Pidato Pengukuhan Prof Dr Bambang Irawan Martohusodo Sppd

PENCEGAHAN PRIMER PENYAKIT
JANTUNG KORONER GUNA MENURUNKAN
ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN AKIBAT
SERANGAN JANTUNG




UNIVERSITAS GADJAH MADA


Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada


Oleh:
Prof dr Bambang Irawan Martohusodo SpPD-KKV,
SpJP [K], FIHA.
2
PENCEGAHAN PRIMER PENYAKIT
JANTUNG KORONER GUNA MENURUNKAN
ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN AKIBAT
SERANGAN JANTUNG




UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada

Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar
Universitas Gadjah Mada
pada tanggal 13 Agustus 2007
di Yogyakarta


Oleh:
Prof dr Bambang Irawan Martohusodo SpPD-KKV,
SpJP [K], FIHA.
3
PENCEGAHAN PRIMER PENYAKIT JANTUNG KORONER
GUNA MENURUNKAN ANGKA KESAKITAN DAN
KEMATIAN AKIBAT SERANGAN JANTUNG

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang selalu
mengakibatkan permasalahan yang besar di kalangan medis,
mengingat meningkatnya baik frekuensi maupun komplikasinya
seiring dengan makin berkembangnya suatu negara. Pada awal abad
ke dua puluhan penyakit kardiovaskuler hanya bertanggung jawab
sebesar kurang dari 10% seluruh penyebab kematian di dunia. Pada
akhir abad tersebut angka kematiannya sudah mencapai hampir 50%
di negara yang sudah maju dan 25% di negara yang sedang
berkembang (World Health Organization,1999; Murray & Lopez,
1996). Di Indonesia sendiri belum ada data yang pasti. Dengan makin
berkembangnya jumlah penduduk dan urbanisasi serta meningkatnya
faktor risiko (termasuk obesitas, penyakit gula, kenaikan kadar lemak
didalam darah, dan hipertensi) maka diramalkan di Indonesia penyakit
jantung koroner ini akan meningkat dengan tajam (Irawan, 2005). Di
negara berkembang dari tahun 1990 sampai dengan 2020 angka
kematian akibat penyakit jantung koroner akan meningkat 137% pada
laki-laki dan 120% pada wanita, sedangkan di negara maju
peningkatannya lebih rendah yaitu 48% pada laki-laki dan 29% pada
wanita (Yusuf et al., 2001).
Diramalkan pada tahun 2020, penyakit kardiovaskuler
mengakibatkan kematian 25 juta penderita setiap tahunnya dan oleh
karenanya penyakit jantung koroner akan merupakan penyebab
kematian dan kecacatan nomer satu di dunia.
Pada tahun 1900an penyakit infeksi dan malnutrisi merupakan
penyebab kematian yang utama di dunia ini, namun dengan makin
berkembangnya negara dan teratasinya baik penyakit infeksi maupun
malnutrisi maka penyakit jantung koroner secara bertahap mulai
meningkat kejadiannya, dan diramalkan pada tahun 2020 merupakan
penyebab kematian paling tidak satu dari tiap tiga kematian (Murray
& Lopez, 1996).
Sebetulnya apakah yang disebut penyakit jantung koroner?
Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang mengakibatkan
4
sebagian otot jantung mengalami kekurangan oksigen, memar dan
kematian akibat adanya gangguan hantaran oksigen dari pembuluh
darah koroner yang bertugas memberi oksigen. Gangguan hantaran ini
paling sering disebabkan oleh adanya penyumbatan jalan pembuluh
darah koroner sebagai akibat terbentuknya plak pada dinding lumen
pembuluh darah koroner tersebut. Oleh karena kelainannya di
pembuluh darah koroner, maka walaupun akibatnya terjadi pada otot
