Teknik Berpidato : – Presentation Transcript

Teknik Berpidato – Presentation Transcript

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PROPINSI JAWA TIMUR KOMUNIKASI & BERPIDATO

KOMUNIKASI DAN PIDATO?

Pidato, agak berbeda dengan presentasi.

Pidato, terasa lebih formal daripada presentasi.

Tetapi keduanya pidato dan presentasi merupakan bagian dari komunikasi.

Komunikasi, belum tentu pidato ataupun presentasi.

Pidato ataupun presentasi, pasti komunikasi.

MARI KITA NGOBROL ANTAR TEMAN

SETIAP ORANG BISA BERKOMUNIKASI

Yang perlu diingat dalam

berkomunikasi:

What, apa yang kita komunikasikan

Who, siapa yang kita ajak komunikasi

Where, dimana berkomunikasi

When, kapan berkomunikasi

Why, mengapa berkomunikasi

How, bagaimana kita berkomunikasi

KOMPONEN DASAR KOMUNIKASI

Komunikator

Komunikan

Pesan

Mesia/Saluran

feedbackInteraksi

Pemahaman bersama

ASPEK DAN STRATEGI KOMUNIKASI

Katakan dengan jelas dan tepat

Sesuaikan dengan konteks

Perhatikan alurnya

Kenali siapa mitra bicara kita

Lakukan sesuai dengan tujuan

Perhatikan dan sesuaikan dengan budaya mereka

Katakan dengan bahasa yang dipahami oleh mitra bicara kita

PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI YANG RESPEKTIF

Positif thinking

Berorientasi pada solusi

Jujur

Empathy

Feeling

Communicate

BAHASA DAN KOMUNIKASI

Dalam berkomunikasi, pasti menggunakan bahasa sebagai sarana utama.

Bahasa adalah kesepakatan lokal. Dalam hal ini gunakan bahasa yang dipahami bersama oleh komunikator dan komunikan.

Gunakan bahasa yang sederhana. Yang penting, pesan yang dikirimkan dapat diterima oleh sasaran dan responnya positif.

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG LAIN

Jadilah pendengar yang baik.

Sebut nama.

Hargai waktu lawan bicara, bicaralah secukupnya, agar lawan bicara tidak bosan.

Beri kesempatan lawan bicara untuk menyampaikan pendapatnya. Tidak semua orang tertarik dengan topik pembicaraan kita. Perhatikan bahasa tubuh lawan bicara. Kalau sudah nampak bosan, ganti topik pembicaraan.

Jangan lupa gunakan bahasa tubuh dengan tepat.

Pikir masak-masak sebelum berbicara.

Ciptakan nuansa keterbukaan demi menjaga hubungan baik dengan lawan bicara.

BERPIDATO

KOMPONEN PIDATO

Penyaji

Pendengar

Materi yang disajikan

Feedback/umpan balik

Moderator

Masing-masing memiliki peran dan

fungsinya sendiri.

BAGAIMANA MENATA PERASAAN?

Kalau kita merasa bahwa pidato merupakan pekerjaan yang sulit kita lakukan dan membuat kita tidak berdaya, awali dengan perasaan :

Lupakan saja bahwa kita akan pidato

Pikirkan saja seakan-akan :

Kita meyakininya

Kita mengetahuinya

Kita mempedulikannya, dan

Kita memperhatikan semua hal

PENAMPILAN AWAL

Sebelum mendekati podium, tenangkan diri dan beri kesempatan kepada hadirin untuk memperhatikan kita.

Satukan diri kita dengan materi pidato. Jangan biarkan hanya mulut yang bicara, tetapi usahakan seluruh tubuh kita ikut bicara.

Pidato akan berlangsung dengan sendirinya.

Bicaralah lebih keras dari biasanya, tetapi jangan berteriak dan jangan terlalu cepat.

APA YANG KITA INGINKAN?

Menjadi pembicara yang dikenang.

Melakukan persiapan matang.

Mampu menggunakan bahasa tubuh dengan optimal.

Menjadi pembicara yang mampu berdiri tegak dengan kokoh dihadapan para pendengarnya.

Dapat mengakhiri pidato dengan cara yang memikat.

MENJADI PEMBICARA YANG DIKENANG

Jadilah diri sendiri. Jangan pernah ingin menjadi orang lain.

Jadilah orang yang percaya diri. Ikhlas melakukannya, dengan berusaha tampil maksimal.

Dalam hal ini, sebagai pembicara harus memiliki mental yang kuat.

PERSIAPAN MATANG

Sediakan waktu khusus untuk persiapan diri sebelum tampil. Apalagi bagi mereka yang pemula.

Lakukan latihan, latihan dan latihan. Setelah membaca naskah berulang kali bisa sepuluh atau limabelas kali sampai kita akrab dengan susunan dan makna pidato berikutnya katakan. Bukan membaca. Seakan kita sudah tampil di depan publik.

PERSIAPAN FORMAT DAN ISI

Apa yang perlu saya katakan?

Tuliskan semua, jangan ada yang tertinggal.

Apa yang perlu didengar oleh para hadirin?

Klarifikasi dengan penyelenggara serta kalau mungkin langsung kepada pendengar.

Apa yang perlu diingat oleh mereka?

Pesan utama harus tidak dilupakan.

Beritahukan apa yang akan kita katakan; katakan dan beritahu mereka apa yang telah kita katakan.

STRUKTUR PIDATO

Pembukaan.

Singkat dan sederhana, berupa tema.

Alasan mengapa perlu didengarkan

Pemikat

Gambaran singkat dari tema

Isi

Inti dari pidato. Sedapat mungkin ringkas dan mudah dipahami. Usahakan jangan menyimpang dari tema

Rangkuman

Penutup

Berupa simpulan tentang apa yang harus diingat oleh pendengar.

TULISKAN TEMA UTAMA SEBAGAI SUATU PILIHAN

Gunakan kalimat pendek untuk mengemas semua pesan yang penting.

Gunakan beberapa pengulangan. Jangan ragu melakukannya.

Bangkitkan perhatian dengan kejutan dan dadakan.

Sisipkan humor, untuk meringankan pesan.

Anggaplah semua pendengar tahu sebanyak yang kita tahu.

Hindari hal yang menimbulkan tanda tanya.

MENGGUNAKAN BAHASA TUBUH

Tubuh berbicara lebih kentara daripada kata-kata.

Upayakan bahasa tubuh kita mendukung pidato yang kita lakukan.

Hindari bahasa tubuh yang tidak mendukung, misalnya :

Menggaruk-garuk badan

Suka membetulkan asesoris

Suka membetulkan baju yang dikenakannya

BERDIRI TEGAK, KOKOH DIHADAPAN PENDENGAR

Jika kita bisa melakukannya, niscaya semua orang akan mendengarkan perkataan kita dengan serius.

Jangan melakukan gerakan aneh.

Saat pidato pada bagian tertentu, katakan dengan penuh percaya diri.

Salurkan berat yang dipikul oleh leher dan pundak, ke arah badan. Salurkan berat lengan atas tersalur ke tangan dan jemari.

Lakukan dengan penuh kesadaran.

KESUKSESAN PENYAJIAN

VERBAL 7 %

Tidak semudah yang dibayangkan

Bahasa verbal, sarana utama komunikasi

VOCAL 38 %

Anatomi alat-alat ucap diperankan

Suara bisa dibentuk melalui latihan

Kualitas, irama, kejelasan, kuat/lemah, kecepatan dan tekanan

Kesan pertama lawan bicara dipengaruhi suara

VISUAL 55 %

Ekspresi wajah (ketakutan, kemarahan, kesedihan dll)

Tatapan mata, apa yang dipikirkan/dirasakan seseorang

PENAMPILAN FISIK

Sikap tubuh harus menarik. Upayakan tegak, karena posisi tubuh utamanya kepala, kaki dan pundak merupakan pusat sikap tubuh.

Gerakan, jangan berlebihan.

Gerakan isyarat, usahakan yang alami.

Kontak mata diperlukan, karena mata memiliki sejuta makna.

Ekspresi wajah, sangat berperan dalam menyampaikan emosi.

Penampilan pribadi, sangat mempengaruhi tanggapan khalayak. Termasuk bagaimana berpakaian.

Suara, dapat mempengaruhi kemampuan memahami minat khalayak. Sebaiknya keras, tapi tidak berteriak.

TIP KHUSUS DALAM PIDATO UNTUK HINDARI KEJENUHAN

Bersikap efisien dan efektif

Kuasai materi

Siap phisik (mis :kesehatan, pakaian)

Siap mental (mis : percaya diri)

Lakukan kontak mata dan gunakan bahasa tubuh

Buatlah p idato sebagai suatu hal yang menyenangkan

Jangan bersikap kaku

Buatlah handout untuk seluruh pendengar

AKHIRI PIDATO DENGAN CARA YANG MEMIKAT

Sebelum mengakhiri pidato, berhenti sejenak. Berdiam diri, tutup mulut sebentar. Biarkan suasana hening.

Semua memperhatikan kita. Menunggu dengan expresi wajah yang kebingungan.

Begitu semua perhatian fokus kepada kita, lanjutkan pidato.

Berikutnya, lakukan pengakhiran dengan menyimpulkan pidato kita.

Insya Allah pidato kita berakhir dengan sangat memikat.

PENUTUP

Pidato dikatakan berhasil jika :

Terpenuhinya unsur/komponen pidato .

Setelah pidato berlangsung, s asaran memahami, mengerti pesan dan akhirnya merubah sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan komunikasi.

Dalam berpidato dan berkomunikasi, yang penting hownya.

Pidato sebagai bagian dari k omunikasi harus hati-hati, karena efek yang timbul (negatif) sulit untuk dihilangkan.

