A Pidato B Indonesia KSM 2015

PIDATO : MEMBANGUN UKHUWAH ISLAMIYAH DEMI MADRASAH BERPRESTASI

Written By Prito Windiarto on Wednesday, November 26, 2014 | 6:25 AM

PIDATO MEMBANGUN UKHUWAH ISLAMIYAH DEMI MADRASAH BERPRESTASI

Oleh: Prito Windiarto, S.Pd.

Ditulis untuk sahabatku Ramdani Kendarsyah

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

    . . .                

           
Ucapan syukur sudah selayaknya kita haturkan pada Allah Sang Maha Kuasa. Yang telah menganugerahkan nikmat tak tehingga. Telah mengaruniakan anugerah terbesar, Al Iman wal Islam. Anugerah yang teramat agung, lebih baik dari dunia dan isinya. Allah jua yang masih memberikan kesempatan bagi kita untuk berkumpul di tempat penuh barokah ini dalam keadaan sehal wal afiat. Alhamdulilllah.

            Rasulullah adalah teladan terbaik. Insan utama yang teguh membawa risalah kenabian. Menebar jalan kebaikan. Menyebarkan cahaya kemuliaan. The real idol, nabiyuna, Muhammad saw. Semoga kita termasuk umatnya yang teguh meneruskan perjuangan beliau menegakkan kalimat Allah.

Yang saya hormati kepala Kemenag Kota Banjar

Yang saya hormati

Hadirin wal hadirot rahimakumullah

Pada kesempatan ini saya berdiri di sini untuk menyampaikan pidato yang berjudul Membangun ukhuwah islamiyah demi madrasah berprestasi.

Hadirin yang berbahagia

Secara bahasa ukhuwah berarti persaudaraan. Ukhuwah Islamiyah maknanya persaudaraan yang berlandaskan karena hubungan keimanan dan keislaman. Dalam Islam, persaudaraan memang tak terbatas sekadar pada hubungan darah. Namun ia luas  pada persaudaraan atas nama aqidah.

Dalam Al Quran Allah menegaskan persaudaraan  (ukhuwah)  berlandas iman Islam ini.

 Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujurat: 10)

Ayat tersebut memberikan kita pemahaman agar menjaga ukhuwah dengan baik. Dalam FirmanNya yang lain Allah menegaskan:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai Ali Imran 103

Hadirin Rahimakumullah

Menjaga tali ukhuwah teramat penting. Ukhuwah yang terjalin apik akan membentuk persatuan dan kesatuan yang kuat. Seperti batang lidi, jika hanya satu akan mudah patah dan tidak begitu berguna. Sebaiknya jika batang terkumpul, tersimpul, ia akan kuat dan dapat digunakan membersihakan kotoran. Begitu halnya kehidupan manusia, jika ukhuwah diabaikan, ia selayak batang lidi rapuh sendirian. Sebaliknya jika ukhuwah terekatkan, tersimpul kuat, maka akan menghasilakan kekuatan dahsyat.

Hadirin yang saya hormati

Bagi sebagian orang mengeratan ukhuwah bukankah sesuatu yang susah. Namun bagi sebagian yang lain, menyambung ukhuwah adalah sesatu yang sulit. Apalagi terhadap orang baru.

Karena itu, tak ada salahnya pada kesempatan ini ita bahas kiat membangun ukhuwah sesuai tingkat ukhuwah menurut ulama.

Pertama, taaruf  (Saling mengenal)

Pada tahap ini kita coba mengenal orang lain. Sifat, karakter dan kebiasaan orang lain. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Taaruf ini diharapkan mampu membuat diri mengenal lebih dekat orang tersebut

Kedua, tafahum  (Saling mengerti)

Setelah kenal, tahap berikutnya adalah saling mengerti (paham). Mengerti bahwa orang punya kelebihan dan kekurangan.

Ketiga, takaful (Saling membantu)

Setelah adanya kesepahaman. Tahap berikutnya adalah saling membantu. Takaful akan menjadian diri ringan membantu, saling bekerja sama.

Misal, jika ada yang sedang kesulitan ekonomi, ia tak segan membantu.

Hadirin yang berbahagia

Dalam konteks madrasah, ikatan ukhuwah Islamiyah mutlak dilakukan. Tahapan-tahapan uhuwah seazimnya diterapkan dengan baik. Taaruf, tafahum, dan takaful antar madrasah adalah kemestian.

