Pidato Pengukuhan Prof. Dr. Marijata Spb Kbd

KANKER REKTUM PADA LANSIA
PERANAN BEDAH DALAM PENCEGAHAN DAN
PENYEMBUHAN




UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada


Oleh:
Prof. dr. Marijata, SpB-KBD
2
KANKER REKTUM PADA LANSIA
PERANAN BEDAH DALAM PENCEGAHAN DAN
PENYEMBUHAN




UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada


Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar
Universitas Gadjah Mada
pada tanggal 21 Agustus 2007
di Yogyakarta


Oleh:
Prof. dr. Marijata, SpB-KBD
3
KANKER REKTUM PADA LANSIA
PERANAN BEDAH DALAM PENCEGAHAN DAN
PENYEMBUHAN

Kanker rektum atau karsinoma rekti adalah tumor ganas
epithelial dari mukosa rektum. Rektum (bahasa Latin) atau proktos
(bahasa Yunani) adalah bagian akhir dari saluran cerna sebelum
bermuara di anus (dubur). Panjang rektum sekitar 15 20 cm yang
untuk kepentingan penanganan dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian
bawah sampai 6 cm dari anus, bagian tengah antara 7 -12 cm dari anus
dan bagian atas yang lebih dari12 cm dari anus. Batas antara kolon
sigmoid dengan rektum adalah menghilangnya taenia koli yang
sifatnya gradual, sehingga bukan merupakan garis batas melainkan
masih mempunyai panjang antara 3 5 cm, dan bagian ini biasa
disebut rektosigmoid. Menentukan batas ketiga bagian rektum dengan
melihat langsung tidak mudah karena lipatan peritoneum antara
rektum dengan kandung kencing pada laki-laki antara 8 9 cm dari
anus, sedangkan antara rektum dengan uterus pada wanita antara 5 8
cm (Goligher1984, Marijata & Hendro Wartatmo, 1993).
Nama karsinoma pertama digunakan oleh Hipocrates (460 375
SM). Nama carcinos diberikan untuk tumor ganas yang tidak dapat
sembuh yang berupa borok (ulkus) sedangkan nama carcinoma
untuk tumor ganas yang padat (solid). Nama-nama ini berasal dari
bahasa Yunani yang artinya kepiting, dan kenapa nama ini diberikan
tidak jelas alasannya. Paul Aegina (625 690 M) memberi nama
cancer (bahasa Latin) yang artinya juga kepiting (Suripto &
Priyono, 1985).
Topik karker rektum dipilih salah satunya karena insidensinya
cukup tinggi. Di USA karsinoma kolorektal adalah keganasan paling
sering kedua pada laki-laki, dan ketiga pada wanita (Kodner et al.,
1990). Di Yogyakarta data dari laboratorium Patologi Anatomi (PA),
kanker rektum atau karsinoma rekti pada wanita menduduki peringkat
kelima setelah karsinoma cervix uteri, karsinoma mamma, karsinoma
kulit dan karsinoma ovarium, sedangkan pada laki-laki menduduki
peringkat ketiga setelah karsinoma kulit dan nasofarynx (Suripto &
Priyono, 1985). Disamping itu karsinoma rekti dalam penanganannya
4
lebih sulit oleh karena berada di dalam rongga panggul yang relatif
kecil, dan besar kemungkinan menghadapi cacad fisik yang berupa
stoma (dubur buatan) sedangkan karsinoma kolon atau usus yang lain
kemungkinan pembuatan stoma sangat kecil.
Penanganan holistik karsinoma rekti meliputi penanganan
sebelum terjadi yaitu usaha-usaha untuk mencegah timbulnya
karsinoma rekti, dan penanganan setelah terjadi. Dari penanganan
holistik ini dimana peran bedah, mungkinkah bedah sudah harus
berperan dalam usaha pencegahan timbulnya karsinoma rekti.
Untuk dapat mencegah timbulnya karsinoma rekti perlu tahu
faktor-faktor risiko yang memungkinkan timbulnya karsinoma rekti
dan biasanya berkaitan dengan kolon (colorektal). Faktor-faktor risiko
munculnya karsinoma kolorektal meliputi faktor heriditer, faktor
umur, faktor diet, keadaan atau penyakit premaligna, dan faktor lain
