Pidato Pengukuhan Prof. Drg. Niken Widyanti Sriyono Mdsc Kk

PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT
GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP

UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Gadjah Mada


Oleh:
Prof. drg. Niken Widyanti Sriyono, MDSc.
2
PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT
GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP

UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Gadjah Mada


Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar
Universitas Gadjah Mada
pada tanggal 8 Desember 2009
di Yogyakarta


Oleh:
Prof. drg. Niken Widyanti Sriyono, MDSc.
3
PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT
GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP
Kesehatan mulut merupakan bagian fundamental kesehatan
umum dan kesejahteraan hidup (Kwan dkk, 2005). Kesehatan gigi
atau sekarang sering disebut sebagai kesehatan mulut adalah
kesejahteraan rongga mulut, termasuk gigi geligi dan struktur serta
jaringan-jaringan pendukungnya – bebas dari penyakit dan rasa sakit,
dan mulut serta jaringan-jaringan pendukungnya berfungsi secara
optimal, yang akan menjadikan percaya diri serta hubungan
interpersonal dalam tingkatan paling tinggi. Keberadaan penyakit gigi
dan mulut akan dapat mempengaruhi kesehatan umum, walaupun
tidak menyebabkan kematian secara langsung. Penyakit gigi dan
mulut dapat menjadi faktor risiko penyakit lain, diantaranya sebagai
infeksi fokal dari penyakit tonsilitis, faringitis, otitis media,
bakteremia, toksemia, bayi timbangan rendah (BBLR), dan bahkan
penyakit jantung. Selain itu, penyakit HIV/AIDS, penyakit-penyakit
sistemik, misalnya diabetes militus, juga dapat bermanifestasi dalam
mulut (Sheiham, 2005; Lamp. SK Menkes, 2005).
Keadaan mulut yang buruk, misalnya banyaknya gigi hilang
sebagai akibat gigi rusak atau trauma yang tidak dirawat, akan
mengganggu fungsi dan aktivitas rongga mulut sehingga akan
mempengaruhi status gizi serta akan mempunyai dampak pada
kualitas hidup. Pada masa anak-anak, kondisi tersebut akan
mempunyai dampak pada tumbuh kembang dan kesejahteraan anak
serta secara signifikan akan berdampak pada kehidupan mereka kelak
(Sheiham, 2005; WHO, 2007). Anak-anak yang mempunyai kesehatan
mulut buruk, 12 kali lebih banyak menderita gangguan aktivitas,
termasuk tidak masuk sekolah dibandingkan dengan mereka yang
mempunyai kesehatan mulut baik (Kwan dkk., 2005). Lebih dari 50
juta jam sekolah pertahun hilang karena penyakit gigi dan mulut, yang
akan berdampak pada penampilan anak-anak di sekolah dan
kesuksesan hidupnya kelak (Gift dan Redford, 1992). Selanjutnya
lebih dari 20 juta jam kerja di Amerika hilang pertahun karena
penyakit-penyakit mulut atau membutuhkan perawatan. Di Indonesia,
berdasar SKRT-SURKESNAS 2001 sebanyak 62,4% penduduk
merasa terganggu pekerjaan/sekolah karena sakit gigi, dalam satu
4
tahun berkisar antar 2,50 5,28 hari, dengan rata-rata sekitar 3,86
hari. Kondisi ini tentunya mempengaruhi kualitas hidup jika dikaitkan
dengan produktivitas (Lamp. SK Menkes, 2005).
Berbagai program pencegahan telah dilakukan untuk menahan
laju perkembangan penyakit gigi dan mulut atau untuk meningkatkan
status kesehatan mulut pada masyarakat secara luas dan ternyata telah
berhasil menurunkan prevalensi dan insidensi penyakit gigi dan mulut
secara nyata terutama karies gigi di negara-negara maju. Bahkan
secara dramatis prevalensi karies gigi telah turun menjadi 0% untuk
anak-anak usia 5-12 tahun di beberapa negara maju. Namun karies
gigi yang merupakan penyakit pandemi, meskipun telah dilakukan
berbagai upaya pencegahan, ternyata belum bisa menghilangkan
penyakit karies gigi tersebut, terbukti tidak ada satu negarapun di
dunia ini yang telah menyatakan bebas karies (Kwan dkk., 2005).
Tindakan pencegahan terhadap penyakit gigi dan mulut perlu
dilakukan agar tidak terjadi gangguan fungsi, aktivitas (belajar atau
bekerja) dan penurunan produktivitas kerja yang tentunya akan
mempengaruhi kualitas hidup. Kesehatan mulut dapat mempengaruhi
kondisi kesehatan umum yang tentunya akan berdampak pada kualitas
hidup secara signifikan atau masalah kesehatan mulut akan
mempengaruhi kualitas kehidupan manusia (Kwan dkk., 2005). Cohen
dan Jago (1976, sit Chen dkk., 1997) menyatakan bahwa kontribusi
terbesar kedokteran gigi dalam pencegahan penyakit gigi dan mulut
adalah meningkatkan kualitas hidup.
Statistik menunjukkan bahwa penyakit gigi dan mulut
menyerang hampir tiap orang. Penyakit ini mencapai lebih 80% anak-
anak di negara maju maupun berkembang (Kwan dkk., 2005). Di
negara berkembang penyakit gigi dan mulut pada orang dewasa lebih
buruk keadaannya, karena akumulasi berbagai penyakit gigi dan mulut
yang tidak diobati (Sheiham, 2005). Karies gigi dan penyakit
periodontal merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling umum
diderita, dan menggambarkan masalah kesehatan masyarakat yang
besar karena prevalensi dan insidensinya yang tinggi di semua tempat
di dunia, dampaknya pada individu, masyarakat serta biaya
pengobatan (Kwan dkk., 2005). Besarnya masalah penyakit gigi dan
mulut tidak hanya masalah kesehatan masyarakat tetapi sekaligus
merupakan masalah sosial (Lamp. SK Menkes, 2005). Di negara
5
berkembang penyakit karies gigi telah meningkat karena adanya
peningkatan asupan gula (Moynihan, 2005). Penyakit periodontal
prevalensinya sangat tinggi di dunia terutama pada anak-anak dan
remaja, mencapai 80% anak-anak baik di negara maju maupun
berkembang (Kwan dkk., 2005).
Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu penyakit-diet
dan penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup yang paling mahal
perawatannya. Di beberapa negara, penyakit gigi dan mulut
merupakan penyakit ke 4 yang paling mahal untuk perawatannya.
Pelayanan kesehatan gigi menghabiskan sekitar 5% – 10% dari total
anggaran kesehatan di negara maju setiap tahun, biaya perawatan
penyakit karies gigi saja dapat menghabiskan semua total anggaran
kesehatan untuk anak-anak dalam suatu negara karena mahalnya. Hal
ini tentunya merupakan masalah di negara berkembang

Perkembangan penyakit gigi dan mulut lainnya secara global yang
harus diwaspadai adalah meningkatnya insidensi kanker mulut, erosi
gigi dan kerusakan email serta cedera muka karena kecelakaan atau
olahraga kontak (Kwan dkk., 2005).
Kualitas hidup (Quality of Life)
Kualitas hidup berhubungan dengan kepuasan kebutuhan
manusia untuk tumbuh, sejahtera, kebebasan dan kenyamanan dalam
hubungan dan pekerjaan (Anonim, 1980 sit. Chen dkk., 1997).
Kualitas hidup merupakan suatu pertimbangan penting dalam
perawatan medis, kualitas hidup mengacu pada kemampuan pasien
untuk dapat menikmati aktivitas kehidupan yang normal. Beberapa
pengobatan medis juga dapat mengganggu kualitas hidup tanpa
memberikan manfaat cukup besar, sementara yang lain sangat
meningkatkan kualitas hidup (Medical Dictionary, 1999). Definisi
kesehatan yang berhubungan dengan kualitas hidup bervariasi, tetapi
konsensus yang muncul dalam literatur teridentifikasi adanya 3
dimensi besar yang harus dimasukkan, yaitu: simptom fisik, persepsi
kesejahteraan, dan kemampuaan fungsi. Indikator kualitas hidup
pertama kali diperkenalkan pada bidang kesehatan tahun 1970 oleh
peneliti-peneliti kesehatan dan penentu kebijakan yang memerlukan

6
suatu metode untuk menilai dampak penyakit kronis yang selama ini
pada umumnya terbatas pada penilaian mortalitas dan morbiditas
(Chen dkk., 1997).
Dampak penyakit mulut pada individu dan masyarakat
ditengarai makin meningkat. Namun, secara konvensional penilaian
kesehatan mulut (misalnya status karies dan status periodontal) hanya
berhubungan dengan status fisik saja dan hanya menggambarkan
penilaian klinik tentang kesehatan mulut secara obyektif. Kedokteran
gigi secara tradisional hanya menggunakan indeks klinik yang spesifik
(mis. jumlah gigi yang ada, hilangnya perlekatan periodonsium) untuk
menilai dampak masalah kesehatan mulut (Kressin dkk., 2008).
Mereka tidak memasukkan penilaian diri tentang status kesehatan
mulutnya dalam arti dampak personal, sosial dan psikologis yang
merupakan dimensi dari kualitas hidup (Locker, 1988). Dampak
kesehatan mulut, penyakit gigi dan mulut pada kualitas hidup
merupakan bidang penelitian yang relatif baru yang menilai fungsi
psikologis, sosial dan konsekuensi ekonomi karena kelainan/gangguan
mulut. Hampir semua penelitian memfokuskan pada kondisi hilangnya
gigi, kerusakan/cacat kraniofasial sejak lahir, oral-facial pain dan
kanker mulut. Pengaruh kesehatan mulut pada kualitas hidup individu
mencerminkan norma sosial yang kompleks, nilai-nilai budaya,
kepercayaan dan tradisi (Gift dan Redford, 1992; Anonim, 2004)
Parameter kualitas hidup untuk kesehatan mulut
Dalam bidang kedokteran gigi, dampak kesehatan mulut pada
kemampuan fungsi dan kesejahteraan individu (dimensi kualitas
hidup) dikenal sebagai Oral Quality of Life (OQoL) (Chen dkk., 1997;
Kressin dkk., 2008) sedangkan Gift dan Redford (1992), Skaret dkk.
(2004), serta Mashoto dkk. (2009) menyebutkan sebagai Oral Health-
Related to Quality of Life (OHRQoL).
Dapat ditarik kesimpulan
bahwa Oral Quality of Life dapat dimaknai sebagai Oral Health-
Related to Quality of
Life, dan istilah ini di literatur dipakai secara
bergantian. Gift dan Redford (1992) mengatakan bahwa Oral Quality
of Life
merupakan suatu konsep yang mencakup kedua dampak fungsi
sosial dan psikologis dari penyakit gigi dan mulut terhadap
kesejahteraan dan kualitas hidup. Untuk mendefinisikan Oral Quality
7
of Life, International Collaborative Study (ICS) II juga menggunakan
3 dimensi yang sama yang digunakan untuk kesehatan yang
berhubungan dengan kualitas hidup, yaitu simptom fisik penyakit gigi
dan mulut, persepsi kesejahteraan, kemampuan fungsi (fungsi sosial
dan psikologis) yang disebabkan oleh masalah kesehatan mulut (Chen
dkk., 1997). Oral Quality of Life ataupun Oral Health-Related to
Quality of Life
yang mempunyai indikator-indikator kualitas hidup
dengan demikian dapat digunakan untuk menilai dampak kesehatan
mulut terhadap kualitas hidup.
Alat ukur untuk menilai kesehatan mulut terhadap kualitas hidup
beragam, antara lain ada yang ditujukan untuk anak-anak (Child Oral
Health Quality of Life Questionnaire)
, usia lanjut (Geriatric/General
Oral Health Assessment Index/GOHAI), Oral Health Impact Profile
(OHIP-49), Oral Health Impact Profile (OHIP-14) (short version),
Orthognatic Quality of Life Questionnaire.