jantung akan tetapi penyakitnya disebut penyakit jantung koroner.
Berbagai faktor telah terbukti mampu meningkatkan risiko
seseorang untuk mengalami penyumbatan koroner akibat terbentuknya
plak tersebut, diantaranya kebiasaan merokok, penyakit diabetes yang
tidak terkontrol, hipertensi, kenaikan kadar kolesterol dan trigliserid
dalam darah, kurang olah raga, stres psikis, dan kegemukan. Faktor-
faktor ini merupakan faktor yang masih bisa di ubah atau paling tidak
di pengaruhi, di kontrol dengan tujuan untuk menurunkan risiko
terbentuknya plak di pembuluh darah koroner. Faktor lain seperti jenis
kelamin pria (lebih sering kena penyakit jantung koroner), umur yang
makin meningkat, riwayat bahwa orang tuanya kena penyakit jantung
koroner pada usia dibawah 50 tahun. Sehingga pada dasarnya
pencegahan penyakit jantung koroner hanya bisa dilakukan dengan
mengontrol faktor risiko yang masih bisa diubah seperti kebiasaan
merokok, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes mellitus, obesitas dan
kurang olah raga, sedangkan faktor jenis kelamin, riwayat keluarga
dan umur jelas sudah tidak bisa dipengaruhi. Akhir-akhir ini
diketemukan juga peningkatan kadar homosistein didalam darah
merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner (Boushey
et al., 1995; Clarke et al.,1991; Irawan et al., 2005). Makin banyak
kita mempunyai faktor risiko, makin besar kesempatan kita untuk
terkena serangan jantung atau stroke.
Pembuluh darah koroner seperti juga pembuluh darah diseluruh
badan, mempunyai selapis sel yang meliputi dinding sebelah
dalamnya yang kontak dengan darah yang disebut endotel. Pada
awalnya sel-sel endotel ini hanya dianggap sebagai tempat lewat
nutrisi dalam pembuluh darah, namun pada tahun 1980 Furchgott dan
Zawadzki dapat membuktikan bahwa sel-sel endotel tersebut bisa
berfungsi secara aktif untuk mempertahankan kestabilan pembuluh
darah dan sejak itu sel-sel tersebut sudah dianggap sebagai organ yang
5
secara aktif dapat ber-interaksi dengan unsur-unsur didalam darah
untuk mengatur tonus, struktur maupun kestabilan pembuluh darah
tersebut. Endotel dengan sel-sel otot polos dilapisan bawahnya dapat
mensintesa dan melepaskan zat-zat vaso-aktif yang berguna untuk
mengatur dan mempertahankan tonus maupun struktur normalnya
(Luscher & Barton, 1997; Harrison, 1997). Gangguan fungsi endotel
akan berakibat terganggunya keseimbangan di dalam vaskuler tersebut
sehingga terjadilah rentetan pembentukan plak yang disebut nantinya
sebagai penyakit jantung koroner (Badimon et al., 1993). Sel-sel
endotel tersebut mempunyai sifat: pertama, rapat, artinya antar sel satu
dengan lainnya sangat rapat sehingga tidak bisa ditembus oleh
molekul yang besar seperti low density lipoprotein-cholesterol (LDL-
kolesterol), sel-sel darah putih (monosit); kedua, licin artinya sel-sel
trombosit yang juga ikut dalam aliran darah bersama sel-sel darah
putih dan sel-sel darah merah seandainya menempel pada dinding
endotel akan langsung tergelincir sehingga tidak bisa mempengaruhi
keutuhan pembuluh darah koroner tersebut; ketiga, mudah mengalami
relaksasi, sehingga bisa mengatur hemodinamika aliran darah di
dalam pembuluh darah tersebut.
Berbagai faktor risiko di atas merupakan stres oksidatif yang
