Pidato : Bapak-bapak, Ibu-ibu, Beserta Mahasiswa Dan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Bapak-bapak, ibu-ibu, beserta mahasiswa dan mahasiswi yang terhormat.

Maha Suci dan Maha Kekal Allah yang telah memperjalankan perputaran bumi dan matahari. Dengan perputaran bumi dan matahari itulah manusia dapat menghitung, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Kita wajib memuja dan memuji serta besyukur karena hingga detik ini, kita masih dapat menikmati hangatnya matahari pagi. Dan tak lupa pula kita kirimkan salawat beriring salam kepada nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut ajarannya. Karena beliaulah yang telah membawa kita dari alam kegelapan, kebodohan, jahilia, kealam yang terang bendarang dan penuh dengan tekhnologi canggih seperti yang kita rasakan pada saat ini.

Bapak-bapak, ibu-ibu, beserta mahasiswa dan mahasiswi yang terhormat.

Sengaja pada kali ini saya sebagai seorang kriminolog, membawakan pidato yang bertema aspirasi tentang hukuman mati terpidana narkoba .

Sekarang ini narkoba sudah semakin rawan dikalangan masyarakat Indonesia, terutama dikalangan mahasiswa dan mahasiswi. Tapi bukan hanya itu, saat ini narkoba juga beredar hingga dikalangan anak sekolah dasar, Sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas, bahkan juga beredar dikalangan artis. Sungguh suatu peredaran yang sangat berbahaya dan harus dihentikan. Menurut UU No.22 Tahun 1977 zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan perubahan atau penurunan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi samapai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Lalu, bagaimana dengan hukuman mati untuk terpidana narkoba?

Berbicara tentang hukuman mati, dari sisi kemanusiaan siapapun umumnya tidak tega untuk mencabut nyawa seseorang. Namun, lain lagi bagi para terpidana narkoba yang tergolong pengedar atau Bandar besar. Menurut majalah Radar, Bukan hanya satu atau dua orang yang hancur karenanya, namun beberapa generasipun dapat meregang nyawanya karena menjadi penyalah guna. Bayangkan, bila dalam setahun 15.000 orang yang kehilangan nyawanya akibat narkoba. Maka, dalam sehari lebih dari 41 orang jumlah kematian karena narkoba. Jadi, masihkah kita bertanya kembali tentang hukuman mati bagi penjahat narkoba?

Bapak-bapak, ibu-ibu, beserta mahasiswa dan mahasiswi yang terhormat.

Menurut majalah yng saya baca, yaitu majalah Radar, ada berbagai cara melihat hukuman mati, Pertama, selama hukuman mati masih diatur oleh hukum positif di Indonesia maka masih ada hukuman mati dan pengadilan yang tidak salah untuk memberlakukannya. Jadi, dalam hal ini pendekatan yang dipakai adalah pendekatan normatif.

Pendekatan yang kedua adalah Pendekatan retributif, yang berasal dari asal kata retribusi. Disini kita dapat pakai analogi retribusi parkir, yaitu bila seorang parkir satu jam dengan dua jam pastilah harganya berbeda. Jadi, kalau suatu sistem hukum masih menganut cara bepikir retributif, maka kita seakan berbicara mengenai mata ganti mata dan nyawa ganti nyawa. Seperti misalnya seorang pembunuh, maka dalam rangka hukuman yang pantas yang diberikan kepada yang bersangkutan, adalah hukuman mati. Restribusi jadi setimpal.

Cara ketiga lebih kepada pandangan hak asasi manusia (HAM). Pandangan ini mengatakan, kalau memang sebuah hukuman mati itu masih ada dan sesuai sebuah sistem hukum, maka pelaksanaanya harus dengan cara yang tidak menyakitkan. Dalam pandangan ini penggunaan atau metode eksekusi yangcepat dan tidak menyakitkan dianggap sebagai suatu cara yang lebih bagus dalam rangka mencabut nyawa seseorang. Sebab, cara yang menyakitkan dan lama dianggap mengganggu hak asasi.

Keempat adalah pandangan moralis. Pandangan terakhir ini merupakan pandangan yang sangat menolak dan mengatakan bahwa jangan sama sekali ada hukuman mati dalam sebuah sistem hukum manapun. Bila sebuah Negara memiliki sistem hukum yang memberlakukan hukuman mati. Maka hukuman itu tidak berhak untuk diberlakukan untuk kejahatan apapun.

Perdebatan diantara empat pandangan itupun dikarenakan pengaruh dari beberapa pandangan lain, seperti pandangan ketuhanan, fenologis, dan sistem peradilan pidana(SPP). Untuk Indonesia, kita tidak dapat membandingkan pandangan mana yang lebih besar dan mempengaruhi. Memang yang menganut pandangan positif itu kecil. Namun masalahnya, karena positif maka itu kuat. Pandangan postif mengatakan, ketika Undang-Undang menyatakan demikian, maka mau tidak mau harus dilaksanakan.

Bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa dan mahasiswi yang saya hormati.

Dari pidato yang saya sampaikan tadi, dapat disimpulkan bahwa narkoba itu merupakan Sesuatu yang sangat berbahaya, dan jangan sekali-kali kita untuk mendekatinya bahkan sampai mencicip, cukup menjauhi saja. Harapan saya dikedepannya adalah tidak ada lagi terdengar masalah tentang narkoba, dan saya berpesan, jika ada orang yang menawarkan narkoba, katakan tidak! pada narkoba.

Bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa dan mahasiswi yang saya hormati.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini dan terima kasih atas perhatiannya, semoga ada guna dan manfaatnya, lebih dan kurang saya mohon maaf.

Saya akhiri dengan billaahit taufiq wal hidayah wassalamualaikum wr.wb.

Incoming search terms:

  • pidato hukum
  • ceramahan hukuman
  • contoh pidato hukuman mati
  • pidato tentang hukum sudah mati
  • pidato tentang ibu mahasiswa
loading...