Pidato Hamka : PENGARUH MUHAMMAD ABDUH DI INDONESIA

PENGARUH MUHAMMAD ABDUH DI INDONESIA

PIDATO

DIUCAPKAN SEWAKTU AKAN MENERIMA GELAR
DOKTOR HONORIS CAUSA DARI
UNIVERSITAS AL-AZHAR DI MESIR
PADA TANGGAL 21 JANUARI 1958

OLEH

HAMKA

TINTAMAS DJAKARTA
PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Taala, yang telah
menanamkan iman dan Islam ke dalam kalbu kita. Shalawat dan salam semoga
tercurah selalu kepada teladan kita, baginda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa
sallam
, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang beriman yang selalu meniti jalan
mereka.
Buku di tangan pembaca ini berjudul Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia
merupakan pidato Hamka ketika akan menerima gelar Doktor Honoris Causa dari
Universitas Al Azhar, Mesir tahun 1958. Saya ketik ulang berdasarkan naskah
cetakan tahun 1961 yang saya terima dari saudaraku DR. Andi Abu Thalib yang
sedang menyelesaikan studinya di Jepang.
Nilai lebih dari pidato Hamka ini terutama selain beliau bicara mengenai sejarah
perjuangan Islam di Indonesia secara ringkas, beliau pun merupakan saksi dari
sejarah yang sedang beliau paparkan. Hamka banyak melakukan riset mengenai
sejarah Islam di dunia khususnya asia tenggara dan terlebih khusus lagi Indonesia.
Beliau banyak malakukan safar ke seluruh negeri untuk mengumpulkan teks-teks
naskah peninggalan lama dan riset-riset sejarah para orientalis dan sejarawan
Belanda. Dari riset beliau selama puluhan tahun itu dikumpulkannya dan diantaranya
dimuat pada bukunya berjudul Sejarah Islam sejumlah lima jilid.
Terkadang beliau menguatkan satu tesis dan terkadang beliau membantah teori-teori
yang dikemukakan sebagian orientalis, semisal beliau menolak pandangan mereka
bahwa proses masuknya Islam berdasarkan Teori Gujarat yang sampai hari ini
masih diajarkan di sekolah-sekolah. Maka jadilah riset beliau sebagai rujukan primer
para akademisi dan ulama yang concern terhadap sejarah Islam, karena riset beliau
sangat otentik dan teruji ditinjau seringnya beliau mempertahankan tesisnya dalam
diskusi ilmiah.
Tentu bukan hal mudah untuk melakukan tulis ulang sejarah Islam sekaliber riset
Hamka. Hal ini karena hilangnya atau sulitnya menemukan naskah-naskah kuno
Indonesia dan minimnya kemampuan bahasa Belanda untuk menelaah riset awal
yang dirintis sebagian orientalis Belanda. Adapun pidato Hamka ini, kurang lebihnya
merupakan ringkasan dari riset beliau terhadap sejarah Islam Indonesia, dan terlebih
khusus perjuangan para pendahulu beliau yang sezaman dalam meluruskan aqidah
Islam dari bahaya penyakit Tahayul, Bidah, dan Churafat (TBC).
Sampainya Islam dengan wajah sebagaimana kita dapati hari ini adalah dari darah,
harta, dan air mata para ulama dan pendahulu umat. Sudah selayaknya kita
meneladani dan menyebarkan kisah perjuangan mereka sebagaimana hak mereka
untuk diingat dan didoakan.
Pada cetakan ini saya berikan catatan kaki terhadap ungkapan yang berbeda
dengan pemahaman bahasa hari ini dan beberapa tambahan yang saya pandang
relevan terkait sejarah. Demi Allah, usaha kecil untuk menulis ulang buku ini belum
lah menunaikan hak mereka secuil pun dan cukuplah Allah sebaik-baik pemberi
balasan bagi mereka.

Jakarta, 16 Rajab 1429 H / 19 Juli 2008

Zico Hasan bin Nasri bin Sadin
zico_hasan@yahoo.com

– 1 –
PENDAHULUAN

Kami bersyukur dapat menyajikan kepada pembaca di Indonesia isi pidato
yang diucapkan oleh Hamka di gedung Asy-Syubban Al-Muslimun pada
malam 21 Januari 1958, ketika akan menerima gelar Honoris Causa dari
Universitas Al Azhar di Mesir.
Pidato Hamka pada malam itu berjudul Pengaruh Ajaran dan Pikiran Al
Ustadz Al Imam Syeikh Muhammad Abduh di Indonesia, diucapkan dalam
bahasa Arab dihadapan guru-guru besar Universitas, Syeikh-Syeikh Al Azhar
dan mahasiswa-mahasiswa serta para peminat.
Dalam kata pendahuluannya, Kepala Jawatan Kebudayaan dari Mutamar
Islami, Al Ustadz Muhammad Haibah antara lain menerangkan betapa kuat
dan kokohnya hubungan kebudayaan diantara negara-negara Islam, terutama
antara Mesir dan Indonesia sejak dahulu sampai sekarang. Dan beliau sangat
gembira dapat memperkenalkan Al Ustadz Haji Abd al Malik Karim Amrullah
(HAMKA), seorang diatara pemimpin cita Islam di Indonesia.
Kami terbitkan pidato ini dalam bahasa Indonesia, supaya peminat di
Indonesiapun mendapat kesempatan mengikuti isi pidato yang bersejarah ini
mengenai perkembangan dalam negeri sendiri dalam hubungannya dengan
luar negeri di suatu bidang yang sangat luas dalam kehidupan bangsa
Indonesia sebagai bangsa yang beragama.
Ketika menyerahkan naskah pidatonya ini untuk diterbitkan, Hamka
menyatakan betapa pendek waktu yang tersedia untuk menyiapkan pidato
tersebut, yaitu empat hari. Sehingga jika tidaklah karena kebetulan ada
kawan-kawan yang menolong membaca dan memperbaiki bahasa Arabnya,
tentulah hati akan sangat berat mengucapkan suatu pidato dalam majelis
yang demikian yang bukan bahasa ibu sendiri.

Penerbit

Jakarta, 28 Oktober 1961

– 2 –
BAB

I


MEMPERKATAKAN MUHAMMAD ABDUH DI
NEGERINYA

Hadirin yang utama !
Masuknya Agama Islam ke tanah air kami Indonesia, yang dahulunya biasa
dinamai orang Pulau-pulau Hindia Timur, amat jauh berbeda dengan
masuknya ke negeri yang lain. Memancarnya sinar Islam di negeri kami itu
bukanlah karena dibawa oleh suatu misi tertentu atau angkatan perang
tertentu. Kalau sejarah masuknya Islam ke negeri Mesir ini dimulai dengan
datangnya Sayyidina Amr ibn Al-Ash, dan masuknya ke Afrika karena
kedatangan Sayyidina Okbah bin Nafi, dan masuknya ke Andalusia karena
Thariq bin Ziyad mengharung lautan menepat kepada bukit yang kemudian
dinamai dengan namanya1, dan masuknya ke India dengan kedatangan
Muhammad bin Qasim, maka yang membawa Islam ke Indoensia adalah
Pahlawan yang tidak dikenal!
Pembawa obor Islam yang mula-mula ke Indonesia adalah kaum saudagar,
yang disamping mereka berniaga berjual-beli, langsung menyiarkan agama
Islam. Sebagaimana tuan-tuan ketahui, hubungan perniagaan diantara India
dengan Tiongkok sudah lama benar, melalui Laut Merah dan Selat Malaka.
Oleh sebab itu tidaklah dapat ditentukan dengan pasti bilakah masa, tahun
dan tanggal mulai masuknya Islam ke Indonesia.
Ahli sejarah ada yang berkata bahwa di zaman pemerintahan Yazid bin
Muawiyah, Khalifah Bani Umayyah yang kedua, telah didapat sekelompok
keluarga orang Arab di Pesisir Barat pulau Sumatera. Artinya sebelum habis
100 tahun setelah Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam wafat.
Tetapi di kurun-kurun ketiga dan keempat Hijriah, di zaman keemasan Daulah
Bani Abbas di Baghdad sudahlah banyak pelajar dan pengembara bangsa

1 Yaitu bukit Jabal Tariq, sekarang dikenal dengan nama Gibraltar

– 1 –
arab itu memperkatakan2 pulau Sumatera, ketika mereka membicarakan
suatu Kerajaan Buddha yang dikenal dalam kitab-kitab mereka dengan nama
Syarbazah atau Kerajan Sriwijaya yang terletak di Palembang, Ibu Negeri3
Sumatera Selatan sekarang ini.
Tetapi setelah Indoensia jatuh ke bawah cerpu telapak kaki penjajah Belanda,
mereka menetapkan saja bahwa Islam masuk ke Indonesia di dalam kurun
Ketiga Belas Masehi, karena di abad itulah berdiri Kerajaan Islam di Pasai,
Aceh. Memang sudah menjadi adapt penyusun sejarah di masa lampau,
memulai sejarah dengan berdirinya satu kerajaan. Padahal sudah barang
tentu bahwa bukanlah kerajaan yang berdiri lebih dahulu sebelum ada rakyat.
Didalam abad-abad keempat belas dan kelima belas Masehi, berdirilah dan
tegak dengan megahnya Kerajaan Islam di Semenanjung Tanah Melayu,
yaitu Kerajaan Malaka. Bersamaan dengan itu berdiri pula Kerajaan Islam di
Maluku (yang waktu itu meliputi juga Irian Barat) yang terletak di Ternate. Dan
sebelum itu, sebagaimana saya katakana tadi, yang tertua ialah Kerajaan
Pasai di Aceh itu.
Tetapi dipermulaan abad keenam belas, yaitu tahun 1511, didorong oleh rasa
benci yang sangat mendalam diantara kerajaan-kerajaan Kristen bekas
Perang Salib dan sesudah runtuhnya Kerajaan Islam di Andalus, bangsa
Portugis telah menyerang Malaka sehingga jatuh. Dan diakhir abad itu, yaitu
tahun 1596, masuklah Belanda ke pelabuhan Banten yang permai, terletak di
Pulau Jawa sebelah Barat. Setelah itu, satu demi satu masuklah pengaruh
mereka menaklukkan, kadang-kadang secara kekerasan dan kadang-kadang
secara tipuan, baik di Jawa atau di Sumatera atau di pulau-pulau yang lain.
Maka dengan segala daya dan upaya, tipu dan daya, berusahalah mereka
menghapus pengaruh Islam yang menjadi sendi kekuatan bangsa Indonesia
itu, baik denganpedang ataupun dengan siasat lain. Maka dalam masa 442
tahun di Semenanjung Tanah Melayu (yang telah mencapai kemerdekaannya
31 Agustus 1957 yang lalu)4, dan 350 tahun di Indonesia, mereka berusaha
keras memadamkan cahaya Islam. Tetapi Allah tidak mau melainkan

2 menyebut-nyebut
3 ibukota
4 maksudnya Malaysia

– 2 –
disempurnakanNya juga cahayaNya, bagaimanapun juga orang kafir
menolaknya!

