Pidato Pengukuhan Prof. Dr. Ir. Suharjono Triatmojo M.s

 
IMPLEMENTASI PRODUKSI  BERSIH DALAM  
INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT GUNA 
PENINGKATAN EFISIENSI DAN PENCEGAHAN 
PENCEMARAN LINGKUNGAN  
 
 
 
 
 
 
 
UNIVERSITAS GADJAH  MADA 
 
 

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar  
pada Fakultas Peternakan  
Universitas Gadjah Mada 
 
 
 
 
 
 

Oleh: 
Prof. Dr. Ir. Suharjono Triatmojo, M.S. 

IMPLEMENTASI PRODUKSI  BERSIH DALAM  
INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT GUNA 
PENINGKATAN EFISIENSI DAN PENCEGAHAN 
PENCEMARAN LINGKUNGAN 
 
 

 
 
 
UNIVERSITAS GADJAH  MADA 
 
 

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar  
pada Fakultas Peternakan  
Universitas Gadjah Mada 
 
 

Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar 
Universitas Gadjah Mada 
pada tanggal 14  Mei 2009 
di Yogyakarta 
 
 
 

Oleh: 
Prof. Dr. Ir. Suharjono Triatmojo, M.S. 
 

IMPLEMENTASI PRODUKSI  BERSIH DALAM INDUSTRI 
PENYAMAKAN KULIT GUNA PENINGKATAN EFISIENSI 
DAN PENCEGAHAN  PENCEMARAN LINGKUNGAN 
 
Harapannya semoga bapak, ibu dan segenap hadirin 
memberikan dukungan dan semangat agar Indonesia dapat 
mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa yaitu negeri yang gemah 
ripah, tata, titi, tentrem dan karta raharja.
   
Pendahuluan 
Penyamakan kulit menggunakan bahan kimia berbahaya dan 
beracun di hampir setiap tahapan penyamakan, terutama pada tahapan 
pre-tanning dan tanning. Bahan-bahan kimia ini hanya 70% saja yang 
terikat pada kulit dan sisanya terdapat pada limbah baik limbah cair 
maupun padat. Bahan-bahan kimia ini menjadi buangan yang sangat 
potensial mencemari lingkungan karena sifatnya yang sangat 
kompleks dan sulit untuk penanganannya.  Disamping itu komponen 
kulit yang berupa limbah fleshing, trimming, spliting,  shaving, dan 
buffing maupun hasil hidrolisis selama proses pre-tanning akan segera 
busuk dan menimbulkan gas dan bau yang menyengat bila tidak 
segera ditangani dengan baik. Penanganan limbah memerlukan 
teknologi yang maju, peralatan yang mahal, sumber daya manusia 
berkualitas dan biaya yang tinggi. Penanganan limbah juga tidak 
menyelesaikan masalah, hanya mengubah dari fase satu ke fase 
lainnya, dan memindahkan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Oleh 
karena, para ahli kimia dan penyamakan kulit selalu berusaha untuk 
mencari pengganti bahan-bahan kimia yang berbahaya dan beracun ini 
dengan bahan kimia yang lebih ramah lingkungan. Strategi 
pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang 
diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup 
produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan 
lingkungan ini dikenal sebagai produksi bersih (cleaner 
production
).  
 

Kulit Sebagai Bahan Baku Penyamakan 
Kulit merupakan organ tunggal tubuh paling berat, pada sapi 
sekitar 6-8%, kambing 12-15%, dan domba 8-12%, dengan demikian 
kulit juga merupakan hasil ikutan ternak yang paling tinggi nilai 
ekonominya yaitu sekitar 59% dari nilai keseluruhan by-product yang 
dihasilkan oleh seekor ternak (Ockerman dan Hansen, 2000). Pada 
ternak hidup, kulit mempunyai banyak fungsi antara lain sebagai alat 
perasa, pelindung jaringan di bawahnya, memberi bentuk, mengatur 
suhu tubuh, tempat sintesis vitamin D, alat gerak (ular), alat 
pernafasan (amfibi), dan tempat menyimpan cadangan energi.  Fungsi 
utama kulit adalah melindungi kerusakan dan infeksi mikroba jaringan 
yang ada di bawahnya (Bailey, 1992; Ockerman dan Hansen, 2000). 
Setelah ternak dipotong, kulit akan kehilangan fungsinya, dan menjadi 
hasil ikutan yang akan segera turun kualitasnya bila tidak segera 
disamak atau diawetkan. Secara histologi, kulit tersusun dari tiga lapis 
yaitu epidermis, dermis dan hipodermis. Epidermis merupakan bagian 
kulit paling atas tersusun dari sel epitel pipih kompleks, dan di lapisan 
ini juga terdapat asesori epidermis seperti rambut, kelenjar sudorifera
kelenjar  sebacea, otot erector fili, dan akar rambut. Di bawahnya 
terletak lapisan dermis yang tersusun dari jaringan ikat padat dan 
lapisan hipodermis yang tersusun dari jaringan ikat longgar, jaringan 
adiposa, dan sisa daging (Sharpouse, 1983; Bailey, 1992; Sarkar, 
1995; Ockerman dan Hansen, 2000; dan Frendrup, 2000). Pada proses 
penyamakan, dermis inilah yang nantinya akan disamak dan diubah 
menjadi kulit samak yang bersifat lentur, fleksibel, kuat dan tahan 
terhadap pengaruh cuaca dan serangan mikroba (Sharphose, 1983; 
Sarkar, 1995; Tanikaivelan et al., 2004)  Lapisan epidermis tersusun 
dari jaringan ikat keratin yang relatif tahan terhadap serangan bahan 
kimia maupun agen biologi (mikroba dan enzim) (Sarkar, 1995; 
Frendrup, 2000). Pada kulit terdapat dua macam keratin yaitu soft 
keratine
  (keratin lunak) yang menyusun akar rambut  dan epidermis 
bawah, dan hard keratine  (keratin keras) menyusun batang rambut. 
Keratin lunak  mudah larut dan mudah didegradasi oleh enzim, 
sedangkan keratin keras sangat tahan terhadap bahan kimia dan 
serangan enzim kecuali sulfida dan enzim keratinase (Frendrup, 
2000). Lapisan epidermis harus dihilangkan sebelum disamak, 

