Pidato Pengukuhan Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto

PENGELOLAAN SEDIMENTASI WADUK
DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN
SUMBER DAYA AIR BERKELANJUTAN




UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada


Oleh:
Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto

2
PENGELOLAAN SEDIMENTASI WADUK
DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN
SUMBER DAYA AIR BERKELANJUTAN




UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada


Disampaikan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar
Universitas Gadjah Mada
pada Tanggal 7 April 2010
di Yogyakarta


Oleh:
Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto

3
PENGELOLAAN SEDIMENTASI WADUK
DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN
SUMBER DAYA AIR BERKELANJUTAN

Pendahuluan
Air sebagai sumber daya alam yang diperlukan untuk memenuhi
hajat hidup orang banyak merupakan komponen yang sangat penting
bagi kehidupan manusia, karena setiap kegiatan manusia tidak dapat
lepas dari kebutuhan akan air. Air digunakan untuk memenuhi
kebutuhan pokok sehari-hari, untuk pertanian, untuk pembangkit
listrik tenaga air, dan untuk memenuhi berbagai kebutuhan air lainnya.
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, perkembangan
industri yang pesat, dan kebutuhan listrik yang terus bertambah
menuntut kebutuhan air yang semakin meningkat pula. Untuk
mengantisipasi peningkatan kebutuhan air tersebut, diperlukan
pembangunan sumber daya air yang meliputi konservasi sumber daya
air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air
(UU SDA No. 7 Tahun 2004), yang diantaranya dapat dilakukan
melalui pembangunan waduk dan bendungan.
Pembangunan waduk dan bendungan merupakan salah satu
kegiatan yang paling penting bagi pembangunan sumber daya air.
Waduk dan bendungan, disamping dapat mengatasi sebagian
kebutuhan air bagi masyarakat, menyimpan air pada saat air berlebih,
memasok air waktu kekurangan, mengendalikan daya rusak air waktu
banjir, juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air
lainnya seperti misalnya untuk pengisian kembali air tanah.
Pembangunan waduk dan bendungan selain dapat memberikan
banyak manfaat bagi manusia, juga menyimpan potensi bahaya yang
sangat besar, yang bila tidak diantisipasi dengan baik dapat
mengancam keselamatan masyarakat luas, khususnya mereka yang
tinggal di hilir waduk. Pembangunan waduk dan bendungan
membutuhkan investasi yang sangat besar, dan tidak menutup
kemungkinan dalam pembangunannya harus menenggelamkan daerah
pemukiman, daerah pertanian, dan peninggalan-peninggalan
4
bersejarah, sehingga harus dikelola secara efisien dan berkelanjutan.
Dari sisi pandang sedimentasi, keberadaan waduk dan
bendungan akan mengakibatkan terjadinya pengendapan sedimen di
dalam waduk, yang dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan
sementara antara sedimen yang masuk dan yang keluar dari waduk.
Jika tidak diantisipasi upaya pengelolaannya, keseimbangan sedimen
pada waduk tidak akan terbentuk kembali, sampai kapasitas waduk
terisi seluruhnya oleh endapan sedimen. Seiring dengan waktu, waduk
akan terisi dengan sedimen. Semakin bertambah endapan sedimen,
waduk menjadi semakin kurang efektif sehingga tidak dapat lagi
beroperasi sebagaimana direncanakan. Sudah banyak waduk yang saat
ini telah mencapai, atau akan segera mencapai usia manfaat waduk.
Usia manfaat (useful life) dari sebuah waduk tergantung pada
banyak faktor, yang diantaranya pada jumlah endapan sedimen yang
masuk ke dalam waduk. Banyak waduk besar yang dibangun tanpa
dukungan evaluasi jangka panjang secara menyeluruh terkait dengan
aspek keberlanjutannya. Selama ini, konsep tampungan mati (dead
storage
) sering digunakan sebagai dasar untuk perencanaan waduk,
dimana usia manfaat waduk ditetapkan berdasarkan periode waktu,
berapa lama volume tampungan mati akan terisi oleh sedimen.
Di masa yang akan datang, untuk mengantisipasi meningkatnya
jumlah kebutuhan air, diperkirakan masih banyak waduk yang akan
dibangun, terutama di negara-negara berkembang. Bagaimana
merencanakan, merancang, membangun, dan mengoperasikan waduk
secara berkelanjutan untuk generasi yang akan datang merupakan
tantangan kita bersama, khususnya para ahli sumber daya air dan para
pembuat kebijakan.
Marilah kita renungkan sejenak, apakah yang akan terjadi nanti,
pada waktu waduk-waduk yang ada saat ini sudah penuh terisi
sedimen, dan sudah tidak dapat lagi dioperasikan? Mungkinkan dicari
sumber air pengganti untuk melayani berbagai manfaat yang selama
ini mendapatkan air dari waduk. Barangkali beras yang kita makan
selama ini tumbuh di lahan-lahan irigasi yang mendapatkan airnya
dari waduk. Listrik yang selama ini kita nikmati, mungkin berasal dari
pembangkit listrik tenaga air. Apakah yang akan terjadi beberapa
puluh tahun ke depan, pada saat lahan-lahan irigasi sudah tidak lagi
5
mendapatkan air dari waduk, turbin-turbin sudah tidak bisa
digerakkan karena energi air sebagai tenaga penggerak turbin sudah
tidak mencukupi? Ancaman-ancaman ini akan bisa kita hindari atau
kita tunda kejadiannya, bilamana kita bisa mempertahankan
keberlanjutan fungsi dari waduk-waduk yang sudah ada.
Pada kesempatan pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya
menyampaikan berbagai permasalahan dan strategi untuk dapat
memfungsikan waduk secara berkelanjutan, serta contoh-contoh
kegagalan dan keberhasilan pengelolaan sedimentasi waduk di dunia.
Ketersediaan Air dan Ancaman Kelangkaan Air di Bumi
Meskipun sekitar 70% permukaan bumi ini ditempati oleh air,
namun ternyata 97,5%-nya merupakan air asin yang tidak dapat
langsung dikonsumsi oleh manusia, dan sisanya, hanya 2,5% berupa
air tawar (fresh water). Bumi kita ini diperkirakan menyimpan air
sekitar 1.400 juta km3, dengan demikian, hanya sekitar 35 juta km3 air
di bumi ini yang merupakan air tawar (FAO, 2002). Dari total air
tawar di bumi ini, sekitar 68.9% berada dalam bentuk glasier atau
salju abadi di kutub utara dan selatan, dan sisanya berupa air tanah di
dalam tanah yang dalam, dan air permukaan yang ada di danau-danau
dan di sungai-sungai di bumi. Dengan demikian, air tawar yang benar-
benar bisa langsung dikonsumsi oleh manusia sangatlah sedikit.
