuhmu
namun tak dapat
runtuhkan tebing semangat juangmu

bambu runcing yang setia menemanimu
kaki telanjang tak beralas
pakain dengan seribu wangi
basah dibadan kering dibadan
kini menghantarkan indonesia
kedalam istana kemerdekaan 

PUISI PUISI PAHLAWAN

Pahlawan satu

Bersemayam di lubuk yang paling dalam,
ada sesuatu yang tak akan pernah padam,
meski terkadang kau pun kurang paham,
namun, kami semua dapat merasakan.

Kau,kau lah pahlawan kami.
karena mu lah kami berarti.
karena dihatimu selalu menyala api
nan memendar menularkan semangat, singkirkan keraguan hati.

Pahlawan dua

Di diri mu kami kan bercermin,
di senyum mu kami dapatkan angin
di kata mu yang selalu kami dengar
tekad menebar menyebar dan berkobar.

Kau korbankan apa pun buat kami
agar hidup sekali ini bisa lebih punya arti
dan kami semua tahu, kau melakukan itu
bukan cuma buat sebuah pamrih, yang semu.

Pahlawan tiga

Koar-koar yang kau dengung-dengungkan
adalah balut atas semua kepura-puraan
dan
kau selimuti kami semua dengan ketidak-tahuan
kau mengira kami dalam kebodohan.

Sekarang.. bukalah matamu, pasang kedua telinga di kiri kanan kepala besarmu
dan yang terpenting tutuplah mulutmu
tak kan mungkin kami panggil engkau dengan sebutan pahlawan,
dan sadarlah., sebenarnya engkau sudah kesiangan.

Pahlawan Kemerdekaan ~ Usman Awang
(Kepada Pahlawan Pahang)

PAHLAWAN
jika hilangmu tanpa pusara
jika pusaramu tanpa nama
jika namamu tanpa bunga
penjajah mengatakan engkau derhaka
maka engkaulah pahlawan yang sebenarnya

Gema seabad silam
Inggeris datang meredah Pahang
bersama peluru bersama senapang
membunuh menangkap setiap pejuang

Sungai Semantan berubah merah
bukan sarap hilir ke kuala
bukan rakit mudik ke hulu
arus merahnya menjulang mayat
pahlawan bangsa pahlawan rakyat
tujuh liang dadanya tersayat

Pahlawan!
Untukmu derita untukmu penjara
bukan bintang tersemat di dada
semangatmu api negara berdaulat
namamu terukir di jantung rakyat.

Bendera

Bendera itu milik siapa ?
dua warna yang begitu saja menyatu oleh sejarah
dua warna berdamping mencuatkan keberanian dan kesucian hati
apalagi yang terhebat selain itu

sempat warna biru mengganggu
pongah mengangkasa
kami tak rela … tersobeklah pada akhirnya
walau banyak jiwa melayang karenanya
dan memang terbukti benar
keberanian dan kesucian hati
apalagi yang terhebat selain itu

Pulau-pulau kami berserak
laut-laut kami menggulung berarak
waktu menguji dengan asap hitam menoda diantaranya
namun angka 17 bulan Agustus tetap menjadi keramat
ketika semua angkara terungkap
dan bendera itu khidmat menuju puncak

keberanian dan kesucian hati
apalagi yang terhebat selain itu

bu fixshine 

Last edited by fixshine; 26th July 2009 at 09:43 PM. 

banggakah aku

banggakah aku pada negeriku
yang sedang carut marut
banggakah aku pada tanah airku
yang sedang terpetak terjajah pada kerakusan
banggakah aku pada bangsaku
yang kian hari kian meluntur tergerus kepentingan pribadi

mana warisanku dari perjuangan dulu
yang katanya penuh darah air mata
mengapakah menjadi bias sekedar nama

