PIDATO DIES, SURYONO2010(no Copy) 1

PIDATO ILMIAH DALAM RANGKA

DIES NATALIS FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI KE-62

CALPROTECTIN SEBAGAI KANDIDAT MARKER BIOKIMIA PENYAKIT INFEKSI DAN PERANANNYA DALAM SISTEM PERTAHANAN RONGGA MULUT

[drg. Suryono,SH,Ph.D]

[Suatu pemikiran dan rencana pengembangan dari hasil riset tentang calprotectin dalam perananannya sebagai protein alami yang dihasilkan

oleh tubuh yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan dan invasi kuman sehingga manusia tetap bisa menjaga kelangsungan hidupnya]

Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta – 2010

CALPROTECTIN SEBAGAI KANDIDAT MARKER BIOKIMIA PENYAKIT INFEKSI DAN PERANANNYA DALAM SISTEM PERTAHANAN RONGGA MULUT

Yang saya hormati,

Rektor Universitas Gadjah Mada beserta jajarannya

Ketua, Sekretaris dan Anggota Senat Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Dekan, dan Staff Dekanat Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Tenaga Pendidik

Tenaga Kependidikan

Hadirin Tamu undangan,

Teman sejawat, dan Mahasiswa yang saya cintai

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat Pagi dan Salam Sejahtera

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan berkah , rahmat, dan karunia-Nya kepada kita sekalian sehingga pada hari yang berbahagia ini kita bisa berkumpul dalam keadaan sehat walafiat dalam rangka memperingati dies ke-62 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Tak lupa saya juga mengucapkan banyak terimaksih kepada Senat dan Dekan FKG yang pada hari ini memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan orasi ilmiah.

Hadirin yang saya hormati, perkenankanlah saya berdiri dihadapan bapak ibu sekalian untuk menyampaikan pidato ilmiah dengan judul :

CALPROTECTIN SEBAGAI KANDIDAT MARKER BIOKIMIA PENYAKIT INFEKSI DAN PERANANNYA DALAM SISTEM PERTAHANAN RONGGA MULUT

Bapak dan ibu hadirin yang saya hormati,

Berbicara mengenai kesehatan tubuh, sebersih apapun tubuh kita pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mikroorganisme lain seperti kuman, jamur, virus maupun parasit. Mikroorganisme hidup secara komensal di seluruh permukaan tubuh kita baik di permukaan kulit, maupun mukosa organ tubuh kita. Keunikan yang bisa kita lihat seandainya kehidupan tersebut kasad mata adalah bahwa sebenarnya didalam kehidupan kita ada kehidupan lain layaknya miniatur ekosistem, diatas permukaan tubuh kita ada binatang kecil yang bergerak-gerak untuk hidup, makan, berinteraksi dan berkembang biak.

Tuhan telah menciptakan manusia sebagai mahkluk yang sempurna, dilengkapi dengan panca indera, kemampuan berpikir, dan kemampuan bertahan secara alami (imunitas) terhadap kuman, jamur, maupun parasit sehingga walau tubuh kita dihinggapi kuman tidaklah selalu berdampak adanya penyakit secara klinis. Sudut pandang keilmuan Imunologi melihat miniatur ekosistem tersebut sebagai bentuk fenomena yang lazim yang tidak perlu ditakutkan bila ada keharmonisan diantara mereka, dan ada keseimbangan dengan sistem pertahanan tubuh kita.

Para hadirin yang saya hormati,

Perkembangan teknologi dan budaya yang merubah gaya hidup manusia mempunyai andil besar terhadap keseimbangan kehidupan mikroorganisme komensal yang berada di permukaan tubuh kita, penggunaan kosmetika, antiseptik, tindakan pembedahan untuk merubah bentuk tubuh dan lain sebagainya menjadikan lingkungan hidup mikroorganisme mengalami gangguan yang akan merusak ekosistem alami, yang mengakibatkan munculnya mikroorganisme yang dominan terhadap mikroorganisme lainnya (opportunistic). Penggunaan antiseptik atau bahan kosmetik biasanya akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu, penghambatan yang tidak menyeluruh pada seluruh jenis mikroorganisme akan berakibat terjadi peningkatan populasi jenis tertentu karena tidak ada mikroorganisme lainnya yang mampu untuk melakukan tekanan terhadap pertumbuhannya. Kondisi opportunistic inilah yang akan menjadikan sistem pertahanan tubuh kita untuk bekerja lebih berat. Ketidakseimbangan antara populasi mikroorganisme dengan sistem pertahanan tubuh akan berakibat munculnya penyakit infeksi.

Sisi lain dari perubahan gaya hidup manusia seperti pola makan, psikososial stress, kebiasaan buruk minum-minuman keras, perokok berat, dapat berdampak pada menurunnya kualitas sistem pertahanan tubuh manusia. Penurunan fungsi sitem pertahan tubuh ini juga menjadikan orang rentan terhadap penyakit infeksi.

Sistem Pertahan Tubuh Manusia sebagai Karunia Tuhan yang harus di syukuri

Tuhan Mencipatkan manusia dengan sistem imunitas atau pertahanan tubuh yang patut disyukuri, secara alami sejak manusia dilahirkan telah dibekali dengan sistem pertahanan tubuh agar manusia bisa tetap untuk bertahan hidup, sejalan dengan bertambahnya umur sistem pertahanan tubuh manusiapun pengalami pendewasaan atau penyempurnaan hingga bisa bertahan terhadap agen-agen yang begitu kompleks dan bervariasi. Mekanisme Pertahanan tubuh manusia terhadap mikroorganisme berjalan dengan otomatisasi tingkat tinggi, yang sulit untuk ditiru oleh teknologi manusia. Koordinasi antar sel-sel yang berperan dalam menghalau masuknya kuman kedalam tubuh dapat diperankan secara harmonis oleh sel sistem pertahanan tubuh, masing-masing sel sistem pertahan tubuh sudah mengerti akan tugas yang harus diembannya, begitu juga kapan harus bertindak, tanpa harus terjadi tumpang tindih fungsi, sehingga bisa menjamin efektifitas dan efisiensi.

