Pidato Pengukuhan Prof. Drs. Sabirin Matsjeh Ph.d

SINTESIS FLAVONOID:
POTENSI METABOLIT SEKUNDER AROMATIK
DARI SUMBER DAYA ALAM NABATI INDONESIA




UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas MIPA
Universitas Gadjah Mada


Oleh:
Prof. Drs. Sabirin Matsjeh, Ph.D.
2
SINTESIS FLAVONOID:
POTENSI METABOLIT SEKUNDER AROMATIK
DARI SUMBER DAYA ALAM NABATI INDONESIA





UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas MIPA
Universitas Gadjah Mada


Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar
Universitas Gadjah Mada
pada tanggal 23 Maret 2004
di Yogyakarta


Oleh:
Prof. Drs. Sabirin Matsjeh, Ph.D.

3

SINTESIS FLAVONOID:
POTENSI METABOLIT SEKUNDER AROMATIK
DARI SUMBER DAYA ALAM NABATI INDONESIA

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara terbesar kedua setelah Brazil untuk
hutan tropis dan subtropis. Hampir seluruh wilayah Indonesia yang
luas ini sangat kaya dengan tumbuhan obat dan tumbuhan penghasil
senyawa aromatik. Simposium Nasional Pertama Tumbuhan Obat dan
Aromatik yang diselenggarakan oleh LIPI, bekerjasama dengan Asian
Pasific Information Network on Medicinal and Aromatic Plants
Newsletter
dan UNESCO tahun 1995 antara lain dirumuskan bahwa
Indonesia merupakan salah satu negara mega diversitas untuk tum-
buhan obat dan aromatik di dunia. Keanekaragaman nabati ini
merupakan aset Nasional yang menjanjikan peluang sangat besar bagi
bidang pendayagunaan sumber daya alam, untuk berbagai keperluan
antara lain sumber bahan kimia (chemical prospecting) yang
potensial. Umumnya kandungan kimia tersebut mempunyai efek
fisiologis dan bioaktif yang bermanfaat bagi umat manusia antara lain
untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang ditakuti saat ini seperti,
penyakit kanker, tumor, jantung, ginjal, kencing manis, penyakit yang
disebabkan virus HIV dan penyakit berbahaya lainnya (Warta
AHNMAP Indonesia, 1995). Karena itu penelitian dan pengembangan
aspek kimia berbagai tumbuhan obat dan aromatik di Indonesia perlu
segera dimulai. Sampai saat ini, pola penelitian kimia hasil alam di
Indonesia masih belum banyak perubahan. Penelitian masih
terkonsentrasi sekitar isolasi, identifikasi struktur, struktur elusidasi
dan uji aktifitas biologis dan fisiologis dari ekstrak kasar, hasil
fraksinasi dan senyawa murni yang berasal dari berbagai tumbuhan.
Telah banyak senyawa bioaktif mempunyai efek fisiologis potensial
telah ditemukan, tetapi penelitian yang mengarah ke penelitian sintesis
atau semi sintesis senyawa potensial tersebut masih sangat kurang.
Penelitian berkaitan dengan sintesis flavonoid menggunakan senyawa
aromatik alami hampir belum ada.
4

Untuk mendapatkan senyawa potensial alami dalam jumlah
besar melalui isolasi dari tumbuhan kurang menguntungkan. Karena
itu penelitian sintesis metabolit sekunder menggunakan senyawa
alami nabati yang melimpah di Indonesia sebagai bahan dasar,
dijadikan jalan keluar pemecahan masalah di atas. Hasil sintesis atau
semi sintesis dapat diarahkan ke pembuatan salah satu kelompok
metabolit sekunder yang mempunyai efek fisiologis dan biologis
potensial misal flavonoid. Kelompok metabolit sekunder tersebut telah
lama diketahui dapat digunakan pada bidang pengobatan, pertanian,
kosmetik dan sebagainya. Senyawa flavonoid yang telah dilaporkan
mempunyai keaktifan tertentu dapat dijadikan model struktur senyawa
target yang akan disintesis. Metabolit sekunder aromatis dari sumber
daya alam nabati yang melimpah di Indonesia dapat dijadikan bahan
dasar utama sintesis senyawa-senyawa flavonoid tersebut. Dengan
demikian, senyawa hasil alam yang mudah didapat dan mudah
dibudidayakan di Indonesia dapat diubah menjadi senyawa flavonoid
yang lebih bernilai ekonomi tinggi dan untuk memperluas peman-
faatannya bagi umat manusia. Penelitian dalam bidang sintesis
senyawa organik memerlukan latar belakang pengetahuan ilmu kimia
cukup luas. Inilah barangkali yang menyebabkan penelitian dalam
bidang sintesis ini sangat kurang diminati di Indonesia.
Semua proses perubahan materi yang berkaitan dengan peru-
bahan struktur molekul disebut perubahan kimia. Ilmu kimia adalah
ilmu yang mempelajari bagaimana materi dapat diubah dari bentuk
dan sifat semula menjadi bentuk-bentuk lain dengan sifat-sifat yang
berbeda. Ilmu kimia memberikan pengetahuan yang memungkinkan
untuk perubahan senyawa metabolit sekunder menjadi berbagai
bentuk senyawa penting. Perubahan struktur senyawa asal menjadi
senyawa target yang sama sekali berbeda dengan senyawa asalnya
disebut sintesis. Sintesis senyawa target sering mempunyai banyak
langkah reaksi. Hasil reaksi dari langkah reaksi pertama adalah meru-
pakan zat antara untuk langkah reaksi berikutnya. Untuk menyeder-
hanakan langkah-langkah reaksi ini dapat dimungkinkan sintesis
dimulai dari senyawa hasil alam sebagai senyawa kunci (bahan dasar).
Ada jutaan senyawa kimia telah diketahui, namun yang meru-
pakan senyawa kunci hanya sebagian kecil saja. Senyawa kimia kunci
5
adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mensintesis
senyawa kimia lain dan menghasilkan bahan kimia penting bagi
kehidupan umat manusia. Senyawa kimia kunci dari kimia organik
ada yang hanya diubah sebagian saja, tanpa menghilangkan inti
strukturnya. Struktur kimia kunci hanya dimodifikasi atau mengalami
konversi molekul. Perubahan kimia seperti ini disebut semisintesis.
Metabolit sekunder yang diisolasi dari tumbuh-tumbuhan (sumber
daya alam nabati) banyak yang dapat dijadikan senyawa kimia kunci
baik untuk sintesis maupun semisintesis senyawa lain, misalnya
eugenol, metil salisilat, safrol, anetol, vanilin dan kurkumin.

