Pidato Pengukuhan Prof. Ir. Bambang Suhendro M.sc.ph.d.pdf

PENGEMBANGAN
TEKNIK SIPIL-STRUKTUR MASA DEPAN DAN
KAITANNYA DENGAN BIDANG-BIDANG LAIN




UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada


Oleh:
Prof. Ir. Bambang Suhendro, M.Sc.,Ph.D.

2
PENGEMBANGAN
TEKNIK SIPIL-STRUKTUR MASA DEPAN DAN
KAITANNYA DENGAN BIDANG-BIDANG LAIN

Ilmu Teknik Sipil (Civil Engineering) telah mulai ada dan ber-
kembang sejak dahulu kala yaitu sejak manusia mulai mengenal
peradaban dalam rangka memenuhi kebutuhan penyediaan berbagai
fasilitas untuk menunjang kelangsungan hidup mereka dan tuntutan
peningkatan taraf hidup yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Meskipun perkembangan dan prestasi yang diukir telah ber-
langsung lama namun istilah Civil Engineering barulah dikuman-
dangkan di dunia untuk yang pertama kalinya oleh John Smeaten di
Inggris pada akhir abad XVIII, untuk membedakan dengan Military
Engineering
yang telah mapan saat itu, karena kegiatan-kegiatan Civil
Engineering
yang lebih mengarah untuk memenuhi kebutuhan
kepentingan masyarakat umum yang tidak terkait langsung dengan
kepentingan militer atau perang. Pada masa itu pekerjaan konstruksi
berskala besar termasuk pemetaan topografi, persiapan lokasi,
perancangan dan pelaksanaan pembuatan jalan, jembatan, base camp
dan pelabuhan untuk keperluan militer/perang, ditangani oleh
Military Engineering. Pada akhir abad XVIII tersebut belum ada
pembedaan secara spesifik antara Civil Engineering dengan bidang
ilmu teknik lainnya dan Civil Engineering diartikan luas sebagai yang
menangani kepentingan umum masyarakat. Barulah kemudian pada
abad XIX dengan telah digunakannya secara besar-besaran berbagai
jenis mesin untuk industri, pembangkit tenaga listrik, sarana
transportasi maupun keperluan lain maka pada saat itu mulai ada
perkembangan yang membedakan cakupan bidang yang ditangani
Civil Engineering dengan bidang-bidang lain seperti Mechanical
Engineering
, Mining Engineering, Chemical Engineering, dan
Electrical Engineering (Phillips dkk., 1983). Segera setelah itu pula,
yaitu masih dalam abad XIX dan abad berikutnya (XX) karena
perkembangan yang sangat pesat di berbagai bidang, bermunculanlah
bidang-bidang teknik lainnya dengan spesialisasi khusus seperti yang
kita kenal sekarang ini.

