Pidato : Evaluasi Dan Berita Tentang Kebijakan UN Telah

Evaluasi dan berita tentang kebijakan UN telah menuai kritik dan saran di berbagai penjuru negeri ini. Banyak lembaga, praktisi, dan pemerhati yang kian terus menyurakan dan mengaspirasikan tentang kegagalan sistem UN di negeri ini, termasuk efektasi dari sebuah sistem pengendalian manajemen pendidikan yang mungkin hanya masuk dan tertampung di kotak sarannya kementerian pendidikan nasional Indonesia. Semoga saja hal ini ditanggapinya dengan serius, dan tidak untuk dibuang pada tong sampah.

Sejak negeri ini memiliki sebuah lembaga formal yang berwenang untuk menaungi dan memberikan kebijakan terhadap tumbuh dan berkembangnya pendidikan di negeri ini, dan sejak itulah pemerintah Indonesia konsen untuk mencari rumusan dan trobosan baru terhadap maju dan meningkatnya kualitas pendidikan negeri ini. Dari mulai input, proses, dan bahkan output dari pendidikan di negeri ini pun serius dipikirkan dan dicarikan oleh segenap peduli pendidikan negeri ini kedalam sebuah sistem yang diharapkan mampu untuk mengayomi setiap warganya agar dapat menikmati pendidikannya. Dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah jawaban atas segala permasalahan pendidikan di Indonesia.

Ebtanas, UAN, dan UN merupakan bentuk standar penilaian pemerintah terhadap peraturan perundang-undangan pendidikan dijalankan. Plus minus terhadap penilaian standar yang dilakukan oleh pemerintah baik itu berupa Ebtanas, UAN, dan UN merupakan komponen penilaian aktif siswa untuk kategori Kognitif (Pengetahuan) siswa. Tanpa menyentuh aspek afektif dan psikomotorik siswa yang merupakan komponen penuh dari hasil pembelajaran

Memang terdapat banyak persamaan antara Ebtanas, UAN, dan UN yang kesemuanya adalah bentuk dari standar penilaian pemerintah kepada siswa/inya yang telah belajar disekolah dengan aturan yang baku dari kementerian pendidikan.

Namun disisi lain, sebenarnaya Ebtanas, UAN, & UN merupakan perkembangan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah agar meningkatkan mutu pendidikan di indonesia. Namun rupanya pendidikan di negeri ini baru berhasil menilai siswa secara standar dengan penilaian ranah kognitifnya saja. sehingga banyak kalangan yang masih menyoal tentang ketidak-veran pemerintah yang menjadikan standar pengambilan keputusan itu dilakukan melalui UN. Semoga kedepanya, pemerintah dan kementerian pendidikan dapat menemukan formulasi penilaian yang bermanfaat pada tataran bentuk penilaian aspek psikomotorik dan afektifnya.

Dasar Hukum pelaksanaan UN Yang menjadi dasar tentang perlunya UN diselenggarakan sebagai berikut:
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 75 Tahun 2009 Tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2009/2010.
e.    Pasal 3 Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk:
    Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan;
    Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
    Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan;
    Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya
    Peningkatan mutu pendidikan.

Tentang Evaluasi Pembelajaran
dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa evaluasi merupakan tes yang berhubungan dengan pengukuran dan penilaian. Pengukuran disini dapat diartikan sebagai pembanding yang sifatnya kuantitatif; sedangkan penilaian merupakan keputusan terhadap ukuran baik buruknya sesuatu yang bersifat kualitatif. Seperti halnya:

1.    Penilaian hanya diarahkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dengan tanpa efek samping
2.    Penilaian tidak hanya melalui pengukuran perilaku siswa, tetapi melalui pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan lainya
3.    Penilaian itu begitu banyak ragamnya, dan sebaiknya tidak hanya dengan melalui tes, akan tetapi non test jua.
4.    Penilaian dapat memberi kesadaran kepada siswa tentang bagaimana cara yang bijaksana dan tahapan yang berkeseinambungan untuk mencapai keberhasilannya.

Sebagai Renungan Bahwa Pendidikan Itu beroleh Hasil IMTAQ & IPTEK

Rasul SAW melakukan hal yang paling utama dalam pendidikannya adalah dengan manjalankan kegiatan untuk mensyucikan akhlak yang mendekati kesempurnaan. Rasul mengutarakan kepada kita semua bahwa hal yang paling utama dalam pendidikan adalah memberikan kesadaran kepada pendidik dan peserta didiknya tentang konsep memanusiakan manusia yang didalamnya termuat bedanya manusia dengan binatang/ hewan yang dalam hal ini banyak korelasinya dengan akidah dan akhlak.

Leave a Reply