SUMBER DAYA ALAM NABATI AROMATIK
Sumber daya alam meliputi sumber daya alam anorganik dan
sumber daya alam organik. Sumber daya alam anorganik antara lain
adalah bahan galian, hasil tambang dan batu-batuan, sedangkan
sumber daya alam organik adalah berasal dari mahluk hidup seperti
tumbuhan, binatang, bakteri, lumut, jamur dan lain-lain. Perkataan
Nature (alami) banyak dijumpai pada senyawa organik. Perkem-
bangan ilmu kimia organik sering berhubungan dengan perkembangan
penelitian kimia hasil alam. Sel organisme mahluk hidup baik yang
hidup di darat maupun yang hidup di laut merupakan tempat keaktifan
sintesis yang rumit dan kompleks, di mana dihasilkan senyawa
organik yang sangat luas dan berguna bagi manusia. Macam-macam
struktur senyawa kimia organik dari tumbuhan telah diteliti begitu
luas dan sampai sekarang penelitian itu masih menarik perhatian. Ini
sebagai bukti struktur kimia organik hasil alam, sintesisnya dan
transformasi strukturnya menjalani penetapan kebolehjadian hampir
tidak terbatas untuk ditelaah dan didiskusikan. Fenomena alam ini
telah dijadikan dasar perkembangan teori mekanisme reaksi kimia
organik. Penelitian tentang sintesis struktur telah dan sedang
menciptakan bermacam-macam kaedah penting tentang sintesis
senyawa kimia organik. Mempelajari kandungan kimia dari tumbuhan
(fitokimia) sudah dijadikan nilai untuk mengetahui hubungan antar
tumbuhan (taksonomi) secara sistematik. Sumber daya alam nabati
dapat dijadikan sumber bahan kimia organik yang lestari dan dapat
diperbarui (Seaforth, 1987).
6

Sangat banyak rahasia Allah yang terdapat pada kimia hasil
alam yang belum terungkap. Kita sangat dianjurkan untuk meng-
ungkap rahasia Allah tersebut untuk kepentingan umat manusia. Kita
dianjurkan meneliti apa saja yang ada di alam ini, baik yang ada di
langit maupun yang ada di bumi.
Hai masyarakat jin dan manusia, tundukkanlah langit dan bumi, jika kamu
sanggup menembus langit dan bumi, tembuslah ! Namun tak mungkin kamu
mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan) dan ijin
Allah (Sultonik) (Q.S., Ar-Rahman, ayat 33).

Salah satu aplikasi ayat tersebut di atas, kita harus mengem-
bangkan ilmu pengetahuan untuk mencari rahasia Allah yang
tersembunyi di dalam sumber daya alam nabati dengan melakukan
penelitian-penelitian. Banyak yang dapat dilakukan untuk memperluas
potensi sumber daya alam nabati, khususnya tumbuhan aromatik.
Sumber daya alam nabati penghasil senyawa aromatik biasa disebut
sumber daya alam aromatik atau tumbuhan aromatik. Indonesia sudah
lama dikenal sebagai negara yang kaya dengan tumbuhan obat dan
aromatik. Tumbuhan aromatik sangat melimpah di Indonesia baik
sebagai penghasil minyak atsiri maupun non minyak atsiri.
Allah SWT telah memberikan kekayaan alam nabati yang
melimpah kepada bangsa Indonesia, untuk dimanfaatkan bagi keper-
luan bangsa Indonesia sebagai penghuninya. Hal ini dapat dilakukan
melalui penelitian. Hal ini sangat sesuai dan sangat mendukung visi
Universitas Gadjah Mada untuk menjadi Universitas Riset (Research
University).
Penelitian yang dilakukan di Universitas Gadjah Mada,
baik sebagai penelitian tugas akhir mahasiswa strata satu, pasca
sarjana, doktor, maupun penelitian dosen hendaknya semaksimal
mungkin menggunakan bahan alam Indonesia dalam arti luas.
Senyawa organik yang dihasilkan oleh alam terdiri dari senyawa
metabolit primer dan senyawa metabolit sekunder. Tetapi yang biasa
disebut sebagai senyawa hasil alam (natural products) adalah senyawa
metabolit sekunder. Metabolit sekunder tidak dimanfaatkan langsung
oleh yang menghasilkannya (tumbuhan dan binatang). Senyawa
tersebut memainkan peranan penting bagi kehidupan organisme ber-
sangkutan, dalam hal memberikan karakteristik pada individu tanaman
7
dan sebagai daya tarik bagi serangga untuk kelangsungan hidupnya.
Biosintesis metabolit sekunder diturunkan dari metabolit primer
(gula, asam amino, lemak, dan nukleotida). Pada tumbuhan, pemben-
tukan metabolit sekunder dimulai dari asam piruvat dan asam shikimat
yaitu senyawa yang dihasilkan dari glikolisis glukosa dari hasil
fotosintesis. Dari kedua senyawa inilah berbagai metabolit sekunder
diturunkan.
Metabolit sekunder dibedakan dengan metabolit primer
berdasarkan kriteria berikut. Metabolit sekunder distribusinya pada
tanaman tidak universal artinya tidak terdapat pada seluruh bagian
tanaman penghasil, sedangkan metabolit primer terdistribusi secara
universal. Metabolit primer memberikan keterlibatan langsung pada
metabolisme di dalam sel, sedangkan metabolit sekunder tidak terlibat
langsung pada metabolisme di dalam sel organisme yang meng-
hasilkannya. Metabolit sekunder jauh lebih sedikit terkandung di
dalam tumbuhan atau binatang dibandingkan metabolit primer
(Geismann, 1965).
Metabolit sekunder aromatik adalah senyawa kimia organik
hasil alam yang mempunyai struktur aromatik. Sebagian senyawa
metabolit sekunder aromatik mengandung inti fenol, sehingga
digolongkan sebagai senyawa fenolat (phenolic compounds). Senyawa
fenolat alam tersebar luas pada berbagai tumbuhan. Senyawa ini
sangat dimungkinkan dijadikan bahan dasar sintesis atau semisintesis
flavonoid, contohnya eugenol, metilsalisilat, anetol dan vanilin.
Kekayaan alam nabati Indonesia yang melimpah ruah meru-
pakan karunia Allah yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Banyak
peluang yang dapat dilakukan terhadap kekayaan alam nabati tersebut
untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia khususnya bangsa
Indonesia itu sendiri, sesuai dengan keperluan masing-masing.
Masalahnya, apa yang dapat kita lakukan dengan kekayaan alam yang
begitu besar ini? lebih-lebih sebagai ahli kimia FMIPA UGM yang
mana ilmunya tidak terbatas pada kepentingan satu disiplin ilmu saja,
tetapi meliputi banyak kepentingan, sehingga cakupan peluangnya
dalam pengolahan hasil alam menjadi sangat luas. Banyak hal yang
dapat dilakukan oleh ahli kimia FMIPA dalam pengolahan kimia hasil
alam, salah satunya adalah mensintesis senyawa flavonoid.

8

Allah yang maha Alim memberikan ilmunya kepada manusia
untuk menyingkap rahasia Allah dan membuktikan keagungan Allah,
sekaligus memanfaatkan alam untuk kepentingan umat manusia. Allah
tidak menciptakan alam dengan sia-sia, tetapi selalu ada tujuan. Allah
yang menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka
Allah pulalah yang menyediakan segala keperluan manusia di muka
bumi.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi (seraya berkata) Ya Tuhan tidaklah Engkai menciptakan semua ini
dengan sia-sia. Maha sudi Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka (Q.S. Al Imran ayat 190-191).

Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM sejak tahun 70-an
telah menjadikan penelitian kimia hasil alam sebagai ciri-ciri khas
laboratorium. Sampai sekarang masih dipertahankan, terutama setelah
kerja sama dengan NUFFIC di bawah pimpinan Prof. Dr. J.F. Arens
dari Universitas Utrecht Nederland Belanda, penelitian kimia hasil
alam semakin dikembangkan. Pada mulanya penelitian kimia hasil
alam terkonsentrasi pada penelitian minyak atsiri di bawah bimbingan
Prof. Dr. Hardjono Sastrohamidjojo dan sintesis kimia organik di
bawah bimbingan Dr. Warsito Hardjosudirdjo (almarhum). Penulis
telah mencoba mengembangkan penelitian kimia hasil alam non
minyak atsiri. Sumber daya alam nabati Indonesia yang kaya dengan
tumbuhan obat, ternyata mengandung banyak senyawa kimia non
minyak atsiri yang mempunyai keaktifan biologis yang sangat luas.
Misalnya Goniothalamin dan goniothalamin oksida senyawa aktif
teratogenik telah diisolasi dari Goniothalamus sp (Annonaceae)
(Sabirin, 1998). Pinokembrin (flavanon) telah diisolasi dari G.
Macrophyllus
(Sabirin, 1996).
Beberapa tumbuhan yang mengandung flavonoid telah diteliti di
Laboratorium Kimia Organik ternyata banyak tumbuhan Indonesia,
khususnya yang ditemukan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya
mengandung flavonoid. Tumbuhan Eupatorium odoratum (Com-
positae) atau dikenal juga dengan Chromolaena odorata (Gulma
9
Siam) mengandung berbagai macam flavonoid, antara lain flavon,
salvigenin, flavanon, isosakuranetin, khalkon odoratin dan isosa-
kuranetin metil eter, metoksi flavonol dan flavanon, kaemferida,
sakuranetin dan tamariksetin (Sabirin, 1987). Tumbuhan ini dapat
tumbuh sebagai tumbuhan liar hampir di seluruh Indonesia, dengan
nama lokal antara lain: wedusan, katesan, pohon jerman, serunai dan
lain-lain. Ekstrak tumbuhan ini mempunyai keaktifan membunuh
kecoa, jentik nyamuk dan mempercepat pembekuan darah (Sabirin,
1987). Beberapa flavonoid telah diisolasi dari tumbuhan yaitu:
Isoflavon dan arekolin telah diisolasi dari biji pinang (Arcea catechil),
isoflavon dari tempe kedelai, 5,3,4-trihidroksi-7-glukosa flavanon
dari daun apokat (Persea americana Mill), flavon krisin, flavon
krisoerial dan isoflavon homofereirin dari kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L), flavon, flavonol dan flavanon dari serbuk
jahe kering (Zingiber offosinalle Rose), juga ditemukan adanya
flavonoid pada bunga, batang dan daun kecombrang (Nicolaia
speciosa
Horn), temu ireng (Curcuma aeroginosa Roxb), daun kacang
panjang (Vigna sinensis L), dan teh hijau (Camellia sinensis).
SENYAWA ALAMI BAHAN DASAR SINTESIS FLAVONOID
Hampir seluruh tumbuhan aromatik yang tumbuh di Indonesia
sudah dikenal oleh masyarakat. Bahkan beberapa diantaranya menjadi
bahan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari (minyak
gondopuro, minyak daun cengkeh, minyak adas, minyak kayu lawang,
vanili dan kurkumin). Tumbuhan penghasil senyawa aromatik yang
melimpah di Indonesia dapat digunakan sebagai senyawa kimia kunci
untuk bahan dasar sintesis berbagai senyawa kimia organik untuk
berbagai keperluan yang lebih bermanfaat bagi umat manusia,
misalnya mensintesis flavonoid. Bahan-bahan alami di atas kandungan
utamanya adalah senyawa aromatik yang dapat dijadikan sebagai
senyawa kunci (bahan dasar) sintesis flavonoid (Tabel 1).

10

Tabel 1. Tumbuhan aromatik dan kandungannya
Nama minyak
Nama senyawa
Jumlah
No. Nama
tumbuhan atsiri
kandungan

1. Gondopuro
Minyak
Metil salisilat
80-90%
gondopuro
2. Cengkeh
Minyak
cengkeh Eugenol
80-90%
3. Lawang
Minyak kulit
Eugenol
49%
lawang
Safrol
43%
4. Adas
Minyak
adas
Anetol
70-90%
5. Vanili

Vanilin

6. Kunyit

Kurkumin

Minyak daun cengkeh (clove leaf oil)
Komponen utama minyak daun cengkeh adalah eugenol. Pada
masa jatuhnya harga cengkeh, banyak pohon cengkeh tidak dirawat
dan akhirnya mati. Sebenarnya daun cengkeh (yang gugur) dapat dija-
dikan sumber pendapatan petani yang cukup lumayan yaitu dengan
mengambil minyaknya. Apabila penggunaan minyak daun cengkeh
diperluas, maka potensi pohon cengkeh akan meningkat dan kesejah-
teraan petani cengkeh dapat ditingkatkan. Sehingga petani cengkeh
tidak perlu harus menelantarkan kebon cengkeh mereka. Eugenol
dapat dikonversi menjadi turunan o-hidroksi asetofenon, benzaldehid
atau turunan asam benzoat. Ketiga senyawa tersebut adalah bahan
utama sintesis flavonoid melalui vanilin sebagai zat antara.
Berdasarkan pengalaman di laboratorium, hasil redistilasi mi-
nyak daun cengkeh kotor (berwarna kecoklatan) menghasilkan destilat
(minyak daun cengkeh bersih) sekitar 90%. Destilat ini mengandung
80% eugenol. Sehingga satu ton minyak daun cengkeh kotor
menghasilkan 900 kg minyak daun cengkeh bersih dan dapat diisolasi
720 kg eugenol.

11
CH
CH
CH3
HO
OCH3
eugenol

Minyak Gondopuro (winter green)
Minyak gondopuro sering digunakan sebagai minyak gosok dan
banyak dijual di pasaran. Minyak gondopuro pasaran (minyak gosok)
mengandung metil salisilat 80-90%. Asam salisilat hasil hidrolisis dari
metil salisilat sudah lama digunakan untuk bahan dasar pembuatan
aspirin. Metil salisilat dapat langsung digunakan sebagai bahan dasar
sintesis flavonoid, tanpa harus dikonversi lebih dahulu (Futwenbun,
2001).
Minyak gondopuro perdagangan mengandung 90% metil Sali-
silat, sehingga 1 ton-nya dapat menghasilkan 900 kg metil salisilat.
Data laboratorium menunjukkan 10 gram metil salisilat dapat meng-
hasilkan 5,4 gram flavon.

O
O
C
C
OCH3
OH
.
OH
OH
metil salisilat
asam salisilat

Buah Vanilla planivolia (vanili)
Tanaman ini termasuk famili archicaceae dan mengandung
vanilin 2-3%. Vanilin (4-hidroksi-3-metoksi benzaldehid) merupakan
senyawa aldehid aromatik. Tumbuhan ini merupakan sumber vanilin
alami. Vanilin sintesis dapat disediakan antara lain dari eugenol,
anitol, kurkumin, dan lignin dari kayu atau jerami. Namun menda-
patkan vanili dari hasil isolasi buah vanila secara komersial lebih
12
menguntungkan, sehingga menanam pohon vanila lebih mengun-
tungkan untuk memproduksi vanili. Vanili adalah turunan benzaldehid
dan dapat langsung digunakan untuk sintesis flavonoid (Ismiyarto,
1998).