Sistem Pertahanan tubuh manusia bisa dibagi menjadi 2 kelompok besar yang meliputi sistem pertahanan bawaan atau yang sering disebut dengan Innate Immune System dan sistem pertahanan didapat atau yang sering disebut Acquired Immune system. Sistem pertahanan bawaan atau alamiah diberikan oleh Tuhan semenjak kita dilahirkan ke dunia sebagai manusia, sistem pertahanan ini mempunyai sifat non spesifik sehingga benda asing atau kuman-apapun yang masuk ke dalam tubuh kita akan dikenali sebagai musuh yang harus dinetralisir agar tidak merugikan tubuh manusia. Sel-sel yang berperan dalam pertahanan tubuh ini tidak memiliki memori sehingga tidak bisa membedakan antara jenis kuman yang satu dengan yang lainnya oleh karena itu juga dikenal sebagai sistem pertahanan tubuh Non Spesifik Disisi lain selama proses pertumbuhan dan perkembangan menuju pendewasaan, tubuh kita tak henti-hentinya terpapar oleh benda asing atau kuman, selama proses itu terjadi pula mekanisme pemaparan terhadap sel yang berperan dalam pertahanan spesifik, hasil pemaparan oleh kuman atau benda asing ini akan di memori oleh sel-sel terkait (sel Limfosit), yang selanjutnya akan berkembang menjadi sel pertahanan terhadap benda asing yang memaparinya, oleh karena itu sering disebut dengan sistem pertahanan didapat, karena terbentuknya setelah ada pemaparan dari antigen.

Komponen Sel Sistem Pertahanan Tubuh

Permukaan tubuh kita dilapisi oleh lapisan terluar seperti kulit , maupun mukosa yang tersusun atas sel epithel dengan ikatan yang kuat, kulit maupun epithel yang melapisi permukan tubuh atau rongga organ tubuh memiliki struktur dan fungsi yang khusus dalam sistem pertahanan tubuh. Adanya keratinisasi, struktur ikatan sel yang kuat, secret antibakteria yang dihasilkan oleh epithel, berperan sebagai barrier fisik dan khemis dalam mencegah invasi bakteri ke dalam jaringan tubuh.

Pembuluh darah kita disamping berisi sel-sel seperti eritrosit yang berperan dalam pengangkutan nutrisi dan oksigen ke jaringan , juga sel darah putih atau leukosit yang berperan dalam pertahanan tubuh kita. Leukosit yang beredar dalam pembuluh darah berisi sel seperti monosit, neutrofil, dan limfosit mempunyai arti yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia terhadap invasi mikroorganisme baik yang hidup secara komensal di tubuh, maupun yang bersifat patogen.

Pada kondisi terjadi infeksi kuman ke dalam jaringan, sel netrophil merupakan komponen seluler yang pertama kali datang pada daerah yang terinfeksi untuk menghalau serangan kuman melalui sekresi protein antibakterial dan phagositosis, dengan berjalanannya waktu secara otomatis tubuh mengirimkan sel bantuan yang berupa monosit yang akan berdeferensiasi menjadi macrophage dengan peran utamanya melakukan paghocytosis/penghancuran kuman. Pada kondisi khronis atau lanjut tubuh akan mengirimkan limfosit yang akan berperan untuk pertahanan spesifik. Limfosit berproliferasi menjadi sel yang memiliki reseptor spesifik terhadap antigen/kuman yang bersangkutan, disamping itu juga akan berdefernsiasi menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi yang spesifik dengan kuman yang memaparinya. Keberadaan antibodi sangat membantu dalam efektifitas paghocytosis kuman, karena kuman yang telah teropsonisasi dengan antibodi mudah sekali dikenali dan berikatan dengan macrophage untuk selanjutnya di paghocytosis. Komponen seluler sistem pertahanan tubuh bekerja secara sinergisme dengan kombinasi dan waktu yang tepat, sehingga tubuh bisa secepatnya melakukan netralisir terhadap kuman penyebab infeksi

Bapak ibu sekalian yang saya hormati

Berbicara mengenai masalah imunologi, bagi kita yang tidak berkecimpung didalamnya kadang hanyalah merupakan sesuatu yang imajiner dan teoritis saja. Penurunan fungsi sistem pertahanan tubuh dapat berakibat orang menjadi rentan terhadap infeksi dan pada kondisi yang parah bisa berakibat kematian.. Dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini kita bisa membuat model yang kasad mata untuk membuktikan keberadaan dan peran dari pada sel sistem pertahanan tubuh, misalnya proses penghancuran kuman oleh marophage bisa kita amati dengan bantuan microscope, Knock out Mice,juga bisa digunakan untuk membuktikan peran keberadaan dari sistem pertahanan tubuh.

Penyakit infeksi bisa muncul tidak hanya karena populasi atau virulensi mikroorganisme yang meningkat tapi juga bisa karena penurunan fungsi imunitas tubuh itu sendiri, sebagai contoh pada penderita AIDS, penurunan fungsi dari sel sistem pertahanan tubuh menyebabkan individu tersebut menjadi rentan terhadap infeksi yang ditunjukkan dengan munculnya lesi didalam rongga mulut seperti Sarcoma Kapposi, Gingivitis, Peridontontitis, candidiosis, dan sebagainya. Pada individu AIDS, disamping ditemukan adanya lokal infeksi tersebut, yang bersangkutan juga mudah sekali terkena infeksi oleh mikroorganisme luar tubuh yang bisa berakibat fatal seperti kematian.