I N D O N E S I A

sebentuk gugusan pulau

dan tetap saja tak nyaman hidup ketika perasaan
sebangsa, sesaudara, sepenanggungan
hanya cerita tapi tak kasat mata

apa arti lagu-lagu upacara itu
ketika sehabis dinyanyikan
sekolah sekolah rakyat tergusur
seragam seragam bukan menjadi kebanggaan keilmuan
namun prasyarat dan penghalang keingin tahuan maju

apa arti kesejahteraan terjamin negara
jika ketidakmerataannya menimbulkan
banyak kecemburuan
bersaing antara jumlah mobil mewah
dan rumah gerobak sampah
bersaing antara gedung pencakar lagit
dan penampungan kolong jembatan sarang penyakit

apa arti kewibawaan itu
jika para pencoleng bisa bebas bersekutu
bom – bom berledakan bak kembang api
tak ada perlindungan bagi TKI pejuang devisa kita
juga ketika para juara dunia terlantar
mengais nafkah ketika masa uzurnya tiba

siapa yang masih menangis terharu
ketika merah putih berkibar
siapa yang masih berdegup bangga
ketika merah putih mengangkasa
siapa yang masih berdiri gagah
ketika merah putih memandang dunia

ajari aku
kembali bangga
kembali mencintai negeriku 

KEMERDEKAAN
Puisi Karya: M. Ridwan Madjaga

Terkenang merdek
a kala lalu
Penindasan angkara murka Eropa terbaru
Negeri terbakar kemerdekaan sejati
Dalam lingkar kehidupan kerakyatan

Bila merindu mencari kemerdekaan
Tiba saat kemerdekaan untuk semua rakyat
Satu tanah air, satu bangsa dan satu nusantara (gugusan pulau-pulau)

Kemerdekaan negeri telah mengalir
Dari babakan sejarah panjang
Darah rakyat yang butuh kemakmuran dan keadilan

Kemerdekaan sejati adalah pilar sejati
Sarat makna kehidupan kebangsaan
Sepadan kesetaraan untuk globalisasi
Merah putih landasan makna yang bersandingkan kedamaian

Cita rasa Indonesia merdeka era milenium
Kembali dalam lingkar kehidupan kerakyatan
Darah rakyat terbakar untuk persatuan
Otentik makna asli dan makna unik
Saraf evolusi marhaen adalah nilai kebangkitan
Separuh waktu merangkum budaya
Baku bercangkang api-pun tergenggam
Tumbuh merongrong tradisi baru yang pun menjelma

Cita rasa Indonesia merdeka erat berkait
Mensaji esensi selera memandu ragam rakyat
Tanpa ragu tanpa pergeseran otoritas

Kemerdekaan negeri telah mengalir
Gambar bergumul ragam kepentingan
Pandang makna, pandang nilai, pandang bercipta moral susila merangkum
ragam
Serangkai berjalan mendekati senang
Pandu tajam kesejahteraan membalut kemerdekaan

Perjuangan cita rasa adalah habitat kemerdekaan
Pinus bergaris ruang terekat berjuis dan lagak-lagak kemiskinan
Tampak kayu, atas gunung dan turun tebing
Dari pertapaan kemewahan dan makna
Buka pintu peroleh lapang pembawa selera
Lentur terikat gerak peran negara
Ragam bersandar ruang-ruang dan dermaga
Bijak kemerdekaan dan rujuk kebangsaan
Simpul-simpul merangkai terhibur penyair jalanan

Bila merindu mencari kemerdekaan
tiba saatnya kemerdekaan untuk semua rakyat
satu tanah air, satu bangsa, dan satu nusantara (gugusan pulau-pulau)

Indonesia, 12 juli 2007

PUISI KEMERDEKAAN GUS MUS Versi X

Friday, 25. August 2006, 15:37
Rasanya Baru Kemarin (Versi X)
25 Agustus 2005 22:52:53

Rasanya
Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDI saja. Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi.
Tanpa merasa risi

Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pejabat yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat dan dilaknat

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan
yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh

Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi
Masih terus menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

Daging yang selama ini terus dimanjakan
kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam
dan Kura-kura Ninja

Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima
sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah
banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya
sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya
Baru kemarin

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian
Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin

Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis

Dilalap krisis dan anarkis

Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang
dan lari mencari selamat sendiri

Mereka yang kemarin
sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

Mahasiswa-mahasiswa yang penjaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi

Rasanya
Baru kemarin

Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh orde lama
sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru
sudah banyak yang mulai menyaru

Rasanya
Baru kemarin

Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
Oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan

Rasanya baru kemarin

Habibie dan Gus Dur sudah mencoba sebentar
Menduduki kursi kekuasaan yang terlantar
Megawati yang mendapat giliran dan sudah berusaha
Sekuat tenaga gagal memperpanjang kuasa

SBY yang menggantikan kekuasaan
Terus dicoba cobaan demi cobaan
Jusuf Kalla sudah menggantikan Hamzah Haz di istana
Sambil menggantikan Akbar Tanjung di Golongan Karya

Saifullah Yusuf dan Alwi Syihab sudah menjadi menteri
Meski berbuntut pertikaian dalam partai sendiri
Tokoh-tokoh KPU yang dituding sering memperlihatkan arogansi
Malah banyak yang menjadi terdakwa kasus korupsi

Mantan-mantan calon dalam pilpres dan pilkada
Banyak yang masih tak bisa menerima kenyataan yang ada
Banyak yang demam pesta demokrasi
Ternyata belum bisa menghayati demokrasi

Rasanya baru kemarin

Partai-partai politik sudah menjadi rebutan
Para pemimpinnya sendiri yang melihat kesempatan
Tanpa peduli warga mereka yang rentan
Ormas-ormas pun banyak yang seperti tak tahan
Melihat iming-iming kekuasaan

Rasanya baru kemarin

Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Bahkan rakyat tak perlu lagi berkelahi dan memperkaya diri
Karena wakil-wakil mereka sudah mewakili dengan baik sekali

Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaimana rasanya
Merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun kita
Merdeka.

Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa

Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu
Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang lupa

Rasanya baru kemarin
Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka

Rasanya baru kemarin

Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata

Rasanya baru kemarin

Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi

Rasanya baru kemarin

MUI yang didirikan untuk mendukung rezim lama
Kini sudah mencoba menjelma orsospol ulama
Pendukung-pendukung Islam
Sudah semakin berani mencemari Islam

Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian

Aceh semakin merana
Ambon dan Papua terus terlena
Bangsaku yang sejak dulu dipuja-puja
Kini selalu dihina-hina

Rasanya baru kemarin

Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan beberapa kawanku sudah berhenti menjadi politikus
Aku sendiri masih tetap menjadi tikus

(Hari ini
setelah enam puluh tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah enam puluh tahun kita
Merdeka

(Ingin rasanya
aku sekali menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)

Rembang, 17 Agustus 2005

CATATAN: 17 AGustus Tahun 2006, Puisi ini tidak direvisi Gus Mus dengan Alasan Kondisi Bangsa Indonesia tidak berubah !

SEORANG ANAK MUDA MASA KINI MENULIS PUISI TENTANG PAHLAWAN DAN KEMERDEKAAN

Oleh :
Husni Djamaluddin

Bagaimana kalian mengendap dalam gelap malam
di lereng strategis sebuah bukit kecil
menghadang konvoi nica

bagaimana jantung kalian deras berdebar
ketika iring-iringan kendaraan itu semakin mendekat

lalu bagaimana tubuhmu ditembus peluru
dan kau rebah ke tanah berlumur darah
terbaring beku
di rumput ilalang
dalam lengang yang panjang
kami tak tahu
ketika itu kami belum tumbuh dirahim ibu

bagaimana kalian dalam seragam kumal
baju compang-camping
menyandang karaben Jepang
di front-front terdepan

bagaimana kalian terpelanting
dari tebing-tebing pertempuran

bagaimana kalian menyerbu tank
dengan bambu runcing

bagaimana kalian bertahan habis-habisan
ketika dikepung musuh dari segala penjuru

bagaimana kalian terbaring
di dinding-dinding kamar pemeriksaan nefis

bagaimana kalian mengunci rapat rahasia pasukan
dalam mulut yang teguh membisu
walau dilistrik jari-jarimu
dan dicabuti kuku-kukumu

bagaimana kesetiakawanan yang menulang-sumsum
bagaimana kaum ibu sibuk bertugas di dapur umum
bagaimana kalian sudah merasa bangga
kalau ke markas bisa naik sepeda

bagaimana semua itu sungguh-sungguh terjadi
dan bukan dongeng
dan bukan mimpi
kami tak alami
kami belum hadir di bumi ini