(Bullard & Rothenberger, 2006). Risiko timbulnya karsinoma
kolorektal akan meningkat pada orang-orang yang mempunyai
adenoma kolorektal, pada orang-orang yang sudah pernah menderita
karsinoma kolorektal pada sisa kolon dan rektumnya, pada orang-
orang yang ada riwayat poliposis adenomatosa familial (PAF) pada
silsilah keluarganya, pada orang-orang yang ada riwayat karsinoma
kolorektal pada silsilah keluarganya, dan pada orang-orang dengan
kolitis ulserativa khronis (Laeper, 1990, Steele, 2005).
Faktor risiko heriditer. Sekitar 80 % karsinoma kolorektal
terjadi secara sporadis, sedangkan 20% terjadi pada pasien-pasien
yang mempunyai riwayat karsinoma kolorektal pada silsilah
keluarganya. Kelompok yang diturunkan (heriditer) memang
dilahirkan sudah dengan mutasi gen pada kromosomnya misalnya
pada PAF (poliposis adenomatosa familial) dan HNPCC (hereditary
non poliposis colorectal cancer
). Pada kelompok sporadis terjadi
mutasi gen dalam perjalanan hidupnya. Ada 2 jalur utama untuk
inisiasi dan progressi tumor yaitu jalur LOH (loss of heterozygosity)
dan jalur RER (replication error). Jalur LOH ditandai dengan
gangguan pasangan/allele kromosom sehingga menjadi aneuploidi
atau poliploidi, dan 80% karsinoma kolorektal terjadi melalui jalur ini,
sedangkan 20% sisanya melalui jalur RER yaitu salah susun DNA
dalam replikasinya (Bullard & Rothenberger, 2006). Mungkinkan
faktor heriditer dapat diatasi? Apabila dalam film fiksi (Jurassic Park)
5
orang dapat menciptakan bermacam dinosaurus dengan bahan baku
DNA katak yang dimanipulasi, mungkin saja suatu saat nanti gen-gen
cacat penyebab munculnya karsinoma kolorektal dapat direparasi
dengan manipulasi DNA nya. Kenyataannya sampai saat ini terapi gen
masih terus diteliti (Sue Clark, 2005).
Faktor risiko umur. Umur tua adalah faktor dominan
karsinoma kolorektal. Insidensi naik setelah umur 40 tahun, dan
distribusi karsinoma kolorektal di berbagai umur pada beberapa
penelitian hampir sama (Naeder & Archampong, 1994, Sudarsa et al.,
1996, Suharto, 1987, Marijata, 1999). Mengenai issue adanya tren
karsinoma kolorektal mengenai umur-umur muda, pada penelitian
menggunakan proporsi sekuensial belum terbukti. Ini mungkin karena
jumlah penderita umur muda meningkat, tetapi penderita umur tua
juga meningkat sehingga proporsinya tetap (Marijata, 1999). Faktor
umur jelas tidak dapat dikoreksi. Orang selalu berusaha untuk tampak
lebih muda dalam gaya dan penampilannya, misalnya dengan
mengecat rambut, menghilangkan kerut-kerut pada muka dan
sebagainya, sehingga umur 60 tahun dapat tampak seperti umur 40
tahun, namun toh umurnya tetap 60 tahun, tidak akan berkurang
menjadi 40 tahun.
Faktor risiko yang berikutnya adalah faktor diet. Diet dicurigai
sebagai salah satu faktor risiko timbulnya karsinoma kolorektal
berdasarkan fakta epidemiologis. Angka kematian akibat karsinoma
kolorektal per 100 000 populasi di Negara-negara barat (kulit putih)
cukup tinggi, misalnya di AS 48,3, Inggris 32,6, Denmark 32,9,
sedangkan di Negara Afrika (kulit hitam) hanya 2,5. Bila penduduk
asli Afrika hidup di populasi barat dan mengikuti gaya hidup dan diet
ala barat, angka tersebut naik secara progresif, tetapi bila populasi
orang-orang Eropa hidup di Negara Afrika, angka tersebut tidak turun.
Pada populasi campuran misalnya di pesisir California angka tersebut
pada kulit putih 43,5, kulit hitam 34,8, dan Cina 43,0. Ini diduga
disebabkan penduduk asli Afrika di Afrika sendiri dietnya tinggi serat