biasanya menggunakan bahan kimia kapur dan Na2S. Pada hair-save 
unhairing
 lapisan epidermis harus dihilangkan  dari dermis tanpa 
merusak rambut atau wool tersebut. Lapisan hipodermis dibuang dari 
kulit secara mekanis pada proses buang daging (fleshing) (Sarkar, 
1995; Frendrup, 2000).  
Menurut Sharphouse (1983) kulit segar tersusun dari 64% air, 
33% protein, 2% lemak, 0,5% garam mineral dan 0,5% penyusun 
lainnya misal pigmen. Komponen penyusun kulit paling penting 
adalah protein. Protein kulit terdiri dari protein kolagen (29%), keratin 
(2%) dan elastin (0,5%). Protein kolagen sangat menentukan kualitas 
kulit samak, semakin dewasa umur ternak semakin tinggi pula 
kandungan kolagennya. Elastin adalah protein serabut berwarna 
kuning, protein ini mempunyai peran yang besar  terhadap kemuluran 
kulit samak, sedangkan protein kolagen sangat berperan dalam 
menentukan kekuatan kulit (Sharphouse, 1993 dan Sarkar, 1995).  
Kulit samak adalah kulit hewan yang telah diubah secara kimia 
guna menghasilkan bahan yang kuat, lentur dan tahan terhadap 
pembusukan.  Hampir semua kulit samak diproduksi dari kulit sapi, 
domba dan kambing (Sarkar, 1995). Kadang-kadang kulit samak juga 
dihasilkan dari kulit kuda, babi, kangguru, rusa, reptile, lumba-lumba 
dan singa laut (Sharphouse, 1983). Kulit samak digunakan  untuk 
menghasilkan berbagai macam barang  seperti sepatu, tas, koper, 
dompet, jaket, ikat pinggang,  jok mobil dan cindera mata (Sharpouse, 
1983; Sarkar, 1995; Ockerman dan Hansen, 2000). Kulit pedet lebih 
ringan dan lebih lembut  grain nya dibandingkan dengan kulit sapi. 
Kulit pedet sangat cocok untuk membuat produk yang lentur, lembut 
dan halus, seperti sepatu, dan jaket.  Kulit domba lemas dan lembut 
sehingga cocok untuk membuat produk seperti jaket dan sarung 
tangan. Proses penggubahan kulit segar menjadi kulit samak disebut 
penyamakan. Menurut International Union of Leather Technologists 
and Chemist Societies 
atau IULTCS (2004) kondisi bahan baku  yang 
diterima oleh pabrik penyamak mempunyai pengaruh langsung 
terhadap teknologi bersih yang diterapkan. Praktek beternak yang 
bagus menghasilkan kulit segar yang bagus juga, tidak terserang oleh 
parasit luar (ektoparasit), dan tidak terdapat luka akibat goresan kawat 
berduri, bekas cambuk maupun tanduk. Kerusakan yang terjadi pada 
kulit mentah harus ditutupi oleh penyamak dengan berbagai proses 

dan menggunakan bahan kimia tambahan sehingga menambah 
panjang proses, menambah biaya, serta limbah buangan. Kotoran atau 
feses yang melekat pada kulit ternak karena cara beternak yang buruk, 
memerlukan sumberdaya  yang lebih untuk membersihkannya, serta 
menghasilkan limbah yang akan meningkatkan beban cemaran.  
Penyamakan Kulit 
Proses penyamakan kulit merupakan serangkaian unit operasi 
yang dapat dikelompokkan menjadi 3 tahap yaitu pra-penyamakan 
(pre-tanning), penyamakan (tanning) dan operasi pasca penyamakan 
(post-tanning) dan penyempurnaan (finishing) (Thanikaivelan et al., 
2004). Unit operasi pra-penyamakan bertujuan untuk membersihkan 
kulit dari substansi non kolagen secara mekanis, kimia maupun 
biologis. Penyamakan bertujuan untuk  mengubah kulit yang tadinya 
mudah rusak atau busuk menjadi kulit samak yang stabil, lentur, dan 
kuat dengan cara mereaksikan kolagen dengan bahan penyamak 
tertentu. Unit opersi pasca penyamakan dan finishing menambah 
tampilan kulit menjadi lebih menarik. Proses penyamakan kulit 
disamping menghasilkan bahan baku kerajinan kulit yang bermutu dan 
bernilai jual tinggi juga menghasilkan limbah padat, cair dan gas  yang 
cukup banyak, dan bila tidak dikelola dan diperlakukan secara benar 
dapat berdampak negatif tehadap lingkungan.  Proses penyamakan 
kulit menggunakan bahan kimia yang berbahaya dan beracun seperti 
asam anorganik, asam organik, pelarut organik, logam berat krom, zat 
warna dan pigmen. Bahan-bahan kimia ini hanya sekitar 70% saja 
yang berikatan dengan substansi kulit selebihnya akan dijumpai di 
dalam limbah, baik padat maupun cair (Triatmojo, 2002). 
Penyamakan kulit juga menggunakan asupan energi  listrik yang 
cukup tinggi untuk penerangan, menggerakkan drum, mesin-mesin 
pembelah,  fleshing,  shaving,  buffing, setrika dan penanganan limbah 
(Aloy, 2000). Penggunaan sumber energi terbarukan akan sangat 
membantu pemerintah dalam konservasi energi dan menghemat 
pemakaian listrik secara nasional. 
Tahapan penyamakan kulit sangat variatif tergantung pada 
teknologi yang diterapkan dan produk akhir yang akan dihasilkan 
(Sharpouse, 1983 dan Sarkar,1995). Secara umum tahapan proses 
penyamakan melibatkan proses perendaman, buang daging, 