Pidato
Pidatoialahaktivitilisanuntukmemberiketerangan, huraian, penjelasandanulasantentangsesuatuperkara.
Terdapatduajenispidato, iaitu:
Telahdiberitajukdahuludanpemidatobolehbersedialebihawal.
Pemidatohanyadiberitajukbeberapaketikasebelummemulakanpidato. 

Jenispidatobergantungkepadatajukatauperkara yang hendakdisampaikan.
Ciri-ciripemidato:
Seorang yang banyakpengetahuan
Mempunyaibanyakpengalaman
Banyakmembaca
Bolehbertuturdenganbaik
Maklumat yang ingindisampaikanmestilahdifahamiolenpendengar.

Gaya bahasapidato

Bahasa yang digunakanmeliputiduaaspek, iaitudarisegipenggunaan format danpenggunaanpenandabahasa.

Menggunakanbahasabaku.

Bahasaperlumudah, jelas, konkrit, danmudahdifahami.

Bentukbahasa yang digunakandalambentukdeskriptifataupenerangan.

Pemidatoperlulahfasih, lancardanmengetahuiistilahsertakosakatadengansebutandanintonasi yang betul.

Dalampidatojugamempunyaibeberapapenandabahasa. Antaranya :-

Penandasikapuntukmemberigambarantentangperasaanpemidato.

Penandamasa yang ditandaidenganisyarat.
Penandasokongandenganmembuktikanisidenganrujukandancontoh.
Penandapenegasmelaluikata-kataseperti olehitu dan ditegaskan.
Penandapendapatseperti padapendapat
Penandapenamat yang menunjukkanbahawapidatoakantamat.

Format pidato
Pendahuluan

Disampaikanmengikutkretivitipemidato.

Menggunakanilustrasi, latarbelakang, bentukpenyataan, petikan, dansebagainya.

Persediaanrapisebelummemulakanpidato.

Isiutama

Isiutamadalambentukfrasadanmudahuntukdiingat.

Huraiansecarasistematik, mendalamdanmenyeluruh.

Faktadisusunmengikuturutandankronologi, iaitumengikutkesesuaianbidang.

Penutup

Memberipenandapenamatsebelummengakhiripidato.

Retorika – Presentation Transcript

RETORIKA Pertemuan ke 12 : TAHAP PENYUSUNAN PIDATO Nama : Gilang Gaviasa NIM : 153 070 400 Kelas : F

Membuat Garis-Garis Besar Pidato

Garis Besar adalah peta bumi bagi komunikator yang akan memasuki daerah kegiatan rektorika

Ciri-Ciri Garis Besar Yang Baik

Terdiri dari 3 bagian : pengantar, isi, dan penutup

Lambang yg digunakan untuk menunjukan bagian-bagian tidak boleh membingungkan(sistem lambang angka & kombinasi)

Pikiran pkok & penunjang dibedakan dengan penulisan yg menjorok kedalam

Macam-Macam Garis Besar

Menurut Alan H. Monroe :

Garis besar lengkap diperlukan dalam proses pengembangan pidato & digunakan oleh pembicara bukan ahli dalam penyajiannya

Garis besar singkat : diperlukan hanya sebagai pedoman/pengingat saja, digunakan oleh pembicara ahli

Garis besar alur teknis : (berisi teknik-teknik berpidato)dapat ditulis sejajar dengan garis besar lengkap & diletakkan pada kertas lain

Memilih Kata-Kata

Kata-kata harus jelas

Kata-kata harus tepat

Kata-kata harus menarik

Kata-Kata Harus Jelas

Gunakan istilah yang spesifik

Gunakan kata-kata yang sederhana

Hindari istilah-istilah teknis

Berhemat dalam penggunaan kata

Gunakan perulangan/pernyataan kembali gagasan yg sama dengan kata yg berbeda

Kata-Kata Harus Tepat

Hindari kata-kata klise

Gunakan bahasa pasaran secara hati-hati

Hati-hati dalam penggunaan kata-kata pungut

Hindari vulgarisme & kata-kata yg tidak sopan

Jangan menggunakan penjulukan

Jangan menggunakan eufimisme yg berlebih-lebihan

Kata-Kata Harus Menarik

Pilihlah kata-kata yg menyentuh langsung diri khalayak

Gunakan kata berona

Gunakan bahasa yg figuratif

Gunakan kata-kata tindak ( Action Word)

Cara-Cara Membuka Pidato

Macam-macam pedoman :

Langsung menyebutkan pokok persoalan

Melukiskan latar belakang masalah

Menghubungkan dengan peristiwa mutakhir/kejadian yg sedang menjadi pusat perhatian khalayak

Menghubungkan dengan peristiwa yang sedang diperingati

Menghubungkan dengan tempat komunikator berpidato,dll

Cara-Cara Menutup Pidato

Penutup pidato harus bisa memfokuskan pikiran & perasaan khalayak pada gagasan utama/kesimpulann penting dari seluruh isi pidato

Daftar Pustaka

Rahkmat, Jalaludin.1992.Psikologi Komunikasi.bandung, PT Remaja Rosdakarya

Rahkmat, Jalaludin . 2007.Rektorika Modern Pendekatan Praktis, Bandung, PT Remaja Rosdakarya

ucapan 1 taraf hadirin

-nada mestilah tegas dalam berpidato

-situasi formal

-individu

-komunikasi sehala

Dalam berpidato,kita hendaklah mempunyai salutasi,isi dan penutup.

-Salutasi

-salam,kata-kata aluan

-pembuka kata yang menarik

-pilih pantun atau seloka

-kemuka statistik atau teknik heuristik

-Isi

-Penutup

-tertib

-beri penghargaan

– mohon maaf

-ucap terima kasih

(http://wiki.answers.com/Q/Cara-cara_pidato_yang_hebat)

latihan yang cukup mengelakkan rasa gugup ketika berpidato

(http://pmr.penerangan.gov.my/index.php?option=com_content&view=article&id=6742:hilangkan-rasa-gugup-ketika-berpidato&catid=385:info-ringkas)

Seni pengucapan awam sama ada pidato, debat perbahasan, pembentangan, forum atau syarahan merupakan satu seni unik yang bukan semua orang berbakat menguasainya.

Pengucapan awam dari segi definisi bermaksud pelahiran bahasa dengan penuh makna melalui komunikasi lisan (suara dan perkataan) dan bukan lisan (anggota tubuh perucap).
Pengucapan awam ini walaupun sukar dikuasai namun terdapat teknik tertentu bagi melatih dan memberi keyakinan kepada mereka yang ingin membabitkan diri dalam pertandingan pidato, debat atau syarahan.

Apa yang penting setiap mereka yang ingin menguasai seni pengucapan awam yang baik perlu melakukan latihan yang konsisten selain memberi komitmen yang tinggi untuk membolehkan mereka menghilangkan rasa gugup dan tidak yakin .

Latihan yang kerap seperti berlatih di hadapan cermin juga dapat membantu menghilangkan rasa gugup selain membolehkan kita mengesan sebarang kesalahan dan mengenalpasti bahasa tubuh yang sesuai. Masalah yang sering dialami pembahas ialah gemuruh kerana terpaksa berdepan dengan khalayak namun ini dapat diatasi sekiranya persediaan rapi dibuat.

Pemidato yang baik akan dapat menyesuaikan ucapan dan teknik penyampaiannya bergantung kepada siapa yang akan mendengar ucapan terbabit bagi memastikan pendengar dapat menerima mesej dengan jelas.

Tips untuk menghilangkan rasa gugup.

a. Perkara pertama yang perlu anda lakukan ialah membuat persediaan rapi sebelum berucap. Sebaik manapun berucap, anda perlu mengetahui dengan tepat apakah yang diucapkan. Ini penting supaya ucapan anda mencapai objektif dan tidak tersasar atau menyimpang.

b. Anda juga perlu datang awal sebelum sesi ucapan anda, sekurang-kurangnya 15 minit sebelum majlis bermula.

c. Tarik nafas sekiranya rasa gugup kerana ia mampu membantu anda menenangkan diri.

d. Pastikan anda sudah menguasai tajuk perbahasan dan sudah menghafal beberapa isi penting bagi mengelakkan anda terlupa.

e. Perlu ada mukadimah yang sesuai yang tidak terlalu panjang dan terlalu pendek. Bergantung kepada masa yang diberikan. Mukadimah 15 peratus, isi 70 peratus dan penutup 15 peratus. Ini akan memudahkan pendengar untuk mengikuti perjalanan ucapan anda dari awal sehingga penutup.

f. Intonasi suara perlu diberi perhatian terutama untuk debat dan syarahan bagi menekankan isi penting. Jika anda ingin penonton memberi perhatian kepada isi yang disampaikan perlu ada penekanan suara iaitu tinggi dan rendah.

g. Kenal pasti sasaran khalayak kita dan apakah keperluan mereka mendengar isu ucapan kita. Buat rujukan atau kaji selidik terhadap kelompok penonton atau pendengar yang akan mendengar ucapan kita.

h. Buat latihan dengan menggunakan rangka isi dan cuba praktikkan di hadapan cermin. Pengucap yang baik tidak akan melihat dan membaca petikan teks. Walaubagaimanapun, jika anda masih baru, pastikan anda ada kad kecil sebagai catatan rangka isi untuk berucap.

i. Fokus ucapan anda bukan pada kelemahan anda. Contonhnya sekiranya anda mempunyai suara yang kuat yang boleh mengawal pendengar, gunakan sebagai kelebihan dalam ucapan anda.

j Anda juga pemidato yang menggunakan ciri-ciri fizikal yang ada pada mereka untuk menarik perhatian khalayak.

k. Berucaplah dengan fikiran dan emosi yang positif. Pastikan sebelum anda berucap emosi anda berada dalam keadaan positif

l. Pandangan pertama penting (first impression) penting untuk anda memulakan ucapan yang baik

m. Pastikan anda memakai pakaian yang sesuai dengan keadaan majlis dan mulakan dengan senyuman.

n. Nyatakan objektif yang jelas apa isi ucapan anda kemudian barulah dikembangkan dengan isi serta bahagian penutup.

o. Apabila ada rasa debaran maka jangan berlawan dengan perasaan anda. 

p. Pandang mata(eye contact) juga penting dalam ucapan bagi memastikan pendengar berasakan anda bersama mereka sepanjang ucapan anda.