Imunologi dan Kesehatan Gigi

Imnunologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi oleh benda asing atau mikroorganisme. Mempelajari keilmuan ini menjadikan bagian yang penting dan harus dikuasai oleh dokter gigi mengingat, rongga mulut kita tak bisa lepas dari apa yang disebut dengan mikroorganisme.

Dari aspek mikrobiologi, rongga mulut kita merupakan organ tubuh yang paling kotor, sekalipun dibandingkan dengan lambung, alat sekresi, dan organ pencernaan lainnya. Saat ini sudah kurang lebih 700 species bakteri dapat ditemukan dalam rongga mulut, bakteri tersebut hidup secara komensal bersama jamur. Walaupun dengan jumlah populasi bakteri yang banyak berada dalam rongga mulut namun tidak selalu kondisi ini akan menimbulkan adanya penyakit pada jaringan pendukung gigi, atau mukosa rongga mulut. Keseimbangan antara fungsi sistem pertahanan rongga mulut (Imunitas Rongga Mulut) dengan keberadaan populasi mikroorganisme yang bisa terjaga menjadi prinsip dasar untuk menjelaskan mengapa tidak terjadi proses peradangan atau inflamasi (Gb.1)

Inflamasi atau peradangan yang disebabkan oleh mikroorganisme rongga mulut akan terjadi bila keseimbangan itu mengalami gangguan. Gangguan keseimbangan tersebut bisa terjadi pada kondisi adanya penurunan fungsi sistem pertahanan tubuh atau adanya peningkatan virulensi mikroorganisme atau kombinasi keduanya (Gb.2)

Gb.1. Keadaan seimbang antara fungsi sistem pertahanan tubuh dengan virulensi bakteri menghasilkan kondisi tubuh tetap sehat

Gb.2. Gangguan keseimbangan antara fungsi sistem pertahanan tubuh dengan virulensi bakteri menghasilkan penyakit infeksi

Calprotectin dan perannya dalam penyakit infeksi Rongga Mulut

Bapak-ibu yang saya hormati,

Beberapa studi untuk menjelaskan mekanisme sistem imunitas rongga mulut telah saya lakukan sejak mengikuti pendidikan S-3 di Tokushima University dalam bidang periodonsia untuk mengkaji peran calprotectin dalam sistem pertahanan rongga mulut hingga sekarang, dan dikembangkan pula oleh mahasiswa bimbingan kami yang sedang mengambil skripsi S-1 (3 orang yang mendapatkan bantuan pendanaan dari PKM-DIKTI) , Tesis S-2 (5 orang dan 2 orang diantaranya mendapatkan dana dari Penelitian Fundamental-DIKTI dan disertasi S-3 (1 orang yang mendapatkan pendanaan dari Hibah Riset Pembinaan Iptek Kedokteran-DEPKES). Saya selaku pembimbing merasa terimakasih dan bangga kepada mereka yang telah turut mengembangkan penelitian terkait dengan topik calprotectin sekaligus mengucapkan selamat atas prestasinya sehingga mampu mendapatkan hibah pendanaan penelitian dari lembaga donor terkait.

Para hadirin yang saya hormati,

Berbicara mengenai masalah calprotectin mungkin bapak ibu sekalian merasa asing, namun saya yakin walau mungkin ini kali pertama bapak ibu dengar, akan mudah untuk kita pahami bersama. Sebenarnya calprotectin merupakan protein yang dihasilkan secara alami oleh tubuh kita melalui sel netrophil, monosit dan keratinosit/epithel, protein ini berfungsi sebagai antibakteri yang akan menghambat pertumbuhan kuman. Calprotectin karena merupakan protein heterokompleks maka dalam proses sintesis atau pembentukkannya didalam sel di kode oleh 2 kode genetik yaitu MRP-8 dan MRP-14. Dalam rongga mulut protein ini ditemukan pada cairan sulkus gingiva (gusi), saliva maupun berada dalam lapisan epithel rongga mulut dan gingiva. Adanya protein ini pada epithel mukosa akan mencegah bakteri atau kuman untuk penetrasi masuk kedalam jaringan yang lebih dalam yaitu jaringan ikat (conective tissue). Studi yang pernah dilakukan pada binatang dengan tikus yang epithel mukosanya dibuat tidak menghasilkan calprotectin, pada pemeriksaan histologis menunjukkan adanya invasi progressive bakteri ke jaringan ikat (Nisapakultorn,2001). Studi Invitro dari Netrofil manusia yang di stimulasi dengan menggunakan berbagai lipopolisakarida bakteri menunjukkan bahwa calprotectin disekresi secara aktif oleh sel netrofil tanpa diikuti oleh lisis sel (Kido, 2003), begitu pula pada sel monosit, peningkatan produksi calprotectin disamping berfungsi sebagai antibacterial protein juga berperan dalam proses deferensiasi monosit menjadi macrophage ( Roth,1993) . Model Inflamasi secara invitro yang dibuat pada sel keratinosit, netrofil dan monosit menunjukkan adanya peningkatan produksi calprotectin pada saat terjadi stimulasi oleh bakteri atau kuman, hal ini sebagai bentuk pembuktian bahwa secara alami adanya homeostasis sistem pertahanan tubuh maupun rongga mulut kita, yaitu tubuh secara cepat dan otomatis melakukan respon terhadap kuman yang masuk dengan cara sintesis dan sekresi calprotectin (Suryono,2005; Hayashi,2008) Hasil studi ini bisa untuk membuktikan bahwasannya Tuhan menciptakan manusia dengan sel keratinocyte, monosit, dan netrofil dengan tujuan agar kita bisa bertahan terhadap invasi kuman yang selalu ada di permukaan tubuh dan disekiling kita (GB.3).