Diperkirakan dalam setahun hanya sekitar 9.000 sampai 14.000 km3
air tawar yang tersedia dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Suatu
jumlah yang sangat sedikit, yaitu hanya sekitar 0,026 – 0,040%,
apabila dibandingkan dengan potensi air tawar yang ada di bumi ini.
Saat ini, pengambilan air tawar dari alam diperkirakan mencapai
5.950 km3 per tahun, yang terdiri dari penggunaan air tawar oleh
manusia sebanyak 3.600 km3, dan air tawar yang masih harus
dipertahankan untuk kesinambungan ekologi sungai dan konservasi
ekosistem air mencapai sekitar 2.350 km3 per tahun (FAO, 2002).
Tantangan yang dihadapi sumber daya air di bumi ini sangatlah
menakutkan. Dari sekitar 9.000 sampai 14.000 km3 air yang dapat
dimanfaatkan, pemanfaatan air masih menghadapi permasalahan yang
amat mendasar, yaitu adanya variasi musim dan ketimpangan spasial
6
ketersediaan air antara musim hujan dan musim kemarau. Juga
terbatasnya dan relatif tetapnya jumlah air tawar yang dapat
dieksplorasi dan dikonsumsi di bumi ini, sementara jumlah penduduk
dunia terus bertambah, dan kerusakan lingkungan termasuk kerusakan
sumber daya air, ada kecenderungan terjadi secara konsisten.
Selama satu abad terakhir, populasi dunia telah meningkat lebih
dari tiga kali lipat, yaitu dari 1,6 miliar menjadi lebih dari 6 miliar,
sementara pemakaian air global meningkat lebih dari lima kali lipat,
sedangkan ketersediaan air yang ada relatif tetap (Morris and Fan,
1997). Peningkatan jumlah penduduk dunia ini tidak hanya akan
meningkatkan konsumsi air tawar dunia, akan tetapi juga kebutuhan
akan bahan pangan, yang pada gilirannya akan membutuhkan lebih
banyak air untuk pertanian, air untuk industri, dan air bersih, yang
kesemuanya berujung pada kebutuhan air yang lebih banyak lagi di
masa-masa yang akan datang.
Salah satu implikasi terbesar dari kelangkaan air adalah jaminan
kesinambungan ketahanan pangan. Dari sekitar 3.600 km3 air yang
dikonsumsi manusia per tahun, sekitar 69% diantaranya dipergunakan
untuk sektor pertanian bahkan di Asia mencapai rata-rata sekitar
83% , sedangkan sisanya sebesar 21% untuk industri, dan 10% untuk
sektor perkotaan (FAO, 2002). Di Indonesia sendiri, kebutuhan air
untuk irigasi saat ini mencapai 80%, dan pada tahun 2020 kebutuhan
air untuk keperluan irigasi diperkirakan masih mencapai 74,1% dari
total kebutuhan air (Bappenas, 2009). Sedangkan di Yogyakarta,
tepatnya di Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo, pemakaian air untuk
irigasi saat ini mencapai 82% (Yulistiyanto dan Kironoto, 2008).
Pembangunan Sumberdaya Air Berkelanjutan
Istilah pembangunan berkelanjutan pertama kali muncul pada
tahun 1980 dalam World Conservation Strategy dari the International
Union for the
Conservation of Nature (IUCN). Istilah tersebut
kemudian menjadi sangat populer ketika pada tahun 1987 the World
Commision on Environment and Development
atau dikenal sebagai
Brundtland Commision menerbitkan laporan berjudul Our Common
Future
(Morris dan Fan, 1997), yang menyatakan bahwa
7
pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang bisa
memenuhi kebutuhan generasi pada saat ini tanpa mengurangi
kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan saat ini telah menjadi
agenda internasional, dan dapat dikatakan hampir semua negara di
dunia, baik negara-negara maju maupun negara-negara berkembang
telah menyadari betapa pentingnya melaksanakan konsep
pembangunan berkelanjutan. Munculnya isu-isu seperti perubahan
iklim global, penipisan lapisan ozon, menurunnya keanekaragaman
hayati, menurunnya kualitas lingkungan, dll, menjadi bukti tentang
betapa pentingnya melaksanakan konsep pembangunan berkelanjutan.
Banyak interpretasi konsep keberlanjutan yang telah
dikembangkan oleh para pakar, yang diantaranya oleh Weiss (1993).
Weiss (1993) menafsirkan keberlanjutan dari sudut pandang hak-hak
dan kewajiban antar generasi. Tiga prinsip keadilan antar generasi
yang diusulkan oleh Weiss (1993), yaitu akses, kualitas, dan
pelestarian keanekaragaman, dapat ditulis kembali dalam konteks
keberlanjutan sumber daya air sebagai kuantitas, kualitas, dan
keanekaragaman. Dari sudut pandang perencanaan dan pengoperasian
waduk, pembangunan sumber daya air dikatakan berkelanjutan
apabila akibat pembangunan waduk , kuantitas dan kualitas sumber
daya air dalam jangka panjang tidak berubah secara signifikan, dan
keanekaragaman habitat alami dan ekosistemnya masih tetap terjaga.
Dalam konteks kuantitas, penyediaan tampungan waduk
memungkinkan untuk dilakukan pengaturan inflow aliran yang tidak
teratur, untuk dapat dimanfaatkan dan diatur sesuai kebutuhan.