rendah lemak, sedangkan orang-orang Barat dietnya tinggi lemak
rendah serat (Goligher, 1984).
Diet tinggi lemak, karbohidrat yang halus tanpa selulose (serat)
dalam diet orang Barat menyebabkan waktu berjalan feses (transit
time)
dalam kolon lebih panjang. Ini memungkinkan bahan-bahan
6
yang tidak aktif dalam bentuk aslinya karena metabolisme dan
pengaruh kimiawi menjadi bentuk aktif (carsinogen) (Morton et al.,
1983).
Rendahnya absorbsi kalsium dan produk vitamin D endogen
berhubungan dengan kejadian keganasan kolorektal. Kalsium
kemungkinan mengurangi efek toksik lipid-lipid asam yang ada di
dalam asam empedu dengan membentuk kompleks garam empedu
yang tidak larut. Fekapentens, 3 ketosteroid, dan produk-produk
pirolisis adalah bahan-bahan kimia toksik hasil dari pemecahan
bakteri dan pemanasan makanan yang diduga menginduksi karsinoma
kolorektal. Fekapentens diproduksi oleh mikroflora usus, dan
kadarnya dalam lumen dapat diturunkan dengan serat (selulose),
vitamin C dan vitamin E. Tiga ketosteroid merupakan derivate dari
produk metabolik kolesterol, sedangkan produk-produk pirolisis
adalah hasil pemanasan daging pada temperatur tinggi (Oesterhuis,
1993, Oldhoff, 1993).
Lemak yang menaikkan risiko terjadinya karsinoma kolorektal
terutama lemak hewani, sedangkan lemak nabati dan lemak dari ikan
tidak. Sebaliknya diet tinggi serat justru mengurangi risiko (Bullard
& Rothenberger, 2006).
Untuk faktor diet ini tinggal pilih yang mana, mau yang berisiko
tinggi dengan diet tinggi lemak hewani rendah serat, atau yang
protektif mengurangi risiko dengan diet tinggi serat, rendah lemak.
Untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Selatan sedikit
kurang cocok. Masalahnya masyarakat pedesaan dietnya kebanyakan
juga tinggi serat, toh angka kejadian karsinoma kolorektal cukup
tinggi juga. Ada yang mencurigai jamu tradisional sebagai salah satu
faktor penyebab, namun laporan-laporan mengenai ini belum ada, dan
perlu penelitian lebih lanjut.
Faktor risiko yang berikutnya adalah keadaan atau penyakit
premaligna yaitu penyakit tidak ganas yang mempunyai potensi
untuk menjadi ganas,
Yang pertama adalah polip adenomatosa. Jenis polip ini pada
rektum berpotensi menjadi ganas yaitu adenokarsinoma, sedangkan
jenis polip lainnya seperti polip juvenilis dan polip inflamatoir
(pseudo polip) tidak berpotensi menjadi ganas. Potensi untuk menjadi
ganas semakin besar dengan bertambahnya ukuran. Bila diameternya
7
kurang dari 1 cm risiko keganasan 1%, bila ukurannya antara 1-2 cm
risiko keganasan naik menjadi 10%, dan bila ukurannya lebih dari 2
cm risiko keganasannya 35 50%. Juga jenis PA nya, bila jenisnya
tubuler potensi keganasannya 5%, sedangkan jenis villosa 40%, dan
biasanya jenis campuran tubulovillosa yang potensi keganasannya
22% (Morton et al., 1983, Laeper, 1990, Bullard & Rothenberger,
2006). Untuk polip rekti sudah memerlukan tindakan bedah dengan
mengangkat polipnya (polipektomi) untuk mencegah terjadinya
karsinoma.
Keadaan premaligna yang kedua adalah PAF (poliposis
adenomatosa familial). Penyakit ini termasuk heriditer yang
diturunkan secara autosomal dominan. Bila tidak ditangani penyakit
ini 100% akan menjadi ganas pada umur sekitar 42 tahun (Morton et
al
., 1983, Laeper, 1990). Bila seluruh rektum terkena poliposis
adenomatosa familial maka rektum harus diangkat (proctectomi) dan
sisa kolon disambungkan ke anus. Bila seluruh kolon terkena juga