3
Sebagai salah satu cabang ilmu teknik yang tertua dan terluas
cakupan permasalahan yang ditanganinya, yang pada hakekatnya
adalah berkaitan dengan konsekuensi untuk memenuhi tuntutan
kebutuhan penyediaan berbagai fasilitas yang cenderung semakin
meningkat, semakin beragam dan semakin kompleks, ilmu teknik sipil
telah berkembang pesat utamanya dalam lima dasawarsa terakhir.
Berbagai fasilitas yang secara fisik antara lain berupa bangunan
gedung bertingkat banyak, bangunan perumahan dan fasilitas umum,
stadion olah raga, bangunan industri, bangunan pembangkit tenaga
listrik, menara transmisi dan komunikasi, jembatan berbentang
panjang, jalan raya, jalan kereta api, bandar udara, hanggar pesawat
terbang, bendungan, terowongan dan struktur bawah tanah, jaringan
irigasi, sistem drainasi dan pengendalian banjir, penyediaan dan suplai
air bersih, pelabuhan, pemecah gelombang dan bangunan lepas pantai
serta upaya-upaya mitigasi bencana alam yang diakibatkan oleh
gunung berapi, gempa bumi, tsunami, angin taufan, banjir, tanah
longsor, kekeringan, polusi dan kebakaran, telah banyak dibangun dan
dioperasikan sesuai fungsinya untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Berbagai fasilitas/infrastruktur yang ditangani tidaklah hanya
yang terdapat di bumi saja namun seperti yang telah dicanangkan oleh
American Society of Civil Engineers (ASCE) sejak sekitar 20 tahun
yang lalu, termasuk pula berbagai fasilitas/infrastruktur di ruang
angkasa (aerospace) dan di bulan (lunar environment). ASCE telah
memiliki jurnal khusus untuk mewadahi perkembangan kearah itu
yaitu ASCE Journal of Aerospace Engineering (Walla dkk., 1995).
Cakupan keterlibatan bidang teknik sipil tidak hanya pada saat
perencanaan (planning), perancangan (design) dan masa konstruk-
si
(construction) saja, namun yang tidak kalah pentingnya adalah pada
masa pengoperasian (operation), perawatan & perbaikan (mainte-
nance & repair
) dan pengelolaan (management) berbagai fasilitas
tersebut selama umur rencana (useful life) yang lazimnya ditargetkan
dapat berfungsi baik paling tidak untuk sekitar 50 tahun.
Permasalahan yang dihadapi pada saat perencanaan dan peran-
cangan cukup berbeda dengan permasalahan pada masa konstruksi
maupun pada masa pengoperasian, perawatan dan pengelolaan. Pada
saat perencanaan dan perancangan, aspek (a) fisibilitas (teknis,
ekonomis dan dampak lingkungan), (b) pemilihan bentuk dan sistem
4
struktur yang sesuai beserta dimensi dan jenis material yang akan
digunakan, (c) kriteria perancangan dan spesifikasi teknis yang mema-
dai, dan (d) perhitungan/analisis kekuatan, kestabilan, servisibilitas
dan durabilitas struktur merupakan hal-hal yang mutlak harus
dipertimbangkan untuk menjamin berfungsinya secara aman infra-
struktur yang dibangun selama masa layan rencana. Pada masa
konstruksi permasalahan yang dihadapi meliputi: (a) metode konstruk-
si/pelaksanaan yang tepat, (b) manajemen konstruksi, (c) penggunaan
alat-alat berat, (d) tata cara pelelangan suatu pekerjaan, dan (e) hukum
pembangunan yang terkait dengan ketenagakerjaan. Pada masa
pengoperasian, perawatan dan pengelolaan permasalahan yang muncul
mencakup: (a) manajemen sumber daya, (b) metode perawatan, (c)
metode assessment dan evaluasi kinerja infrastruktur, dan (d) metode
perbaikan (repair) beserta material perbaikan yang sesuai.
Dengan usia yang telah demikian tua, tidaklah berarti bahwa
perkembangan ilmu teknik sipil telah berhenti atau telah melambat
karena tidak ada lagi persoalan atau permasalahan yang tersisa untuk
diteliti dan dikembangkan lagi, namun justru sebaliknya karena
perkembangan bidang-bidang lain yang semakin pesat dan tuntutan
kebutuhan manusia yang semakin beragam, semakin luas dan semakin
kompleks, yang pada gilirannya memerlukan dukungan infrastruktur
yang memadai maka permasalahan di dunia teknik sipil, khususnya
teknik sipil-struktur, justru semakin banyak, semakin menarik,
semakin kompleks dan semakin menantang (challenging).
Ada baiknya sebelum berbicara pengembangan untuk masa-
masa mendatang terlebih dahulu kita menengok sejenak sejarah
perkembangan ilmu Teknik Sipil dan berbagai prestasi yang telah
diraih sejak masa-masa Sebelum Masehi sampai saat ini (abad XXI)
untuk memberikan gambaran yang komprehensif, lengkap dan runtut
mengenai perkembangan yang telah dan sedang berlangsung sehingga
dapat lebih memahami arah perkembangan di masa yang akan datang.
Perkembangan dan Prestasi Pada Masa-Masa Sebelum Masehi
Tercatat rapi dalam sejarah bahwa pada sekitar tahun 7000
Sebelum Masehi (SM) orang-orang Babilonia telah mengenal dan
menggunakan batu-bata sebagai bahan bangunan. Bendungan raksasa
5
di sungai Nile, Mesir, untuk tujuan pengendalian banjir telah dibuat
pada sekitar tahun 4000 SM. Struktur Piramid makam raja-raja Mesir
telah dibangun sekitar tahun 2900 SM, dan salah satunya yang
terbesar, yaitu makam Pharaoh Khufu berukuran 230 m x 230 m
dengan tinggi 147 m, telah diakui dunia sebagai salah satu dari tujuh
keajaiban dunia
(the Seven Wonders of the Ancient World) (Phillips
dkk., 1983). Sistem fondasi tiang pancang dari kayu untuk menyangga
jembatan kayu di atas danau telah dikenal di Swiss pada 3500 SM.
Dalam bentuknya yang sederhana konsep prategang (prestress) telah
dikenal di Mesir sekitar tahun 2700 SM yang digunakan pada perahu
kayu secara longitudinal dan pada barrels kayu yang diikat kencang
dengan sabuk metal pada bagian luarnya sehingga tidak bocor.
Prinsip-prinsip pelengkung (arch) telah diaplikasikan pada struktur
bangunan pada 2500 SM di Mesir (Bennettt, 1999).
Pada tahun 2040 SM, Raja Babilonia, Hammurabi, telah
membuat dan memberlakukan suatu Peraturan Bangunan yang
dikenal sebagai The Code of Hammurabi, yang harus dipatuhi oleh
para builders yang akan membuat bangunan saat itu dengan tujuan
utama agar bangunan yang dibuat dijamin keamanannya, berfungsi
baik
dan tidak runtuh selama digunakan dan tidak mencelakakan
manusia lain yang menggunakannya (White, Gergely dan Sexsmith,
1976). Beberapa pasal dalam peraturan tersebut antara lain berbunyi:
(a) apabila seseorang membuat bangunan dan bangunan tersebut
runtuh sehingga menimbulkan korban jiwa maka pembuat bangunan
tersebut harus dihukum mati, dan (b) apabila bangunan yang dibuat
runtuh dan menimbulkan kerusakan pada hak milik orang lain maka
pembuat bangunan harus mengganti semua kerusakan yang ditim-
bulkannya. Jelas terlihat bahwa aspek-aspek keamanan (safety),
fungsional dan keselamatan para penggunanya telah menjadi per-
syaratan utama yang mutlak harus dipenuhi sejak zaman dahulu kala.
Sebuah jembatan lengkung (arch bridge) telah dibuat di
Babilonia sekitar tahun 1800 SM dan sebuah kubah (shell) batu
pualam telah dibangun pada tahun 1400 SM di Yunani. Berbagai
bangunan monumental berupa istana dan candi yang megah bermun-
culan di Italia sekitar tahun 500 SM. Prinsip jembatan ponton (saat itu
menggunakan perahu-perahu sebagai pontonnya) telah dikenal di
China pada 500 SM (Bennettt, 1999), struktur tembok raksasa (Great
6
Wall) dibangun di China sekitar tahun 220 SM, dan sebuah aquaduct
raksasa telah dibangun di Roma pada tahun 144 SM.
Berbagai peninggalan sejarah berupa keberhasilan nenek-
moyang kita dalam membangun berbagai infrastruktur yang telah
disebutkan sebelumnya, yang sebagian besar masih berdiri kokoh
sampai saat ini, merupakan bukti nyata bahwa dasar-dasar ilmu teknik
sipil telah dikembangkan, diimplementasikan dan diaplikasikan secara
nyata sejak masa-masa Sebelum Masehi, meskipun pada masa itu trial
and error
dan intuisi yang didasarkan pengalaman barangkali menjadi
dasar utama dalam pengembangannya.
Perkembangan dan Prestasi Pada Masa-Masa Sesudah Masehi
Di Indonesia, pada pertengahan abad IX nenek moyang kita
telah berhasil membangun candi yang sangat besar dan megah
setinggi 46 m, yaitu Borobudur, yang disusul oleh pembuatan candi
Prambanan yang terselesaikan pada tahun 915, yang keduanya
sampai saat ini masih berdiri megah dan menjadi obyek pariwisata
yang menarik di Yogyakarta. Rancangan candi-candi ini bahkan ditiru
oleh candi-candi lain di luar negeri antara lain di Kamboja. Berbagai
bangunan pelabuhan di pantai juga telah bermunculan sejak zaman
kerajaan Sriwijaya, sementara sistem irigasi teknis juga telah
ditemukan sejak zaman Majapahit.
Perkembangan pesat dalam bidang matematika dan fisika yang
terjadi pada abad XVI dan XVII, yang antara lain ditandai dengan
penemuan mistar hitung (slide rule) oleh seorang matematikawan
Inggris, William Oughtred (1574~1660), yang dapat membantu
engineer melakukan operasi aritmatika (perkalian, pembagian,
penambahan dan pangkat) secara lebih cepat dan akurat, teori
analytical geometry oleh Rene Descartes (1637) di Perancis, teori
