Pidato Seni Bahasa Yang Dipakai.

BAHASA SEBAGAI MORAL DAN SENI

Om Swastiastu

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah SMKN 1 Denpasar,

Yang saya hormati Bapak dan Ibu Guru SMKN 1 Denpasar,

Teman-teman yang saya cintai dan saya banggakan.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena dengan rahmat dan anugrah-Nya kita dapat diberi kesehatan untuk berkumpul pada hari ini.

Sebelum kita membahas tentang seni bahasa. Kita awali dari kita lahir sampai saat ini. Tak terasa tentunya kita sudah diajarkan cara berbicara. Mulai kita belajar berbicara dari satu kata demi satu kata sampai kita mampu mengertikan arti ucapan yang kita ucapkan. Ucapan yang keluar dari mulut kita merupakan sebuah bahasa. Bahasa yang kita gunakan setiap hari merupakan ciri tata sopan santun kepada orang lain untuk saling menghormati, selain itu juga terdapat nilai norma yang mengatur tingkah laku dan kesopanan seseorang. Bahasa yang terucapkan dari mulut kita terkadang tanpa sadar kita mengucapakan bahasa yang membuat orang senang maupun sedih. Bahasa ternyata didalamnya tersimpan dan terkandung sebuah unsur seni yang tidak sadar kita ketahui. Seni yang terkandung dalam bahasa, membuat bahasa tersebut menjadi menarik untuk didengar dan dibaca.

Untuk mengetahui seni bahasa itu, mari kita awali dari bangku sekolah dasar, pengenalan bahasa juga diawali dari dasar. Pengenalan bahasa yang diajarkan berupa mengartikan kata, membuat kalimat, sampai diajarkan membuat karangan sendiri. Dalam perjalanan untuk mengenali seni bahasa itu, kita masih diingatkan sebuah sapaan yang saling berbalas dengan irama yang menarik. Sapaan yang saling berbalas itu disebut dengan Pantun. Pantun kita dengar sebuah kata-kata yang saling berbalas. Dalam pemilihan kata, pantun dibuat menarik dengan sajaknya dan diksinya yang menyesuaikan keadaan yang ingin disampaikan. Pantun juga sering digunakan untuk membuat seseorang tertawa(pantun jenaka). Selain pantun juga terdapat sebuah pantun modern yang digambarkan menarik dengan memilih kata ungkapan tanpa mementingkan sajak yang kemudian disebut dengan Puisi. Puisi sampai saat ini tetap menarik dan banyak peminatnya, karena banyak sastrawan yang menggambarkan persaannya melalui sebuah puisi dengan memilih makna konotasi dan ungkapan-ungkapan yang membuat hati kita luluh disaat kita mendengarnya. Seni bahasa juga terdapat pada hal-hal lain yang masih ada hubungannya dengan bahasa itu sendiri. Seperti karya novel, argumentasi ungkapan-ungkapan dan banyak lainnya.

Beranjak kita mulai remaja, bahasa yang kita ucapkan mulai berubah menurut psikis dari diri dalam kita dan juga dikarenakan dari lingkungan pergaulan disekitar kita. Semakin kita dewasa, pengertian arti seni bahasa juga semakin luas. Namun yang perlu diperhatikan bagaimana kita tetap menjaga seni itu tetap ada pada bahasa itu. Maka, kita seharusnya berterimakasih kepada sosok seseorang yang sabar mengajarkan kita yaitu pada guru. Guru adalah sosok seseorang yang telah mengajarkan banyak hal. Maka, Berbahasalah yang baik dan sopan agar bahasa itu menjadi lebih berkesan bukan seni saja melainkan berisikan norma dan kepribadian seseorang yang mengartikannya. Jadi, seni bahasa adalah beberapa makna yang terkandung unsur indah, menarik dan mudah untuk dipahami yang membuat bahasa itu menjadi lebih berkesan. Semoga pada generasi penerus kita, semakin menjadi lebih baik dan mapan untuk memaknai seni bahasa itu, demi kemajuan bangsa kita. Karena kemajuan bangsa kita berawal dari berbahasa dan para generasi muda bangsa kita sendiri.

Tidak terasa banyak sudah telah yang saya sampaikan. Mungkin ada beberapa hal yang saya sampaikan yang bersifat mendorong dan memajukan kita, itu dikarenakan membuat kita menjadi lebih baik dalam memaknai dan memahami seni bahasa itu. Selain itu, saya juga meminta maaf apabila ada beberapa kesalahan yang kurang berkenan di hati anda. Tidak lupa saya mengucapkan terimakasih atas semua pihak dan perhatian yang telah memberikan kesempatan dan waktu kepada saya.

Om Santih, Santih, Santihi Om