harus ikut diangkat (total proctokolectomi) kemudian dibuat ileoanal
anastomosis (Wong et al,. 1990), atau ileostomi (Kodner et al., 1990,
Kodner et al., 1994).
Keadaan premaligna yang ketiga adalah kolitis (peradangan
colon). Baik kolitis ulserativa maupun kolitis granulomatosa
mempunyai potensi untuk manjadi ganas. Pada penderita-penderita
kolitis granulomatosa khronis risiko timbulnya karsinoma 6 kali lebih
besar dibanding populasi normal, sedangkan pada kolitis ulserativa
khronis risiko menjadi ganas 2% setelah 10 tahun, 8% setelah 20
tahun, dan 18% setelah 30 tahun. Oleh karena itu pada penderita-
penderita kolitis kronis yang cukup lama perlu endoskopi periodik.
Bila dijumpai abnormalitas morfologis perlu dibiopsi, disamping
biopsi multiple pada mukosa yang lain. Bila ditemukan karsinoma
atau displasia berat perlu pengangkatan bagian yang terkena, dapat
kolektomi parsial atau kolektomi total dengan ileostomi atau ileoanal
anastomosis (Silater & Aufses, 1990, Nicholls & Teklis, 2005,
Donohue, 2001, Keighley & Williams, 2001).
Penanganan karsinoma rekti apabila telah terjadi atau dicurigai
telah terjadi bertujuan untuk menghilangkan tumornya, dengan
menyelamatkan sejauh mungkin fungsi anatomis dan fisiologis
apabila memungkinkan.
8
Ada tiga modalitas dalam penanganan karsinoma rekti yaitu
dengan operasi (cutting), dengan radiasi (burning), dan dengan
kemoterapi (poisoning). Sampai saat ini cara yang paling akurat untuk
penanganan karsinoma rekti adalah dengan operasi apabila tumornya
masih dapat diangkat. Sayangnya penderita kebanyakan datang sudah
dalam stadium lanjut. Dari 90 penderita karsinoma rekti hanya 1
(1,1%) yang secara PA masih stadium Dukes A, 32 (35,6%) Dukes
B, 54 (60%) Dukes C, dan 3 (3,3%) Dukes D. dari 90 penderita
tersebut hanya 39 (43,3%) tumornya dapat diangkat, sedangkan 51
(56,7%) tumornya tidak dapat diangkat (Marijata, 1999).
Keterlambatan ini juga dikemukakan oleh peneliti-peneliti lain
(Cleton, 1993, Soetamto Wibowo, 1993, Sudarsa et al., 1996, Prijono
& Riwanto, 1996).
Keterlambatan penanganan dapat terjadi dalam penegakkan
diagnosis, atau penanganan setelah diagnosis ditegakkan.
Keterlambatan dapat terjadi dari penderitanya sendiri atau dari dokter
yang menangani. Keterlambatan diagnosis dari penderita apabila
penderita merasakan keluhan awal karsinoma rekti (buang air besar
bercampur lendir atau dan atau darah, buang air besar sulit, buang air
besar tidak lampias) lebih dari 3 bulan belum memeriksakan diri ke
dokter, sedangkan keterlambatan dokter adalah apabila dokter
memeriksa lebih dari 3 bulan belum mendiagnosis karsinoma rekti
sehingga belum merujuk kerumah sakit (Graffner & Olsson, 1986).
Keterlambatan dokter dalam menegakkan diagnosis karsinoma rekti
kebanyakan karena dokter tidak melakukan colok dubur, padahal
colok dubur mempunyai angka kecermatan 75% (Holliday &
Hardcastle, 1979, Graffner & Olsson, 1986, Cohen, 1992). Bila colok
dubur tidak menemukan sesuatu mungkin karena jari tidak sampai
perlu pemeriksaan endoskopi.
Keterlambatan penanganan setelah diagnosis ditegakkan juga
dapat berasal dari penderita sendiri atau dari dokternya. Karsinoma
rekti yang terdeteksi dalam stadium awal belum tentu dapat segera
dioperasi karena penderita takut operasi, tidak ada biaya untuk
operasi, dan yang paling utama karena tidak mau duburnya dipindah
(colostomi). Dari dokternya terutama untuk karsinoma rekti letak
rendah tidak memberi alternatif lain selain kolostomi, walaupun dalam

