Pidato Memperingati Hari Mahasiswa Kedokteran[1]

Teman Sejawat yang terhormat

33 tahun yang lalu, pada  tanggal 20 september 1981,  Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) berdiri dan dideklarasikan sebagai  wadah bagi mahasiswa kedokteran Indonesia. Hari berdirinya ISMKI ini  juga dijadikan sebagai hari mahasiswa kedokteran Indonesia.

Hari ini adalah hari jadi kita semua wahai mahasiswa kedokteran. Sejarah mencatat mahasiswa kedokteran memegang peranan yang penting dalam meraih kemerdekaan. Periode 1908, kelompok pertama yang memiliki semangat nasionalisme adalah dokter. Inilah yang menjadi embrio kesadaran berbangsa yang pada gilirannya melahirkan semangat kebangkitan nasional. Dokter Wahidin Sudirohusodo penggagas berdirinya Budi Utomo menyadari bahwa keterbelakangan dan ketertindasan rakyat harus dihadapi melalui organisasi yang dapat memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa. Gagasan ini kemudian diwujudkan oleh mahasiswa kedokteran (Sutomo dan teman-teman mitra profesi lainnnya).Sejarah mencatat, 20 Mei 1908 organisasi Budi Utomo lahir. Hari lahir tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah awal kebangkitan bangsa yang bertujuan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat. Budi Utomo kemudian bukan hanya milik para dokter. Organisasi ini menjadi milik bersama yang dijalankan (untuk pertama kalinya) juga oleh tokoh pemerintahan pada waktu itu.

 

Tetapi kita tidak duduk pada tahun 1908, tidak berada pada tahun 1945 dan tidak sedang bermimpi di tahun 1974 dimana sentral pergerakan mahasiswa berada pada mahasiswa kedokteran. Kita berada pada tahun dengan kondisi perjuangan mahasiswa kedokteran nya yang nampak kritis. Saat ini jarang sekali mahasiswa kedokteran berdiskusi mengenai kepentingan rakyat. Paradigma berfikir kita hanya berkutat pada kepentingan yang memang menyangkut hajat diri kita sendiri dan apatis terhadap kepentingan publik. Ada stigma dari masyarakat bahwa mahasiswa kedokteran hanya berkutat pada diktat teoritis tanpa mempedulikan realitas yang ada dalam masyarakat. Hal tersebutlah yang mesti kita luruskan kembali sehingga pemikiran-pemikiran tersebut tidak berlanjut pada pragmatisme yang memiliki anggapan mahasiswa kedokteran tidak responsif terhadap keadaan yang terjadi di masyarakat.

Dengan kondisi seperti itu, peranan mahasiswa kedokteran di masa kekinian masih dinilai kurang, hal ini bisa dilihat dari kurangnya fokus dan pembahasan yang mendalam mengenai kesehatan masyarakat dan problematikanya, sehingga mengakibatkan kurangnya daya ungkit yang tinggi untuk memperbaiki keadaan yang ada. Kajian-kajian mengenai permasalahan kesehatan masyarakat saat ini telah bergeser dengan kajian-kajian yang bersifat teknis kegiatan insidental. Dan output dari kegiatan-kegiatan yang insidental menjadikan lembaga kemahasiswaan kedokteran hanya sebagai event organizer saja dan bukan merupakan basis pembentukan karakter kepribadian selayaknya mahasiswa yang ideal.

 

Stigma baik masyarakat terhadap mahasiswa kedokteran kini mulai mengabur. Bahkan banyak mahasiswa lintas fakultas atau program studi yang meyakini bahwa mahasiswa kedokteran bersifat apatis, egois, ekslusif, sukar bergaul, nonorganisatoris, study oriented dan introvert. Begitu burukkah mahasiswa kedokteran di mata mereka? Atau mungkin mahasiswa kedokteran sendirilah yang membuat pergeseran stigma itu terjadi? Atau sistem pendidikan yang memaksanya menjadi seperti itu? Atau pengamat yang salah melihat?

 

Tidak bijak rasanya, bila menumpahkan semua kesalahan pada  mahasiswa kedokteran. Pun juga bila sistem pendidikan dijadikan alasan. Ada idealisme yang dahulu terbukti bisa menengahinya. Namun tampaknya kini sudah memudar dan tersamar. Mungkin benar terhimpit sistem, atau juga terjebak gaya hidup. Bisa juga karena terfragmen oleh golongan, suku, ras, agama dan kedaerahan. Ditambah lagi dengan idealisme lain berbasis ego mulai bermunculan dan merancu. Tampaknya semua itu semakin mengaburkan idealisme dasar yang seharusnya kita pertahankan. Hanya mereka yang mau menyisihkan daya dan energinya yang bisa membawa perubahan. Membawa idealisme yang dulu membuat mahasiswa kedokteran sempat menjadi yang terdepan. Menyusunnya sebagai pelindung moral, menyatukannya menjadi kekuatan besar dan mengembalikan citra mahasiswa kedokteran. Ingat bahwa realita itu ada tanpa diminta, sedangkan idealisme ada karena diperjuangkan.

Pada hari ini, mari kita bertekad mewujudkan itu. Mulailah berjuang secara prbadi, melihat sekeliling, mempertajam kepekaan, mengeruk rasa peduli, meruntuhkan egoisme diri. Jadikan momen ini sebagai semngat untuk merubah diri menjadi lebih baik. Menjadikan mahasiswa kedokteran lebih peka terhadap sekitar. Jadikan momen ini sebagai cambuk bagi kita untuk terus berjuang, mematahkan anggapan miris mengenai mahasiswa kedokteran saat ini. Menjadikan kita ingin meningkatkan eksistensi kita di mata masyarakat. Bukan sekedar dokter yang hanya mengobati dan mengobati, namun sebagai dokter yang peduli segala aspek terhadap kesehatan nasional. Untuk Indonesia yang sehat dan sejahtera.

Hidup Mahasiswa Kedokteran !