Tuan-tuan yang utama!
Sesudah masuknya Portugis sebagai pembuka jalan, datanglah gelombang
penjajah yang lain; Belanda, Perancis, Inggris, dan Spanyol di pulau-pulau
Pilipina. Hampir 4 abad lamanya kami berjuang untuk tetap hidup, kami
berjuang untuk mempertahankan supaya agama kami jangan hapus karena
pengaruh kekuasaan asing yang berbeda agama itu. Segala sesuatu telah
diambil dengan paksa dari tangan kami, sejak dari kekuasaan raja-raja kami
sampai kepada kekayaan tanah kami yang subur dan pusaka nenek moyang
kami. Sehinga yang tinggal pada kami hanyalah satu saja lagi, yng mereka
tidak sanggup mengambilnya, yaitu Iman dan kepercayaan kami yang dalam
dan teguh, yaitu Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah!.
Itulah dia obor kami, yang menerangi kami jalan menuju Kebebasan dan
Kemerdekaan. Dan akhirnya keduanya dapat juga kami capai, Alhamdulillah!
Sesudah Perang Salib dan sesudah runtuhnya kerajaan Bani Abbas di
Baghdad ditangan Moghul5 dan Tartar, dan sesudah riwayat sedih Kaum
Muslimin di Spanyol, boleh dikatakan Islam menghadapi pengalaman-
pengalaman yang pahit, dan nyarislah Matahari Islam pudar cahayanya di
seluruh Alam Islamy. Tetapi kami bangsa Indonesia dan Melayu menderita
lebih sengsara dan lebih pahit. Karena cengkeraman penjajahan itu, kamilah
yang lebih dahulu menderita, sebelum negara-negara Islam yang lain. Dan
senjata kami yang tinggal satu-satunya, sebagaimana saya nyatakan tadi,
hanyalah Iman yang teguh kepada Allah!
Tetapi darimana kami akan mencari batu ujian peneguhan Iman itu? Padahal
negeri kami jauh dari pusat-pusat kegiatan Islam? Dan Alam Islamy itu sendiri
yang akan kami jadikan suri tauladan telah jatuh pula ke jurang yang
membawa kebekuan berfikir. Diwaktu itu ajaran tasawuf yang salah, yang
membawa jumud dan menyerah diri, yang mengajarkan Muutu qabla an
tamuutu (matilah sebelum mati) telah berpengaruh di mana-mana. Dan

5 Mongol

– 3 –
musuh belum juga berpuas hati sebelum kekuatan kami mereka hancurkan.
Dan bekas dari ajaran-ajaran yang lama, baik Brahmana ataupun Buddha
belum pula hilang sama sekali.
Meskipun begitu nasib kami di waktu itu, namun semasa demi semasa
meletus juga pemberontakan melawan penjajahan itu, dan pemimpinnya ialah
Pahlawan-pahlawan Islam belaka. Seumpama Al-Amir6 Diponegoro ditanah
Jawa yang bercita-cita hendak mendirikan sebuah Daulah Islamiyah buat
seluruh Jawa. Dan Tuanku Imam di Bonjol, Sumatera Barat, Minangkabau,
yang terpengaruh oleh ajaran Wahhabi, dan Syeikh di Tiro di Aceh yang
hendak membersihkan Aceh dari kafir dan lain-lain. Semuanya memanggul
senjata memerangi pemerintahan asing dan penjajahan Belanda, mengambil
sumber kekuatan dari Iman kepada Allah yang pasti akan menolong mereka,
cepat atau lambat! Karena Tuhan berjanji Jika kamu menolong agama Allah,
niscaya Allah akan menolongmu pula dan memperteguh tegakmu7.
Maka adalah diantara mereka yang mencapai syahidnya di medan perang
dan diantara mereka yang meninggal di tanah pembuangan. Perlawanan itu
semuanya dapat dipatahkan, karena musuh lebih banyak bilangannya dan
lebih lengkap senjatanya. Tetapi mereka itu tetap kekal dalam ingatan dan
jiwa bangsa Indonesia dan kepahlawanan mereka menjadi obor pemancar
sinar dalam ingatan dan jiwa bangsa Indonesia didalam menuju kemuliaan
dan kemerdekaan. Dan nyaris juga kekalahan-kekalahan pahlawan
itumenimbulkan putus asa dan patah semangat, tetapi obor itu tidaklah
sampai padam, untuk menimbulkan cita-cita dan mengembalikan kemuliaan
Islam.
Dalam masa-masa demikian berangkatlah beberapa anak Indonesia ke
Makkah Al-Mukarramah untuk menunaikan rukun haji dan menambah ilmu
pengetahuan Islam. Diantaranya ialah Syeikh Nawawi Bantam8, Syeikh
Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan lain-lain. Mereka pelajari tafsir, Hadits,
Fiqh, Ushul Fiqh dan lain-lain. Maka ada diantara mereka yang pulang ke
Indonesia, tetapi tidaklah mereka membawa fikiran baru untuk kebangkitan,

6 Pangeran
7 Surah Muhammad : 7
8 Maksudnya Syeikh Nawawi Al-Bantani, pengarang kitab Safinat An-Najiyah yang banyak digunakan
di pesantren Indonesia

– 4 –
karena Makkah pada waktu itupun masih diliputi suasana taqlid9. Dan guru-
guru mereka mengajarkan bahwa Pintu Ijtihad telah tertutup buat selama-
lamanya, sebab orang yang dahulu tidak ada lagi meninggalkan perkara yang
akan dibicarakan. Dan setengah dari mereka pula tidak mau pulang lagi ke
Indonesia, karena tidak tahan hati melihat negerinya yang telah terjajah, lalu
berdiam di Makkah sampai wafatnya, memilih mati di tanah suci.

Saudara-saudaraku yang utama!
Inilah gambaran alam fikiran kami, saya hamparkan dihadapan tuan-tuan,
terutama sepanjang abad-abad kesembilan belas, suasana yang diliputi gelap
gulita. Kegelapan fikiran akhirnya menular pula ke dalam alam politik.
Memang! Kami masih mempunyai raja-raja Islam, tetapi raja-raja itu tidak lain
daripada alat-alat yang tidak berdaya saja dalam tangan kekuasaan Belanda,
untuk ipakai memperbudak dan menekan rakyat Indonesia. Belanda tidak
keberatan memberi mereka gelar yang mentereng, seumpama gelar Syah

9 yaitu pasca kekalahan Kerajaan Saud dari gempuran komandan Pasya Mesir dari Kerajaan Turki
Utsmani

– 5 –
Alam, Badrul Alam dan lain-lain, tetapi gelar tidaklah ada kekuasaan apa-
apa. Seakan-akan lidah sikap penjajah berkata: Berikan kepadaku tanahmu,
hartamu, dan kekuasaanmu, aku berikan bagimu gelar untuk gantinya. Dan
disebut nama mereka didalam khutbah Jumat. Dan disamping raja-raja itu
ada pula orang-orang yang disebut ulama, diberi hadiah, diberi pakaian
angkatan dan terkadang dada mereka dihias dengan bintang-bintang. Untuk
membalas kurnia itu mereka pun memberikan pula fatwa-fatwa yang
menyesatkan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Dan sebagai lawan daripada itu ada pula setengah ulama yang telah putus
harapannya daripada mahligai dan singasana raja-raja, lalu mereka
mengundurkan diri jauh-jauh, hidup dalam kebekuan dan mati sebelum mati.
Mereka mengutuk dunia semuanya, dunia yang baik atau dunia yang jahat,
semuanya telah mereka pandang dengan mata benci. Maka berpalinglah
umat daripada dunia seluruhnya karena berpaling ulama mereka, dan
salahlah mereka memahamkannya karena kesalahan faham gurunya. Oleh
karena demikian mudahlah bagi si penjajah tadi menguasai dunia yang telah
mereka benci itu. Dan Islam sebagaimana tuan-tuan hadirin lebih maklum
amat jauh daripada hidup apatis dan semangat yang mati itu. Tetapi Islam
menghasung berusaha, bekerja, beramal, dan berjuang, untuk mencapai
hidup yang lebih berbahagia dan mulia, disamping bermal untuk hidup
akhirat, menurut contoh sabda nabi kita: Bekerjalah buat dunia, seakan-akan
engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah buat akhirat seakan-akan
engkau akan mati besok!.
Keadaan bertambah kacau balau lagi setelah pemerintah Belanda pada tahun
1905 mengeluarkan sebuah undang-undang, bahwa siapa-siapa yang hendak
mengajarkan agama Islam, hendaklah terlebih dahulu mendapat izin dari
pemerintah Belanda, dengan syarat-syarat tertentu. Diantaranya sekali-kali
tidak boleh mengajarkan kepercayaan bahwa Imam Mahdi akan turun diakhir
zaman mengembalikan keadilan kedunia ini. Karena ajaran yang demikian itu
dipandang sangat berbahaya oleh pihak kekuasaan, dapat membuka pintu
kepada memberontak!
Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah
kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah daripada

– 6 –
syirik dan bidah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri
kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan fikiran dan
memperbaharui fahan tentang ajaran Islam sejati. Dan dari sini nampaklah
betapa pentingnya ajaran Al-Ustadzul Imam Syeikh Muhammad Abduh yang
berpuncak pada kemerdekaan fikiran. Dan dalam ajaran Islam sumber
kemerdekaan berfikir itu ialah daripada Aqidah Tauhid, yang memerdekakan
manusia daripada rasa takut, dan rasa tunduk kepada yang lain dari Allah!

– 7 –
BAB
II

PENGARUH AJARAN MUHAMMAD ABDUH DI
INDONESIA

Pelopor pertama Syeikh Taher Jalaludin
Sudah menjadi tabiat cuaca di negeri kami, apabila sudah sangat panasnya
udara tengah malam yang gelap gulita, itu adalah alamat hujan lebat akan
turun.
Alhamdulillah! Turunlah hujan lebat itu. Sampailah ajaran Syeikh Muhammad
Abduh ke Indonesia. Pelopornya yang pertama ialah Syeikh Taher Jalaludin.
Beliau berasal dari daerah Minagkabau Sumatera dan keturunan dari
pahlawan-pahlawan Islam10 yang telah mempertahankan Islam seketika
penjajahan barat mulai masuk ke daerah itu. Lalu beliau pergi ke Makkah Al-
Mukarramah untuk mempelajari agama Islam lebih dalam. Setelah itu
dilanjutkannya pelajarannya ke Mesir pada Al-Azhar University pada
sekeliling tahun 1310 H (1892 M), yaitu seketika nama Syeikh Muhammad
Abduh sedang naik di Mesir dalam usaha-usaha perbaikannya yang terkenal
itu, setelah beliau dibolehkan pulang kembali dari pengasingannya di Beirut.
Belumlah sampai penyelidikan saya, apakah Syeikh Taher Jalaluddin yang
usianya pada waktu itu masih muda, masih sempatkah beliau berguru
berhalakah kepada Syeikh Muhammad Abduh. Yang terang ialah bahwa
sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 H, sampai majalah itu
berhenti terbit, Syeikh Taher Jalaluddin bersama-sama dengan tuan Syeikh
Muhammad Al-Kalali, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-
Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar.
Dan sekali-kali telah disalin beberapa rencana yang telah ditulis oleh Sayid

10 Maksudnya keturunan Pejuang Paderi yang perkasa. Seluruh ulama asal minangkabau-termasuk
Buya HAMKA- yang disebutkan dalam pidato beliau ini merupakan sisa generasi terakhir keluarga
paderi.