Saat ini generasi muda Indonesia (termasuk remaja) sedang mengalami banyak godaan. Kenakalan remaja merajalela. Remaja yang tidak terdidik dan terbina akan tumbuh menjadi pribadi yang brutal.

Salah satu pihak yang bertalian dengan masalah generasi muda adalah sekolah (madrasah). Madrsah sebagai sarana menanamkan pendidikan karakter pada siswa.

Jalinan ukhuwah antar madrasah diharapkan mampu meningkatkan prestasi. Madrasah yang satu dan lain saing memberi masukan. Saling bahu membahu memecahkan masalah. Saling membatu mencari solusi atas endala yang dihadapi. Jika ada hal yang baik pada satu madrasah tak ada salahnya  diadopsi madrasah. Sebaliknya jika ada hal yang buruk berusaha dihilangkan bersama-sama.

Hadirin yang berbahagia

Madrasah adalah satu satu garda depan peyelamat bangsa.  Karena itu soliditas yang kuat berdasar prinsip ukhuwah islamiyah adalah keharusan. Pada gilirannya, penerapan ukhuwah isamiyah diharapkan mampu mendorong madrasah semakin berprestasi.

Wallahu alam bishowab

Demikian pidato yang dapat saya sampaikan,mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Hasbunallah wanimal wakil. Nimal maula waniman nashir.

Wassalamualaikaum Wr. Wb.

MEMBANGUN UKHUWAH ISLAMIYAH

Juni 8, 2009 Filed under Khutbah/Pidato

SERI KHUTBAH JUMAT

Dikhutbahkan pada tanggal 3April 2009

Assalamualaikum. WR. Wb

, , .

. .

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan karunia dan nikmat yang sangat besar berupa umur panjang, kesehatan, dan kesempatan yang luang sehingga kita semua bisa hadir di sini untuk mendirikan sholat jumat berjamaah.

Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Besar Junjungan alam, Nabi kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan kita sebagai umatnya.

Pada Khutbah ini, tidak lupa saya mengingatkan kepada seluruh jamaah, dan pada diri khotib khususnya, agar senantiasa mempertebal keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Seringkali diulang bahwa hanya ketaqwaanlah yang dapat menjamin ketentraman hidup kita. Keimanan dan ketaqwaan pula yang menjadikan kita merasa layak berharap rahmat Allah di dunia dan akhirat. Maka marilah kita semakin mendekatkan diri kepada Allah agar jalan hidup kita senantiasa diberkahi dan diridhoi Allah SWT.

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Ukhuwah merupakan salah satu variabel penting dalam pembangunan kekokohan bangunan Islam. Ukhuwah juga merupakan modal kekuatan umat, baik secara umum maupun khusus, setelah tauhid kepada Allah SWT.

Ummatan Wahidatan menempati posisi sangat penting dalam perjuangan umat. Bagaimana pun dan apa pun arti sebuah kekuatan, tak akan mempunyai arti apa-apa tanpa adanya kesatuan, sebab kesatuan merupakan perwujudan dari sikap kebersamaan. Kebersamaan muncul dari sikap persaudaraan yang tinggi dari sesama, dan persaudaraan lahir dari sikap iman yang dalam terhadap Allah Taala.

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah, yang telah mentaqdirkan bahwa sebagian besar penghuni negara ini menganut agama Islam, menjadi umat Islam yang paling banyak dibandingkan dengan umat Islam di Negara mana pun di dunia.

Ini merupakan rahmat dari Allah Taala. Yang kita harapkan, bukan hanya menjadi kebanggaan semu dalam slogan-slogan, akan tetapi dapat dibuktikan. Betapa begitu kuatnya tali persaudaraan kita sebagai muslim.

Sebagaimana Firman Allah Taala:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (Al-Hujarat: ayat 10)

Bahkan Rosulullah memberikan gambaran indah terhadap indahnya jalinan ukhuwah antara umat Islam. Sebagaimana sabdanya:

Perumpamaan orang mumin dalam saling mengasihi, saling mencintai dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila salahsatu anggota sakit maka seluruh tubuh akan terbawa sakit, susah tidur dan merasa demam (HR Bukhori Muslim)

Islam adalah agama yang sempurna, Islam adalah agama yang berisi petunjuk yang lengkap bagi manusia untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Salahsatu petunjuknya adalah mengenai hubungan antar manusia, khususnya sesama muslim. Yaitu hubungan yang terikat oleh ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah atau persaudaraan yang bukan dalam arti sempit, yang bukan hanya terikat oleh hubungan darah dan kekerabatan, tetapi hubungan ukhuwah yang dimaksud adalah hubungan yang terikat oleh persatuan aqidah Islamiyah.

