Pidato Pergaulan Remaja : KERANGKA

KERANGKA PIDATO

Oleh Florince

A. Pendahuluan

1. Salam pembuka

2. Ucapan syukur kepada Tuhan

B. Isi

1. Latar belakang memilih tema pergaulan bebas

2. Penyebab seorang remaja terjebak dalam pergaulan bebas dan penyebab seorang remaja menjadi kurang pergaulan

3. Perbandingan antara si kuper dan si gaul

4. Akibat yang harus ditanggung ketika menjadi si kuper

5. Akibat yang harus ditanggung ketika menjadi si gaul

6. Sikap yang harus diambil sebagai remaja

C. Penutup

1. Kesimpulan dan saran

2. Ucapan terima kasih

3. Salam penutup

PIDATO TENTANG PERGAULAN REMAJA

Oleh Florince

Yang terhormat Ibu Yuni dan yang terkasih teman-teman sekalian, selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Sebelumnya, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini. Saya juga berterima kasih kepada hadirin sekalian yang telah menyediakan waktu untuk berkumpul di tempat ini. Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan pidato mengenai pergaulan remaja.

Saya mengambil tema mengenai pergaulan remaja karena dewasa ini, pergaulan remaja di kota-kota besar sudah semakin bebas dan tak terkendali. Di samping itu sebenarnya masih ada segelintir remaja yang tidak menikmati kehidupan remajanya. Ia tidak suka bergaul, ia tidak suka berhubungan dengan orang lain. Orang-orang sering menyebut mereka si kuper, kurang pergaulan. Di sini, saya akan mengambil perbandingan antara si gaul dan si kuper.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi si kuper atau si gaul. Seorang remaja dapat menjadi kuper karena minder lantaran memiliki kekurangan. Entah itu kekurangan fisik ataupun kekurangan mental. Mungkn dia tidak sadar bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan, termasuk saya dan kalian. Penyebab lain, mungkin karena ia pernah dikecewakan dalam hubungan persahabatan atau memang karena ia memiliki mental yang belum terlatih. Sementara itu, pergaulan bebas biasanya terjadi pada remaja yang kurang mendapat perhatian dalam keluarganya sehingga ia mencari kesenangan lain di luar yang belum tentu baik, atau pada remaja yang merasa mampu membeli pergaulan itu dengan uang mereka.

Hal-hal yang dialami oleh si kuper berbeda 180 dengan si gaul. Si kuper menghabiskan waktunya sendirian sedangkan si gaul dapat menghabiskan waktu bersama banyak teman yang bahkan belum ia kenal sebelumnya. Si kuper lebih suka menutup mulutnya sedangkan si gaul lebih suka untuk membuka mulutnya dan terkadang lupa untuk menutup mulutnya sendiri. Si gaul melakukan hal yang menyimpang di depan teman-temannya tanpa merasa malu. Sedangkan, si kuper tidak mau perilaku menyimpang yang ia lakukan diketahui oleh orang lain. Ia cenderung sendiri dan menyepi.

Lalu, apakah akibatnya bila kita menjadi salah satu dari mereka? Mungkin, bila beberapa dari kita merasa mirip dengan si kuper, pasti sudah sering merasakan pahitnya kesendirian dan bahkan mungkin sudah merasa terbiasa dengan segala kesendirian itu. Selain itu, wawasan kita juga akan sesempit katak dalam tempurung karena kita hanya bergaul dengan orang-orang yang itu-itu saja. Apalagi kalau kita benar-benar tidak pernah bergaul. Karakter kita pun akan sulit bertumbuh, bahkan cenderung akan menjadi manja. Padahal, dengan makin bervariasinya hal-hal yang kita temui, makin banyak pula variasi gesekan yang akan kita alami. Melalui gesekan-gesekan itulah karakter kita dipertajam. Tetapi, bila kita memilih jalan aman dengan menutup diri dari pergaulan, kita justru tidak akan mengalami proses yang membuat kita menjadi dewasa. Satu lagi, kalau kita menjadi si kuper, mulut akan jarang sekali dibuka. Jadi, jangan kaget kalau ada yang mengatakan kita sombong, walaupun pada kenyataannya kita tidak bermaksud untuk sombong.

Sedangkan, pada remaja gaul, hal-hal yang terjadi pasti sudah banyak diketahui. Pergaulan bebas dapat membawa kita ke berbagai masalah yang awalnya kita pikir baik. Bisa kita lihat, banyak remaja-remaja yang sudah mulai terjebak oleh rokok, minuman keras, narkoba, dan bahkan seks bebas, Yah, pada awalnya, kita pikir semua itu baik, dapat membuat kita keluar dari masalah keluarga atau masalah sekolah kita. Tetapi, lambat laun, akibatnya semakin terasa. Tanpa disadari, hidup kita menjadi kacau, orang-orang terdekat mulai menjauhi kita, dan akan ada banyak hal yang harus kita korbankan untuk menebus kebodohan kita dalam menentukan sikap. Padahal, awalnya kita hanya ingin berlari dari masalah-masalah yang kita anggap sulit dan tidak dapat dipecahkan. Ingat, Tuhan tidak pernah memberikan masalah tanpa memberikan jalan keluarnya kepada kita. Jadi, bila kita mempunyai masalah, hadapilah masalah itu, sekencang apapun kita berlari, kita tidak akan mungkin dapat lepas dari masalah itu, sebelum kita sendiri yang menyelesaikannya.

Dalam pidato ini, saya tidak pernah bermaksud untuk melarang kalian semua bergaul. Punya banyak teman itu baik, bahkan itulah yang seharusnya kita lakukan. Tetapi, carilah teman yang dapat membawa anda maju. Sekarang, lihat teman-teman di sekitar kalian. Amati apakah ada di antara mereka yang mirip dengan si kuper atau si gaul. Bila ada, ajak mereka untuk menjadi remaja yang mampu bergaul dengan sehat. Bila kalian merasa mirip si gaul, sadarkan diri anda, kurangi kebebasan yang selama ini sudah anda tanamkan dalam diri anda. Jadilah remaja yang tangguh. Bila kalian merasa mirip dengan si kuper, buka hati kalian untuk berteman dengan orang lain. Tetapi kalau ada teman yang tidak menerima anda, jangan langsung menyerah. Introspeksi diri terlebih dahulu, apakah ada perbuatan anda yang membuat mereka tidak mau berteman dengan anda. Saya harap, ada kerjasama antara teman-teman sekalian, marilah kita menuntun teman-teman kita agar mereka tidak menjadi mirip dengan si gaul maupun si kuper.

Teman-teman yang terkasih, demikianlah pidato ini saya sampaikan. Terima kasih atas seluruh perhatian dan atas respon positif yang teman-teman berikan. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati teman-teman sekalian. Akhir kata saya ucapkan terima kasih dan selamat pagi.