pengapuran dan buang rambut, pengapuran ulang, buang kapur, 
penguraian protein non kolagen, pengasaman, penyamakan, 
pemerasan, pensortiran, pembelahan, penyerutan, penetralan, 
penyamakan ulang, pewarnaan, peminyakan, pementangan, 
pengeringan, pengkondisian, peregangan, pengamplasan, perapihan, 
dan penyempurnaan (Sarkar, 1995; Tanikaivelan et al. 2004).  
Produksi Bersih 
Menurut UNEP (1999) produksi bersih didefinisikan sebagai 
strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu 
yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan 
daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap 
manusia dan lingkungan. Penerapan produksi bersih memerlukan 
perubahan sikap, manajemen yang bertanggung jawab pada 
lingkungan dan evaluasi teknologi yang dipilih dan digunakan oleh 
suatu organisasi (Purwanto, 2009). Pada proses industri, produksi 
bersih berarti meningkatkan efisiensi pemakaian bahan baku, energi, 
mencegah atau mengganti penggunaan bahan-bahan berbahaya dan 
beracun, mengurangi jumlah dan tingkat racun semua emisi dan 
limbah sebelum meninggalkan proses. Pada produk, produksi bersih 
bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan 
selama daur hidup produk, mulai dari pengambilan bahan baku, 
sampai ke pembuangan akhir produk tersebut ( Purwanto, 2009) 
Mengapa diperlukan adanya produksi bersih? Industri di 
Indonesia semakin hari semakin berkembang baik macam maupun 
jumlahnya, sehingga dihasilkan limbah yang volumenya juga semakin 
meningkat, karakteristik limbahnya semakin kompleks dan semakin 
sulit penanganannya, serta membutuhkan dana yang tidak sedikit. 
Disamping itu penanganan limbah (end-of-pipe treatment) lebih mahal 
dibanding dengan pencegahan dari awal. Sudah banyak peraturan 
yang dibuat untuk mengatur tentang industri dan buangan limbahnya 
agar lingkungan tidak tercemar, tetapi ini tidak memecahkan masalah, 
masih banyak industri yang membuang limbahnya secara 
sembarangan. Penanganan limbah hanya memindahkan masalah dari 
satu tempat ke tempat lainnya. Akhir-akhir ini isu lingkungan menjadi 
faktor penting dalam persaingan perdagangan global. Perlu antisipasi 

terhadap standar internasional dalam sistem manajemen lingkungan 
misalnya ISO 14000, dan ekolabel.  
Metode produksi bersih meliputi substitusi bahan, modifikasi 
proses,  upgrading peralatan, dan perancangan ulang produk 
(Anonimus, 2009). Kegiatan produksi bersih meliputi: 1. 
penggunaan sumberdaya secara efisien dan melakukan konservasi, 2, 
Penggantian bahan baku dan bahan penolong, 3. Modifikasi proses, 4. 
Formulasi kembali produk-produk, 5. Pemeliharaan dan peningkatan 
usaha kebersihan, 6. Minimasi penggunaan air, 7. Penggunaan 
kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) di lokasi, 8. Penerapan tata 
apik kerumah-tanggaan ( good house keeping) dan 9. pelatihan.  
Menurut UNEP (1999) pola pendekatan produksi bersih 
dalam melakukan pencegahan dan pengurangan limbah menggunakan 
strategi 1E4R yaitu Elimination, Reuse, Reduce, Recycle, dan 
Recovery/Reclaim
.  Menurut KLH (2000) strategi produksi bersih 
berupa 5R yaitu Re-thing, Re-use, Reduction, Recovery and Recycle
Penekanan pelaksanaan produksi bersih adalah pada 2R pertama 
yaitu pencegahan dan pengurangan, bila strategi 2R pertama masih 
menimbulkan cemaran atau limbah, baru kemudian melakukan 
strategi 3 R berikutnya yaitu reuse, recycle dan recovery sebagai 
strategi tingkatan pengelolaan limbah. Tingkatan terakhir dalam 
pengelolaan limbah adalah pengolahan dan pembuangan limbah 
apabila upaya produksi bersih sudah tidak dapat dilakukan 
(Purwanto, 2009).  
Beberapa Isu Linkungan yang Penting bagi Industri Penyamakan 
Kulit
 
Isu lingkungan yang penting dalam memproduksi kulit samak 
adalah pemakaian bahan kimia, penggunaan air, kesehatan pekerja dan 
bau yang ditimbulkan.  
Bahan kimia 
Proses penyamakan kulit memerlukan banyak macam bahan 
kimia untuk mengubah kulit mentah menjadi kulit tersamak yang 
lemas, lentur, menarik dan tahan lama. Bahan kimia ini tidak 