GB. 3. Peran calprotectin dalam pertahanan jaringan rongga mulut terhadap invasi bakteri

Defek atau gangguan fungsi pada sistem pertahanan tubuh menyebabkan orang mudah sekali terkena infeksi, pada keilmuan kedokteran gigi bisa kita temukan pada kasus Progressive Periodontitis yakni adanya kerusakan jaringan tulang pendukung gigi yang sangat cepat pada usia muda yang disebabkan karena penurunan fungsi dari netrofil untuk menetralisir virulensi bakteri Porphyromonas gingivalis dan Actinobacillus actinomycetemcomitans. Gangguan fungsi imunitas pada pasien progressive periodontitis ditandai dengan adanya penurunan ekspresi calprotectin mRNA pada Netrofil (Desi,2009), dan monosit (Suryono,unpublished). Penurunan fungsi sistem imunitas tubuh juga bisa kita temukan pada kondisi pasien dengan penyakit sistemik seperti Diabetes Melitus (DM), depressi/stress, HIV atau pada pasien dengan obat immunosupressan/ penekan sistem pertahanan tubuh.

Penurunan fungsi imunitas rongga mulut pada penderita diabetes mellitus ditandai dengan adanya periodontitis sebagai salah satu bentuk komplikasinya. Hasil penelitian yang dilakukan pada sel netrofil penderita DM menunjukkan adanya peningkatan ekspresi calprotectin mRNA pada MRP-14 namun tidak diikuti oleh MRP-8 (Syaify,2009). Berkurangnya produksi calprotectin intraseluler khususnya dalam netrofil akan berakibat fungsi netrofil dalam menetralisir bakteri akan mengalami penurunan.

Calprotectin sebagai kandidat marker biokimia Penyakit periodontal

Hadirin yang saya hormati,

Penyakit periodontal yang menyerang jaringan pendukung gigi saat ini hanya didiagnosis dengan pendekatan klinis maupun rontgen foto, kelemahan dari metode ini adalah praktisi atau dokter gigi bisa menemukan penyakitnya setelah terjadi kerusakan jaringan yang menampakkan tanda klinis yang berwujud peradangan jaringan lunak, poket perodontal maupun resorbsi tulang dari pengamatan roentgen foto. Pada dasarnya sebelum terjadi kerusakan pada jaringan lunak maupun keras seperti resorbsi tulang procesus alveolaris, sebenarnya ada beberapa tahapan yang mengawalinya yang bisa terdeteksi baik pada tataran molekuler maupun biokimia, yang ditandai dengan peningkatan/penurunan produksi protein tertentu.

Perubahan biokimia merupakan awal dari kerusakan histologis atau klinis. Pada proses terjadinya infeksi, sistem pertahanan tubuh khususnya imunitas alami akan aktif dengan ditandai peningkatan sekresi calprotectin, pada tataran ini jaringan belum mengalami kerusakan secara klinis, namun sudah bisa kita prediksikan apabila tidak dilakukan perawatan lanjut akan berkembang menjadi kerusakan pada tataran jaringan atau klinis. Kido et al, 2003 melaporkan bahwa ada peningkatan level calprotectin pada cairan sulkus gingival pada pasien dengan gingivitis. Peningkatan kandungan calprotectin dalam Cairan Sulkus Gingiva (CSG) dikarenakan adanya sekresi oleh netrofil dalam rangka menetralisir invasi bakteri penyebab infeksi. Suryono et al,2003 melaporkan bahwa periodontopathic factor seperti , lipopolisakarid bakteri, TNF alfa dan Interleukin 1 beta merupakan stimulant utama dari monosit untuk memproduksi calprotectin.

Studi invitro menggunakan monosit darah manusia menunjukkan bahwa peningkatan produksi ditandai dengan adanya peningkatan sekresi calprotectin 30 menit pasca stimulasi dan diikuti dengan peningkatan kode genetic calprotectin ( Suryono, 2003), begitu juga pada netrofil yang di induksi oleh lipopolisakarid Porphyromonas gingivalis menunjukkan peningkatan sekresi dari protein tersebut (Kido,2004).

Peningkatan produksi yang ditandai dengan peningkatan ekspresi mRNA calprotectin merupakan parameter molekuler yang bisa dijadikan pula sebagai indikator adanya proses infeksi (suryono, 2005). Peningkatan level calprotectin pada cairan sulkus gingiva disamping dihasilkan oleh sel sistem pertahanan , juga dihasilkan oleh sel keratinocyte gingival yang terpapar oleh bakteri (Hayashi,2007). Peningkatan level calprotectin pada cairan sulkus gingiva juga dapat ditemukan pada periodontitis khronis, progressive periodontitis, maupun pada periodontitis yang disertai dengan Diabetes mellitus (Suryono, 2007; Desi,2009; Syaify ,2009)

Bertolak dari perubahan fenomena biokimia diatas, memberikan dasar yang kuat untuk menjadikan calprotectin sebagai marker biokimia dari penyakit periodontal. Kami sangat berharap mendapatkan dukungan dari teman sejawat peneliti, institusi maupun pihak pihak terkait untuk bisa mewujudkannya..