Sebagian besar waduk yang ada saat ini dirancang dan dioperasikan
atas dasar pengoperasian dalam jangka waktu tertentu. Konsep
keberlanjutan mensyaratkan bahwa pengoperasian waduk dalam
jangka waktu tertentu harus diubah dengan pandangan bahwasanya
pemanfaatan waduk harus dilakukan secara berkelanjutan untuk
jangka waktu yang panjang. Dalam konteks kualitas, konsep
keberlanjutan mengatur kegiatan pengelolaan waduk dan daerah
tangkapan air waduk sedemikian sehingga kualitas air waduk dan air
sungai di bagian hilir bendungan dapat terkendali. Dalam konteks
keanekaragaman, adanya tampungan yang terbentuk oleh bangunan
8
bendungan dipahami dapat mengakibatkan perubahan habitat dan
rantai makanan dari ekosistem, dan menghalangi migrasi spesies-
spesies tertentu dalam suatu sistem sungai. Meskipun keberadaan
waduk dan bendungan bukan merupakan satu-satunya ancaman
terhadap ekosistem sungai, namun pengaruh waduk dan bendungan
bisa dikatakan sangat besar dan permanen terhadap ekosistemnya.
Mempertahankan keanekaragaman tidak berarti menghentikan atau
menghindari pembangunan waduk dan bendungan sama sekali, namun
yang lebih penting adalah bagaimana menjaga keseimbangan suatu
sistem sungai yang dikembangkan, dengan upaya pelestarian secara
permanen dari sungai-sungai yang tidak dikembangkan. Konsep
keanekaragaman juga mencakup keanekaragaman budaya, dimana
pembangunan waduk dan bendungan dapat berdampak pada relokasi
penduduk dan disintegrasi budaya yang sudah berkembang, yang
harus dipikirkan upaya antisipasinya (Morris dan Fan, 1997).
Pembangunan Waduk dan Bendungan Masih Dibutuhkan
Dari hasil inventarisasi oleh ICOLD (The International
Commission on Large Dams), pada tahun 2003 tercatat jumlah
bendungan besar sebanyak 49.697 (ICOLD, 2003). Dari 49.697
bendungan yang sudah terbangun, 155 diantaranya merupakan
bendungan dengan tinggi lebih dari 150 m. Bendungan tertinggi di
dunia saat ini berada di Tadjikistan, yaitu Bendungan Nurek dengan
tinggi 300 m. Bendungan dengan pembangkit listrik tenaga air
terbesar di dunia adalah Bendungan Three Gorges di Cina, dengan
kapasitas terpasang sebesar 18.200 MW, disusul Bendungan Itaipu di
Brazil dan Paraguay, dengan kapasitas 12.600 MW. Total
pembangkitan listrik tenaga air dari waduk-waduk di dunia adalah
sebesar 728,5 GW (Guo, 2007), dan baru sekitar 20% dari total
kebutuhan listrik dunia saat ini diperoleh dari pembangkit listrik
tenaga air. Norwegia merupakan negara dengan persentase pemakai
listrik tenaga air terbesar di dunia, dimana hampir 99% dari kebutuhan
listrik di negaranya dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga air.
Indonesia yang mempunyai potensi pembangkit listrik tenaga air
sebesar 70.000 MW, saat ini potensinya baru dapat dimanfaatkan
9
sekitar 6% atau 3.529 MW, atau sekitar 14,2% dari jumlah energi
pembangkitan PT PLN (Kirmanto, 2008).
Dibandingkan dengan pembangkit listrik yang lain, pembangkit
listrik tenaga air (PLTA) mempunyai beberapa kelebihan, yaitu lebih
bersih, dimana setiap tahunnya dapat mengurangi pembakaran sekitar
22 milyar gallon minyak, atau 120 juta ton batu bara (Guo, 2007).
PLTA juga merupakan salah satu sumber energi listrik yang paling
sedikit menimbulkan pengaruh terhadap gas efek rumah kaca, yaitu 60
kali lebih kecil dari pembangkit listrik tenaga batu bara, dan 18 kali
lebih sedikit dari pembangkit listrik tenaga gas alam. PLTA juga
menjadi jawaban untuk pembangkit tenaga yang tidak menghasilkan
CO2 seperti dihasilkan bahan bakar fosil. Meskipun dibutuhkan biaya
investasi yang besar, biaya operasional dan biaya pemeliharaan PLTA
relatif paling murah, dimana biaya per kwh listrik dari PLTA adalah
sekitar 50% dari biaya PLTN (nuklir), 40% minyak bumi, 25% gas
alam, dan tidak terpengaruh naik turunnya harga minyak (Guo, 2007).
Memperhatikan banyaknya manfaat yang bisa didapat dari
pembangkitan listrik tenaga air, dan jumlah kebutuhan air yang terus
meningkat dari waktu ke waktu, seperti halnya negara-negara lain di
dunia, ke depan, Indonesia masih banyak membutuhkan waduk dan
bendungan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan air irigasi dan air
untuk pembangkitan listrik. Dibandingkan dengan negara-negara asia
lainnya, seperti Cina, India, dan Jepang, jumlah bendungan yang
dimiliki Indonesia saat ini masih jauh dari mencukupi. Saat ini,
Indonesia baru mempunyai 128 waduk dan bendungan besar. Dari 128
waduk dan bendungan yang terbangun, baru dapat memenuhi sekitar
10% dari total kebutuhan air irigasi teknis, dan 14,2% dari jumlah
energi pembangkitan PT PLN (Kirmanto, 2009). Saat ini, Cina
merupakan negara dengan jumlah waduk dan bendungan paling
banyak di dunia, yaitu sebanyak 25.800, disusul Amerika Serikat,
8.724, Jepang 2.641, dan India 2.451 (ICOLD, 2003).
Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan memiliki
beberapa bendungan baru, diantaranya Bendungan Jatigede di Jawa
Barat, Bendungan Karian di Banten, dan Bendungan Benel di Bali.
Selain itu juga direncanakan pembangunan Bendungan Beriwit dan
Marangkayu di Kalimatan Timur, Bendungan Ponre-Ponre di
10
Sulawesi, Bendungan Haekrit di Nusa Tenggara Timur, dan
Bendungan Keuliling di Nanggroe Aceh Darussalam. Pemerintah juga
berencana membangun Bendungan Upper Cisokan pumped storage di
Jawa Barat, dan Bendungan PLTA Asahan 3 di Sumatera Utara
(Kirmanto, 2008).
Laju Sedimentasi Waduk Global
Studi tentang sedimentasi waduk sudah dilakukan sejak tahun
1930-an (Eakin dan Brown, 1939, dalam Moris dan Fan, 2001).