mengkibatkan sel-sel endotel terganggu fungsinya (disfungsi endotel).
Hubungan antar sel yang semula amat rapat akibat disfungsi endotel
menjadi agak renggang dan mengakibatkan baik LDL-kolesterol
maupun monosit bisa menembus antar sel-sel endotel tersebut. Sel-sel
monosit bisa menembus dinding endotel tersebut dan berubah menjadi
sel-sel raksasa yang nantinya akan memakan LDL-kolesterol yang
sudah mengalami oksidasi menjadi Oks-LDL. Makin banyak Oks-
LDL yang dimakan sel-sel tersebut, makin menjadi besar dan
berwarna kekuningan; sel-sel tersebut dinamakan sel busa. Sel-sel
busa ini kalau sudah saatnya akan mati dan menempel pada dinding
dalam endotel sebagai usapan lemak (fatty streak). Trombosit yang
bisa menempel pada endotel akan mengeluarkan zat yang
mengakibatkan sel-sel otot di bawah endotel melakukan migrasi
kearah usapan lemak tersebut, dan sel-sel otot ini akan memproduksi
jaringan elastin, fibrosa dan proteoglikan untuk membentuk matrik
atau dinding dari usapan lemak yang terjadi tadi. Sehingga sekarang
terbentuklah plak dengan kandungan lemak yang terdapat di inti
6
pusatnya (lipid core) dan dinding plak yang mengandung sel-sel otot,
sel-sel radang, jaringan fibrosa, elastin, dan proteoglikan. Plak dengan
lipid core yang besar dan dinding plak yang tipis serta banyak
mengandung sel-sel radang akan mudah pecah (ruptur) dan
mengakibatkan infark jantung atau serangan jantung. Sebaliknya plak
dengan lipid core yang kecil dan dinding plak yang tebal tidak mudah
mengalami ruptur sehingga terjaga dari serangan jantung, namun
biasanya terganggu hidupnya karena keluhan-keluhan nyeri dada
akibat sumbatan koroner yang mengakibatkan gangguan oksigenasi
pada otot jantung secara keseluruhan. Terdapatnya plak pada
pembuluh darah koroner dengan manifestasi nyeri dada yang khas
akibat kekurangan oksigen pada otot jantung sudah disebut sebagai
penderita penyakit jantung koroner, baik sudah pernah ataupun belum
pernah mendapatkan serangan jantung. Orang-orang dari golongan ini
sudah bisa dikatagorikan penderita penyakit jantung koroner.
Jelas disini bahwa usaha untuk mencegah terjadinya penyakit
jantung koroner, harus sudah secara awal sekali dilakukan pencegahan
ataupun pengontrolan terhadap faktor risiko yang ada pada penderita
tersebut sehingga kemungkinan terjadinya proses pembentukan plak
(proses atherogenesis) bisa dicegah ataupun paling tidak diperlambat
(Dzau V et al., 1991). Pada penderita yang sudah terlanjur terbentuk
plak dan bahkan telah menderita penyakit jantung koroner harus selalu
diupayakan pengontrolan faktor risiko yang lebih ketat lagi agar
terbebas dari serangan jantung . Pencegahan fase awal (sebelum
menderita penyakit jantung koroner) disebut pencegahan secara
primer (primary prevention), pencegahan fase lanjut, saat menderita
penyakit jantung koroner disebut pencegahan sekunder (secondary
prevention
) dan pencegahan setelah dilakukan intervensi jantung
seperti pelebaran pembuluh darah koroner dengan balon, sten dan
operasi jantung bypass disebut pencegahan tersier.
Baik pencegahan primer, sekunder maupun tersier pada
prinsipnya sama, hanya pada sekonder dan tersier target yang mesti
dicapai menjadi lebih rendah atau ketat.



