Teks Pidato Publik Speaking

Rhetorica & Public Speaking

Teks Pidato

Jadi Penonton Cerdas Itu Biasa,

Bikin Orang Cerdas Tentu Luar Biasa

oleh

JANE CATHERINE MATANARI

120904045

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2014

Semangat pagi semua !

Ibu dosen yang saya hormati dan teman-teman yang berbahagia.

Selamat pagi !

Pertama-tama marilah kita ucapkan puji dan syukur atas kehadirat Tuhan YME. Karena dengan berkatnya, kita bisa berkumpul bersama di kelas mata kuliah Rhetorica & Public Speaking ini. Saya berdiri disini untuk menyampaikan pidato saya yaitu Jadi Penonton Cerdas Itu Biasa, Bikin Orang Cerdas Tentu Luar Biasa. Pada kesempatan ini saya akan membatasi bahasan kita pada film. Saya sengaja memilih topik ini karena memang hampir semua diantara kita menyukai film. Bukan hanya sekadar suka terhadap film, tapi membuka pemikiran kita bahwa kita patut perihatin dan peduli dengan perkembangan film yang ada di Indonesia. Serta mampu mengajak orang lain untuk menjadi cerdas dan ikut peduli.

Sebelumnya ada yang tahu ada berapa banyak genre film yang pernah ada ? Ya, tidak kurang dari 23 jenis genre film yang pernah dibuat seperti animasi, dokumenter, fantasi, family, thriller, war, dll. Secara umum kesemua genre itu dibagi menjadi dua bagian besar yaitu bersifat fiksi dan non-fiksi. Itu semua jenis film yang memang ada di dunia.

Film memang kita tonton sebagai hiburan dikala kita merasa penat. Film yang ditonton pun dapat disesuaikan dengan selera kita. Tapi akan lebih baik kalau sembari menonton, kita pun mendapatkan nilai positif dari film tersebut. Selain terdapat nilai-nilai yang dapat kita gunakan sebagai pegangan kita dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu film pun mampu menginspirasi kita. Misalnya pada film Sherlock Holmes, kita diajak untuk berpikir kritis, teliti, dan mampu memprediksi hal yang akan terjadi didepan. Bagi orang-orang yang benar-benar menghayati film ini pasti akan terpengaruh menjadi orang yang mencermati detil setiap hal. Film ini juga mengajak untuk tetap profesional dalam menjalankan tugas. Kedua fungsi inilah yang seharusnya tersaji di dalam sebuah film bagi setiap penonton.

Kalau di Indonesia sendiri genre film apa yang sudah pernah dibuat ? Tetap ada film yang dibuat dengan genre-genre tersebut, tapi tidak semua kita tahu keberadaannya. Karena genre film yang paling marak ada di Indonesia adalah komedi, horor, patriotik, romantik dan sejarah. Namun hal yang menjadi perhatian kita yaitu film di Indonesia lebih didominasi oleh film-film yang kurang bermutu. Seperti film komedi disertai dengan kesan sensual atau film horor yang disertai mistik dan pornografi. Tentu ini meresahkan , apalagi film merupakan media yang sangat besar dampaknya dalam penyebaran pengaruh. Film-film tersebut menumbuh suburkan pembodohan bangsa, perusakan moral bangsa, dan mengungkung kreatifitas sineas yang jauh lebih berbakat.

Beberapa hal yang memang menjadi tantangan berat dalam memproduksi film di Indonesia, seperti yang ada di film Demi Ucok yaitu penonton yang sedikit , pajak yang besar , dan pembajak yang banyak. Penonton yang sedikit karena memang masyarakat Indonesia yang kebanyakan berpendidikan rendah masih belum mampu memilah tontonan yang bermutu. Maka perlu membuat film yang lebih bermutu agar penonton bisa mulai mengerti. Pajak di Indonesia memang besar,tapi apapun yang terjadi selama film yang dibuat bagus dan laris tentu mampu menutupi kekurangan ini. Masalah yang terakhir yaitu pembajak. Melalui sisi ekonomi tentu dimana ada celah orang yang memiliki jiwa bisnis pasti akan memanfaatkannya. Kembali lagi kepada konsumen, tetap menjadi pencuri secara tidak langsung dengan membeli kaset bajakan atau mau menghargai karya dan kerja keras orang lain dengan membeli kaset asli.

Meski memang film-film yang muncul sudah mengalami perkembangan yang baik, namun tetap saja tidak mampu membendung laju produksi film yang hampir dikatakan tidak layak edar. Disinilah peran kita bukan hanya menjadi penonton yang pemilih tetapi juga mengajak orang lain untuk jadi penonton cerdas. Sebisa mungkin menemani adik-adik kita menonton film, mengajak teman untuk menonton film yang informatif, dan bahkan mau berkarya dengan membuat film yang mendidik. Bukan harus membuat film dengan dana yang bombastis atau efek yang super dramatis, tetapi film yang mampu menuntun penontonnya menjadi religius, nasionalis, kreatif, dan aktif. Memang banyak tantangan tapi mari kita mulai beraksi nyata demi mencerdaskan bangsa.

          Sekian dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf.  Atas perhatian teman-teman saya ucapkan terima kasih. Selamat pagi !