Namun, teknik pembangunan waduk dan bendungan pada waktu itu,
masih difokuskan pada isu struktural dari pada isu sedimentasi. Dalam
buku-buku literatur terkait, seperti buku Engineering of Dam,
karangan Creager (1945), sama sekali belum dimasukkan isu
permasalahan sedimentasi waduk. Juga dalam buku Design of Small
Dam
versi pertama yang dipublikasikan oleh US Bureau of
Reclamation
pada tahun 1960, isu permasalahan sedimentasi waduk
hanya diberikan dalam 1 halaman. Baru pada versi terbitan tahun
1987, isu tentang sedimentasi waduk sudah mulai dibahas cukup
banyak, meskipun hanya diberikan dalam lampiran.
Seiring dengan banyaknya permasalahan endapan sedimen di
dalam waduk, studi tentang sedimentasi waduk mulai banyak
mendapat perhatian. Pada konggres ke-19 the International
Commission on Large Dams
(ICOLD) tahun 1997, setidaknya sudah
ada 41 publikasi yang ditujukan pada pertanyaan kinerja waduk
terhadap permasalahan sedimentasi. Saat ini, meskipun sudah lebih
dari tujuh dasawarsa dilakukan penelitian tentang sedimentasi waduk,
permasalahan sedimentasi masih mengancam keberlanjutan fungsi
waduk (McCully, 1996). Laju sedimentasi waduk sering dinyatakan
dalam persen terhadap volume tampungan awal per tahunnya.

Mahmood (1987), mengacu pada hasil studi Bank Dunia, secara kasar
memperkirakan jumlah sedimen yang tertangkap di dalam waduk-
waduk yang ada di dunia setiap tahunnya adalah sekitar 60 km3, atau
1% dari kapasitas penyimpanan waduk global. Secara keseluruhan,
sampai dengan tahun 1986, diperkirakan sekitar 1.100 km3 endapan
sedimen telah terendapkan di dalam waduk-waduk di dunia, dan
11
diperkirakan sudah mengisi hampir seperlima dari kapasitas
penyimpanan waduk global (Mahmood, 1987). Laju kehilangan
tampungan waduk di beberapa negara Asia pada umumnya lebih
tinggi dari pada rata-rata dunia yang sebesar 1%, dan sangat bervariasi
dari negara yang satu ke negara yang lain, terutama karena adanya
perbedaan tutupan hutan dan kondisi geologinya. Cina dan India,
kehilangan sekitar 2,3% dan 0,5% dari kapasitas tampungan waduk
per tahunnya, sementara laju kehilangan tampungan waduk tahunan di
Jepang sekitar 0,15%, dan di Asia Tenggara sekitar 0,3%. Waduk-
waduk besar di Amerika Serikat kehilangan kapasitas tampungannya
pada tingkatan rata-rata sekitar 0,2% per tahunnya (White, 2001).
Seberapa besar kehilangan tampungan pada waduk-waduk di
Indonesia, belum sepenuhnya terinformasikan dengan baik. Beberapa
data tentang sedimentasi waduk di Indonesia telah dilaporkan dalam
beberapa tulisan, yang diantaranya ditulis oleh Kironoto (2000),
Suripin (2001), dan Legono dan Fathani (2006). Namun, data
sedimentasi waduk yang dilaporkan masih sangat terbatas, dan itupun
hanya pada waduk-waduk yang ada di Pulau Jawa. Dari data
sedimentasi 14 waduk yang diteliti, besarnya kehilangan tampungan
akibat sedimentasi adalah sekitar 1,28% setiap tahunnya (Kironoto
dan Yulistiyanto, 2010a). Dari data tersebut, waduk-waduk dengan
kapasitas kurang dari 200 juta m3 (Waduk Wlingi, Sermo, Lahor,
Sempor, Selorejo, dan Mrica), mengalami kehilangan tampungan
sekitar 2,05%, sedangkan untuk waduk-waduk dengan kapasitas di
atas 300 juta m3 (Waduk Sutami, Wadaslintang, Wonogiri, Kedung
Ombo, Saguling, Cirata, dan Jatiluhur), kehilangan tampungan per
tahunnya lebih rendah, yaitu sekitar 0,62%.
Hasil penelitian terhadap beberapa waduk di dunia menunjukkan
laju sedimentasi waduk seringkali lebih cepat dari yang direncanakan.
Data statistik terhadap sebelas waduk di India dengan kapasitas lebih
besar dari 1 km3, menunjukkan bahwa hampir semua waduk terisi
sedimen lebih cepat dari yang direncanakan, dengan rentang 130
1.650% (McCully, 1996). Juga beberapa waduk di Indonesia, sebut
saja Waduk Pangsar Sudirman (Mrica), Waduk Saguling, dan Waduk
Wonogiri, juga menghadapi permasalahan yang sama. Permasalahan
sedimentasi Waduk Wonogiri akhir-akhir ini banyak mendapat
12
sorotan dari media masa, sehubungan dengan terjadinya sedimentasi
waduk yang terlalu cepat, dimana waduk yang direncanakan dapat
beroperasi selama 100 tahun, ternyata sudah mengalami
permasalahan, meskipun waduk baru beroperasi selama 20an tahun.
Selama 22 tahun, dari tahun 1982 s/d 2004, laju sedimentasi waduk
Wonogiri rata-rata mencapai 7,5 juta m3 per tahun (Nippon Koei and
Yachiyo, 2005), jauh lebih besar dari yang diperkirakan di awal
perencanaan, yaitu sekitar 1,2 juta m3/tahun.
Disamping faktor kegagalan kegiatan konservasi di daerah
tangkapan air waduk, salah satu penyebab ketidakakuratan prediksi
sedimen dengan kenyataan yang terjadi pada saat waduk beroperasi,
adalah ketidakcukupan data yang digunakan, baik karena data sedimen
yang terlalu pendek atau karena kualitas data yang memang kurang
akurat. Dalam SNI 03-6737-2002 tentang metode perhitungan awal
laju sedimentasi waduk di Indonesia, disebutkan setidaknya
dibutuhkan data aliran dan data sedimen minimal 10 tahun untuk bisa
mengestimasi dengan baik sedimen yang masuk ke dalam waduk.