9
stadium awal kemungkinan dapat ditangani tanpa memindah dubur
(colostomi) (Ibrahim, 1988, Marijata, 1999).
Selain keterlambatan dalam arti stadiumnya sudah lanjut waktu
datang, kadang-kadang penderita datang sudah dengan komplikasi.
Komplikasi yang sering adalah obstruksi lumen sehingga terjadi ileus.
Pada keadaan ini perlu operasi darurat untuk mengatasi ileusnya dan
kadang-kadang perlu operasi difinitip lagi bila kondisi penderita sudah
membaik. Horiuci et al. (2005) melakukan pemasangan pipa
kolorektal (Dennis Tube) melalui endoskopi untuk dekompresi
sebelum dilakukan operasi.
Komplikasi yang lain adalah perforasi yang kemudian
menyebabkan peritonitis umum, abses, atau fistula. Perforasi dapat
terjadi pada tumornya sendiri, perforasi sterkoral tepat di atas
tumornya, atau perforasi pada sekum oleh karena distensi yang hebat.
Kadang-kadang perforasi pada apendiks bila juga dijumpai tumor
pada sekum. Pada keadaan ini juga perlu operasi darurat untuk
mengatasi perforasinya, dan kemudian masih perlu operasi definitip
bila kondisi penderita sudah membaik (Ellis, 1990).
Operasi definitip untuk karsinoma rekti sepertiga atas apabila
tumornya masih dapat diangkat biasanya dapat disambung langsung
tanpa harus membuat stoma. Operasi ini disebut anterior. Apabila
tumornya sudah tidak dapat diangkat hanya dilakukan biopsi dan
kolostomi disebelah oral tumor.
Untuk karsinoma rekti sepertiga tengah operasinya reseksi
anterior bawah. Penyambungan dapat dijahit biasa atau dengan
stapler, dan secara tehnis ini lebih sulit dan risiko kebocoran
sambungan cukup tinggi. Ada yang membuat stoma temporer sampai
sambungannya dianggap kuat. Ada yang memilih abdominoperianeal
reseksi yaitu mengangkat rektum dan anus sekaligus dan membuat
kolostomi permanen. Ada juga yang mengangkat rektum dan kolon
disambungkan ke anus (coloanal). Bila tumornya sudah tidak dapat
diangkat juga hanya dibuat kolostomi dan biopsi.
Untuk karsinoma rekti sepertiga bawah kebanyakan melakukan
reseksi abdominoperianeal yaitu mengangkat rektum dan anus dengan
kolostomi permanen. Untuk kondisi tertentu misalnya tumornya masih
sangat mobil, sfhincter jelas bebas dari tumor, dapat dilakukan reseksi
dengan anastomosis koloanal. Cara ini jelas lebih sulit dan ada risiko
10
inkontinensia, namun sebagian besar kalau tidak dikatakan semua
penderita memilih cara ini dibanding dengan kolostomi permanen.
Cara yang terbaru dengan TME (total mesorectal excision) pada
prinsipnya hampir sama, hanya cara ini dengan deseksi tajam dibawah
pandangan mata langsung, namun untuk rektum bagian tengah dan
bawah jelas sangat sulit oleh karena bentuk rongga pelvis yang dalam
dan lengkung. Banyak penelitian menunjukkan bahwa residif lokal
berkurang setelah dilakukan TME (Tepper, 2001, Bullard &
Rothenberger, 2006). Juga cara operasi tanpa menyentuh tumor (no
touch isolation technique)
mengurangi penyebaran sel-sel tumor
dalam sirkulasi (Atkins et al., 2005).
Cara operasi yang lain untuk karasinoma rekti dengan TEM
(transanal endoscopic microsurgery). Cara operasi ini hanya
digunakan untuk karasinoma rekti yang masih sangat awal dengan
diameter kurang dari 2 cm (Savage et al., 1994, Mentges et al., 1997).
Dari catatan pasien pribadi dari tahun 2005 sampai pertengahan
tahun 2007 ini telah ditangani 77 penderita karsinoma rekti. Dari
jumlah tersebut 28 penderita (36,4%) dilakukan pengangkatan tumor
dan disambung langsung (reseksi anterior), pada 14 penderita (18,2%)
dilakukan pengangkatan tumor dengan kolostomi, pada 8 penderita
(10,4%) dilakukan pengangkatan tumar dan kolon disambungkan ke
anus (kolo anal), dan pada 27 penderita (35%) hanya dilakukan
kolostomi dan biopsi. Jadi jumlah total penderita yang tumornya dapat
diangkat (resectable) 65%, dan yang tidak dapat diangkat
(unresectable) 35%. Ini jelas kemajuan yang luar biasa bila
dibandingkan dengan penderita-penderita yang ditangani antara tahun
1989-1998 (Marijata, 1999), yang resektabel hanya 43,3%, dan yang
unresektabel 56,7%. Jadi dilihat dari sudut resektabilitas