– 8 –
Jamaludin Al-Afghany dan Syeikh Muhammad Abduh didalam majalah Al-
Urwatul Wutsqa kedalam bahasa Melayu dan dimuat dalam majalah itu.
Pada tahun 1908 terpaksa pimpinan majalah yang dicintainya itu
ditinggalkannya, karena Sultan negeri Perak memintanya dengan sungguh-
sungguh supaya sudi menjabat pangkat Mufti dalam kerajaan Perak. Kawan-
kawannya menganjurkan agar beliau menerima jabatan yang mulia itu,
karena merasa besar harapan dapat melancarkan cita-cita perubahan dan
kemajuan yang sangat bergelora dalam hati beliau.
Maka beliau terimalah jabatan itu dan diserahkannyalah pimpinan majalah
Al-Imam kepada Sayid Muhammad bin Aqil, dan beliaupun berangkatlah ke
Perak. Seketika Sultan Perak, Sultan Idris Mursyidul Azham Syah melawat
ke London untuk menghadiri King George V naik nobat11, adalah Syeikh
Taher Jalaluddin dalam kedudukan sebagai Mufti Kerajaan Perak, turut dalam
rombongan Sultan.
Tetapi jabatan yang tinggi itu tidaklah rupanya memuaskan hati beliau. Fatwa-
fatwanya sudah jauh lebih maju daripada fatwa yang biasa diterima dari mufti
yang sebelumnya. Sehingga walaupun Sultan menyokongnya, namun ulama-
ulama Kerajaan yang lain tidaklah selalu senang menerima fatwa itu,
sehingga senantiasa tumbuh perselisihan.
Akhirnya jiwa yang bebas merdeka itu merasa bahwa jabatan Mufti hanyalah
mengurangi kebebasan belaka, sehingga beliau mohonkan kepada Sultan
agar beliau dibebaskan dari tugas. Terpaksalah Sultan mengabulkan dan
beliaupun berhentilah. Lalu beliau berangkat pada tahun 1911 ke negeri
Johordan disana beliau mengajar. Dan pada tahun itu pulalah ulama-ulama
yang sefaham dengan beliau, atau murid-muris beliau waktu di Makkah
meneluarkan majalah Islam yang kedua buat Indonesia dan Tanah Melayu,
atau yang pertama di Sumatera. Yaitu Majalah Al-Munir terbit di Padang.
Selanjutnya pernah pula beliau menjadi Ketua Sidang Pengarang dari
majalah Saudara yang terbit di Pulau Pinang sampai tahun 1937. Oleh
sebab itu maka dalam catatan sejarah persurat-kabaran di Tanah Melayu,
Syeikh Taher disebut Syekhnya kaum wartawan.

11 tahta

– 9 –
Kaum Muda di Sumatera
Adapun ulama-ulama yang menerima gerak baru di Sumatera itu, yang
paling terkemuka ialah 3 orang. Syeikh Muhammad Djamil Djambek (yang
tertua diantara mereka), Syeikh Abdullah Ahmad dan Syeikh Abdul Karim
Amrullah.
Syeikh Abdullah Ahmad menetap di kota Padang dan beliau sendirilah yang
mengepalai penerbitan Al-Munir. Syeikh Abdul Karim Amrullah menetap di
Padang Panjang dan Syeikh Muhammad Djamil Djambek di Bukittinggi.
Syeikh Djamil Djambek ahli falak dan beliaulah yang mula-mula menyatakan
pendapat bahwa memulai dan menutup puasa Ramadhan boleh dengan
memakai hisab dan beliau amat ahli memikat hati orang supaya kuat
beribadah dan membantah keras kepercayaan-kepercayaan yang salah
tentang tasawuf.
Syeikh Abdul Karim Amrullah ahli dalam hal Fiqh dan Ushulnya, dan
menyatakan dengan terang-terangan dalam satu bukunya bahwa beliau
membantah faham yang menyatakan pintu ijtihad telah tertutup. Beliau
mendirikan sebuah madrasah di Padang Panjang, untuk membentuk kader-
kader yang kemudian menyampaikan fahamnya kepada umum.
Dan Syeikh Abdullah Ahmad adalah seorang pengarang dan wartawan, yang
dengan penanya dapat menyiarkan fahamnya, bukan saja kepada orang
kampung, bahkan dalam kalangan orang-orang yang berpendidikan barat.
Diantara peminatnya waktu itu ialah seorang pemuda bernama Mohammad
Hatta! Sekarang seorang pemimpin besar Indonesia.
Didalam Al-Munir itulah Syeikh Abdul Karim Amrullah menjawab segala
soal yang berkenaan dengan hukum-hukum agama dan menyatakan
fatwanya yang mulai kelihatan perbedaannya dengan faham-faham yang
biasa.
Adapun kegoncangan yang pertama timbul ialah setelah keluar buku Al-
Fawaid Al-Aliyyah yang dikhususkannya untuk menyatakan bahwa
melafalkan niat ushalli dipermulaan sembahyang itu tidaklah berasal
daripada Rasul, dan tidak diperbuat oleh sahabat-sahabatnya dan tidak pula
oleh Imam-Imam madzhab yang empat. Dikemukakannya pendapat ulama-

– 10 –
ulama segala madzhab yang menguatkan pendapatnya itu, diantaranya ialah
perkataan Ibnul Qayyim didalam kitabnya Zaadul Maad.
Kegoncangan kedua ialah setelah keluar pula kitabnya yang bernama Iqazun
Niyam yang menyatakan pula bidahnya berdiri ketika membaca Maulid Nabi
Shalallahu alaihi wa sallam. Setelah itu keluar pulalah fatwanya menyerang
habis-habisan nikah Muhallil, padahal cara yang buruk itu masih banyak
dilakukan orang diwaktu itu dan didiamkan saja oleh ulama-ulama, bahkan
dibolehkan, sebab ada ulama mutaakhirin Syariiyyah yang membolehkan.
Setelah itu mulailah dibatalkannya amalan kaum tasawuf, yaitu
merabithahkan hati dengan guru ketika mengerjakan suluk, dan
diberantasnya faham Wahdatul Wujud!
Meskipun masalah ini ditimbulkan diatas nama Syeikh Abdul Karim Amrullah,
namun kedua temannya itu turut bersatu mempertahankan fatwa itu. Dan
ulama lain yang selama ini belum bersatu menyatakan faham, mulailah
menyatakan persetujuan.
Selain dari itu mulai pulalah mereka mengubah Khutbah Jumat. Selama ini
khutbah Jumat hanya dalam bahasa Arab saja. Yang lebih dahulu tidak
faham adalah khatibnya sendiri sebelum orang yang mendengar. Mereka
mengeluarkan fatwa bahwa boleh khutah dalam bahasa yang difaham oleh
umat di tempat itu, dan kalau yang memakai bahasa Arab juga cukuplah
rukun-rukunya saja, supaya ada faedah bagi khutbah itu yang bermaksud
memberi petunjuk dan ajaran kepada kaum Muslimin! Dihitung orang adalah
17 perkara banyaknya soal baru yang mereka timbulkan.
Niscaya timbullah reaksi daripada `Ulama yang bertahan pada yang lama.
Dan reaksi itu amat hebat. `Abdul Karim Amrullah dan kawan-kawannya
dituduh telah keluar dari Mazhab, bahkan telah talfiq dalam mazhab, sebab
memakai alasan dari kitab Zadul Ma`ad, karangan Ibnul Qayyim, yang bukan
seorang `Ulama Mazhab Syafi’i, tetapi bermazhab Hanbali dan banyak pula
fatwanya yang disalahkan oleh `Ulama dizamannya. Dan apabila telah talfiq
dalam mazhab, niscaya keluarlah dia dari Mazhab Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Untuk itu, mereka menerbitkan pula satu majalah bernama Al-Mizan".
Mereka menamakan diri mereka Kaum Tua" yang setia memegang Mazhab

– 11 –
dan menggelari ‘Ulama Angkatan Baru itu Kaum Muda" yang keluar dari
Mazhab.
Terjadilah pertukaran fikiran, kadang-kadang bagus dan indah dan kadang-
kadang kasar dalam kedua majalah itu. Mungkin setengah daripada perkara
itu di zaman sekarang boleh dipandang kecil, tetapi bagi masa itu adalah soal
penting, karena itulah permulaan daripada pembahasan yang membuka
fikiran, tandanya pintu ijtihad telah mulai terbuka. Dahulu pedoman hanya
kitab Tuhfah" dan Nihayah", sekarang sudah naik kepada Al-Uum" dan
terus kepada Al Quran.
Dalam hebatnya pertentangan-pertentangan itu tersiarlah buku-buku
karangan Sayid Zaini Dahlan dan Syekh Yusuf Nabhani. Kedua beliau itu
dalam karangan-karangannya mencela faham Ibnu Taimiyah dan Ibnul
Qayyim dan mencela Wahhabi, karena perkara tawassul. Dan Syekh Yusuf
Nabhani tidak lagi semata-mata mencela, tetapi memfitnah dan membusuk-
busukkan Sayid Jamaluddin Al-Afghany dan Syekh Muhammad ‘Abduh,
melepaskan seluruh sakit hatinya dengan kata-kata yang rendah, yang tidak
layak bagi seorang biasa, usahkan `Ulama. Sampai sekarang masih ada sisa-
sisa pengaruh fitnah buku Nabhani itu di tempat-tempat yang tersembunyi
yang tidak berani menentang cahaya Matahari Kebenaran12.
Kaum Muda" itu dituduhlah keluar dari Mazhab, meniru kafir karena
membolehkan memakai pantalon dan membolehkan belajar agama dengan
memakai bangku dan papan-tulis. Tetapi semua celaan, tantangan dan
serangan itu tidaklah sedikit jua menjebabkan mereka mundur setapak juapun
daripada langkah mereka, bahkan menambah mereka lebih berani.
Sebagaimana saja katakan tadi, Syekh `Abdul Karim Amrullah mengajar di
Padang Panjang, maka banyaklah murid datang. Diantara murid itu ialah
Zainuddin Labay El-Yunusy yang telah menterjemahkan Riwayat Perjuangan
Mustafa Kamil kedalam bahasa Indonesia ditahun 1916. Dan beliau tidak pula
lupa memikirkan pendidikan bagi anak-anak perempuan, lalu beliau dirikan
pula Madrasah yang khusus buat mereka. Maka adalah Nyonya Rahmah El-

12 Banyak ulama yang mengarang bantahan khusus terhadap fitnah Sayid Zaini Dahlan dan Syekh
Yusuf Nabhani ini. Diantaranya oleh Sayid Mahmud Syukri Al Alusi dalam kitab Ghayah Al Amani fi
Ar-Radd ala An-Nabhani
.