Bahkan, Mahmood (1987) mengusulkan perlunya data statistik
sedimen masa lalu dengan durasi setidaknya setengah dari proyeksi
usia rencana bendungan. Ketidakakuratan estimasi endapan sedimen
juga bisa disebabkan karena kualitas data yang kurang baik. Karena
banyaknya kendala lapangan, tidak jarang pengambilan sampel
sedimen pada suatu tampang sungai tidak dilakukan sesuai dengan
standar yang benar. Pengambilan sampel sedimen di sungai seringkali
hanya dilakukan pada posisi-posisi tertentu saja yang mudah di
jangkau, misalnya hanya di tepi-tepi sungai saja. Kondisi ini dapat
menimbulkan kesalahan yang relatif besar dengan kisaran antara 10 –
15% (Kironoto dan Yulistiyanto, 2010b). Meskipun banyak
ketidakpastian terhadap prediksi sedimentasi waduk terkait dengan
ketersediaan data, adalah sangat jarang adanya kasus penghentian
perencanaan bendungan hanya karena tidak cukupnya data sedimen.
Berapa Lama Waduk Dapat Dimanfaatkan ?
Pada waduk-waduk konvensional, yang belum menerapkan
konsep keberlanjutan, usia waduk terkait dengan pemanfaatannya
13
sering dilihat dari berbagai sudut pandang; saat ini kita mengenal
beberapa istilah usia waduk, yaitu usefull life, economic life, dan
usable life (Batuca dan Jordaan, 2001). Useful life didefenisikan
sebagai suatu periode waktu dimana kapasitas waduk masih
mencukupi untuk memberikan pelayanan sesuai dengan perencanaan
awal. Economic life menggambarkan suatu periode waktu dimana
biaya pemeliharaan waduk yang dikeluarkan tidak melebihi
keuntungan yang akan diperoleh dari waduk. Sedangkan usable life
didefinisikan sebagai suatu periode waktu dimana waduk masih dapat
melayani beberapa manfaat setelah terlewatinya economic life.
Disamping itu juga dikenal istilah reservoir half-life, yaitu waktu
yang dibutuhkan oleh sedimen untuk mengisi setengah dari kapasitas
tampungan waduk awal. Konsep reservoir half life dipandang lebih
realistik untuk mendefenisikan "usia pelayanan" waduk dari pada
usefull life, yang didasarkan pada kapasitas dead storage, karena
sesungguhnya meskipun kapasitas dead storage sudah penuh terisi
sedimen, waduk masih dapat memberikan pelayanan, walaupun
dengan tingkat pelayanan yang lebih rendah dari perencanaan awal.
Banyaknya konsep usia waduk menunjukkan adanya
ketidakpastian dalam mendefinisikan berapa lama sebenarnya
waduk dapat dimanfaatkan?.
Temuan arkeologi menginformasikan bahwa bendungan
sederhana dan sistem jaringan salurannya telah dibangun sejak tahun
2000an SM. Bahkan di Cina, bendungan dan sistem salurannya sudah
dibangun sejak tahun 2280 SM (ICOLD, 2007). Dari data temuan
arkeologi terakhir, diketahui bahwa ada beberapa bendungan tua yang
sampai sekarang masih dapat difungsikan. Salah satu bendungan
tertua yang sampai sekarang masih berfungsi adalah bendungan
urugan batu dan tanah yang dibangun sekitar tahun 1300 SM, di
wilayah yang sekarang bernama Suriah. Juga Bendungan Afengtang
di Cina, yang dibangun antara tahun 589 sampai dengan 581 SM,
sampai sekarang masih berfungsi. Bendungan The Sayamaike di
Jepang, yang dibangun pada awal abad ke-7, setelah mengalami
beberapa modifikasi, sampai sekarang juga masih dapat difungsikan.
Juga beberapa bendungan di Iran, yang dibangun antara abad ke-13
sampai dengan abad ke-16 juga saat ini masih berfungsi. Bahkan,
14
Schnitter (1994) membuat daftar adanya 12 bendungan kuno yang
dapat beroperasi setidaknya hingga 2000 tahun. Dengan melihat data
historis beberapa bendungan kuno yang sampai sekarang masih
berfungsi, barangkali kita akan bertanya, berapa lama sebenarnya
waduk bisa difungsikan ?. Kenapa waduk-waduk yang ada sekarang
ini hanya didesain untuk kurun waktu 50, 100, atau 200 tahun ?.
Kenapa tidak sampai 500 tahun, 1000 tahun, atau bahkan lebih ?.
Dengan tingkat pemeliharaan yang wajar, sesungguhnya usia
konstruksi dari suatu bangunan bendungan bisa dikatakan tidak
terbatas, sehingga tidak seharusnya waduk hanya didesain untuk
kurun waktu hanya 50, 100, atau 200 tahun saja.
Konsep Pemanfaatan Waduk Berkelanjutan
Konsep pemanfaatan waduk berkelanjutan, yang dikaitkan
dengan konsep pengelolaan sedimen yang seimbang, masih jarang
dimasukkan dalam proyek-proyek pembangunan bendungan. Sebagian
besar bendungan-bendungan yang ada di dunia saat ini masih didesain
dan dioperasikan dengan konsep tradisional, yaitu kondisi dimana
sedimen secara kontinyu masuk dan tertangkap di dalam waduk, tanpa
didukung upaya yang memadai untuk mencapai kondisi keseimbangan
sedimen. Dengan konsep tradisional ini, usia waduk menjadi sangat
terbatas, katakanlah 50 atau 100 tahun saja.
Kriteria keberlanjutan menyarankan untuk dapat mendesain
bendungan baru dengan estimasi usia operasional tidak hanya 50 atau
100 tahun sebagaimana konsep bendungan-bendungan yang ada saat
ini, namun dengan target usia operasional yang jauh lebih panjang,
katakanlah 1.000 tahun (Morris dan Fan, 1997; Zhou, 2007). Target
usia operasional hingga 1.000 tahun, akan dapat tercapai bilamana
keseimbangan sedimen yang masuk dan yang keluar waduk dapat
tercapai, dan dikombinasikan dengan penyediaan kapasitas tampungan
sedimen selama 1.000 tahun. Rekomendasi desain hingga 1.000 tahun
adalah merupakan kompromi antara usia operasional yang selama ini
biasa digunakan (sekitar 100 tahun) dan ketidakyakinan untuk
membuat proyeksi jangka panjang. Estimasi usia operasi waduk
hingga 1.000 tahun dianggap masih realistik untuk suatu bendungan,
15
dengan pertimbangan bahwa beberapa waduk bisa beroperasi hingga
lebih dari 1.000 tahun. Penetapan usia operasi waduk hingga 1.000
tahun sebenarnya hanya merupakan pendekatan, untuk dapat
mengantisipasi permasalahan sedimen dan memilih strategi
pengelolaan sedimen selama 1.000 tahun. Angka 1.000 tahun
mungkin masih bisa diperdebatkan, namun yang lebih penting
sebenarnya adalah bagaimana dapat memfungsikan waduk selama
mungkin untuk mendukung konsep pembangunan sumber daya air
secara keberlanjutan, dengan didukung berbagai strategi terkait
dengan pencapaian keseimbangan sedimen.