keterlambatan penanganan karsinoma rekti sudah banyak berkurang.
Walaupun tumor dapat diangkat, secara mikroskopis belum
tentu bersih, dan stadium tumor ditentukan dari pemeriksaan spesimen
operasi yang dikirim ke laboratorium PA. prognosis dalam hal ini
angka ketahanan hidup, ditentukan oleh deferensiasi tumor, invasi
vasa extra mural, dan stadium (ukuran tumor, status limfonodi, dan
metastasis) (Hey et al., 1994).
Dalam penanganan karsinoma rekti selain operasi modalitas
yang tidak kalah pentingnya adalah radioterapi dan khemoterapi.
11
Radiasi dapat diberikan sebelum operasi (neoajuvan radioterapi),
setelah operasi (ajuvan radioterapi), sebelum dan sesudah operasi
(sandwich radioterapi), atau apabila tumornya sudah tidak dapat
diangkat. Khemoterapi juga dapat diberikan sebelum operasi (neo
ajuvan khemoterapi),
sesudah operasi (ajuvan khemoterapi), atau
apabila tumornya sudah tidak dapat diangkat dan sudah metastasis ke
banyak tempat.
Sering juga diberikan terapi tambahan kombinasi yaitu
khemoradiasi, sehingga ada khemoradiasi ajuvan, neo ajuvan, dan
terapi utama bila tumornya sudah tidak dapat diangkat.
Radiasi dan khemoterapi ajuvan tidak perlu diberikan pada
karsinoma rekti yang masih stadium Dukes A, boleh diberikan pada
yang stadium Dukes B1, dan perlu diberikan pada stadium yang lebih
lanjut (Bullard & Rothenberger, 2006).
Tulisan-tulisan mengenai pengaruh radiasi ajuvan, khemoterapi
ajuvan, atau khemoradiasi ajuvan dalam menurunkan angka
kekambuhan, dan kualitas hidup, dengan hasil yang bervariasi (Redel
et al 2003, Tepper 2005, Bullar & Rothenberger 2006, Senan & Smit
2007).
Penanganan karsinoma rekti atau tumor-tumor ganas yang lain
di rumah sakit yang besar sebaiknya secara interdisipliner. Di RS. DR.
Sardjito Yogyakarta ada tim kanker yang anggotanya berasal dari
berbagai disiplin ilmu termasuk ilmu bedah, yang secara rutin
mengadakan pertemuan untuk membahas kasus-kasus tumor ganas
yang sulit, baik dalam perencanaan penanganan maupun hasil
penanganan yang telah dicapai. Legalitas keputusan tertinggi dalam
penanganan tumor ganas termasuk karsinoma rekti diambil melalui
rapat/pertemuan tim ini.
Setelah penanganan baik dibidang bedah, radiasi, maupun
khemoterapi perlu dilakukan follow up atau monitoring. Follow up
dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan kondisi penderita dan
untuk deteksi kemungkinan munculnya kekambuhan baik ditempat
asalnya maupun dijalur-jalur metastasisnya.
Pemeriksaan CEA (carsino embryonic antigen) suatu tumor
marker untuk karsinoma rekti sebelum operasi penting untuk
keperluan follow up bukan untuk menentukan diagnosisnya, oleh
karena sensitivitas CEA hanya 40 – 47%, dan spesifitasnya 90%
12
(Bernstem & Pollock, 2006). Bila sebelum operasi kadarnya di dalam
darah naik di atas normal, setelah operasi kadarnya turun menjadi
normal, dapat dikatakan operasi berhasil artinya tumornya sudah
bersih. Tetapi bila kemudian kadarnya naik lagi berarti ada
kemungkinan tumornya kambuh lagi atau tumbuh tumor baru lagi
(metachronus). Bila sebelum operasi kadarnya normal, tidak dapat
digunakan untuk follow up.
Pada penderita karsinoma rekti yang dilakukan reseksi dan
anastomosis kolo-anal sering terjadi inkontinensia alvi yang artinya
sulit menahan buang air besar. Walaupun sebelum operasi sudah
dijelaskan kemungkinan terjadinya inkontinentia, penderita tetap saja
selalu menanyakan mengapa sulit menahan buang air besar. Dokter
harus sabar menjelaskan bahwa inkontinentia itu tidak menetap, dan
akan terjadi adaptasi sehingga dalam waktu tertentu, biasanya antara 2
sampai 6 minggu akan dapat menahan (Marijata, 1990).
Dari uraian di atas dari beberapa faktor risiko terjadinya
karsinoma rekti ada yang dapat dihindari dan ada yang tidak dapat
dihindari. Kalau karsinoma rekti sudah terjadi, penanganan dapat
optimal apabila datang masih dalam keadaan awal, dan walaupun
letak tumor di rektum bagian bawah asal masih sangat awal dan tidak
mengenai sfincter kemungkinan masih dapat dihindari pemindahan
dubur (colostomi).