Sebagai contoh, untuk
anak-anak, indikator fungsi sosial adalah apakah anak-anak
menghindari tertawa atau tersenyum, menghindari bertemu orang
karena keadaan penampilan gigi dan gusinya, atau anak lain
mentertawakan keadaan gigi dan gusinya. Indikator fungsi fisik yaitu
apakah rasa sakit atau ketidaknyamanan karena masalah kesehatan
mulut telah membuat anak-anak tidak masuk sekolah (Skaret dkk.,
2004).
Dari hasil penelitian Skaret dkk. (2004) didapatkan, bahwa tidak
ada satupun alat ukur yang dipandang standar dan komprehensif untuk
menilai kesehatan mulut yang berhubungan dengan kualitas hidup.
Namun Kressin dkk. (2008) telah mengembangkan 2 alat ukur baru
yang singkat disebut sebagai Oral Health-Related to Quality of Life,
yang menghipotesiskan kerangka kerja yang terdiri dari 4 dimensi:1)
fungsi fisik, 2) fungsi psikososial (dengan 3 subdimensi: fungsi peran,
nyaman, dan kecemasan), 3) kelemahan atau penyakit dan 4) persepsi.
Fungsi fisik misalnya adanya keterbatasan aktivitas, kesulitan makan,
mengunyah, atau berbicara, fungsi psikososial misalnya kemampuan
untuk menampilkan peran sosial seperti berbicara, tersenyum, dapat
memenuhi kewajiban pada pekerjaan dan keluarga, kepuasan pasien
dengan estetika gigi-giginya, nyaman dengan hubungan interpersonal,
cemas, penuh perhatian dan malu atau kurang percaya diri disebabkan
masalah gigi atau gusinya. Persepsi kesehatan mulut termasuk
8
penilaian diri secara global dan kepuasan tentang status kesehatan
mulut dan estetika termasuk kebutuhan perawatan. Alat ukur tersebut
terbukti dapat memperlihatkan memiliki psikometri yang baik dan
sensitif terhadap indikator pemeriksaan klinis kesehatan mulut, serta
dapat digunakan untuk menilai dampak kondisi kesehatan mulut dan
dampak perawatan kesehatan mulut pada populasi yang berhubungan
dengan kualitas hidup.
Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut
Penyakit karies gigi dan penyakit periodontal merupakan
penyakit yang prevalensinya universal, biasanya tidak bisa remisi atau
berhenti kalau tidak dirawat, sehingga akumulatif dan kebutuhan
perawatan menjadi beban. Untuk merawatnya tergantung tehnologi,
biaya mahal, perawatan menghabiskan banyak waktu oleh profesional,
sehingga pencegahan lebih baik dari pada perawatan. Program
pencegahan telah sangat sukses mengurangi prevalensi dan insidensi
karies gigi, namun belum bisa menghilangkannya.
Leavell dan Clark (1965) mengenalkan konsep yang menarik
dalam pemikiran tentang tindakan pencegahan untuk semua jenis
penyakit yang dinamakan LEVELS OF PREVENTION (tahapan
pencegahan). Tahapan pencegahan ini berkelanjutan, yaitu melalui
periode prepatogenesis sampai ke periode rehabilitasi yaitu setelah
penyakitnya sendiri sudah hilang. Menurut Leavell dan Clark, ada 3
tahapan pencegahan penyakit yaitu pencegahan primer, sekunder dan
tersier. Pencegahan primer merupakan pencegahan sesungguhnya dan
terjadi pada periode prepatogenesis. Konsep pencegahan Leavell dan
Clark beserta tahapan pencegahannya ini juga diaplikasikan secara
spesifik untuk penyakit gigi dan mulut.
Harris (2004) juga mengklasifikasikan kedokteran gigi
pencegahan dalam 3 tahapan, yaitu primer, sekunder dan tersier,
namun berdasar pada pemahaman arti sehat. Konotasi sehat bisa
dinterpretasikan oleh seseorang sebagai apa yang dipikirkan orang
tersebut, bukan keadaan kondisi tubuhnya yang senyatanya. Akibat
dari adanya perbedaan konotasi tersebut, maka menurut Harris (2004)
kedokteran gigi pencegahan dapat diklasifikasikan dalam 3 tahapan:
1) Pencegahan primer, yaitu penggunaan strategi-strategi dan bahan-
9
bahan untuk mencegah permulaan terjadinya penyakit, untuk
membalikkan proses perkembangan penyakit atau untuk
menghentikan proses penyakit, sebelum pencegahan sekunder perlu
dilakukan. Misalnya fluoridasi air minum, menghindari makanan yang
lengket-lengket terutama diantara waktu makan dan nutrisi dengan
standar yang baik, 2) Pencegahan sekunder, yaitu penggunaan
metode-metode perawatan secara rutin untuk menghentikan proses
penyakit dan atau untuk memperbaiki kembali jaringan supaya
sedapat mungkin menjadi atau mendekati normal. Sebagai contoh
perawatan pulpa, dan pencabutan gigi bila tindakan perbaikan gagal,
3) Pencegahan tersier, yaitu penggunaan tindakan-tindakan yang
diperlukan untuk mengganti jaringan yang hilang dan untuk
merehabilitasi pasien kesuatu keadaan sehingga kemampuan fisik dan
atau sikap mentalnya sedapat mungkin mendekati normal setelah
gagalnya pencegahan sekunder. Sebagai contoh adalah pembuatan
gigi palsu bagi pasien.
Karies gigi merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan
oleh bakteri (agent), turunnya resistensi pejamu, diet karbohidrat
untuk pejamu (environment), dan diperlukan faktor waktu untuk dapat
terjadinya kavitas (Jong, 1993; Harris, 2004). Untuk berkembangnya
karies, 3 kondisi harus terjadi secara simultan: (1) harus ada gigi yang
rentan (pejamu), (2) mikroorganisme yang kariogenik harus ada dalam
jumlah yang cukup dan (3) harus ada konsumsi karbohidrat yang
banyak. Bila terdapat substrat yang sesuai (biasanya gula) maka
bakteri kariogenik pada plak akan membentuk asam. Apabila hal ini
terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan terjadi lesi karies.