diferensiasi oleh Isaac Barrow (1630~1677), dasar-dasar teori
elastisitas oleh Robert Hooke (1635~1703) dan teori mechanics of
motion
oleh Isaac Newton (1643~1727) di Inggris, yang sampai saat
ini dikenal luas sebagai Hukum Newton I, II, III dan mendasari
pengembangan mekanika statik maupun dinamik modern sampai saat
ini, sangat mempengaruhi perkembangan ilmu teknik sipil selan-
jutnya, utamanya dalam pemodelan matematis berbagai permasalahan
7
yang dihadapi dalam praktek dan upaya penyelesaiannya secara
analitis.
Selanjutnya pada abad XVIII tercatat banyak perkembangan-
perkembangan penting antara lain studi persamaan diferensial yang
diaplikasikan ke permasalahan mekanika analitis oleh Jacob Bernoulli
(1705) dari Swiss, Leonhard Euler (1748) yang juga mengembangkan
Calculus of Variation dan solusi berbagai masalah buckling dan
structural stability melalui konsep kerja (work), Joseph Lagrange
(1788) dari Italia yang memformulasikan berbagai masalah mekanika
secara analitis termasuk governing equation untuk plate bending, dan
S. P. deLaplace dari Perancis yang telah menemukan metode transfor-
masi Laplace yang bermanfaat pada solusi analitis masalah mekanika.
Pada abad XIX juga telah ditandai oleh temuan-temuan besar
seperti Karl Friedrick Gauss (1799) di Jerman tentang integrasi
numerik, Jean Baptiste Fourier (1822) di Perancis mengenai deret
Fourier yang dapat membantu penyelesaian analitis berbagai
permasalahan mekanika, Agustin Louis Cauchy (1821) di Perancis
yang memformulasikan pengertian state of stress dan Generalized
Hookes Law
untuk masalah 3-Dimensi dalam bentuk persamaan-
persamaan diferensial parsiil, George Green (1837) bekenaan dengan
konsep strain energy dan konservasi energi dalam masalah mekanika,
St. Venant (1855) dan G. Kirchhoff (1824~1827) yang membidani
solusi permasalahan torsi dan pelat-lentur (Sokolnikoff, 1986), Georg
Friedrich Riemann (1857) di Jerman yang mengawali pengembangan
kalkulus vektor dan tensor yang sangat mempermudah formulasi
matematis berbagai permasalahan (termasuk mekanika) secara 3-
Dimensi, seperti yang kita kenal saat ini.
Dalam hal engineering material, setelah Dud Dudley berhasil
menemukan cara pembuatan besi tuang (cast iron) pada tahun 1619,
berbagai jembatan yang terbuat dari besi tuang berbentang relatif
panjang bermunculan di Inggris pada abad XVII. Jembatan
Coalbrookdale berbentuk lengkung (arch) merupakan jembatan besi
tuang pertama yang dibuat oleh Thomas Pritchard tahun 1779.
Penemuan teknologi pemrosesan besi menjadi baja berkadar karbon
rendah, yang jauh lebih kuat (strong) dan liat (ductile) dibanding besi
tuang, oleh Henry Bessemer (1813~1898) di Inggris pada tahun 1856,
memicu diproduksinya material tersebut secara besar-besaran untuk
8
digunakan dalam berbagai jenis struktur jembatan berbentang panjang
dan gedung bertingkat tinggi utamanya di Amerika Serikat.
Penemuan semen hidraulis (Portland cement) untuk yang
pertama kalinya oleh Joseph Aspdin (1799~1855) pada tahun 1824 di
Inggris, yang apabila dicampur air dan agregat (kasar dan halus)
dengan proporsi yang tepat dapat membentuk beton (concrete) dengan
compressive strength yang tinggi dan mudah dibentuk sesuai
kebutuhan sangat memacu perkembangan dunia teknik sipil saat itu.
Karena penggunaan yang terus meningkat, penemuan tersebut diikuti
dengan diproduksinya semen hidraulis secara besar-besaran pada
tahun 1845 di Inggris, lebih-lebih setelah sistem rotary kiln pada
pabrik semen ditemukan pada tahun 1880.
Dengan tersedianya engineering materials berupa baja dan
beton dengan kualitas yang memadai maka bermunculanlah struktur
baja dan struktur beton-bertulang berukuran raksasa di Eropa maupun
di USA. Jembatan truss lengkung berbentang panjang (3 x 155 m)
yang terbuat dari baja (steel arch bridge) telah dibuat untuk pertama
kalinya pada tahun 1874 oleh James Buchanan di Missisipi River, St
Louis, Montana, USA, yang disusul jembatan serupa pada tahun 1890
oleh Sir John Fowler di Inggris. Jembatan baja berbentang total 522 m
telah dibangun di Scotlandia pada tahun 1882. Sebuah jembatan gan-
tung berbentang 310 m (long span suspension bridge) pertama, telah
dibuat pada tahun 1846 oleh John Roebling melintasi Ohio River, dan
Brooklyn Bridge berbentang 490 m di New York, USA, pada tahun
1883, yang keberhasilan ini disusul oleh pembuatan jembatan gantung
berikutnya berbentang panjang lain di USA maupun Eropa (Bennettt,
1999). Menara Eiffel setinggi 400 m di Paris yang dibangun pada
tahun 1889 oleh Alexandre Gustave Eiffel, telah menandai pula
perkembangan bangunan tinggi. Struktur gedung bertingkat banyak
pertama, yaitu Scott Building berlantai 12, berhasil dibangun tahun
1899 di Chicago, Illinois, disusul secara meluas di berbagai tempat.
Pada abad XIX tersebut, yaitu tahun 1886 P.H. Jackson di San
Fransisco, USA, telah mempatenkan metode penegangan slab beton
dengan batang baja, disusul oleh C.E.W. Doehring di Berlin yang
mempatenkan metode prategang (pretension) untuk slab dan balok
beton untuk mencegah retak. Meskipun demikian karena batang
prategang yang digunakan terbuat dari baja mutu biasa maka selain
9
gaya prategangnya tidak dapat tinggi, dalam beberapa tahun gaya
prategang tersebut menurun drastis akibat fenomena creep beton dan
relaksasi baja. Secara hampir bersamaan, R.E. Dill (1925) di
Nebraska, USA, dan E. Freyssinet (1928) di Perancis menemukan
solusi dengan menggunakan high strength steel wires untuk meng-
gantikan batang baja mutu biasa yang digunakan sebelumnya dan
selanjutnya menemukan metode penarikan kabel dan pengangkeran
yang efektif pada tahun 1939 (Podolny dan Muller, 1982). Salah satu
jembatan beton prategang terpanjang pertama saat itu adalah 75 m
yang dibuat Freyssinet pada tahun 1948 melintasi Marne River,
Perancis. Sejak itu pulalah perkembangan struktur beton prategang,
utamanya untuk jembatan bentang panjang, dengan cepat meluas ke
berbagai negara.
Perkembangan yang sangat pesat tersebut tentu saja menuntut
pengembangan berbagai teori, perhitungan/analisis dan formula
perancangan yang lebih cermat untuk menjamin agar keamanan
(safety) infrastruktur selama dioperasikan sesuai fungsinya dan
keselamatan para penggunanya dapat dipertanggungjawabkan.
Berbagai prinsip-prinsip dasar ilmu fisika yang bersifat univer-
sal, terutama kinematika (kinematics), yang terkait dengan formulasi
motion dan deformation, dan kinetika (kinetics), yang mencakup
konservasi massa, konservasi momentum dan konservasi energi,
dipadukan dengan hasil pengujian laboratorium berupa perilaku khas
suatu material pada saat mengalami pembebanan yang direpresentasi-
kan dalam persamaan konstitutif (constitutive equations), secara
bertahap dan berlanjut telah diimplementasikan untuk mengembang-
kan berbagai model matematis berbasis kalkulus vector dan tensor
dalam bentuk Governing Equations (Persamaan Pengatur) berikut
kondisi-kondisi batasnya (Boundary Conditions) yang sesuai dengan
permasalahan yang dihadapi dalam bidang teknik sipil yang cakupan-
nya sangat luas dan beragam mulai dari masalah elastic/viscoelastic/
plastic solid
yang ditinjau secara statik maupun dinamik, material iso-
tropik maupun non-isotropik, linier maupun non-linier, perilaku jang-
ka pendek maupun jangka panjang, adiabatik maupun non-adiabatik.
Dalam bidang Teknik Sipil-Struktur, yang lebih banyak mena-
ngani masalah elastic/viscoelastic/plastic solid, persamaan keseim-
bangan
(equilibrium equation) statik maupun dinamik yang dihasil-
10
kan dari konsep konservasi momentum, persamaan regangan-displa-
cement
yang merepresentasikan deformasi yang terjadi (kinematika),
dan persamaan konstitutif yang mencerminkan hubungan tegangan
dan regangan bahan, menjadi persamaan-persamaan fundamental yang
digunakan untuk memformulasikan berbagai masalah yang dihadapi
dalam bentuk Governing Equations dan mengupayakan solusinya.
Keberhasilan demi keberhasilan yang telah diraih dan diuraikan
sebelumnya tidaklah berarti bahwa segalanya berjalan mulus tanpa
pernah mengalami kegagalan. Berikut ini disajikan kegagalan fatal
dengan korban jiwa tidak sedikit yang pernah terjadi di masa lampau,
yang justru dengan kegagalan itu para engineer dapat belajar dan
terpacu untuk memperbaiki kesalahan yang terlanjur terjadi dan
menyempurnakannya untuk tidak terjadi lagi. Berdasarkan kegagalan-
kegagalan itu pula berbagai fenomena yang belum diketahui menjadi
diketahui, berbagai asumsi dalam formulasi analitis yang terlalu
sederhana dapat disempurnakan, dan variable baru yang ternyata
signifikan dapat ditambahkan dalam pemodelan. Kegagalan-kegagalan
beserta faktor penyebabnya untuk berbagai kasus di masa lalu adalah:

Keruntuhan berbagai struktur jembatan (Bennett, 1999).
a. Runtuhnya Menai Bridge, jembatan gantung dengan bentang 168
m di Eastern England, yang runtuh akibat getaran berlebihan yang
disebabkan oleh beban angin (hurricane) pada tahun 1840.
b. Runtuhnya Wheeling Bridge, jembatan gantung dengan bentang
303 m yang melintasi Ohio River, West Virginia, USA, yang
runtuh karena getaran akibat beban angin pada tahun 1854.
c. Runtuhnya Ashtabula Railway Bridge, Ohio, USA, pada tahun
1876 (cast iron berbentang 50 m) karena terjadi fracture akibat
beban berulang di musim salju dan menewaskan sekitar 90 orang.
d. Tay Bridge, Dundee, Scotland, 1878, yang terbuat dari besi tuang
runtuh karena beban angin berkecepatan 100 mph pada musim
salju bersamaan dengan adanya kereta di atas jembatan, 75 tewas.
e. Runtuhnya Niagara-Clifton Bridge berbentang 378 m pada tahun
1889 akibat beban angin berkecepatan 118 km/jam.
f. Runtuhnya
Quebec Bridge (steel truss structure) pada tahun 1907
dalam masa konstruksi akibat geometric nonlinierity, (75 tewas).
11
g. Runtuhnya Tacoma Narrows Bridge, Tacoma, Washington, USA,
jembatan gantung dengan bentang total 1,5 km (840 m + 2 x 330
m) pada tahun 1941 akibat beban angin berkecepatan 67 km/jam.
Keruntuhan struktur gedung dan kubah (Levy & Salvadori, 1992)
a. Miringnya Menara Pisa setinggi 60 m, yang dibuat tahun 1174,
karena penurunan fondasi yang tidak seragam.
b. Runtuhnya gedung apartemen 22 lantai, Ronan Point Tower, yang
terbuat dari sistem panel dinding beton bertulang, pada tahun 1968
di Canning Town, London, akibat ledakan tabung gas di lantai 16.
c. Runtuhnya struktur gedung apartemen berlantai 16 L’Ambiance
Plaza, Connecticut, berkolom baja dan berlantai beton prategang
yang sedang dibangun dengan sistem lifting , pada tahun 1987,
karena kelalaian dalam pelaksanaan.
d. Runtuhnya struktur atap dari Hartford Arena yang terbuat dari
struktur space truss baja seluas 91 m x 110 m, tahun 1978, di
Connecticut, akibat beban salju.
e. Runtuhnya Bucharest Dome, Romania, berdiameter 93,5 m dan
terbuat dari struktur pipa-pipa baja, yang difungsikan untuk
multipurpose exhibition hall, pada tahun 1963, setelah 7 bulan
diresmikan, akibat beban salju.
f. Runtuhnya
The Kemper Arena, stadion dengan lebar atap 97 m dan
panjang 108 m tanpa tiang penyangga di tengah, dengan struktur
utama berupa space truss dari pipa-pipa baja, runtuh akibat
hembusan angin dengan kecepatan 112 km/jam, pada tahun 1979.
g. Runtuhnya ratusan gedung bertingkat banyak dan jembatan layang
di Mexico City tahun 1985 (9500 tewas), San Francisco-California
tahun 1989 (63 tewas), Northridge-California tahun 1994 (61
tewas), Kobe-Jepang tahun 1995 (5300 tewas), dan Taiwan tahun
1999 akibat gempa bumi tektonik (Kramer, 1996).
h. Runtuhnya jutaan bangunan rumah sederhana akibat gempa bumi
tektonik, antara lain di Italia tahun 1908 (83.000. tewas), Tokyo &
Yokohama-Jepang tahun 1923 (99.000. tewas), Chile tahun 1960
(2230 tewas), Marocco tahun 1960 (12.000. tewas), Nicaragua
tahun 1972 (10.000. tewas), China tahun 1975 (1300 tewas), China
tahun 1979 (700.000. tewas), Bengkulu-Indonesia tahun 2000 (85
tewas), dan Majalengka tahun 2001 (6600 rumah roboh).
12
i. Runtuhnya gedung pencakar langit World Trade Center, 110
tingkat, di New York, USA, tahun 2001 akibat ditabrak pesawat
terbang
yang disusul dengan kebakaran hebat (5650 tewas).
Keruntuhan bendungan beton (White, Gergely dan Sexsmith, 1976)
Runtuhnya Malpasset concrete arch dam setinggi 60 m dan
lebar 190 m di Perancis pada tahun 1959 yang baru berusia 5 tahun,
yang menewaskan 400 orang, akibat terjadi retak (crack) pada tubuh
bendungan yang dipicu oleh deformasi cukup besar pada abutmen
akibat kurang kuatnya fondasi batuan pada bagian tersebut.
Pengembangan Teknik Sipil-Struktur Masa Depan
Beton kinerja tinggi
Salah satu material utama yang lazim digunakan dalam bidang
Teknik Sipil di seluruh dunia dewasa ini adalah beton. Sejak
ditemukan pertama kalinya pada tahun 1824, material beton yang
dalam aplikasinya dikombinasikan dengan tulangan baja menjadi
komposit beton-bertulang, sampai saat ini merupakan material yang
sangat populer untuk keperluan struktural karena memiliki kekuatan
yang tinggi, mudah dibentuk sesuai keperluan, dapat menggunakan
material lokal sebagai agregatnya, memiliki durabilitas yang tinggi
dan jauh lebih mudah dan murah perawatan dalam jangka panjangnya.
Beton yang yang lazim digunakan dalam praktek sehari-hari
adalah yang memiliki kuat tekan (fc) sekitar 20 MPa s/d 35 MPa
dengan berat volume sekitar 22 kN/m3, yang untuk selanjutnya
dikenal sebagai beton normal. Untuk keperluan khusus seperti pada
beton prategang kuat tekannya ditingkatkan sampai 50 MPa.
Nilai kuat tekan sebesar itu dewasa ini dirasa masih belum
mencukupi karena meskipun kuat tekannya cukup tinggi namun berat
volume betonnya cukup tinggi pula sehingga untuk struktur
berbentang panjang ataupun bertingkat banyak berat sendiri bahan
masih mendominir komposisi beban yang bekerja. Berbagai upaya
telah dilakukan untuk meningkatkan kuat tekan beton menjadi lebih
tinggi lagi, yang selanjutnya diberi nama beton mutu tinggi (high
strength concrete
) atau beton kinerja tinggi (high performance
concrete
). Menurut ACI Committee 363 (1992) beton yang memiliki
13
kuat tekan lebih dari 42 MPa didefinisikan sebagai beton mutu tinggi,
sementara CEB/FIP (1990) menetapkan nilai 60 MPa sebagai batasan
minimalnya. Sampai saat ini kuat tekan beton kinerja tinggi yang telah
berhasil dibuat dalam skala laboratorium adalah sebesar 130 MPa (6
kali kuat tekan beton normal), yang telah mendekati nilai tegangan
leleh baja mutu sedang yaitu fy = 220 MPa. Keuntungan nyata pada
penggunaan beton mutu tinggi adalah dimensi elemen struktur dapat
menjadi lebih kecil atau dengan dimensi yang sama dapat menjangkau
bentang yang lebih besar maupun tingkat yang lebih banyak.
Keberhasilan dalam upaya meningkatkan kuat tekan beton
kinerja tinggi tersebut dapat dicapai berkat serangkaian penelitian
yang meninjau beton tidak hanya secara makro dari nilai sifat
mekanis yang dihasilkannya saja namun juga tinjauan secara mikro,
dengan bantuan peralatan yang memadai seperti SEM (Scanning
Electron Microscope
) dan XRD (X-Ray Diffractometer), termasuk
tinjauan reaksi kimia yang melatarbelakangi proses yang terjadi.
Terungkap secara mikro bahwa kekurangan pada beton normal adalah:
(a) kurang kuatnya ikatan antara permukaan agregat dengan matriks/
mortarnya (interface zone), karena masih adanya kalsium hidroksida
hasil sampingan hidrasi semen dengan air yang menempel pada
interface zone, (b) belum optimalnya kepadatan mortar karena adanya
pori-pori maupun pori kapiler dalam matriks yang juga terisi oleh
kalsium hidroksida dan air yang tersisa. Penambahan silica fume atau
abu terbang (fly ash), yang kaya akan kandungan silika, dalam
proporsi yang tepat terbukti dapat memicu reaksi lanjutan antara silika
dengan kalsium hidroksida yang terdapat pada interface zone dan pori
kapiler sehingga membentuk pasta semen baru yang menyebabkan
lekatan antara matriks dengan permukaan agregat pada interface zone
menjadi kuat dan beton juga menjadi lebih padat, sementara penam-
bahan superplastisizer dalam adukan dapat mempertahankan workabi
lity
adukan meskipun faktor air semen dibuat relatif rendah, yaitu
0,28.
Karena agregat yang digunakan haruslah berkualitas tinggi dan
fabrikasinya menuntut kecermatan dan pengawasan yang relatif ketat
maka aplikasi beton kinerja tinggi di lapangan belumlah dengan
secara mudah dan murah dapat dilaksanakan. Disamping itu informasi
mengenai beton mutu tinggi yang terdapat pada peraturan bangunan
14
saat ini masih terbatas pada sifat mekanis materialnya, formula anali-
sis/perancangan belum memadai, dan beton mutu tinggi ini masih le-
bih buruk daya tahannya terhadap kebakaran dibanding beton normal.
Pengembangan lebih lanjut beton kinerja tinggi yang dapat
dilakukan di masa depan antara lain adalah:
a. mengupayakan berbagai peralatan pendukung agar fabrikasi beton
mutu tinggi dapat dengan mudah dilaksanakan di lapangan,
b. merumuskan persamaan konstitutif material yang representatif,
c. memodifikasi formula-formula analisis dan perancangan elemen
struktur beton normal agar sesuai untuk beton kinerja tinggi,
d. meningkatkan ketahanan material terhadap kebakaran, dan
e. meneliti perilaku jangka panjang material (creep dan shrinkage).
Upaya pengembangan tersebut di atas jelas menuntut keterlibatan
bidang-bidang lain yaitu teknik kimia, teknologi mineral, teknik
industri dan teknik mesin untuk mengatasinya.
Beton ringan dan beton ringan kinerja tinggi
Indonesia termasuk salah satu negara yang sebagian besar
wilayahnya berada di daerah yang potensi terjadinya gempa bumi
tektonik cukup tinggi. Beton normal maupun beton kinerja tinggi yang
meskipun kekuatannya sudah berhasil diupayakan dapat sangat besar
masih memiliki berat volume yang tinggi yaitu 24 kN/m3. Mengingat
semakin besar massanya akan semakin besar pula gaya gempa yang
terjadi maka upaya untuk memperkecil berat volume beton/beton
kinerja tinggi menjadi salah satu alternatif yang sangat menjanjikan.
Pada struktur gedung bertingkat banyak misalnya, 75%~85% massa
struktur akan terkonsentrasi di setiap lantai bangunan. Apabila berat
sistem lantai (slab dan balok-baloknya) dapat direduksi sampai 50%
karena menggunakan beton ringan atau beton ringan kinerja tinggi
maka dapat diharapkan bahwa beban gempa arah horizontal yang
bekerja pada setiap lantai juga akan tereduksi sekitar 50% pula. Hal
ini sangat menguntungkan ditinjau dari aspek bangunan tahan gempa.
Upaya yang telah dilakukan sampai saat ini antara lain adalah
dengan mengganti agregat kasar, yang lazimnya berupa batuan/batu
pecah alami yang cukup berat dan mengisi hampir 75% total volume
beton, dengan agregat buatan yang jauh lebih ringan namun berke-
15
kuatan tinggi yang dikenal sebagai artificial light weight aggregate
(ALWA). Berbagai penelitian skala laboratorium dan skala industri di
batching plant telah berhasil membuat beton ringan kinerja tinggi
dengan berat volume 18 kN/m3 (75% berat volume beton normal) dan
kuat tekan sebesar 80 MPa (Holm dan Vaysburd, 1992).
Kendala maupun pengembangan yang dapat dilakukan mirip
seperti beton kinerja tinggi, dengan tambahan berupa mencari alterna-
tif penggunaan bahan dasar agregat-buatan dan proses fabrikasinya.
Material daur ulang (recicling materials)
Sejalan dengan meningkatnya kesadaran dan upaya berbagai
fihak kearah pelestarian lingkungan yang sehat dan nyaman, yang
pada hakekatnya kita pinjam dari anak cucu kita (bukannya mewaris-
kannya ke mereka), mendorong kita untuk tidak mencemari lingkung-
an dengan berbagai limbah dan bahan buangan. Bahan buangan hasil
pembongkaran bangunan yang telah rusak/direnovasi/diganti yang
baru/ditingkatkan fungsinya, sisa-sisa campuran beton di batching
plant
yang terakumulasi setiap harinya (2% dari produksi), bekas
pengujian material di laboratorium, bongkaran lapis perkerasan jalan
dapat diteliti untuk dimanfaatkan kembali menjadi material daur ulang
meskipun dengan kualitas yang lebih rendah dari material aslinya.
Pengembangan metode penanganan berbagai macam bahan
buangan yang potensial untuk didaur ulang, proporsi dan komposisi
yang optimal dalam adukan, sifat mekanis jangka pendek maupun
jangka panjang material daur ulang yang dihasilkan dan formula-
formula pendukung untuk analisis dan perancangan akan merupakan
arah pengembangan di masa depan (Foster, 1996). yang tentu saja
memerlukan keterlibatan bidang-bidang lain seperti teknik kimia,
teknologi mineral, teknik industri dan teknik mesin.
Pemanfaatan limbah sebagai bahan konstruksi
Perkembangan pesat di bidang industri selalu akan disertai
dengan hasil sampingan berupa limbah cair ataupun padat yang
apabila tidak dikelola dan diantisipasi dengan baik dalam jangka
panjangnya akan dapat mencemari lingkungan.
16
Abu terbang (fly ash) yang merupakan limbah padat sisa
pembakaran batu bara di berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap
dengan jumlah yang sangat besar (sekitar 1,2 juta ton/tahun), telah
dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi semen dalam pembuatan
beton normal, beton ringan, beton mutu tinggi, maupun beton ringan
mutu tinggi. Limbah padat berupa slag baja maupun slag nikel yang
setiap harinya tertimbun sekitar 300 ton dapat dimanfaatkan sebagai
agregat pada pembuatan beton maupun beton mutu tinggi (Mangat
dan Khatib, 1995). Limbah sekam padi (sekitar 11 juta ton per tahun)
yang berserakan di daerah pertanian dapat dimanfaatkan abunya
(setelah dibakar) untuk bahan tambah dalam campuran beton yang
dapat meningkatkan sifat-sifat mekanisnya (Zhang, Lastra dan
Malhotra, 1996). Limbah karet yang terdapat pada perkebunan karet
dapat diupayakan untuk dimanfaatkan sebagai campuran pembuatan
beton latex, sedangkan limbah plastik bekas dapat digunakan sebagai
campuran pada beton polimer.
Peningkatan kinerja berbagai beton yang memanfaatkan limbah
padat maupun kemungkinan baru dalam memanfaatkan berbagai lim-
bah di sekitar kita merupakan upaya yang dinantikan banyak orang.
Material dan Teknik Perbaikan (Repair Materials)
Pada masa pengoperasian infrastruktur secara jangka panjang
berbagai peristiwa maupun faktor lingkungan dapat menyebabkan
terjadinya degradasi kinerja struktur. Oleh sebab itu berbagai upaya
telah dilakukan untuk mengembangkan teknik perbaikan/repair beri-
kut material yang digunakan agar struktur dapat dikembalikan ke kon-
disi semula sehingga dapat berfungsi aman selama masa layannya.
Epoxy resin, epoxy mortar dan epoxy concrete merupakan bahan
yang telah lazim digunakan dalam perbaikan retak dan spalling pada
beton dengan waktu pengerasan yang relatif singkat. Untuk memper-
baiki struktur beton bertulang di lingkungan laut yang korosif, telah
dikembangkan metode perbaikan dengan prepacked aggregate yang
dengan proses grouting menggunakan Styrene-Butadiene-Rubber
(SBR)
polymer cement mortar bagian yang telah rusak dapat dikem-
balikan seperti semula (Sawada, 1997). Sistem preventif dengan
surface coating method untuk mencegah invasi oksigin, air dan ion-
17
ion chloride ke dalam beton terbukti cukup efektif untuk melindungi
struktur beton bertulang di lingkungan air laut dari bahaya korosi.
Prinsip serupa (fireshield) juga telah dikembangkan untuk perlindung-
an struktur beton terhadap kebakaran sampai temperatur 13500C.
Teknik prategang dengan menggunakan tendon eksternal dapat
menjadi upaya alternatif yang efektif untuk memperkuat jembatan
yang mengalami degradasi karena overloading dan progressive
structural aging
(Miyamoto dkk., 2000). Teknik perkuatan elemen
struktur yang relatif mudah dilakukan menggunakan carbon fiber strip
ataupun carbon fiber wrap fabrics telah pula berhasil dikembangkan.
Penemuan material dan teknik perbaikan yang relatif murah dan
mudah dikerjakan dalam waktu yang singkat merupakan arah
pengembangan yang sangat diperlukan di masa datang. Upaya ini
sangat terkait dengan berbagai bidang antara lain teknik kimia, teknik
material dan teknik industri untuk menanganinya.
Material sintetis
Berbagai macam material sintetis telah diupayakan untuk dibuat
dalam rangka memberikan alternatif penggunaan material baru dengan
kinerja yang lebih baik. Beberapa yang telah dicoba adalah: Carbon
Fiber Reinforced Polymer
, Glass Fiber Reinforced Polymer, Aramid
Fiber Reinforced Polymer
dan Polyester Fiber Reinforced Polymer,
yang dimaksudkan untuk menggantikan tulangan baja konvensional,
tendon prategang ataupun sebagai external reinforcement pada
perbaikan/perkuatan struktur, dengan harapan lebih tahan terhadap
lingkungan korosif atau agresif di sekitar laut maupun di lingkungan
industri (Bakht, dkk., 2000; Foster, Richard dan Bogner, 2000).
Pengembangan kearah ini memerlukan bantuan berbagai bidang
antara lain teknik kimia, teknik material dan teknik industri.