7
Pencegahan primer meliputi beberapa hal yaitu:
Kebiasaan merokok; perokok aktif merupakan faktor risiko
yang besar untuk serangan jantung atupun stroke. Kebiasaan merokok
merupakan faktor yang paling bisa dicegah dari penyebab kematian di
USA. Rokok mengakibatkan percepatan proses atherosklerosis
sebagai akibat kerusakan dinding pembuluh darah sehingga terjadi
disfungsi endotel dan hal ini mengakibatkan mudahnya kolesterol
menembus endotel dan proses atherogenesis akan mulai jalan. Rokok
juga menurunkan kadar HDL-kolesterol (kolesterol yang baik).
Kebiasaan merokok tidak hanya mengancam jantung saja, akan tetapi
juga risiko penyakit paru dan keganasan. Pada tahun 1990
diperkirakan 6% dari seluruh kematian yang terjadi di dunia
disebabkan oleh kebiasaan merokok. Pada tahun 2020 dengan
meningkatnya baik penggemar rokok maupun meningkatnya tingkat
perekonomian persentase kematian akibat rokok akan meningkat lebih
dari dua kalinya (World Health Organization,1997). Kebiasaan
merokok termasuk salah satu faktor risiko yang masih bisa diubah dan
dengan sendirinya upaya penghentian kebiasaan merokok dapat
mencegah kejadian penyakit jantung koroner. Menurut Centers for
disease control
pada tahun 1988 di USA kebiasaan merokok telah
membunuh lebih dari 400.000 orang setiap tahunnya. Walaupun
prevalensi perokok di USA tetap stabil pada angka 25% (Fiore, 1992),
namun penggunaan rokok malah meningkat dikalangan muda dan
remaja (Wechsler et al., 1998). Hampir satu juta pemuda Amerika
mulai menjadi perokok setiap tahunnya (Centers for disease control,
1988).
Akhir-akhir ini lebih dari satu milyar penduduk dunia adalah
perokok. Rata-rata sekitar 48% penduduk dewasa muda di dunia
adalah perokok dan jumlahnya akan terus meningkat sekitar 3,4%
setiap tahunnya (World Health Organization,1999). Di negara yang
berkembang jumlah perokok ternyata sangat tinggi dan mencapai 73%
di Vietnam (Jenkins et al., 1997) dan bahkan lebih tinggi lagi di Nepal
(Pandey et al., 1988). Sedangkan di China, pada survei tahun 1996
didapatkan pada laki-laki perokok ada 63 % sedangkan pada wanita
yang perokok ada 3,8% (Yang et al., 1999). Penelitian di China tahun
1990 terdapat satu juta kematian, 13%nya diduga ada hubungannya
8
dengan rokok dan akan meningkat menjadi 3 juta kematian di tahun
2025 (Liu et al., 1998).
Kebiasaan merokok merupakan kebiasaan jelek yang bisa
mengancam jantung, setiap batang rokok yang dihisap umur
berkurang 5 menit dan menurut studi dari Framingham telah
ditunjukkan terjadinya kenaikan risiko kematian akibat kejadian
jantung sebanyak 18% pada pria dan 31% pada wanita setiap 10
batang rokok yang dihisap setiap harinya. Tidak hanya orang merokok
yang mendapat risiko, akan tetapi orang-orang sekitarnya yang
terkena asap rokok tersebut (perokok pasif) juga terkena risikonya,
terutama pada anak-anak, demikian juga baik cerutu maupun
pemakaian pipa rokok kesemuanya tetap meningkatkan risiko
penyakit jantung koroner (Glantz and Parmley, 1991; Kawachi et al.,
1997) . Sekitar 40.000 kematian terjadi setiap tahunnya pada mereka
yang tergolong perokok pasif (Seth, 2005). Ada usaha dari pabrik
rokok dengan menurunkan kandungan tar pada asap rokok dan
mengklaim bahwa rendahnya kadar tar di dalam asap rokok dapat
mencegah meningkatnya risiko penyakit jantung pada perokok. Hal
tersebut tidak benar, satu-satunya cara menangkal risiko dari rokok
hanya menghentikan kebiasaan merokok dan menghindarkan diri dari
asap rokok. Di negara-negara maju dan di beberapa tempat tertentu di
Indonesia telah menyediakan tempat khusus untuk para perokok dan
dilarang merokok di luar ruangan tersebut. Amat menyenangkan bagi
para dokter bahwa pemerintah sudah mengharuskan menuliskan label
risiko yang akan diterima oleh para perokok pada setiap bungkus
rokok yang diperdagangkan.