Setiap kejadian infeksi hanya dapat berlangsung bila organisme
yang menyebabkan infeksi jumlahnya cukup banyak untuk
menghancurkan pertahanan tubuh dan kemampuan untuk perbaikan
kembali. Untuk alasan ini, maka semua strategi untuk mencegah,
menghentikan atau membalikkan proses pengrusakan penyakit plak
didasarkan pada (1) mengurangi bakteri oral yang patogen, (2)
memperkuat resistensi gigi dan mempertahankan gingiva yang sehat,
dan (3) meningkatkan proses perbaikan.
Baik karies maupun penyakit periodontal disebabkan oleh
terdapatnya plak gigi yang patogenik pada permukaan gigi geligi,
yang sekarang diketahui sebagai penyakit-penyakit plak. Untuk
10
mengontrol penyakit-penyakit plak dengan metode dan tehnik yang
tersedia, penekanan harus ditujukan kepada 4 strategi umum untuk
mengurangi karies dan 2 cara atau tindakan yang diperlukan: 1)
Strategi Umum, yang meliputi Mekanis (sikat gigi, benang gigi,
irigator, atau kumur), Khemis atau kontrol plak; 2) Pemakaian fluor
untuk menghambat demineralisasi dan untuk menambah
remineralisasi; pemakaian bahan antimikrobial untuk menekan bakteri
kariogenik; 3) Disiplin diet gula; 4) Pemakaian pit dan fisur silen bila
terdapat indikasi, pada permukaan oklusal posterior. Cara atau
tindakan yang diperlukan meliputi :1) Pendidikan dan promosi
kesehatan; 2) Membuat akses ke fasilitas pelayanan kesehatan gigi
yang memberikan pelayanan diagnostik, restoratif, pencegahan serta
perencanaan untuk pemanggilan kembali secara rutin (recall) yang
didasarkan pada risiko penyakit.
Belum ditemukannya vaksin yang tepat untuk penyakit gigi dan
mulut utamanya untuk karies gigi dan penyakit periodontal,
menjadikan pengendalian penyakit ini bertumpu pada upaya-upaya
pencegahan baik primer, sekunder maupun tersier. Mengingat
penyebab penyakit gigi dan mulut yang multifaktorial, besarnya
prevalensi dan meningkatnya insidensi, beban perawatan serta biaya,
maka dalam pelaksanaan upaya-upaya pencegahan perlu diperhatikan
strategi-strategi dan prioritas-prioritas dan juga harus memperhatikan
sumber dana dan tenaga yang tersedia. Dari hasil-hasil penelitian
membuktikan, bahwa keberhasilan upaya pencegahan penyakit gigi
dan mulut merupakan gabungan dari berbagai cara-cara pencegahan
penyakit gigi dan mulut.
Memahami konsep-konsep pencegahan, maka strategi
pencegahan penyakit gigi dan mulut dapat direncanakan berlandaskan
konsep pencegahan yang sesuai. Disamping itu, dari berbagai konsep
pencegahan penyakit gigi dan mulut dapat dimaknai bahwa
pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan cara mencegah timbul
dan berkembangnya penyakit serta merehabilitasi akibat penyakit
akan meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut, dan status
kesehatan gigi dan mulut yang lebih baik akan dapat meningkatkan
kualitas hidup.
11
Status Kesehatan Mulut dan Kualitas Hidup
Dalam kedokteran gigi banyak peneliti dalam kesehatan mulut
yang telah mendemonstrasikan adanya hubungan langsung antara
kesehatan mulut dan kualitas hidup (Ettinger, 1987). Buckley dan
Sacks (2007) menginvestigasi akibat tingkat masalah kesehatan mulut
terhadap berbagai indikator kualitas hidup termasuk persepsi orang tua
tentang efek bicara, bau mulut (halitosis), rasa tak nyaman waktu
makan, dan kehidupan sehari-hari. Dari hasil kuesionernya tentang
kualitas hidup, dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan
antara keparahan penyakit periodontal dengan kualitas hidup.
Kartika dkk. (2007) mendapatkan ada korelasi lemah yang
signifikan antara DMF-T dengan kualitas hidup pada usia lanjut, serta
disarankan untuk melakukan intervensi demi meningkatkan kesehatan
mulut. Penelitian Niken-Sriyono (2001) dengan memakai alat ukur
GOHAI mendapatkan 40% sampelnya usia lanjut merasa ada
gangguan fisik dan 29,6% merasa ada gangguan sakit dan tidak
nyaman karena kesehatan mulutnya, sedangkan gigi yang hilang rata-
rata sebanyak 21 gigi per sampel. Kondisi status kesehatan mulut yang
demikian terutama banyaknya gigi yang sudah hilang, namun hanya
2% yang memakai gigi palsu, akan menjadikan terganggunya fungsi
fisik dan psikososial yang tentunya dapat mempengaruhi kualitas
hidup mereka. Kressin dkk. (2008) mendapatkan dari penelitiannya
bahwa faktor psikososial misalnya kepribadian berhubungan secara
signifikan dengan peringkat kualitas hidup. Pada waktu ini konsep
kontemporer kesehatan menunjukkan bahwa kesehatan mulut harus
didefinisikan dalam arti sehat fisik, psikologis dan kesejahteraan
sosial dalam hubungannya dengan status kesehatan mulut (Sheiham,
2005).
Status kesehatan mulut diukur dari derajat keparahan penyakit
gigi dan mulut masyarakat, untuk itu diperlukan indikator-indikator
dan standar penilaian yang sesuai dengan WHO serta standar
penilaian berdasar tingkatan umur, antara lain yaitu indikator status
kesehatan gigi dan indikator status periodontal. Indikator status
kesehatan gigi untuk menilai karies gigi yang utama digunakan adalah
indeks DMF-T dan prevalensi (%). DMF-T merupakan penjumlahan
indeks D-T, M-T dan F-T, yang menunjukkan banyaknya kerusakan
12
gigi yang pernah dialami seseorang karena karies baik berupa
D/Decay (gigi berlubang/karies), M/Missing (gigi dicabut) serta
F/Filling (gigi ditumpat) (Depkes RI, 2008). Index DMF-T ini sampai
sekarang masih diterima secara luas di seluruh dunia (Niken-Sriyono,
2009).