– 12 –
Yunusyah yang telah ziarah ke Mesir ini tahun yang lalu, murid yang utama
diantara mereka.
Dan Nyonya Rahmah sendiri kemudiannya meneruskan usaha itu, sehingga
sekolahnya itu dizaman sekarang menjadi satu teladan didikan bagi anak
perempuan dalam hal agama, sehingga menimbulkan niat pula bagi Syekh
Jami’ Al-Azhar Dr Syekh `Abdur Rahman Taj hendak mendirikan sekolah
semacam itu sebagai bahagian dari Al-Azhar, sebab telah beliau lihat sendiri
seketika beliau melawat kesana13.
Satu contoh dari pada keberanian `Ulama itu ialah soal pakaian. Sudah
menjadi adat `Ulama memakai jubah dan sorban dan beliau-beliaupun
memakai jubah dan sorban. Tetapi beliau-beliau telah menyatakan fatwa
bahwa memakai pakaian secara Barat dengan capiau dan dasi tidaklah
haram, karena Islam tidaklah menentukan corak pakaian tertentu; serupa
benar dengan fatwa Syekh Muhammad ‘Abduh yang terkenal dengan Fatwa
Transval" itu.
Tetapi oleh karena ‘Ulama Kaum Tua mengatakan bahwa berpakaian
demikian haram, maka Syekh ‘Abdullah Achmad dan Syekh `Abdul Karim
Amrullah telah sengaja memakai pantalon, capiau dan dasi beberapa tahun
lamanya. Dan kemudian setelah hal itu tidak menjadi bincangan hangat lagi,
beliau-beliaupun kembali memakai jubah dan sorbannya. Dan Syekh
Muhammad Djamil Djambek sengaja membeli motorfiets dan menaikinya
sendiri, dan membeli mobil dan memegang setirnya sendiri, suatu hal yang
ganjil" bagi `Ulama pada pandangan waktu itu.
Beliau memakai kendaraan itu buat pergi ke kampung-kampung memberi
ajaran dan fatwa kepada ummat.
`Ulama-ulama Tua itupun pernah meminta fatwa kepada ‘Ulama’ Makkah
buat menjatuhkan mereka itu dan buat mencap mereka sesat lagi
menyesatkan, karena 17 masalah yang mereka keluarkan itu. Fatwa itupun
datang, meskipun `Ulama-ulama Makkah itu hanya mendengar keterangan
dari sebelah pihak saja. Tetapi tidaklah ada bekasnya atas Ummat

13 Maka ditahun berikutnya Al-Azhar pun untuk pertama kalinya setelah 1000 tahun berdirinya
mendirikan sekolah untuk perempuan. Pengembangan sekolah ini dengan bantuan dari Ny. Rahmah El-
Yunusyah sehingga beliau digelari Syaikhah oleh Al-Azhar

– 13 –
Minangkabau, melainkan sangat sedikit, sebab pengaruh mereka atas
negerinya sudah lebih dari pada pengaruh ‘Ulama Makkah yang jauh itu.
Orang tidak mau taqlid lagi.
Itulah usaha yang telah mereka kerjakan, sehingga Minangkabau khususnya
dan Sumatera umumnya telah mencapai perobahan baru dan cepat. Dan
sekarang telah menjadi salah satu markas Islam yang kuat.

Beberapa `Ulama Lain Yang Sefaham
Setelah ketiga `Ulama besar itu, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh
`Abdul Karim Amrullah dan Syekh ‘Abdullah Ahmad menyatakan pendirian
yang tegas itu, menegaskan madzhab salaf, menjunjung fikiran Muhammad
‘Abduh, mendapat tuduhan Wahhabi dan sebagainya dari pihak lawannya,
beberapa orang `Ulama yang lain di Sumatera Barat menjelaskan pendirian
yang berpihak kepada beliau-beliau. Patutlah dicatat nama Syekh

Muhammad Thaib Tanjung Sungayang, Syekh ‘Abdullatif Rasyid dan
saudaranya Syekh Daud Rasyid Balingka, Syekh ‘Abbas ‘Abdullah dan
saudaranya Syekh Mustafa ‘Abdullah Padang Japang, Syekh ‘Abdurrasjid
Maninjau, Tuanku Laut Lintau, Syekh Ibrahim bin Musa Parabek. Yang satu
inilah yang sekarang masih hidup.
Beliau-beliau itu menerima murid-murid belajar pada pondoknya masing-
masing. Maka negeri-negeri Padang Panjang, Bukittinggi, Parabek, Padang
Japang, Tanjung Sungayang, penuhlah dengan murid-murid yang belajar
agama yang mulai memakai susunan cara baru. Seluruh madrasah itu pada
tahun 1918 digabungkan dalam satu organisasi bernama Sumatera
Thawalib". Dalam madrasah itu sejak tahun 1918 itu mulailah dikaji orang
karangan-karangan Muhammad ‘Abduh dan tafsirnya, buah tangan Sayid
Rasyid Ridha dan lain-lain, sehingga keluar dari sana angkatan muda Islam
mendapat semangat baru. Dan beberapa orang diantara mereka melanjutkan
belajar ke Al-Azhar dan Daru’l Ulum di Mesir. Diantaranya ialah Muchtar
Luthfi, Ilyas Ya’kub, Mahmud Yunus, dan lain-lain, yang setelah mereka
pulang kembali telah membawa semangat baru ke negeri kami. Bahkan
Muchtar Luthfi dan Ilyas Ya’kub pernah menerbitkan di Mesir dua majalah

– 14 –
berturut-turut, untuk menyebarkan cita-cita modernisasi di Indonesia. Pertama
bernama Seruan Azhar" (Nadaiil Azhar), yang kedua bernama Pilihan
Timur". Keduanya berhenti terbit karena pemerintah penjajahan tidak
memberi kesempatan tersiar luas.
Banyaklah diantara murid-murid `Ulama itu yang telah menjadi orang penting
di Indonesia sekarang. Diantaranya ialah Nyonya Rahmah El-Yunusiyah,
tetamu Mesir yang utama pada tahun yang lalu, dan beliaupun duduk dalam
Parlemen Indonesia. Syekh Ahmad Rasjid Sutan Manshur, Ketua Umum
Muhammadiyah dan Anggota Konstituante. Zainal Abidin Ahmad, Wakil Ketua
Parlemen Indonesia. ‘Abdullah Aidid, Kuasa Usaha Indonesia dalam Kerajaan
Jordania. Muhammad Zain Hassan, Kuasa Usaha Indonesia di Suriah.
Manshur Daud, Duta Indonesia di Irak. Beberapa orang diantara mereka itu,
sehabis belajar pada `Ulama-ulama yang tercinta itu, meneruskan perjalanan
ke Mesir, ke sumber telaga fikiran Muhammad `Abduh. Ada yang mendapat
ijazah Al-Azhar dan ada yang di Darul Ulum dan ada yang meningkat ke
Universitas Mesir.
Oleh karena memandang amat penting kebangkitan faham baru di
Minangkabau itu, maka beberapa Orientalis Barat telah datang sendiri ke
sana buat mempelajarinya dari dekat. Diantaranya ialah Ds. Zwemmer,
zendeling Kristen yang ternama. Prof. Dr Schricke, Guru Besar di negeri
Belanda. Prof. K.K. Berg. Beliau ini telah menuliskan kesan beliau tentang
gerakan Salaf" di Sumatera Barat itu dalam bukunya Wither Islam" yang
disalin oleh Al-Ustadz Abu Raidah ke bahasa Arab ditahun 1934 dan diberi
nama Arab Wijhatul Islam".

– 15 –

BAB
III

PELOPOR-PELOPOR DI TANAH JAWA

1. Syekh Ahmad Soorkati.
Sekarang saya berpindah membicarakan pengaruh fikiran beliau di Tanah
Jawa. Adalah tiga orang `Ulama yang menerima ajaran itu dan menyiarkan
serta memperjuangkannya, masing-masing di dalam daerah lapangannya.
Yang pertama ialah Syekh Ahmad Soorkati As-Sudani, asal usul
keturunannya dari Sudan dan lama berdiam di Madinah Munawwarah. Ada
orang mengatakan bahwa beliau meninggalkan Sudan setelah
pemberontakan Mahdi. Beliau berangkat .ke Indonesia atas undangan
masyarakat Arab Hadramaut yang telah berboyong ke Indonesia sejak
pangkal abad kesembilan belas, atau lama sebelum itu. Jasa mereka besar
juga didalam penyiaran dan pengokohan Islam di Indonesia dan didalam
penyiaran bahasa Arab, sebab bahasa Arab itu bahasa mereka sendiri.
Tetapi tidaklah dapat mereka melepaskan diri sama sekali daripada kebekuan
berpikir dan khurafat yang telah mereka bawa dari negeri asal mereka.
Kadang-kadang terbawa-bawa juga perselisihan golongan yang amat
mendalam di negeri mereka sendiri, diantara Sadaat-‘Alawiyin dan kaum
Kabili pemanggul senjata dan golongan yang disebut dalam tradisi mereka
yang telah lapuk, yaitu Dhu`afaa".
Tetapi ada juga beberapa orang yang telah terbuka matanya dan dapat
melepaskan dirinya daripada silang sengketa itu, yang tidak sesuai lagi
dengan suasana baru, lalu mereka berlangganan dengan majalah Al-
`Urwatul Wustqa", sehingga adalah pada mereka kemajuan berfikir dan
majalah itupun dilarang masuk ke Batavia, pusat kekuasaan Belanda
(sekarang Jakarta!) menuruti jejak Inggeris, sebab isinya mengandung bibit-
bibit yang berbahaya bagi kedudukan penjajah. Tetapi mereka dapat
menerima majalah itu dengan diselundupkan dari Tuban, sebuah pelabuhan

– 16 –
kecil di Jawa Timur. Setelah itu merekapun berlangganan dengan majalah
Al-Manar" dari Sayid Rasyid Ridha. Keduanya inilah yang membuka jalan
bagi kedatangan Syekh Ahmad Soorkati.
Maka mulailah tersebar faham Sayid Jamaluddin Al-Afghany, Syekh
Muhammad ‘Abduh dan Sayid Rasjid Ridha dikalangan masyarakat Arab
Indonesia itu. Niscaya lebih lekaslah tersiarnya dikalangan mereka, sebab
bahasa Arab bahasa mereka sendiri. Maka beliau anjurkanlah mendirikan
perkumpulan Al-Irsyad" atas sendi ajaran ‘Abduh. Perkumpulan itu masih
tetap berdiri dan teguh memegang pendiriannya sampai sekarang.
Maka tidaklah saya bermaksud hendak menceritakan pertentangan-
pertentangan diantara kaum Irsyad, pembawa faham baru itu, dengan kaum
Arab pembela pendirian yang lama. Tentu saja pertentangan itu kadang
dengan tenang dan berirama baik, dan kadang-kadang dengan keras. Saya
tidak hendak menceritakan itu lagi, karena tuan-tuan pun sudah tahu bahwa
itu adalah sunnatullah diantara yang baru dengan yang lama.
Syekh Ahmad Soorkatipun meninggalkan murid-murid orang Arab, baik yang
datang baru itu dari Hadramaut, atau keturunan Arab yang telah berdarah
Indonesia. Karena orang Hadramaut pada umumnya datang ke Indonesia
tidak membawa isteri, tetapi kawin dengan perempuan Indonesia. Diantara
murid beliau itu ialah Sayid Omar Hobais, Pemimpin Besar Al-Irsyad dan
sekarang anggota Majlis Konstituante Republik Indonesia dari partai
Masyumi.
Seorang bekas muridnya lagi ialah Sayid ‘Abdur Rahman Baswedan.
Beliaulah yang mula-mula menyatakan dengan tegas, anak-anak Arab dari
Ibu Indonesia tidaklah orang-asing" dinegeri ini dan tidak pula golongan
kecil". Sebab itu dianjurkannya kaumnya supaya meleburkan diri ke dalam
masyarakat Indonesia, karena mereka tidaklah akan pulang ke Hadramaut.
Tidaklah saya akan ceritakan pula kepada tuan-tuan malam ini, bagaimana
pula tantangan yang diterima oleh Baswedan dari bapa-bapa mereka orang
Hadramaut asli di Indonesia, karena masa itu ada perasaan sedikit-sedikit
bahwa orang Arab lebih tinggi kedudukannya dari pada orang Islam
Indonesia, masakan mau turun kepada kedudukan mereka.