Hipertensi; sekitar 50 -60 juta penduduk di USA mengidap
hipertensi kalau dianggap tekanan darah tinggi adalah tekanan darah
lebih besar dari 140/90 mmHg (JNC V, 1993). Hipertensi merupakan
faktor risiko penyakit jantung koroner. Hipertensi ini menjadi hal yang
sangat penting mengingat tidak semua penderita hipertensi dapat
terjaring oleh dokter dan diantara para penderita hipertensi yang
terjaring tersebut tidak semua mau berobat, sedangkan mereka yang
mau berobat tidak semua bisa terkontrol dengan baik dan mencapai
taget tekanan darah yang dianjurkan. Pada penelitian oleh National
Health And Nutrition Examination Survey
(NHANES) pada tahun
9
1991 1994, hanya sekitar 27% penderita yang terdiagnosa oleh
dokter sebagai hipertensi dapat terkontrol dengan tekanan darah
dibawah 140/90 mmHg. Yang terkenal sampai saat ini adalah rumus
separoh, artinya dari seluruh populasi yang dapat terdiagnosa
hipertensi hanya 50% dan dari 50% yang terdiagnosa hipertensi ini
yang mau berobat ke dokter hanya 50%nya. Dari 50% penderita yang
berobat yang bisa mencapai target hanya 50%nya, jadi dokter hanya
bisa mengobati 12,5% dari seluruh populasi hipertensi (JNC VI,
1997). Yang lebih parah lagi adalah kesetiaan minum obat dan
mengikuti anjuran dokter tidak terdapat 100% dari 12,5% tersebut.
Oleh karena itu penanganan hipertensi tidak bisa dilakukan oleh
tenaga medis semata, akan tetapi kerja-sama yang terpadu dengan
penderita, keluarga penderita dan bahkan lingkungan penderita sangat
penting didalam usaha mencegah terjadinya penyakit jantung koroner
di lingkungan penderita hipertensi. Ada beberapa hal yang beredar di
masarakat awam, sebagian dokter bahkan dokter ahli juga yang perlu
merupakan catatan penting. Anggapan bahwa tekanan darah rendah
seyogianya harus dinaikkan agar terhindar dari penyakit jantung
maupun stroke walaupun tidak mengakibatkan keluhan pada penderita
adalah pemikiran yang salah. Penelitian dari JNC VII (2003) bahkan
mengatakan setiap kenaikan tekanan darah sistolis 20 mmHg dan atau
diastolis 10 mmHg yang dimulai dari tekanan 115/75 akan
meningkatkan risiko kejadian jantung sebesar dua kalinya. Oleh
karenanya usaha meningkatkan tekanan darah dengan cara apapun
bukan kebaikan yang didapat akan tetapi hanya peningkatan risiko
terhadap jantung dan pembuluh darah. Usaha meningkatkan tekanan
darah dengan makan sate kambing juga ternyata tidak akan
meningkatkan tekanan darah (Irawan, 2004). JNC VII (2003)
memberikan beberapa pesan sebagai berikut, pada penderita dengan
usia lebih dari 50 tahun, peningkatan tekanan sistolis diatas 140
mmHg lebih berarti dibandingkan dengan peningkatan tekanan darah
diastolis untuk terjadinya risiko pada jantung dan pembuluh darah.
Orang dengan tekanan darah yang normal berumur 50 tahun, sekitar
90% ada risiko terjadi hipertensi dari sisa hidupnya, oleh karena itu
dianjurkan untuk selalu mengontrol tekanan darah secara periodik
bagi mereka yang sudah berusia 50 tahun walaupun selama itu
tekanan darahnya normal. Golongan orang dengan tekanan darah
10
sistolis 120 sampai dengan 139 mmHg dan atau tekanan diastolis 80
sampai 89 mmHg sudah dapat digolongkan sebagai kondisi pre-
hipertensi, oleh karena itu dianjurkan untuk mulai merubah pola hidup
yang lebih aman, dengan mengatur makanan sehat, olah raga secara
rutin, menjaga berat badan yang ideal, mengurangi konsumsi garam
dan membatasi makanan lemak serta banyak sayur dan buah-buahan.
Kebanyakan pasien hipertensi membutuhkan lebih dari satu jenis obat
anti-hipertensi untuk mencapai target yang diinginkan dan yang paling
penting adalah motivasi pada pasien harus selalu diberikan oleh
tenaga medis. Pengontrolan tekanan darah sampai dengan target dapat
mencegah sekitar 62% terjadinya gagal jantung, 38% terjadinya stroke
yang mengakibatkan penderita meninggal ataupun tidak, 16%
terjadinya serangan jantung, dan 21% terjadinya penyakit pembuluh
darah yang mengakibatkan kematian (Collins et al., 1990).
Target tekanan darah yang dianjurkan saat ini adalah mencapai
tekanan darah yang optimal yaitu kurang dari 120 mmHg sistolis dan
kurang dari 80 mmHg diastolis.