seluruhnya terikat pada substansi kulit tetapi sebagian ditemukan pada 
limbah cair dan padat yang dihasilkan. Bahan kimia ini dapat 
mencemari sumber air bagi masyarakat, baik air permukaan maupun 
air tanah. Bila pemakaian bahan kimia melebihi kebutuhan maka 
menjadi tidak efisien, biaya produksi meningkat  dan meningkatkan  
pencemaran lingkungan. Pemakaian bahan kimia yang efisien 
menurunkan biaya produksi dan menurunkan beban cemaran.  
Penggunaan air 
Produksi kulit samak merupakan  industri yang menggunakan 
banyak air, oleh karena itu perlu adanya pengukuran dan kontrol 
konsumsi air, dan ini merupakan langkah penting dalam manajemen 
air. Minimasi konsumsi air dalam industri kulit dapat dilakukan 
dengan pengurangan, daur-ulang dan pemanfaatan kembali air dalam 
proses produksi kulit (IULTSC, 2004). Jika pabrik menggunakan air 
sumur maka penggunaan air yang berlebih dapat mengakibatkan 
terkurasnya ketersediaan air tanah di masa mendatang atau bagi 
masyarakat di sekitarnya. Pengurangan pemakaian air (misal dengan 
low float processing dan bath tipe washing) dapat menekan konsumsi 
air sampai 30% (IULTCS, 2004; Anonimous, 2009). Daur ulang pada 
tahapan  soaking, liming, unhairing, pickling dan tanning dapat 
menghemat pemakaian air 20-40% (IULTCS, 2004).  
Kesehatan pekerja 
Bahan kimia yang dipakai dalam  penyamakan kulit dapat 
membahayakan pekerja, mereka dapat terkena larutan asam atau basa 
kuat, menghirup gas-gas beracun, maupun teriritasi oleh logam berat.  
Gejala yang ditimbulkan seperti sesak nafas, iritasi kulit, sampai 
pingsan. Pekerja yang kurang sehat dapat menurunkan produktivitas 
kerja.  
Cemaran bau 
Penyamakan kulit sering menghasilan limbah yang menyengat 
baunya. Bau yang tajam dapat merusak kualitas kehidupan dan dapat 
10 
mengurangi dukungan masyarakat di sekitar pabrik. Pengendalian bau 
dengan cara meningkatkan teknik penanganan limbah, atau mendaur-
ulang limbah dapat meningatkan hubungan dengan masyarakat sekitar 
pabrik.  
Implementasi Produksi Bersih pada Penyamakan Kulit 
Pengawetan kulit (curing)  
Sebelum masuk proses penyamakan, kulit mentah setelah lepas 
dari tubuh ternak harus segera diawetkan dengan garam atau 
mengeringkannya di bawah sinar matahari agar tidak cepat rusak. 
Cara cara pengawetan kulit yang benar akan sangat menentukan 
kualitas kulit samaknya (Aloy, 1993). Metode curing yang umum 
digunakan adalah penggaraman, bisa garam kering maupun garam 
basah.. Garam pengawet dapat dikurangi atau dihilangkan sebagian 
(sekitar 10%) dari kulit awetan dengan cara diambil dengan tangan, 
dikibas-kibaskan maupun diambil secara mekanis dengan sikat atau 
diputar di dalam drum yang sesuai (perforated drum) (IULTCS,2004).  
Garam yang diambil dapat digunakan untuk proses pikel asal 
dilarutkan dan diambil padatannya lebih dulu sebelum digunakan.  
Garam tidak boleh digunakan lagi untuk mengawet kulit karena 
kandungan bakterinya  sangat tinggi (terutama bakteri tahan garam, 
halofilik dan halotoleran) sehingga akan merusak kulit yang disebut 
dengan red heat. Garam yang sudah digunakan untuk mengawet kulit 
dapat digunakan kembali (reuse) sebagai bahan pengawet asal 
dipanaskan lebih dulu di dalam tanur  suhu 400 oC guna membunuh 
bakteri dan menguapkan bahan organiknya. Kedua metode ini dapat 
menjawab permasalahan pencemaran oleh garam baik pencemaran 
terhadap lahan maupun air tanah. Pengawetan dengan garam tidak 
dapat dipandang sebagai teknologi bersih sekalipun fleshing telah 
mengurangi limbah garam. Pengawetan dengan garam merupakan 
kontributor utama pencemaran garam oleh pabrik penyamakan kulit, 
sehingga harus dicari pengganti pengawet kulit yang lebih ramah 
lingkungan. Miwada (2001) telah meneliti penggantian NaCl dengan 
KCl dengan hasil bahwa kulit yang diawet dengan KCl, setelah 
disamak kulitnya  mempunyai kualitas yang   sama dengan yang 
11 
diawet dengan NaCl. Miwada berkesimpulan bahwa KCl dapat 
digunakan sebagai pengawet alternatif pengganti garam dapur (NaCl). 
Garam ini aman digunakan sebagai bahan pengawet dan limbahnya 
tidak membahayakan tanaman, bahkan bermanfaat bagi tanaman 
karena merupakan unsur hara bagi tamanan. Guna mengurangi 
pemakaian garam maka sebagai bahan baku penyamakan kulit dapat 
menggunakan kulit segar.  Namun kulit segar ini sangat mudah rusak 
dan busuk bila tidak segera disamak. Kulit yang tidak segera disamak 
harus disimpan pada suhu rendah sekitar 4oC selama 18 jam.  Kulit 
juga dapat disimpan dengan es, namun ada kelemahannya yaitu es 
mudah mencair, jadi tidak dapat digunakan untuk mengawet kulit 
terlalu lama.  Kulit setelah lepas dari tubuh ternak hanya tahan 
beberapa jam saja (kurang dari 6 jam), bila lebih kulit akan mengalami 
lisis dan tidak baik lagi untuk disamak (Sarkar, 1995).  Guna 
menghambat pertumbuhan bakteri dan aktivitas enzim, sebaiknya kulit 
disimpan pada suhu refrigerasi (dibawah 5oC).  Kulit yang ditumpuk 
pada suhu ruang juga akan cepat rusak karena metabolisme bakteri 
menghasilkan panas, dan ini akan mempercepat kerusakan. Oleh 
karena itu penyimpanan kulit diruangan sebaiknya secara individual 
dan digantung di dalam ruang dengan suhu rendah. Untuk kulit yang 
akan diantar pulaukan, kulit juga sebaiknya disimpan pada suhu 
refrigerasi atau diawet dengan cara dikeringkan dengan sinar matahari. 
Cara pengawetan dengan sinar matahari dianjurkan untuk daerah 
tropis, namun pengawetan dengan sinar matahari juga ada 
kekurangannya yaitu kulit tidak mudah dikembalikan pada kondisi 
semula dan memerlukan waktu yang jauh lebih lama untuk 
pembasahan kembali (rehydration) sewaktu proses perendaman.   
Soaking dan unhairing 
Soaking merupakan tahapan pre-tanning paling awal. Soaking 
diperlukan untuk melarutkan dan mengelimir garam dan protein 
globular yang ada di antara serabut kolagen (Kamini et al., —).  Kulit 
awetan direndam di dalam air dingin untuk menghilangkan garam 
pengawet, darah dan kotoran yang melekat, disamping itu juga untuk 
mengembalikan air yang hilang selama pengawetan (Sharpouse, 1983; 
Sarkar, 1995). Perendaman ini dilakukan selama dua jam sampai 
12 
beberapa hari (7 hari) tergantung pada suhu air (10-20oC)  dan 
ketebalan kulit.  Untuk kulit tebal memerlukan waktu yang lebih lama 
daripada kulit tipis.  Perendaman pada suhu tinggi sangat berbahaya 
karena mikroorganisme tetap dapat berkembang biak dan merusak 
kulit. Teknologi bersih yang dapat diterapkan pada tahapan ini 
disamping penggunaan antiseptik atau biosid adalah fleshing setelah 
soaking.  Keuntungannya adalah hasil ikutan yang berupa daging dan 
lemak lebih bersih dan belum terkontaminasi bahan kimia sehingga 
dapat digunakan sebagai bahan pangan maupun pakan ternak. 
Sekarang sudah dikembangkan perendaman dengan enzim asal 
mikroba untuk mempercepat proses produksi kulit samak. 
Perendaman secara enzimatis dimaksudkan untuk mempercepat proses 
pembasahan kembali serta menyerang lemak dan protein non kolagen 
yang ada diantara serabut kolagen (Thanikaivelan et al., 2004), 
membuang sisa kotoran, feses dan darah yang menempel di kulit. 
Enzim yag digunakan dalam soaking kulit adalah protease dan 
