Pidato Ikhsan : Wangala Alihi Wasohbihi Ajmangin Amma Bakdu.

Assalumualaikum Wr. Wb

Alhamdullahi robbil ngalamin wassolatu wassalamu ngala asrofil ambiyaai wal mursalin,

Wangala alihi wasohbihi ajmangin amma bakdu.

Para Bapak Ibu Dewan Guru atau Dewan Juri yang saya hormati dan dimulyakan AllohSWT

Dan Peserta lomba yang saya hormati dan juga dimulyakan oleh Alloh SWT

Sebelumnya mari kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena pagi yang cerah ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat walafiat. Sholawat serta salam kita aturkan pada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yag telah membawa kita dari alam jahiliyah ke alam islamiyah seperti sekarang ini.

Hadirin yang berbahagia, hari ini adalah hari Kamis tgl 9 Agustus 2007. sebagai warga Negara Indonesia, kita semua tentu sudah mengetahui apa yang telah berlangsung pada hari-hari seperti saat sekarang ini.

Secara de jure, atau menurut teorinya, kita bangsa Indonesia sudah merdeka sejak 62th yang lalu, yaitu sejak hari jumat, tgl 17 Agustus 1945. Namun secara de facto, atau pada kenyataannya, diantara kita sesama bangsa Indonesia, barangkali masih bisa berbeda pandangan. Untuk itu, kita bisa melihat dan mendengarkan berbagai komentar tentang Kemerdekaan ini di media-media massa atau layar televisi di rumah-rumah kita.

Namun, lepas dari sebenarnya kita sudah merdeka atau belum, tampaknya tidak terlalu penting untuk kita persoalkan. Yang lebih penting adalah bagaimana atau apa yang mesti kita perbuat untuk kemaslahatan diri kita dan orang banyak, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan kita ini.

Hadirin yang dimulyakan Allah, Allah telah mengisyaratkan kepada kita sekalian, bahwa antara kemerdekaan dan ketakwaan ternyata mempunyai ikatan yang sangat erat. Diantara ke duanya tidak mungkin dipisahkan, terutama jika benar-benar menghendaki makna Kemerdekaan yang sebenarnya. Allah SWT berfirman :

Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, sehingga mereka tidak akan disentuh oleh siksa api neraka dan tidak pula akan merasakan duka cita. ( Q.S. Az-Zumar,39; ayat 61 ).

Dari ayat ini kita bisa melihat dengan jelas kaitan antara keselamatan, ketakwaan, kemenangan dan bebas dari penderitaan maupun rasa duka. Dan poros awalnya adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Sehingga kita bisa memahami bahwa hakikat kemerdekaan, mestinya, adalah kemenangan yang membawa keselamatan dan pembebasan dari beban penderitaan maupun rasa duka. Hadirin sekalian definisi kemerdekaan menurut Surat Az-zumar ayat 61 ini rasanya berat sekali untuk diwujudkan. Terlebih lagi bagi masyarakat kita yang sangat majemuk ini. Tetapi paling tidak, definisi yang demikian dapat kita jadikan acuan dan sekaligus tujuan untuk mengarahkan langkah-langkah kita dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, langkah utamanya adalah bagaimana upaya kita agar senantiasa berada didalam koridor ketakwaan. Sebab kemenangan, keselamatan dan lain-lainnnya itu akan terwujud dengan sendirinya. Apabila ketakwaan dengan segala dimensinya itu benar-benar kita jalankan.

Jadi, bagaimanakah kita akan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia ini ? Pertanyaan ini bisa kita jawab, tentu saja, dengan menunaikan dimensi-dimensi ketakwaan itu sendiri, yang antara lain:

Selalu berorientasi hidup di depan:

Berbuat adil, Allah SWT berfirman:

Berbutlah adil, karena perbuatan adil itu paling dekat dengan taqwa. (Q.S. Al-Maidah, 5; ayat 8).

Mudah memaafkan kesalahan orang lain dan mengembangkan potensi diri,Allah berfirman

dan sifatmu (untuk) memaafkan itu lebih dekat kepada taqwa, dan janganlah kamu melupakan keutamaan yang ada di antara kamu. (Q.S AI-Baqarah, 2; ayat 237)

Bersikap rendah hati dan menjaga intonasi suara

Memelihara makanan, hanya yang halal dan berkualitas. Allah SWT berfirman:

Dan makanlah dari sebagian harta yang kamu dapatkan itu (dari) yang halal dan baik. (Q.S. Al- Hujaraat, 49; ayat 3)

Berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan pengorbanan diri. Allah SWT berfirman:

Orang- orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihat dengan harta dan diri mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang orang bertaqwa. (Q.S. At Taubah, 9; ayat 44).

Demikianlah yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wabillahi taufik walhidayah ,Wassalamungalaikum Warohmatullohi Wabarohkatuh.

Bismillah

Assalamualaikum wr.wb.

Yth. Bapak Ketua Gugus 2

Yth.Bapak/Ibu Kepala Sekolah Gugus 2

Dan Yth Bapak/Ibu guru Gugus 2

Sebelumnya mari kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Alloh swt karena pada pagi hari ini kita dapat bertemu dalam keadaan sehat walafiat, tak lupa sholawat dan salam kita haturkan pada junjungan kita nabi Agung Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam jahiliyah ke alam islamiah seperti sekarang ini.