Di Indonesia, hasil SKRT 1995 dan Susenas 1998 didapatkan,
karies gigi menyerang 90.90% penduduk dengan DMF-T sebesar 6.44
dan 73.50% penduduk menderita penyakit periodontal (Lamp. SK.
Menkes, 2005). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007
(Depkes RI, 2008), rata-rata DMF-T sebesar 4,85, yang berarti setiap
orang di Indonesia rata-rata mempunyai 5 gigi yang karies.
Selanjutnya dari hasil Riskesdas 2007 (Depkes, 2008) didapatkan,
prevalensi karies gigi untuk kelompok usia 12 th sebesar 36,1%
dengan DMF-T 0,91, kelompok usia 35-44 th prevalensi karies gigi
mencapai 80,5% dengan DMF-T 4,46, sedangkan usia 65> prevalensi
sebesar 94,4% dengan DMF-T 18,33.
Dari hasil Riskesdas ini dapat disimpulkan adanya
kecenderungan bahwa makin meningkat usia, makin tinggi prevalensi
karies gigi juga tingkat kerusakan karies gigi (DMF-T). Hal ini
memberi arti adanya kecenderungan penurunan status kesehatan gigi
dengan makin meningkatnya umur, maka perlu dilakukan tindakan
pencegahan dan perawatan sedini mungkin agar penyakit karies gigi
tidak berkembang semakin parah, karena bila gigi yang rusak parah
tidak dilakukan perawatan akan menyebabkan gigi tidak bisa
dipertahankan lagi sehingga akhirnya gigi terpaksa harus dicabut.
Sebagai contoh, untuk kelompok usia 35-44 th dan 65> komponen M
masing-masing mencapai 2,88 dan 16,99 yang berarti pada kelompok
usia 35-44 th rata-rata terdapat 3 gigi sudah dicabut dan 17 gigi yang
sudah dicabut atau indikasi untuk dicabut karena karies gigi untuk
kelompok usia 65>. Orang yang banyak mempunyai gigi-gigi hilang,
karena penyakit karies gigi, menghadapi kualitas hidup yang
berkurang karena mereka tak hanya menghadapi terbatasnya
pemilihan makanan karena masalah pengunyahan yang akan
menghasilkan asupan gizi yang buruk, tetapi juga akan merasakan
malu dalam tingkat tertentu pada penampilan diri yang kemudian akan
membatasi interaksi sosial dan komunikasi (Anonim, 2004). Maka dari
13
itu, berdasarkan data tersebut, harus dilakukan upaya-upaya
pencegahan terhadap penyakit karies gigi agar gigi bisa dipertahankan
dan dapat berfungsi optimal sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidup.
Indikator status periodontal untuk menilai penyakit periodontal
dalah prevalensi (%) serta rata-rata sekstan yang terkena. Status
periodontal menurut WHO (1977), diukur berdasarkan adanya deposit
lunak (debris), kalkulus, gingivitis, dan advanced periodontal
involvement
, sedangkan menurut Depkes RI (1999) status periodontal
diamati berdasarkan adanya kalkulus, periodontitis dan gangguan
periodontal lainnya. Salah satu faktor etiologi penyakit periodontal
adalah karang gigi yang dijumpai pada 46,2% penduduk Indonesia. Di
Indonesia, penyakit periodontal merupakan penyakit kedua terbanyak
diderita masyarakat (+ 73,50%), dan sebesar 4-5% penduduk
menderita penyakit periodontal lanjut yang dapat menyebabkan gigi
goyah dan lepas. Saat ini penyakit periodontal paling banyak
ditemukan pada usia muda (Lamp. SK Menkes, 2005). Penyakit
periodontal lanjut menunjuk pada hilangnya tulang sekitar gigi secara
progresif yang akan dapat menjadikan longgarnya gigi/goyahnya gigi
dan akhirnya gigi dapat lepas jika tidak dirawat. Gigi-gigi yang lepas
tersebut bisa mengurangi fungsi fisik dan psikososial, dan pada usia
muda akan dapat menyebabkan dampak besar pada kualitas hidup.
Pencegahan penyakit periodontal harus dilakukan sedini mungkin agar
penyakit periodontal tidak terjadi dan berlanjut yang mengakibatkan
gigi goyah dan lepas, sehingga akan dapat mencegah menurunnya
kualitas hidup.
Kanker mulut prevalensinya meningkat, menjadi penyakit
kanker ke 8 yang paling umum diderita di dunia, penyakit ini 95%
terdiagnose pada usia > 40 th dengan usia harapan hidup kurang dari
50%, maka tidak mengherankan kalau depresi banyak diderita
penderita kanker mulut. Tindakan operasi untuk kanker mulut
mungkin membuat muka menjadi buruk atau cacat permanen sehingga
kelainan yang merusak mulut dan wajah/muka dapat mengganggu
kesejahteraan dan percaya diri, yang tentunya hal ini akan dapat
mempengaruhi berkurangnya kualitas hidup. Faktor risiko yang
berhubungan dengan perilaku pada masa anak-anak dan remaja antara
lain misalnya kebiasaan minum alkohol yang berlebihan dan
14
pemakaian tembakau mempunyai dampak yang signifikan untuk
risiko menderita penyakit kanker mulut di kemudian hari (Kwan dkk.,
2005). Sehubungan dengan pemakaian tembakau, Kwan dkk. (2005)
mengingatkan perlunya mewaspadai beberapa produk yang
mengandung tembakau yang dipasarkan secara langsung kepada anak-
anak dan para remaja, yang dikemas sangat menarik dan diberi
tambahan perasa, sehingga sering membuat salah pilih karena dikira
permen, sebagai contoh termasuk produk masala, bidis, dan ghutka.