– 17 –
Maka seketika Pemerintah Republik Indonesia bermaksud mengadakan kursi
di dalam Parlemen dan Konstituante untuk golongan kecil, Baswedan telah
menentang dengan keras, dan dia berkata : Kami bukanlah golongan kecil di
negeri ini. Kami adalah anak Indonesia ! Kami lahir disini, kami makan dari
hasil buminya dan minum akan airnya, dan kamipun akan meninggal disini,
insya Allah ! Kami tidak merasa ada perbedaan kami dengan saudara kami
bangsa Indonesia yang lain, apatah lagi agama kami satu !.
Lantaran tantangannya yang keras itu terpaksalah Pemerintah tidak
mengadakan kursi untuk golongan Arab, dan yang ada hanyalah anak
Indonesia turunan Arab, duduk dalam Parlemen atau Konstituante mewakili
partai politik yang ada. Diantaranya Sdr. A. Rahman Baswedan sendiri
mewakili partai Masyumi sebagai temannya Omar Hobais, dan Hamid Al-
Qaderi mewakili Partai Sosialis Indonesia dan lain-lain dari berbagai partai.
Dan Baswedan sebagai juga Omar Hobais adalah pemuka-pemuka yang
sangat giat dalam partai Masyumi.

2. K.H.A. Dahlan dan Muhammadiyah.
Kalau Syekh Ahmad Soorkati penyebar faham ‘Abduh dalam kalangan Arab,
maka adalah K.H.A. Dahlan penyiarnya dalam kalangan orang Indonesia.
Beliaulah pendiri Perserikatan Muhammadiyah. Beliau dilahirkan di
Jogjakarta, Jawa Tengah, tempat kedudukan Sulthan Jawa. Beliau adalah
dari keturunan orang-orang mulia juga dan nenek moyang beliau termasuk
orang-orang besar disekeliling Raja, sehingga Sulthan telah memberikan
kepadanya jabatan agama, yaitu menjadi Khathib dari Masjid Sulthan dan
diberi gelar Khathib Amin".
Tetapi setelah beliau berlangganan dengan majalah Al ‘Urwatul Wustqa dan
Al-Manar mendapatlah beliau fikiran baru tentang Islam, ditambah lagi
dengan membaca Tafsir Muhammad ‘Abduh dan kitab-kitab Ibnu Taimiyah
dan Ibnul-Qayyim.
Maka dengan berangsur-angsur dilepaskannyalah dirinya daripada ikatan
jabatan dan mulailah beliau melihat dan memperhatikan nasib Ummat Islam
Jawa dari dekat. Beliau melihat Islam di tanah Jawa dalam bahaya ! Beliau

– 18 –
melihat bahwa tiga musuh besar bagi perkembangan jiwa bangsa telah
menjerang Ummat Islam, yaitu kebodohan, kemelaratan dan penderitaan,
atau penyakit lahir dan bathin. Islam kian lama kian mundur dan seorang
ulamapun tidak ada yang tampil kemuka untuk memperbaiki adat istiadat dan
pengaruh ajaran agama yang dipeluk lebih dahulu oleh bangsa Jawa, yaitu
Buddha dan Hindu belum hilang sama sekali.
Anak-anak orang Islam dimasukkan kedalam sekolah Belanda untuk
menjamin hidup dunianya dikemudian hari, tetapi tidaklah ada harapan bahwa
sekolah Belanda akan dapat memelihara agama pada dada anak-anak itu,
sehingga kian banyak anak-anak bersekolah kepunyaan Pemerintah,
bertambahlah jumlah orang terpelajar yang jauh dari agama. Disamping itu
Belanda membukakan pula pintu seluas-luasnya bagi zending dan missie,
Protestan dan Katholik menyiarkan agama Kristen dan mendirikan sekolah-
sekolahnya pula untuk menerima anak orang Islam. Lantaran itu telah banyak
anak orang Islam meninggalkan Islam dan memeluk Kristen.
Tidak ada gerak dari orang Islam sendiri buat mengimbangi itu, dan ulama-
ulama Islam sendiripun tidak menaruh perhatian kepada soal besar ini,
melainkan bertengkar dalam masalah-masalah khilafiyah yang kecil-kecil.
Daripada kesultanan Yogyakartapun tidaklah besar harapannya, karena
pengaruh Belanda sudah amat besar atas diri Sulthan, demikian juga
pengaruh tradisi kuno yang senantiasa dipelihara.
Diperhatikannya pula gerakan kaum Ulama di Sumatera Barat itu. Diakuinya
usaha mereka, bahkan beliaupun berlangganan dengan majalah Al-Munir".
Tetapi beliau merasa bahwa bergerak di tanah Jawa tidaklah semudah di
Minangkabau. Di Jawa rakyat berlipat ganda banyaknya dari di Sumatera,
dan nisbah14 yang mengenal agama sangatlah sedikit, dan kekuasaan
Belanda sangat besar dan pengaruh zending dan missie sudah masuk,
sedang di Minangkabau belum ada, dan dari Sulthan tidak dapat diharapkan
apa-apa. Oleh sebab itu haruslah ada satu gerakan agama yang lebih teratur
yang dapat menandingi pula gerakan teratur dari pihak lawan.

14 jika dibandingkan dengan

– 19 –
Maka beliau dirikanlah gerakan Muhammadiyah pada tahun 1912. Dan
dimintanya pengakuan dari pihak kekuasaan Belanda.
Tujuan pergerakan itu ialah :
1. Memajukan dan menggembirakan pelajaran dan pengajaran Agama
Islam.
2. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan Agama
Islam bagi anggota-anggotanya.
Untuk mencapai tujuan itu hendaklah terlebih dahulu anggota Muhammadiyah
memperbaiki ‘aqidah-nya tentang Islam, dari pada khurafat dan bid’ah,
bersendi kepada Al-Quran dan Sunnah. Dan hendaklah anggota itu
mempertinggi mutu imannya dan membersihkan jiwanya daripada syirik, dan
menghidupkan tolong menolong berbuat kebajikan dan taqwa, supaja menjadi
Muslim sejati. Dan diwajibkannya anggota-anggota itu, atau muridnya
mempelajari Al-Quran dan menyesuaikan hidup, setapak demi setapak
dengan ajarannya, dan hendaklah dipelihara sungguh-sungguh `ibadat
kepada Tuhan sejak dari wajibnya sampai kepada sunnat (nawafilnya).
Mula-mula beliau matangkan didikannya kepada murid-muridnya di sekeliling
kampung Kauman Yogyakarta, yaitu kampung yang selalu terdapat di kota-
kota ditanah Jawa, didekat masjid. Setelah jiwa muridnya itu berisi, disuruhlah
mereka mempedomani Hadist Nabi : Sampaikan dari padaku, walaupun satu
ayat !" Lalu menyiarkan fahamnya itu ketempat-tempat lain, mula-mulanya di
sekelilingnya, lalu lama-lama ke kota-kota yang lain. Dan didirikanlah cabang-
cabang atau ranting Muhammadiyah di kota yang lain itu, dengan tujuan yang
tidak berobah daripada di pusat.
Usahanya dan keteguhan hatinya didengar di seluruh Tanah Jawa.
Bermacam-macam penerimaan orang, sebagai telah adat bagi pembawa
faham baru. Ada yang menentang dan ada yang menyetujuinya lalu
berhubungan langsung dengan beliau. Ada pemuda-pemuda yang datang
sendiri menziarahinya ke Yogya dan setelah beliau lihat bahwa pemuda itu
besar harapan akan menjadi penyebar fahamnya di tempat kediamannya,
beliaupun datang sendiri ketempat pemuda itu.

– 20 –
Maka dengan tidak memperdulikan kesehatannya dan tidak memperdulikan
harta bendanya, kerap kalilah beliau meninggalkan rumah tangganya. Pergi
ke Solo, Surabaya, Madiun, Pekalongan, Bandung dan Jakarta. Sebagai saja
katakan tadi pula, tidaklah saja hendak menerangkan bagaimana besar reaksi
dari pembela faham lama terhadap beliau.
Pernah beliau dituduh perusak agama, dan kata orang pernah beliau
ditampar dalam satu majlis, sehingga terjatuh serbannya, dan itu diterimanya
saja dengan lapang dada. Sebab telah ada pengobat hatinya, yaitu beberapa
orang pemuda yang telah menyambut ajarannya dengan mendalam, sebagai
Mas Mansyur di Surabaya, `Abdul Mu’thi di Madiun, Muchtar Buchari di Solo,
Kartosudarmo di Jakarta dan lain, yang kemudian menjadi pemimpin-
pemimpin Muhammadiyah yang penting.
Dan beliau sendiri pergi mengajarkan Agama Islam kepada anak-anak
sekolah yang belajar pada sekolah Pemerintah. Kadang-kadang beliau minta
izin masuk penjara, mengajarkan agama kepada orang hukuman. Maka
hidupnya telah ditumpahkannya seluruhnya kepada cita-citanya, sehingga
habislah harta bendanya dan terganggu kesehatannya.
Ayahku Syekh `Abdul Karim Amrullah menceritakan kepadaku, atas
kekagumannya melihat perjuangan Syekh Ahmad Dahlan itu pada ziarahnya
yang pertama ke Jawa dan menjadi tetamunya di Yogya.
Kata beliau tentang K.H.A. Dahlan : Seorang yang lemah lembut wajahnya,
tetapi amat keras hatinya".
Cita-cita yang beliau tanamkan itupun tumbuhlah, dan berdirilah cabang
Muhammadiyah di Solo, Surabaya, Pekalongan, Garut dan Jakarta dan
beberapa tempat lain, masing-masing dengan amalnya sendiri. Karena beliau
membuat aturan yang masih dipakai sampai sekarang. Suatu cabang belum
disahkan sebelum ada bekas amalnya.
Muhammadiyah telah berdiri teguh, meskipun baru sedikit, dan beliau yakin
nanti akan tersebar lagi. Tetapi karena itu, harta bendanya telah habis dan
kesehatannya telah sangat mundur. Maka jatuh sakitlah beliau yang menurut
keterangan dokter, karena terlalu banyak bekerja, dan wafatlah beliau pada

– 21 –
tahun 1923, setelah 11 tahun berjuang siang malam. Beliau meninggal dalam
hal keadaan miskin harta benda dan kaya dalam bekas amalan.
Setelah beliau meninggal, murid-murid dan pengikutnya telah menjebarkan
Muhammadiyah keluar Jawa, ke Sulawesi, ke Kalimantan, ke Pulau Billiton
dan ke Sumatera. Dan tersebarlah dengan amat pesatnya di Minangkabau
setelah Syekh `Abdul Karim Amrullah pada ziarahnya yang kedua kali, datang
pula ke Yogya dan mempelajari Anggaran Dasar Muhammadiyah, dan
setelah beliau pulang, dihasungnya murid-murid dan anak-anaknya
mendirikan Pergerakan itu pula di Minangkabau. Maka masuklah orang
berduyun-duyun dan berdirilah cabang-cabangnya disana, sampai sanggup
mengadakan Kongres Besar Muhammadiyah seluruh Indonesia di Bukittinggi
pada tahun 1930. Tetapi beliau sendiri tidak masuk.
Sekarang Muhammadiyah telah merata diseluruh Indonesia dengan segala
bahagiannya, untuk penyiaran Islam secara lisan Bagian Tabligh. Untuk
penyiaran secara tertulis Bagian Taman Pustaka. Untuk Pendidikan Bagian
Pengajaran. Untuk wanita Bahagian ‘Aisyiyah. Untuk kanak-kanak laki-laki
Bahagian Hizbul Wathan (Pandu). Dan ‘Aisyiyah mengadakan pula Bagian
Nasyiatul ‘Aisyiyah.
Pergerakan ini tidaklah mencampuri politik, meskipun K.H.A. Dahlan sendiri
menjadi Penasehat dari Partai Syarikat Islam yang dipimpin H.O.S.
Tjokroaminoto. Dan Markas Besarnya sampai sekarang ialah kota
Yogyakarta. Dan tidak mencampuri politik" itu dipegang teguh sampai
sekarang. Tetapi anggotanya bebas memasuki partai politik yang disukainya,
yang dianjurkan kalau hendak berpolitik pilihlah yang bertujuan Islam. Oleh
sebab itu sebahagian besar mereka masuk dalam Partai Politik Islam
Masyumi, dan sedikit yang masuk yang lain, dan tidak ada yang masuk Partai
Komunis.
Diantara anggotanya yang menjadi orang besar Indonesia yang akan saya
sebut dengan istimewa ialah Almarhum Jenderal Sudirman, pembangun dan
lambang percontohan tertinggi dari Tentara Nasional Indonesia. Demikian
juga kolonel Haji Yunus Anis, Kepala Pendidikan Rohani Angkatan Darat.