bagaimana peristiwa-peristiwa itu berlangsung
pastilah satu memori yang agung
tapi adalah memori kalian
dan bukan nostalgia kami

kemerdekaan
telah kalian rebut

kemerdekaan
telah kalian wariskan
kepada negeri ini
kepada kami anak-anakmu

kemerdekaan
menjadikan kami
jadi generasi
yang tak kenal lagi
rasa rendah hati
seperti yang kalian rasakan
di zaman penjajahan

kemerdekaan
ke sekolah naik sepeda
bukan lagi segumpal rasa bangga
seperti kalian dulu
di tahun tiga puluh
kami anak-anakmu
telah kalian belikan
sepeda motor baru
untuk sekolah, ngebut dan pacaran

tetapi
kemerdekaan
yang juga bahkan
menyadarkan kami
tentang peranan yang harus kami mainkan sendiri
dengan tangan sendiri dengan keringat sendiri
sengan bahasa kami sendiri
dalam lagu cinta
tak bersisa
pada tumpah darah
Indonesia

Kemerdekaan
kami tahu
tak hanya dalam deru
sepeda motor
tak cuma meluku tanah dengan traktor

kemerdekaan
bukan hanya langkah-langkah kami
ke gedung-gedung sekolah

kemerdekaan
bukan hanya langkah-langkah petani
ke petak-petak sawah

kemerdekaan
alah pula pintu terbuka
bagi langkah-langkah pemilih
ke kotak-kotak suara

kemerdekaan
adalah ketika hati nurani
bebas melangkah
dengan gagah
bebas berkata
tanpa
terbata-bata

Indonesia ku, Berdiri, Berkibar, Bertahanlah.

Karya : Bang arie (admin blog cerita cinta)

Dalam diam aku menangis
Dalam sepi aku bersembunyi

Tak mampu
Sungguh aku tak bisa

Melihat darah mengalir
Mendengar tangis menggema

Ya itulah kejadian dulu
Dulu ketika bambu runcing
Dan parang di tangan yang kecil
Mengayun mengusir mereka

Tapi kini
Teman-temanku
Sahabat-sahabatku
Yang hancurkan bumi pertiwi ini

Mereka pikir mereka benar!
Satu tarikan pemicu
yang menyebabkan ribuan nyawa terkapar!

Sungguh…
Andai sang pejuang terlahir kembali
mungkin mereka akan berkata

"Aku tak ingin Indonesia merdeka
Biarkan aku mati
Asal Mereka tak terlahir nanti"

Puisi Kemerdekaan Ws Rendra

SUDAH tentu yang mengalami penindasan dan beragam penderitaan lainnya bukan hanya orang-orang atau penyair semacam HR Bandaharo saja. Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terbesar Indonesia, seperti halnya Bandaharo juga pernah dibuang di Pulau Buru dan mengalami beragam penindasan selain perampokan atas harta-benda milik pribadinya sendiri.

Rezim Orba adalah rezim otoriter yang menghegemoni segala bidang kehidupan dengan kekerasan bersenjata beserta lembaga intel yang luar biasa. Selain gerbong utamanya berupa orpol Golkar yang dominan sekalian orpol-orsospol rekayasa lainnya sebagai pendukung pelengkapnya. Semuanya demi menaklukkan massa rakyat dan kepentingan melanggengkan kekuasaan hasil rampokannya (kudeta). Sementara kaum budayawan umumnya, seniman, sastrawan dan penyair sampai yang paling intelektual atau berpendirian bebas-merdeka sekalipun mesti tunduk pada politik rezim Orba dpp the Smiling General itu!

Maka jika ada yang coba-coba membandel akan segera kena bredel! Tak peduli apakah si pembandel itu sebagai grup atau lembaga seperti media massa ataukah dari perseorangan seperti penyair. Dalam hal ini, salah satu contohnya yang masyhur adalah budayawan sekaligus penyair besar Indonesia WS Rendra.

Salam sejahtera bapak-bapak dan ibu-ibu hadirin sekalian.