Kenaikan lemak di dalam darah; orang gemuk tidak selalu
mempunyai kadar lemak yang tinggi di dalam darah dan sebaliknya
orang kurus tidak jarang didapatkan tingginya kadar lemak didalam
darah. Lemak di dalam darah yang harus diwaspadai adalah kolesterol
total, LDL-kolesterol dan trigliserid yang kadarnya terlalu tinggi di
dalam darah serta kadar HDL-kolesterol yang terlalu rendah di dalam
darah karena keempat hal tersebut dapat meningkatkan risiko
berkembangnya proses aterogenesis atau terbentuknya plak di dalam
pembuluh darah yang akan ber akhir salah satunya sebagai penyakit
jantung koroner selain stroke dan gagal ginjal. Kolesterol adalah
substansi seperti lemak yang halus dan terdapat di dalam darah dan
seluruh sel-sel dalam badan. Kolesterol ini terkandung didalam plak
atherom dan merupakan faktor risiko yang besar pada penyakit
jantung koroner. Ada dua kolesterol yang penting dalam penyakit
jantung koroner; LDL-kolesterol yang merupakan kolesterol jahat
karena tinggi kadarnya didalam darah akan meningkatkan risiko
penyakit jantung koroner dan HDL-kolesterol atau disebut kolesterol
yang baik karena tinggi kadarnya akan merupakan prokteksi terhadap
penyakit jantung koroner. HDL-kolesterol ini membawa kelebihan
11
kolesterol ke hati untuk selanjutnya dikeluarkan dari tubuh.
Rendahnya kadar HDL-kolesterol (kurang dari 35 mg%) merupakan
faktor risiko, namun hal ini bisa diubah dengan olah raga secara rutin,
menghentikan kebiasaan merokok, menurunkan kadar trigliserid
dalam darah dan berat badan bagi mereka yang obesitas dengan diet
dan kalau perlu memakai obat-obatan. Diet harus merupakan hal
utama yang dikerjakan terlebih dahulu pada penderita dengan
kenaikan kadar lemak di dalam darah, dan baru kalau diet saja tidak
berhasil maka dipertimbangkan penambahan dengan obat. Harus
disadari oleh penderita bahwa diet dan kalau perlu penambahan obat
ini harus dilakukan dalam jangka panjang, bahkan bukan tidak
mungkin untuk seumur hidup. Tanpa diet, obat-obatan tersebut tidak
banyak membantu dan dengan penambahan olah raga yang rutin maka
tujuan perubahan pola hidup untuk mencapai hidup sehat dan
terhindar dari penyakit jantung bisa berhasil.
Berbagai penelitian telah membuktikan dan mendukung konsep
LDL-kolesterol merupakan faktor yang terpenting dalam proses
aterogenesis (Irawan 2005). Pada awalnya LDL-kolesterol hanya
dianggap sebagai deposisi kolesterol di dalam plak semata, namun
belakangan ini sudah mulai dicurigai sebagai agen pro-radang (JNC
VI, 1997) dan hal ini telah membuka wawasan bahwa proses radang
kronis ikut berperan di dalam proses aterogenesis. Hubungan antara
hipertensi dan kenaikan kadar lemak di dalam darah sangat dekat,
tidak jarang penderita hipertensi juga menderita kenaikan kadar lemak
di dalam darah dan bahkan juga dengan diabetes mellitus (Kannel,
1977). Kenaikan kadar kolesterol akan meningkatkan risiko penyakit
jantung koroner; kenaikan kolesterol 10% dari normal akan
meningkatkan risiko penyakit koroner sebesar 20 30% dan makin
muda usia penderita dengan hiperkolesterolemia makin tinggi
risikonya (LaRosa et al., 1990; Law et al., 1994). Kadar LDL-
kolesterol rendah ternyata juga akan disertai dengan risiko yang
rendah walaupun terdapat faktor risiko lain seperti kebiasaan
merokok, diabetes dan hipertensi (Flavahan, 1992).