– 22 –
Tidaklah patut kalau saya tidak menyebut bahwa Presidan Sukarno waktu
dalam buangan Belanda di Bangkahulu15 adalah anggota dan pengurus
Muhammadiyah yang giat. Demikian juga isteri beliau Fathimah. Dan tidak
pula patut tidak saya sebut bahwa Perdana Menteri yang sekarang, Ir Haji
Djuanda pun pernah bergiat dalam Muhammadiyah, terutama dalam
lapangan pendidikan. Saya katakan tidaklah patut saja lupakan, karena saya
kebetulan masuk partai Masyumi yang kadang-kadang dalam suasana politik
berlain pendapat dengan mereka. Dalam hal ini benarlah perkataan Syekh
Muhammad `Abduh : Bila suasana politik masuk kedalam satu soal, jadi
kacaulah jalannya". Apatah lagi dalam ceramah ilmiyah dan sejarah sebagai
saja lakukan ini.
Pads tanggal 18 November 1957 yang lalu, Muhammadiyah memperingati
ulang tahunnya yang ke-45. Presidan Sukarno dan Perdana Menteri Djuanda
telah memerlukan hadlir dalam peringatan itu dan Presidan berpidato, antara
lain katanya : Saja bangga karena saya pun pernah mendapat didikan dari
Muhammadiyah. Saja harap nama saya tidak terhapus dari daftar anggota !".
Adapun anggota pergerakan ini tidaklah banyak, jika dibandingkan dengan
bilangan orang Islam di Indonesia. Bangsa Indonesia menurut hitungan
terakhir 80 juta, 75 juta beragama Islam, dan anggota Muhammadiyah
setelah diadakan saringan hanya 200,000 orang. Sebabnya ialah karena
menerima anggota tidaklah dipermudah. Yang diterima ialah orang yang baik
akhlaknya dan baik ibadatnya, dan bagi barangsiapa yang belum lengkap
syarat itu masih dibilangkan kandidat anggota", atau penganut faham
(simpatisan). Dan yang terpenting lagi ialah pengaruh anggota yang sedikit
kepada masyarakat Islam yang banyak dan bekas amalnya. Semua beramal
menurut bakatnya (kullun ya’malu ‘ala syakilatih).
Diantara anggota Muhammadiyah yang ada hubungan rohaninya dengan
Mesir ialah Prof. ‘Abdulkahhar Muzakkir, anggota Pusat Pimpinan dan
Presiden Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan Dr H. Mohammad
Rasjidi yang belajar di Kulliyatul Adab, Cairo University, sampai mencapai
derajat M.A., kemudian mencapai titel Doctor dari Sarbonn University. Tempo

15 Bengkulu

– 23 –
hari menjadi Duta Indonesia di Mesir, kemudian di Pakistan dan sekarang
menjadi Professor pada sebuah Universitas di Canada. Juga Prof. Farid
Ma’ruf, Wakil Ketua Pusat Pimpinan Muhammadiyah, pernah belajar di Darul
Ulum, Mesir ini.
Dan kalau boleh, inginlah saya memasukkan seorang lagi, yaitu diri saya
sendiri, `Abdul Malik ibn `Abdul Karim Amrullah, anggota Pusat Pimpinan
Muhammadiyah. Saya mengakui bahwa saja tidak pernah belajar, baik di Al-
Azhar atau di Cairo University, tetapi hubungan jiwa saja dengan Mesir telah
lama, yaitu sejak saja pandai membaca buku-buku bahasa `Arab, khususnya
buku-buku Syekh Muhammad ‘Abduh, Sayid Rasyid Ridla dan lain-lain.
Ketua Umum Pergerakan Muhammadiyah sekarang ialah Syekh Ahmad
Rasyid Sutan Mansyur, beliau orang Minangkabau dan murid dari Syekh
`Abdul Karim Amrullah, tetapi selepasnya mengaji ditahun 1922 pindah ke
tanah Jawa dan mempelajari Muhammadiyah kepada K.H.A. Dahlan,
sehingga telah menjadi pemimpin Muhammadiyah sejak zaman itu. Dia dipilih
dengan suara aklamasi pada dua kali Kongres, yaitu Kongres di Purwokerto
tahun 1953 dan Kongres di Palembang tahun 1956. Lantaran pilihan itu beliau
pindah dari Sumatera ke Yogyakarta, pusat pergerakan ini.

3. Syekh Ahmad Hassan dan Persatuan Islam.
Dan orang yang ketiga yang menjadi penyiar faham ‘Abduh di Jawa ialah
Syekh Ahmad Hassan yang sekarang tinggal dan mengajar di Bangil, Jawa
Timur. Beberapa tahun yang lalu beliau tinggal di kota Bandung yang terkenal
karena Konferensi Asia-Afrika itu, dan menjadi guru serta pemimpin dari
Perkumpulan Persatuan Islam. Banyaklah buku-buku karangan beliau dalam
bahasa Indonesia, menyiarkan faham Islam dengan dasar Al-Quran dan Al-
Hadist, memerangi taqlid dan menganjurkan kebebasan berfikir, menolak
bid’ah dan khurafat dan membersihkan ‘aqidah daripada pengaruh ajaran lain.
Dan beliaupun mengarang Tafsir Al Quran, bernama Al-Furqan". Perjuangan
beliau menentang ajaran Ahmadiyah Qadiani dan Lahore terkenal dimana-

– 24 –
mana. Dan keistimewaan beliau ialah kekuatan hujjahnya dan teguhnya
mempertahankan pendirian yang beliau yakini benarnya16.
Ditahun 1930 beliau mengeluarkan sebuah majalah bernama Pembela
Islam", beliau sendiri menjadi pemimpinnya, dan muridnya, Mohammad
Natsir, menjadi kepala pengarangnya. Make terkenallah dikalangan orang
yang rajin menyelidiki perkembangan perjuangan Islam di Indonesia
bagaimana hebat tantangan majalah itu kepada faham kebangsaan yang
berdasar ‘Ashabiyah. Terkenallah pertukaran fikiran mereka dengan
pemimpin Sukarno dalam soal apakah perjuangan untuk mencapai
kemerdekaan Indonesia itu hanya semata-mata dengan faham kebangsaan
saja, atau suatu perjuangan yang didasarkan kepada ajaran Islam, yang
meliputi juga akan kebangsaan, bahkan lebih luas.
Mohammad Natsir, Pemimpin Islam Indonesia itu, dan Ketua Umum Partai
Masyumi, adalah murid dari Syekh Ahmad Hassan, demikian juga seorang
pemimpin Islam dan anggota Parlemen dan Konstituante yang terkenal
karena keberanian dan terus terangnya menyatakan fahamnya, yaitu Haji
Mohammad Isa Anshary ! Terus terang menyatakan faham" adalah cara
utama dari Syekh Ahmad Hassan dan Persatuan Islam !

Penterjemahan Kitab-kitab.
Ditahun 1924 Ahmad Hani, murid Syekh Ahmad Dahlan, menterjemah kitab
Ar-Raddu `aladdahriyin" dari Jamaluddin Al-Afghany, sebab waktu itu
Komunis sedang mulai berkembang di Jawa. Setelah itu diterjemahkannya
pula Risalatut Tauhid" karangan Syekh Muhammad ‘Abduh. Dizaman-zaman
itu juga Muhammad Syah Syafi’i menterjemahkan Tafsir Ustazul Imam Juz
‘Amma. Setelah itu dituruti oleh `Abdul Wahid An-Naashiriy menterjemahkan

16 Paham Ahmadiyah masuk ke Indonesia sekitar kurun akhir tahun 1920-an dengan cepat dan mudah
diterima di tengah masyarakat karena pendekatan dakwahnya yang halus dan menyentuh. Pada
awalnya penyimpangan mereka tidak disadari kaum muslimin. Sebabnya karena paham ini disebarkan
oleh orang Indonesia sendiri yang diberi beasiswa oleh Inggris untuk belajar agama ke India. Tetapi
dengan kecermatan para ulama maka muncul reaksi untuk menangkal tersebarnya Ahmadiyah.
Diantara yang terkenal dalam sejarah adalah debat Syekh A. Hassan melawan pimpinan Ahmadiyah
pada muktamar yang diadakan tahun 1930. Bahkan beliau menulis buku bantahan paham Ahmadiyah
pada tahun yang sama. Yang terakhir pada tahun 1956 beliau menantang mubahalah pimpinan
Ahmadiyah Indonesia saat itu, semoga Allah merahmatinya.

– 25 –
Tafsir Al-Manar juz I. Dan Risalatut Tauhid dan Tafsir Ustazul Imam diajarkan
sampai sekarang di Madrasah-madrasah bekas peninggalan Syekh `Abdul
Karim Amrullah di Sumatera. Sudilah tuan-tuan menanyakan kepada
Maktabah Isa Al-Baby Al-Halaby, berapa banyak kitab-kitab demikian dikirim
setiap bulan dan tahun ke Indonesia, terutama ke Minangkabau, sebelum
perang Dunia II.

– 26 –
BAB
IV

AKHIR HIDUP ORANG-ORANG BESAR ITU

Syekh Ahmad Dahlan.
Seorang demi seorang daripada mereka telah menerima panggilan
Tuhannya, berangkat ke negeri yang kekal setelah meninggalkan bekas yang
baik dan amal yang mulia, kecuali seorang yang masih hidup, semoga Tuhan
memanjangkan usianya yaitu Syekh Ahmad Hassan karena memang
beliaulah yang paling muda usianya diantara mereka dan paling akhir
timbulnya17.
Yang meninggal mula-mula sekali ialah Syekh Ahmad Dahlan. Beliau
meninggal pada permulaan tahun 1923, setelah menghabiskan usia dan
seluruh kekayaan untuk Pergerakan Muhammadiyah yang beliau bangunkan
itu. Mati dalam kemiskinan harta benda, tetapi kaya dengan sebutan kenang-
kenangan dan bekas amal. Lekat pada sekolah-sekolah berdasar Islam sejak
rendah, sampai menengah dan telah berdiri Sekolah Tinggi di Padang
Panjang, Sumatera Barat pada tahun 1956.
Demikian juga rumah-rumah sakit dan pemeliharaan anak-anak yatim dan
miskin. Tidak ada satu kota yang tidak ada padanya cabangnya dan tidak ada
satu desa yang tidak ada padanya rantingnya. Dan Pergerakan
Muhammadiyah adalah satu-satunya gerakan agama Islam yang terbesar di
Indonesia. Dan berkata pejuang Islam, Sayid Amin Husainy, Mufti Palestina,
yang pernah menziarahi Indonesia ketika Konferensi Asia Afrika :
Muhammadiyah adalah Perserikatan Islam yang terbesar didunia !"