Proyek pembangunan Bendungan Three Gorges adalah contoh
pembangunan bendungan baru dimana konsep keberlanjutan sudah
diterapkan. Konsep pengelolaan sedimen secara seimbang sudah
diantisipasi, mulai dari tahap perencanaan awal, desain struktur
bangunan, metode pengelolaan sedimen, sampai dengan metode
operasional waduk. Melalui metode penelitian yang komprehensif,
seperti pengamatan lapangan, simulasi model matematika, uji model
fisik, dan analisis model analog, bendungan yang mempunyai panjang
tampungan 580 km ini diperkirakan setelah satu abad operasional,
pada saat sedimentasi waduk mencapai keseimbangan, kapasitas
tampungan waduk efektif masih akan terjaga pada posisi 86 92%.
Waduk Sebagai Sumber Daya yang Tidak Tergantikan
Lokasi waduk dan bendungan adalah unik. Sebagai bangunan
pengendali banjir, lokasi bendungan harus berada di sebelah hulu
daerah yang dilindungi. Sebagai penyedia air irigasi, lokasi bendungan
harus cukup dekat dengan lahan irigasi yang akan dilayani. Sebagai
pembangkit listrik tenaga air, bendungan harus mempunyai head yang
mencukupi sebagai sarana penggerak turbin. Kondisi ini dapat
dimaknai bahwasanya pada saat awal kita menentukan lokasi waduk,
waduk harus dipertimbangkan sebagai sumber daya yang tidak
tergantikan (non-renewable resources), oleh karenanya harus didesain
dan dioperasikan sesuai dengan manfaat jangka panjang secara
berkelanjutan. Waduk berbeda dengan bangunan infrastruktur lainnya,
seperti misalnya jembatan, saluran, dll, yang memungkinkan untuk
16
diubah, dibongkar, dan dibangun kembali sesuai dengan kebutuhan.
Waduk-waduk yang sudah tidak dapat lagi dioperasikan dan
diselamatkan karena sedimen, sebagai pilihan terakhir memang
dapat dihentikan penggunaannya, dibiarkan begitu saja, atau
dibongkar, namun untuk membangunnya kembali akan sangat sulit.
Strategi Pengelolaan Sedimentasi Waduk
Secara umum, strategi pengelolaan sedimentasi waduk dapat
dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan pada daerah
tangkapan waduk, dan pendekatan pada waduknya sendiri. Beberapa
strategi dimaksudkan untuk menekan laju erosi di daerah tangkapan
waduk, mengurangi sedimen yang masuk ke dalam waduk,
memperkecil jumlah sedimen yang mengendap di dalam waduk, dan
mengeluarkan sebanyak mungkin endapan sedimen dari waduk.
Pengelolaan daerah tangkapan air, seringkali dianjurkan sebagai
cara terbaik untuk mengatasi permasalahan sedimentasi waduk.
Penekanan laju erosi di daerah tangkapan waduk dapat dilakukan
dengan teknik konservasi, baik secara mekanis maupun vegetatif, atau
kombinasi dari kedua cara tersebut (Kironoto dan Yulistiyanto,
2010a). Penekanan laju erosi di daerah tangkapan akan berhasil
dengan baik apabila gangguan aktifitas manusia terhadap lahan di
kawasan hulu dapat dikurangi, atau ditekan serendah mungkin.
Namun yang terjadi, pemanfaatan lahan justru bertambah seiring
dengan pembangunan bendungan baru, yang biasanya diikuti dengan
pembukaan lahan untuk akses jalan konstruksi, pembukaan lahan
untuk pengembangan kawasan wisata, dll. Menurut Mahmood (1987),
pengendalian erosi saja masih belum mencukupi untuk mendapatkan
kondisi keseimbangan sedimen, khususnya untuk daerah tangkapan
yang luas. Untuk daerah tangkapan dengan luas lebih dari 1.000 km2,
tidak selalu dapat ditemukan adanya korelasi langsung antara
konservasi daerah tangkapan dengan pengurangan sedimentasi waduk.
Disebutkan pula, bahwa untuk dapat mengurangi sekitar 10 20%
dari beban sedimen pada daerah tangkapan dengan luas lebih dari
1.000 km2, diperlukan upaya konservasi secara intensif dalam rentang
waktu beberapa puluh tahun. Untuk daerah tangkapan air waduk yang
17
tidak terlalu luas, upaya konservasi dengan konsep pemberdayaan
masyarakat relatif masih dapat diharapkan. Contoh keberhasilan
pengendalian erosi di daerah tangkapan diperlihatkan pada Waduk
Sermo – satu-satunya waduk di Yogyakarta -, dimana melalui upaya
pemberdayaan masyarakat pada lahan sabuk hijau dan pada lahan di
daerah hulu waduk, dalam beberapa tahun terakhir ini berhasil
menekan laju sedimentasi di Waduk Sermo (Bayudono, dkk, 2009).
Pengurangan sedimen yang masuk ke dalam waduk dapat
dilakukan melalui dua cara, yaitu penangkapan sedimen melalui
sistem alur cekungan, dan pengalihan sedimen yang akan masuk ke
dalam waduk, dialihkan ke lokasi lain di luar waduk. Penangkapan
sedimen dapat dilakukan dengan membangun cekdam dan/atau
kantong-kantong pasir, sedangkan pengalihan sedimen dapat
dilakukan dengan cara membangun sediment bypass. Fungsi bangunan
cekdam atau kantong pasir dalam menahan material sedimen untuk
tidak masuk ke dalam waduk adalah terbatas, dimana hanya efektif
untuk menahan material berukuran kasar. Untuk sediment bypass,
biaya pembangunannya cukup mahal, oleh karenanya, hanya akan
layak dibangun jika kondisi morfologi sungai cukup menguntungkan,
seperti misalnya adanya kelokan sungai, saddles, dan celah-celah
sungai yang sempit. Sistem bypass telah dipergunakan di beberapa
waduk di dunia, seperti misalnya pada Waduk Asahi di Jepang,
Waduk Tadjensk di Turkmenistan, dan Waduk Nagle di Afrika
Selatan (Liu, et.al, 2002; Batuca dan Jordaan, 2000).