13
DAFTAR PUSTAKA
Atkin, G, Chopada A, and Mitchel I 2005. Colorectal cancer
metastasis : In the surgeons hand, http / www / issoonline.com /
content /2/1/5. 10-6-07

Bernstam F.M. and Pollock R.E. 2006. Oncology dalam FC
Brunicardi, DK Andersen, TR Billiar, DL Dunn, JG Hunter, and
RE Pollock. Schwartz Manual of Surgery 8th Ed. Mc Graw Hill,
New York 183 215.

Bullard K.M., Rothenberger D.A. 2006. Colon Rektum an Anus.
dalam FC Brunicardi, Dk Andersen, TR Billiar, DL Dunn, JG
Hunter, and RE Pollock. Schwartz Manual of Surgery 8th Ed Mc
Graw Hill, New York. 732 -783.

Cleton F.J. 1993. Colorectal Cancer. State of the art. Dutch
Foundation for Post Graduate Courses In Indonesia. Oncology
VIII, Surabaya. 182-196.

Cohen A.M. 1992. Preoperative evaluation of patients with primary
colorectal cancer 70 : 1320-32.
Donohue J.H. 2001. Principles of Cancer Surgery dalam JA Norton,
RK Bollinger, AE Chang, Sf Lowrey, SJ Mulvihile, HI Poss, and
RW Thompson. Surgery ( Basic science & clinical evidence )
Springer-Verlag, New York 1577 – 96.

Ellis, H. 1990. Resection of the colon. Dalam SI Schwartz, H Ellis.
Maingots abdominal operation. 9th Ed. Prentice Hall Int. Inc.
Connecticut. 1049 – 76.

Goligher J. 1984. Surgery of the Anus, Rectum and Colon. 5th Ed.
Balliere Tindall, London.
Graffner H. and Olsson S.A. 1986. Patients and doctors delay in
carcinoma of colon and rectum. J of Surg Oncol. 31 : 188 – 90.
Heys S.D., Sharif A., Bagley J.S., Brittenden J., Smart C. and Erevin
O. 1994. Prognostic factors and survival of patients aged less
than 60 years with colorectal cancer,
BR J Surg 81 : 685 8
Holliday H.W. and Hardcastle J.D. 1979. Delay in the diagnosis and
treatment of symptomatic colorectal cancer. Lancet 10 : 309 –
11.

Horiuchi A., Nakayama Y., Tanaka N., Kajiyama M., Fujii H.,
Yokoyama T., and Hayoshi K. 2005. Acute colorectal
14
abstruction treated by means of transanal drainage tube.
Effectiveness before surgery and stenting. The Am J of
Gastroenterology. 100 ( 12 ) : 2765 – 70

Ibrahim A. 1988. Karsinoma rekti letak rendah. PIT VI IKABI,
Bandung
Keighley M.R.B. and Williams N.S. 2001. Surgery of the anus rectum
and colon. 2nd Ed WB Saunders, London.
Kodner J.J., Fleshman J.W. and Fry R.D. 1990. Anal and rectal
cancer. dalam SI Schwartz & H Ellis. MAingots abdominal
operation 9th Ed. Prentice Hall Int. Inc. New york 1107 – 18.

Kodner J.J., Fleshman J.W. and Bimbaumn E.H. 1994. colon rectum
and anus. dalam Schwartz Shires & Spencer ( Ed ). Principle of
surgery 6th Ed Mc Graw Hill Inc. New York. 1033 – 48.

Kodner J.J., Fry R.D., Fleshman J.W. and Bimbaumn E.H. 1994.
Colon rectum and anus. dalam SI Schwartz & H Ellis.
Maingots abdominal operation. 9th Ed. Prentice Hall Int. Inc.
New york. 1033 – 48.