Pada kesempatan ini saya sebagai ketua KKG Gugus 2 menyampaikan bahwa pada pertemuan KKG ini menindaklanjuti dari KKG Kec. Yaitu membuat Program Semestre I kelas I-VI.Adapun pembagian kerja yaitu:

Kelas I : B.Hartini dengan B.Jumariah

Kelas II : B.Rohana dengan B.Sri Arijani

Kelas III: B.Mamik dengan B.Sundari

Sedangkan Kelas IV s/d VI bidang studi :

Matematika : B.Jamiah dengan P.Slamet

Bhs.Indonesia ; P.Poniran dengan B.Sundari

I P A : P.Giono dengan B.Saminem

I P S : P.Gianto dengan B.Endang Rahayu

P K N ; B.Rubinah

Bhs.Inggris : P.Syamuri dengan B.Ely

Bhs.Jawa : B.Sri Arijani dengan B.Sudarti

Agama : P.Isa dengan P.Syamsul

Penjaskes : P.Warto dengan P. Rakun

Masalah alokasi waktu dan jam pertemuan saya serahkan sepenuhnya pada Bapak/Ibu sesuai bidangnya masing-masing.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Akhiru kalam Wassalamu alaikum Wr.Wb.

Assalumualaikum Wr. Wb

Alhamdullahi robbil ngalamin wassolatu wassalamu ngala asrofil ambiyaai wal mursalin,

Wangala alihi wasohbihi ajmangin amma bakdu.

Ibu Guru yang saya hormati

Dan Teman-teman yang saya cintai

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa,yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga siang yang cerah ini kita dapat berkumpul ditempat ini dalam keadaan sehat walafiat.

Kedua kalinya shol;awat serta salam kita aturkan pada junjungan kita Nabi Besar,Nabi Akhir Zaman Nabi Muhammad SAW.Yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam islamiyah seperti sekarang ini.

Terima kasih saya sampaikan kepada saudara pembawa acara yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk

Mungkin teman-teman bertanya, Siapa Kartini?Mungkin teman-teman juga bertanya,Apa jasa Kartini sehingga setiap tahuin diperingati?

Dari buku sejarah dapat kita ketahui bahwa Kartini adlah putri bupati Jepara,Jawa Tengah. Waktu itu, negara kita masih dijajah belanda. Sekolah belum banyak. Hanya sedikit anak-anak yang bisa bersekolah. Lebih-lebih anak-anak perempuan. Waktu itu dalam masyarakat masih berlaku adat pingit. Yakni,anak perempuan yang memesuki umur belasan tahun sudah harus dipingit.Artinya,tidak boleh pergi alias harus tetap dirumah. Pergi ke sekolahpun tidak boleh. Dengan adanya adat seperti itu, maka mustahil bagi anak-anak perempuan dapat bersekolah.

Demikian pula yang dialami Kartini. Meskipun dia anak seorang Bupati, tetap tidak dapat bersekolah. Padahal, Kartini sangat ingin bersekolah. Kartini ingin menjadi orang pintar sebab dia sudah menyadari bahwa untuk memperoleh kemajuan, orang harus pintar. Agar menjadi pintar, orang harus bersekolah.

Kartini tidak putus asa. Dia belajar sendiri di rumah bersama saudara-saudaranya. Di menjalin komunikasi dengan orang lain melalui surat. Banyak sekali surat yang dikirimkan dan banyak pula surat balasan yang diterimanya. Dari kegiatan surat-menyurat itu, Kartini menjadimakin pintar. Kemudian, dia mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak perempuan.

Usaha Kartini tidak sia-sia. Cita-cita Kartini terwujud. Sekarang anak-anak perempuan dapat dengan leluasa bersekolah, sebab selain mendapatkan kebebasan bersekolah, sekolah-sekolah sekarang makin banyak. Hal itu tentu tak dapat dilepaskan dari jasa Kartini. Oleh karena itu, kita sangat berterima kasih kepada Ibu Kartini.

Apakah hanya ucapan terima kasih? Tentu saja tidak. Kita harus mau melanjutkan cita-cita ibu Kartini. Caranya, kita harus rajin belajar dan giat berlatih agar menjadi pintar. Agar cepat pintar, kita harus rajin membaca apa saja, baik berupa surat kabar, majalah, maupun buku, karena dalam bacaan itu terdapat berbagai informasi dan ilmu. Semua itu ibarat makanan yang menguatkan tubuh kita. Jika kita makan makanan yang bergizi, tubuh kita menjadi makin besar, makin kuat, dan makin sehat. Demikian pula jika banyak membaca, kita akan menjadi makin pintar. Jika sudah pintar, kita dapat memajukan bangsa dan Negara kita.

Demikianlah. Dalam memperingati hari Kartini ini kita harus mampu mengambil hukmahnya. Kita harus berupaya agar dapat mewarisi semangat Kartini dalam menuntut ilmu. Kita harus mau belajar giat agar menjadi manusia cerdik, pandai, pintar, dan bijaksana untuk memajukan bangsa dan negara kita.

Sekian, dan selamat pagi.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wabillahi taufik walhidayah ,Wassalamungalaikum Warohmatullohi Wabarohkatuh.

Leave a Reply