Dasar kesamaan aqidah merupakan satu kekuatan yang mampu menyatukan cita-cita, mampu menyatukan sikap dan tujuan. Mampu menciptakan persatuan dan kebersamaan yang lebih luas. Dengan kesamaan aqidah akan tercapailah puncak kemesraan ukhuwah, yang pada akhirnya akan melahirkan sikap takaful (saling membantu), Taawun (saling menolong), tasamuh (saling menghargai dan bertoleransi).

Bagaimana praktiknya dalam kehidupan nyata..?
Rosululloh mengajarkan praktiknya, sebagaimana yang terlihat dalam sabdanya:

Seseorang itu menjadi saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak akan menganiaya saudaranya, dia tidak akan menghina serta membiarkan saudaranya terjerumus kepada kehinaan. Barang siapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya, dan barang siapa yang membantu menghilangkan kesusahan saudaranya, Allah akan memberikan kelapangan pada hari kiamat. Barang siapa yang menutupi cacat atau aib saudaranya, Allah akan menutupi cacat atau aibnya di hari kiamat. Dan barang siapa yang berusaha menghilangkan kesulitan orang muslim dari kehidupan dunia, Allah akan menghilangkan dari dirinya segala kesulitan pada hari kiamat (Muttafaqun alaih)

Alangkah indah dan mulianya sikap dan perilaku seperti itu. Alangkah bahagianya kalau kita dapat mewujudkan sabda Nabi dalam perilaku kita sehari-hari. Kehidupan seperti itulah yang telah dibuktikan dan diamalkan oleh Rosululloh beserta para sahabatnya.

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Beberapa hari ke depan ini, kita akan melaksanakan pesta demokrasi dalam rangka memilih pemimpin kita, baik pemimpin yang akan duduk di dewan perwakilan rakyat, pusat maupun daerah, ataupun pemilihan presiden dan wakil presiden. Kegiatan ini, adalah kegiatan yang biasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kegiatan rutinitas yang kita lakukan dalam setiap lima tahun sekali.

Silakan kita memilih menurut kita yang terbaik, silakan kita sampaikan aspirasi sesuai hati nurani. Akan tetapi yang harus kita ingat, apa dan siapa pun pilihan kita janganlah sampai menghancurkan persaudaraan Islam di antara kita. Berapa pun besarnya biaya, berapa pun besarnya tenaga yang telah kita keluarkan, tiadalah sebanding dengan persaudaraan kita karena Allah. Tidak pantas rasanya, tidak sebanding rasanya, kita saling mencemooh, saling mengejek, saling gontok-gontokan, tidak lagi bertegur-sapa, hanya untuk sebuah kepentingan duniawi dengan mengorbankan begitu besar kepentingan duniawi dan ukhrowi.

Saudaraku, Yaqinlah apapun yang terjadi dan akan terjadi tidak terlepas dari ketetapan Allah Taala, apapun yang terjadi tidak terlepas dari pengawasan Allah Taala. Dalam nasehatnya Al-Alim Wal Alamah Al-Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ulumuddin, mengatakan bahwa:

Allah Taala adalah Dzat Yang Maha Berkehendak atas semua yang ada, serta mengatur semua peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi. Semua yang terjadi berada dalam kekuasaan dan pengawasan Allah, sedikit atau banyak, kecil maupun besar, baik atau buruk, bermanfaat atau berbahaya, iman atau kafir, beruntung maupun merugi, bertambah atau berkurang, dan ketaatan maupun kedurhakaan.

Semuanya itu, tidak terlepas dari suratan taqdirNya, kebijaksanaan dan kehendakNya. Segala bentuk pandangan dan pikiran yang terlintas pada mahluk, tidak ada yang keluar dari kehendakNya. Apapun yang dikehendaki oleh Allah, pasti terjadi. Dan apa pun tidak dikehendaki olehNya, niscaya tidak akan pernah terjadi.