Para hadirin yang terhormat,

Sisi lain yang mungkin bisa dikembangkan dari calprotectin adalah memanfaatkan efeknya dalam rangka pencegahan penyakit gigi dan mulut. Calprotectin yang merupakan protein alami yang di sintesis oleh sel sistem pertahanan tubuh manusia berfungsi sebagai antibakteri layaknya antiseptik maupun antibiotik, namun ada hal penting yang bisa membedakannya, yaitu bahwasannya karena calprotectin merupakan antibakteria yang diproduksi oleh tubuh manusia maka kemungkinan untuk menyebabkan terjadinya resistensi maupun alergi sangatlah kecil bahkan bisa dikatakan tidak ada. Dengan diketahuinya kode genetik calprotectin maka protein ini bisa diproduksi secara masal baik secara invitro maupun in vivo, oleh karenanya ada suatu pemikiran protein ini untuk digunakan sebagai material alami yang akan diimplankan kedalam rongga mulut yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan rongga mulut agar dapat lebih bertahan terhadap microorganisme yang hidup didalamnya.

Diharapkan dengan adanya implan calprotectin ini terjadi peningkatan level calprotectin dalam saliva secara stabil sehingga mampu menetralisir virulensi mikroorganisme yang ada dalam rongga mulut. Keseimbangan yang terjaga antara fungsi pertahanan tubuh yang diperankan oleh sel imunitas dengan virulensi bakteri menjadikan rongga mulut kita tetap sehat, tanpa adanya gangguan kelainan klinis.

Bapak ibu sekalian yang saya hormati,

Pemikiran Implant Calprotetcin Drugs Delivery System ini mempunyai prinsip dasar mekanisme yang sama dengan implant hormone untuk keperluan kontrasepsi Keluarga Berencana (KB). melalui metode drugs delivery system (DDS) calprotectin dari implant direlease kedalam saliva secara bertahap yang akan berperan sebagai stabilizer keseimbangan antara virulensi dengan fungsi sistem pertahanan tubuh (Gb.4). Memang pemikiran seperti ini merupakan ide baru yang melihat dari aspek lain yang berbeda, dalam rangka upaya pencegahan timbulnya penyakit infeksi. Pola pemikiran yang saat ini dikembangkan oleh para peneliti adalah dengan jalan meningkatkan fungsi system pertahanan tubuh dengan metode imunisasi untuk stimulasi sel pertahanan tubuh, dan membuat antibodinya, maupun dengan jalan mengontrol populasi mikroorganisme melalui tindakan mekanis, dan khemis dengan penggunaan antiseptic.

Penggunaan Implan calprotectin dengan menggunakan metode DDS dimaksudkan untuk menjaga kualitas lingkungan rongga mulut khususnya kualitas saliva yang mampu mengendalikan populasi dan virulensi microorganisme rongga mulut tanpa harus menggunakan antiseptic/antibiotic.

Gb.4 . Kandungan calprotectin dalam saliva yang di keluarkan oleh implant Drug Delivery System berperan sebagai stabilizer agar keseimbanganantara mikroorganisme dan fungsi sistem pertahanan tubuh tidak mudah terganggu

Keseimbangan dalam ekosistem rongga mulut dapat terjaga tanpa harus dengan melakukan stimulasi sel sistem pertahanan tubuh /imunisasi maupun pengurangan populasi mikroorganisme melalui penggunaan antiseptic/ antibiotic dengan demikian dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya reaksi alergi, resistensi bakteri maupun gangguan sistemik karena proses imunisasi. Dengan demikian calprotectin ini bisa mempunyai peluang yang besar untuk diteliti lebih lanjut, untuk dijadikan sebagai stabilizer dalam upaya pencegahan penyakit infeksi dalam rongga mulut.

Hadirin yang saya hormati

Kemajuan keilmuan kedokteran gigi tidak terlepas dari upaya penelitian yang dilakukan oleh para dokter gigi maupun para peneliti, oleh karenanya kami berharap pada teman sejawat untuk selalu mengembangkan ide-ide positif yang diwujudkan dalam bentuk penelitian ataupun karya tulis ilmiah yang terdokumentasi. Tak lupa kami juga berharap pada institusi untuk memberikan fasilitas dan membudayakan iklim penelitian di lingkungan FKG-UGM.

Didunia ini tak ada sesuatu yang tidak mungkin kecuali kita tak mau untuk mengusahakannya, demikian pula perbaikan keilmuan kedokteran gigi ini juga tidak akan pernah terjadi kalau tidak kita mulai dari kita, saat ini, sekecil apapun. Mari kita isi kehidupan kampus dengan sesuatu yang bermanfaat untuk kepentingan keilmuan, kemakmuran dan kesejahtaraan masyarakat seluas-luasnya. Naseba naru naranuwa hito no nasanu nari (orang yang berhasil adalah mereka yang berani untuk mencoba dan orang tidak berhasil karena tidak pernah ada keberanian untuk mencobanya).

Bapak ibu dan para hadirin yang kami hormati,

Perkenankanlah di akhir pidato ilmiah ini saya bacakan sebuah sajak yang khusus saya buat dalam rangka dies FKG-UGM ke-62 sebagai bahan renungan bagi kita semua dengan bertambahnya usia yang serasa begitu cepat:

Perjalanan Kehidupan

Berjalan.

Ku terus berjalan menyusuri lembah dan gunung nan terjal

Ku habiskan tenaga tuk melakukannya

Ku dapatkan jalan …..

Jalan menuju pencerahan tuk mengisi waktu

Waktu….

waktu kian cepat berlalu, berlalu dan berlalu

tak kan pernah berputar balik atau menantiku

Ku bersanding dan berjalan bersama waktu

Berkarya tuk memanfaatkanmu…..

Karya……

Sering ku bertanya pada diri apa yang telah kulakukan

Aku tengok ke belakang , ku dapatkan perubahan itu

Walau tak besar tapi nampak nyata

Tak mudah puas dengan yang ada, namun aku mensyukurinya

Bersyukur….