O
C H
.
HO
OCH3
vanilin

Minyak Kulit Lawang (Cinnamomun culiawan Blum)
Minyak kulit lawang banyak ditemukan di wilayah Indonesia
bagian timur (Maluku dan Irian). Komponen utama minyak kulit
lawang adalah eugenol 49% dan safrol 43%. Safrol dengan eugenol
mempunyai struktur agak mirip. Karena itu keduanya dapat dijadikan
senyawa kunci dengan perlakuan sama. Safrol juga dapat diisolasi dari
minyak kenanga, tetapi jumlahnya sangat kecil (sekitar 3%). Safrol
dapat dijadikan bahan dasar sintesis flavonoid, tetapi sebelum
digunakan harus dikonversi lebih dahulu seperti eugenol, menjadi
turunan benzaldehid, asam benzoat dan turunan asetofenon.

CH
CH
CH3
.
O
O
safrol

Minyak adas (fennel oil)
Minyak adas adalah minyak atsiri yang diisolasi dari tumbuhan
adas (Foenniculum vulgare Miller) atau adas manis atau anise oil
(Pimpinella anisum L). Tumbuhan ini mudah tumbuh di Indonesia. Di
13
Jawa banyak dijumpai di sekitar Boyolali, Kopeng dan Batu, Malang.
Penggunaan minyak adas di Indonesia belum begitu berkembang. Di
Jawa sering digunakan sebagai minyak gosok untuk bayi, dengan
nama minyak telon. Komponen utama minyak adas (fennel oil) dan
minyak adas manis (anise oil) adalah anetol (1-metoksi-4-(1-propenil
benzena). Minyak adas mengandung 50-60% anetol, sedangkan mi-
nyak adas manis 80-90% anitol. Minyak adas pasaran di Yogyakarta
mengandung anetol 90%. Minyak adas Boyolali mengandung anitol
35-45%, fenson 20-30% dan estragol 21-23,5%. Anitol dapat
dijadikan bahan dasar sintesis flavonoid. Anitol sama seperti eugenol
dan safrol, sebelum digunakan untuk bahan sintesis flavonoid harus
diubah dahulu menjadi o-hidroksi asetofenon, dan benzaldehid yaitu
anisaldehid (Handayani, 2001).
Berdasarkan data di atas satu ton minyak adas pasaran (kualitas
baik) yang ada di sekitar Yogyakarta dapat menghasilkan 900 kg
anetol (mengandung 90% anetol). Sedangkan 1 ton minyak adas
Boyolali menghasilkan 350 450 kg anetol. Data laboratorium
menunjukkan 10 gram anetol dapat menghasilkan 3,5 gram flavanon.
O
CH3O
CH
CH
CH3
CH3O
C
.
H
anetol
anisaldehid

Kunyit (Curcuma domistica)
Kunyit atau kunir sangat terkenal di Indonesia. Di samping
digunakan untuk campuran masakan, kunyit juga digunakan sebagai
campuran jamu untuk meperlancar air susu ibu yang baru melahirkan,
kosmetik untuk menambah kecantikan kulit wanita (lulur) dan banyak
lagi yang lainnya. Kunyit mengandung kurkumin cukup tinggi.
Kurkumin selain pada kunyit terdapat pula pada empon-empon yang
lain (temu lawak, temu ireng, dan lain-lain). Kurkumin dapat dide-
gradasi menjadi feruloil metana dan asam ferulat. Dari kedua senyawa
ini dapat diturunkan senyawa benzaldehid sebagai bahan dasar sintesis
flavonoid.
14

H3CO
OCH3
O
O
HO
-CH=CH-C-CH 2-C-CH=CH-
OH .
Kurkumin

OCH3
O
H
.
3C-C-CH=CH-
OH
Feruloilmetana

H3CO
HO
-CH=CH-COOH .
Asam ferulat
Lignin
Lignin adalah senyawa polimer aromatik yang terdapat pada
kayu atau jerami. Di dalam kayu, lignin membentuk senyawa
koordinasi dengan selulosa yang berfungsi untuk menguatkan kayu.
Karena itu, lignin juga didapatkan pada limbah pabrik kertas yang
menggunakan bahan dasar kayu atau jerami. Kandungan lignin di
dalam kayu dari limbah pabrik kertas cukup besar, antara 20-30%.
Hasil degradasi lignin dapat menghasilkan vanilin dan turunan asam
benzoat. Mengingat jumlah lignin pada alam cukup besar, maka lignin
dapat diperhitungkan sebagai sumber benzaldehid dan turunan asam
benzoat untuk sintesis flavonoid (Lamsuri, 1996).
H3CO
CH=CHCH2OH
.
HO
Koniferil alkohol

15
CH=CHCH2OH
OH
p-Kumaril alcohol
Data laboratorium di atas memberikan gambaran bahwa penggu-
naan minyak gondopuro, vanili dan minyak adas sangat mungkin
dikembangkan untuk dijadikan bahan dasar sintesis flavonoid skala
industri. Bahkan perlu dipikirkan untuk dijadikan salah satu sumber
pemasukan keuangan Universitas Gadjah Mada yang kita cintai ini.

FLAVONOID
Flavonoid adalah salah satu kelompok metabolit sekunder dan
merupakan salah satu golongan senyawa fenol terbesar yang dihasil-
kan secara alami oleh tumbuh-tumbuhan. Diperkirakan sekitar 2%
dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuh-tumbuhan (atau
kira-kira 1 x 109 ton /tahun) diubah menjadi flavonoid dan turunannya
(Natori, 1981). Sebagian besar tanin juga berasal dari flavonoid.
Flavonoid terdapat di dalam semua tumbuhan darat, tetapi tidak
ditemukan pada tumbuhan laut (Alga), mikroorganisme, bakteri,
jamur dan lumut (Scheuer, 1987). Kebanyakan warna tumbuhan
disebabkan oleh flavonoid, mulai dari zat warna fungus sampai
angiospermae. Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam
bagian vegetatif maupun dalam bunga.
Secara kuantitatif jumlah flavonoid yang dihasilkan oleh
tumbuh-tumbuhan relatif sangat kecil, sehingga bila diisolasi akan
memerlukan banyak tumbuhan. Abad (1993) hanya mendapatkan 0,28
kg (0,14%) centaureidin (5,7,3-trihidroksi-3,6,4-trimetoksi flavon)
dari 200 kg Tanacentum microphyllum dan Conoclidium greggii
(compositae) sebanyak 2 kg hanya mengandung 0,024 kg (1,2%)
5,7,4-trihidroksi 6,3,5-trimetoksi flavon. Dua contoh di atas adalah
gambaran betapa kecilnya kandungan flavonoid pada tumbuhan. Pada
hal flavon adalah golongan flavonoid yang paling banyak ditemukan
di alam dan kedua tumbuhan itu adalah famili tumbuhan yang dikenal
16
kaya dengan flavonoid. Karena itu, produksi flavonoid dengan cara
isolasi dari alam kurang menguntungkan. Untuk mendapatkan
flavonoid jumlah besar kita melakukan sintesis flavonoid jauh lebih
menguntungkan.
KARAKTERISTIK STRUKTUR FLAVONOID
Biosintesis flavonoid secara alami diturunkan dari asam shiki-
mat dan asam pirufat yaitu senyawa yang diturunkan dari karbohidrat
(hasil fotosintesis tanaman) melalui glikolisis. Kerangka dasar
senyawa flavonoid sangat spesifik sehingga mudah dikenal. Struktur
molekul senyawa ini tergolong sederhana sehingga identifikasi struk-
turnya mudah ditentukan. Kerangka dasar senyawa ini mempunyai
atom karbon sebanyak lima belas (C15), terdiri dari dua inti fenol (C6)
yang dihubungkan oleh satu unit tiga karbon (C3). Ke lima belas atom
karbon pada kerangka dasar tersebut secara umum ditulis C6-C3-C6
dan dibagi menjadi empat tipe yaitu khalkon, flavan, isoflavan, dan
auron. Antara satu tipe dengan tipe yang lain hanya dibedakan oleh
unit C3, seperti terlihat pada Gambar 1.