 

Pidato adalah penyampaian gagasan, pikiran atau informasi serta tujuan dari pembicara kepada orang lain(audience) dengan cara lisan. Pidato juga bisa diartikan sebagai the art of persuasion, yaitu sebagai seni membujuk/mempengaruhi. Berpidato ada hubungannya dengan retorika(rhetorica), yaitu seni menggunakan bahasa dengan efektif. Berpidato bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana karena dalam berpidato menyangkut beberapa unsur penting seperti: pembicara, pendengar, tujuan dan isi pidato, persiapan, terknik dan etika dalam berpidato.

I. Tujuan Pidato

Diantara tujuan dari pidato, yaitu: (a)informatif, bertujuan memberikan laporan/ pengetahuan atau sesuatu yang menarik untuk pendengar; (b)persuasif and instruktif, berisi tentang usaha untuk mendorong, meyakinkan dan mengajak audience untuk melakukan sesuatu hal; (c)edukatif, berupaya menekankan pada aspek-aspek pendidikan, misalnya tentang pentingnya hidup sehat, ber KB, hidup rukun antar umat bergama dan lain-lain; (d)entertain, bertujuan memberikan penyegaran kepada audience yang sifatnya lebih santai.

III.

IV.

V.

VI.

VII.Beberapa hal penting berkaitan dengan berpidato. Yang perlu mendapat perhatian adalah:(a)Posisi Berbicara. Seorang pembicara harus sedapat mungkin dilihat oleh semua audience. Kalau boleh tidak duduk, usahakan untuk berdiri, agar semua audience dapat menatap wajah dan penampilan pembicara; (b)Mengatur Suara Dalam Berpidato. Usahakan mengeluarkan suara dengan jelas, tegas, dan nyaring dan sesuaikan dengan ruang pertemuan, apakah ruang kecil atau ruang aula yang luas dan besar; (c)Volume, Intonasi dan Pelafalan. Pada saat berpidato, usaha mengatur: volume suara, intonasi, dan pelafalan; (d)Sisipkan humor yang sopan, segar dan relevan; (e)Gerak Tubuh, seperti tangan, telapak tangan, jari, kepala, raut muka, dan lain-lain juga mendukung daya tarik dalam berpidato, namun jangan terlalu berlebihan, dan harus sesuai dengan apa yang sedang dibacarakan; (f)Penggunaan mikropon. Bila ada mikropon, gunakanlah dengan sebaik-baiknya, dan jangan menempel di mulut, namun agak jauh dari mulut pada saat berbicara agar suaranya bagus; dan (g)Bila ada slide( berupa OHP dan LCD), alat peraga, papan tulis, sangat efektif untuk menunjang kegiatan saat berpidato.

VIII. Penutup

Pada saat kita membaca sebuah buku atau mendengar ceramah tentang teknik berpidato, tampaknya sangat sederhana. Akan tetapi pada saat kita ingin mempraktekkannya, kita akan menemui berbagai kendala. Diantaranya kurang menguasai materi, kurang menguasai massa, tidak terbiasa berdiri di depan orang banyak, bagaimana mengatur sistematika pembicaraan, mengatur suara, dan lain-lain. Semua syarat ini akan membuat suasana menjadi rumit. Yang paling penting kita belajar dari sausana yang sederhana dan kecil. Setiap ada orang berpidato, baik sebagai pemakalah maupun menyampaikan kata sambutan, sebaiknya kita perhatikan dan mencoba menilai kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya kita ambil sebagai contoh, sedangkan kelemahannya kita abaikan

(http://agnessekar.wordpress.com/2008/12/08/tehnik-berpidato/)

(http://shahabudeenjalil.com/2011/03/bagaimana-untuk-berpidato-atau-bercakap-di-hadapan-umum/)

Sewaktu saya membuat keputusan untuk menganjurkan Kursus Memborong di China yang pertama pada tahun 2007. Saya tidak berani untuk bercakap di hadapan umum. Seperti semua orang, saya boleh bercakap apa saja dikalangan rakan-rakan namun tidak dikalangan orang yang saya tidak kenali.

Saya mempelajari kaedah bercakap di hadapan ramai dengan satu pengalaman yang tidak baik. Pada malam sebelum saya menganjurkan kursus yang pertama ini, saya tidak dapat tidur langsung. Maklumlah gemuruh dan takut untuk bercakap pada keesokannya.

Namun, esoknya saya mampu bercakap dengan biasa dan menghabiskan kursus itu. Kemudian beginilah seterusnya pada beberapa kursus seterusnya. Namun semakin lama, perasaan ini semakin kurang dan saya menjadi semakin yakin.

Saya akan menghabiskan masa saya untuk berlatih dihadapan cermin bercakap seorang diri berjam-jam lamanya.

Selain itu, saya akan panggil rakan saya yang pandai memberi komen, untuk memberi komen kepada pengucapan umum saya. Namun sukar mencari kawan untuk memberi komen. Mereka lebih suka berkata, semuanya ok. Walaupun anda perasan ada yang tidak ok.

Saya juga mencuba kaedah membuat skrip untuk bercakap. Tapi kaedah ini gagal, anda tidak dapat bercakap dengan baik dengan skrip yang direka. Skrip boleh digunakan dengan panduan, namun anda perlu bercakap dengan apa yang terbayang di kepala anda.

Jadi saya merasakan anda tidak perlu rasai apa yang saya rasai. Terdapat kaedah yang lebih mudah untuk anda belajar berpidato.

(Disarikan dari buku Retorika Modern karya Jalaluddin Rakhmat, Rosdakarya Bandung, 1999)

PENDAHULUAN
Salah satu karunia Tuhan kepada manusia adalah kemampuan berbicara.
Setiap gerakan besar di dunia dilakukan oleh ahli-ahli pidato.
Kemampuan berpidato bukan sekadar mengandalkan bakat, melainkan memerlukan pengetahuan dan pelatihan secara terus-menerus.

ENAM LANGKAH PERSIAPAN BERPIDATO
1. menentukan maksud atau tujuan berpidato
2. menjajaki situasi dan latar belakang pendengar/audiens
3. memilih topik
4. mengumpulkan bahan/materi pidato
5. menyusun dan mengembangkan kerangka pidato
6. melatih diri

TUJUAN BERPIDATO
1. menyampaikan informasi (informatif)
2. mempengaruhi (persuasif)
3. menghibur (rekreatif)

JENIS-JENIS PIDATO (menurut persiapannya):
1. Impromptu (spontan)
Keuntungan:
dapat mengungkapkan perasaan yang sebenarnya
dapat membuat si pembicara terus berpikir
dapat membuat suasana menjadi segar dan hidup karena apa yang diungkapkan bersifat spontan
Kerugian:
dapat menimbulkan kesimpulan mentah karena pengetahuan tidak memadai
dapat mengakibatkan penyampaian yang tersendat dan tidak lancar
dapat menyebabkan demam panggung sehingga gagasan yang disampaikan acak-acakan dan ngawur

2. Naskah/Manuskrip
Keuntungan:
dapat menyampaikan isi pidato secara jelas
dapat lebih fasih berbicara
dapat menghindari hal-hal yang ngawur dan menyimpang dari isi pidato
dapat diperbanyak/diterbitkan
Kerugian:
dapat mengurangi komunikasi dengan pendengar
dapat membuat suasana menjadi kaku
Hal-hal yang dapat dilakukan:
Gunakan gaya percakapan yang lebih informal dan langsung.
Baca naskah berkali-kali sambil membayangkan pendengar.
Hafalkan sekadarnya sehingga Anda dapat lebih sering melihat pendengar
Ketik dengan jenis huruf yang mudah dibaca.

3. Memoriter/Menghafal
Keuntungan:
dapat menyampaikan isi pidato secara jelas
dapat lebih fasih berbicara
dapat menghindari hal-hal yang ngawur dan menyimpang dari isi pidato
Kerugian:
dapat mengurangi komunikasi dengan pendengar
dapat membuat suasana menjadi kaku
BAHAYA: lupa terhadap apa yang telah dihafalkan!
4. Ekstemporan
o Pidato disiapkan dalam bentuk garis besar (outline) sebagai pedoman untuk mengatur gagasan.
Keuntungan:
dapat berkomunikasi langsung dengan pendengar
dapat menyampaikan pesan lebih fleksibel
Kerugian (bagi pemula):
dapat mengurangi kefasihan
dapat mengakibatkan penyampaian yang tersendat dan tidak lancar

SUMBER-SUMBER TOPIK
1. Pengalaman pribadi
a. perjalanan
b. tempat yang pernah dijunjungi
c. wawancara dengan tokoh
d. peristiwa luar biasa, lucu, dll.
2. Hobi dan keterampilan
a. cara melakukan sesuatu
b. peraturan dan tata cara tentang hobi dan keterampilan
3. Pengalaman pekerjaan atau profesi 
a. pekerjaan tambahan
b. profesi keluarga
4. Pelajaran sekolah atau kuliah 
a. hasil penelitian
b. hal-hal yang perlu diteliti lebih lanjut
5. Pendapat pribadi
a. kritik terhadap buku, pendapat orang, dll.
b. hasil pengamatan pribadi
6. Peristiwa hangat dan pembicaraan publik
a. berita media massa
b. peristiwa di sekeliling kita
7. Masalah abadi
a. agama
b. pendidikan
c. persoalan masyarakat yang belum selesai
8. Kilasan biografi
a. biografi orang-orang terkenal
9. Kejadian khusus
a. perayaan/peringatan agama, nasional, dll.
10. Minat Khalayak
a. pekerjaan
b. hobi
c. rumah tangga
d. pengembangan diri
e. kesehatan dan penampilan
f. dll.