Untuk memperkecil pengendapan sedimen di dalam waduk
dapat dilakukan dengan cara pelewatan (sluicing) sedimen yang
masuk ke dalam waduk, dan cara pelepasan (venting) turbidity density
current
. Cara pelewatan dan pelepasan sedimen dapat berhasil dengan
baik bilamana bentuk kolam waduk memanjang, tersedia cukup air
selama waktu pelewatan atau pelepasan sedimen, dan jenis sedimen
yang akan dikeluarkan mempunyai ukuran relatif kecil. Contoh sukses
cara pelewatan sedimen bisa dijumpai pada Waduk Gezhouba di
Sungai Yangtze dan Waduk Sanmenxia di Sungai Kuning. Sedangkan
contoh sukses cara pelepasan dapat dijumpai pada Waduk Guanting,
Waduk Sanmenxia, dan Waduk Xiaolang, yang kesemuanya berada di
Cina (Zhou, 2007).
18
Bilamana usaha-usaha sebagaimana disampaikan di depan
masih belum mencukupi, maka upaya terakhir yang dapat dilakukan
adalah mengeluarkan sedimen dari waduk. Banyak cara dan teknologi
ditawarkan untuk mengeluarkan endapan sedimen di dalam waduk,
yaitu : pengerukan (dredging), penggalian (excavation), sistem sipon
(siphoning), dan penggelontoran (flushing). Cara pengerukan terutama
dilakukan untuk waduk-waduk kecil dan sedang, yang tidak tersedia
cukup air untuk penggelontoran. Sistem ini telah digunakan pada lebih
dari 10 waduk di Cina, yang diantaranya pada Waduk Tianjiawan,
Waduk Xi-dia dan Waduk Taoshupo (Zhou, 2007).
Konsep pelewatan, pelepasan, dan penggelontoran, belum
sepenuhnya dipraktekkan di Indonseia, walaupun sebenarnya sudah
banyak contoh keberhasilan di negara lain, seperti Cina dan India.
Waduk-waduk di Indonesia pada umumnya mendekati kosong
menjelang datangnya musim hujan, sehingga dimungkinkan untuk
melepaskan aliran banjir pada saat-saat awal musim hujan. Jumlah
sedimen yang masuk ke dalam waduk biasanya mencapai tingkatan
paling tinggi selama kejadian banjir. Menurut Mahmood (1987),
setengah dari volume sedimen rata-rata tahunan yang masuk ke dalam
waduk, dapat berasal dari sedimen yang terangkut selama 5 sampai 10
hari kejadian banjir. Sayangnya, sebagian besar waduk yang dibangun
di Indonesia, tidak dilengkapi dengan bottom outlet dengan kapasitas
yang memadai untuk mengalirkan debit banjir.
Dalam hirarki penanganan sedimentasi waduk, mengeluarkan
endapan sedimen dengan pengerukan, apapun teknologinya, sebaiknya
dilakukan sebagai pilihan terakhir, karena biayanya yang sangat
mahal. Sebagai gambaran, biaya pengerukan waduk di Indonesia
berkisar antara Rp. 20.000 Rp. 50.000,- per m3; dengan demikian
untuk bisa mengeluarkan sedimen 1 juta m3/tahun saja, dibutuhkan
biaya sebesar 20 50 Milyar rupiah per tahunnya, belum termasuk
biaya dan kesulitan mencari lokasi untuk pembuangan sedimen.
Pelajaran Berharga Penanganan Sedimentasi Waduk
Mengingat banyak pembangunan waduk di dunia, termasuk di
Indonesia, masih belum mempertimbangkan aspek keberlanjutannya,
19
permasalahan sedimentasi waduk akan terus menghantui. Dengan
konsep desain tradisional, cepat atau lambat, waduk akan penuh
terisi sedimen. Apa yang harus kita lakukan dan antisipasi?
Pengalaman dan pelajaran cukup berharga barangkali bisa kita petik
dari penanganan permasalahan sedimentasi Waduk Sanmenxia di Cina
(Zhou, 2007), yang barangkali bisa menjadi sumber inspirasi
bagaimana menangani permasalahan sedimentasi waduk di Indonesia.
Waduk Sanmenxia, dengan kapasitas 9.6 GM3, adalah waduk
besar pertama yang dibangun di Sungai Kuning, sungai dengan
kandungan sedimen terbesar di dunia. Pada waktu perencanaan awal
proyek Bendungan Sanmenxia, disebabkan karena kekurangpahaman
terkait dengan permasalahan sedimen dan metode pengoperasian
waduk, permasalahan sedimentasi yang sangat besar sudah mulai
terjadi sejak awal waduk dioperasikan. Selama 18 bulan periode awal
penggenangan sejak tahun 1960, endapan sedimen di dalam waduk
terjadi sangat serius, dimana 93% dari sedimen yang masuk,
tertangkap di dalam waduk. Melihat kenyataan tersebut, metode
pengoperasian waduk yang sebelumnya didasarkan pada konsep
menyimpan dan menahan sedimen (1960 1962), diubah menjadi
konsep menahan banjir dan mengalirkan sedimen (1962 1973),
dan diubah lagi menjadi konsep menyimpan air jernih dan
mengalirkan air berlumpur (setelah tahun 1973). Untuk menangani
permasalahan sedimentasi Waduk Sanmenxia ini, telah dilakukan dua
kali rekonstruksi. Pada rekonstruksi pertama, debit pelepasan aliran
sedimen diperbesar hampir dua kalinya (200%), dengan cara
membangun dua terowongan baru, dan memfungsikan empat dari
delapan pipa pesat (penstock) yang ada, setelah melalui perancangan
ulang, sebagai saluran pelepasan sedimen. Dari kegiatan rekonstruksi
ini, rasio outflow dan inflow sedimen bisa mencapai 80%. Pada
rekonstruksi ke dua, debit pelepasan sedimen ditingkatkan lagi sebesar
50%, dengan cara memfungsikan kembali 8 terowongan pengelak
yang sebelumnya digunakan untuk pengelakan sungai pada periode
pelaksanaan konstruksi. Disamping itu, posisi intake dari lima pipa
pesat yang ada juga diturunkan elevasinya. Semua outlet ini dibuka
pada waktu banjir besar, untuk dapat mengeluarkan sedimen sebanyak
mungkin dari waduk. Setelah rekonstruksi kedua, rasio outflow dan
20
inflow sedimen mencapai 105% (Zhou, 2007). Biaya untuk dua kali
rekonstruksi infrastruktur ini memang tidak sedikit, namun masih jauh
lebih murah dibandingkan dengan metode lain, misalnya pengerukan
(dredging) atau dengan membangun waduk baru.