5
5′
6
4
6′
4′
B
6′
OH
1
3
8
B
5′
1
O
1′
C
2
3′
2
7
C
A
2′
.
2′
C
A
4′
C C
C
6
3
3′
C
5
Khalkon
4 Flavan


1
8
7
1
O
6′
5′
2
O
7
C
6
2
A
C
A
C C
C
B
4′
3
6′
6
C
1′
5
C
C 3

5′

2′
3′
5
1′
4
4
B
2′
4′
3′
Auron
Isoflavan

Gambar 1. Empat tipe kerangka dasar flavonoid

Sebagian besar flavonoid alami pada tumbuhan mengikat gula
dan disebut flavonoid glikosida dan yang lainnya (sebagian kecil)
17
tidak mengikat gula dan disebut flavonoid aglikon. Flavonoid
glikosida larut di dalam pelarut polar (air dan alkohol) dan mudah
terhidrolisis menjadi aglikon yang tidak larut di dalam pelarut polar.
Dengan alasan ini, penentuan flavonoid di dalam tumbuhan lebih baik
menguji keberadaan aglikon sebelum mempertimbangkan keberadaan
flavonoid glikosida.
Flavonoid dibagi menjadi sebelas golongan didasarkan pada
perbedaan struktur C3 dan posisi cincin B pada unit C3 yaitu flavon,
flavanol, isoflavon, flavanon, flavanonol, isoflavanon, khalkon, dihi-
drokhalkon, auron, antosianidin dan flavan.
Flavon dan flavonol dapat ditemukan pada hampir semua
tumbuhan sedangkan flavonoid yang lain hanya ditemukan pada
beberapa famili atau genera tumbuhan tertentu saja. Perbedaan satu
golongan dengan golongan yang lain sangat jelas bila diidentifikasi
menggunakan alat resonansi magnetik inti (NMR) baik proton NMR
maupun C13 NMR. Beberapa flavonoid dalam satu golongan (mempu-
nyai kerangka dasar yang sama). Struktur molekul dalam satu
golongan dibedakan oleh posisi substituen yang terikat pada cincin A
dan cincin B. Substituen yang terikat pada umumnya adalah gugus
hidroksi dan gugus metoksi (lihat lampiran) (Geisman, 1969 dan
Mann, 1994).

Manfaat Flavonoid
Pada mulanya para peneliti di dunia kurang tertarik terhadap
flavonoid, karena kegunaannya bagi manusia belum banyak diketahui.
Sejak tahun 60-an perhatian dunia mulai tertuju kepada flavonoid,
karena baru terungkap ternyata senyawa ini mempunyai manfaat
cukup luas dan berarti, dan tidak kalah dengan senyawa lain yang
telah lama dikenal seperti alkaloid.
Telah banyak dilaporkan bahwa flavonoid yang diisolasi dari
tumbuhan mempunyai berbagai keaktifan biologis antara lain mem-
punyai keaktifan sebagai obat, insektisida, antimikroba, anti virus, anti
jamur, obat infeksi pada luka, mengurangi pembekuan darah di dalam
tubuh, mempercepat pembekuan darah di luar tubuh, antioksidan anti
tumor dan anti kanker (Robinson, 1991). Di masyarakat tertentu
benalu dipercaya bahwa mempunyai khasiat sebagai obat kanker.
18
Misalnya benalu batu, benalu yang tumbuh pada jeruk dan kopi,
benalu teh, benalu asam keranji dan lain-lainnya. Ternyata sebagian
besar benalu telah diteliti mengandung flavonoid khususnya isoflavon
(Nurul, 1996).
Khalkon, 4,2,3,4-tetrahidroksi yang diisolasi dari Bidens
leucanta merupakan obat untuk antiinflamatori (Tommasi, 1977).
(R,S)-Dioklin adalah flavanon yang diisolasi dari tumbuhan Dioclea
grandiflora
memiliki aktivitas analgesik pada tikus (Speasing, 1977).
Pinokembrin yang diisolasi dari Goniothalamus macrophyllus, ternya-
ta mempunyai keaktifan ganda antibakterial dan anti jamur (Sabirin,
1996). Eupatorium odoratum (compositae) adalah tumbuhan liar yang
banyak terdapat di seluruh Indonesia, termasuk di lingkungan kampus
UGM. Ekstrak tumbuhan ini mempunyai keaktifan dapat membe-
kukan darah. Minyak atsiri yang diisolasi dari daunnya sangat positif
untuk membunuh kecoa dan membunuh jentik nyamuk, namun
senyawa apa yang menyebabkan keaktifan tumbuhan tersebut belum
dikatahui. Pohon ini berbentuk perdu dan telah dilaporkan mengan-
dung banyak flavonoid. Dua diantaranya mempunyai keaktifan
sitotoksik yaitu isosakuranetin (flavon) dan odoratin (khalkon)
(Sabirin, 1987).
Uvarin chamea (Annomaceae) satu famili dengan buah sirsat,
buah nogosari dan buah nona dilaporkan mengandung flavanon uvare-
tin, isouvaretin dan uvarinol yang mempunyai keaktifan sitotoksik
(Hufford, 1976). Isoflavon yang diisolasi dari kacang kedelai dan
tempe adalah senyawa aktif sebagai antioksidan, antihematolitik, anti
jamur, anti bakteri, kemo protektor tumor, kardiovaskuler dan
estrogenik (Hosny dan Rosazza, 1999).
Seminar Regional di Korea Selatan tahun 1995 dengan judul
UNESCO Regional Seminar on the Chemistry, Pharmacology and
Clinical Use of Flavonoid Compounds
memberikan banyak infor-
masi tentang fungsi senyawa flavonoid sebagai obat antara lain 4,5,6-
trihidroflavon dan katekin hidrat yang diisolasi dari kulit batang Choe-
rospondia oxillaris diketahui mempunyai keaktifan anti-inflammatory,
anti alergi dan detoksisiti (Minh, 1995). Yoshida (1995) telah
mengisolasi likokhalkon, dan glisirrisoflavon yang ternyata mempu-
nyai keaktifan anti oksidan dan anti karsinogenik. Flavonoid yang
diisolasi dari Scutellaria indica, mempunyai efek sitotoksik terhadap
19
sel L-1210. Ahn (1995) telah dapat mensintesis snyawa flavon yang
mempunyai keaktifan sitotoksik. (2-Benziloksi-5-metoksiflavon, 5,7-
dimetoksi-2-benziloksi flavon, 5,7,8-trimetoksi-2-benziloksiflavon)
dan antitumor. (2-benziloksi-5-hidroksiflavon, 2-benziloksi-5-hi-
droksi-7-metoksiflavon, 5,2-dihidroksi-7-metoksiflavon dan 2-
heksanoil-5-hidroksi-7-metoksiflavon). Flavonoid antibakterial dan
antioksidan yang dipisahkan dari akar Sophora flavescen adalah
norkurarion flavanon, nor-anhidroicaritin flavanol-farmaroneltin iso-
flavon, liquiritigenin dan quersetin dan beberapa flavonoid anti
mutagenik yaitu 5,7-dihidroflavon, 5,7,4-trihidroksiflavon, 5,7,4-
trihidroksiflavonol, 5,7,4-trihidroksi flavanon dan 5,3-dihidroksi-
7,4-dimetoksi flavanon (Zha O, 1995).