KRITERIA TOPIK YANG BAIK
1. Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda.
2. Topik harus menarik minat Anda.
3. Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar.
4. Topik harus menarik minat pendengar.
5. Topik harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya.
6. Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi.
7. Topik harus ditunjang dengan bahan/referensi yang memadai.

PENGEMBANGAN GAGASAN
1. penjelasan (definisi)
2. contoh
3. analogi
4. testimoni (pernyataan ahli)
5. statistik
6. perulangan

KOMPOSISI PIDATO
1. kesatuan: isi, tujuan, sifat pembicaraan
2. pertautan (koherensi)
a. ungkapan penghubung
b. paralelisme
c. sinonim

MEMILIH KATA
1. Kata-kata harus jelas
a. Gunakan kata-kata yang sederhana, lazim digunakan, dan tidak berbunga-bunga.
b. Gunakan perulangan gagasan dengan kata yang berbeda.
c. Hindari istilah teknis.
2. Kata-kata harus tepat
Contoh:
mengacuhkan
bergeming
tinggal landas
mengentaskan kemiskinan
mengejar ketinggalan
3. Kata-kata harus layak

MENGURANGI RASA CEMAS
Siapkan bahan pidato
Datanglah lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan.
Kenalilah lingkungan tempat berpidato dan audiens terlebih dahulu.
Lakukan pemanasan dan pelatihan yang cukup (secara tidak mencolok).
Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Taala.

HAL-HAL YANG DILAKUKAN KETIKA AKAN MEMULAI BERPIDATO
Rapikan pakaian dan penampilan sebelum maju berpidato.
Ambil napas perlahan-lahan.
Pegang dan ketuk secara perlahan mikrofon untuk memastikan bahwa mikrofon/pengeras suara sudah on.
Tataplah secara sekilas audiens.
Baca bismillah perlahan dan mulailah menyapa audiens dengan salam.

HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI KETIKA BERPIDATO
Jangan bersin atau batuk di depan mikrofon. Setelah itu, ucapkanlah maaf.
Jangan hanya memandang satu arah.
Jangan pula memandang ke atas atau ke bawah.
Jangan terlalu keras atau terlalu lemah berbicara.
Jangan berlebihan dalam menggerakkan tangan.
Jangan sering menggerakkan badan ke kiri/kanan atau ke depan/belakang.
Jangan menunjukkan wajah bersedih ketika berpidato dalam suasana bergembira, dan sebaliknya.
Jangan tergesa-gesa berbicara sehingga banyak ucapan yang terpeleset.
Jangan menggunakan suara leher.
Jangan menggaruk-garuk kepala/badan dan mempermainkan kancing baju.
Jangan mengucapkan kata-kata asing yang tidak tepat cara pengucapannya.
Jangan salah memenggal kata atau kalimat jika membaca naskah.
Jangan menggunakan waktu lebih dari yang ditentukan.
Jangan menggunakan lelucon yang berbau SARA dan saru (porno).

BERPIDATO

1. Pengantar
Sebagai insan terpelajar, mahasiswa dituntut memiliki kinerja yang memuaskan dalam semua aspek kehidupan, baik di kampus maupun di masyarakat. Apalagi, setelah menyandang gelar sarjana, tuntutan itu menjadi makin kuat. Oleh karena itu, mahasiswa (calon sarjana) wajib berusaha keras agar secara bertahap tuntutan itu dapat dipenuhinya. Selain mampu menulis beragam karya ilmiah dan mempresentasikannya dengan baik, mahasiswa juga dituntut mampu berpidato (apabila diperlukan). Seseorang sering merasa gagap jika diminta secara mendadak untuk menyampaikan suatu pidato. Hal ini mengindikasikan bahwa berpidato membutuhkan kesiapan mental dan teknik berpidato yang memadai. Untuk itu, pengembangan kemampuan berpidato perlu dilakukan agar mahasiswa dapat menunjukkan kualitasnya seagai insan terpelajar.

2. Pengertian dan Tujuan Berpidato
Berpidato merupakan salah satu wujud kegiatan berbahasa lisan. Oleh karena itu, berpidato mementingkan ekspresi gagasan dan penalaran dengan menggunakan bahasa lisan yang didukung oleh aspek-aspek nonkebahasaan (ekspresi wajah, kontak pandang, gerak tangan, dll.). Dengan demikian, berpidato adalah kegiatan menyampaikan gagasan secara lisan dengan menggunakan penalaran yang tepat serta memanfaatkan aspek-aspek non-kebahasaan yang dapat mendukung efisiensi dan efektivitas pengungkapan gagasan kepada orang banyak dalam suatu acara tertentu. Sementara itu, ada tiga tujuan penyajian suatu pidato, yaitu (1) menyampaikan informasi (informatif), (2) meyakinkan dan mempengaruhi sikap pendengar (persuasif), dan (3) menghibur pendengar (rekreatif).

3. Kriteria Pidato yang Baik
Setiap orang yang berpidato pasti berusaha dan berharap agar pidato yang disampaikan dinilai oleh pendengarnya sebagai pidato yang baik. Pidato yang baik ditandai oleh kriteria (1) isinya sesuai dengan kegiatan yang sedang berlangsung, (2) isinya menggugah dan memiliki manfaat bagi pendengar, (3) isinya tidak menimbulkan pertentangan SARA, (4) isinya jelas, benar, objektif, (5) bahasa yang digunakan mudah dipahami, dan (6) disampaikan secara santun, rendah hati, dan bersahabat.

4. Metode Berpidato
Ada empat jenis metode berpidato, yakni (1) serta-merta (impromptu): tidak direncanakan, untuk keperluan atau kebutuhan sesaat, (2) hafalan: direncanakan, teks pidato dipersiapkan sebelumnya, kemudian dihafal kata demi kata, (3) berdasarkan naskah: dipersiapkan, biasanya digunakan pada pertemuan resmi atau dalam media elektronik dan media cetak, dan (4) tanpa naskah (ekstemporan): direncanakan, sebelumnya telah dipersiapkan kerangka pidato.

5. Tata Cara dan Etika Berpidato
Tata cara berpidato merujuk pada langkah-langkah dan urutan untuk memulai, mengembangkan, dan mengakhiri pidato. Sementara itu, etika berpidato merujuk pada nilai-nilai kepatutan yang perlu diperhatikan dan dijunjung tinggi ketika seseorang berpidato. Langkah-langkah dan urutan berpidato secara umum diawali dengan pembukaan, sajian isi, dan penutup. Pembukaan biasanya berisi sapaan kepada pihak-pihak yang diundang atau yang hadir dalam suatu acara. Selain itu, dalam pembukaan juga diucapkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dan karunia-Nya. Selanjutnya, sajian isi merupakan hasil penjabaran gagasan pokok yang akan disampaikan dalam pidato. Sebagai hasil penjabaran gagasan pokok, sajian isi perlu dirinci sesuai dengan waktu yang disediakan. Adapun penutup pidato berisi penegasan kembali gagasan pokok yang telah dipaparkan dan sajian isi. Selain itu, penutup juga berisi harapan dan ucapan terima kasih atas partisipasi semua pihak dalam acara yang sedang berlangsung.
Etika berpidato akan menjadi pegangan bagi siapa saja yang akan berpidato. Nilai-nilai apa saja yang patut diperhatikan ketika berpidato? Ketika berpidato, janganlah menyinggung perasaan orang lain. Sebaliknya, berupaya menghargai dan membangun optimisme bagi pendengarnya. Selain itu, keterbukaan, kejujuran, empati, dan persahabatan perlu diusahakan dalam berpidato.

5. Menulis Naskah Pidato
Menulis naskah pidato perlu dilakukan apabila kegiatan pidato yang akan dilakukan memang telah dipersiapkan sebelumnya. Akan tetapi, jika kegiatan pidato itu dilakukan secara spontan, tentu kita tidak perlu menulis naskah pidato.
Menulis naskah pidato pada hakikatnya adalah menuangkan gagasan ke dalam bentuk bahasa tulis yang siap dilisankan lewat kegiatan berpidato. Pilihan kosa kata, kalimat, dan paragraf dalam menulis naskah pidato sesungguhnya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan menulis untuk menghasilkan naskah yang lain. Situasi resmi atau kurang resmi akan menentukan pilihan kosa kata dalam menulis naskah pidato. Dengan demikian, meskipun sebagai bahasa tulis, naskah pidato itu merupakan bahasa tulis yang akan dilisankan sehingga konteks kelisanan perlu diperhatikan.

6. Menyunting Naskah Pidato
Seperti halnya naskah makalah atau artikel, naskah pidato pun perlu disunting, baik isi, bahasa, maupun penalarannya. Isi naskah pidato perlu dicermati kembali: apakah naskah itu telah sesuai dengan tujuan pidato, calon pendengar, dan kegiatan yang digelar? Selain itu, isinya juga harus dipastikan: apakah benar, representatif, dan mengandung informasi yang relevan dengan konteks pidato? Sementara itu, penyuntingan terhadap bahasa diarahkan pada pilihan kosa kata, kalimat, dan paragraf. Ketepatan pilihan kosa kata, kalimat, dan satuan-satuan gagasan dalam paragraf menjadi perhatian utama dalam kegiatan penyuntingan ini. Penalaran dalam naskah pidato juga perlu disunting untuk memastikan apakah isi dalam naskah pidato telah dikembangkan dengan menggunakan penalaran yang tepat, misalnya dengan pola induktif, deduktif, atau campuran.