Dr Syekh Abdullah Ahmad dan Dr Syekh Abdul Karim Amrullah dan
Syekh Ahmad Soorkati.

17 Ketika pidato HAMKA ini dibukukan beliaupun telah pulang ke Rahmatullah (Penerbit).

– 27 –
Adapun Syekh ‘Abdullah Ahmad dan Syekh `Abdul Karim Amrullah, pernah
beliau-beliau itu datang ke Mesir ini menghadiri Mu’tamar Khilafah yang
dianjurkan oleh Ulama-ulama Al-Azhar pada tahun 192618. Dan mendapat
kesempatanlah keduanya berkumpul dengan Ulama-ulama Mesir dan
pemimpin-pemimpinnya. Demikian juga Ulama-ulama yang datang dari Alam
Islamy yang lain; dari Turki, Yugoslavia, Polandia dan Transval. Sempat juga
beliau-beliau bertukar fikiran tentang hari depan agama Islam dan kaum
Muslimin dan hubungan Mesir dan tanah air mereka, dengan Syekh Husain
Wali dan Syekh Bachit Al-Muthi’iy. Dan mendapat kesempatan pula mereka
menziarahi Pemimpin Besar Mesir waktu itu, Sa’ad Zaghlul.
Setelah mendengar bagaimana hebat perjuangan mereka di tanah airnya
bagi menegakkan Islam, daripada murid-murid mereka yang telah
melanjutkan pelajaran di Mesir, bersetujulah Syekh Athaillah Affendy, bekas
Mufti Palestina waktu itu dan Syekh Khalil Al-Khalidi, Direktur Urusan Wakaf
di Irak dan Sayid `Abdul ‘Aziz As-Sya’alaby, pemimpin Tunis yang terkenal,
memberi mereka gelar Doctor Honoris Causa", karena Al-Azhar waktu itu
belum mempunyai peraturan untuk memberikannya. Dan anjuran inipun
disepakati oleh Syekh Husain Wali.
Dr Syekh ‘Abdullah Ahmad telah meninggal pada tahun 1934.
Adapun Syekh `Abdul Karim Amrullah, ayahku, tempat aku berhutang budi,
dan guruku yang telah menanamkan semangat perjuangan dalam dadaku
sehingga aku dapat menjadi manusia yang bermanfaat, maka setelah beliau
pulang dari Mesir itu, perjuangan beliau bertambah pesat dan pengaruhnya
bertambah besar dan murid-muridnya bertambah banyak.
Dalam pada itu beliau sekali-kali tidak rela menundukkan kepalanya kepada
kekuasaan penjajahan Belanda. Berkali-kali beliau menolak peraturan-
peraturan yang diperbuat pemerintah Belanda yang akan mengekang
perkembangan Islam. Dan akibatnya, beliau diasingkan dari tanah air, tumpah

18 Mutamar Khilafah Islamiyah diselenggarakan di Mesir dalam rangka menyikapi runtuhnya Khilafah
Turki Utsmani 2 tahun sebelumnya. Mutamar ini dihadiri pemimpin dunia Islam se-dunia saat itu,
maka berangkatlah utusan dari kaum muslimin negeri ini, yaitu H.O.S Tjokroaminoto, Syekh Abdul
Karim dan Syekh Abdullah Ahmad. Pada saat hampir bersamaan Kerajaan Saudi Arabia yang baru
berdiri juga mengadakan Mutamar besar dalam rangka berdirinya kerajaan baru. Dengan
kecerdikannya HOS Tjokroaminoto berpisah dengan Syekh Abdul Karim dan Syekh Abdullah Ahmad
ditengah perjalanan sehingga beliau pamit untuk hadir sebagai perwakilan Mutamar Saudi.

– 28 –
darahnya, Pulau Sumatera ke Tanah Jawa pada tahun 1941. Maka timbullah
protes dari pendapat umum kaum Muslimin dan menuntut supaya
pembuangan itu dicabut. Akhirnya pemerintah Belanda mengakui terus terang
dihadapan Dewan Rakyat, bahwa beliau dibuang ialah karena pengaruhnya
kian lama kian besar di Minangkabau, sehingga selalu menghambat langkah-
langkah pemerintah untuk mentertibkan keamanan umum!
Belum sampai berapa lama beliau di Jawa, jatuhlah pemerintah Belanda dan
menyerah kepada penyerbuan Tentara Jepang dan sejak itu Jawa dikuasai
Jepang.
Waktu itu berjumpalah beliau dengan sahabat lamanya Syekh Ahmad
Soorkati yang telah buta. Maka berceritalah Syekh Ahmad Soorkati bahwa
satu diantara kedua mata beliau ditimpa sakit yang amat sangat, lalu dibawa
kepada seorang dokter Belanda. Setelah diperiksa dokter itu menyatakan,
bahwa supaya hilang sakitnya hendaklah mata yang sebelah lagi dibuang.
Maka dicukillah mata yang sakit pertama dan mata yang kedua, dan hilanglah
sakit sama sekali, tetapi beliau telah buta tidak bermata lagi. Syekh Ahmad
Soorkati meninggal pada tahun 1943.
Setelah Jepang berkuasa, didirikannyalah suatu majlis Ulama-ulama dan
diadakanlah beberapa pertemuan. Satu kali diadakan pertemuan di Bandung
dan ayahku termasuk orang yang diundang. Sebelum majelis dibuka,
diperintahkanlah sekalian yang hadir supaya berdiri tegap dan ruku’
menghadapkan muka kearah Istana Mikado di Tokyo.
Semua orangpun berdiri tegap dan melakukan ruku’ karena paksaan dan
memelihara hidup masing-masing, kecuali seorang saja, yaitu guruku dan
ayahku itu, Syekh `Abdul Karim Amrullah. Timbullah cemas semua orang
karena teringat akan bahaya besar yang akan menimpa diri beliau, dan pihak
kekuasaan Jepang sendiripun tidak tahu apa yang akan dilakukannya
terhadap diri beliau. Namun beliau menunggu saja akan nasibnya dengan
tenang dan tenteram. Majelispun akhirnya bubar dan semua orangpun
kembali ketempatnya masing-masing. Setelah itu banyaklah ‘ulama dan
pemimpin datang menziarahi beliau mengucapkan selamat, sebab tidak
dianiaya Jepang. Ada yang terus terang menyatakan cemas dan ada yang

– 29 –
menangis, karena takut kalau-kalau hal ini akan berekor panjang juga, yaitu
hukuman mati. Tetapi beliau tetap tenang dan tenteram, bahkan bersyukur
sesudah itu. Sebab setiap ada pertemuan demikian, beliau tidak diundang
lagi, sebab beliau telah mempunyai azzam jika diundang hadir dengan paksa,
namun beliau tidak juga akan melakukan ruku’ itu.
Maka datanglah saya dari Sumatera menziarahi beliau dan mencium tangan
beliau. Lalu saja tanyakan : Tidakkah ayah merasa takut pada waktu itu akan
dihukum mati ?"
Beliau menjawab : Yang ayah takuti bukanlah mati, hai anakku. Yang ayah
takuti ialah sesudah mati".

Tetapi pihak kekuasaan Jepang tidaklah menangkap dan membunuhnya,
karena mereka telah mengetahui bagaimana besar pengaruhnya dikalangan
rakyat.
Berkata Dr. Mohammad Hatta, pemimpin besar Indonesia itu Itulah
permulaan dari pemberontakan rakyat Indonesia terhadap kekuasaan Jepang
dari segi ruhani !"

– 30 –
Maka datanglah menemuinya beberapa orang Opsir Tinggi Jepang, meminta
kepadanya menulis hakikat ajaran agama Islam, supaya mereka dapat
menjaga perasaan kaum Muslimin setelah mereka ketahui. Maka beliau
tulislah sebuah risalah kecil, beliau namai Hanya Allah Tuhanku". Beliau
serahkan risalah itu kepada mereka, tembusannya diperbanyak dan disiarkan
dengan sembunyi dalam kalangan Islam, karena risalah yang diserahkan
kepada Jepang itu rupanya hanya untuk mereka saja !
Ayahku dan guruku itu, Syekh `Abdul Karim Amrullah, meninggal 2 bulan
sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, yaitu 21 Juni
1945, dalam usia 68 tahun. Maka tidaklah beliau meninggalkan harta benda
untuk kami, anak-anak, dan warisannya yang dapat kami bagi-bagikan
menurut hukum faraidl, tetapi beliau telah meninggalkan kekayaan rohani
yang amat besar bagi kaum Muslimin, yaitu murid-murid dan murid daripada
murid-muridnya. Diantaranya ialah tiga orang besar yang sekarang tengah
berjuang melanjutkan cita-cita beliau, yaitu Syekh `Abdul Hamid Hakim di
Padang Panjang19, Syekh Ahmad Rasjid St. Mansyur, Ketua Umum
Muhammadiyah dan Syaikhah Rahmah El-Yunusyah, pendidik Islam yang
terkenal itu.

Syekh Mohammad Jamil Jambek.
Meskipun kawan-kawan beliau telah hilang satu demi satu, dan beliau telah
tinggal seorang diri dan telah tua, namun beliau tidaklah berhenti melanjutkan
perjuangan memberi bimbingan bagi ummat Islam di Minangkabau itu, tempat
bertanya, meminta fatwa dan berkat. Beliau masih mendapati pecahnya
Revolusi Besar Indonesia 1945 itu. Meskipun usia beliau telah meningkat 80
tahun, masih sempat beliau memberikan sumbangan rohani kepada revolusi.
Seorang putra beliau, beliau serahkan menjadi tentara dan mencapai pangkat
Kolonel. Dan beliau dirikan pula sebuah Badan Perjuangan bernama
Sabilillah", dan beliau sendiri memegang pimpinannya. Meskipun beliau tidak
ikut kemedan perang, namun seluruh pejuang yang akan berangkat,
berkumpul dahulu disuraunya dan meminta fatwanya. Dan beliau kumpulkan

19 Ketika pidato HAMKA ini dibukukan beliau telah pulang ke Rahmatullah (Penerbit).

– 31 –
bantuan bekal dari orang kampung untuk dikirim ke medan perang. Oleh
karena pekerjaan yang berat itu, padahal usia beliau sudah sangat landjut,
maka beliau telah meninggal pada 31 Desember 1947, akibat sakit
longontsteking.