Sekalipun seluruh manusia, jin, dan malaikat bersatu untuk menggerakkan sebutir debu di alam ini, tanpa kehendak serta keinginan dari Allah, mereka pasti tidak akan kuasa melakukannya. Kehendak Allah berdiri sendiri dalam sifat-sifatnya, dan akan selalu seperti itu adanya.

Saudaraku Seiman dan Seagama
Janganlah terpecah-belah hanya karena pilihan kita berbeda, janganlah kita saling memutus silaturahmi hanya karena partai dan calon kita berbeda.
Ingatlah Seseorang sudah cukup disebut jahat apabila ia menghina saudaranya sesama Muslim. Darah, harta dan kehormatan setiap Muslim adalah Haram bagi Muslim lainnya. Dan ketahuilah tidak disebut beriman seseorang dari kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. (Al-hadist)

Kitalah mayoritas di negeri ini, kita adalah umat yang terbaik yang diciptakan oleh Allah. Janganlah mudah kita diombang-ambing, janganlah mudah kita dipermainkan oleh segelintir manusia-manusia jahat. Janganlah kita menjadi umat yang digambarkan oleh Baginda Nabi, laksana buih di lautan, banyak tapi tidak bermanfaat, di hantam ombak, ikut ombak, ombak surut, buih ikut surut.

Marilah kita berfikir jernih saudaraku, musibah yang menimpa saudara kita di Gintung, adalah salahsatu peringatan Allah terhadap jalinan Ukhuwah Islamiyah kita. Betapa Allah Taala sangat mudah menghancurkan dan memporak-porandakan kehidupan kita, ketika kita sedang bangga dengan perbedaan, ketika kita berpesta dengan keterpecahbelahan kita dan lupa dengan amanat persaudaraan, kemudian Allah mengingatkannya.

Cukuplah musibah Gintung menjadi nasehat, betapa Allah Taala memperlihatkan kepada kita, andai kita terus memperkokoh jalinan ukhuwah islamiyah, Allah akan menjadikan laksana bangunan masjid, yang tidak sedikitpun tergerus walau dihantam air bah sekalipun. Gintung juga menjadi batu ujian seberapa dalam rasa empati, dan cinta kita kepada saudara.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dulu di masa Jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran: 103)

.

Beranda contoh pidato Naskah pidato menuju madrasah berprestasi

Naskah pidato menuju madrasah berprestasi

..:::(( Pilih Salah Satu untuk menutuP )):::..

Assalamulaikum Wr Wb
Selamat pagi/siang/sore/malam dan salam sejahtera bagi kita semua.

Perbaikan kualitas bangsa harus ditempuh dan terutama melalui pendidikan. Pendidikan itu proses yang panjang, yang tak henti-hentinya untuk mencapai satu tujuan dan terbuka untuk menerima ide-ide dan konsep-konsep baru. Itu makna pendidikan, sehingga suatu saat hasil dari pendidikan itulah yang akan menumbuhkan budaya baru dengan manusia yang cerdas.

Selama manusianya cerdas maka ia mempunyai kebijakan dan kebajikan dalam jiwanya. Barulah setelah itu dia mampu menguasai sains dan teknologi. Budaya baru itulah yang menjadi kontra budaya yang kemudian masuk ke dalam tatanan menjadi masyarakat (budaya) alternatif yang akan dipilih oleh bangsa ini.

Semuanya melalui pendidikan yang tertata rapi: pendidikan yang mampu mencerdaskan, mampu menumbuhkan jiwa yang bajik dan bijak, dan menguasai sains dan teknologi. Itulah nanti yang akan mengubah bangsa Indonesia menjadi Indonesia baru.

Hal ini tampaknya akan menjadi momok bagi pendidikan di Indonesia. Belum lagi persoalan kekurangan tenaga pendidik terselesaikan, masalah sarana pendidikan yang tidak memadai muncul, dan menyusul persoalan mahalnya biaya pendidikan.

Kita masih merasa sebagai bangsa yang tertinggal dalam berbagai hal dibandingkan dengan bangsa lain. Oleh karena itu satu-satunya jalan untuk mencerdaskan bangsa adalah dengan meningkatkan pendidikan demi untuk menjadikan bangsa yang cerdas melalui sistem pendidikan nasional yang menyeluruh dan terencana.

Namun untuk menuju ke arah itu, jalan yang ditempuh sangat panjang dan berliku karena persoalan pendidikan sangat terkait dengan faktor lain, termasuk masalah ekonomi, keamanan dan masalah sosial lainnya.