21
DAFTAR PUSTAKA
Bappenas, 2009. Sumber Daya Air. (http://air.bappenas.go.id/main/
modules/doc/pdf_download.php?prm_download_id=26&sbf=&
prm_download_table=1, diakses 13 Februari 2010.
Batuca, D.G., and Jordaan, J.M., 2000. Silting and Desilting
Reservoirs. A.A. Balkema, Rotterdam, Netherland.
Bayudono, Sjamsinarsi, R., Purwoko, 2009. Membaca Sejarah
Waduk dari Catatan Sedimentasi Kasus Waduk Sermo, Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta. Seminar Nasional Bendungan
Besar
. Yogyakarta
Creagar, W.P., 1945. Engineering of Dams: Vol 1. John Wiley &
Sons. Inc. New York.
FAO, 2002. Crops and Drops: making the best use of water for
agricultur.http://www.fao.org/docrep/005/y3918e/y3918e00.htm
Diakses 13 Februari 2010.
ICOLD, 2003. World Register of Dams. http://www.icold-
cigb.net/listepublications.aspx. Diakses 13 Februari 2010.
ICOLD, 2007. Dams and The Worlds Water. Vlady France Conseil.
France. ISSN No. 0534-8293.
Guo, Q., 2007. Sedimentation in reservoirs and its impact on reservoir
function.
Advance Training Workshop on Reservoir
Sedimentation Management. 10-16 October 2007. China.
Kirmanto, D., 2008. Sambutan Menteri PU dalam Seminar Nasional
Bendungan Besar 2008 di Surabaya.
http://www.kimpraswil.go.id/index.asp?site_id=001&news=ppw
170609sda.htm&ndate=6/17/2009+11:49:50+AM
Kirmanto, D., 2009. Bendungan Miliki Peran untuk Atasi Tiga Krisis
Utama. Sambutan Menteri PU dalam Seminar Nasional
Bendungan Besar 2009
(dibacakan Dirjen SDA),Yogyakarta,
http://www.kimpraswil.go.id/index.asp?site_id=001&news=ppw
170609sda.htm&ndate=6/17/2009+11:49:50+AM
Kironoto, B. A., 2000. Kajian Metode the Empirical Area Reduction
untuk Prediksi Distribusi Endapan Sedimen pada Beberapa
Waduk dengan Karakteristik Berbeda. Forum Teknik, Jilid 24
(3).
Yogyakarta.
Kironoto, B.A. dan Yulistiyanto, B., 2010a. Sedimentasi Waduk dan
Teknik Pengendaliannya. Bahan Kuliah Program S2 Teknik
Sipil, Minat Teknik Keairan. Program Studi Teknik Sipil,
Program Pascasarjana Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta.
Kironoto, B.A., and Yulistiyanto, B., 2010b. Study on Suspended
Sediment Sampling Location in Transversal Direction of
Uniform Open Channel Flow. International Workshop on
Multimodal Sediment Disasters Triggered by Heavy Rainfall

22
and Earthquake and the Countermeasures. Yogyakarta,
Indonesia
Legono, D., and Fathani, F., 2006. Sedimentation Problems of Some
Reservoirs in Indonesia: Current Issues After Two Decades of
the Development. Workshop on Sediment Management in South
and South East Asia
. Thailand, 24-25 April.
Liu, J., Liu, B.Y, Ashida, K., 2002. Reservoir Sedimentation
Management in Asia, Advances in Hydro-Science and
Engineering, 5th Int. Conf. On Hydro-Science and Engineering.
Warsaw, Poland.
Mahmood, K., 1987. Reservoir sedimentation: impact, extent, and
mitigation. World Bank Technical Paper Number 71. ISBN-0-
8213-0952-8. Washington, D.C.
McCully, P., 1996. Silenced Rivers : The Ecology and Politics of
Large Dams. Zed Books, London.
Morris, L. G., and Fan, J., 1997. Reservoir Sedimentation Handbook.
Mc. Graw-Hill Companies, Inc., USA.
Nippon Koei Co. Ltd, Yachio Engineering Co, Ltd, 2005. Studi
Penanganan sedimentasi di Waduk / Bendungan Serbaguna
Wonogiri di Republik Indonesia. JICA. Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum Republik
Indonesia.
Schnitter, N.J., 1994. A history of Dams. the Useful Pyramids, A.A.
Balkema, Rotterdam.
Suripin, 2001. Pengaruh Sedimentasi Waduk Terhadap Keberlanjutan
Pembangunan. Jurnal Keairan, No.1 Tahun 8. Semarang.
Republik Indonesia, 2004. UU SDA No. 7 Th. 2004 tentang Sumber
Daya Air, Lembaran Negara Rep. Indonesia Tahun 2004 No. 32.
Weiss, E.B., 1993. Intergenerational Fairness and Water Resources,
Sustaining Our Water Resources. Water Science and
Technology Board 10th Anniversary Symp. National Academy
Press,. Washington D.C.
White, R., 2001. Evaciation of Sediments from Reservoirs. Thomas
Telford Ltd. I Heron Quay. London E14 4JD.
Yulistiyanto, B, dan Kironoto, B.A., 2008. Kajian Pengembangan
Pengelolaan Sumberdaya Air pada Wilayah Sungai Progo-Opak
Serang Dengan Ribasim. Dinamika Teknik Sipil, Vol. 8, No. 1,
Januari 2008. Surakarta.
Zhou, Z. 2007. Reservoir Sedimentation Management in China.
Advance Training Workshop on Reservoir Sedimentation
Management
. 10-16 October 2007. China.

loading...

Leave a Reply