Jika anak-anak atau para remaja mengkonsumsi produk ini, dapat
meningkatkan risiko kanker mulut pada kehidupan mereka yang akan
datang, yang tentunya akan mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Untuk mencegahnya, diperlukan kerjasama antara sekolah, orang tua,
dan masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap adanya
peredaran produk-produk yang membahayakan anak-anak dan remaja
tersebut, dan sebaiknya pemerintah melarang barang-barang tersebut
masuk ke Indonesia. Dapat disimpulkan, kesehatan mulut bisa
mempengaruhi kualitas hidup, namun bila penyakit mulut dapat
dicegah supaya tidak terjadi atau tidak berlanjut, akan meningkatkan
status kesehatan mulut yang akhirnya dapat berdampak pada
peningkatan kualitas hidup.
Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut dengan Kualitas Hidup
Seperti telah diungkapkan, bahwa pencegahan penyakit gigi dan
mulut baik dengan pencegahan primer, sekunder, maupun tersier,
bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan mulut. Pencegahan
primer yaitu mencegah sebelum terjadi penyakit dengan melakukan
tindakan pencegahan primer adalah yang paling dianjurkan.Dalam
bidang kedokteran gigi, tindakan pencegahan primer oleh Jong (1993)
dikelompokkan menjadi 3 yaitu: 1) Tindakan pencegahan primer oleh
masyarakat, antara lain fluoridasi air minum masyarakat, fluoridasi air
minum sekolah, fluoridasi garam dapur, fluoridasi minuman susu, 2)
Tindakan pencegahan primer oleh profesi dental, antara lain aplikasi
topikal fluor oleh profesional, konseling diet, program kontrol plak, 3)
Tindakan pencegahan primer oleh individu antara lain penggunaan
pasta gigi mengandung fluor, dan tindakan kebersihan mulut.
Dari ke 3 kelompok tindakan pencegahan primer tersebut di
15
atas, fluoridasi telah terbukti dapat menurunkan prevalensi penyakit
gigi dan mulut utamanya karies gigi secara signifikan bila
menggunakan konsentrasi fluor yang tepat. Fluoridasi yaitu
menambahkan sejumlah fluor kedalam air minum, garam dapur atau
minuman susu dan dipasarkan di masyarakat, merupakan salah satu
tindakan pencegahan dengan tujuan meningkatkan resistensi gigi.
Fluor merupakan bahan kunci dalam menurunkan prevalensi karies
gigi, dengan melalui 3 cara yaitu :1) membuat perbaikan
(remineralisasi) dari kerusakan dini email karena asam yang
diproduksi dari gula yang dipecah oleh bakteri plak, 2) meningkatkan
struktur kimia email, membuat email lebih resistan terhadap serangan
asam, 3) mengurangi kemampuan bakteri plak untuk memproduksi
asam (Jones dkk., 2005). Sebagai contoh, fluoridasi air minum
masyarakat terbukti dapat mengurangi prevalensi karies gigi
masyarakat sampai 50-65%, fluoridasi air minum sekolah mengurangi
40%, diet suplemen fluor mengurangi 50-80%, sedangkan fluoridasi
garam dapur dapat mengurangi sampai 60%. Adapun aplikasi topikal
fluor oleh profesional dapat mengurangi prevalensi karies sampai 30-
40% (WHO, 1984).
Adanya pengurangan prevalensi penyakit karies gigi yang
signifikan akibat fluoridasi, maka prevalensi kerusakan akibat karies
gigi dapat dicegah, sehingga dampak penyakit gigi dan mulut yang
buruk dapat dihindarkan, yang tentunya akan dapat mempengaruhi
peningkatan kualitas hidup masyarakat. Meskipun fluoridasi air
minum telah dapat menurunkan prevalensi karies gigi secara
signifikan, namun fluoridasi air minum masih menimbulkan
kontroversi sampai saat ini. Para penentang fluoridasi di Amerika
meminta agar fluoridasi air minum segera dihentikan karena lebih
banyak efek samping yang merugikan dari pada manfaatnya, namun,
Community Guide (2006) sampai saat ini merekomendasikan
penggunaan fluoridasi air minum untuk menurunkan prevalensi karies
gigi
Pelaksanaan fluoridasi air minum membutuhkan sumber air
minum yang terpusat, sedangkan sebagian besar sumber air minum
penduduk Indonesia adalah sumur, sehingga fluoridasi air minum
belum bisa diselenggarakan di Indonesia. Menurut WHO fluoridasi
garam dapur dapat diterapkan di hampir semua negara, dan mungkin
16
merupakan metode yang tepat untuk negara berkembang karena belum
meratanya distribusi air minum (Niken-Sriyono, 2009).
Penyakit periodontal merupakan nama generik yang diberikan
kepada kondisi inflamasi karena bakteri, yang dimulai dengan
inflamasi pada gingiva yang seterusnya bersama waktu akan terjadi
hilangnya tulang penyangga gigi. Istilah gingivitis biasanya menunjuk
kepada keadaan kondisi inflamasi yang reversibel dari papila dan tepi
gingiva, sedangkan penyakit yang merusak periodontal atau
periodontitis biasanya menunjuk kepada kondisi inflamasi yang
meningkat menjadi pembentukan poket, hilangnya perlekatan dan
akhirnya hilangnya tulang penyangga gigi (Harris, 2004).
Terlepas dari sedikitnya penggunaan cairan antiseptik, satu-
satunya tindakan pencegahan terhadap penyakit periodontal adalah
dengan cara pengambilan plak secara rutin dan seksama. Pengambilan
plak dalam beberapa hal dapat dilakukan oleh tenaga profesional,
namun secara luas tergantung kepada tindakan individu. Pengambilan
plak ini dapat secara mekanis dan khemis. Pengambilan secara
mekanis dapat dilakukan dengan sikat gigi, benang gigi atau irigator,
dan dapat dipadukan dengan cara khemis. Kumur dengan klorheksidin
atau obat kumur lainnya merupakan cara yang mudah untuk
membantu mengontrol bakteri plak. Dari tindakan pencegahan primer
seperti yang disebutkan di atas, yang paling utama dianjurkan adalah
tindakan pencegahan oleh individu, yaitu dengan melakukan tindakan
kebersihan mulut. Tindakan kebersihan mulut ini dapat dilakukan
individu dengan cara menyikat gigi untuk menghilangkan plak dan
kumur-kumur dengan cairan antiseptis untuk membantu mengontrol
bakteri plak (Niken-Sriyono, 2009).