karbohidrase (Kamini et al.,—-; Thanikaivelan et al., 2004) yang 
diproduksi oleh bakteri maupun jamur. Keuntungan pemakaian enzim 
untuk soaking adalah memperpendek waktu prosesing, mempermudah 
pelepasan  scud,  menginisiasi pembukaan serabut kolagen, dan 
menghasilkan kulit yang halus (Kamini et al.,——-; Thanikaivelan et 
al
., 2004). Kerugiannya adalah ongkos atau biaya produksi meningkat 
cukup berarti.   
Setelah selesai proses perendaman, kulit dibersihkan secara 
mekanis dari sisa daging dan lemak. Untuk memudahkan pencabutan 
rambut kulit direndam dalam larutan kapur dan sedikit natrium sulfida 
selama satu sampai 9 hari. Air yang dipakai sebaiknya juga harus air 
dingin, dan rendaman kulit disimpan pada suhu rendah (10oC). 
Larutan perendaman diaduk secara periodik agar kapur dan natrium 
sulfida masuk ke dalam kulit secara merata. Proses liming 
konvensional menggunakan bahan kimia kapur dan Na2S.  Kedua 
bahan kima ini merupakan sumber cemaran utama pada air buangan 
proses pengapuran. Keuntungan penggunaan kapur adalah rendahnya 
kelarutan sehingga kandungan padatan terlarut pada limbah cair 
rendah, tetapi ada kekurangannya yaitu dihasilkan limbah padat yang 
cukup besar. Setelah proses ini selesai rambut dapat dihilangkan 
secara mudah dengan mesin penghilang rambut atau dikerok dengan 
13 
pisau buang rambut (Sharpouse, 1983; Sarkar, 1995; Ockerman dan 
Hansen, 2000). Meskipun beracun, Na2S merupakan bahan utama 
penghancur epidermis dan rambut pada proses unhairing. Namun 
sekarang sudah berkembang beberapa metoda unhairing yang 
bertujuan untuk menyelamatkan wool atau rambut dan mengurangi 
jumlah pemakaian Na2S, metode ini disebut Hair-save unhairing
Metode hair-save unhairing biasanya menggunakan Na2S kurang dari 
1,5% tergantung pada dosis kapur, lamanya proses, ketebalan dan 
panjang rambut, ketebalan kulit, pH, suhu, dan intensitas gerakan 
mekanis yang digunakan. Pemakaian Na2S lebih dari 1,5% sudah 
menyebabkan hancurnya wool atau rambut (Frendrup, 2000). Di 
Industri besar hair-desolving  menggunakan natrium sulfida sebanyak 
2%, sedangkan hair-saving menggunakan natrium sulfida sebesar 
1,3%, diikuti dengan enzymatic unhairing agar kulit yang dihasilkan 
grain nya lebih baik. Teknik hair saving dapat menurunkan chemical 
oxygen demand
 (COD) sebesar 15-20% dan total N antara 25-30% 
(IULCTS, 2000). Hasil yang lebih baik diperoleh bila rambut yang 
lepas segera disaring, sehingga diperoleh penurunan COD dan N yang 
lebih tinggi. Dengan adanya peraturan yang lebih ketat terhadap 
limbah yang dihasilkan, metode unhairing secara enzimatis lebih 
dapat diterima oleh industri kulit daripada metode-metode yang lain.  
Namun hal ini bukan berarti bahwa metode unhairing  lainnya sudah 
tidak dilakukan lagi oleh pabrik penyamak. Enzim yang digunakan 
sebagai agensia unhairing biasanya adalah enzim protease. Enzim 
proteolitik ini dapat berasal dari hewan, tanaman, bakteri maupun 
fungi (Thanikaivelan et al., 2004). Enzim keratinase asal Bacillus 
subtillis
 S14  (Macedo et al.,l (2005)  ) telah digunakan untuk  
dehairing  kulit sapi. Enzim ini aktif pada pH 8-9 sehingga tidak 
membahayakan pekerja, sedangkan unhairing  secara kimia pH nya 
sekitar 12,5. Waktu dehairing dengan enzim ini sama seperti 
dehairing secara kimia.  Penggunaan enzim biasanya dicampur 
dengan kapur atau kaolin dan Na2S dalam jumlah yang relatif kecil 
(<1%), disikatkan pada bagian daging untuk beberapa lama sampai 
rambut mudah dicabut atau dilarutkan dalam air kapur, kulit direndam 
atau diputar di dalam drum dengan putaran rendah. Dehairing secara 
enzimatis menghasilkan bulu yang relatif utuh, sehingga kandungan 
padatan tersuspensi nya rendah.  Enzim protease Aspergillus sp dan A. 
14 
Oryzae juga telah digunakan untuk unhairing kulit kambing 
(Triatmojo  et al., 2004), dengan hasil kulit samak dengan kekuatan 
fisik sama seperti yang diperlakukan secara kimia.  
Enzim alkalin protease mampu mencerna soft keratine pada sel-
sel lapisan malpigi dan  akar rambut, sehingga rambut dapat dicabut 
sampai ke akar-akarnya, sedangkan basa dan sulfida menyerang 
epidermis dan rambut (hard keratine), sehingga rambut terpotong-
potong bahkan dapat hancur bila pemakaian sulfida terlalu banyak. 
Keuntungan pemakaian enzim untuk unhairing adalah rambut yang 
dihasilkan relatif utuh, pH larutan lebih rendah (sekitar 10), 
mengurangi penggunaan sulfida sekitar 60%, serta menurunkan 
biological oxygen demand (BOD) dan COD dalam limbah cair sekitar 
40-50% lebih rendah daripada unhairing secara kimia (Triatmojo et 
al
., 2004). Keuntungan lainya adalah diperoleh kulit dengan area yang 
lebih luas, grain lebih bersih, lingkungan lebih baik, dan efisiensi 
penanganan limbah lebih tinggi (Kamini et al., ——; Thanikaivelan et 
al
., 2004). Kekurangan enzimatik unhairing adalah adanya 
kecenderungan kerusakan kolagen, serat kurang terbuka, kulit tipis, 
dan biaya untuk bahan kimia lebih tinggi (Thanikaivelan et al., 2004).  
Secara umum metode unhairing secara enzimatis lebih ramah 
lingkungan dibanding dengan metode konvensional. Untuk 
menghemat pemakaian bahan kimia dan air dapat dilakukan daur 
ulang secara langsung cairan pengapuran, teknologi ini menghemat 
pemakaian natrium sulfida sebesar 40% dan kapur sebesar 50% 
(IULTCS, 2000). Teknologi ini dapat menurunkan  COD 30-40% dan 
N sebesar 35% pada efluen campurannya. Pembelahan kulit setelah 
dikapur juga dapat dipandang sebagai teknologi bersih karena akan 
menghemat pemakaian bahan kimia dan bahan penyamak serta 
menghasilkan kulit belahan yang dapat dimanfaatkan untuk produksi 
gelatin (IULTCS, 2000).  
Buang kapur (deliming)  
Kapur yang tertinggal pada kulit yang telah dibuang rambutnya 
biasanya dibuang dengan cara dicuci dengan air selama 20-30 menit, 
dan yang terikat secara kimia dihilangkan dengan asam dan garam 
amonium (Sarkar, 1995), kadang-kadang juga ditambahkan sedikit 
15 
wetting agent dan surfaktan untuk mempercepat proses buang kapur. 
Buang kapur secara konvensional dengan garam amonium dihasilkan 
N-NH3 sebesar 40%, ini sangat mencemari lingkungan karena bau dan 
sifat racun dari amonia. Upaya untuk mengurangi pencemaran terus 
dilakukan salah satunya adalah penggunaan CO2 untuk buang kapur.  
Buang kapur dengan CO2 bertujuan untuk mengurangi (bukan untuk 
menggantikan) jumlah garam amonium yang digunakan untuk buang 
kapur.  Deliming  dengan CO2 saja berjalan sangat lambat sehingga 
masih memerlukan penambahan garam amonium untuk mempercepat 
proses (White et al. ——).  Deliming dengan CO2 sangat cocok untuk 
kulit tipis, CO2 (1-1,5% berat kulit) diinjeksikan langsung ke dalam 
drum . Penggunaan CO2 untuk deliming kulit tipis dapat dianggap 
sebagai teknologi bersih karena menghasilkan kulit samak dengan 
kualitas yang bagus (Aloy, 1993).  Pada kulit tebal diperlukan 
peningkatan suhu cairan  sampai 35oC atau memperpanjang waktu 
deliming  (IULTCS, 2004). Menurut White et al.,( ——-) deliming 
dengan CO2 pada kulit sapi utuh yang dikapur dengan metode 
Sirolime dan disamak dengan krom daur ulang menghasilkan kulit 
wet-blue yang lebih bersih dan lebih baik mutunya daripada buang 
kapur secara konvensional.  
 
