Pidato : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Assalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam sejahtera bagi kita semua

Yang terhormat Bapak Dony Setiawan

Yang saya banggakan rekan-rekan mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan rahmatnya kita dapat berkumpul di tempat ini.

Pada hari yang berbahagia ini, izinkanlah saya untuk menyampaikan sepatah-dua patah kata dalam seminar yang bertemakan golput,no way!! kali ini.

Pelaksanaan Pemilihan Umum 2014 sudah semakin dekat. Ini menjadikan Pemilu menjadi isu yang seksi di berbagai media massa. Hampir semua media massa baik itu cetak, elektronik, dan online menjadikan masalah Pemilu sebagai topik utama(headline).

Masalah yang dibahas mulai dari proses seleksi dan pemilihan parpol peserta Pemilu, profil calon legislatif maupun calon presiden yang akan turun gelanggang dalam kontestasi Pemilu,dan proses penentuan daftar pemilih tetap. Namun, yang menjadi isu hangat saat ini dan masih dicari solusinya adalah masih banyaknya orang yang memutuskan menjadi golongan putih.

Saudara-saudara,

Apa itu sebenarnya golongan putih? golongan putih ini didentikkan dengan mereka yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam proses pemilihan umum. Banyak alasan yang jadi pembenaran perihal kealpaan mereka dalam berpartisipasi dalam Pemilu.

Kita mungkin bisa memaklumi kalau hal itu disebabkan oleh tidak terdaftarnya mereka sebagai peserta pemilu, tetapi jika kita benar-benar memiliki keinginan untuk berpartisipasi, dalam hal ini KPU telah memberi ruang kepada kita untuk bersifat proaktif melaporkan hal tersebut kepada petugas dengan menyertakan Kartu Tanda Penduduk.Namun, ini bukan alasan utama banyaknya golput.

Celakanya yang menyumbang sebagian besar golput cenderung karena alasan politis.

Pertama, Mereka memilih golput karena tidak mengetahui atau dalam tanda kutip tidak mau tahu tentang profil dan latar belakang calon tersebut .Padahal dunia yang telah memasuki arus globalisasi seperti sekarang ini kita bisa dengan mudahnya mencari informasi apapun itu, bahkan sekarang KPU sebagai penyelenggara sudah memfasilitasi dengan menyediakan informasi tentang para calon legislatif di website resmi mereka.

Kedua, Banyaknya wakil rakyat yang menyimpang seperti obral janji kampanye tanpa bukti dan korupsi membuat menurunnya kepercayaan masyarakat. Hal ini membuat timbul opini yang menggeneralisasi , bahwa sudah tidak ada lagi orang yang baik di negeri ini. Padahal masih banyak orang-orang yang bekerja secara ikhlas dan tidak menjadi maling di negeri ini. Sayangnya mereka mungkin tidak tersorot oleh sorot media.

Ketiga, Mereka tidak memilih karena merasa kondisi bangsa ini sudah sedemikian terpuruknya, sehingga mereka beranggapan siapapun yang terpilih tidak akan mampu merubah keadaan bangsa yang sedemikian merosotnya. Mereka telah banyak memendam kekecewaan, orang yang mereka anggap baik dan mampu mengemban amanah menjadi representasi mereka, bukannya melakukan perubahan malahan mereka juga terseret ke dalam pusaran kekuasaan dan ikut terjebak dan menikmati permainan kotor yang dilakonkan.

Dari Ketiga alasan tersebut bisa dikatakan bahwa makin mewabahnya virus pesimisme di negera ini. Tidak seharusnya kita pesimis terhadap bangsa ini, kita harus terus bergerak maju dan optimis karena masih ada secercah harapan bangsa ini, di pundak begitu banyak orang baik di seluruh negeri ini.

Saudara-saudara,

Kalau kita sedikit melirik ke belakang , dua Pemilu terkini yaitu Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 tren golput cenderung meningkat dengan persentase yang cukup mencengangkan. Pada tahun 2004 saja jumlah golput mencapai 34.509.246 orang, terdiri dari pemilih terdaftar yang tidak datang ke TPS 23.551.321 orang , ditambah suara tidak sah 10.957.925 orang. Persentasenya 23,34 persen terhadap total pemilih terdaftar. Sedangkan pada tahun 2009, 66.900.215 orang tidak menggunakan hak suaranya. Persentasenya mencapai 39,1 persen dari total pemilih terdaftar. Jumlah ini belum ditambah lagi mereka yang tidak ada dalam daftar pemilih.

Masalah kurangnya partisipasi ini tentu sangat berpengaruh dengan legitimasi dari hasil pemilu itu sendiri. Terkadang kita hanya bisa melontarkan kritikan dan ingin menggulingkan pemerintahan yang terpilih dari proses pemilu dan cara yang sah menurut konstitusi.Namun, tidakkah kita sadar itu merupakan implikasi dari perbuatan kita yang telah memilih golput.

Saudara-saudara,

Memang betul memilih merupakan sebuah hak dan bukan kewajiban. Tetapi apakah kita tega melihat nasib bangsa kita seperti ini?

Pada Pemilu 2014, Jumlah pemilih pemula adalah 30 persen dari total pemilih secara keseluruhan. Mari Kita manfaatkan potensi yang besar ini dengan menggunakan hak pilih kita ini sebaik-baiknya. Jangan biarkan orang-orang yang tidak memiliki kompetensi dan mungkin hanya mengandalkan modal finansial semata dengan mudah melenggang menuju tampuk kekuasaan.

Ayo, kita bersama-sama berikan ruang bagi orang yang mampu dan mau bekerja secara ikhlas untuk kemajuan bangsa ini.Sebagai salah satu bagian dari kontribusi kita kepada negeri tercinta……

Demikian penyampaian saya pada kesempatan kali ini. Apabila ada kesalahan dalam tutur kata ataupun hal lain yang kurang berkenan di hati-hati saudara, saya memohon maaf sebesar-besarnya.

Terima Kasih atas Perhatian Saudara sekalian, wabillahi taufik wal hidayah

Assalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh

MUHAMMAD FAJRI (22)

133060018450

D-III AKUNTANSI I-AN

Leave a Reply