Bapak dan Ibu yang saya hormati,

Puja dan puji syukur atas kehadiran Tuhan YME atas berkat dan rahmat-Nya kita semua dapat berkumpul di acara tirakatan ini dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 63. Pada malam yang indah ini, saya akan berbagi cerita tentang keistimewaan kemerdekaan negara kita yang telah diperebutkan oleh para pahlawan kita. Pahlawan kita bersikeras merebut kehormatan dan harga diri Bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang makmur dan merdeka. Dengan tumpah darah mereka akhirnya Bangsa Indonesia lepas dari penjajah dan mampu berdiri sendiri. Hal ini dapat dijadikan pedoman kita dalam menempuh sebuah hidup. Kehidupan berbangsa yang lebih baik dan lebih maju kedepannya.

Bapak dan Ibu yang berbahagia,

Mari kita melihat kebelakang bukan untuk mengulang sesuatu yang terjadi namun untuk mencontoh semangat para pejuang demi merubah dan menimbulkan rasa cinta dan kebanggan kepada Bangsa Indonesia. Sebenarnya belum kita sadari musuh yang tak terlihat oleh bangsa kita yaitu semakin berkembangnya IPTEK dunia. Memang perkembangan IPTEK dunia bukanlah sesuatu yang harus ditakuti namun diserap ilmunya untuk memajukan bangsa kita. Akan tetapi dapat kita sadari sebagian besar rakyat Indonesia terpengaruh dan tidak menyerap inti dari sebuah perkembangan IPTEK. Misalnya, semakin mudahnya orang berakses internet dan taraf internet cukup terjangkau, maka banyak situs pornografi yang sengaja dibuat untuk konsumsi masyarakat dengan segala macam usia, kemudian banyaknya situs internet yang ilegal demi kepetingan pribadi penciptanya. Hal ini tentu dapat merubah moral Bangsa kita dan jelas akan berpengaruh pada generasi penerus dan masa depan Bangsa Indonesia.

Permasalahan yang lain yaitu, runtuhnya kepercayaan kita untuk Bangsa kita, hal ini disebabkan karena masyarakat Indonesia melihat perkembangan dunia yang semakin menarik, sekali lagi masyarakat Indonesia tidak dapat membedakan dan memilah. Misalnya, tentang gaya hidup. Gaya hidup masyarakat kini semakin menuju gaya hidup barat. Hal ini jangan dilihat dari segi agama, karena akan menyebakan perselisihan, namum diliat dari segi kebudayaan, yaitu kebudayaan timur. Sesekali boleh kita bertukar budaya agar tak tertinggal zaman, akan tetapi jangan sampai merubah kebudayaan kita. Adapun contoh lain, yaitu pudarnya pada kecintaan produk Indonesia, masyarakat Indonesia banyak yang cenderung mementingkanbranded dan kualitas pasar.

Bapak dan Ibu yang saya cintai,

Alangkah baiknya kita memperbaiki semua permasalahan diatas dengan kesadaran diri, perbaikan moral dan mulai memberi pengenalan budaya, sejarah, dan hukum-hukum yang berlaku Bangsa Indonesia dengan benar kepada putra-putri hadirin sekalian. Dimulai dengan kesadaran diri dan perbaikan moral kita, secara bertahap akan membantu menyelesaikan masalah bangsa kita. Penggunaan IPTEK yang terkontrol dan mulai menanamkan jiwa semangat dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang pada akhirnya menumbuhkan ciptaan produk yang berkualitas serta bermanfaat bagi Bangsa ini.

Bapak dan Ibu yang saya Hormati,

Sebagai penutup dari pidato ini, mari kita melihat semangat para pejuang yang dulu dan mulai kita bersama-sama banting tulang demi kemajuan Bangsa kita untuk generasi penerus dan untuk masa depan. Agar kita semua dapat menikmati keistimewaan sesungguhnya dari sebuah kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Merdeka !!!

Sekian pidato dari saya, mohon maaf apabila terdapat salah kata dan tidak berkenan di hati bapak dan ibu hadirin sekalian. Terima Kasih.

Salam sejahtera.

Yang terhormat Kepala SMA Negeri 2 Pahandut Palangkaraya, yang terhormat Dewan Pendidik beserta karyawan/karyawati SMA Negeri 2 Pahandut Palangkaraya, dan rekan-rekan pelajar yang saya kasihi. Selamat pagi dan salam sejahtera!