7. Menyempurnakan Naskah Pidato Berdasarkan Suntingan
Menyempurnakan naskah pidato setelah disunting, baik oleh penulis sendiri maupun oleh orang lain, perlu dilakukan. Penyempurnaan itu diarahkan kepada aspek isi, bahasa, dan penalarannya sebagaimana yang telah disunting di atas. Penyempurnaan aspek bahasa dilakukan dengan mengganti kosakata yang lebih tepat dan menyempurnakan kalimat dengan memperbaiki struktur dan gagasannya. Sementara itu, penyempurnaan paragraf dilakukan dengan memperbaiki koherensi dan kohesi paragraf. Untuk itu, penambahan kaliamt, penyempurnaan kalimat, dan penghilangan kalimat perlu dilakukan.

8. Menyampaikan Pidato
Menyampaikan pidato berarti melisankan naskah pidato yang telah disiapkan. Akan tetapi, menyampaikan pidato bukan sekadar membacakan naskah pidato di depan hadirin, melainkan juga perlu menghidupkan dan menghangatkan suasana dan menciptakan interaksi yang hangat dengan audiens. Untuk itu, seseorang yang akan menyampaikan pidato harus mampu menganalisis situasi dan memanfaatkan hasil analisisnya itu untuk menghidupkan suasana dalam pidato yang akan dilakukan. Apabila pidato yang disampaikan bukan atas nama orang lain (bukan membacakan naskah pidato atasan atau orang lain), kita masih dapat melakukan penambahan-penambahan sepanjang waktu yang disediakan memadai. Yang terpenting, penambahan itu memperkaya isi pidato, dapat menghangatkan suasana, dan dapat memperjelas isi dalam naskah pidato.
Pada umumnya dalam menyajikan pidato, ada enam langkah yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpidato, yaitu (1) menentukan maksud pidato, (2) menjajaki situasi dan latar belakang pendengar, (3) memilih topik (jika diperlukan), (4) mengumpulkan bahan atau materi pidato, (5) menyusun dan mengembangkan kerangka pidato, dan (6) melatih diri secara oral sebelum menyajikan pidato.
Keberhasilan sebuah pidato banyak bergantung pada penguasaan tempo, dinamik, dan warna suara. Tempo dapat diartikan cepat lambatnya pengucapan. Dalam arti arti, tidak berbicara terlalu cepat atau sebaliknya. Dinamik berkaitan dengan keras lembutnya suara. Artinya, suara tidak datar dan perlu diupayakan ada penekanan terhadap suatu kata atau kalimat tertentu. Warna suara adalah kaitan antara kata yang diucapkan dengan suasana, misalnya suasana gembira, sendu, sedih, atau khidmat, sesuai dengan tujuan mata acara yang ditetapkan. Jangan sampai terjadi suasana khidmat menggunakan warna suara dengan suasana gembira atau sebaliknya.
Selain kalimat yang digunakan sesuai dengan kaidah yang berlaku, vokal dan konsonan untuk setiap kata hendaklah diucapkan secara tepat dan wajar serta dapat didengar dengan jelas oleh khalayak sasaran. Dalam hal ini, perlu dihindari agar kata tidak sampai terlesap (hilang), ditambah, atau diubah satu huruf (vokal atau konsonan). Berikut beberapa contoh yang perlu diperhatikan pengucapannya.
ucapkan [ucapken] 
positif [positip]
generasi [jenerasi]
instansi [intansi]
frustrasi jangan diucapkan [frustasi]
negosiasi [negoisasi]
balans [balan]
konteks [kontek]
Indonesia [Indonesa]

(http://boeditama.blogspot.com/)

(http://ridwanaz.com/akademik/persiapan-sebelum-berpidato/)

BERPIDATO YANG BAIK Dan BENAR

Dalam perkembangan jaman saat ini, pasti anda sudah sering kali berbicara atau membawakan pidato anda di depan orang banyak. Apakah berdiri didepan orang banyak masih membuat telapak tangan anda berkeringat, jantung anda berdetak kencang dan suara anda tiba hilang? Atau sebaliknya, anda sudah berulang kali melakukannya sehingga membuat anda merasa nyaman menjadi seorang pembicara?

Yang menjadi permasalahan bukan menjelaskan pandangan dan gagasan kita kepada orang banyak. Tetapi yang membuat anda ngeri adalah kemungkinan ada tanggapan negatif tentang apa yang kita katakan dan sampaikan. Sebenarnya mempunyai demam panggung merupakan hal yang positif, asalkan kita tahu sebabnya dan bagaimana mengontrolnya. Demam panggung dapat memotivasi kita untuk menyiapkan pidato kita lebih baik lagi. Persiapan juga termasuk siapa yang akan mendengarnya. Pada saat anda berbiara di depan umum apakah anda mempertimbangkan pendengarnya? Pada saat anda diberikan kesempatan untuk berbicara, pertanyaan pertama yang harus ditanyakan? Siapa pendengarnya? Apa yang ingin mereka dengarkan, atau ingin tahu dan yang paling penting yang mereka tidak mau tahu. Judul, kata-kata yang digunakan dan alat bantu visual, semua hal tersebut harus disesuaikan dengan para pendengarnya. Kita ingin para hadirin tertarik dari judul dan pembukaan pidato kita. Untuk segera mendapat perhatian dari para hadirin, buatlah kejutan diawal pidato anda. Carilah cerita yang menarik, anekdot atau kutipan yang mendukung topik anda dan menggugah rasa ingin tahu para hadirin. Jangan pernah membuka pidato anda dengan permintaan maaf Maaf saya tidak mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan. Baru tadi pagi saya diminta untuk berbicara. Saya lupa membawa materi. Bila anda benar-benar tidak tahu apa yang akan dibicarakan maka leih baik tidak mencobanya sama sekali, tunda untuk lain hari saja. Jika anda menerima tantangan untuk berbicara, lakukan dengan penuh percaya diri, mulailah dengan pembukaan yang kuat dan para hadirin akan menghargai dan memperhatikan anda. Mereka akan terus memperhatikan anda dan ingin anda berhasil membawakan pidato tersebut. Anda sebagai orang yang memberi pidato adalah perhatian utamanya. Slalu menjaga kontak mata dengan para hadirin.

Akhiri pidato anda tepat waktu dan dengan kesan yang baik dan kuat. Para hadirin akan mengingat kata terakhir yang anda sampaikan. Gunakan kesemoatan ini untuk mengulang poin-poin penting yang harus diingat oleh para hadirin. Katakan langkah yang harus diambil untuk mencapai kesuksesan. Sebuah cerita, anekdot atau kembali ke awal pidato, ini semua merupakan penutup yang bagus. Pastikan anda menghafalkan bagian pembuka dan penutup untuk memberikan kesan yang kuat dan memudahkan anda sebagai pembicara

Untuk memperbaiki keahlian berpidato anda, kenali cara anda berpidato. Setiap orang mempunyai gaya yang berbeda. Dan mengikuti cara orang lain kadang tidak sesuai dengan gaya kita. Cara terbaik untuk memperbaiki diri adalah meminta seseorang untuk mengevaluasi anda dan memberitahukan ketrampilan yang sudah anda miliki (misalnya: suara yang jelas dan lantang, bahasa tubuh tidak kaku). Dengan begitu anda akan semakin percaya diri dan pidato anda akan lebih mudah untuk dibawakan. Secara perlaha eahlian berbicara anda akan semakin membaik. Hal yang paling penting adalah berlatih, persiapan yang matang dan terus berlatih.

(http://andra-ulatbulu.blogspot.com/2009/12/berpidato-yang-baik-dan-benar.html)

Teknik Penyajian Berpidato yang Baik
Dalam menyampaikan materi pidato diperlukan strategi penyampaian yang
baik, hal ini di maksud agar  menarik simpati pendengar. OLeh karena itu,
di bawah ini adalah beberapa Teknik penyampaian pidato yang baik .
1) Menggunakan bahasa yang mudah dipahami pendengar.
2) Menggunakan contoh dan ilustrasi yang mempermudah pendengar dalam
     memahami konsep yang abstrak apabila diperlukan.
3) Memberi penekanan dengan cara mengadakan variasi dalam gaya penyajian.
4) Mengorganisasikan materi sajian dengan urut dari hal mudah ke hal yang
      sulit dan lengkap.
5) Menghindari penggunaan kata-kata yang meragukan dan berlebih-lebihan.

6) Program atau materi disajikan dengan urutan yang jelas.
7) Berikan ikhtisar butir-butir yang penting, baik selama sajian maupun pada
     akhir sajian.
 Gunakan variasi suara dalam memberikan penekanan pada hal-hal yang
      penting.
9) Kejelasan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat agar pendengar tidak
      bosan atau terkesan monoton.
10) Membuat dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman
        pendengar,  minat pendengar, atau sikap pendengar, jika diperlukan.
11) Menggunakan nada suara, volume suara, kecepatan bicara secara bervariasi.
12) Menggunakan bahasa tubuh yang mendukung komunikasi Anda dengan
        pendengar.