Material dan Struktur Pintar

Peradaban manusia amat dipengaruhi oleh teknologi material
yang telah, sedang, maupun akan dikembangkan. Berbagai penemuan
dalam teknologi komposit, yang pada prinsipnya memadukan dua
macam atau lebih bahan-teknik untuk memperoleh kinerja yang lebih
baik dari bahan-bahan susunnya, telah mewarnai peradaban manusia.
18
Penemuan-penemuan mutakhir dalam structural materials
maupun material komposit yang berkinerja tinggi, yang dipadukan
dengan teknologi mikro-sensor, teknologi aktuator, dan komputasi
dengan mikro-prosesor memungkinkan manusia untuk mewujudkan
era baru di masa datang, yang disebut dengan zaman material pintar
(smart material age). Material pintar tersebut memiliki kemampuan
untuk menirukan cara kerja sistem syaraf, sistem otak, dan sistem otot
pada tubuh manusia.
Kemampuan teknis generasi terbaru dari material pintar tersebut
tentu saja dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang rekayasa dengan
cakupan yang sangat luas. Secara umum evolusi teknologi material
yang telah dan akan terjadi dimulai dari: (a) structural materials,
dimana sifat-sifat mekanik bahan yang menjadi andalan utama, (b)
functional materials, dengan fungsinya yang lebih menonjol, (c) multi
functional materials
, dimana lebih dari satu fungsi dapat diaktifkan
secara simultan, dan (d) smart/intelligent materials, yang mengaktif-
kan secara optimal kemampuan sifat mekanik, fungsional, informasi,
dan kontrol dalam suatu sistem yang terintegrasi sehingga mampu
menyesuaikan diri secara optimal dengan kondisi di sekelilingnya
(Gandhi dan Thompson, 1992).
Mikro-sensor, yang nantinya difungsikan untuk mengukur re-
gangan/pressure/suhu yang terjadi pada titik-titik kritis elemen struk-
tur dan dapat melaporkan secara real time hasil pengukuran tersebut
ke kontroler, dapat berbasis: (a) fiber optic interferometer, (b) shape
memory alloy
, (c) piezoelectric ceramic, dan (d) special strain gauge.
Aktuator merupakan salah satu elemen dari material/struktur
pintar yang berfungsi sebagai penyelaras dinamik atas mechanical
properties
dari struktur. Beberapa material aktuator yang dapat
diharapkan berfungsi baik adalah: (a) Electro-Rheological Fluids (ER-
fluids
), berupa fluida yang dapat berubah menjadi seperti solid dalam
sekejap (1/1000 detik) dan dapat dikendalikan nilai redaman dan
kekakuannya dengan mengatur potensial elektrostatik yang diberikan
pada cairan tersebut, (b) Magnetostrictive materials, berujud solid
yang dapat berdeformasi cukup besar (yang nantinya dapat dikonfersi-
kan menjadi gaya) sesuai keinginan dan deformasinya dapat diatur
melalui pemberian medan magnit secara eksternal, (c) Electrostrictive
materials
, berujud solid seperti magnetostrictive materials namun
19
deformasinya dapat dikendalikan memalui pemberian medan listrik
eksternal, (d) Shape Memory Alloy, berupa metal alloy yang dapat
dilatih berdeformasi ke bentuk tertentu melalui pengaturan temperatur
sekitarnya, dan (e) Piezoelectric ceramic, berupa solid yang deforma-
sinya dapat dikendalikan melalui pemberian medan listrik.
Elemen lain yang sangat penting dari material/struktur pintar
adalah Controller yang akan difungsikan sebagai pengendali otomatis
yang berdasarkan input regangan/pressure/suhu yang disampaikan
oleh sistem sensor dapat mengaktifkan aktuator di bagian-bagian kritis
untuk menyesuaikan redaman/kekakuan/kekuatan elemen tersebut
sedemikian sehingga respon struktur secara keseluruhan menjadi
paling optimal, atau apabila struktur mengalami displacement atau
regangan/tegangan yang berlebihan akibat beban angin, beban gempa,
ataupun overloading, kontroler dapat memodifikasi structural proper-
ties
sehingga respons struktur menjadi membaik. Kontroler ini nanti-
nya berupa micro processor yang telah dibekali khusus dengan
program komputer berbasis automatic control theory (Guran dan
Inman, 1995) yang sesuai untuk struktur tersebut. Jembatan berben-
tang panjang, struktur gedung bertingkat banyak, remote facilities,
underground/underwaterstructures, dan aerospace structures merupa-
kan infrastruktur yang sangat mendambakan implementasi prinsip
kontrol aktif ini dalam praktek, utamanya dalam merespons pengaruh
alam (angin/gelombang/gempa/suhu) yang bersifat nondeterministik.
Pengembangan material/struktur pintar ini jelas memerlukan
kerja sama yang erat dengan bidang-bidang elektro, teknologi sensor,
komputasi, material science, teknologi keramik, teknik kimia, tekno-
logi kontrol otomatis dan teknik mesin.
Neural Network
Metode berbasis artificial neural network, yang meniru sistem
kerja otak dan syaraf manusia yang belajar melalui pengalaman, telah
dicoba untuk diaplikasikan pada berbagai permasalahan di bidang
teknik sipil antara lain: (a) metode monitoring kesehatan struktur
melalui deteksi adanya perubahan pada system nonliniernya dengan
cara melatih neural network mengenali respons getaran struktur yang
sehat sampai yang sakit dengan berbagai tingkatan (Masri dkk., 2000),
20
(b) metode kontrol aktif respons struktur terhadap beban dinamik
seperti gempa bumi, angin dan beban gelombang (Hung, Kao dan Lee,
2000) (c) pengukuran efektivitas organisasi suatu perusahaan jasa
konstruksi/kontraktor (Sinha dan McKim, 2000), (d) memprediksi
produktivitas pekerja pada proyek konstruksi (Lu, Rizk dan Hermann,
2000), (e) memprediksi tinggi muka air sungai untuk keperluan
warning system pada mitigasi bencana banjir dan sejenisnya yang
terkait dengan faktor alam (Liong dkk., 2000), dan (f) melakukan
analisis pemilihan moda transportasi (Sayed dan Razavi, 2000).
Pengembangan kearah aplikasi artificial neural network pada
berbagai masalah lain dalam bidang teknik sipil akan terkait dengan
perkembangan bidang-bidang lain seperti teknik elektro, informatika,
statistika dan teknik komputasi.
Algoritma Genetik
Algoritma genetik (Genetic Algorithm), yang pada prinsipnya
meniru proses alami evolusi manusia, merupakan metode alternatif
yang bersifat random namun apabila disinergikan dengan kemampuan
yang tinggi dari komputer dalam memproses hitungan akan lebih
efektif dalam melakukan optimasi berbagai permasalahan dengan
kendala yang kompleks dibanding dengan metode optimasi konvensi-
onal (linear/nonlinear programming) yang lebih berbasis matematis.
Berbagai masalah optimasi dalam bidang teknik sipil-struktur,
yang lazimnya terkait dengan masalah meminimalkan berat struktur
dengan bentuk geometri tertentu, meminimalkan berat struktur dengan
melibatkan topologi, meminimalkan berat struktur dengan memvaria-
sikan bentuk geometri, yang umumnya dijumpai pada tahap peran-
cangan struktur, maupun masalah meminimalkan waktu/biaya pelak-
sanaan pekerjaan yang dijumpai pada manajemen konstruksi, telah
dapat diformulasikan dan diselesaikan secara efektif dengan meman-
faatkan algoritma genetik (Soh dan Yang, 2000).
Mengingat permasalahan optimasi dalam bidang teknik sipil-
struktur umumnya sangat kompleks, baik fungsi obyektifnya maupun
kendalanya sehingga metode konvensional (linear/nonlinear pro-
gramming
) tidak selalu dapat diandalkan untuk memperoleh solusi
matematisnya, maka algoritma genetik dapat diprediksikan akan men-
21
jadi metode andalan di masa depan untuk melakukan berbagai
optimasi struktur. Formulasi baru yang sesuai dengan berbagai perma-
salahan optimasi struktur dalam format algoritma genetik merupakan
salah satu arah pengembangan yang tentu saja terkait erat dengan
bidang lain seperti komputasi , statistika dan matematika.
Penyempurnaan Standar Nasional dan Peraturan/Pedoman
Seiring dengan perkembangan baru dalam bidang material,
hasil-hasil pengujian di laboratorium maupun di lapangan, analisis
struktur, formula-formula perancangan dan pengalaman lapangan baik
yang berhasil maupun gagal akan mengarah ke perlunya peninjauan
kembali dan penyempurnaan berbagai pasal maupun formula yang
tercakup dalam Standar Nasional, paling sedikit setiap 5 tahun sekali.
Pengembangan model matematik berbagai permasalahan
Berbagai persoalan dalam bidang teknik, melalui konsep-konsep
kinematika, kinetika (konservasi massa, momentum dan energi), dan
persamaan konstitutif material, umumnya dapat diformulasikan dan
diekspresikan secara matematis dalam bentuk Governing Equations
(GE), yang lazimnya berupa persamaan-persamaan diferensial parsiil.
Sesuai dengan tingkat kompleksitas permasalahan yang dihadapi, GE
dapat berbentuk sederhana (persamaan diferensial-biasa orde satu,
linier, homogin, dan melibatkan hanya satu variabel) maupun cukup
rumit (persamaan diferensial parsiil orde empat, nonlinier, nonhomo-
gin, dan melibatkan banyak variabel). Untuk berbagai kasus yang
bervariasi, GE tersebut akan dilengkapi dengan Boundary Conditions
(BC) ataupun Initial Conditions (IC), yang umumnya juga berupa
persamaan-persamaan diferensial. Solusi dari permasalahan yang
dihadapi, selain tergantung dari GE, juga sangat dipengaruhi oleh BC
dan IC. Permasalahan tersebut dalam istilah matematik dikenal seba-
gai BoundaryValue Problems.
Berbagai strategi memperoleh solusi masalah yang dihadapi,
dapat dilakukan melalui salah satu atau kombinasi dari: (a) pendekat-
an matematis (mathematical approach), yang dapat ditempuh secara
analitis maupun numeris, (b) pendekatan eksperimental (experi-
22
mental approach), melalui pembuatan dan pengujian model fisik
dengan skala tertentu di Laboratorium maupun melalui pengujian
proptotipe di lapangan, dan (c) pendekatan praktis berdasarkan prac-
tical experiences
dari masalah serupa di masa lalu.
Solusi suatu masalah dianggap telah established apabila telah
dibuktikan melalui berbagai pendekatan, baik secara analitis, numeris,
dan eksperimental dengan hasil yang mengarah pada kesimpulan yang
sama, maupun telah terbukti berhasil dipraktekkan secara nyata.
Peluang yang sangat luas untuk pengembangan masa depan
dapat berkisar mulai dari: (a) pembuatan model matematis dan meru-
muskan GE/BC berbagai permasalahan yang belum ada modelnya, (b)
menyempurnakan/memodifikasi GE/BC yang telah ada dengan
memperbaiki asumsi-asumsi yang dipakai, (c) mengupayakan solusi
analistis (closed form solution) atas masalah tertentu yang belum
terjawab, (d) memperbaiki strategi solusi analitis yang telah ada agar
lebih efektif dan efisien, (e) mengupayakan formulasi/prosedur/me-
toda solusi numeris atas masalah tertentu yang secara numeris belum
terjawab, (f) memperbaiki strategi solusi numeris yang telah ada agar
lebih akurat/efektif/efisien, (g) mengupayakan solusi eksperimental
dengan membuat model fisik dan mengujinya di laboratorium/la-
pangan, dan (h) mengevaluasi berbagai pengalaman masa lalu atas
permasalahan sejenis (yang berhasil maupun gagal), untuk menyem-
purnakan model matematis, model fisik, dan asumsi yang digunakan
dalam formulasi model yang telah ada atau mengusulkan model baru
yang lebih sesuai. Metode numeris yang dewasa ini sangat populer
dikembangkan antara lain adalah Metode Elemen Hingga (Finite
Element Method
), Metode Elemen Batas (Boundary Element Method),
dan Metode Beda Hingga (Finite Difference Method), yang kesemua-
nya berbasis komputer dan mampu menjawab permasalahan rumit.
Analisis struktur nonlinier, baik yang menyertakan pengaruh
nonlinieritas geometri, nonlinieritas material, maupun nonlinieritas
geometri dan material sekaligus, dengan pembebanan statik ataupun
dinamik, adiabatik maupun non-adiabatik, dalam lingkup tertentu
telah berhasil dikembangkan berbasis Metode Elemen Hingga
(Suhendro, 2000). Permasalahan soil-structure interaction, fluid-
structure interaction
, dan contact problems telah pula dapat
diselesaikan dengan metode ini. Karena hasil analisisnya dapat
23
menjelaskan secara komprehensif perilaku struktur sejak respons
liniernya (pada beban kerja) sampai perilaku nonlinier menjelang
keruntuhan maka analisis nonlinier merupakan arah pengembangan
analisis struktur masa depan yang akan dituju.
Berbagai penemuan terkenal kadang-kadang berawal dari hasil
penelitian eksperimental di laboratorium yang diikuti aplikasi proto-
tipenya di lapangan, dan secara bertahap baru dilengkapi dengan
pendekatan analitis maupun numerisnya oleh peneliti lain. Namun
tidak jarang pula terjadi hal sebaliknya, yaitu penemuan berawal dari
hasil penelitian analitis/numeris yang kemudian dilengkapi dengan
model fisiknya di kemudian hari oleh peneliti lain dan dipraktekkan
dalam skala prototipe pada tahap berikutnya (Suhendro, 2000).
Dengan memahami berbagai pendekatan yang telah diuraikan
sebelumnya, terbuka luas peluang untuk mengembangkan berbagai
topik penelitian sesuai interest masing-masing. Applied mathematics
dan teknik komputasi akan terkait erat dengan arah pengembangan ini.
Pengembangan melalui Pemodelan Eksperimental
Penelitian eksperimental dilakukan untuk memperoleh solusi
suatu masalah melalui pembuatan dan serangkaian pengujian model
fisik dengan skala tertentu di Laboratorium maupun melalui pengujian
langsung pada prototipe di lapangan. Penelitian eksperimental ini
lazimnya ditempuh apabila pendekatan secara analitis maupun
numeris atas masalah yang dihadapi belum ada atau belum memuas-
kan, yang umumnya menyangkut masalah-masalah dengan GE dan
BC yang cukup rumit.
Melalui metode eksperimental dapat dikembangkan berbagai
teori baru, penyempurnaan teori yang telah ada, membantu pengem-
bangan model matematis (analitis dan numeris), memvalidasikan
berbagai solusi analitis/numeris, maupun mengembangkan berbagai
formula sederhana yang diperlukan dalam perancangan (Suhendro,
2000). Dalam pendekatan ini pemahaman yang mendalam atas
masalah yang diteliti, latar belakang yang cukup tentang teori
modeling dan teknik eksperimental, maupun fasilitas laboratorium
yang memadai mutlak harus dimiliki.