Kegiatan di Ruang Penyamakan (Tanning Yard operation)  
Pada saat ini pabrik penyamak kulit masih menggunakan 
senyawa krom sebagai bahan penyamak utama, karena kulit yang 
disamak dengan krom mempunyai kelebihan dibandingkan dengan 
bahan penyamak lainnya yaitu lebih lemas, lebih kuat, dan lebih tahan 
terhadap serangan mikroba (Sarkar, 1995). Sampai saat ini belum ada 
bahan penyamak  yang dapat menggantikan krom (Aloy, 1993; 
Sarkar, 1995; IULTCS, 2004) untuk menghasilkan kulit samak yang 
sama kualitasnya. Hanya krom valensi III saja yang digunakan sebagai 
bahan penyamak karena krom valensi VI bersifat sangat toksik dan 
karsinogenik (IULTCS, 2004). Meskipun demikian kita perlu waspada 
karena di lingkungan krom valensi III ini dapat teroksidasi menjadi 
krom VI bila terdapat oksidator kuat (MnO2), serta kondisinya 
memungkinkan. Pemakaian krom tidak boleh berlebihan karena tidak 
16 
semua krom dapat terikat pada kulit, kelebihan krom akan dijumpai 
pada limbah cair dan padat. Pada limbah cair krom hanya diijinkan 
sampai pada level 1 ppm saja, sedangkan pada limbah padat sebesar 
1g/kg padatan kering (Aloy, 1993). Kandungan krom pada lumpur 
dari pengendapan primer dan sekunder dapat mencapai 3% 
(Triatmojo, 2002).  Pemakaian krom yang berlebih merupakan 
pemborosan dan meningkatkan biaya untuk pengolahan limbah.  
Daur ulang cairan pikel 
Pikel merupakan proses pengasaman kulit yang telah 
dihilangkan kapur dan telah di bating. Proses ini sangat penting 
(terutama bagi kulit yang akan disamak krom) karena untuk 
menyiapkan kondisi kulit agar siap untuk disamak.  Penyamakan krom 
dilakukan pada kondisi yang sangat asam (pH sekitar 2), untuk 
keperluan tersebut digunakan larutan garam (NaCL) dan asam 
anorganik ataupun organik (Sarkar, 1995). Guna mengendalikan 
pemakain garam dan cemaran garam ke lingkungan proses pikel 
sekarang dikontrol secara ketat (Aloy, 1993). Pemakaian larutan pikel 
dibatasi antara 50-60% dari berat kulit. Cairan bekasnya dapat di daur 
ulang atau digunakan ulang untuk mengurangi cemaran garam ke 
lingkungan. Setelah dikumpulkan, cairan bekas disaring dan 
keasamannya dikontrol di laboraorium dengan menambahkan asam 
formiat dan asam sulfat (Aloy, 1993). Cara ini mampu menghemat 
pemakaian garam sampai 80% dan pemakaian asam berkurang 20- 
25% (IULTCS, 2004). 
Penghilangan lemak (Degreasing)  
Sampai saat ini solven untuk degreasing masih digunakan. 
Praktek ini dapat dianggap sebagai teknologi bersih jika solven dapat 
diperoleh kembali, cairan ekstraksi didaur-ulang dan lemak alami 
yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara komersial (IULTCS, 2004). 
Metoda  degreasing dengan larutan non solven memerlukan banyak 
surfaktan.  Ethoxylated fatty alcohol disarankan untuk digunakan 
sebagai pengganti ethoxyaled alkylphenol, karena bahan ini mudah 
didegradasi sehingga tidak mencemari lingkungan (IULTCS, 2004). 
17 
Degreasing idealnya dilakukan pada  suhu di atas titik leleh lemak 
(>42oC), namun sayangnya kulit akan rusak pada suhu itu karena 
mendekati suhu kerut kulit (50oC). Enzymatic degreasing hanya cocok 
untuk kulit babi, kambing dan domba wool kasar sedangkan untuk 
kulit domba wool halus tidak cocok karena wool akan dicerna oleh 
enzim. Enzim lipase dikombinasikan dengan sedikit surfaktan 
memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan metode 
konvensional. Lipase membebaskan asam lemak yang menyebabkan 
penurunan pH degreasing, lipase juga menurunkan jumlah sulfat 
(polutan terbesar  limbah penyamakan kulit) pada limbah cair. Lipase 
jika dikombinasi dengan protease pada proses retanning akan 
menghasilkan kulit wet-blue yang bersih bebas dari lemak dan kotoran 
serta seragam warnanya (Rajayshree-Reddy, 2007).  
Recover, reused dan recycling  cairan penyamak krom 
Daur ulang langsung cairan samak krom merupakan cara paling 
mudah untuk memperoleh kembali (recover) dan menggunakan ulang 
(reuse) garam krom untuk menyamak kulit (Aloy, 1997). Cairan 
bahan penyamak krom dapat digunakan kembali untuk menyamak 
kulit, dengan metode aset-naset  dengan hasil kulit wet blue  yang 
kualitasnya sama dengan yang menggunakan cairan penyamak baru 
(Miwada, 2002; Soedarsono dan Prayitno, 2002, Sulistiyah dan  
Waskito, 2002). Metode ini dapat menghemat pemakaian krom 
sampai 50% (Soelistiyah dan Waskito, 2002; IULTCS, 2004) ini juga 
berarti penghematan devisa negara yang cukup tinggi. 
Krom yang terdapat pada cairan penyamak bekas dapat 
dipresipitasikan menggunakan natrium karbonat, natrium hidroksida, 
dan magnesium oksida, sedangkan penambahan polielektrolit akan 
mempercepat flokulasi (Aloy, 1979; IULTCS, 2004). Sludge  atau 
endapan yang terbentuk dilarutkan ulang dengan asam sulfat, agar 
diperoleh hasil yang maksimal pelarutan ulang ini sebaiknya 
dilakukan pada suhu 70oC. Penggunaan krom daur-ulang ini 
mengakibatkan warna kulit wet-blue nya sedikit pucat, meskipun tidak 
berpengaruh pada sifat fisik lainnya (IULTCS, 2004).  
 