Sintesis Flavonoid
Sintesis flavonoid menggunakan senyawa hasil alam seperti
metilsalisilat, vanilin, eugenol, anetol sebagai senyawa kunci belum
banyak dilakukan. Turunan benzaldehid, turunan asam benzoat dan
orto-hidroksi asetofenon adalah merupakan senyawa kunci yang
sangat penting di dalam sintesis flavonoid (Bu dan Li, 1996 dan
Jinuma, 1984). Orto-hidroksi asetofenon bila direaksikan dengan
turunan benzaldehid akan menghasilkan flavanon dan bila direaksikan
dengan turunan asam benzoat akan menghasilkan flavon. Sintesis
flavonoid seperti flavon, flavanon, flavanol, isoflavon selalu melalui
khalkon sebagai zat antara (Patonay 1996)
Ares (1993) telah mensintesis 5-metoksiflavon dengan mereaksi
orto-hidroksi asetofenon dan benzoilklorida. Flavonon (gradinol) telah
disintesis menggunakan o-quinonmetida (Matsumoto, 2001). Ahn
(1995) telah mensintesis beberapa flavonon dengan memodifikasi
substituen dari turunan benzaldehid sebelum direaksikan dengan orto-
hidroksi asetofenon. Penulis bersama-sama dengan mahasiswa tugas
akhir Program S1 dan S2 telah mencoba mensintesis flavon dan
flavanon menggunakan senyawa alam yang melimpah di Indonesia
(eugenol, metilsalisilat, vanilin dan anetol) sebagai bahan dasar
(Sabirin, 1998).
Metoda sintesis senyawa flavanon sampai saat ini masih meng-
gunakan pendekatan metoda Baker-Vankataraman, kondensasi Aldol,
20
kondensasi Claisen dan penataan ulang Fries. Sintesis flavonoid di
laboratorium kimia organik dimulai dengan mensintesis orto-hidroksi
asetofenon (Haidar, 1997). Sintesis senyawa ini merupakan bagian
yang sangat penting, karena orto-hidroksi asetofenon adalah
merupakan senyawa kunci dalam sintesis flavonoid.
Tahap berikutnya adalah pemasukan gugus benzoil yang berasal
dari turunan asam benzoat terhadap asetofenon, melalui reaksi
kondensasi aldol atau Claisen (Sabirin dan Amirudin, 1997). Kemu-
dian pembentukan dibenzoil metana pada langkah selanjutnya terjadi
melalui reaksi penataan ulang Baker-Venkataraman atau penataan
ulang Fries. Seterusnya melalui pemanasan senyawa ini berubah
menjadi senyawa khalkon. Siklisasi unit C3 menghasilkan cincin C
dari flavon atau flavanon dapat terjadi pada pemanasan dalam suasana
asam. Gugus hidroksi (OH) pada orto-hidroksi asetofenon sangat
berperanan untuk reaksi siklisasi ini (Sabirin, 1998).
Berdasarkan konsep di atas telah dicoba sintesis flavonoid
menggunakan metil salisilat, eugenol, vanilin dan anetol sebagai
bahan dasar (lihat lampiran) (Futwenbun, 2001 ; Handayani, 2001,
Sabirin dan Amirudin, 1997 ; Ismiyarto, 1998 dan Sukria, 2003).

KESIMPULAN
Semua senyawa aromatik yang dibicarakan di atas: eugenol,
metilsalisilat, vanilin, anetol adalah senyawa hasil alam nabati yang
sangat melimpah di Indonesia. Ke empat senyawa ini dapat dijadikan
bahan dasar utama untuk sintesis flavonoid. Senyawa-senyawa
tersebut, dapat diturunkan menjadi berbagai ragam struktur turunan o-
hidroksi asetofenon, benzaldehid dan asam benzoat. Dari ketiga
turunan senyawa tersebut dapat dihasilkan berbagai ragam struktur
flavonoid. Diharapkan flavonoid yang disintesis dari hasil alam
Indonesia ini merupakan senyawa penting bernilai ekonomi tinggi dan
dapat berguna untuk umat manusia. Bahkan diharapkan dari bahan
alam Indonesia dapat disintesis flavonoid yang dapat untuk mengobati
penyakit-penyakit yang ditakuti saat ini. Kita juga berharap semoga
masyarakat industri bersedia memperbanyak dan menggunakan
temuan kita untuk bahan baku industri mereka.

21
Uraian di atas hanya menggambarkan sebagian sangat kecil dari
Sumber Daya Alam Nabati yang ada di Indonesia. Bahkan baru meng-
gunakan sebagian kecil dari bahan alam nabati yang selama ini pro-
duksinya masih sangat terbatas. Karena itu dapat disimpulkan Sumber
Daya Alam Nabati masih mempunyai peluang sangat besar untuk
dijadikan bahan dasar (senyawa kunci) sintesis flavonoid. Kandungan
senyawa alami di atas masih sangat mungkin dikonversi menjadi
senyawa lain, selain flavonoid, yang lebih luas penggunaanya. Mohon
maaf pada tulisan ini disengaja menggunakan reaksi kimia seminimal
mungkin, mengingat waktu dan forum yang sangat heterogen.
Di masa mendatang, semoga kita tidak mendengar lagi him-
bauan yang menyarankan misalnya pengurangan populasi pohon
cengkeh dengan cara menebang pohon cengkeh yang telah ada,
dengan alasan memperbaiki harga jual cengkeh. Kita tidak menemu-
kan lagi kebun cengkeh terbiar merana, karena dianggap tidak
menguntungkan. Pada hal masih sangat kemungkinan peningkatan
kesejahteraan masyarakat melalui pohon cengkeh dan tidak hanya
bergantung pada bunga cengkeh, daun cengkehpun dapat memberikan
banyak manfaat bagi kehidupan manusia, asal kita dapat mengo-
lahnya.
Di masa depan kita harus bangga bahwa bumi kita ditakdirkan
oleh Allah SWT sebagai bumi yang subur untuk tumbuhan aromatik.
Karena masih sangat banyak peluang yang dapat dilakukan melalui
tumbuhan aromatik, untuk memakmurkan bangsa yang sangat kita
cintai ini. Apabila bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat, bangsa
yang mandiri dan bangsa yang dapat mengolah Sumber Daya
Alamnya yang melimpah dengan kekuatan sendiri, kita harus
memperkuat ilmu-ilmu MIPA termasuk ilmu kimia. Apa yang harus
kita perbuat dengan kekayaan alam kita yang melimpah? Jawabannya
adalah karena kita belum mampu atau kita belum punya kemauan
untuk melakukan itu. Mengapa kekayaan tersebut belum dapat diolah
menjadi bahan jadi yang lebih menguntungkan? Marilah kita bersama-
sama mencari pemecahannya. Dengan memperkuat ilmu-ilmu MIPA,
Insya Allah, sangat menunjang untuk mengembangkan ilmu terapan
termasuk di dalamnya pengambangan teknologi pengolahan Sumber
Daya Alam Nabati dan pengembangan industri berbasis bahan baku
lokal.
22
DAFTAR PUSTAKA