Diabetes Mellitus
; penyakit gula atau diabetes mellitus
merupakan faktor risiko pada penyakit jantung koroner dan pada
penderita penyakit gula yang tidak terkontrol dianggap setara dengan
12
penderita bukan penyakit gula yang pernah mengalami serangan
jantung (Haffner et al., 1998). Oleh karena itu pengontrolan gula
darah pada penderita penyakit gula sangat penting agar tidak masuk
didalam risiko. Olah raga, menjaga kestabilan berat badan yang tidak
berlebihan, diet sesuai dengan kepentingan dan kalau diperlukan
pemberian obat anti diabetes harus rutin dilakukan.

Mengatur pola hidup, mengatur pola hidup dimaksudkan
untuk menjaga agar kita terhindar dari faktor risiko, meliputi olah raga
secara rutin dan diet agar terhindar dari hipertensi, penyakit gula dan
obesitas (kegemukan). Masing masing diet akan berbeda sesuai
dengan tujuannya, oleh karenanya kerja-sama dengan ahli gizi dan
lingkungan baik di keluarga, kerabat, teman dekat dan teman kerja
amat penting guna menjamin berhasilnya perubahan pola hidup ini.
Perubahan pola hidup tidak akan berhasil tanpa kemauan yang keras,
kesadaran yang tinggi dari penderita itu sendiri, oleh karena itu
pengertian dan motivasi harus selalu diberikan oleh siapa saja
terutama dokternya agar apa yang dilakukan ini bisa mencapai tujuan.
Pencapaian berat badan yang ideal sangat diperlukan pada penderita
dengan obesitas (kegemukan). Demikian juga olah raga telah terbukti
bermanfaat pada penderita penyakit gula (Boden, 2001). Olah raga
teratur sangat bermanfaat dalam membantu pengontrolan gula darah
pada penderita penyakit gula. Olah raga akan meningkatkan
kepercayaan diri dan menghilangkan rasa cemas serta menimbulkan
rasa nyaman hal ini akan juga membantu penderita dalam hal
kepatuhan minum obat dan dietnya (Irawan, 2005). Olah raga tidak
hanya membuat tampil lebih percaya diri, tetapi juga merupakan
hiburan. Beberapa keuntungan pencegahan penyakit jantung koroner
yang lain adalah kemampuannya menurunkan tekanan darah,
meningkatkan HDL-kolesterol dan membantu menstabilkan berat
badan. Oleh karena itu olah raga secara tidak langsung dapat
menurunkan faktor risiko penyakit jantung koroner. Aktivitas fisik
yang sedang saja kalau dikerjakan secara rutin 30 menit setiap hari
seperti jalan kaki dan berkebun sudah cukup ada manfaatnya.
Aktivitas yang lebih berat lagi seperti kerja-rumah tangga, berdansa
maupun aktivitas aerobik seperti renang, lari, bersepeda dan jogging
sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesegaran jantung dan paru.
13
Hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai olah raga bagi mereka
yang tidak biasa olah raga adalah memeriksakan diri terlebih dahulu
apakah mampu untuk melakukan olah raga. Olah raga yang bersifat
aerobik dan ritmis lebih dianjurkan dan bukanlah olah raga yang statis
seperti angkat besi. Pada tiap sesi olah raga harus mencapai 50 70%
VO2max dan berlangsung antara 20 sampai 45 menit. VO2 max dapat
dihitung secara tidak langsung dengan menentukan frekuensi jantung
maksimal. VO2max = frekuensi jantung maksimal = 220 dikurangi
umur, dan olah raga tersebut harus mencapai denyut nadi/menit 50 –
70%nya dan pada frekuensi denyut nadi/ menit ini dipertahankan
selama 20 sampai dengan 45 menit dan dilakukan secara rutin 3
sampai 4 kali/minggu. Kalau hal ini dilakukan 5 kali/minggu dapat
menurunkan berat badan dimana total pengeluaran kalori tiap
minggunya antara 700 sampai dengan 2000 kalori (Wheeler, 1999).
Untuk berhasilnya upaya pencegahan penyakit jantung koroner,
tidak hanya diperlukan tenaga medis semata, kerja-sama dengan
penderita, niat yang kuat dari penderita, kesadaran keluarga,
lingkungan dan pekerjaan sangat penting untuk berhasilnya usaha ini.
Penyuluhan-penyuluhan pada masarakat lewat media apa saja sangat
penting untuk menyadarkan masarakat betapa bahayanya penyakit
jantung koroner dan pentingnya usaha pencegahan secara awal agar
tidak terkena serangan jantung dikemudian hari. Team edukator bisa
meliputi baik dari kalangan dokter, perawat, ahli nutrisi, pelatih olah
raga, dan tenaga kesehatan lainnya. Dicantumkannya peringatan
tentang bahaya merokok merupakan salah satu usaha pemerintah ikut
berpartisipasi didalam usaha pencegahan penyakit jantung koroner ini.
Pencegahan yang bisa berhasil akan dapat menghemat biaya yang
tidak sedikit, dari pemondokan di rumah sakit, tindakan intervensi
jantung baik untuk diagnosa maupun terapi dan bahkan tindakan
operasi jantung dan belum lagi menurunnya kemampuan fisik setelah
kena serangan jantung (Hansson et al.,2002).




14
Kepustakaan

Badimon J.J., Fuster V., Chesebro J.H., Badimon L. 1993, Coronary
atherosclerosis, a Multifactorial disease. Circulation;87 [Suppl
II]:II3-II6
.
Harrison D.G. 1997, Endotelial function and oxidant stress. Clin
Cardiol;20[Suppl II; II11-II17.
Boden G. 2001, Pathogenesis of type 2 diabetes: Insulin resistance.
End Met Clin North Am;30:801-15.
Boushey C.J., Bereford S.A., Omenn G.S. 1995, A Quantitative
Assesment of Plasma Homocysteine as a Risk Factor for
Vascular Disease. JAMA;274:1049-56.
Centers for Disease Control, 1988, The Health Consequences of
Smoking: Nicotine Addiction. A Report of the surgeon
General.Rockville, MD, US Departement of Health and Human
Service, Public Health Service. Centers for Disease Control.
Clarke R., Daly L., Robinson K., Naughten E., Cahalane S., Fowler
B., Graham I. 1991, Hyperhomocysteinemia: An Independent
Risk Factor for Vascular Disease. N Engl J. Med;324:1149-
55.