18 
Peningkatan penyerapan krom pada kulit 
Agar konsentrasi krom di dalam limbah cair berkurang dapat 
dilakukan peningkatan penyerapan krom pada kulit dengan cara 
pemakaian krom yang mudah bereaksi dengan protein kolagen, 
meningkatkan basisitas krom serta meningkatkan suhu cairan 
penyamak (IULTCS, 2004). Peningkatan penyerapan krom dapat 
dilakukan dengan beberapa cara antara lain mengubah parameter 
penyamakan seperti waktu dan pH, serta  penambahan dikarboksilat 
pada bahan penyamak maupun cairan penyamak (Davis dan Scroggie, 
1979).   
Finishing (Dyeing dan fat liquoring)  
Saat ini telah tersedia teknologi bersih untuk tahap finishing 
terutama tahap dyeing dan fat liquoring, khususnya pada penggunaan 
zat warna dan pigmen.  Pada waktu yang lalu zat warna mengadung 
garam krom VI, Pb dan Cd. Logam berat ini sangat beracun dan 
membahayakan pekerja dan konsumen sehingga penggunaannya telah 
dilarang. Bahan kimia untuk finishing harus bebas dari logam berat 
(IULTCS, 2004).  Bahan kimia untuk finishing yang menggunakan 
pelarut organik sebaiknya diganti dengan  bahan yang menggunakan 
pelarut air. Penggunaan zat warna azo juga sudah ditinggalkan karena 
mengandung senyawa karsinogenik misalnya benzidin (IULTCS, 
2004).  Zat kimia untuk peminyakan (fat liquoring)  menghasilkan 
limbah yang mengandung senyawa organoklorin yang beracun. 
 