Marijata. 1990. Operasi abdomino-anal reseksi pada karsinoma rekti
letak rendah. MABI X, Padang, Juli 1990.
MArijata dan Hendro Wartatmo. 1993. Pengalaman reseksi anterior
untuk karsinoma rekti. B I K XXV ( 2 ) : 89 – 95. Fk UGM,
Yogyakarta.

Marijata. 1999. Isu-isu baru karsinoma kolorektal. BIK 31 ( 4 ) : 255 –
9. Fk UGM, Yogyakarta.
Mentges B., Buess G., Effinger G., Maunce K., and Becher H.D.
1997. Indications and results of local treatment of rectal cancer.
Br J Surg 84 : 348 51
Morton J.M., Paulter C.A., and Pandya K.J. 1983. Almentary tract
cancer dalam P Rubin, RF Bakemeier & SK Krackov. Clinical
Oncology 6th Ed. Am. Can. Soc. 154-76

Naaeder S.B. and Archampong E.Q. 1994. Cancer of the Colon and
Rectum in Ghana, a 5 years prospective study. Br J of Surg 81 :
456 9

Nicholls R.J. and Teklis I.P. 2005. Ulcerative Colitis dalam RKS
Phillips. Colorectal Surgery. 3rd Ed. Elsovier Saunders,
Netherlands. 129 162

Oldhoff J., Verschueren R.C.J. 1993. Colorectal cancer. Duth
15
Foundation for post graduate courses in Indonesia Oncology
VIII, Surabaya 137 -156.

Oosterhuis J.W. 1993. Colorectal cancer, Pathological aspect. Dutch
Foundation for post graduate courses in Indonesia. Oncology
VIII, Surabaya 130 136

Priyono S., dan I Riwanto 1996. Faktor – faktor yang berpengaruh
terhadap keterlambatan diagnosis karsinoma rekti. Ropanasuri
XXIV ( 1 ) : 37 41

Radel C., Grabenbauer G.G., Papadopoulos T., Hahenberger W.,
Schmoll H.J. and Sauer H. 2003. Phase I / II trial of
capecitabin, oxaliplatin, and radiation for rectal
cancer.
Journal of Clinical Oncology 21 ( 16 ) : 3098 – 3104.
Savege A.R. Reece-Smith H., and Faber R.G. 1994. Survival after per
anal abdominoperineal resection for rectal carcinoma. Br J
Surg 81 : 1482 – 84.
Senan S. and Smit E.F. 2007. Design of clinical trials of radiation
combined with anti angiogenic therapy. Oncologyst 12 : 465 –
477.

Slater G. and Aufses A.H. 1990. Granulomatous colitis and
Ulcerative colitis dalam SI Schwartz, H Ellis. Maingots
abdominal operation 9th Ed. Prentice Hall Int. Inc. New York
1023 32.

Soetamto Wibowo P. 1993. Problem in advances and recurrence
colorectal cancer. Dutch Foundation for post graduate courses
in Indonesia. Oncology VIII, Surabaya 197 – 204.

Soeripto dan Prijono Tirtoprodjo. 1985. Epidemiologi kanker, B I K
XVII ( 4 ): 183-192. FK UGM, Yogyakarta.
Steele R.J.C. 2005. Colonic cancer dalam RKS Phillips, Colorectal
Surgery. 3rd Ed. Elsevier Saunders. Netherlands. 41 66
Sudarsa W, Tjakra Wibawa Manuaba, IK Budha. 1996.
Penatalaksanaan keganasan kolorektal di Bag. Bedah FK
UNUD, RSU Denpasar. Ropanasuri XXIV ( 2 ) : 23 – 7.

Sue Clark 2005. Inherrited bowel cancer dalam RKS Phillips,
Colorectal Surgery. 3rd Ed. Elsevier Saunders. Netherlands. 23 –
40.

Suharto P. dan Soegiyanto M. 1997. Karsinoma kolorektal di RSUP
DR. Sardjito, Yogyakarta. MABI IX Denpasar.
16
Tepper J.E. 2001. Ajuvant radiation therapy of rectal cancer. Journal
of Clinical Oncology 19 ( 17 ) : 3709 – 11.
Wong W.D., Rothenberger D.A. and Goldberg S.M. 1990. Ileoanal
pull through procedures dalam SI Schwartz & H Ellis.
Maingots abdominal operations. 9th Ed. Prentice Hall Int. Inc.
New York. 1077 – 96.

Leave a Reply