(http://winaraku.wordpress.com/2009/04/17/teknik-penyajian-berpidato-yang-baik/)

TEKNIK BERBICARA DAN BERSIKAP DI DEPAN PUBLIK (http://www.angelinasondakh.com/nsroom/artikel/teknik-berbicara.pdf)

Oleh : Angelina Sondakh, SE

PENDAHULUAN

Bicara dan mengungkapkan pikiran pada orang adalah karunia terbesar yang diberikan

Tuhan pada manusia. Hanya manusia yang mampu berkomunikasi secara jelas tentang

apa saja yang ingin disampaikan pada orang lain. Itu yang membuat manusia menjadi

ciptaan yang memiliki kelebihan dibanding ciptaan Tuhan lainnya. Kambing misalnya bisa

mengembik dan harimau mengaung. Namun tetap mereka makhluk hidup yang tidak bisa

membangun peradabannya seperti hidupnya manusia. Kelebihan itupula yang membuat

manusia bisa menjalin komunikasi dalam rentang zaman yang panjang sampai sekarang.

Dalam literatur yang ada, tekhnik berbicara sudah dipelajari sejak zaman Yunani dan

Romawi kuno.

Di zaman-zaman itu, tekhnik berbicara menjadi alat yang penting yang harus dipelajari

orang. Dalam literatur yang ada, ilmu itu dikenal dengan ilmu retorika. Ilmu ini sama

tuanya dengan kelahiran manusia dimuka bumi. Pada masa itu retorika dipakai sebagai

salah satu alat elit kerajaan mempertahankan kekuasaannya dari musuh-musuh yang ada.

Artinya selain perang, kerajaan juga membentengi kepentingannya dengan membayar

ahli-ahli retorika dalam menghadapi ancaman musuh. Musuh yang kerap

mempersengketakan tanah pada kerajaan yang ada. Dan biasanya diselesaikan dalam

ruang debat yang dihadiri oleh massa yang begitu banyak. Persis seperti arena

pertandingan tinju. Yang paling unggul dan menang adalah pihak yang terampil dalam

ilmu retorika. Itu artinya yang memenangkan perkara tidak pada salah benarnya suatu

kasus. Namun yang menang yaitu pihak yang paling cerdas bersilat lidah. Itu karena saat

itu orang belum kenal dunia pengacara seperti zaman kita sekarang.

Pada perang dunia kedua, sang orator ulung yang berpangkat kopral naik menjadi kaisar

Jerman karena kepiawaiannya dalam berbicara. Kopral itu bernama Hitler. Kata-katanya

bahwa ; setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan

oleh jago-jago tulisan. Atau dalam bahasa Jerman Jede grosse Bewegung auf dieser

Erde verdankt ihr Wachsen den grosseren Rednern und nicht den grossen Screibern. Dan

masih dalam bicara, ditemukan 75% aktifitas yang dihabiskan manusia sehari-hari yaitu

aktifitas komunikasi. Dale Carnegie punya penilain tersendiri pada aktifitas komunikasi ini. Menurutnya, seseorang yang terpelajar dan kurang ajar sangat bisa di nilai dari

bicaranya.

Bicara lagi-lagi memiliki peran penting yang harus dipelajari. Bicara tidak saja

menunjukan identitas bangsa seseorang. Namun bicara juga sangat penting mengukur

karakter seseorang. Sebaiknya orang mencocokan tutur bahasanya dengan pantas, baru ia

mau mencocokan pantas tidaknya pakaian yang ia kenakan. Bicara memang adalah bakat

bawaan setiap orang. Namun ketrampilan bicara dengan baik dan benar membutuhkan

latihan tersendiri.

LATIHAN BICARA

Masih di zaman SM (Yunani dan Romawi), menjadi orator ulung butuh kerja keras yang

tidak mudah. Mereka harus menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan ilmu

retorika dari guru-guru terkenal. Dan karena itu mempelajari ilmu itu hanya bisa

diperoleh oleh orang-orang tertentu. Atau hanya kasta tinggi atau elit-elit kerajaan yang

bisa memperoleh ilmu retorika secara berkualitas. Aristoteles yang dikenal filosof salah

satu yang tidak tuntas mempelajari ilmu retorika akibat beratnya biaya yang harus

dibayar pada guru-guru ilmu retorika yang ada pada zaman itu. Di zaman itu juga banyak

dari para orator ulung yang harus belajar berpuluh-puluh tahun di gua yang dibuat demi

mendalami ilmu retorika secara dalam. Mereka terpaksa mengisolasi diri demi

paripurnanya ilmu itu saat turun dari gua nanti. Mereka belajar berolah vokal mulai dari

intonasi suara hingga gerak-gerik dan mimik wajah di selaraskan dengan suara yang ada.

Itu dilakukan secara terus-menerus hingga memakan waktu berpuluh-puluh tahun di gua.

Hasil yang diperoleh selama upaya itu sangat luar biasa. Mereka turun dari gua dengan

menguasai kota-kota dan kerajaan dengan keahlian retorika secara mengagumkan.

Di era modern banyak sekali tokoh-tokoh yang karirnya cemerlang karena kemampuannya

menyampaikan pemikirannya secara mengesankan pada publik. Salah satu sample

kesuksesan itu adalah presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang mampu meredam

emosi kaum kulit hitam pada saat ia menyampaikan pidatonya dalam suasana duka kaum

kulit hitam terhadap matinya tokoh kulit hitam Marthen Luther King karena dibunuh oleh

kaum kulit putih. Massa kaum kulit hitam yang sedang antipati menjadi reda saat

mendengar pidato Kennedy. Kennedy mampu meredakan emosi kaum kulit hitam karena

kebencian mereka pada tindakan kaum kulit putih itu. Presiden AS itu mengucapkan

belasungkawa dan apresiasi pada perjuangan kemanusiaan Marthen Luther King sebagai pahlawan kemanusiaan. Dia berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Marthen

Luther King adalah sebuah upaya untuk mengajarkan tentang betapa pentingnya

menghargai kemanusiaan ditengah-tengah heterogenitas bangsa Amerika untuk melawan

diskriminasi rasial yang ada pada zaman itu.

Pidato John F . Kennedy itu tercatat sebagai orator ulung karena ia sendiri berkulit

putih. Dan kerumunan yang penuh emosi dan kebencian para kaum kulit hitam itu segera

berubah memuja Kennedy. Massa pun pulang dan bubar secara baik-baik setelah

mendengar pidato presiden Kennedy yang menyentuh nurani mereka semua. Itu contoh

dari kesuksesan seorang orator atau pembicara yang mampu membaca emosi dan

perasaan audiensnya.

Kembali pada kefasihan bicara yang mutlak dimiliki para pemimpin. Belajar untuk bisa

menyampaikan gagasan kita pada orang tak perlu lagi seperti pada masa lampau. Jika

pada masa Aristoteles belajar retorika begitu susah. Dimana kita harus tidur di gua yang

dikelilingi oleh binatang buas seperti ular dan harus digigit nyamuk yang sangat

berbahaya. Dan juga hanya bisa dipelajari oleh orang-orang berpunya dan berkasta

kebangsaan. Maka ilmu itu kini dapat dipelajari oleh siapa saja. Dan kita tidak perlu

harus menginap di gua. Namun kita cukup punya kemauan dan mau belajar ilmu ini

dengan benar dan sungguh-sungguh saja. Dan ilmu ini tidak lagi menjadi milik

sekelompok orang saja. Atau milik penguasa atau politisi. Namun para entrepreneur juga

membutuhkan ilmu ini dalam mempengaruhi orang lain. Jadi ilmu ini tidak saja sebagai

alat mempengaruhi rakyat bagi para politisi dan pemerintah . Namun juga beguna bagi

para pelaku bisnis dalam memasarkan produknya pada konsumen.

Singkatnya, para orator, pembicara hebat yang pernah kita kenal pasti pernah belajar

ilmu ini. Dan dari mereka itu banyak cara yang dipakai dalam membantu kefasihan

mereka berkomunikasi, baik sebagai pribadi dengan pribadi maupun dengan audiens atau

massa. Salah satu cara yaitu berlatih di depan cermin atau ruangan yang tidak

mengganggu orang lain secara terus menerus. Hollingsworth di dalam bukunya yang

berjudul The Psychology of the Audience punya kiat dalam mempengaruhi audiens

tertarik pada apa yang kita sampaikan. Perhatian harus dipertahankan dengan

membangkitkan minat khalayak. Dianjurkan untuk menyisipkan cerita lucu, penggunaan

bahasa yang baik dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan tambahan perhatian.

KIAT MENGATASI KEPANIKAN KOMUNIKASI

Tidak jarang sikap gugup atau demam panggung dialami seseorang dalam presentasi atau

ceramah yang ia sampaikan. Mereka yang mengalami masalah itu datang dari siapa saja.

Tidak saja pada orang-orang biasa. Namun pada mereka yang terbiasa berbicara atau

berpidato pun bisa mengalami demam panggung. Penyakit itu dikenal dengan nama

penyakit kepanikan komunikasi (KK). Dalam teori mereka mungkin bisa berbicara lancar

pada waktu biasa. Atau tidak gugup bicara di depan teman-teman sendiri. Namun pada

saat bicara di depan khalayak banyak penyakit demam panggung ini baru muncul. Contoh

KK dalam membacakan ayat suci seorang calon menantu di depan mertuanya. Sang

menantu tak bisa membaca ayat pendek karena gugup. Itu karena ia tahu calon

mertuanya ingin mengetahui kesalehan calon mantunya. Stress itulah yang juga dialami

oleh para musisi yang ingin show dan atlet sebelum bertanding. Kecemasan

berkomunikasi itu ada beberapa macam. Dan dalam diagnosis ilmu kecemasan komunikasi

dikenal dengan beberapa istilah. Yang pertama stage fright (demam panggung). Kedua,

speech anxiety (kecemasan bicara). Ketiga, performance strees atau yang lebih umum

strees kerja. Dan gejala-gejala ini yang dirasakan orang-orang itu. Berikut untuk

mengetahui gejala-gejala itu sebagaimana disebutkan dibawah ini;

1. Detak jantung yang cepat

2. telapak tangan atau punggung berkeringat

3. napas terengah-engah

4. mulut kering dan sukar menelan

5. ketegangan otot dada, tangan dan kaki

6. tangan atau kaki bergetar

7. suara bergetar dan parau

8. berbicara cepat dan tidak jelas

9. tidak sanggup mendengar atau konsentrasi

10. lupa atau ingatan hilang.