Plak gigi atau umum disebut saja dengan plak, adalah kesatuan
struktur yang khusus dan berubah-ubah yang dihasilkan oleh
kolonisasi dan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan gigi,
yang terdiri dari berbagai spesies dan strain mikroba yang melekat
erat pada matriks ekstra seluler. Plak gigi merupakan salah satu dari
biofilm mikroba. Hampir semua permukaan gigi secara alamiah
mempunyai lapisan mikroorganisme atau biofilm yang beradaptasi
dengan kebiasaan individu (Harris, 2004). Plak dapat terbentuk 1 jam
setelah gigi dibersihkan dan mencapai maksimum setelah 30 hari
(Caranza,1990) Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya plak
17
yang dapat dibagi menjadi 2 (Carranza, 1990): (1) Lingkungan fisik
yang meliputi (a) anatomi gigi dan posisi gigi, (b) anatomi jaringan
sekitar gigi, (c) struktur permukaan gigi, (d) gesekan oleh makanan
dan jaringan sekitar, (e) tindakan kebersihan mulut; (2) Hadirnya
nutrien yang meliputi (a) makanan atau diet, (b) cairan gusi, (c) sisa
epitel dan leukosit, dan (d) saliva. Dari faktor-faktor tersebut di atas
salah satu faktor terpenting adalah tindakan kebersihan mulut (Niken-
Sriyono, 2009).
Tindakan kebersihan mulut dengan menyikat gigi akan efektif
sebagai pencegah karies hanya bila menggunakan pasta gigi yang
mengandung fluor karena terbukti dapat mengurangi prevalensi
penyakit karies gigi sampai 20-30%, dan juga terbukti telah
menurunkan insidensi karies gigi sekitar 15-30%. Banyak para ahli
menganjurkan untuk tidak merokemendasikan penggunaan pasta gigi
yang mengandung fluor pada daerah endemik fluorosis pada anak-
anak dibawah usia 7 tahun (WHO, 2007) Juga tidak dianjurkan
penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor untuk anak-anak
balita, terutama bila pasta giginya memakai rasa yang disukai anak-
anak misalnya rasa jeruk atau stroberi, karena dikawatirkan tertelan
atau ditelan.
Mashoto dkk. (2009) menyatakan bahwa status kesehatan mulut
berhubungan erat dengan kualitas hidup dan kontribusi terbesar dalam
kedokteran gigi adalah peningkatkan kualitas hidup melalui
pencegahan dan perawatan penyakit mulut. Menurut Blum (1974 sit.
Depkes, 1999) status kesehatan mulut juga dipengaruhi oleh interaksi
4 faktor, yaitu perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan dan genetik.
Di negara berkembang, perilaku adalah faktor yang paling dominan
yang mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut. Perilaku pelihara
diri masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan mulut indikatornya
adalah variabel waktu menyikat gigi, sedangkan menyikat gigi
merupakan tindakan pencegahan primer yang paling utama
dianjurkan.
Dari data waktu menyikat gigi menunjukkan bahwa perilaku
pelihara diri masyarakat Indonesia dalam kesehatan mulut masih
sangat rendah. Hal ini ditunjukkan oleh data bahwa 91,1% penduduk
Indonesia sudah menyikat gigi, namun hanya 7,3% yang berperilaku
benar dalam menyikat gigi (menyikat gigi sesudah makan pagi dan
18
sebelum tidur malam) (Depkes, 2008). Harus dilakukan upaya-upaya
promotif dan preventif untuk merubah perilaku masyarakat dalam
pelihara diri dalam kesehatan gigi, terutama pada kelompok
masyarakat yang rentan terhadap terjadinya penyakit gigi dan mulut,
yaitu anak pra sekolah, anak sekolah dasar, ibu hamil, serta usia
lanjut dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan
pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
Perawatan penyakit mulut bila dipandang dari tahapan
pencegahan Leavell dan Clarck (1965), dapat dimasukkan dalam
tahapan sekunder atau tersier. Data Risdaskes 2007 (Depkes, 2008)
menunjukkan tingginya prevalensi karies gigi dan penyakit
periodontal, yang merupakan indikasi beban yang besar untuk
perawatan. Dalam pelaksanaannya, perawatan terhambat oleh
berbagai hal antara lain karena sumber daya, sarana dan prasarana
masih belum memadai serta belum tersebar merata, perilaku serta
kesadaran penduduk untuk merawatkan dan memelihara diri dalam
kesehatan gigi dan mulut masih rendah. Jika menunggu sampai
tercukupinya sarana dan prasana, maka akan makin sulit mencegah
laju perkembangan penyakit gigi dan mulut, sehingga status kesehatan
gigi dan mulut akan makin menurun, yang tentunya juga akan
berdampak pada menurunnya kualitas hidup.
Mengingat pencegahan penyakit karies dengan fluoridasi air
minum, fluoridasi garam dapur atau fluoridasi lainnya pada
masyarakat belum bisa dilaksanakan di Indonesia, maka perlu
dilakukan upaya-upaya pencegahan dengan merubah perilaku pelihara
diri masyarakat, yaitu selain melalui program-program yang telah
berjalan misalnya Usaha Kesehatan Gigi Sekolah, juga supaya
meningkatkan partisipasi aktif masyarakat. Untuk itu telah
berkembang berbagai bentuk upaya kesehatan gigi dan mulut berbasis
masyarakat, antara lain dalam bentuk Usaha Kesehatan Gigi
Masyarakat (UKGM) melalui Posyandu. Alternatif lain bisa
dipertimbangkan pelaksanaan Program Dokter Gigi Keluarga dan
pengefektifan pelaksanaan Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan
Mulut bagi masyarakat. Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut
ini berbasis pelayanan promotif preventif, bertujuan antara lain untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap, kemampuan masyarakat untuk
berperilaku hidup sehat di bidang kesehatan gigi dan mulut. Ujung
19
tombak pelaksanaan Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut
adalah perawat gigi karena salah satu kompetensi perawat gigi adalah
promotif dan preventif. Selain dokter gigi, perawat gigi dapat
merupakan tenaga pelaksana utama upaya-upaya pencegahan. Namun,
tenaga dokter gigi maupun perawat gigi masih sangat kurang, karena
rasio dokter gigi terhadap penduduk adalah 1: 21.500, rasio perawat
gigi terhadap penduduk adalah 1:23.500. Idealnya rasio masing-
masing adalah 1:2000, itupun penyebarannya tidak merata (Lamp. SK.