Abad, M.J., Barmejo, P., Villar, A., 1993, Anti-inflammatory Activity
of Two Flavonoids from Tanacetum microphyllum, J. Nat.
Prod
., 56, 1164.
Ahn B.Z., Song G.Y., 1995, Polyoxygenated Flavon, Synthesis,
Cytotoxicities and Antitumor, Activity against ICR Mice
Carrying S-180 Cell
, Chungnam University, Korea.
Ares, M.J., Jeffrey, Outt, E., Pamela, Kokadkar, V. Sunil, Buss C.
Robert, and Geiger, C. Jeffrey, 1993, A Convennient Large-
Scale Synthesis of 5-Methoxyflavone and Its Application to
Analog Preparation
, J. Org. Chem., 58, 7903.
Bae K.H., Min B.S., Park K.L. dan Ahn, 1995, Cytotoxic Flavonoid
from Scutellaria indica, Chungnam University, Korea.
Bu, X., dan Li, Y., 1996, Synthesis of Exyguaflavanone K and ()-
Lechianone G., J. Nat. Prod., 59, 968-969.
Futwenbun, A., Sabirin, M., Jumina, 2001, Sintesis 2-Metoksi Flavon
o-Hidroksiasetofenon dengan Metilsalisilat, dimuat pada Tekno-
sains, Berkala Penelitian Ilmu-ilmu Teknik dan Sains UGM,
Volume 14, Nomer 1, Januari 2001, ISSN 1411-6162
Geisman, T.A., Crout, D.H.G., 1969, Organic Chemistry of Secondary
Plant Metabolism, Freeman, Cooper and Company, San
Fransisco.
Haidar, Y., 1997, Pengaruh Waktu Pemanasan terhadap Hasil
Sintesis o-Hidroksi Asetofenon Dengan Katalis AlCl3 anhidrus,
Skripsi, FMIPA UGM, Yogyakarta.
Handayani, S., dan Sabirin, M, 2000, Sintesis 4-Metoksiflavanon
Menggunakan o-Hidroksiasetofenon dan p-Anisaldehid dari
Minyak Adas, Naskah Publikasi Pasca Sarjana UGM, 2000.
Hosny dan Rosazza, 1999, J. Nat. Prod., 62, 853-858, dikutip dari
Bulletin of The Indonesian Society of National Products
Chemistry
, ISSN, 1411-9269, Vol. 3, No, 2003, HKBAI,
Indonesia.
Hufford, C.D., Lasswell W.L., Hirosita K., dan Clardy J., 1979,
Isolation Bioactive Compounds from Uvaria Chamae, J. Org.
Chem
., 44, 4709 (1979).

23
Ismiyarto, dan Sabirin, M, 1998, Sintesis Senyawa Kalkon dan
Flavanon Menggunakan Bahan Dasar Senyawa Aldehida
Aromatis dan Keton Aromatis, Naskah Publikasi Pasca Sarjana
UGM, 1998.

Jinuma, M., Tanaka, T., dan Matssura, S., 1984, Synthetic Studies on
the Flavone Derivatives, XIII, Synthetic of Flavones with
Tetramethoxy Group in Ring B
, Chem. Pharm. Bull., 32(9),
3354-3360.
Lamsuri, Sabirin, M, 1997, Isolasi dan Degradasi Lignin dari Limbah
Cair Pabrik Kertas yang Berbahan Baku Kayu, Naskah
Publikasi Pasca Sarjana UGM, 1997.

Mann, J. Davidson, R.S., Hobbs, J.B., Banthorpe, D.V., and Harborne,
1994, Basic Organic Chemistry, part 4, John Wiley and Sons,
New York.
Matsumoto, T., Singk, I.P., Etoh, H dan Tanaka, H., 2001, The first
total synthesis of Grandinal, a new Phloroglucinol Derivative
Isolated from Eucalyptus grandis
, Chemistry Letters, the
Chemical Society of Japan.
Minh C.V., 1995, Study on Flavonoid Containing Plants from
Vietnam, Chungnam National University, Taejon, Korea.
Natori, S., Ikekawa, N., dan Suzuki, M., 1981, Advances in Natural
Products Chemistry, John Wiley & Sons, Toronto.
Nurul Utami dan Sabirin M., 1996, Mempelajari Pemisahan Senyawa
yang Terkandung dalam Daun Benalu (Scurrula atropurpurea
Bl. Dans) Asam Keranji, Laporan Magang Penelitian Dosen
MIPA LPTK, Nopember 1996.

Patonay, T., Levai, A., dan Nemes, C., 1996, Synthesis and
Cyclization of 1-(2-Hydroxyphenyl)-2-propen-1-one Epoxides:
3-Hydroxy chromanones and -flavanones versus 2-(1-
Hydroxyalkyl)-3-coumaranones
, J. Org. Chem., American
Chemical Society.
Robinson, T., 1991, The Organic Compounds of Higher-plants,
diterjemahkan oleh Padmawinata, K., 1995, Penerbit ITB,
Bandung.

24
Sabirin Matsjeh, Priatmoko, Winarto H., 1998, Mempelajari
Mekanisme Reaksi Sintesis Flavonoid Sebagai Salah Satu
Kelompok Senyawa Hasil Alam, Laporan Penelitian Pengkajian
dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Dasar, No. kontrak:
27/PPI/DPPM/97/PPIPD/1997 tanggal 10 Juni 1997, DIKTI.

Sabirin, M., 1987, Hasil-hasil Semulajadi dari Beberapa Ubat
Tradisional Melayu, Desertasi Ph.D., University Sains Malaysia,
Malaysia, 33-36, 63, 88-90, 225.
Sabirin, M., 1996, Isolation and Identification Flavonoid from
G.Macrophyllus, G.Tortilipetallus and G.Curtissi, dimuat pada:
Journal of Pharmaceutical Sciences Chungnam National
University
, Korea, Vol. 11, December 1996, page: 224-233
Sabirin, M., 1998, Identifikasi Hasil Degradasi Lignin dari Serbuk
Kayu Melalui Kromatografi Gas Spektroskopi Massa, dimuat
pada Manusia dan Lingkungan, Jurnal Pusat Penelitian
Lingkungan Hidup UGM, No.14, Thn V, 1998, ISSN: 0854-
5510
Sabirin, M., 1998, Teratogenecity Effect of Goniothalamin and
Goniothalamin Oxide from Goniothalamus Macrophyllus
(Annonaneae), disampaikan pada ASOMPS IX (The Ninth
Asean Symposium on Medicinal Plants, Spices and Other
Natural Products), Hanoi-Vietnam 24-28 September 1998.
Sabirin, M., 1999, A Study of Chalcon Synthesis from Methylsalicylate
and Acetophenone, disampaikan pada International Workshop
and Seminar on Catalyst Chemistry
(IWSCC 99), 13 Februari
1999, di Yogyakarta.
Sabirin, M., 1999, Pemanfaatan Beberapa Hasil Alam Indonesia
Sebagai Bahan Baku Sintesis Senyawa Flavonoid, dimuat pada
Prosiding Seminar Nasional VI, Jurusan Kimia FMIPA UGM,
24-25 September 1999, ISSN:1410-8313.
Sabirin, M., 1999, Sumber Daya Alam Tumbuhan Sebagai Bahan
Sintesis Senyawa Aktif untuk Bahan Dasar Industri Obat,
dimuat pada Prosiding Seminar Kimia Bahan Alam 99, tanggal
16-17 Nopember 1999, kerjasama UI dan UNESCO di Jakarta.