Gejala- gejala yang bisa merusak presentasi dan ceramah kita itu harus bisa dihilangkan.

Dalam banyak kasus kegagalan seorang pembicara yang tidak mendapat respon audiens

dikarenakan penyakit itu. Dan dalam menghilangkannya pun tidak semudah membalik kan

telapak tangan. Ada yang mengatakan belajar presentasi dengan baik sama dengan orang belajar menyetir mobil. Saat dilepas oleh gurunya mobil bisa dijalankan sesuai petunjuk

setelah ia belajar. Namun dalam kasus orang bawa mobil pasti ditemui rem tiba-tiba

secara mendadak. Dan sudah pasti bagi yang baru bisa bawa mobil pasti akan lebih parah

daripada mereka yang sudah lancar 100%.

Dalam konteks menghilangkan penyakit itu dibutuhkan cara dan tekhnik yang tepat

dengan memperkaya wawasan dan keilmuan serta latihan ilmu retorika secara intensif.

Rudolp E Busby dan Randall E. Majors dalam Basic Speech Communications memberikan

beberapa resep untuk mengatasi ketegangan pada saat kita mengalami demam panggung

yang sama sebelum berbicara di depan umum. Mengatasi detak jantung yang cepat

dengan tekhnik relaksasi dalam mengendurkan otot-otot Anda. Tangan dan kaki yang

bergetar harus disiasati dengan menggoyang-goyangnya secara perlahan-lahan. Beberapa

tips ini juga bisa ditambah dengan memancing respon audiens terlebih dahulu dengan

sapaan atau dengan bahasa pembuka yang ringan. Jangan lupa tanamkan keberanian dan

senyumlah pada audiens dan tarik napas panjang-panjang sebelum berbicara. Dan harus

segera secara cepat memancing para hadirin sebelum berbicara.

PENUTUP

Bicara yang tepat dan benar serta diterima audiens harus dimiliki oleh setiap orang yang

ingin presentasinya bisa diterima publik. Seorang pembicara harus tahu bagaimana

mengetahui kemauan audiens. Emosi dan karakter audiens juga penting diketahui

terlebih awal sebelum pembicara itu memulai menjelaskan pemikirannya pada audiens

yang dihadapi. Yang juga tak kalah penting gagasan pembicara. Gagasan pembicara

sangat mencerminkan kredibilitas yang disandangnya. Sebaiknya hindari gagasan gagasan

atau pemikiran diluar kompetensi kita. Seorang dokter tak pas bicara ilmu diluar

kompetensinya pada audiens. Konstruksi berpikir audiens tentang seorang dokter tak bisa

dimanipulasi. Dan dokter ini kemungkinan akan gagal menarik simpati para audiens untuk

mendengar pidato atau ceramah sang dokter tersebut. Atau audiens akan ngantuk dan

malas mendengarnya.****

Agustus 21, 2009 pada 6:00 pm (Uncategorized) 

(Diambil dan diolah dari sumber dalam jaringan)

Pidato adalah penyampaian gagasan, pikiran atau informasi serta tujuan dari pembicara kepada orang lain(audience) dengan cara lisan. Pidato juga bisa diartikan sebagai the art of persuasion, yaitu sebagai seni membujuk/mempengaruhi. Berpidato ada hubungannya dengan retorika(rhetorica), yaitu seni menggunakan bahasa dengan efektif. Berpidato bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana karena dalam berpidato menyangkut beberapa unsur penting seperti: pembicara, pendengar, tujuan dan isi pidato, persiapan, terknik dan etika dalam berpidato.

Di antara tujuan dari pidato, yaitu: (a)informatif, bertujuan memberikan laporan/ pengetahuan atau sesuatu yang menarik untuk pendengar; (b)persuasif and instruktif, berisi tentang usaha untuk mendorong, meyakinkan dan mengajak audience untuk melakukan sesuatu hal; (c)edukatif, berupaya menekankan pada aspek-aspek pendidikan, misalnya tentang pentingnya hidup sehat, ber KB, hidup rukun antarumat bergama dan lain-lain; (d)entertain, bertujuan memberikan penyegaran kepada audience yang sifatnya lebih santai.

Ada empat teknik berpidato yang umum, yaitu:(a)Metode Naskah, yaitu pidato yang digunakan untuk pidato resmi dan dibacakan secara langsung. Cara demikian dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan, karena setiap kata yang diucapkan dalam situasi resmi, akan disebarluaskan dan dijadikan figur oleh masyarakat dan dikutuip oleh media massa; (b)Metode Menghafal, yaitu naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya bukan untuk dibaca, melainkan untuk dihafal; (c) Metode Spontanitas, yaitu metode pidato yang tidak dilakukan persiapan/pembuatan naskah tertulis terlebih dahulu. Biasanya dilakukan hanya oleh orang-orang yang akan tampil secara mendadak; (d) Metode Penjabaran Kerangka. Teknik berpidato dengan menjabarkan materi pidato yang terpola secara lengkap adalah teknik yang sangat dianjurkan dalam berpidato. Maksud dari terpola yaitu materi yang akan disampaikan harus disiapkan garis-grais besar isinya dengan menuliskan hal-hal yang dianggap paling penting untuk disampaikan.

Biasanya materi pidato, baik yang menggunakan naskah maupun tanpa naskah memiliki empat bagian, yaitu (a)Pendahuluan, yang berfungsi untuk mengantar ke arah pokok persoalan yang akan dibahas dan sebagai upaya menyiapkan mental audience. Pada bagian ini yang terpenting kita berusaha membangkitkan dan mengarahkan perhatian audience pada pokok permasalahan yang akan dibicarakan; (b)Isi.

Pada bagian ini pokok pembahasan ditampilkan dengan terlebih dahulu mengemukakan latar belakang permasalahannya. Pokok pembicaraan dikemukakan sedemikian rupa sehingga tampak jelas kaitannya dengan kepentingan para audience. (c) Pembahasan. Bagian ini merupakan kesatuan, yang berisi alasan-alasan yang mendukung hal-hal yang dikemukakan pada bagian isi. Pada bagian isi ini biasanya berisi berbagai hal tentang penjelasan, alasan-alasan, bukti-bukti yang mendukung, ilustrasi, angka-angka dan perbandingan, kontras-kontras, bagan-bagan, model, dan humor yang relevan;(d)Kesimpulan. Ini adalah bagian akhir dari sebuah pidato, yang merupakan kesimpulan dari keseluruhan uraian sebelumnya.

Ada beberapa persiapan yang harus dilakukan sebelum berpidato antara lain: (a)Menentukan Tujuan Pidato; (b) Memilih Pokok Persoalan; (c)Mengetahui dan Menganalisa audience dan suasananya; (d)Mengumpulkan materi pidato; (e)Menyusun Kerangka Materi Pidato;(f)Melakukan Latihan Pidato; (g)Menghilangkan Perasaan Demam Panggung yaitu dengan cara: memfokuskan pikiran pada diri sendiri, percaya diri(PD), menganggap audience tidak tahu tentang apa yang kita bicarakan, memperdalam materi dengan baik, mempersiapkan konsep pidato beberapa hari sebelumnya, membaca berulang-ulang materi pidato, mempersiapkan diri beberapa jam sebelum tampil dan jangan tergesa-gesa, serta istirahat yang cukup. Terakhir sudah tentu adalah dengan berdoa.

Saat berpidat kita perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1)Pembukaan. Pembukaan pidato merupakan bagian penting dan meainkan peranan bagi pembicara, karena bagian ini dapat memeberikan kesan pertama bagi para audience.. Ada beberapa cara yang dapat digunakan seorang pembicara untuk membuka pidatonya: (a)dengan memperkenalkan diri; atau (b) Membuka pidato dengan humor; atau (d) membuka pidato dengan pendahuluan secara umum. (2)Inti Pidato. Setelah selesai melakukan pembukaan dengan salah satu cara di atas, maka langsung dilanjutkan dengan menyajikan pokok permasalahannya. (3) Penutup Pidato bisa dilakukan dengan: (a)Membuat rangkuman atau simpulan; atau(b)menyatakan kembali prinsip-prinsip yang terkandung dalam pidato; atau (c)menceritakan cerita singkat yang menarik; atau (d)mengutip kata-kata mutiara, ungkapan, atau beberapa bait pantun; atau (e)mengajak atau menghimbau dan mengemukakan sebuah pujian buat para pendengar.