Tidak terasa sudah genap 62 tahun usia negara kita Indonesia. Dimana enam puluh dua tahun yang silam bangsa kita yang terdiri atas berbagai macam suku, kebudayaan, bahasa, dan latar belakang, bersatu dan mengikrarkan janji, sehingga dapa berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara yang berbhineka tunggal ika, yang berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Negara yang subur dan kaya akan potensi sumber daya alam, tanah air kita yang tercinta. Enam puluh dua tahun yang silam, proklamasi telah diucapkan. Proklamasi yang diucapkan sebagai tanda kemerdekaan bangsa Indonesia, yang sebelumnya telah berjuang selama 350 tahun melawan penjajahan Belanda dan 3,5 tahun melawan penjajahan Jepang.

Usia 62 tahun bagi bangsa dan negara Indonesia, itu berarti sudah 62 kali kita mengalami tanggal 17 Agustus dan merayakannya sebagai hari kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Sudah 62 tahun bendera merah putih berkibar-kibar di langit Indonesia. Serta sudah 62 tahun kita selalu mengalami kisah-kisah dari peristiwa-peristiwa sebagai sebuah bangsa dan negara Indonesia.

Namun tahukah kita, bahwa dibalik segala tentang Indonesia itu, ada hal-hal yang memprihatinkan. Saya terpikirkan hal ini mulai pada beberapa hari yang lalu. Saat itu rombongan belajar saya, X-4 mendengarkan penjelasan mengenai ilmu sejarah dari Ibu Raya. Waktu itu ada satu penjelasan dari Beliau yang sampai sekarang masih saya ingat. Beliau mengatakan bahwa salah satu hal yang menyedihkan dari Indonesia adalah bahwa kita tidak menghargai sejarah kita sendiri. Contohnya saja kasus yang baru-baru ini sering diberitakan baik di berita televisi maupun di surat kabar, mengenai lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu kebangsaan yang selama ini kita nyanyikan, ternyata terdiri dari 3 bait bukan hanya satu. Hal yang sekarang menjadi kontroversi. Itu pun naskah dan rekamannya ditemukan bukan di negara kita, melainkan di Belanda, negara yang notabene pernah menjajah bangsa kita.

Miris hati saya mendengarnya. Arsip yang memiliki arti yang sangat besar bagi negara kita, bukannya disimpan di negara kita sendiri malah ditemukan di negara orang lain. Dan sungguh disayangkan lagi bahwa bukan hanya arsip lagu kebangsaan saja yang disimpan di negeri lain, tetapi juga penginggalan-peninggalan bersejarah milik negeri kita. Tahu akan hal tersebut membuat saya menjadi ingat sebuah kalimat yang mengatakan bahwa, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Hal ini berarti kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar apabila kita tidak mau belajar dari sejarah kita.

Saya juga pernah membaca sebuah majalah yang kebetulan membahas tentang mencintai bangsa kita Indonesia. Di majalah itu diceritakan bahwa betapa semangatnya orang-orang Indonesia yang tinggal di negara lain pada saat merayakan kemerdekaan Indonesia. Betapa terharunya hati mereka pada saat Bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Hati meluap oleh rasa kebangsaan yang mendidih. Hal ini disebabkan karena rasa rindu mereka terhadap tanah kelahirannya.

Tapi rasa terharu dan kebanggaan itu akhirnya dicemari juga dengan keadaan bangsa kita yang morat-marit dan susah untuk dikendalikan. Bahkan banyak orang yang sekarang cenderung membicarakan hal-hal negatif dari Indonesia. Dan tidak jarang orang kita sendiri yang membicarakannya. Apalagi dengan serentetan peristiwa, tragedi, bencana, dan krisis yang melanda.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering merusak dan mencemari kemerdekaan bangsa kita dengan hal-hal yang tidak baik dan tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Contohnya saja malas mengikuti upacara bendera. Itu menunjukkan bahwa kita tidak memiliki semangat kebangsaan dan rasa nasionalisme. Atau juga mengikuti trend mengecat rambut warnawarni, yang menunjukkan bahwa kita tidak menghargai diri kita sebagai orang Indonesia.