25
Sabirin, M., 2000, Mempelajari Pengaruh Gugus Hidroksi Pada
Metilsalisilat dan Asetofenon Terhadap Sintesis Senyawa
Khalkon, dimuat pada Jurnal Nusantara Kimia
, JNK-2000 1.1,
edisi Januari 2000, ISSN: 0854-6541.
Sabirin, M., dan Amirudin, S., 1997, Sintesis 2,2-Dihidroksikalkon
dari Ortohidroksi Asetofenon dan Benzoilklorida, dimuat pada
Prosiding Seminar Nasional II, Jurusan Kimia FMIPA UGM, 13
Desember 1997, ISSN:1410-8313
Schener, J.P. 1978, Marine Natural Products, diterjemahkan oleh
Koensoemardiyah, 1995, IKIP Semarang Press.
Seaforth, C.E., Adams, C.D. dan Sylversten, Y., 1971, A Guide to the
Medicinal Plants of Trinided & Tobago, Commonwealth
Secretariat, Malbornough House, Path Wall, London.
Speasing, P., Majestich, G., dan Bhattacharyda, J., 1997, Synthesis of
(R,S)-Diclein, a Bioactive Grandifera, J. Nat. Prod., 60, 399-
400.
Sri Ningsih, 2000, Epoksidasi -Hidroksikhalkon Dengan Pereaksi
Asam-m-kloroperbenzoat (m-CPBA), Skripsi S1, Jurusan Kimia
FMIPA UGM, Pembimbing utama: Sabirin Matsjeh.

Tommasi, N.D., dan Pizza, C., 1997, Flavonol and Chalsone Ester
Glycosides from Bidens Leuchanta, J. Nat. Prod., 60, 270-273.
Yoshida T., Hatano T., dan Ito H., 1995, Bioactive Polyphenols
Having Flavan-3-ol unit and other Flavonoid from Higher
Plant
, Chungnam University, Korea.
Zha O., 1995, UNESCO Regional Seminar on the Chemistry,
Pharmacology and Clinical Use of Flavonoid Compounds,
Chungnam University, Korea.

26

LAMPIRAN
27

Lampiran 1.
Tabel Kandungan flavonoid dan aktifitasnya (manfaatnya)
No.
Nama flavonoid
Manfaat
Struktur
Sumber Pustaka
1.
Pinokembrin
Anti bakterial
Sabirin, M., 1996
(Pinus sp)
Anti jamur
HO
O
OH
O
2.
Daktzein
Anti kanker
Glukosa
Edviyenti, 1996
(Isofavon)
Anti tumor
O
O
28
(Kedelai, tempe)
O
OH

3.
Silimarin
– Mengobati gangguan

Robinson, 1991
(Silybum marianum)
fungsi hati
– Melindungi
membran sel hati
– Menghambat sintesis
prostaglandin

4.
Genisterin
merangsang
OH
Bae, 1995
(isoflavon)
pembentukan estrogen
O
pada mamalia
OH
O
OH
5.
Flavon dari tumbuhan
Sitotoksik terhadap sel
R
Bae, 1995
4
Scutellaria indica
L-1210 dan antitumor
R3
R2
O
R5
29
R1
O

R1
R2
R3
R4
R5

1 OH OH OCH3 OCH3 H
2 OH OH OCH3 OH H
3 OH OCH3 OCH3 OH OH
6.
Antitumor
R
Bae, 1995
4
R3
R2
O
R1
O

R1
R2
R3
R4

4 OH OH OCH3 H
5 OH OH OCH3 OCH3

7.
Norkurarion (flavanon)
Anti bakterial Anti
Zha O., 1995
dari Akar Sophora
oksidan
flavescent
HO
O
OH
O
30
8.
Nor-anhidro-icaritin
Anti bakterial Anti
Zha O., 1995
OH
(flavanol)
oksidan
OH
HO
O
OH
OH
O

9.
Farmoroneltin
Anti bakterial Anti
HO
O
Zha O., 1995
(isoflavon)
oksidan

O
OCH3
10.
Liquiritigenin
Anti bakterial Anti
OH
Zha O., 1995
(flavon)
oksidan
HO
O
O
31
11.
Quersetin (flavonol)
Anti bakterial Anti
OH
Zha O., 1995
oksidan
OH
HO
O
OH
OH
O

12
Uvaretin
Sitotoksik
OH
Hufford, 1979
Dari tumbuhan Uvaria
chame

HO
O
OH
O


13.
Isouvaretin
Sitotoksik
Hufford, 1979
32
HO
O
OH
OH
O

14.
4,5,6-Trihidroksi-flavon Anti-inflammatory
OH
Minh, 1995
dari Kulit batang
Anti alergi
Choerospondia oxillaris
Detoksisiti
HO
O
OH
O
15.
Katekin hidrat
Anti-inflammatory
OH
Yoshida, 1995
Anti alergi
Detoksisiti

OH
HO
O
33
OH
OH
O
16.
Likokhalkon
Anti oksidan
R
Yoshida, 1995
2
Dari tumbuhan tinggi
Anti-karsinogenik
OH
HO
R1
OCH3
O
Likokhalkon A : R1 = H, R2 = C(CH3)2-CH=CH
Likokhalkon B, R1 = OH, R2 = H

17.
Glisirrisoflavon
Anti oksidan
HO
O
Ahn, 1995
Anti-karsinogenik
OH
OH
O
OH
glisirrisoflavon
18.
Flavon sintesis
Sitotoksik
5′
Ahn, 1995
2-benziloksi-5-
Anti tumor
6′
4′
metoksiflavon
1
7
O
5,7-dimetoksi-2-
3′
6
2
2′
benziloksiflavon
5,7,8-trimetoksi-
5
3
34
4
2benzilksiflavon
O
2-hidroksi-5,7-

dimetoksiflavon
2-hidroksi-5,7,8-
trimetoksiflavon
2,6-
dihidroksiflavon
2-hidroksi-5,6-
dimetoksiflavon
2-benziloksi-5-
hidroksiflavon
5,2-dihidroksi-7-
metoksiflavon

35
Lampiran 2. Sintesis flavonon dari anetol dari minyak adas

O
KMnO4
H3CO
CH
CH
CH3
H3CO
C
H
anetol
p-anisaldehid
OH
OH
O
H
+
3CO
C
H
C
CH
C
CH
3
2 CH
OCH3
O
O
OH
OCH
OCH
3
3
O
OHHC
CH
C
O
O

36
Lampiran 3. Sintesis flavon dari metilsalisilat dari minyak gondopuro

H
O
3CO
OH
OH
C

HO
+ OH
+

C
CH
C
CH
3
2
O
O
Metil salisilat
o-Hidroksi asetofenon
OH
.
OH
OH
OH
OH
OCH
C
3
.
C
CH
C
2 C
C
O
OH
O
Turunan khalkon
OH
O C
C
C
O

37
Lampiran 4. Reaksi o-hidroksi asetofenon + vanilin yang diharapkan

O
O
C
H
C
H
+
(CH3O)2SO2
HO
H3CO
OCH3
OCH3
vaneraldehid

OH
OH

OCH3
OH
+
.

C
CH
C
CH
3
2
C
OCH3
H
O
O
O
vanilin
o-hidroksi asetofenon
OCH3
OH
OCH3
OH C
OCH3
C
C
CH2 CH
OCH3
C
O
OH
O
.
OCH3
O
OCH3
C
O
flavanon

Leave a Reply