Di sisi lain penampilan dala berpidato perla bersikap etis dan sopan. Etika berpidato bisa memperhatikan hal-hal berikut: 1) Etika berpidato di depan umum meliputi:(a)Mengenakan pakaian yang sesuai dengan suasana pertemuan, rapi, bersih dan sopan; (b)Tampil dengan bersahaja, sopan dan rendah hati; (c)Menyisipkan beberapa humor segar dalam pidato; (d)Gunakan kata-kata yang sopan, halus, dan sederhana;(e)Sebagai kata penutup jangan lupa mengucapkan maaf bila terdapat tutur kata yang kurang berkenan dan lain-lain; 2) Etika berpidato di depan pejabat: (a)Menghilangkan rasa rendah diri; (b)Jangan tampil seolah-olah menggurui, sikap lebih tahu dan lain-lain; (c)Jangan terlalu memberikan penghormatan yang berlebihan pada audience; dan 3) Berpidato di depan Pemuka Agama:(a)Jangan mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggung umat beragama; (b)Jangan ada nada merendahkan atau memuji agama tertentu;(c) Perbanyak istilah-istilah keagamaan. Sedangkan yang lain 4) Etika Berpidato di depan para wanita. Bila pembicara seorang laki-laki, hati-hati jangan sampai menyinggung harkat dan martabat wanita; menggunakan istilah-istilah yang tepat seperti ibu-ibu atau saudari sekalian; hindari kata-kata kasar, kurang senonoh dan kurang sopan; 5) Etika Berpidato di depan Pemuda/Mahasiswa. Pidato harus mengutamakan penalaran yang berikaitan dengan dunia anak-anak muda; Jangan mengeluarkan kata-kata yang bersifat menentang; Jangan mengkritik dan menyalahkan anak-anak muda; dan 6) Etika Berpidato di depan masyarakat Desa. Jangan berbohong; Gunakan kata-kata yang sopan dan sederhana, kapan perlu sisipkan beberapa istilah dalam bahasa stempat.
Beberapa hal penting berkaitan dengan berpidato.

Yang perlu mendapat perhatian adalah:(a)Posisi Berbicara. Seorang pembicara harus sedapat mungkin dilihat oleh semua audience. Kalau boleh tidak duduk, usahakan untuk berdiri, agar semua audience dapat menatap wajah dan penampilan pembicara; (b)Mengatur Suara Dalam Berpidato. Usahakan mengeluarkan suara dengan jelas, tegas, dan nyaring dan sesuaikan dengan ruang pertemuan, apakah ruang kecil atau ruang aula yang luas dan besar; (c)Volume, Intonasi dan Pelafalan. Pada saat berpidato, usaha mengatur: volume suara, intonasi, dan pelafalan; (d)Sisipkan humor yang sopan, segar dan relevan; (e)Gerak Tubuh, seperti tangan, telapak tangan, jari, kepala, raut muka, dan lain-lain juga mendukung daya tarik dalam berpidato, namun jangan terlalu berlebihan, dan harus sesuai dengan apa yang sedang dibacarakan; (f)Penggunaan mikropon. Bila ada mikropon, gunakanlah dengan sebaik-baiknya, dan jangan menempel di mulut, namun agak jauh dari mulut pada saat berbicara agar suaranya bagus; dan (g)Bila ada slide( berupa OHP dan LCD), alat peraga, papan tulis, sangat efektif untuk menunjang kegiatan saat berpidato.

Pada saat kita membaca sebuah buku atau mendengar ceramah tentang teknik berpidato, tampaknya sangat sederhana. Akan tetapi pada saat kita ingin mempraktekkannya, kita akan menemui berbagai kendala. Diantaranya kurang menguasai materi, kurang menguasai massa, tidak terbiasa berdiri di depan orang banyak, bagaimana mengatur sistematika pembicaraan, mengatur suara, dan lain-lain. Semua syarat ini akan membuat suasana menjadi rumit. Yang paling penting kita belajar dari sausana yang sederhana dan kecil. Setiap ada orang berpidato, baik sebagai pemakalah maupun menyampaikan kata sambutan, sebaiknya kita perhatikan dan mencoba menilai kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya kita ambil sebagai contoh, sedangkan kelemahannya kita abaikan

(http://keterampilanbicara.wordpress.com/)

Pidato

1. Definisi Pidato


Pidato adalah berbicara di hadapan orang banyak dengan maksud dan tujuan yang bermacam-macam. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.

Dalam membacakan sebuah teks pidato sebaiknya:

1) Seorang pembaca pidato harus membaca dengan nyaring atau membaca bersuara ( reading aloud ).

2) Seorang pembaca hendaknya memerhatikan kejelasan ucapan, penekanan pada kata-kata kunci, ketepatan pemenggalan frasa dan dapat menyampaikan dengan berani dan percaya diri sehingga pembacaan tidak terbata-bata.

Hal penting yang harus di perhatikan dalam berpidato:

1) Bersikap sopan-santun, baik dalam kata-kata maupun dalam cara berdandan dan harus terkendali.

 Dalam kata-kata, maksudnya kata-kata harus dijaga jangan sampai menyinggung perasaan orang yang mendengar.

 Dalam cara berdandan, maksudnya agar berpakaian bersih dan rapih, sesuai dengan orang banyak yang sedang dihadapi.

 Harus terkendali, maksudnya jangan sampai hanyut terbawa oleh emosi.

2. Tujuan atau maksud berpidato

Tujauan atau maksud berpidato bermacam-macam:

a. Ada yang bertujuan menjelaskan sesuatu masalah kepada masyarakat umum.

b. Ada yang bertujuan menerangkan suatu persoalan atau memberi pencerahan.

c. Ada yang bertujuan memberikan saran atau nasehat-nasehat.

d. Ada yang bertujuan memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.

3. Jenis-Jenis / Macam-Macam / Sifat-Sifat Pidato

Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :

1. Pidato Pembukaan adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc.

2. Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.

3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.

4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.

5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.

6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.

4. Metode Pidato

Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidatu di depan umum :

1. Metode menghapal, yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghapalkannya kata per kata.

2. Metode serta merta, yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan teknik serta merta.

3. Metode poin-poin, yakni metode berpidato dengan menuliskan garis besar atau hal-hal penting yang ingin disampaikan

4. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi.

5. Persiapan Pidato

Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut ini :

1. Wawasan pendengar pidato secara umum

2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan

3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti

4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara.

5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb.

6. Kerangka sususnan pidato

Pada umumnya dalam suatu pidato terdapat urutan sebagai berikut:

1. Menyampaikan salam

2. Mengucapkan kata pendahuluan

3. Penyingkatan isi pidato

4. Uraian lengkap

5. Menyimpulkan isi pidato

6. Saran-saran dan harapan

7. Ulasan mutakhir

8. Penutup, kata penutup

 Menyampaikan salam ialah suatu salam pembuka untuk mengawali pembacaan pidato.

 Kata pendahuluan ialah semacam basa-basi, tetapi tidak terlalu berlebih-lebihan, sekedar untuk mengawali persoalan yang akan diketengahkan.

 Menyingkat isi pidato ialah menguraikan garis besar apa yang hendak diutarakan.

 Uraian selangkapnya ialah uraian secara teratur dari awal hingga akhir lewat tahap demi tahap persoalan.

 Menyimpulkan isi pidato ialah menarik suatu kesimpulan dari apa yang telah diketengahkan, hingga persoalan menjadi semakin bertambah jelas dan mudah dipahami.

 Saran ialah sesuatu yang bias berupa anjuran, tuntunan, petunjuk-petunjuk sedangkan harapan ialah hasrat agar apa yang baru diketengahkan akan dapat diwujudkan dalam kenyattaan konkrit.

 Ulasan mutakhir merupakan sekedar penjelasan dari keseluruhan pidato.

 Penutup atau kata penutup.penutup sangat penting dalam pidato, karena penutup adalah salah satu bagian dari pidato.apabila tidak ada penutup maka tidak lazim sebuah teks dikatakan pidato.sedangkan kata-kata pidato harus dipilih selektif, dipertimbangkan secara mendalam, karena kata penutup inilah yang akan tinggal mengesan di hati para pendengar.

(http://gheapunklove91.blogspot.com/)

1. Menentukan topik.
2. Menentukan maksud/tujuan.
3. Menganalisis situasi dan pendengar.
4. Memilih situasi dan pendengar
5. Mengumpulkan bahan.
6. Memahami dan menghayati materi
7. Melaksanakan pidato

(http://hastutik.blogspot.com/2009/02/langkah-langkah-berpidato.html)

Pengertian Pidato, Tujuan, Sifat, Metode, Susunan Dan Persiapan Pidato Sambutan

Thu, 13/03/2008 – 10:29pm godam64

A. Definisi / Pengertian Pidato

Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.

Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.

B. Tujuan Pidato

Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
2. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.

C. Jenis-Jenis / Macam-Macam / Sifat-Sifat Pidato

Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :
1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc.
2. Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.

D. Metode Pidato

Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidatu di depan umum :
1. Metode menghapal, yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghapalkannya kata per kata.
2. Metode serta merta, yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan tehnik serta merta.
3. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi.

E. Persiapan Pidato

Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut ini :
1. Wawasan pendengar pidato secara umum
2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan
3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti.
4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara.
5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb.

F. Kerangka Susunan Pidato

Skema susunan suatu pidato yang baik :
1. Pembukaan dengan salam pembuka
2. Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi
3. Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana, langkah, dll.
4. Penutup (kesimpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll)

(http://organisasi.org/pengertian-pidato-tujuan-sifat-metode-susunan-dan-persiapan-pidato-sambutan)

Cara Berpidato Tanpa Teks  Sahabat Pustakers kali ini Pustaka sekolah akan membahas mengenai cara berpidato tanpa teks. Pidato adalah sebuah cara yang pepoler dalam menyampaikan ide, gagasan atau pendapat kepada audiens. Tapi kadang dalam berpidato kita menjadi gugup, demam panggung atau minder. Untuk mengatasi hal itu berikut ini tips atau cara berodato tanpa teks.

Dalam berpidato tanpa teks, kita perlu memeperhatikan beberapa hal, antara lain:

Sampaikan dengan intonasi dan artikulasi yang tepat;

Berikan tekanan dinamik pada kata-kata yang menonjolkan pikiran tertentu;

Gunakan gerak mimik yang sesuai sebagai ekspresi komunikasi kita dengan audiens;

Yakinkan diri kita bahwa kita sedang membawakan suatu persoalan yang belum dipahami oleh audiens

http://pustakasekolah.com/cara-berpidato-tanpa-teks.html

http://www.scribd.com/doc/46737388/Definisi-Pidato

Leave a Reply