Karena itulah saya ingin mengajak kita semua untuk mulai dari sekarang kita tumbuhkan rasa cinta kepada tanah air, semangat kebangsaan kita, serta rasa nasionalisme dan patriotisme kita. Tunjukkan bahwa negara kita adalah negara yang kuat, negara yang menghargai sejarah dan kebudayaannya. Negara yang kita bangga-banggakan.

Kita tanyakan kepada diri kita, mengapa orang-orang asing saja sampai belajar ke Indonesia untuk mempelajari kebudayaan kita? Mengapa lagu Bengawan Solo diminati sampai di Negara Jepang? Mengapa orang-orang tersebut mencintai kebudayaan kita, walaupun kita sendiri kadang tidak menghargainya? Padahal apabila kita telusuri lagi,kebudayaan negara kita sungguhlah unik dan layak untuk terus kita pertahankan.

Oleh karena itu, marilah kita semua, mulai dari pribadi kita masing-masing tanamkan, lalu tunjukkan bahwa kita adalah orang Indonesia yang sejati. Yang mengetahui bagaimana kebudayaan kita dan mencintai kebudayaan itu. Kita tunjukkan lewat sikap dan perbuatan kita, bagaimana orang Indonesia yang ramah, cerdas, dan berakhlak mulia. Jangan kita sia-siakan kemerdekaan yang telah kita capai 62 tahun yang silam dan kita rayakan kembali pada hari ini. Mungkin cukup sekian pidato saya. Saya memohon maaf apabila ada kekurangan ataupun kesalahan pada saat saya berpidato. Semuanya tolong dimaklumi. Terima kasih, selamat pagi, jaya smada, jaya Indonesia!

Contoh Pidato Memperingati Hari Kemerdekaan RI

MERDEKA

MERDEKA 

MERDEKA

Pada Pidato kali ini, Marilah kita Contoh semangat Para pahlawan karena dengan semangat mereka, Indonesia bisa merdekan. Mari pada saat kita memperingati Hari dimana Hari ini adalah hari ketika kemerdekaan RI harus kita rayakan dengan mencontoh dari apa yang pernah di pidatokan atau di contohkan oleh presiden pertama kita.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. 

       Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Allah, yang memberi saya waktu untuk pidato di momen istimewa ini. Juga kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan teman-temannya.

       Deklarasi Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan secara resmi pukul 10.00 WIB yang tajam pada Jumat 17 Agustus, 1945. Deklarasi ini menandai awal tahun lima diplomatik dan bersenjata-perlawanan dari Revolusi Nasional Indonesia, berjuang melawan kekuatan Belanda sampai terakhir resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949. Pada tahun 2005, Belanda menyatakan bahwa mereka mengakui kemerdekaan Indonesia adalah pada tahun 1945, bukan 1949.

     Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, di Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan. Ini sangat menyenangkan. Ada banyak kontes, seperti Panjat Pinang. Dan di Istana Merdeka, mereka mengalami upacara. Mungkin, beberapa dari Anda pergi untuk merayakan. Anda harus semangat di Hari Kemerdekaan, Anda melihat pahlawan kita, dan mereka memegang lulus untuk mendapatkan kebebasan. Dan kita, kita sebagai mahasiswa, kita harus memiliki semangat untuk merayakan Hari Kemerdekaan. Jika Anda mengaku bahwa Anda adalah orang-orang Indonesia, Anda harus peduli tentang Indonesia, Hari Kemerdekaan Indonesia, dan seluruh Indonesia harus Anda suka, karena negara Anda.

Mari kita renungkan apa yang telah di contohkan presiden pertama kita dalam setiap pidato pidatonya dalm perayaan hari kemerdekaan RI.

Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia .

Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya

Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. – Bung Karno

Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka. 

.Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan

Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali .

Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat. 

Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim. Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya 

Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang la

mpau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang. 

Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong 

Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, Kadyo siniram wayu sewindu lawase 

Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali. 

MERDEKA

MERDEKA 

MERDEKA

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17-8-’05

Wakil2 bangsa Indonesia.

Leave a Reply