Collins R., Peto R., MacMahon S. 1990, Blood pressure, stroke, and
coronary heart disease; Part 2, short-term reductions in blood
pressure overview of randomised drug trials in their
epidemiological contex. Lancet;335:827-38.
Dzau V., Braunwald E. 1991, Resolved and unresolved issues in the
prevention and Treatment of Coronary Artery Disease: A
workshop consensus statement. Am Heart J. ;121:1244-63.
Fiore, M.C., 1992, Trends in cigarette in the United States: the
Epidemiology of tobacco use. Med Clin North Am;76:289-303.
Flavahan N.A. 1992, Atherosclerosis or lipoprotein-induced
endothelial dysfunction: Potential mechanisms underlying
reduction in EDRF nitric oxide activity. Circulation ;85:19-27.
Furchgott R.F., Zawadzki J.V. 1980, The Obligatory role of
endothelial cells in the Relaxation of arterial smooth muscle by
acethylcholine. Nature;299:373-6.
Glantz S.A., Parmley W.W. 1991, Passive smoking and Heart
15
Disease: Epidemiology, Physiology, and Biochemistry.
Circulation;83:1-12.
Haffner S.M., Lehto S., Ronemaa T., Pyorala K., Laasko M. 1998,
Mortality from coronary heart disease in subjects with type 2
diabetes and in non diabetic subjects with and without prior
myocardial infarction. N Engl J Med;339:229-34.
Hansson L., Llyod A., Anderson, P. 2002. Excess morbidity and cost
of failure to Achieve targets for blood pressure control in
Europe. Blood Press;11:34-45.
Irawan B. 2005. How to Reduce LDL-C Effectively? Naskah Lengkap
First Jogja Cardiology update. Medika FKUGM.
Irawan B. 2005. Reducing the Burden of Cardiovascular Disease
through Diabetes Prevention. Naskah Lengkap First Jogja
Cardiology update. Medika FKUGM.
Irawan B. 2005. Peran Low Density lipoprotein-Cholesterol terhadap
perkembangan plak aterosklerosis. JKK;4:1154-62.
Irawan B, Sjabani M, Astoni MA. 2005. hiperhomosisteinemia
sebagai faktor risiko Penyakit Jantung Koroner. JKB;21:103-10.
Jenkins C.N., Dai P.X., Ngoc D.H. 1997. Tobacco use in Vietnam :
Prevalence, Predictors, and role of the transnational tobacco
corporations.JAMA;277:1726-31.
Kawachi I., Colditz G.A., Speizer F.E., Manson J.E., Stamfer M.J.,
Willett W.C. 1997.
A Prospective Study of Passive Smoking and Coronary Heart
Disease. Circulation;95:2374-9.
LaRosa J.C., Hunninghake D., Bush D. 1990. The cholesterol facts. A
summary of evidence relating dietary fats, serum cholesterol,
and coronary heart disease. A joint statement by the American
Heart Association and the National Heart, Lung, and Blood
institute. The Task Force on Cholesterol Issues, American Heart
Association. Circulation;81:1721-33.
Law M.R., Wald N.J., Wu T. 1994. Systematic under-estimation of
association Between serum cholesterol concentration and
ischaemic heart disease in observational studies: Data from the
BUPA study. BMJ;308:363-6.
Liu B.Q., Peto R., Chen Z.M. 1998, Emerging tobacco hazards in
China Retrospective proportional mortality study of one million
16
deaths.BMJ;317:1411-22.
Luscher T.F., and Barton M. 1997, Biology of the endothelium. Clin
Cardiol ;20[Suppl II]: II3-II10.
Murray C.J.L., Lopez A.D. 1996, The Global Burden of Disease.
Cambridge, MA, Harvard School of Public Health.
Pandey M.R., Neupane R.P., Gautam A. 1988. Epidemiological study
of tobacco smoking behaviour among adults in rural community
of the hill region of Nepal with special reference to attitude and
belief. 1988. Int J Epidemiol;17:535-41.
Seth, J.B. 2005, Age Strong Live Long. Lessons from my patients.
Desert Spring Press,Ltd.
The Fifth Report of Joint National Committee on Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure [JNC V].
1993. Arch. Intern Med;153:154-83.
The Sixth Report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure.1997. Arch Intern Med.;157:2413 .
The Seventh Report of Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure.
2003. JAMA;2003:2560-72.
Wechsler H, Rigotti N.A., Gledhill-Hoyt I. 1998. Increased levels of
cigarette use among college students: A cause for National.
JAMA;280:1673-8.

Wheeler M.I. 1999. Nutrition management and physical activity as
treatment for Diabetes;Prim Care;26:857-68.
World Health Organization. 1997. Tobacco or Health: A Global Status
Report. Geneva, Switzerland.
World Health Organization. 1999, World Health Report : Making a
difference . Geneva, Switzerland..
Yang G., Fan L., Tan J. 1999. Smoking in china: Findings of the 1996
National Prevalence Survey. JAMA;282:1247-53.
Yusuf S., Reddy S., Ounpuu S., Ounpuu S., Anand S. 2001. Global
burden of cardiovascular disease. Part 1: General considerations,
the epidemiologic transition, risk factors and impact of
urbanization. Circulation;104:2746-53.

Leave a Reply