Mensyukuri apa yang telah aku miliki

Berterimaksih pada sesama dan Pencipta

Ku ucapkan terimakasih di akhir setiap perbuatan

Itulah wujud ibadah yang paling mudah dilakukan

Ibadah……

Tak harus kulakaukan dalam masjid atau gereja

Niat ikhlas untuk seluruhnya

Tak melihat arah namun ada tujuan

Tuk menuju pada kebahagian di dunia dan akhirat….

Akhirat….

Tak ada yang tahu tentang kehidupan akhirat

Semua harus berlomba tanpa batas

Tuk menjadi yang terbaik..

Terbaik di hadapan Nya

Suryono, 5 Maret 2010

Demikiannlah Pidato ilmiah Dies Ke-62 FKG UGM ini saya sampaikan atas segala kekurangan dan kekhilafan, saya mohon maaf. Terimakasih atas segala perhatian dan kesabaran, semoga hari ini memberikan ilham dan membawa berkah bagi kita sekalian, bagi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada tercinta.

Billahi taufiq wal hidayah , wasalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh

Daftar Pustaka

Suryono, Kido J, Hayashi N, Kataoka M, Nagata T : Effect of Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide, tumor necrosis factor- and interleukin-1 on calprotectin release in human monocytes. Journal of Periodontology 2003;74:1719-1724.

Kido J, Kido R, Suryono, Kataoka M, Fagerhol MK, Nagata T : Induction of calprotectin release by Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide in human neutrophils. Oral Microbiology and Immunology 2004;19:182-187.

Kido J, Kido R, Suryono, Kataoka M, Fagerhol MK, Nagata T : Calprotectin release from human neutrophils is induced by Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide via the CD-14Toll-like receptorNFB pathway. Journal of Periodontal Research 38, 557-563 (2003).

Nisapakultorn K, Ross KF, Herzberg MC. Calprotectin Expression In Vitro by Oral Epithelial Cells Confers Resistance to Infection by Porphyromonas Gingivalis. Infection and Immunity 2001;69:4242-4247.

Suryono, Kido J, Hayashi N, Kataoka M, Nagata T : Calprotectin expression in human monocytes: Induction by Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide, tumor necrosis factor- and interleukin-1. Journal of Periodontology 76:437-442(2005)

Noriko H,Kido J, Suryono, Kido R, Wada C, Kataoka M, Shinohara Y, Nagata T, Regulation of calprotectin expression by IL-1 alfa and TGF-beta in human keratinocytes, Journal of Dental Research, 2007

Roth J, Goebeler M, van den Bos C, Sorg C. Expression of calcium-binding protein MRP8 and MRP14 is associated with distinct monocytic differentiation pathways in HL-60 cells. Biochem Biophys Res Commun 1993;191:565-570

Suryono, Jun-ichi Kido, Noriko Hayashi, Masatoshi Kataoka, Yasuo Shinohara and Toshihiko Nagata. Norepinephrine Stimulates Calprotectin Expression in Human Monocytic Cells. Journal of Periodontal research, 2007

Hayashi N, Kido J, Suryono, Kido R, Wada C, Kataoka M, Shinohara Y, Nagata T. Regulation of calprotectin expression by interleukin-1a and transforming growth factor-b in human gingival keratinocytes. J Periodont Res 2007; 42: 17.

Ahmad Syaify, Marstyawan, Sudibyo, dan Suryono Calprotectin mRNA (MRP8/MRP14) expression in neutrophils of Periodontitis patients with type 2 diabetes mellitus, Dental Journal;42:130-133 (2009)

Desi sandra, Suryono, Detection of Aggressive Periodontitis by Calprotectin Expression, Dental Journal;42 (2009)

Curriculum Vitae

Nama : drg. Suryono, SH, Ph.D

Tanggal lahir : August 16, 1969

Tempat : Purworejo

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat Rumah : Jl Godean Km 7, Gg. Anggrek 28, Klajuran, Sidokarto, Godean,

Yogyakarta 55564 Ph. 08122977129

Alamat Kantor :

Fakultas Kedokteran Gigi , Universitas Gadjah Mada , Jl. Denta, Sekip Utara,

Yogyakarta 55281 Telp & Fax. (62) 274-515307

Pendidikan :

S-1, Fakultas Kedokteran Gigi, UGM (1988-1993, S.K.G)

Profesi, Fakultas Kedokteran Gigi, UGM (1993, drg)

S-1, Hukum, Universitas Widya Mataram Yogyakarta, (2009, SH)

Spesialis Periodonsia, LADOKGI TNI ALUGM(19971999, cuti )

Diploma, International School of Japanese Language, Tokyo,

Japan (1999 – 2000)

S-3, Periodontology and Endodontology, School of Dentistry,

University of Tokushima, Japan (2000.4 – 2004.3, Ph.D)

Kursus singkat :

Guided Tissue Regeneration (GTR)

Emdogain and Autotransplantation

Laser in Dentistry

Disaster Victim Identification (DVI)

Riwayat Pekerjaan :

*Dokter Gigi PTT, Puskesmas Sruweng (1993 -1996)

*RSU- PKU Muhammadiyah Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah, 1993 – 1996

*Staf Pengajar, Bagian Periodonsia, FKG, UGM Yogyakarta , 1996 1999

*Teaching Assistance, Department of Periodontology dan endodontology,

Tokushima University School of Dentistry, Japan, 2001-2004

*Research Assistance, Department of Periodontology dan endodontology,

Tokushima University School of Dentistry, Japan, 2003-2004

*Staf Pengajar, Bagian Periodonsia, FKG, UGM Yogyakarta , 2004 – sekarang

*Staf Pengajar Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

(2004-sekarang)

* Kepala Laboratorium Riset Terpadu, FKG-UGM ( 2005-2008)

* Sekertaris Bagian Periodonsia, FKG-UGM , (2007- sekarang)