Para guru pun diharapkan mulai mengubah cara belajar kepada siswa. Para guru pun tidak boleh lagi memberikan tekanan kepada siswa seperti pelajaran menghafal dan memberikan soal pilihan ganda (multiple choice) karena bisa berdampak pada pembentukan kepribadian.

Peran pendidikan, sebagai sarana pemberdayaan, harus secara sadar menyiapkan peserta didik dalam kehidupan masyarakat baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pemberdayaan hanya mempunyai makna jika proses pemberdayaan menjadi bagian dan fungsi dari kebudayaan.

Oleh karena itu, pendidikan harus menumbuhkan jiwa independensi, menggerakkan pernyataan diri dan para pendidik mengajar siswa untuk hidup dalam harmoni dengan menghargai adanya perbedaan.

Ke depannya, sistem pendidikan harus berubah dari instruksional menjadi motivasional berprestasi, berkreasi, dan berbudi pekerti.

Wassalam.

Membangun Ukhuwah Islamiyah dengan Akhlak Mulia dan Cinta

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bapak, ibu guru yang saya hormati dan saya cintai.

Kaum muslimin Rahimakumullah

Tiada kata yang pantas kita ucapkan melainkan kalimat syukur

sebagai hamba yang lemah, yang selalu akan lupa semua nikmat yang

diberikannya.

Shalawat senandung, salam shalawat berbingkai salam dan sholawat tercurahkan

Salam, semoga tetap terlimpahkan, tercurahkan kepada junjungan nabi akhir zaman.

Dan dia adalah seorang The Best Man in The World anak Abdullah yaitu Nabi

Muhammad SAW. Yang telah membawa umatnya dari zaman kebodohan menuju zaman

Li mardhotillah dengan adanya cahaya islam yang sebenarnya.

Bapak-bapak, ibu-ibu, dan teman-teman sekalian, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menyampaikan salah satu hal yang menjadi kewajiban kita semua. Yaitu Akhlak Mulia pengatur tatanan sosial untuk membangun ukhuwah islamiyah.

Secara garis besar fungsi dan tujuan pengamalan akhlak mulia bagi umat manusia salah satunya adalah:

Pengatur tatanan Sosial. Akhlak Mulia Sebagai Pengatur Tatanan Sosial berarti dengan pengamalan akhlak mulia yang sudah dicontohkan oleh yang Mulia Saydina Muhammad SAW mengukuhkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak akan pernah bisa dan lepas dari pengaruh lingkungannya. Dengan akhlak mulia ini tatanan sosial yang terbentuk  semakin memberikan makna dan nilai yang tidak saling merugikan.

Tidak ada manusia di dunia ini yang memiliki kesamaan seratus persen. Baik suara, bentuk tubuh, atau pun sifat dan karakter pasti akan berbeda. Allah SWT telah menciptakan seluruh manusia dalam keberagaman. Hingga anak-anak yang kembar siam pun tetap memiliki perbedaan. Perbedaan yang khas dari milyaran umat manusia di dunia ini seharusnya makin menyadarkan manusia akan Maha Agung dan Maha Besar-nya Sang Maha Pencipta.

Sebagai seorang muslim, kita adalah makhluk sosial. Allah telah mewajibkan kita untuk hidup berinteraksi dengan masyarakat. Saat berinteraksi dengan masyarakat tentu saja kita harus dapat menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat dengan baik. Agar tidak terjadi masalah yang akan membuat suasana hubungan yang harmonis menjadi terganggu.

Maka dari itu mari kita tingkatkan Ukhuwah Islamiyah dengan akhlak mulia dan cinta

Ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat akha fulanun shalihan, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan akidah dan syariat Islam.

Adapun hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah diantaranya:

1.      Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai.

2.      Memohon didoakan bila berpisah

3.      Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa

4.      Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)

5.      Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)

6.      Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu

7.      Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya

8.      Memenuhi hak ukhuwah saudaranya

9.        Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan

Adapun Manfaat Ukhuwah Islamiyah yaitu:

1.    Merasakan lezatnya iman

2.    Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)

3.    Mendapatkan tempat khusus di surga (Q.S. Al-Hijr :45-48)

45. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir).

46. (Dikatakan kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman[801]"

47. dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

48. mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.

[801] Sejahtera dari bencana dan aman dari malapetaka.

Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwah adalah cinta. Tingkatan cinta yang paling rendah adalah husnudzon yang menggambarkan bersihnya hati dari perasaan hasad, benci, dengki, dan bersih dari sebab sebab permusuhan. Al-Quran menganggap permusuhan dan saling membenci itu sebagai siksaan yang dijatuhkan Allah atas orang-orang yang kufur terhadap risalahNya dan menyimpang dari ayat-ayatNya. Sebagaiman firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Maidah:14

Ada lagi derajat (tingkatan) yang lebih tinggi dari lapang dada dan cinta, yaitu itsar. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas kepentingan diri sendiri dalam segala sesuatu yang dicintai. Ia rela lapar demi kenyangnya orang lain, Ia rela haus demi puasnya orang lain, Ia rela berjaga demi tidurnya orang lain, Ia rela bersusah payah demi istirahatnya orang lain, Ia pun rela ditembus peluru dadanya demi selamatnya orang lain. Islam menginginkan dengan sangat agar cinta dan persaudaraan antara sesama manusia bisa merata di semua bangsa, antara sebagian dengan sebagian yang lain. Islam tidak bisa dipecah-belah dengan perbedaan unsure, warna kulit, bahasa, iklim, dan atau batas negara, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertikai atau saling dengki, meskipun berbeda-beda dalam harta dan kedudukan.

Sekali lagi mari kita tingkatkan Ukhuwah Islamiyah dengan akhlak mulia dan cinta

Kita berdoa semoga kita sebagai generasi muda harapan bangsa bisa membangun ukhuwah islamiyah untuk mencapai madrasah yang berprestasi salah satunya adalah ketaqwaan.  

Dengan selalu memohon ampun dan ridho-Nya semoga apa yang kita cita-citakan

Allah SWT mengabulkannya. Amin ya Rabal Alamin

Kiranya hanya itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini

mohon maaf atas segala kehilafan dan kekurangannya.

Wa shallallaahu wa sallama alaa muhammadin wa alaa aalihi wa shahbihi ajmaiin. Wal-hamdulillaahi rabbil-aalamiin. Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Menjalin Ukhuwah Islamiyah

(untuk disampaikan dalam acara HUT Kemerdekaan RI (untuk umum) di desa banjar baru tanggal 17 Agustus 2009)
OLEH : KHOLIFAH RUSDIANA (B01207045)
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain, dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok dalam bentuknya yang minimal yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal kelompok di mana dia dapat bergantung kepadanya.
Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri yang alamiah, sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan. Kita mengenal adanya ikatan keluarga, ikatan kesukuan, dan pada manusia modern adanya ikatan profesi, ikatan negara, ikatan bangsa, hingga ikatan peradaban dan ikatan agama. Bahkan ikatan sebagai sesama makhluk Allah. (http://www.geocities.com/rohim94/kreasi/ukhuwah.html)
Hendaknya manusia yang satu dengan yang lain, muslim yang satu dengan muslim yang lain itu bersaudara yang dalam Islam disebut dengan Ukhuwah Islamiyah agar terjalin rasa persatuan dan kesatuan hingga menjadi negara yang kokoh dan tidak bercerai berai. Adapun secar garis besar tahapan dari Ukhuwah islamiyah adalah sebagai berikut.
1. Ta’aruf
Ta’aruf dapat diartikan sebagai saling mengenal. Dalam rangka mewujudkan ukhuwah Islamiyah, kita perlu mengenal orang lain, baik fisiknya, pemikiran, emosi dan kejiwaannya. Dengan mengenali karakter-karakter tersebut,
Dalam Surat Al Hujurat, Allah berfirman:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Qs.Al Hujurat:13)

2. Tafahum
Pada tahap tafahum (saling memahami), kita tidak sekedar mengenal saudara kita, tapi terlebih kita berusaha untuk memahaminya. Sebagai contoh jika kita telah mengetahui tabiat seorang rekan yang biasa berbicara dengan nada keras, tentu kita akan memahaminya dan tidak menjadikan kita lekas tersinggung. Juga apabila kita mengetahui tabiat rekan lain yang sensitif, tentu kita akan memahaminya dengan kehati-hatian kita dalam bergaul dengannya.
Perlu diperhatikan bahwa tafahum ini merupakan aktivitas dua arah. Jadi jangan sampai kita terus memposisikan diri ingin difahami orang tanpa berusaha untuk juga memahami orang lain.
3. Ta’awun
Ta’awun atau tolong-menolong merupakan aktivitas yang sebenarnya secara naluriah sering (ingin) kita lakukan. Manusia normal umumnya telah dianugerahi oleh perasaan ‘iba’ dan keinginan untuk menolong sesamanya yang menderita kesulitan sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja derajat keinginan ini berbeda-beda untuk tiap individu.
Dalam dalam hadits:

"Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba selama hamba itu selalu siap menolong saudaranya."
Dalam hal ini kita perlu memperhatikan hadits shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

"Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Aku bertanya, "Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi dapatlah aku mengerti. Namun, bagaimana dengan menolong orang yang berbuat zalim?" Rasulullah menjawab, "Kamu cegah dia agar tidak berbuat aniaya, maka itulah pertolonganmu untuknya."
Jadi kita seharusnya berterima kasih jika ada yang menegur kita, bahkan mencegah kita dengan kekuatan manakala kita sedang berbuat kesalahan.
4. Takaful
Takaful ini akan melahirkan perasaan senasib dan sepenanggungan. Di mana rasa susah dan sedih saudara kita dapat kita rasakan, sehingga dengan serta merta kita memberikan pertolongan. Dalam sebuah hadits Rasulullah memberikan perumpamaan yang menarik tentang hal ini, yaitu dengan mengibaratkan orang beriman – yang bersaudara – sebagai satu tubuh.
Dalam hadits:

"Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang, dan hubungan kekerabatan mereka adalah bagaikan tubuh. Bila salah satu anggotanya mengaduh sakit maka sekujur tubuhnya akan merasakan demam dan tidak bisa tidur."
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ada lima persyaratan yang harus dipenuhi agar ukhuwah islamiyah dapat diwujudkan, yakni sebagai berikut.( Drs. H. ahmad Yani, 2006:97-98)
1. Iman dan Takwa
Iman dan takwa merupakan tempat pijakan untuk bersaudara, karena itu sesama mukmin seharusnya bersaudara dan persaudaraan itu harus didasari oleh iman dan takwa. Allah swt. berfirman,

sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (QS. An-Nisa :10)

teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. (QS. Az-Zukhruf:67)
2. Ikhlas karena Allah
Keikhlasan kepada Allah menjadi persyaratan dalam membangun ukhuwah, karena dengan itu persaudaraan itu menjadi sejati. Allah berfirman,

Dan tidaklah berpecah-belah orang-orang ahli kitab melainkan setelah dating kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah:4-5)
3. Terikat dengan Ketentuan Al-Quran
Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan dalam Islam, maka bila ada yang tidak mau terikat dengan ketentuan al-Quran, tidak dapat terwujud Ukhuwah itu. Allah berfirman,

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermsuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara ( QS. Ali Imran:103)
4. Saling Ber-Tausiyah
Ukhuwah islamiyah akan terwujud manakala diantara sesama mukmin mau saling menasihati. Allah berfirman,
`rrsid4674410 eLdXfldilsp SYM__D 2_4 f "HQ_B_" s_14|lt_f37_af0LLtr#h TDs20Xin3rsid_15002_XCh`rbsid46_4_12 Ldi!ldXfldbsltPd31"_yXaf0_ prch Tinsrsi 4154864happsid_6’4412 ;L*_bl`inqt QQL_ML 1(# f _HQPB2" L14=XfLdrsdt(;f0&s08 Prc` _ds28_866_ahar0qid4274402 Xfielddrsld_Pf38Y]_r4lcH T@f0_ ( (!rpSid4&74412 :`inqd RYM@OL 115 f "HQPB1" 14rXdhdrsdt39:` X!f0Xltrch _Xc`ar2aid46344_2 _fiel`z_fhdhjst CYMBOL 20_ 9LFldrrltXf37

Incoming search terms:

  • pidato membangun ukhuwah islamiyah menuju madrasah berprestasi
  • membangun Ukhuwah islamiyah demi madrasah berprestasi
  • naskah pidato membangun ukhuwah islamiyah menuju madrasah berprestasi
  • pidato bahasa inggris tentang menjalin hubungan baik sesama muslim
  • pidato singkat bergaul dengan 3 cara taaruf tafahum taawun
  • pidato taaruf tafahum dan taawun
  • teks pidato indahnya ukhuah islamiyyah dalam kehidupan sehari hari
loading...