24
Pemodelan Eksperimental di laboratorium ini tetap akan
menjadi andalan dalam pengembangan ilmu teknik sipil-struktur masa
depan, dan pengembangannya sangat terkait dengan teknologi instru-
mentasi, teknologi sensor, fisika teknik, teknik elektro dan teknik
mesin.
Infrastructure Management System
Pada masa pengoperasian dan pengelolaan infrastruktur dalam
kurun waktu yang cukup lama berbagai kemungkinan degradasi
kinerja struktur akibat berbagai sebab mungkin dapat terjadi, antara
lain adalah: (a) lingkungan yang agresif atau korosif, (b) weathering,
(c) overloading, (d) fatigue & fracture, (e) gempa bumi, (f) getaran
dan beban dinamik, (g) kebakaran atau temperatur, (h) gerusan
(scouring) dan (i) beralih fungsi. Agar berbagai fasilitas itu masih
dapat difungsikan dengan baik sesuai rencana semula maka masalah
perawatan, evaluasi dan repair/retrofit merupakan aktivitas rutin yang
akan selalu dilakukan. Dalam hal ini, suatu sistem pengelolaan
infrastruktur (Infrastructure Management System) yang didukung oleh
data base yang akurat, up to date, dan mencukupi, serta peralatan dan
sumber daya manusia yang memadai untuk melakukan evalusai
kinerja struktur, perlu dikembangkan untuk menjamin fungsional,
keamanan, dan kenyamanan dalam pengoperasian (White, Minor dan
Derucher, 1992). Berbagai peralatan dan teknik evaluasi nondistruktif
berbasis gelombang ultrasonik seperti rebar detector (mendeteksi
tulangan baja dalam beton), PUNDIT (mendeteksi retak dan kekuatan
bahan), mechanical exiter, accelerometer, LVDT, dial gage, strain
gage
, crack comparator, permeability meter, chloride tester, ph-
meter
, thermocouple, data logger dan sejenisnya telah dikembangkan
dan terus menerus disempurnakan di masa mendatang.

Aerospace Engineering
Berbagai fasilitas/infrastruktur yang ditangani teknik sipil-
struktur tidaklah hanya yang terdapat di bumi saja namun seperti yang
telah dicanangkan oleh American Society of Civil Engineers (ASCE)
sejak sekitar 20 tahun yang lalu, termasuk pula berbagai fasilitas/
25
infrastruktur di ruang angkasa (aerospace) dan di bulan (lunar
environment
), yang diketahui memiliki problema khusus dalam meng-
atasi pengaruh microgravity, high vacuum, pressure differential, ther-
mal cycles
, vibration, impact, dan radiation. ASCE telah memiliki
jurnal khusus untuk mewadahi perkembangan kearah itu yaitu ASCE
Journal of Aerospace Engineering
(Walla dkk., 1995). Contoh batuan
bulan telah dibawa ke bumi untuk diteliti kemungkinan penggunaan-
nya sebagai material utama pembuatan beton di bulan (lunar
concrete
).
Forensic Engineering
Istilah forensic telah dipakai sejak lama di dunia Kedokteran dan
Kepolisian, yang pada prinsipnya adalah terkait dengan investigasi
dalam rangka membantu pengadilan mengungkapkan penyebab yang
sebenarnya dari suatu peristiwa yang mengakibatkan korban jiwa
maupun materi yang menimpa masyarakat umum.
Dalam bidang Teknik Sipil, berbagai peristiwa yang "tidak
diinginkan" (seperti kecelakaan, kerusakan dan keruntuhan suatu
infrastruktur) dapat terjadi pada masa pelaksanaan ataupun pada
masa pengoperasian, yang dapat menimbulkan kerugian-kerugian
baik dalam bentuk materi ataupun korban jiwa. Kemungkinan penye-
babnya dapat berupa: (a) kesalahan dalam tahap perancangan, seperti
kesalahan interpretasi pedoman/kriteria/konsep perancangan, kesalah-
an perhitungan, dan kesalahan penggunaan computer software, (b)
kesalahan dalam tahap konstruksi, seperti kesalahan metode konstruk-
si, kelalaian dalam pengoperasian peralatan, dan kualitas hasil penger-
jaan yang tidak memenuhi spesifikasi, (c) peristiwa dalam masa
pengoperasian infrastruktur yang dapat menyebabkan degradasi
kinerja struktur, seperti overloading, poor maintenance, lingkungan
yang agresif/korosif, tidak difungsikan sesuai rencana, kebakaran,
ledakan bom, tumbukan, gempa bumi, getaran dinamik, angin taufan,
banjir, tanah longsor, gerusan, fatigue & fracture, dan weathering.
Pada kondisi ini berbagai fihak seperti: (a) lembaga pengadilan,
(b) kepolisian, (c) pemerintah-daerah setempat yang terkait dengan
perijinan bangunan, (d) asuransi, (e) pemilik bangunan ataupun
pengelola fasilitas, dan tidak ketinggalan (f) konsultan perencana/
26
pengawas serta (g) kontraktor pada saat pembangunannya, akan dapat
dilibatkan untuk menetapkan siapa yang "bersalah" dan seberapa besar
"ganti-rugi" yang sepatutnya dibayarkan oleh asuransi kepada fihak
yang dirugikan. Situasi yang demikian sangat memerlukan peran
Forensic Engineering untuk membantu mengungkapkan permasalah-
an yang sebenarnya secara obyektif dan proporsional, yang secara
umum akan meliputi aspek-aspek: (a) investigasi, (b) evaluasi, dan (c)
kesaksian ahli di depan pengadilan (Suhendro, 2000).
Di negara maju, seperti USA, karena banyaknya kasus yang
mengemuka dan sangat dihargainya hak-hak setiap warga negara,
maka untuk menanganinya, asosiasi ASCE (American Society of Civil
Engineers
) cukup tanggap dan dibentuklah secara resmi Committee on
Forensic Engineering
pada tahun 1982, yang untuk saat ini telah
berganti nama menjadi Technical Council of Forensic Engineering
(TCFE). Konferensi Nasional pertama digelar di Seattle, Washington,
tahun 1986, dengan tema Forensic Engineering: Learning from
Failures
. Suatu jurnal ilmiah Forensic Engineering JPCF telah terbit
rutin 3 bulan sekali sejak 1987 dan mendapatkan respons yang sangat
baik dari berbagai kalangan profesi, tidak hanya engineering saja
namun termasuk pula lawyer, architects, government representatives,
insurance executives, dan owners (Rens, 1997). Sejak konferensi ke 2
(1997) di Minnesota beberapa Universitas di USA telah mulai
memasukkan mata kuliah Forensic Engineering dalam kurikulumnya.
Mengingat permasalahan yang muncul di Indonesia saat ini
serupa dengan yang telah terjadi sebelumnya di USA, yaitu peran-
cangan dan construction infrastruktur baru tidak lagi mendominir
kegiatan sehari-hari, namun masalah pengelolaan, pengoperasian,
perawatan, evaluasi, perbaikan/repair existing infrastructures agar
dapat berfungsi optimal selama masa layannya lebih dominan, dan
peristiwa-peristiwa yang "tidak diinginkan" juga sering muncul, maka
Forensic Engineering nampaknya sudah saatnya dikenalkan dan perlu
dipertimbangkan untuk mulai diajarkan kepada para mahasiswa S1.
Materi yang dicakup adalah: (a) teknik inspeksi dan evaluasi kinerja
existing structures, (b) metode non-distruktif & distruktif, (d) teknik
investigasi, (e) berbagai kasus keruntuhan struktur masa lalu, (f)
program komputer untuk accident reconstruction, (g) construction law
& building failure
, dan (h) product law and product failures.
27
Mitigasi Bencana
Wilayah Indonesia secara geografis dan geologis berpotensi
besar mengalami bencana alam, degradasi lingkungan, dan bencana
akibat ulah manusia. Bencana alam yang sering terjadi adalah gempa
bumi, tsunami, gunung berapi, tanah longsor, angin taufan, banjir,
erosi, polusi dan kekeringan. Ratusan bahkan ribuan korban manusia
berjatuhan pada setiap kejadian bencana alam. Berhubung semua
sumber bencana tersebut sebagian besar berasal dari alam yang tidak
dapat dicegah maka satu-satunya alternatif adalah mengkaji dan
melakukan berbagai upaya meminimalkan jatuhnya korban jiwa.
Mitigasi, yang merupakan startegi mengupayakan berbagai
tindakan preventif untuk meminimalkan dampak negatif bencana alam
yang diantisipasi akan terjadi di suatu daerah tertentu, merupakan
infestasi jangka panjang bagi kesejahteraan semua lapisan masyarakat.
Mitigasi dapat bersifat struktural ataupun non-struktural (Russel,
1996). Terdapat kecenderungan bahwa sudah menjadi kebutuhan
untuk lebih menitik beratkan pada upaya mitigasi katimbang respons
pasca bencana (Severn, 1996).
Pengalaman bencana gempa bumi di masa lalu di Indonesia
menunjukkan bahwa mayoritas struktur bangunan yang mengalami
kerusakan parah adalah dari tipe non-engineered buildings, yaitu
bangunan-bangunan sederhana (1~2 lantai) yang tidak memanfaatkan
jasa engineers pada saat merancang dan membuatnya sehingga sistem
struktur, mutu pengerjaan maupun material yang digunakan cenderung
belum memenuhi standar minimal peraturan bangunan yang berlaku
Korban manusia yang terkena bencana lazimnya adalah para penghuni
non-engineered buildings tersebut, yang kebanyakan berupa rumah
tinggal sederhana. Oleh sebab itu dalam upaya mitigasi bencana,
prioritas utama yang harus diperhatikan adalah penanganan dan pem-
benahan non-engineered buildings tersebut.
Pada saat terjadi gempa bumi, tanah di bawah fondasi bangunan
akan bergetar hebat secara random dalam arah 3-dimensi selama 0,5
s/d 1,5 menit, dan getaran tersebut menjalar ke bangunan di atasnya
sambil mengalami amplifikasi. Akibatnya elemen-elemen pembentuk
struktur bangunan, apabila tidak disambung dengan baik, cenderung
akan saling terpisahkan dan runtuh menimpa penghuninya.
28
Dengan mengenali mekanisme terjadinya gempa bumi tektonik
yang sampai saat ini belum dapat diprediksi secara tepat kapan
terjadinya dan memahami pula tipikal kerusakan yang dapat ditimbul-
kan, dapat diupayakan berbagai langkah mitigasi yang bertujuan
utama untuk secara bertahap meningkatkan kualitas bangunan non-
engineered
di suatu wilayah sehingga memenuhi persyaratan tahan-
gempa, baik terhadap bangunan baru maupun existing buldings,
melalui peningkatan kualitas material yang digunakan, kualitas sistem
strukturnya, dan kualitas pengerjaan serta ketrampilan para
tukang/pekerja bangunan di wilayah tersebut.
Meskipun pedoman teknis struktur tahan gempa telah lama
tersedia namun kesadaran dan motivasi masyarakat untuk mengikuti-
nya (saat membangun baru atau meningkatkan kualitas bangunan yang
telah ada) demi keselamatan diri mereka sendiri masih sangat rendah.
Upaya-upaya lain secara terpadu dapat ditempuh dalam rangka
mitigasi bencana antara lain: sistem peringatan dini (early warning
system
) dan tanggap/kesiagaan darurat (disaster preparedness) yang
merupakan satu kesatuan dengan upaya pengelolaan suatu wilayah.
Peran para ahli sosiologi, psikologi, maupun komunikasi massa
barangkali dapat banyak membantu menyelesaikan permasalahan
peningkatan motivasi, implementasi sistem peringatan dini maupun
kesiapan tanggap darurat masyarakat di suatu wilayah yang diantisi-
pasi akan mengalami bencana, sehingga korban yang ditimbulkan
dapat berkurang secara signifikan.