Syekh Thaher Jalaluddin.
Adapun Syekh Thaher Jalaluddin, pelopor pertama dari faham ‘Abduh ditanah
Melayu dan di Indonesia itu, adalah yang paling tua usianya diantara mereka,
paling dahulu mengambil langkah dan paling kemudian wafatnya. Setelah
beliau pulang ke Semenanjung Tanah Melayu ditahun 1924, maka kembalilah
beliau ketanah tumpah darah beliau sekali lagi ditahun 1927. Baru saja beliau
datang, langsung ditahan oleh Belanda dan meringkuk dalam penjara dekat
setahun. Tetapi karena tidak cukup alasan tuduhan, beliaupun dilepaskan
kembali dan pulang pula ke Malaya. Sampai disana tidaklah berhenti kegiatan
dan perjuangan beliau. Pernah beliau memimpin Harian Saudara" di Pulau
Penang dan mengeluarkan buku-buku tentang agama dan mengajarkan Ilmu
Falak. Kadang-kadang beliau di Singapura, kadang-kadang di Pulau Pinang
dan kadang-kadang di Kuala Kangsar, Perak bersama anak-anaknya, sampai
tuanya. Maka pada bulan Oktober tahun 1956 yang dekat ini, wafatlah beliau
dalam usia 97 tahun.

Syekh Ahmad Hassan.
Yang masih hidup, Alhamdulillah, ialah Syekh Ahmad Hassan di Bangil.
Beliau adalah yang paling muda dari mereka dan paling terakhir timbulnya
dengan perserikatan Persatuan Islamnya ditahun 1928. Adalah beliau sebaik-
baik khalaf daripada sebaik-baik salaf.
Beliau tetap melanjutkan jihad dan berdiam di Bangil, mengarang dan
menerbitkan sendiri karangannya dan menyiarkannya kepada umum, lebih-
lebih dikalangan pengikut beliau yang setia. Tetapi sejak beberapa tahun
yang akhir ini, beliau ditimpa sakit pada kakinya, sehingga terpaksa sebelah
kaki beliau dipotong dan ditukar dengan kayu. Tetapi pertukaran kaki itu
tidaklah mempengaruhi kegiatan beliau menyiarkan Islam. Mengarang,

– 32 –
menyiarkan pendapat dan memperteguh ‘aqidah Islam, dan kalau perlu
bertukar fikiran dan berdebat, berhadapan dengan lawan beliau, sampai
lawan itu tunduk mengaku salah atau kalah.
Laksana Syekh Djar-ul Lah Az-Zamakhsyari, pengarang Tafsir Al-Kasysyaf"
yang terkenal. Kuat hatinya, kuat hujjahnya dan pahit kritiknya, kalau perlu
terhadap kawannya sendiri dengan jujurnya. Sehingga seperti Syekh
Zamakhsyari itu, bila terdengar saja kaki kayunya dari jauh, orang sudah
bertanya-tanya : Beliau sudah datang ! Apakah pula masalah baru yang
hendak beliau perdebatkan ?"
Semoga Tuhan melanjutkan usia beliau untuk mempertahankan Islam dan
menyerang beku dan jumud, memberantas taqlid !

– 33 –
BAB

V

PENUTUP

Sudah hampir sampai saya kepada penutup muhadharah (ceramah) ini, yang
saja ucapkan dalam bahasa Arab, tetapi lidah Indonesia ! Saya sudah
berusaha hendak sampai kedalam hati tuan-tuan dalam pemakaian bahasa
ini dengan segenap kesanggupan yang ada pada saja. Saya mengharap
saudara-saudaraku semuanya akan memberi ‘uzur atas diriku jika kurang
bagus saya mengucapkannya.
Semoga cintaku kepada bahasa ini dapatlah menutupi kekurangan itu.
Karena bahasa Arab adalah bahasa yang mula-mula menyelinap kedalam
telingaku sebelum aku mendengar bahasa ibuku sekalipun. Karena setelah
bidan memberitahu ayahku bahwa beliau telah mendapat putera laki-laki dan
saya dibawa kehadapannya, maka yang mula beliau bacakan ditelinga saja
ialah Allahu Akbar – Allahu Akbar, La Ilaha Ill-Allah".
Dan sesudah saya berangsur besar, saya beliau ajar mengaji Al-Quran. Kalau
terpaksa maka dengan cambuk beliau memperbaiki makhraj huruf dari lidah
saya waktu saya disuruh membaca Al-Quran itu. Lantaran itu saya telah cinta
kepada bahasa `Arab dan kepada bangsa `Arab, dan teringatlah saja kepada
syair Sayid Mustafa Ghalayini, Mufti Negeri Beirut yang telah almarhum
Qalu tuhibbul ‘Urba qultu uhibbuhu
Hubban yukallifuni dami wa syababi
Mahma laqiitu urinal azaa fi hubbihi
Ashbir lahu wal majdu mil-u ihaabi".
Orang bertanya : Apakah engkau cinta kepada Arab ? Saya Jawab :
Memang aku cinta.
Cinta yang meminta darahku dan mudaku.

– 34 –
Apa juapun derita yang kutanggung lantaran cinta itu,
akan kuterima dengan sabar. Dan Kemuliaan memenuhi keruntungku".
Itulah mereka, wahai tuan-tuan yang mulia, orang-orang yang telah
menyebarkan ajaran dan fikiran dan cita Syekh Muhammad `Abduh ditanah
air kami, bumi Melayu dan Indonesia. Dan kami pada hakikatnya adalah satu.
Cuma penjajahan Inggeris dan Belanda saja yang memisahkan kami, dan
sekarang keduanya telah merdeka dan telah mulai bertemu kembali dalam
alam kemerdekaan. Maka faham Muhammad ‘Abduh itu kian lama kian
menanglah dan kian terhujam, dari hari menuju hari, dan tahun menjelang
tahun. Orang-orang dan golongan yang dahulunya menentang, sekarang
dengan diam-diam telah menurut, meskipun kadang-kadang lidahnya masih
membantah. Dan ini adalah kebenaran, dan kebenaran lebih kuat daripada
rasa benci dan sayang manusia.
Dan tidaklah saya melebihi hakikat jika saya katakan bahwa Sayid
Djamaluddin Al-Afghany dan Syekh Muhammad ‘Abduh, dan Sayid Rasyid
Ridha, ditambah dengan Sayid ‘Abdur Rahman El-Kawakibi dan Al-Amir
Syakib Arselan dan lain-lain telah turut memasukkan saham yang bukan
sedikit dalam kebangunan bangsa Indonesia dan membangkitkan semangat
Islam, sehingga terbentuklah suatu ideologi Islam yang progressif, sebagai
bahagian dari perjuangan kebangsaan Indonesia, dan tidak terbelakang
pemimpin-pemimpin ideologi itu daripada kawan sebangsanya yang semata-
mata mendapat didikan Barat saja. Maka tercapailah kemerdekaan Indonesia
dan merdekalah kami dari penjajahan 17 Agustus 1945.
Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Ia memberikan
peluang bagi tuan-tuan yang mulia suatu waktu dapat menziarahi negeri
kami, yang telah dilimpahi karunia keindahan alam, kesuburan tanahnya dan
nyaman udaranya. Musimnya kembang selalu, tidak ada musim panas yang
bersangatan, tidak ada musim dingin yang berlebihan.
Disana akan tuan saksikan ditiap tempat, ditiap kantor-kantor dan pejabat
gerakan Islam, sekolah-sekolah Islam dan organisasi Islam, tergantung
gambar Syekh Muhammad ‘Abduh ditempat yang istimewa. Dan namanya

– 35 –
tidak lepas dari lidah setiap orang yang mengenal arti perjuangan
kebangunan Islam.
Jika Khadewi Abbas Helmi telah menyingkirkannya dari istana pada tahun
1905, dan meninggal di Iskandariyah, meninggalkan duka dan luka dalam hati
kaum Muslimin dari Timur sampai ke Barat, maka roh ajaran dan citanya telah
bangkit kembali dari dalam kuburnya dan terbang melayang dan akhirnya
hinggap dipulau-pulau yang hijau dan subur itu, yang terletak digaris
Khattulistiwa, yang oleh Multatuli, seorang penyair Belanda, dinamai Pending
Bertatahkan Zamrud", dan penyair lain pernah menamainya dokoh berlian di
leher Asia", dan saya menamainya : Sepotong daripada syurga dipindahkan
ke dunia".
Disana didaerah yang indah permai itu telah bangkit ajaran Ustazul Imam,
Muhammad ‘Abduh, yang kami jadikan pedoman didalam perjuangan kami
menghadapi hidup dan mempertahankan ajaran-ajaran Islam. Disana, ditanah
airku yang kucintai, Indonesia !
Kaum Muslimin di Indonesia umumnya dan penjunjung cita-cita Muhammad
‘Abduh khususnya, telah pernah merasa bahagia karena ziarahnya beberapa
orang-orang Besar Mesir, dan telah mereka saksikan sendiri pertikaian oleh
karena cita-cita itu, baik di Samatera atau ditanah Jawa. Sejak dari
kedatangan Dr Syekh ‘Abdur Rahman Taj, Syekh Jami’ AI-Azhar dan
rombongan, lalu kepada kedatangan Sayid Anwar Sadat, Sekretaris Umum
Mu’tamar Islamy, kemudian Misi Kebudayaan Mesir yang terdiri dari pada
ahli2 fikir Mesir yang utama, diantaranya ialah Dr Osman Amin, penyelidik
seksama dari riwayat perjuangan Syekh Muhammad ‘Abduh.
Datanglah lagi dan dipersilahkan lagi. Kami tidaklah bangsa yang sulit
dipergauli. Dengan ucapan Assalaamu ‘alaikum" saja, cukuplah untuk
membuka kunci hati kami !
Maka sebagai penutup dari muhadlarah ini, moga-moga kiranya laksana
penutup narwastu kasturi, saya sampaikanlah ucapan syukur terima kasih
saya kepada Mu’tamar Islamy dan Sekretaris Umumnya Sayid Anwar Sadat,
dan sekalian pembantu dan stafnya yang telah membukakan kesempatan
bagiku menziarahi Mesir dizaman barunya yang gemilang ini.

– 36 –
Dan sampai dipertemuan didalam gedung Asy-Syubbanul Muslimun dimalam
bahagia ini, bertambahlah kesyukuran saya sebab dapat pula berjumpa
dengan Ketuanya, pejuang terkenal Jendral Saleh Harb. Dan berkumpul pula
dengan `ulama’ terkemuka, terutama dengan Sahibul Fadhilah Syekh
Mahmoud Syaltut, Wakil Ketua Jami’ Al-Azhar, dan Sahibul Fadhilah Dr
Syekh ‘Abdullatief Drazz dan lain-lain. Dan berkumpul pula dengan Guru-guru
Besar dan ahli=ahli fikir yang penting. Dan semua kejadian penting ini adalah
atas usaha Duta Besar Mesir di Indonesia, Sayid Ali Fahmi Al-Amrousi.
Dan ziarah saja yang berbahagia ini telah mencapai puncaknya seketika saya
dapat menyaksikan sesudut dari pada Bumi Islam yang telah hilang 75 tahun,
yaitu Terusan Suez, telah kembali ketangan Mesir, bahkan telah kembali
ketangan Islam : Hazihi bidha’atuna ruddat ilaina" (Inilah harta-benda kita,
telah kembali ketangan kita). Dan hal itu adalah karena kebijaksanaan
Pemimpin dan Presidan Mesir, Jamal ‘Abdel Nasser !
Dan sesudah Terusan Suez kembali dengan kemudahan yang diberikan
Allah, saya percaya bahwa Allah memberikan kemudahanNya pula dalam
masa yang dekat; yaitu kembalinya Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi
Indonesia.
Insya Allah !
Hidup Indonesia !
Hidup Mesir I

– 37 –

Leave a Reply