* Ketua Unit Etika dan Advokasi FKG-UGM (2009-sekarang)

* Reviewer Proposal Penelitian Kesehatan DEPKES ( 2005-2007)

* Pengelola Program Magister Hukum Kesehatan UGM, (2005-sekarang)

* Pengelola Pusat Mediasi Indonesia, (2009 sekarang)

* Dewan Pembina Ikatan Mediator Kesehatan Indonesia (2009- sekarang)

Keanggotaan :

PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia )

IPERI ( Ikatan Periodonsia Indonesia )

Japanese Society of Periodontology

Japanese Society of Endodontology

IADR ( Internatioal Association of Dental Research )

IMKI ( Ikatan Mediator Kesehatan Indonesia )

Publications

[ Major ]

1.Suryono, Kido J, Hayashi N, Kataoka M, Nagata T : Effect of Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide, tumor necrosis factor- and interleukin-1 on calprotectin release in human monocytes. Journal of Periodontology 2003;74:1719-1724.

2.Kido J, Kido R, Suryono, Kataoka M, Fagerhol MK, Nagata T : Induction of calprotectin release by Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide in human neutrophils. Oral Microbiology and Immunology 2004;19:182-187.

3.Kido J, Kido R, Suryono, Kataoka M, Fagerhol MK, Nagata T : Calprotectin release from human neutrophils is induced by Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide via the CD-14Toll-like receptorNFB pathway. Journal of Periodontal Research 38, 557-563 (2003).

4.Suryono, Kido J, Hayashi N, Kataoka M, Nagata T : Calprotectin expression in human monocytes: Induction by Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide, tumor necrosis factor- and interleukin-1. Journal of Periodontology 76:437-442(2005)

5.Noriko H,Kido J, Suryono, Kido R, Wada C, Kataoka M, Shinohara Y, Nagata T, Regulation of calprotectin expression by IL-1 alfa and TGF-beta in human keratinocytes, Journal of Dental Research, in press

6.Suryono, Jun-ichi Kido, Noriko Hayashi, Masatoshi Kataoka, Yasuo Shinohara and Toshihiko Nagata. Norepinephrine Stimulates Calprotectin Expression in Human Monocytic Cells. Journal of Periodontal research, 2007

7.Hayashi N, Kido J, Suryono, Kido R, Wada C, Kataoka M, Shinohara Y, Nagata T. Regulation of calprotectin expression by interleukin-1a and transforming growth factor-b in human gingival keratinocytes. J Periodont Res 2007; 42: 17.

8.Suryono, Electrosurgery technique for gingivectomy and gingivoplasty of gingival enlargement, Majalah Kedokteran Gigi, Vol.14 No.2 Des 2007

9.Suryono, Frenectomy of frenulum labii superior : A Comparison of electrosurgery and scalpel techniques, Majalah Kedokteran Gigi, Vol 15, No.1, Juni 2008

10.Ahmad Syaify, Marstyawan, Sudibyo, dan Suryono Calprotectin mRNA (MRP8/MRP14) expression in neutrophils of Periodontitis patients with type 2 diabetes mellitus, Dental Journal;42:130-133 (2009)

11. Desi sandra, Suryono, Detection of Aggressive Periodontitis by Calprotectin Expression, Dental Journal;42 (2009)

[ Additional ]

1. Ninomiya M, Kamata N, Fujimoto R, Ishimoto T, Suryono, Kido J, Hagayama M, Nagata T. Application of enamel matrix derivative in autotransplantation of an impacted maxillary premolar. A case report. Journal of Periodontology 73, 346-351 (2002).

2. Nakamura T, Suryono, Kido J, Nagata T. Quantitative analyses of Procollagen and osteocalcin in Gingival crevicular fluid of periodontal disease patients. Journal of The Japanese Society of Periodontology 44, 73-81 (2002).

3. Asano M, Asahara Y, Oishi M, Kirino A, Akimaru N, Hama H, Suryono, Shionoya A, Kido J and Nagata T. A case report on an early onset periodontitis patient showing self-arrest of alveolar bone loss after puberty. Journal of The Japanese Society of Periodontology 45, 279-288 (2003).

4. Suryono. The use of emdogain in treatment of periodontal defects; a review of study in clinical application. MIKGI 1;2;39-40 (1999)

5. Agustina D, Supartinah AL, Irianiwati, Suryono. The influence of Nifedipine induction to gingival epithelial cell proliferation. J Dentistry Indonesia 11;1: 29-34 (2004)

6. K Yoshida, H Shinohara, Suryono, T Haneji, T Nagata, Arachidonic acid inhibits osteoblast differentiation through cytosolic phospholipase A2-dependent pathway, Oral Diseases (2007) 13, 3239.

7. Veny, Suryono, Sri Pramestri L, Kadar ammonia pada Cairan Sulkus Gingiva Penderita Diabetes mellitus, Majalah Kedokteran Gigi, Vol.14 No.2 Des 2007

Reports in Scientific Meeting

[ Major ]

1.Suryono, Kido J, Hayashi N, Kataoka M, Nagata T. Effect of noradrenaline and cortisol on calprotectin expression in human monocyte cell line. The 46th (Autumn) Annual Meeting of The Japanese Society of Periodontology, Niigata, Japan, Oct.17-19, 2003

2.Hayashi N, Kido J, Suryono, Kataoka M, Nagata T. Effect of IL-1 and TGF- on calprotectin expression in human gingival epithelial cells. The 46th (Autumn)Annual Meeting of The Japanese Society of Periodontology, Niigata, Japan, Oct.17-19, 2003.

3.Hayashi N, Kido J, Suryono, Wada C, Kataoka M, and Nagata T. Regulation of calprotectin expression by IL-1 and TGF- in human gingival epithelial cells. The 81st General session of the International Association for Dental Research, Goteborg, Sweden, June 25-28, 2003.