Sekarang telah dikembangkan senyawa yang harus ditambahkan ke 
dalam bahan fat liquoring yang mengubah  minyak  menjadi 
mikroemulsi, sehingga akan menurunkan COD pada limbah cair.  
Produk-produk seperti Lubricant WP dan Densodul BA 
memungkinkan dilakukannya retanning, fat liquoring dan 
waterproofing
 secara simultan (Aloy, 1997). 
 
 
19 
Kesimpulan 
Penyamakan kulit umumnya menggunakan berbagai macam zat 
kimia yang berbahaya dan beracun. Bahan-bahan ini sebagian telah 
diganti dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pemakaian bahan 
kimia juga harus dikurangi atau seperlunya saja agar proses produksi 
lebih efisien, menghemat biaya untuk bahan kimia serta limbah yang 
dihasilkan lebih sedikit dan lebih mudah diolah. Pengurangan dan 
pencegahan pencemaran menjadi fokus utama implementasi produksi 
bersih. Recover, reuse dan recycle  bahan penyamak dilakukan guna 
lebih meminimasi limbah yang dihasilkan. Implementasi produksi 
bersih dalam industri penyamakan kulit juga menjamin keselamatan 
dan kesehatan pekerja, ketersediaan sumber daya air, penghematan 
energi listrik, dihasilkan produk yang berkualitas dan mampu bersaing 
di pasar global.  
20 
PUSTAKA 
 
Aloy, M. 1993. Introduction of Cleaner Leather Production methods-
prospects and constrains. Frendrup. Nairobi. http://www. 
cepis.ops-oms.org/chrom-rep186/fulltexs. 
Anonimus, 2009. Leather Processing: Cleaner production Fact Sheet 
and Resource Guide.   Available  at  http: www.encapafrica.org/ 
EGSSAA/leather.pdf   
Bailey, D.G. 1997. Handling, Grading and Curing of Hide and Skins.  
Inedible Meat   
By-Products. A.M. Pearson and T.R. Dutson Edts. Elsevier App. Sc. 
New York.  
Cassano, A., R. Molinari and E. Drioli. 1999.  Saving Water and 
Chemicals in Tanning Industry by Membrane Processes. Wat. 
Sci. Tech
. Vol 40 (4-5): 443-450. 
Davis, M.H. and Scroggie, 1979.  Theory and Practice of Direct 
Chrome Liquor Recycling. Congress of the IULTCS in 
Versailles, 4-6th September 1979.  
Erliza N. 2006/ produksi bersih.  Materi Pelatihan Dosen PTN dan 
PTS se Jawa Bali dalam Bidang Audit Lingkungan, Bogor. 
11-20 September 2006 
Fonseca A., M.A. and Rui A.R. Boaventura. 1997. Chromium 
Precipitation from Tanning Spent Liquor Using Industrial 
Alkaline Residues: A Comparative Study. Waste Management
Vol 17(4): 201-209. 
Frendrup, W. 2000. Hair-save Unhairing Methods in Leather 
Processing. Regional Programme for Pollution Control in the 
Tanning Industry in South East Asia. UNIDO. 
International Union of Leather Technologist and Chemist Societies 
(IULTCS). 2004. IUE Recommendations on Cleaner 
Tehnologies for Leather Production. Availabble at http://www. 
google.co.id 
Kamini, N.R., C. Hemachander, J. Geraldine Sandana Mala and R. 
Puvanakhrisnan. —–. Microbial Enzyme Technology as 
Alternative to Conventional Chemists in Leather Industry. 
Department of Biotechnology, Central Leather Research 
Institute, Adyar.  
21 
KLH, 2003. Kebijakan Nasional Produksi Bersih. Jakarta. 
Miwada, I.N.S. 2002.  Kualitas Kulit Wet-blue Hasil Penyamakan 
dengan Reuse Krom Ditinjau dari Sifat Fisik dan Kimia Sebagai 
Indikatornya.  Prosiding Seminar Nasional II Indus.tri Kulit 
Karet dan Plastik. Yogyakarta, 27 Juni 2002. 
Ockerman, H.W. and C.L. Hansen. 2000.  Animal By-product 
Processing & Utilization CRC Press. Washington. 
Purwanto. 2009. Penerapan Teknologi Produksi Bersih untuk 
Meningkatkan Efisiensi  dan Mencegah Pencemaran Industri. 
Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Diponegoro. 
Semarang. 
Rajayshree-Reddy. 2007. Advance in Stabilised Enzyme for Leather 
Processing. Buckman Laboratories.  
Sarkar, K.T. 1995. Theory and Praktice of Leather Manufacture
Revised ed. The Author. Madras. 
Soedarsono, J.W. dan Prayitno. 2002. Pengolahan dan Pemanfaatan 
Kembali Limbah Krom untuk industri Penyamakan Kulit. 
Prosiding Seminar  Nasional II Industri Kulit Karet dan 
Plastik. Yogyakarta, 27 Juni 2002. 
Sulistiyah dan S. Waskito. 2002.  Penerapan Teknologi Recovery dan 
Reuse Air Limbah Krom pada Industri Penyamakan Kulit. 
Prosiding Seminar  Nasional II Industri  Kulit Karet dan 
Plastik. Yogyakarta, 27 Juni 2002. 
Wiegant, W.M., T.J.J. Kalker, V.N. Sontakke and R.R. Zwaag. 1999. 
Full Scale Experience with Tannery Water Management: An 
Integrated Approach. Wat. Sci.  Tech.  
Vol. 39(5): 169-
176. 
Triatmojo, S. 2002. Kajian Reduksi Cr(VI) Lumpur Kering Limbah 
Penyamakan Kulit. Disertasi S3. Program Pascasarjana. Institut 
Pertanian Bogor. Bogor. 
UNEP. 1999. Pollution, Prevention and Abatemant Hanbook: Toward 
Cleaner Production. Washington. 
White, H. F., C. A. Money, J. M. Poole, and D. Karamoshos. ——-.  
Carbon Dioxide Deliming of Full Thicness Hide.  CSIRO 
Leather Research Center. Victoria.