29
DAFTAR PUSTAKA

ACI Committee 363, 1992, State-of-the-Art Report on High Strength
Concrete, American Concrete Institute, Detroit, Michigan.
Bennett, D., 1999, The Creation of Bridges, Quintet Publishing
Limited, London.
Bakht, B., Al-Bazi, G., Banthia, N., Cheung, M., Erki, M.A., Faoro,
M., Machida, A., Mufti, A.A., Neale, K.W., & Tadros, G., 2000.
Canadian Bridge Design Code Provisions For Fiber-Reinforced
Structures, Journal of Composites for Construction, ASCE –
Materials Engineering Division, Vol. 4, No.1.
CEB-FIP, 1990, High Strength ConcreteState of the Art Report,
Comite Euro-Int. Du Beton, Bulletin dInformation No.197.
Foster, S.W., 1996, Recycled Concrete as Aggregate, Magazine of
Concrete Construction, Otober.
Foster, C.D., Richards, D. & Bogner, B.R., 2000. Design and
Installation of Fiber-Reinforced Polymer Composite Bridge.
Journal of Composites for Construction. ASCE – Materials
Engineering Division, Vol. 4, No.1.
Gandhi, M.V. & Thompson, B.S., 1992, Smart Materials and
Structures, Chapman & Hall, London.
Guran, A. & Inman, D.J. (editors), 1995, Smart Structures, Nonlinear
Dynamics, and Control, Prentice Hall Inc., New Jersey.
Holm, T.A. & Vaysburd, A.M. (editors), 1992, Structural Light-
weight Aggregate Concrete Performance, Special Publication
SP-136, American Concrete Institute, Detroit, Michigan.
Housner, G.W. & Chung, R.M. (editors), 1996, Natural Disaster
Reduction, American Society of Civil Engineers, New York.
Hung, S., Kao, C.Y. & Lee, J.C., 2000, Active Pulse Structural
Control Using Artificial Neural Networks, ASCE Journal of
Engineering Mechanics
, Vol.126, No.8, August.
Ibrahim, H.H. & MacGregor, J.G., 1996, Modification of the ACI
Rectangular Stress Block for High Strength Concrete, ACI
Structural Journal
, Vol.94, No.1, January-February.
Kowlczyk, R.M., Sinn, R. & Kilmister, M.B., 1995, Structural
Systems for Tall Buildings, Council on Tall Buildings and
Urban Habitat, McGraw-Hill, Inc., New York.
30
Kramer, S.L., 1996, Geotechnical Earthquake Engineering, Prentice
Hall Inc., New Jersey.
Levy, M. & Salvadori, M., 1994, Why Buildings Fall Down, W.W.
Norton & Co., New York.
Liong, S., Lim, W. & Paudyal, G.N., 2000, River Stage Forecasting in
Bangladesh: Neural Network Approach, ASCE Journal of
Computing in Civil Engineering
, Vol.14, No.1, January.
Malla, R.B., Adib Jahroni, H.R., & Secorn, M.L. 1995, Simplified
Design Method for Proceed Double Skinned Structure in Lunar
Application.
Journal of Aerospace Engineering. ASCE –
Aerospace Division. Vol. 8 No. 4 pp.189-195.
Mangat, P.S. & Khatib, J.M., 1995, Influence of Fly Ash, Silica Fume
and Slag on Sulfate Resistance of Concrete, ACI Material
Journal
, September-Oktober.
Masri, S.F., Smyth, A.W., Chassiakos, A.G., Caughey, T.K. &
Hunter, N.F., 2000, Application of Neural Networks for
Detection of Changes in Nonlinear Systems, ASCE Journal of
Engineering Mechanics
, Vol.126, No.7, July.
Miyamoto, A., Tei, K., Nakamura, H., & Bull, J.W., 2000, Behavior
of Prestressed Beam Strengthened with External Tendons,
ASCE Journal of Structural Engineering, Vol. 126, N0. 9,
September.
Phillips, R.S., 1983, Funk & Wagnalls New Encyclopedia, Vol.
1~28, Funk & Wagnalls Inc., New York.
Podolny Jr., W. & Muller, J.M., 1982, Construction and Design of
Prestressed Concrete Segmental Bridges, John Wiley & Sons,
New York.
Rens, K.L. (editor), 1997, Forensic Engineering, American Society
of Civil Engineers, New York.
Russel, J.W., 1996, Education : Pathway to Mitigation, Proceedings
of the Conference Sponsored by the American Society of Civil
Engineers, Washington D.C., December 2~5.
Sawada, E., 1997, Repair Method for Salt-Damaged Reinforced
Concrete Structures, Repair & Rehabilitation II, American
Concrete Institute Compilation-20, Detroit, Michigan.

31
Sayed, T. & Razavi, A., 2000, Comparison of Neural and
Conventional Approaches to Mode Choice Analysis, ASCE
Journal of Computing in Civil Engineering
, Vol.14, No.1,
January.
Severn, R.T., 1996, A Comprehensive Strategy For Mitigation,
Proceedings of the Conference Sponsored by the American
Society of Civil Engineers, Washington D.C., December 2~5.
Sinha, S.K. & McKim, R.A., 2000, Artificial Neural Network for
Measuring Organizational Effectiveness, ASCE Journal of
Computing in Civil Engineering
, Vol.14, No.1, January.
Soh, C.K. & Yang, Y., 2000, Genetic Programming-Based Approach
For Structural Optimization, Sinha, S.K. & McKim, R.A., 2000,
Artificial Neural Network for Measuring Organizational
Effectiveness, ASCE Journal of Computing in Civil
Engineering
, Vol.14, No.1, January.
Suhendro, B., 2000, Beberapa Hal Tentang Forensic Engineering,
Seminar Nasional Forensic Engineering, Universitas Sugijopra-
noto, Semarang.
Suhendro, B., 2000, Teori Model Struktur dan Teknik
Eksperimental, Beta Offset, Yogyakarta.
Suhendro, B., 1999, Strengthening of Reinforced Concrete Beam
After Fire Using Carbon Fiber Strip, Monthly Seminar,
Department of Civil Engineering, Monash University, Clayton,
Australia
,14 March

Suhendro, B., 2000, Stress and Displacement Amplification Factors
for Nonlinear Analysis of Long Span Arch Structures, Seminar
Metode Elemen Hingga, 15 Des. 2000 di ITB-Bandung.
Suhendro, B., 2001, Inspection and Strengthening Techniques of 70-
years old Piers of Multispan Railway Bridge Facing Serious
Scouring Problem
,International Conference on Inspection,
Appraisal, Repairs & Maintenance of Buildings & Structures,
Nottingham, United Kingdom, 10 ~ 14 September
.
Suhendro, B., 2002, Upaya Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil Secara Struktural dan Non-Struktural, Lokakarya
Nasional Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, Departemen Kelautan, Jakarta, 17~18 Desember.

32
Sokolnikoff, I.S., 1986, Mathematical Theory of Elasticity, Robert E.
Krieger Publishing Company, Florida.
Walla, R.B., Adib-Jahromi, H.R. & Accorci, M.L., 1995, Simplified
Design Method for Braced Double Skinned Structures in Lunar
Application, ASCE Journal of Aerospace Engineering, Vol.8,
No.4.
White, R.N., Gergely, P. & Sexsmith, R.G., 1976, Structural
Engineering – Combined Edition, John Wiley & Sons, New
York.
White, K.R., Minor, J. & Derucher, K.N., 1992, Bridge Maintenance
Inspection and Evaluation, Marcel Dekker Inc., New York.
Zhang, M.H., Lastra, R. & Malhotra, V.M., 1996, Rice husk paste and
concrete: Some aspects of hydration and the microstructure of
the interfacial zone between the aggregate and paste, Cement
and Concrete Research
, Vol. 26., No. 6.

Leave a Reply