4.Suryono, Kido J, Kido R, Hayashi N, Asano M, Kataoka M, Nagata T. Induction of calprotectin secretion by Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide in human neutrophils. The 2nd FDI-IDA Joint Meeting, Bali, Indonesia, Sep 20-22, 2002.

5.Suryono, Kido J, Kido R, Hayashi N, Asano M, Kataoka M, Nagata T. Effect of Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharides and cytokines on calprotectin secretion in human monocytes. The 2nd FDI-IDA Joint Meeting, Bali, Indonesia Sep 20-22, 2002.

6.Kido J, Kido R, Kataoka M, Suryono, Fagerhol MK, Nagata T. Lipopolysaccharide of P.gingivalis induces calprotectin secretion from human neutrophils. The 79thGeneral Session of the IADR ( International Association of Dental Research ), Chiba, Japan, June 27-30, 2001.

7.Suryono, Kido J, Asano M, Hayashi N, Kataoka M, and Nagata T. The effects TNF, IL-1 and LPS of P. Gingivalis on stimulation of calprotectin secretion in human monocytes. The 26thAnnual Meeting of Sikoku Dental Research, Tokushima, Japan, June16, 2003.

8.Kido J, Asano M, Suryono, Hayashi N, Kataoka M, and Nagata T. LPS of P. Gingivalis stimulates calprotectin secretion from human neutrophils. The 116th (Spring) Annual Meeting of The Japanese Society of Conservative Dentistry, Tokyo, Japan, May 30-31, 2002.

9.Suryono, Asano M, Kido J, Hayashi N, Kataoka M, Nagata T. The Effects of lipopolysaccharide and cytokines on calprotectin secretion in human monocytes. The 45th (Spring) Annual Meeting of The Japanese Society of Periodontology, Tokyo, Japan, March 24-26, 2002.

10.Suryono, Hiperpigmentasi gingiva, diagnose dan cara perawatannya, CERIL IX, Jogjakarta 2004

11.Suryono, Gingivitis dan kehamilan : hubungan timbal balik dan kemungkinan terjadinya lahir premature dan berat bayi lahir rendah (BBLR), PDGI Kebumen, 2005

12.Suryono, Periodontal cosmetic, trend dan pengembangannya, Lustrum IX, FKG-UGM Yogyakarta, 2005

13.Suryono, Calprotectin : Kandidat marker baru penyakit infeksi, Seminar hasil Penelitian Lintas Klaster- Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2005

14.Suryono, Perawatan hiperpigmentasi gingiva sebagai upaya kosmetika dalam kedokteran gigi, Palembang Dentistry 2006, 16 18 Februari 2006, Palembang

15.Suryono, Electrosurgery pada gingivektomi dan gingivoplasti enlargement gingiva paska perawatan ortodonsia, CERIL DIES FKG ke 48,2007

16.Suryono, Aspek Hukum Praktik Kedokteran (Informed consent dan Medical record), CERIL PDGI Sleman Yogyakarta, 2008

17.Suryono, Malpraktik dalam sudut pandang Hukum Indonesia, One day Seminar PDGI Pekalongan, 2009

18.Suryono, Gingivitis dan Kehamilan, Puskesmas Gamping, 2010

19.Suryono, Aplikasi composit sewarna gingiva untuk penanganan resesi Gingiva , CERIL Dies ke-62 FKG UGM,, 2010

[ Additional ]

1. Yoshida K, Suryono, Shinohara H, Nagata T. Involvement of Cyclooxigenase-2 in the inhibition of Osteblastic cell differentiation by Arachidonic acid. The 44th (Autumn) Annual Meeting of The Japanese Society of Periodontology (Niigata, Japan), March 24-26, 2001.

2. Azuma H, Ikedo D, Suryono, Kataoka M, Kido J, Nagata T. Relationship between inhibitory effects of differentiation and stimulatory effects of cytokine production in cultured osteoblastic cells. The 44th (Spring) Annual Meeting of The Japanese Society of Periodontology (Okayama, Japan) Oct.17-19, 2001.

3. Akimaru N, Asahara Y, Oishi M, Asano M, Kirino A, Suryono, Hama H, Tada J, Shionoya A, Kido J and Nagata T. Assessment methods in Aggressive Periodontitis patients (A Case report) The 25thAnnual Meeting of Sikoku Dental Research (Tokushima, Japan), January 2, 2002.

4. Kirino A, Asano M, Oishi M, Asahara Y, Akimaru N, Hama H, Suryono, Tada J, Shionoya A, Kido J and Nagata T. A case report on early onset periodontitis maintaining inactive phase after puberty. The 45th (Spring) Annual Meeting of The Japanese Society of Periodontology (Tokyo, Japan), March 24-26, 2002.

5. Takemura A, Ninomiya M, Ohba T, Kunikiyo K, Azuma H, Hama H, Suryono, Shinohara H, Kido J and Nagata T. Effects of novel MMP inhibitor on experimental periodontitis in hamsters. The 79thGeneral Session of the IADR ( International Association of Dental Research ), Chiba, Japan, June 27-30, 2001.

6. Suryono, Kilas balik Pendidikan di Jepang : Sukses dapat diraih dengan usaha, Symposium Internasional Pelajar Asing, Maret 2005, Tokushima, Japan

7. Veny, Suryono, Sri Pramestri L, Kadar ammonia pada Cairan Sulkus Gingiva Penderita Diabetes mellitus, CERIL DIES FKG ke 48,2007

Pidato Ilmiah Dies Natalis ke-62 FKG UGM oleh drg. Suryono,SH,Ph.D

Leave a Reply