Menkes, 2005). Maka partisipasi aktif masyarakat perlu ditingkatkan
dalam upaya merubah perilaku dalam kesehatan gigi dan mulut.
Dapat disimpulkan bahwa berbagai tindakan pencegahan baik
primer, sekunder maupun tersier berperan untuk meningkatkan
kualitas hidup, karena pencegahan penyakit gigi dan mulut akan
meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut, sedangkan status
kesehatan mulut yang baik akan meningkatkan kualitas hidup,
demikian juga sebaliknya. Namun, tindakan pencegahan primer paling
dianjurkan, yaitu dengan menanamkan perilaku pelihara diri terhadap
kesehatan gigi dan mulut yang baik. Partisipasi aktif masyarakat agar
lebih diberdayakan untuk melakukan upaya pencegahan primer untuk
membantu meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut masyarakat
yang kemudian akan dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.
20
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004. Oral Health and Quality of Life, Oral Health
Resources, Atlanta
Buckley, S dan Sacks, B. 2007. Oral Problems and Quality of life.
Down Syndrom Research and Practice, 12 (1): 17-17
Carranza, F. 1990. Glickmanss Clinical Periodontology, 7th ed., W.
B. Saunders CO., Tokyo
Chen, M., Andersen, RM., Barmes, DE, Leclercq, MH, Lyttle, CS.
(1997). Comparing Oral Health Care System. A Second
International Collaborative Study
, WHO, Geneva
Community Guide, 2006. Community Water Fluoridation is
Recommended to Reduce Tooth Decay. www.
thecommunityguide.org/oral/ diunduh 6 Januari 2008
Depkes RI, 1999. Profil Kesehatan Gigi dan Mulut di Indonesia pada
Pelita VI, Jakarta
Depkes RI, 2008. Riset Kesehatan Dasar, Jakarta
Ettinger RL (1987). Oral disese and its effect on the quality of life.
Gerodontics, 3:103-106
Gift, HC, dan Redford, M, 1992. Oral Health and Quality of Life.
Clinical geriatric medicine, 8 (3): 673-683
Harris, N. O. 2004. Introduction to Primary Preventive Dentistry,
dalam: Harris, N.O. dan Garcia-Godoy, F.: Primary Preventive
Dentistry, 6th ed., Pearson Prentice Hall, New Jersey
Jones, S; Burt, BA; Peterson, PE; Lennon, MA. 2005. The effective
use of fluorides in public health, Bulletin of the WHO, 83(9):
670-676
Jong, A. 1993. Community Dental Health, Ed, The C.V. Mosby
Company, St. Louis
Kartika, W., Olly, D., Eddy, K.2007. The correlation of oral health
status and the quality of life in the elderly, Universa Medicina,
26 (4): 186
Kressin, NR, Jones, JA.; Orner, MB.; Spiro III, A. 2008. A new Brief
Measure of Oral Quality of Life, Centers for Disease Control
and Prevention, April 2008, Vol 5 (2):1-16. http://www.cdc.
gov/PCD/issues/2008/apr/06_0147.htm,
Kwan, SYL; Peterson, PE; Pine, CM; Boruta, A. 2005, Health-
21
promoting schools: an opportunity for oral health promotion,
Bulletin of WHO, September, 83 (9): 677-585
Lamp. SK. Menkes, 2005. Kebijakan Pelayanan Kedokteran Gigi
Keluarga, Keputusan Menkes No.1415/Menkes/SK/X/2005, 3
Oktober 2005 Leavell, HR. dan Clark, EG. 1965. Preventive
medicine for the doctor in his community,
3rd ed., Mc. Graw
Hill Book Co. New York
Leavell, HR. dan Clark, EG. 1965. Preventive medicine for the doctor
in his community, 3rd ed., Mc. Graw Hill Book Co. New York
Locker, D. 1988. Measuring oral health: a conceptual framework.
Community Dental Health, 5:3-18.
Mashoto, K; Astrom, AN.; Johanson, AK; Masalu, J. 2009. Effect
basic oral care services on oral quality of life of primary
schoolchildren in Kilwa district Tanzania, University of Berden,
Tanzania
Medical Dictionary, 1999. Quality of life definition.Medicine net.com
www.medterms.com/script/main/art.asp?anticlekey=1185,
diunduh 13 September 2009
Moynihan, PJ. 2005. The role and nutrition in the etiology and preven
ting oral diseases, Bulletin WHO, September, 85 (9) 604-699
Sheiham, A. 2005. Oral Health, General Health and Quality of Life,
Bulletin of the World Health Organization, September, 83 (9);
641-720
Skaret, E; Astrom, AN; Haugejorden, O. 2004. Oral Health-Related
641-720 Quality of Life. http://www.egohid.eu/Documents/
Oral%20HealthRelated%20Quality%of20%Life.html.Diunduh
17 September 2009
Niken-Sriyono, 2001. Perbedaan antara persepsi lansia terhadap
kesehatan mulut dengan keadaan status kesehatan mulut. Maj
Ked
Gigi (Dent.J) 34 (3a): 268-271
Niken-Sriyono, 2009. Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan,
Medika, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta
WHO 1977. Oral health Surveys, Basic Methods, 2nd ed, Geneva
WHO, 1984. Prevention Methods and Programmes for Oral Diseases,
WHO Technical report Series 713, Geneva
WHO, 2007. Continous improvement oral health in the 21st century
the approach of oral health program, Geneva

Leave a Reply